EKI, Mengumpulkan Kekayaan Bahasa

Judul buku : Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia
Penyusun : Dewan Redaksi Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia
Pemimpin Redaksi : Hasanudin WS, Prof. Dr., M.Hum.
Penerbit : Angkasa Bandung
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 1.370 halaman

DIBANDINGKAN penerbitan novel, ensiklopedi terbilang jarang diterbitkan di Indonesia. Semua yang terjadi seperti berlalu begitu saja, tanpa ada yang mencatatnya. Ensiklopedi sebenarnya berfungsi untuk mencatat setiap perkembangan tersebut, dalam segala bidang.

Di bidang kebahasaan, pun seperti itu. Ketika Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia (EKI) diperkenalkan di Inna Muara, Juni lalu, ditegaskan bahwa ini adalah ensiklopedi bidang kebahasaan yang pertama kali hadir. Padahal, permasalahan kebahasaan di Negara kita, terus mengalami rintangan. Sejak pertama kali bahasa Indonesia dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928 lalu, bahasa Indonesia terus mencari jati dirinya. Namun, semakin dicari, semakin banyak saja aral dan rintangan yang menghadang.

Sebut saja media cetak, televisi, atau radio yang berbahasa seenak gue. Cita-cita luhur bahasa, budaya yang dibawanya, seperti tertimbun arus modernitas. Kekuatiran kita, selain masalah perpecahan bangsa, juga masalah bahasa.

Pakar Kebahasaan, Dendy Sugono mengatakan, dalam hubungan dengan kehidupan masyarakat, bahasa Indonesia telah terjadi berbagai perubahan, terutama yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, khususnya teknologi informasi. Kondisi ini telah menempatkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, pada posisi strategis yang memungkinkan bahasa itu memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa dan mempengaruhi pekembangan bahasa Indonesia. Gejala munculnya penggunaan bahasa asing di pertemuan-pertemuan resmi dan di media-media (elektronik atau cetak) di tempat-tempat umum menunjukkan perubahan perilaku masyarakat tersebut.

Acara-acara di televisi, walaupun isinya berbahasa Indonesia, tapi kebanyakan judulnya berbahasa asing. Hal ini menyiratkan ketidakpercayaan diri terhadap bahasa Indonesia. Selain itu, nama-nama tempat umum seperti mal, rumah sakit, dan gedung-gedung bertingkat juga lebih banyak menggunakan bahasa asing seperti penggunaan kata square, trade centre, atau residence. Ada anggapan kalau menggunakan bahasa asing dapat lebih menunjukkan gengsi daripada berbahasa Indonesia. Bahkan ada pula yang mengatakan, dengan bahasa asing maka akan memperlihatkan kecendikiaan seseorang.
Selain bahasa asing, penggunaan bahasa daerah khususnya bahasa Melayu Jakarta dan bahasa ‘gaul’ telah mewarnai penggunaan bahasa Indonesia lisan. Bahkan, bahasa iklan sangat diwarnai oleh penggunaan bahasa daerah tersebut. Sebut saja radio sebagai media elektronik yang banyak mengandalkan lisan dalam interaksinya, turut menyumbangkan perilaku berbahasa yang salah. Terutama radio yang sasarannya khusus untuk kaum muda yang memang banyak diminati.

Ya, tiap detik dengan mudah kita mendengarkan bahasa buruk. Gue banget, thank you banget, ya!, eh, jangan ngomongin aib pacarnya dia, dan sebagainya. Semakin lama, semakin banyak orang yang berbahasa Indonesia seenaknya, tidak mengindahkan norma atau aturan berbahasa yang berlaku resmi.

Bila dibentang lagi, permasalahan bahasa ini sepertinya tak terputus. Saya kira, permasalahan bahasa kita, selain masalah bahasa itu sendiri, juga masalah penuturnya seperti yang diuraikan di atas.

Namun, apakah kita tinggal diam dengan kondisi yang seperti ini? Setidaknya, kita masih punya ‘hutang’ untuk mempertahankan bahasa Indonesia sebagai amanat tahun 1928 lalu, yang telah menyatukan Indonesia melalui bahasa.

EKI yang disusun oleh Hasanuddin WS dibantu beberapa orang penyelia, saya kira adalah menyusun kembali kekayaan bahasa, tidak hanya di Indonesia, lebih luas bersifat global. Ia berbicara tentang persoalan bahasa dalam ruang lingkup yang lebih global dan majemuk. Lihat saja, tata bahasa dalam bahasa Inggris mendapat tempat dalam EKI. Berbagai macam aksara seperti aksara rencong, aksara pegon, atau aksara Jawa. Aksara ini bersanding dengan aksara yang lahir di luar negeri seperti aksara Han’gul dari Korea Selatan, aksara Brahmi dari India Kuno, termasuk juga aksara arab.

Entri yang terhimpun dan dijelaskan secara keseluruhan berkaitan dengan masalah kebahasaan bahasa Indonesia yang dapat dikategorikan pada tiga kelompok yaitu: istilah kebahasaan, tokoh ahli bahasa, dan karya kebahasaan. Untuk penyusunan, entri-entri dalam EKI disusun berdasarkan urutan abjad, entri demi entri, dan buku demi buku. Panjang dan pendeknya entri tidak sama untuk setiap entri. Entri yang memerlukan penjelasan lebih rinci mendapat perhatian yang lebih khusus untuk diuraikan. Istilah entri sendiri dimaksudkan topik atau judul atau hal yang dijelaskan dan diuraikan dalam ensiklopedi.

Dengan kehadiran EKI di tengah masyarakat yang ‘tidak peduli’ dengan bahasa, barangkali demikian tantangannya ke depan. Tapi setidaknya, EKI akan mencari tempatnya tersendiri untuk dimanfaatkan.

Tapi, bahasa sebagaimana dunia ini, terus mengalami perubahan. Dalam waktu yang sangat cepat, dalam bidang bahasa, pun akan mengalaminya. Artinya, dua atau tiga tahun mendatang, akan banyak istilah-istilah ataupun tokoh-tokoh kebahasaan yang hadir, lahir, terus berkembang. Istilah lama barangkali tidak lagi dipergunakan pemakainya. Namun, seperti kamus, kehadiran EKI akan mencatat dengan jelas setiap kelahiran tersebut. Ia akan menjadi semacam dokumentasi yang tidak dibawa oleh arus perubahan. EKI akan turut serta mengikuti perubahan itu sendiri, dalam edisi revisinya.

Harapan yang jelas adalah, bagaimana EKI bisa memberikan pengetahuan kepada semua orang—tidak hanya para linguis—untuk diambil saripatinya.

Selanjutnya......

Perpustakaan Penghubung Kebudayaan

DI NEGARA maju, perpustakaan sangat penting keberadaannya. Ia melambangkan sebuah peradaban, juga jadi pembeda antara bangsa maju dan terbelakang.

Bagi Ardoni Yonas, yang sehari-hari dosen Ilmu Perpustakaan dan Kearsipan (IIPK) Universitas Negeri Padang (UNP), bangsa yang maju adalah bangsa yang mementingkan perpustakaan. Di sana (perpustakaan—red), tak hanya ada ilmu, tapi juga tersimpan kekayaan-kekayaan budaya.

Ketika gempa yang melanda Sumatera Barat dan sekitarnya, yang turut menghancurkan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah yang tergolong koleksinya lengkap (Tipe A), Ardoni tak bisa menyimpan kegundahannya.

“Orang akan kehilangan informasi yang sahih,” tuturnya. Internet sebenarnya bisa menjadi sumber informasi, namun tak dapat dijadikan pegangan. Psikologinya, kata Ardoni, orang lebih nyaman memegang buku. Bisa dilihat di mana saja, dan dapat dibawa kemana-mana. Buku juga telah teruji kesahihannya. Internet sebaliknya, dan tak bisa disensor. Internet hanya berfungsi sekedar menambah wawasan, bukan pengetahuan.

Begitu pentingnya perpustakaan, Ardoni Yonas membandingkannya apa yang diperbuat orang di negara-negara maju. Mc Gafer, salah seorang detektif yang terkenal di Eropa, ketika memecahkan suatu masalah, tempat pertama yang ditujunya adalah perpustakaan. Di sana, ia membaca banyak hal. Sampai akhirnya ia bisa membuat sebuah kesimpulan dan melanjutkan tugasnya. Keluar dari perpustakaan, ia telah bisa menentukan sikap: apa yang akan diperbuat.

Di Cina, negara yang beraliansi komunis, pada tahun 90-an bersidang untuk membahas arti penting perpustakaan. Disadari oleh semua anggota sidang, “Tanpa ilmu, ekonomi akan hancur.” Maka, dalam pembangunannya, Cina ‘doyan’ melengkapi perpustakaannya.
Negara yang menyadari guna buku dan perpustakaan, lanjut Ardoni, mereka berlomba-lomba untuk membuat perpustakaan dan melengkapi koleksi bukunya. Begitu pentingnya sebuah buku, setiap terjadi peperangan di Irak, katanya, yang diserang adalah perpustakaannya.

Ardoni kembali bersedih mengingat Perpustakaan Daerah yang telah hancur. Pikirannya menerawang.

Penghubung Kebudayaan

Indonesia tak lah seperti bangsa maju. Minat baca sangat rendah. Itu juga berlaku bagi masyarakat Sumatera Barat (Sumbar). Masyarakat belum terlalu butuh perpustakaan. Budaya lisan begitu kentara.

Namun, bukan itu yang membuat Ardoni menerawang. Yang ia takutkan adalah, bahwa isi perpustakaan tak hanya buku. Di sana juga tempat tersimpannya aset kebudayaan. Perpustakaan adalah penghubung kebadayaan itu sendiri. 20 tahun yang akan datang, orang mungkin telah lupa dengan randai atau rabab. Tapi, perpustakaan tak akan pernah melupakannya. Di sana masih tersimpan arsip tertulisnya yang bisa dipelajari oleh generasi mendatang.

Yang akan terjadi adalah, orang-orang akan salah paham dengan sejarah. Kalau tidak punya arsip tertulis, hal ini memungkinkan terjadi.

“Ini yang ditakutkan, kebudayaan itu akan terputus,” lanjutnya sambil mengisap dalam-dalam rokok mildnya yang hampir habis.

Gedung yang hancur, baginya tidaklah terlalu dipermasalahkan. Gedung bisa dibangun dalam waktu yang cepat, tapi kebudayaan tak bisa dibangun linear dengan pembangunan fisik. Tapi apa yang akan terjadi, jika kita tidak punya lagi arsip lisan tentang sejarah Minangkabau?

Sebab, tutur Ardoni yang sedang sekarang sedang memikirkan untuk melanjutkan studi doktornya itu, pengelolaan perpustakaan di negara ini jauh dari kondisi sempurna. Ini yang akan membuat lambat pembangunan gudang ilmu pengetahuan tersebut.

Selama ini, lanjut Ardoni, kita memang belum peduli dengan pustaka. Beberapa hal menjadi indikator. Pertama, tuturnya, perpustakaan bergantung kepada pimpinan, tidak oleh profesional. Ia menyebut ada perpustakaan di daerah ini yang dibangun di tempat yang sepi, jauh dari keramaian. “La..siapa yang akan membaca?” Ketergantungan terhadap pimpinan, membuat perpustakaan tak terlalu dipedulikan. Sebab, pemegang kekuasaan masih terlalu memikirkan masalah ekonomi.

“Lihatlah buku-buku yang tersimpan di perpustakaan kita,” lanjutnya. Banyak buku bermutu hanya ada dalam bahasa Inggris. Ini berbeda dari apa yang terjadi di Jepang. Mereka di sana, mengutus masyarakatnya belajar bahasa Inggris ke luar. Balik ke Jepang, mereka disuruh untuk translet buku-buku yang ada di perpustakaan ke dalam bahasa Jepang.

Minat baca masyarakat yang rendah butuh tenaga yang besar pula untuk mengelolanya. Lihatlah di perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indonesia ini, lanjutnya, tenaga pengelolanya sangat sedikit sekali. Ditambah, jarang yang cakap terhadap urusan tersebut. Untuk membangun perpustakaan, memang butuh tenaga yang sangat besar.
Karenanya, Ardoni kuatir, tali kebudayaan itu benar-benar putus.

Perpustakaan di Daerah Rawan Gempa

Perpustakaan itu isinya buku. Kalau satu buku, itu tidaklah berat. Bila jumlahnya sampai seratus atau ribuan, itu tak bisa dianggap ringan. Dalam membangun perpustakaan, itu penting menjadi pertimbangan. Apalagi di daerah yang rawan bencana.

Ardoni yang telah berkunjung ke banyak perpustakaan di Indonesia ini, dalam pengamatannya, jarang perpustakaan yang dibangun tinggi.
“Biasanya lebar,” tuturnya.

Hal yang menjadi pertimbangan adalah, dalam membaca, orang butuh kenyamanan. Jarak antara buku dengan orang, semestinya agak berjauhan. Makanya, perpustakaan yang ideal juga memperhatikan pembangunan gedung.

Perpustakaan yang dibangun lebar, bagi Ardoni, cocok untuk membangun perpustakaan kembali di Sumbar ini. “Jangan memikirkan berapa lahan tanah yang akan digunakan. Tapi bagaimana memikirkan menyelamatkan aset bangsa ini,” tutupnya. (Andika Destika Khagen)

Selanjutnya......

Tak Ambil Pusing di Kakus Pesing

Selama seminggu, Tim Nan Padek (Padang Ekspres) memasuki pasar, kampus, dan kantor pemerintahan. Bukan menemui pejabat. Tapi menuju sebuah tempat yang letaknya di belakang: kakus. WC. Tempat orang membuang sisa kotoran dari tubuh.

Di Pasar Inpres II, di sana ada terminal bemo. Di atasnya, tempat orang berjual beli segala macam daging. Orang-orang sibuk berlalu lalang. Bila tak seksama melihat, maka kakus yang terletak persis di atas jenjang (dekat terminal bemo) itu tak terlihat. Letaknya memang menghadap ke belakang.

Kakus itu terdiri dari tiga buah tempat untuk buang air besar dan 4 buah kran air. Pedagang pasar memanfaatkannya untuk pelbagai keperluan: buang air, wuduk, dan mencuci ember yang kotor. Namun, tak ada yang gelisah, sebab di kakus itu, saluran airnya tidaklah lancar. Air menggenang di segala penjuru. Pintu kakus itu pun menua dan terlihat lapuk.

Lewat jembatan penyebrangan di lantai II Pasar Raya itu, kita menuju ke sebelahnya. Tukang jahit, pegawai salon, penjual kliping koran menunggu pembeli. Di sini tak seramai dibandingkan pasar raya di bawah. Ada yang kelihatan sedang main domino, biliar, sekedar menghabiskan hari.

Kakusnya berada di belakang. Seorang perempuan menunggui orang yang keluar dari kakus di depan meja persegi dengan uang receh dan seribuan. Orang-orang yang keluar dari kakus itu, memberikan uang sebesar Rp 1000. Kakus itu hampir sama kondisinya dengan yang pertama. Tempat pembuangan air tidak lancar dan bau pesing. Bedanya, di kakus ini, tidak ada pemisahan tempat untuk perempuan dan laki-laki. Hanya ada satu pintu masuk, baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Ada sebuah bak yang tidak terlalu besar di dalamnya, dipergunakan bersama untuk wuduk atau mencuci kaki. 6 buah kamar tempat buang air besar di tempat yang sama. Siapa yang duluan, bisa masuk ke tempat tersebut. Karena air buangan yang tidak lancar, lantai di kakus ini becek, sedikt tak terawatt sepertinya.

Masih di lantai II tersebut, persisnya di dekat Padang Teater, ada lagi sebuah kakus—lagi-lagi letaknya di belakang. Agak sulit menemuinya karena letaknya yang tersembunyi. Ini kakus, lebih parah kondisinya dari yang dua tadi. Air yang keluar dari kran tidak lancar. Bak penampungan air tidak lagi dipergunakan. Sebuah ember besar yang telah berlumut, menampung air tersebut. Bau pesing di mana-mana. Meski di sebelahnya tempat orang salat, namun airnya tidaklah bersih. Bau yang tak sedap—seperti bau tanah—tercium dari air tersebut. Ada 4 buah kamar tempat buang hajat. Hanya dua yang dalam kondisi bisa dipergunakan.

Yah, barangkali ucapan seorang pedagang di Pasar Raya itu benar, namanya juga pasar. Tidak ada yang bersih di pasar, apalagi kakusnya. Ada saja sudah cukup, tidak perlu neko-neko.

Namun, di tempat lain, yang diisi oleh kaum-kaum intelektual (baca: kampus), kondisi hampir seragam ditemukan. Di Pusat Kegiatan Mahasiswa UNP misalnya. Punya dua buah kakus. Air jarang mengalir. Tempat buang air besar tak bisa dipergunakan.
Anti, salah seorang mahasiswa mengakatan, “Kalau tidak terpaksa benar, lebih baik buang air di kos saja.” Ia misalnya, pernah menemui (maaf) pembalut perempuan berserakan. Tak jarang ditemuinya, mahasiswa yang buang hajat, tak menyiramnya. Ini tentu menimbulkan bau yang lebih busuk lagi.

Di kakus dekat mushalla—masih di kampus tersebut—keadaannya lebih parah. Ada tiga buah kakus. Satu kakus tak lagi digunakan (rusak). Air lancar, tapi bak penampung air warnanya telah hitam. Tak pernah diganti. Tempat pembuangan air tidak lancar. Kotoran di mana-mana. Bau kencing sampai keluar. Mahasiswa yang kebetulan lewat di depan kakus itu, tak jarang menutup hidung.

Kakus di rektorat UNP—letaknya di lantai dasar—meski tak sekotor yang tadi, tapi puntung rokok tampak berserakan. Keramiknya agak berlumut—kelihatannya sudah lama tak digosok.

“Saya malas masuk kakus di kampus,” begitu kata Rio, juga salah seorang mahasiswa di sana.

Di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (PSIKM) FK UNAND, yang terdiri dari 3 lantai itu—di setiap lantai ada kakus. Kakus yang terletak di lantai dua, pintunya macet, air sering mati, dan bau pesing. Hingga, kakus ini jarang dipergunakan oleh mahasiswa.

Tidak saja di Fakultas Kedokteran, bila kita berkunjung ke Kampus Unand Limau Manih, kita akan ditemui dengan fenomena yang sama. WC yang tidak terawat, tidak bisa digunakan, air yang tidak mengalir, dan seterusnya. Bahkan, banyak di antara wc itu yang di tutup dan tidak dipergunakan lagi, terutama di gedung-gedung kuliah bersama. Begitu pula dengan dekanat, wc-nya juga sering tidak dialiri air.

Itu baru UNP dan Unand, sebagai universitas ternama di Sumbar, belum lagi kalau kita berkunjung ke kampus-kampus lain. Sepertinya, wc bukan hal krusial bagi para intelektual tersebut untuk dibenahi. ”Sarjana jebolan wc rusak,” kata seorang mahasiswa jutek.

Agaknya, kita—entah pemerintah atau diri sendiri—tak memperdulikan ini. Kita, kata Masoed Abidin—yang akrab disapa Buya itu—tak tahu cara kencing yang benar. Kita masih saja tak menyiram bila kencing.

Ini bisa saja karena kita tak mendapatkan pendidikan. Dulu, semasanya, Buya bilang, di sekolahnya diajarkan latihan gotong royong. Diajarkan pula di mana membuang sampah. Meski kelihatan sepele, tapi itu akan membentuk karakter orang untuk lebih beraturan. Sekarang, sekolah tidak mengajarkan hal yang remeh temeh itu lagi, juga masalah kencing. Di rumah tidak, di surau bukan. Makanya, orang buang air sekehendak hatinya saja.

Ini juga sebuah pertanda, orang tak salat dengan baik. Orang salat itu kan bersih. 5 kali membersihkan diri sehari. Semestinya itu terbawa dalam kegiatan sehari-hari.
Perlu ada komitmen dari pemerintah kita serta masyarakat kota yang mendidikkan bagaimana cara buang air dari tubuh yang benar. Guru-guru juga penting mengajarkan kepada anak didiknya tentang hal itu. “Karena saya takutkan,” lanjut Buya, “seribu tahun ke depan, masyarakat kita tetap tidak tahu cara kencing yang benar.”
Pemahaman masyarakat, begitu menurut sosiolog Unand, Damsar. Pemahaman masyarakat tentang hidup sehat perlu diperhatikan. Sebab, ini akan mempengaruhi juga bagaimana menjadikan kakus umum itu bersih dan higienis. Dengan kebiasaan hidup sehat, masyarakat tahu dan mengerti kalau kakus yang jorok tersebut merupakan sumber penyakit.

Beban berikutnya ada di pundak pemerintah. Pemerintah tak boleh tinggal diam. Pemerintah seharusnya mengalokasikan dana untuk pemeliharaan dan perbaikan kakus umum tersebut. Selain itu, pemerintah juga mesti mengevaluasi pengelolaan dan pemeliharaan kakus tersebut.
***
Penulusuran Padang Ekspres berakhir di Balai Kota Padang. Terbesit pikiran, ini tak seperti yang ditemui semula. Kakus di sini tentu tak seperti yang ditemui di pasar raya.

Di kakus lantai dasar Balaikota tersebut, kakus untuk perempuan terkunci rapat. “Rusak,” kata seseorang yang lewat di sana. Di kakus laki-laki, ada tiga buah tempat buang air besar. Satu rusak. Cuma ada satu tempat penampungan air dari tiga kakus tersebut. Bila dua orang karyawan sama-sama tersesak buang air besar, mesti antre. Sebab, penampungnya hanya ember. Itu pun cuma satu.

Air di kloset mengalir dengan lancar. Tapi kloset tersebut, sepertinya jarang disentuh. Berlumut. Lima buah kran ada di sana, tiganya rusak. Di sekitar kakus itu, keramiknya tak terawat dengan baik.

Barangkali, ini merupakan cermin, kita terlalu menganggap sepele. Hal di atas, hanya contoh kecil. Hampir setiap kantor, sekolah dan WC umum, keadaan WC-nya tidak bersih. WC umum, menurut pengamat kebijakan publik Eka Vidya Putra, “Khususnya untuk WC umum, orang kan bayar. Berhak mendapatkan WC yang bersih. Sekali kencing seribu, harusnya setimpal dengan pelayanan WC bersih.” Atau, jangan-jangan, kita terbiasa dengan yang pesing, sehingga tak perlu ambil pusing!!! (Andika Destika Khagen/Gusriyono/Nilna R Isna)

Padang Ekspres, 5 Juli 2009
sumber foto: ajinitisuwito.wordpress.com


Selanjutnya......

Ironi

AKHIR-AKHIR ini, sepertinya kita terbiasa dengan banyak ironi. Di sekeliling, bertebaran janji-janji; hal-hal baru, menyalahkan yang lama. Sepertinya, itu akan terjadi pada masa depan. Bila ironi diartikan sebagai kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau seharusnya terjadi (pengertian kamus), maka benar, ini adalah ironi.

Pelbagai debat yang kita dengar, sebelum tanggal 8 Juli nanti, walau berbeda, sebenarnya satu pendapat: meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia. Tapi, apakah itu akan terjadi? Tidakkah kekuasaan itu membuat orang menjadi maruk? Banyak orang yang curiga, ini hanya bagian dari ironi yang besar. Mengobok-obok rakyat dengan gula-gula yang manis itu.

Namun, jangan-jangan, kita perlu curiga, kita sudah terbiasa bergelut dengan ironi? Begitu biasanya, kita tak perlu lagi memikirkannya. Biarlah, toh tak akan berubah keadaan itu.

Saya kira, bahaya besar dari ironi adalah sikap skeptisme. Tak mau peduli dengan apa yang terjadi (berpura-pura peduli). Atau sebaliknya, karena ironi sudah terlalu biasa, menjadi berlebihan. Mudah sekali memukul orang, sangat gampang mengucapkan kata-kata yang membuat orang lain tersinggung, dan mudah mengumbar janji, tak perlu ditepati.

Kenapa? karena semua orang sudah kenyang dengan ironi. Bisa jadi berlebihan. Dan di negara dengan ironi berkembang pesat, etika, budi pekerti, dan nilai bukan lagi hitungan yang perlu.

Ironi tumbuh pesat di saat kepastian tak ada, kalau bisa dikatakan tak mungkin. Menggapai yang tak bisa, lalu dijanjikan, akan melahirkan ironi. Lalu diumbar-umbar, dipaksa bisa, menggebu-gebu (persis seperti kampanye), lalu diam, dan bersembunyi di balik keadaan.

Setiap orang sah mengejek, merendahkan harkat orang lain. Yang paling penting adalah tujuan. Toh, di negara dengan ironi besar, memang tak butuh bukti? Ajarannya seperti ini, “Berjanjilah untuk menang.” Memang, yang dibutuhkan hanya itu. Untuk mengalahkan lawan, sikut saja. Kapan perlu, jelek-jelekkan. Burukkan citranya kepada publik. Buat lawan terhina. Tersenyumlah bila menang.

Tujuan telah tercapai. Karena ini negara hidup dengan ironi—rakyatnya juga seperti itu—kembaliah ke tujuan awal. Mengalahkan musuh. Membuatnya tak berkutik. Janji? Nanti dulu. Banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan segera. Rakyat tak akan berontak. Karena mereka selama ini telah dibesarkan dengan ironi-ironi.

Sebaliknya, rakyat pun tak peduli. Kontrol hanya basa-basi agar dilirik kekuasaan. Negara dengan banyak ironi mengajarkan, “Berpandai-pandai.” Tak ada yang namanya hutan yang hijau, laut yang kaya dengan terumbu karangnya, dan petani-petani yang berjasa.” Yang ada hanya uang, tahta, dan sejenisnya.

Dan, kita semua ternyata adalah ironi itu sendiri. Di keseharian, kita tidak bisa tepat waktu, misalnya. Berjanji dengan relasi pukul empat sore, terlambat setengah jam. Masuk kantor pukul delapan, tiba pukul sepuluh. Padahal, itu mudah dilakukan. Yang menjadi masalah adalah, ironi tadi. Tak mau menepati, sebab, terlambat datang setengah jam sudah biasa. Sangat biasa.

Kebiasaan-kebiasaan ini kemudian menjadi keseharian. Dilakukan banyak orang. Berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dilakukan tukang becak sampai pejabat tinggi. Mulai dari pembantu rumah tangga sampai mentri. Berkembanglah ironi: sesuatu yang mungkin (harus) dilakukan, tapi tak terwujud.

Bagaimana menumbuhkan kepercayaan di tengah ironi? Barangkali tak mudah (atau tak mungkin?). Bila kepercayaan itu benar yang tak ada dalam diri, semua hal rasanya tak bermanfaat saja.

Celakanya, kita—yang sudah terbiasa dengan ironi tadi—dipaksa keluar dari itu semua. ‘Dipaksa’ percaya, dibuat tak berdaya oleh keadaan. Berseliweranlah hal-hal yang kemudian dicibirkan, pada akhirnya mencibirkan diri sendiri. Barangkali semakin benar, negara dengan ironi yang dirawat sehingga tumbuh besar, akan selalu menjadi kerdil, dan tak diperhitungkan. Permasalahannya hanya itu-itu saja.

Dan dihadapan kita sekarang, ironi-ironi itu tengah berkembang!!!

Selanjutnya......

Siapa Pewaris Seni Tradisi?

KETIKA Marlis mengajak anaknya nonton randai, sang anak bertanya, “Apaan sih asyiknya?” Marlis tidak menjawab. Ia menceritakan sekilas saja, bahwa randai itu kesenian tradisional Minang, yang menarik untuk ditonton. Sang anak akhirnya ikut. Ketika pertunjukan dimulai, sang anak yang baru kelas I SMA itu, mencoba memperhatikan dengan serius. Setelah itu, ia asyik mengirim dan menerima sms dari temannya. Setengah jalan pertunjukan randai, ia bilang, “Yah, pulang yuk!”

Kemudian, di tempat lain, pada sebuah rumah, seorang perempuan berusia 60-an, menyalakan televisi. Ada acara saluang di televisi lokal. Tapi, ketika itu anak dan cucunya minjam remot, dan mengalihkan ke acara musik di televisi swasta nasional. Sang nenek marah, “Sini, sini remot itu. Kalian saja yang nonton….” Sang cucu merengut pergi, sembari bergumam lambat, “Kolot!” Ilustrasi di atas, sebuah gambaran sederhana, yang ada di tengah masyarakat kita. Pertunjukan seni tradisi, lengang penonton. Beberapa di antaranya, untuk seremoni pejabat pemerintah, setidaknya untuk penjawab tanya dan bahan pidato, kalau kita tetap mencintai kesenian tradisi kita.

Marliani, mengakui, memang dia tak pernah punya keinginan khusus untuk menonton pertunjukan seni tradisi. Dulu, waktu masih kecil (kini dia berusia 47 tahun), kalau ada tetangga baralek, biasanya mengundang rabab atau saluang. Dia melihat banyak orang menikmati. Kini, kalau ada usulan baralek mengundang rabab atau saluang, banyak yang mematahkan. Diganti organ tunggal. Tak ada nilai budaya di situ. Kini, kalaupun ada orang barabab atau saluang, ia mengaku jujur, tidak pernah menyarankan anaknya untuk nonton dan kenal. “Wajar kalau seniman tradisi dan pertunjukan kesenian tradisi semakin hari, kian jarang kita lihat….”

Banyak di antara kita lebih memilih nonton tayangan konser atau sinetron jika dibandingkan dengan acara seni tradisi minangkabau. Jojo (24), misalnya, dia mengatakan bahwa konser dan sinetron lebih mengasyikan. Kemudian ia menyebutkan alasan bahwa ia tidak tertarik pada seni tradisi kerena memang tidak diajarkan untuk tertarik.

”Bagaimana bisa tertarik kalau di jam sekolah mata pelajaran kesenian tradisi hanya jadi ban serap pelajaran lainnya,” ujarnya. Selain itu dalam sekolah cara menyampaikan pelajaran seni tradisi itu juga tidak menarik. Tak ada yang membuatnya terkesan, lantaran pengajarnya tak kalah kurang mengerti tentang apa yang diajarkannya. Ia tidak menyangkal bahwa ketidakpahamannya ini membuatnya berjarak dengan tradisi itu sendiri. Walaupun terlibat dengan beberapa aktivitas seni pertunjukan tradisi, ia masih saja tidak ada keinginan untuk menggali lebih dalam lagi. Keterlibatan yang terjalin juga lantaran ia memainkan kesenian tradisi yang telah terhybrid dengan aransemen modern.

Fenomena yang sama juga diungkap Heri Faisal (20), yang kurang tahu dengan seni tradisi, tapi ia senang sesekali menontonnya. Baginya ada sesuatu yang baru ketika menonton seni tradisi, misalnya tabuik. Tetap saja bila diberi pilihan menonton musik kontemporer atau musik tradisi, Heri lebih suka menonton musik kontemporer di televisi dari pada tayangan yang bebau seni tradisi. Sebab baginya musik kontemprer lebih variatif, dan mengasyikkan.

Warti (30), ibu dua anak ini menyebut seni tradisi sebagai seni yang berhubungan dengan nuansa tradisional. Karena ia sendiri tidak diberikan pengetahuan dan pengalaman tentang seni tradisi, ia juga tidak terlalu memberikan anaknya pengetahuan tentang seni tradisi. Kalau di suruh untuk menonton seni tradisi atau sinetron, maka ia akan memilih menonton sinetron. Ia tidak memiliki banyak pengetahuan tentang seni tradisi, itu akibatnya ia tidak merindukannya. Begitu pula dengan Devi (27), karyawan swasta ini berpendapat seni tradisi adalah seni masa lalu. Ia lebih suka menyaksikan konser dari pada harus menonton tayangan seni tradisi. Ia tidak tertarik pada seni tradisi karena tidak diajarkan bagaimana untuk mencintai seni tradisi. Waktu di sekolah dulu ia hanya mendapatkan seni tradisi sebagai sebuah mata pelajaran tambahan namun dianggap tidak penting.

Melihat keadaan yang demikian, wajar kiranya seni tradisi semakin meredup dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Hasannadi, dosen dan peneliti budaya Minangkabau, mendasarkan ini pada kebutuhan masyarakat akan seni tradisi tersebut. Di mana bagi masyarakat sekarang menonton atau mempelajari seni tradisi bukan lagi sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan akan hiburan ini bergeser pada seni-seni alternatif atau kontemporer, meski, pada orang tua-tua, kerinduan terhadap seni tradisi ini masih muncul.

Namun, persoalan pelik pada generasi muda menyangkut identitas. Bahwa, identitas ditentukan oleh hal-hal prestisius yang disuguhkan kepada masyarakat. “Selain itu, proses pewarisan seni tradisi yang tidak diiringi dengan transformasi nilai-nilai, serta kepercayaan diri pewaris dalam menghadapi tantangan hidup berkesenian,” tutur Hasannadi. Melanjutkan penjelasan Hasannadi, Tulus Handra Kadir, dosen Sendratasik UNP, mengatakan,” Terlalu cepat kalau kita mengatakan bahwa seni tradisi itu tidak dipedulikan lagi oleh generasi sekarang. Untuk saat ini masih ada orang yang minat masuk sanggar, bersekolah di sekolah atau universitas seni.

Permasalahannya yang mungkin ada adalah bahwa apresiasi terhadap seni tradisi itu belum sampai pada generasi sekarang, sehingga generasi mencerna sendiri apa yang dia lihat, apa yang mereka pahami. Sebagian dari mereka tidak begitu paham dengan esensi-esensinya. Sehingga dia hanya melihat bahwa seni itu hanya sebagai hiburan.”

Nilai-nilai seni tradisi selama ini tidak teraktualisasikan sehingga tak dipahami akan arti pentingnya kesenian tesebut. Ada permasalahan yang krusial, apalagi jika permasalahan itu dikaitkan dengan proses pendidikan. Nilai-nilai yang mungkin dahulu pernah ada dalam kesenian pendahulunya, sekarang mungkin tidak terasa lagi. Orang dahulu kesenian adalah bagian dari kehidupannya. Mungkin tidak terjadi lagi pada generasi saat ini. ”Sekarang esensi itu sudah lain karena sebagian besar nilai sudah diambil alih oleh sistem pendidikan formal. Sehingga apa yang tersisa? Ya, yang tersisa aspek hiburannya saja. Bukan esensi dari seni tradisional itu. Sehinga yang diperlukan itu adalah pewarisan dengan pemahaman esensi seni tradisi itu,” sambung Tulus.

Sementara itu, dicabutnya kebudayaan dan kesenian dari departemen pendidikan ke departemen pariwisata saat ini akan sangat mempengaruhi perubahan cara generasi muda dalam melihat kesenian tradisi ke depan, yakni negara telah merubah kebijakan status kesenian menjadi barang yang bisa diperdagangkan, aset yang bisa dijual kepada turis. Kalau dulu kesenian adalah bagian dari budaya untuk membina bangsa, di bawah naungan pendidikan. Kondisi inilah yang akan membentuk cara generasi melihat seni tradisi. Jadi, lagi-lagi pendidikan adalah aspek yang paling krusial dalam membentuk pemahaman yang ideal tentang seni tradisi di ranah Minang.

Menyoal siapa pewarisnya, sebenarnya pewaris seni tradisi itu tidak akan pernah hilang, ia mungkin hanya menemukan bentuk baru, dengan merujuk dari bentuk yang lama. ”Namanya ivented tradition. Memang, mungkin seni tradisi itu hanya seperti sebuah penanda identitas, simbol kedaerahan untuk selanjutnya. Bukan pemahaman substansionalnya. Tapi inilah kenyataan seni tradisi di Minang kabau. Sakali aie gadang, sakali tapian barubah. Seni tradisi diminang juga seperti itu.

Karena faktor sosiokulturalnya yang membentuk arah dan orientasi seni tradisi tersebut,” papar Tulus lagi, dengan mencontohkan alat musik talempong. Saat ini orang memainkan seni yang secara fisiknya saja, bukan secara esensinya lagi. Namun kondisi ini bukanlah kesalahan mereka karena mereka tidak mengalaminya lagi konteks talempong yang dulunya adalah sebuah pamenan masyarakat agraris Minang setelah panen. Seiring dengan itu, budayawan Bagindo Fahmi berpendapat, “memasukkan unsur modern itu bagus, tapi kalau tidak memiliki pengertian yang jelas tentang modern itu, inilah nantinya yang akan menyebabkan kehancuran pada nilai-nilai tradisi yang ada.”

Beberapa langkah ideal bisa dilakukan agar seni tradisi diminati dan dipahami nilai dan maknanya. Seperti yang ditawarkan Aldi, mahasiswa STSI Padangpanjang, “Membangkitkan kembali selera seni tradisi dalam masyarakat Minangkabau, itu semangat yang mesti kita usung. Wujudnya bisa saja dengan menggalakkan atau mengadakan pertunjukan rutin untuk membangkitkan semangat itu. Serta merevitalisasi kampung-kampung yang menjadi basis seni tradisi.”

Demikian juga dengan Bagindo Fahmi, pekan budaya yang diadakan Dinas Pariwisata dengan UPTD Taman Budaya Sumbar tiap tahun, sebenarnya menjadi lahan yang ideal untuk membangkitkan semangat berkesenian daerah. Namun, ini belum berjalan sebagaimana mestinya. “Hendaknya pekan budaya menghadirkan seluruh budaya daerah yang ada di Sumbar, kemudian adakan diskusi di antara pelaku seni tradisi itu, bagaimana kita memelihara seni tradisi ini agar tetap bertahan.”

Sementara itu, Hasannadi lebih menekankan pada upaya mengaktifkan peran unsur masyarakat nagari. “Peran elit nagari seperti ninik mamak dan unsur lainnya sangat dibutuhkan dalam menumbuhkembangkan seni tradisi di nagarinya. Sebab, mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di masyarakat dan diikuti.”
Walau bagaimanapun, kelangsungan hidup seni tradisi tetap menjadi tanggung jawab bersama. Sejatinya, peran semua unsur menjadi bagian yang tak terelakkan. Mari berbenah. (Gusriyono/Andika Destika Khagen/Fadli Akbar)

f: ruangfoto.com
Padang Ekspres, 14 Juni 2009


Selanjutnya......

LADANG: ASKETISME ORANG KALAH

Pengarang: Esha Tegar Putra
Penerbit: Framepublishing
Cetakan: Mei 2009
Ukuran: 120 halaman

Seberapa tegar seorang lelaki memasuki dunia sunyinya, dunia masa tua, dunia yang dipenuhi kenangan “kegemilangan” masa lalu? Apa akibatnya bila manusia mengabaikan dimensi abadi hidupnya? Bagaimana caranya membunuh sunyi, dengan sebentuk keraguan-raguan eksistensial, yang terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan? Dan, keputusasaan. Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?

Mencapai dan memasuki kehidupan otentik, yang diidamkan, memang tidaklah mudah. Setiap orang memiliki pandangan hidup, yakni cara melihat dan bertindak dalam dunia, yang berbeda dalam konsep dan terapan. Cara pandang ini memuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang paling didambakan di dunia, apa yang paling bernilai, apa yang sebenarnya dikejar, bagaimana mewujudkan tujuan, dan sebagainya. Jawabannya pastilah beragam. Berbeda-beda. Tergantung pada siapa yang memberikan jawaban. Boleh jadi, hal yang paling diburu di dunia adalah kekayaan. Atau kebahagiaan. Tapi, tidak menutup kemungkinan, ada yang memilih kehormatan, cinta kasih, atau kedamaian hari tua sebagai jawabannya.

Celakanya, kita kerap mencampuradukkan atau menyamaratakan antara keinginan dengan tujuan hidup. Akibatnya, tujuan hidup pun tak lebih dari bertumpuk keinginan untuk mencari kekayaan sebanyak mungkin, atau tersohor, dan bahkan menjadi seorang yang “dihormati”. Maka, seorang politikus akan berusaha memenangkan pemilu atau mendapatkan jabatan dengan “penghalalan” segala cara. Seorang sastrawan atau ilmuwan berkeras menerbitkan buku dan melahirkan masterpiece sebanyak mungkin biar semakin populer. Bahkan, tak jarang, ada artis mencoba merambah ranah yang sangat “jauh” dari latar keilmuannya. Padahal, segala berhala dunia itu, baik material maupun immaterial, akhirnya akan berlepasan dan bertanggalan satu demi satu seiring dengan laju pertambahan usia.

Inilah yang didedah secara cerdas oleh Esha Tegar Putra dalam kumpulan puisinya, Pinangan Orang Ladang yang berisikan 76 puisi dari tahun 2006-2008. Ia secara meyakinkan tampil sebagai sosok penyair yang lahir dari kekentalan tradisi Minang. Di satu sisi, ia menyerap estetika pantun, gurindam, dan peribahasa dalam penuangan gagasan estetiknya. Pada sisi lain, lewat beberapa puisi, ia berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara “orang menang” dan “orang kalah” dalam konstelasi adat Minang masa kini. Selain itu, juga membangun pengamsalan perihal segitiga “surau-lepau-rantau” dalam riwayat hidup kekinian. Bahkan, ia menawarkan satu alternatif baru: ladang. Ladang bisa menjadi tempat para lelaki membangun rumah, bersunyi-sunyi, dan menikmati kenangan kegemilangan masa lalu dalam bangunan ingatan. Ladang, dengan segala sepinya, bisa pula menjadi tempat sembunyi dari gunjing-cela dan olok-olok orang sekampung. Orang rantau sebagai pemenang dan orang ladang sebagai orang kalah adalah dua wajah berbeda, bagai “loyang” dan “emas”. Begitulah, Esha menawarkan ladang sebagai tempat mentafakuri kekalahan. Akan tetapi, sesederhana itukah pencapaian estetis penyair kelahiran Solok ini? Tentu saja, tidak. Banyak hal baru yang bisa kita temukan.

Di sinilah pentingnya lelaku kepenyairan membutuhkan berbagai penggalian dan pencarian, baik kelaziman bentuk maupun kedalaman estetika, bahkan pemberontakan pada tradisi kepenyairan. Maka, semakin berlama-lama kita mengupas setiap demi setiap sajak dalam antologi ini, semakin bertemu keindahan bunyi, kelezatan puitik, dan keragaman diksi yang dikemas dengan telaten untuk menunjukkan eksistensi sosok seorang penyair yang baru “sering” berpuisi pada akhir 2005. Berpuisi, bagi Esha, adalah laku ketelatenan, keseriusan, dan kesungguhan.

Garapan gagasan, sebagaimana diungkap Damhuri Muhammad ketika membedah antologi ini (Wapres Jakarta, 27/5), adalah wilayah unik bagi penyair seusia Esha. Ada asketisme orang kalah. Pesimisme “orang rantau” yang kembali ke kampung halaman sebagai “orang kalah”. Keputusasaan karena kekalahan itu tidak bisa sepanjang hari dieramkan di surau, apalagi di rumah yang setiap kamarnya sudah dikuasai oleh kaum perempuan. Sementara, lepau hanya bisa menyuguhkan rasa nyaman pada malam hari: ratap mana yang kau timpakan, ini sakit menjadi berlapis-lapis/ di ceruk malam aku menjadi sesuatu yang lain/ seuatu yang asing (Putus:71). Dan, siang merupakan siksaan bagi “orang kalah” itu. Maka jadilah ladang sebagai tempat persembunyian: di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut tali puisi (Garis Ladang:50).

Apa yang tersisa dari orang yang “sudah mengaku kalah” dan memilih ladang untuk bersunyi-sunyi diri? Yang ada adalah kepuasan dan ketidakpuasan, rasa terpenuhi dan frustasi, juga sisa semangat dan keputusasaan: lelaki yang tersudut di ujung pisau pancung/ menasbihkan rindu pulang/ berkali-kali (Kuala Lengang:53). Namun, tidak berarti tak ada lagi “harapan hidup”, bahkan masih tersisa keinginan menyunting gadis impian: bukan meminangmu kungerikan/ tapi sepulau cinta yang bakal karam/ sebab jalan hilang pijakan (Pinangan:59). Bagi lelaki Minang, yang pulang dari rantau dan dipaksa keadaan memilih ladang sebagai persinggahan akhir, maka ketakutan dan keputusasaan menghadapi ketidakpastian masa depan, justru lebih mengerikan daripada sekadar penolakan atas pinangan yang diajukan.

Tampaknya Esha sedang dijangkiti kegelisahan lantaran sekian banyak lelaku kepenyairan mutakhir ternyata gagal mengantarkannya pada kenikmatan berpuisi. Itu sebabnya ia meneruka jalan baru, yang meski terpaksa banyak menggunakan kata-kata janggal, tapi pasti menghulu ke kedalaman estetika. Diam-diam Esha meramu sajak-sajaknya menjadi sebentuk “kamus baru” guna menggiring pembaca mencari sendiri makna kata yang berasa asing dan janggal itu. Berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar/ saluang ditiup pula oleh para penghela dendang. Di mana rahasia/ kejadian lama disurukkan? Di salempang induk beras, di kopiah/ tuan kopi atau di saku baju para penggetah burung rimba? (Penari Piring:88). Saluang-disurukkan-salempang-kopiah-penggetah: kata-kata yang tidak akrab dan tidak lazim digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahkan dalam puisi.

Akhirnya, jika sang penyair tidak berhati-hati, kedalaman makna yang diharapkan menjadi inti, menjadi substansi, bisa jadi terposisikan hanya sebagai sisipan, suplemen, atau pelengkap belaka. Akibatnya, kedalaman yang dijanjikannya, sebagaimana lazimnya banyak puisi, sukar untuk diselami. Apa yang dilakukan Esha patut mendapat apresiasi, dan semoga bisa membangun ruang baru bagi “jalan kepenyairan”. Bukankah puisi tidak semata keindahan bahasa?

KHRISNA PABICHARA, penyair dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta. Selain menyunting buku, juga menulis buku motivasi, sajak, esai sastra, dan resensi buku. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan sajaknya, Mozaik Berahi, sedang dalam proses terbit.

Padang Ekspres, 21 Juni 2009

Selanjutnya......

Soal Posisi Perempuan

Judul buku : Tuhan telah Memutuskan
Penulis : Free Hearty
Penerbit : Jendela
Cetakan : I, Safar 1430 H/Februari 2009
Tebal : 272 halaman


Fretty, seorang perempuan yang begitu percaya dengan nasehat ibu, nenek, dan mertuanya. Posisi perempuan di hadapan lelaki adalah sebagai pengabdi. Perempuan tak berhak menggugat. Mereka—kaum perempuan itu—tidak boleh tidur, sebelum suami pulang kerja. Bahkan, bila sedang melaksanakan salat sunat, lalu mendengar suami pulang kerja, wajib bagi perempuan membukakan pintu lebih dulu kepada suami (hal. 22).

Dalam diam, timbul gugatan-gugatan terhadap apa yang diterima. Kenapa posisi perempuan lebih rendah? Kenapa perempuan tak boleh menggugat? Timbul pemberontakan-pemberontakan dalam diam Fretty. Tapi ia tak mampu berbuat apa. Ia menerima saja yang ada.

Fretty tersadar, ketika Junedi tak seperti yang ia kira. Tak sesuai dengan nasehat ibu, nenek, dan mertuanya itu. Komunikasi yang jarang di rumah dengan suaminya, membuat ia tak pernah tahu, bahkan pekerjaan suaminya di luar. Suaminya selingkuh. Tapi Fretty masih bertahan dengan kondisi itu.

Tuhan Telah Memutuskan, menggali, bahkan menggugat posisi perempuan. Tak hanya dalam rumah tangga, tapi juga posisinya di antara lelaki. Siapa sebenarnya makhluk yang bernama perempuan ini?

Di sini, perempuan ditampilkan tidak memiliki status inferior. Ini pun disebabkan oleh kaum perempuan itu sendiri yang begitu pasrah menerima citra mereka yang tidak menguntungkan itu.

Bila pikiran kita kembali pada masa lalu, sepertinya ini lazim terjadi. Toh, memang pikiran tokoh utama sangat dipengaruhi oleh masa lalu: melalui nasehat-nasehat ibu,nenek dan mertuanya.

Dalam karya A. Discourse on Political Economy (1755), filsuf Jean Jacques Rousseau juga secara konsisten memandang perempuan sebagai makhluk inferior dan tersubordinasi. Tujuan hidup mereka hanya untuk melayani laki-laki. Karena itu, mereka tidak mungkin atau tidak akan mampu melebihi laki-laki.

Free Hearty, barangkali hendak menggugat ketertindasan-ketertindasan yang terjadi pada status ke-perempuan-an mereka. Namun di sisi lain, ia juga mempertanyakan masalah kodrat. Ada titik ambiguitas ketika perempuan dihadapkan pada status mereka tersebut.

Tokoh Saras sepertinya mewakili sosok perempuan yang ideal: pintar, tak terikat dengan kasur, sumur, dapur, serta mampu berbuat laiknya seperti lelaki—bahkan melebihi. Tapi ia bukan tanpa cela. Saras seorang lesbi. Di balik keberhasilannya mengangkat harkat perempuan, ia tak bisa melawan sisi jiwanya yang lain: bahwa ia tak tertarik dengan laki-laki.

Novel ini, dengan sudut pandang seorang perempuan pula, memang secara eksplisit dan terang mengkritik perempuan, menyanjungnya, dan mempertanyakan hakekat-hakekat keperempuanan. Novel ini cocok dibaca oleh orang yang ingin menjadi perempuan yang tahu akan hak dan batasannya.

Perempuan dalam Rumah Tangga

Tuhan Telah Memutuskan kaya akan nasehat-nasehat terhadap kaum perempuan, terutama dalam rumah tangga. “Jadi, kehidupan rumah tangga itu sebenarnya terletak kepada bagaimana orang-orang di dalamnya melaksanakan tanggungjawab, begitu kan Wit?”. Dialog ini barangkali menyampaikan pikiran sang penulis bagaimana menghadapi rumah tangga. Dialog ini secara tersirat menyampaikan pesan kepada semua kaum perempuan: di dalam rumah tangga, tanggungjawab tak hanya milik perempuan saja, tapi juga suami.

Rumah tangga akan menjadi seperti yang diharapkan, bila ada saling mengerti. Terjadi hubungan yang harmonis, dan saling menghargai. Ini diperlihatkan pada bab akhir. Tokoh Freety hidup bahagia dengan suaminya yang baru: Martin.

Martin adalah sosok lelaki ideal (dalam kehidupan nyata, sepertinya sulit ditemukan lelaki seperti Martin). Ia seorang lelaki yang pintar membangun rumah tangga. Martin, kepada anak-anak Freety mengajarkan untuk tidak saling membenci. Kehidupan mereka tidak dibahas lebih jauh.

Perempuan-perempuan yang ditampilkan dalam novel ini: Freety, Saras, Wita, dan anak-anak mereka, merupakan contoh sosok perempuan yang sebenarnya. Akhirnya memang, mereka semua hidup dengan pilihan mereka masing-masing. Freety bahagia dengan rumah tangga barunya. Wita memutuskan menikah—sebelumnya ia selingkuh dengan Junaedi, suami Freety, dan Saras menerima keadaannya yang lesbi itu.

Tapi, yang merupakan inti dari persoalan-persoalan perempuan tersebut adalah, bagaimana mereka berjuang dalam menghadapi ketertindasan-ketertindasan disebabkan status keperempuanan tersebut. Perempuan yang berhasil adalah, bagaimana mereka memaknai masalah-masalah yang terjadi. Karena permasalahan-permasalahan yang terjadi, cenderung beragam. (Andika Destika Khagen)

Selanjutnya......