Tak Ambil Pusing di Kakus Pesing

Selama seminggu, Tim Nan Padek (Padang Ekspres) memasuki pasar, kampus, dan kantor pemerintahan. Bukan menemui pejabat. Tapi menuju sebuah tempat yang letaknya di belakang: kakus. WC. Tempat orang membuang sisa kotoran dari tubuh.

Di Pasar Inpres II, di sana ada terminal bemo. Di atasnya, tempat orang berjual beli segala macam daging. Orang-orang sibuk berlalu lalang. Bila tak seksama melihat, maka kakus yang terletak persis di atas jenjang (dekat terminal bemo) itu tak terlihat. Letaknya memang menghadap ke belakang.

Kakus itu terdiri dari tiga buah tempat untuk buang air besar dan 4 buah kran air. Pedagang pasar memanfaatkannya untuk pelbagai keperluan: buang air, wuduk, dan mencuci ember yang kotor. Namun, tak ada yang gelisah, sebab di kakus itu, saluran airnya tidaklah lancar. Air menggenang di segala penjuru. Pintu kakus itu pun menua dan terlihat lapuk.

Lewat jembatan penyebrangan di lantai II Pasar Raya itu, kita menuju ke sebelahnya. Tukang jahit, pegawai salon, penjual kliping koran menunggu pembeli. Di sini tak seramai dibandingkan pasar raya di bawah. Ada yang kelihatan sedang main domino, biliar, sekedar menghabiskan hari.

Kakusnya berada di belakang. Seorang perempuan menunggui orang yang keluar dari kakus di depan meja persegi dengan uang receh dan seribuan. Orang-orang yang keluar dari kakus itu, memberikan uang sebesar Rp 1000. Kakus itu hampir sama kondisinya dengan yang pertama. Tempat pembuangan air tidak lancar dan bau pesing. Bedanya, di kakus ini, tidak ada pemisahan tempat untuk perempuan dan laki-laki. Hanya ada satu pintu masuk, baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Ada sebuah bak yang tidak terlalu besar di dalamnya, dipergunakan bersama untuk wuduk atau mencuci kaki. 6 buah kamar tempat buang air besar di tempat yang sama. Siapa yang duluan, bisa masuk ke tempat tersebut. Karena air buangan yang tidak lancar, lantai di kakus ini becek, sedikt tak terawatt sepertinya.

Masih di lantai II tersebut, persisnya di dekat Padang Teater, ada lagi sebuah kakus—lagi-lagi letaknya di belakang. Agak sulit menemuinya karena letaknya yang tersembunyi. Ini kakus, lebih parah kondisinya dari yang dua tadi. Air yang keluar dari kran tidak lancar. Bak penampungan air tidak lagi dipergunakan. Sebuah ember besar yang telah berlumut, menampung air tersebut. Bau pesing di mana-mana. Meski di sebelahnya tempat orang salat, namun airnya tidaklah bersih. Bau yang tak sedap—seperti bau tanah—tercium dari air tersebut. Ada 4 buah kamar tempat buang hajat. Hanya dua yang dalam kondisi bisa dipergunakan.

Yah, barangkali ucapan seorang pedagang di Pasar Raya itu benar, namanya juga pasar. Tidak ada yang bersih di pasar, apalagi kakusnya. Ada saja sudah cukup, tidak perlu neko-neko.

Namun, di tempat lain, yang diisi oleh kaum-kaum intelektual (baca: kampus), kondisi hampir seragam ditemukan. Di Pusat Kegiatan Mahasiswa UNP misalnya. Punya dua buah kakus. Air jarang mengalir. Tempat buang air besar tak bisa dipergunakan.
Anti, salah seorang mahasiswa mengakatan, “Kalau tidak terpaksa benar, lebih baik buang air di kos saja.” Ia misalnya, pernah menemui (maaf) pembalut perempuan berserakan. Tak jarang ditemuinya, mahasiswa yang buang hajat, tak menyiramnya. Ini tentu menimbulkan bau yang lebih busuk lagi.

Di kakus dekat mushalla—masih di kampus tersebut—keadaannya lebih parah. Ada tiga buah kakus. Satu kakus tak lagi digunakan (rusak). Air lancar, tapi bak penampung air warnanya telah hitam. Tak pernah diganti. Tempat pembuangan air tidak lancar. Kotoran di mana-mana. Bau kencing sampai keluar. Mahasiswa yang kebetulan lewat di depan kakus itu, tak jarang menutup hidung.

Kakus di rektorat UNP—letaknya di lantai dasar—meski tak sekotor yang tadi, tapi puntung rokok tampak berserakan. Keramiknya agak berlumut—kelihatannya sudah lama tak digosok.

“Saya malas masuk kakus di kampus,” begitu kata Rio, juga salah seorang mahasiswa di sana.

Di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (PSIKM) FK UNAND, yang terdiri dari 3 lantai itu—di setiap lantai ada kakus. Kakus yang terletak di lantai dua, pintunya macet, air sering mati, dan bau pesing. Hingga, kakus ini jarang dipergunakan oleh mahasiswa.

Tidak saja di Fakultas Kedokteran, bila kita berkunjung ke Kampus Unand Limau Manih, kita akan ditemui dengan fenomena yang sama. WC yang tidak terawat, tidak bisa digunakan, air yang tidak mengalir, dan seterusnya. Bahkan, banyak di antara wc itu yang di tutup dan tidak dipergunakan lagi, terutama di gedung-gedung kuliah bersama. Begitu pula dengan dekanat, wc-nya juga sering tidak dialiri air.

Itu baru UNP dan Unand, sebagai universitas ternama di Sumbar, belum lagi kalau kita berkunjung ke kampus-kampus lain. Sepertinya, wc bukan hal krusial bagi para intelektual tersebut untuk dibenahi. ”Sarjana jebolan wc rusak,” kata seorang mahasiswa jutek.

Agaknya, kita—entah pemerintah atau diri sendiri—tak memperdulikan ini. Kita, kata Masoed Abidin—yang akrab disapa Buya itu—tak tahu cara kencing yang benar. Kita masih saja tak menyiram bila kencing.

Ini bisa saja karena kita tak mendapatkan pendidikan. Dulu, semasanya, Buya bilang, di sekolahnya diajarkan latihan gotong royong. Diajarkan pula di mana membuang sampah. Meski kelihatan sepele, tapi itu akan membentuk karakter orang untuk lebih beraturan. Sekarang, sekolah tidak mengajarkan hal yang remeh temeh itu lagi, juga masalah kencing. Di rumah tidak, di surau bukan. Makanya, orang buang air sekehendak hatinya saja.

Ini juga sebuah pertanda, orang tak salat dengan baik. Orang salat itu kan bersih. 5 kali membersihkan diri sehari. Semestinya itu terbawa dalam kegiatan sehari-hari.
Perlu ada komitmen dari pemerintah kita serta masyarakat kota yang mendidikkan bagaimana cara buang air dari tubuh yang benar. Guru-guru juga penting mengajarkan kepada anak didiknya tentang hal itu. “Karena saya takutkan,” lanjut Buya, “seribu tahun ke depan, masyarakat kita tetap tidak tahu cara kencing yang benar.”
Pemahaman masyarakat, begitu menurut sosiolog Unand, Damsar. Pemahaman masyarakat tentang hidup sehat perlu diperhatikan. Sebab, ini akan mempengaruhi juga bagaimana menjadikan kakus umum itu bersih dan higienis. Dengan kebiasaan hidup sehat, masyarakat tahu dan mengerti kalau kakus yang jorok tersebut merupakan sumber penyakit.

Beban berikutnya ada di pundak pemerintah. Pemerintah tak boleh tinggal diam. Pemerintah seharusnya mengalokasikan dana untuk pemeliharaan dan perbaikan kakus umum tersebut. Selain itu, pemerintah juga mesti mengevaluasi pengelolaan dan pemeliharaan kakus tersebut.
***
Penulusuran Padang Ekspres berakhir di Balai Kota Padang. Terbesit pikiran, ini tak seperti yang ditemui semula. Kakus di sini tentu tak seperti yang ditemui di pasar raya.

Di kakus lantai dasar Balaikota tersebut, kakus untuk perempuan terkunci rapat. “Rusak,” kata seseorang yang lewat di sana. Di kakus laki-laki, ada tiga buah tempat buang air besar. Satu rusak. Cuma ada satu tempat penampungan air dari tiga kakus tersebut. Bila dua orang karyawan sama-sama tersesak buang air besar, mesti antre. Sebab, penampungnya hanya ember. Itu pun cuma satu.

Air di kloset mengalir dengan lancar. Tapi kloset tersebut, sepertinya jarang disentuh. Berlumut. Lima buah kran ada di sana, tiganya rusak. Di sekitar kakus itu, keramiknya tak terawat dengan baik.

Barangkali, ini merupakan cermin, kita terlalu menganggap sepele. Hal di atas, hanya contoh kecil. Hampir setiap kantor, sekolah dan WC umum, keadaan WC-nya tidak bersih. WC umum, menurut pengamat kebijakan publik Eka Vidya Putra, “Khususnya untuk WC umum, orang kan bayar. Berhak mendapatkan WC yang bersih. Sekali kencing seribu, harusnya setimpal dengan pelayanan WC bersih.” Atau, jangan-jangan, kita terbiasa dengan yang pesing, sehingga tak perlu ambil pusing!!! (Andika Destika Khagen/Gusriyono/Nilna R Isna)

Padang Ekspres, 5 Juli 2009
sumber foto: ajinitisuwito.wordpress.com


Selanjutnya......

Ironi

AKHIR-AKHIR ini, sepertinya kita terbiasa dengan banyak ironi. Di sekeliling, bertebaran janji-janji; hal-hal baru, menyalahkan yang lama. Sepertinya, itu akan terjadi pada masa depan. Bila ironi diartikan sebagai kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau seharusnya terjadi (pengertian kamus), maka benar, ini adalah ironi.

Pelbagai debat yang kita dengar, sebelum tanggal 8 Juli nanti, walau berbeda, sebenarnya satu pendapat: meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia. Tapi, apakah itu akan terjadi? Tidakkah kekuasaan itu membuat orang menjadi maruk? Banyak orang yang curiga, ini hanya bagian dari ironi yang besar. Mengobok-obok rakyat dengan gula-gula yang manis itu.

Namun, jangan-jangan, kita perlu curiga, kita sudah terbiasa bergelut dengan ironi? Begitu biasanya, kita tak perlu lagi memikirkannya. Biarlah, toh tak akan berubah keadaan itu.

Saya kira, bahaya besar dari ironi adalah sikap skeptisme. Tak mau peduli dengan apa yang terjadi (berpura-pura peduli). Atau sebaliknya, karena ironi sudah terlalu biasa, menjadi berlebihan. Mudah sekali memukul orang, sangat gampang mengucapkan kata-kata yang membuat orang lain tersinggung, dan mudah mengumbar janji, tak perlu ditepati.

Kenapa? karena semua orang sudah kenyang dengan ironi. Bisa jadi berlebihan. Dan di negara dengan ironi berkembang pesat, etika, budi pekerti, dan nilai bukan lagi hitungan yang perlu.

Ironi tumbuh pesat di saat kepastian tak ada, kalau bisa dikatakan tak mungkin. Menggapai yang tak bisa, lalu dijanjikan, akan melahirkan ironi. Lalu diumbar-umbar, dipaksa bisa, menggebu-gebu (persis seperti kampanye), lalu diam, dan bersembunyi di balik keadaan.

Setiap orang sah mengejek, merendahkan harkat orang lain. Yang paling penting adalah tujuan. Toh, di negara dengan ironi besar, memang tak butuh bukti? Ajarannya seperti ini, “Berjanjilah untuk menang.” Memang, yang dibutuhkan hanya itu. Untuk mengalahkan lawan, sikut saja. Kapan perlu, jelek-jelekkan. Burukkan citranya kepada publik. Buat lawan terhina. Tersenyumlah bila menang.

Tujuan telah tercapai. Karena ini negara hidup dengan ironi—rakyatnya juga seperti itu—kembaliah ke tujuan awal. Mengalahkan musuh. Membuatnya tak berkutik. Janji? Nanti dulu. Banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan segera. Rakyat tak akan berontak. Karena mereka selama ini telah dibesarkan dengan ironi-ironi.

Sebaliknya, rakyat pun tak peduli. Kontrol hanya basa-basi agar dilirik kekuasaan. Negara dengan banyak ironi mengajarkan, “Berpandai-pandai.” Tak ada yang namanya hutan yang hijau, laut yang kaya dengan terumbu karangnya, dan petani-petani yang berjasa.” Yang ada hanya uang, tahta, dan sejenisnya.

Dan, kita semua ternyata adalah ironi itu sendiri. Di keseharian, kita tidak bisa tepat waktu, misalnya. Berjanji dengan relasi pukul empat sore, terlambat setengah jam. Masuk kantor pukul delapan, tiba pukul sepuluh. Padahal, itu mudah dilakukan. Yang menjadi masalah adalah, ironi tadi. Tak mau menepati, sebab, terlambat datang setengah jam sudah biasa. Sangat biasa.

Kebiasaan-kebiasaan ini kemudian menjadi keseharian. Dilakukan banyak orang. Berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dilakukan tukang becak sampai pejabat tinggi. Mulai dari pembantu rumah tangga sampai mentri. Berkembanglah ironi: sesuatu yang mungkin (harus) dilakukan, tapi tak terwujud.

Bagaimana menumbuhkan kepercayaan di tengah ironi? Barangkali tak mudah (atau tak mungkin?). Bila kepercayaan itu benar yang tak ada dalam diri, semua hal rasanya tak bermanfaat saja.

Celakanya, kita—yang sudah terbiasa dengan ironi tadi—dipaksa keluar dari itu semua. ‘Dipaksa’ percaya, dibuat tak berdaya oleh keadaan. Berseliweranlah hal-hal yang kemudian dicibirkan, pada akhirnya mencibirkan diri sendiri. Barangkali semakin benar, negara dengan ironi yang dirawat sehingga tumbuh besar, akan selalu menjadi kerdil, dan tak diperhitungkan. Permasalahannya hanya itu-itu saja.

Dan dihadapan kita sekarang, ironi-ironi itu tengah berkembang!!!

Selanjutnya......

Siapa Pewaris Seni Tradisi?

KETIKA Marlis mengajak anaknya nonton randai, sang anak bertanya, “Apaan sih asyiknya?” Marlis tidak menjawab. Ia menceritakan sekilas saja, bahwa randai itu kesenian tradisional Minang, yang menarik untuk ditonton. Sang anak akhirnya ikut. Ketika pertunjukan dimulai, sang anak yang baru kelas I SMA itu, mencoba memperhatikan dengan serius. Setelah itu, ia asyik mengirim dan menerima sms dari temannya. Setengah jalan pertunjukan randai, ia bilang, “Yah, pulang yuk!”

Kemudian, di tempat lain, pada sebuah rumah, seorang perempuan berusia 60-an, menyalakan televisi. Ada acara saluang di televisi lokal. Tapi, ketika itu anak dan cucunya minjam remot, dan mengalihkan ke acara musik di televisi swasta nasional. Sang nenek marah, “Sini, sini remot itu. Kalian saja yang nonton….” Sang cucu merengut pergi, sembari bergumam lambat, “Kolot!” Ilustrasi di atas, sebuah gambaran sederhana, yang ada di tengah masyarakat kita. Pertunjukan seni tradisi, lengang penonton. Beberapa di antaranya, untuk seremoni pejabat pemerintah, setidaknya untuk penjawab tanya dan bahan pidato, kalau kita tetap mencintai kesenian tradisi kita.

Marliani, mengakui, memang dia tak pernah punya keinginan khusus untuk menonton pertunjukan seni tradisi. Dulu, waktu masih kecil (kini dia berusia 47 tahun), kalau ada tetangga baralek, biasanya mengundang rabab atau saluang. Dia melihat banyak orang menikmati. Kini, kalau ada usulan baralek mengundang rabab atau saluang, banyak yang mematahkan. Diganti organ tunggal. Tak ada nilai budaya di situ. Kini, kalaupun ada orang barabab atau saluang, ia mengaku jujur, tidak pernah menyarankan anaknya untuk nonton dan kenal. “Wajar kalau seniman tradisi dan pertunjukan kesenian tradisi semakin hari, kian jarang kita lihat….”

Banyak di antara kita lebih memilih nonton tayangan konser atau sinetron jika dibandingkan dengan acara seni tradisi minangkabau. Jojo (24), misalnya, dia mengatakan bahwa konser dan sinetron lebih mengasyikan. Kemudian ia menyebutkan alasan bahwa ia tidak tertarik pada seni tradisi kerena memang tidak diajarkan untuk tertarik.

”Bagaimana bisa tertarik kalau di jam sekolah mata pelajaran kesenian tradisi hanya jadi ban serap pelajaran lainnya,” ujarnya. Selain itu dalam sekolah cara menyampaikan pelajaran seni tradisi itu juga tidak menarik. Tak ada yang membuatnya terkesan, lantaran pengajarnya tak kalah kurang mengerti tentang apa yang diajarkannya. Ia tidak menyangkal bahwa ketidakpahamannya ini membuatnya berjarak dengan tradisi itu sendiri. Walaupun terlibat dengan beberapa aktivitas seni pertunjukan tradisi, ia masih saja tidak ada keinginan untuk menggali lebih dalam lagi. Keterlibatan yang terjalin juga lantaran ia memainkan kesenian tradisi yang telah terhybrid dengan aransemen modern.

Fenomena yang sama juga diungkap Heri Faisal (20), yang kurang tahu dengan seni tradisi, tapi ia senang sesekali menontonnya. Baginya ada sesuatu yang baru ketika menonton seni tradisi, misalnya tabuik. Tetap saja bila diberi pilihan menonton musik kontemporer atau musik tradisi, Heri lebih suka menonton musik kontemporer di televisi dari pada tayangan yang bebau seni tradisi. Sebab baginya musik kontemprer lebih variatif, dan mengasyikkan.

Warti (30), ibu dua anak ini menyebut seni tradisi sebagai seni yang berhubungan dengan nuansa tradisional. Karena ia sendiri tidak diberikan pengetahuan dan pengalaman tentang seni tradisi, ia juga tidak terlalu memberikan anaknya pengetahuan tentang seni tradisi. Kalau di suruh untuk menonton seni tradisi atau sinetron, maka ia akan memilih menonton sinetron. Ia tidak memiliki banyak pengetahuan tentang seni tradisi, itu akibatnya ia tidak merindukannya. Begitu pula dengan Devi (27), karyawan swasta ini berpendapat seni tradisi adalah seni masa lalu. Ia lebih suka menyaksikan konser dari pada harus menonton tayangan seni tradisi. Ia tidak tertarik pada seni tradisi karena tidak diajarkan bagaimana untuk mencintai seni tradisi. Waktu di sekolah dulu ia hanya mendapatkan seni tradisi sebagai sebuah mata pelajaran tambahan namun dianggap tidak penting.

Melihat keadaan yang demikian, wajar kiranya seni tradisi semakin meredup dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Hasannadi, dosen dan peneliti budaya Minangkabau, mendasarkan ini pada kebutuhan masyarakat akan seni tradisi tersebut. Di mana bagi masyarakat sekarang menonton atau mempelajari seni tradisi bukan lagi sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan akan hiburan ini bergeser pada seni-seni alternatif atau kontemporer, meski, pada orang tua-tua, kerinduan terhadap seni tradisi ini masih muncul.

Namun, persoalan pelik pada generasi muda menyangkut identitas. Bahwa, identitas ditentukan oleh hal-hal prestisius yang disuguhkan kepada masyarakat. “Selain itu, proses pewarisan seni tradisi yang tidak diiringi dengan transformasi nilai-nilai, serta kepercayaan diri pewaris dalam menghadapi tantangan hidup berkesenian,” tutur Hasannadi. Melanjutkan penjelasan Hasannadi, Tulus Handra Kadir, dosen Sendratasik UNP, mengatakan,” Terlalu cepat kalau kita mengatakan bahwa seni tradisi itu tidak dipedulikan lagi oleh generasi sekarang. Untuk saat ini masih ada orang yang minat masuk sanggar, bersekolah di sekolah atau universitas seni.

Permasalahannya yang mungkin ada adalah bahwa apresiasi terhadap seni tradisi itu belum sampai pada generasi sekarang, sehingga generasi mencerna sendiri apa yang dia lihat, apa yang mereka pahami. Sebagian dari mereka tidak begitu paham dengan esensi-esensinya. Sehingga dia hanya melihat bahwa seni itu hanya sebagai hiburan.”

Nilai-nilai seni tradisi selama ini tidak teraktualisasikan sehingga tak dipahami akan arti pentingnya kesenian tesebut. Ada permasalahan yang krusial, apalagi jika permasalahan itu dikaitkan dengan proses pendidikan. Nilai-nilai yang mungkin dahulu pernah ada dalam kesenian pendahulunya, sekarang mungkin tidak terasa lagi. Orang dahulu kesenian adalah bagian dari kehidupannya. Mungkin tidak terjadi lagi pada generasi saat ini. ”Sekarang esensi itu sudah lain karena sebagian besar nilai sudah diambil alih oleh sistem pendidikan formal. Sehingga apa yang tersisa? Ya, yang tersisa aspek hiburannya saja. Bukan esensi dari seni tradisional itu. Sehinga yang diperlukan itu adalah pewarisan dengan pemahaman esensi seni tradisi itu,” sambung Tulus.

Sementara itu, dicabutnya kebudayaan dan kesenian dari departemen pendidikan ke departemen pariwisata saat ini akan sangat mempengaruhi perubahan cara generasi muda dalam melihat kesenian tradisi ke depan, yakni negara telah merubah kebijakan status kesenian menjadi barang yang bisa diperdagangkan, aset yang bisa dijual kepada turis. Kalau dulu kesenian adalah bagian dari budaya untuk membina bangsa, di bawah naungan pendidikan. Kondisi inilah yang akan membentuk cara generasi melihat seni tradisi. Jadi, lagi-lagi pendidikan adalah aspek yang paling krusial dalam membentuk pemahaman yang ideal tentang seni tradisi di ranah Minang.

Menyoal siapa pewarisnya, sebenarnya pewaris seni tradisi itu tidak akan pernah hilang, ia mungkin hanya menemukan bentuk baru, dengan merujuk dari bentuk yang lama. ”Namanya ivented tradition. Memang, mungkin seni tradisi itu hanya seperti sebuah penanda identitas, simbol kedaerahan untuk selanjutnya. Bukan pemahaman substansionalnya. Tapi inilah kenyataan seni tradisi di Minang kabau. Sakali aie gadang, sakali tapian barubah. Seni tradisi diminang juga seperti itu.

Karena faktor sosiokulturalnya yang membentuk arah dan orientasi seni tradisi tersebut,” papar Tulus lagi, dengan mencontohkan alat musik talempong. Saat ini orang memainkan seni yang secara fisiknya saja, bukan secara esensinya lagi. Namun kondisi ini bukanlah kesalahan mereka karena mereka tidak mengalaminya lagi konteks talempong yang dulunya adalah sebuah pamenan masyarakat agraris Minang setelah panen. Seiring dengan itu, budayawan Bagindo Fahmi berpendapat, “memasukkan unsur modern itu bagus, tapi kalau tidak memiliki pengertian yang jelas tentang modern itu, inilah nantinya yang akan menyebabkan kehancuran pada nilai-nilai tradisi yang ada.”

Beberapa langkah ideal bisa dilakukan agar seni tradisi diminati dan dipahami nilai dan maknanya. Seperti yang ditawarkan Aldi, mahasiswa STSI Padangpanjang, “Membangkitkan kembali selera seni tradisi dalam masyarakat Minangkabau, itu semangat yang mesti kita usung. Wujudnya bisa saja dengan menggalakkan atau mengadakan pertunjukan rutin untuk membangkitkan semangat itu. Serta merevitalisasi kampung-kampung yang menjadi basis seni tradisi.”

Demikian juga dengan Bagindo Fahmi, pekan budaya yang diadakan Dinas Pariwisata dengan UPTD Taman Budaya Sumbar tiap tahun, sebenarnya menjadi lahan yang ideal untuk membangkitkan semangat berkesenian daerah. Namun, ini belum berjalan sebagaimana mestinya. “Hendaknya pekan budaya menghadirkan seluruh budaya daerah yang ada di Sumbar, kemudian adakan diskusi di antara pelaku seni tradisi itu, bagaimana kita memelihara seni tradisi ini agar tetap bertahan.”

Sementara itu, Hasannadi lebih menekankan pada upaya mengaktifkan peran unsur masyarakat nagari. “Peran elit nagari seperti ninik mamak dan unsur lainnya sangat dibutuhkan dalam menumbuhkembangkan seni tradisi di nagarinya. Sebab, mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di masyarakat dan diikuti.”
Walau bagaimanapun, kelangsungan hidup seni tradisi tetap menjadi tanggung jawab bersama. Sejatinya, peran semua unsur menjadi bagian yang tak terelakkan. Mari berbenah. (Gusriyono/Andika Destika Khagen/Fadli Akbar)

f: ruangfoto.com
Padang Ekspres, 14 Juni 2009


Selanjutnya......

LADANG: ASKETISME ORANG KALAH

Pengarang: Esha Tegar Putra
Penerbit: Framepublishing
Cetakan: Mei 2009
Ukuran: 120 halaman

Seberapa tegar seorang lelaki memasuki dunia sunyinya, dunia masa tua, dunia yang dipenuhi kenangan “kegemilangan” masa lalu? Apa akibatnya bila manusia mengabaikan dimensi abadi hidupnya? Bagaimana caranya membunuh sunyi, dengan sebentuk keraguan-raguan eksistensial, yang terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan? Dan, keputusasaan. Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?

Mencapai dan memasuki kehidupan otentik, yang diidamkan, memang tidaklah mudah. Setiap orang memiliki pandangan hidup, yakni cara melihat dan bertindak dalam dunia, yang berbeda dalam konsep dan terapan. Cara pandang ini memuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang paling didambakan di dunia, apa yang paling bernilai, apa yang sebenarnya dikejar, bagaimana mewujudkan tujuan, dan sebagainya. Jawabannya pastilah beragam. Berbeda-beda. Tergantung pada siapa yang memberikan jawaban. Boleh jadi, hal yang paling diburu di dunia adalah kekayaan. Atau kebahagiaan. Tapi, tidak menutup kemungkinan, ada yang memilih kehormatan, cinta kasih, atau kedamaian hari tua sebagai jawabannya.

Celakanya, kita kerap mencampuradukkan atau menyamaratakan antara keinginan dengan tujuan hidup. Akibatnya, tujuan hidup pun tak lebih dari bertumpuk keinginan untuk mencari kekayaan sebanyak mungkin, atau tersohor, dan bahkan menjadi seorang yang “dihormati”. Maka, seorang politikus akan berusaha memenangkan pemilu atau mendapatkan jabatan dengan “penghalalan” segala cara. Seorang sastrawan atau ilmuwan berkeras menerbitkan buku dan melahirkan masterpiece sebanyak mungkin biar semakin populer. Bahkan, tak jarang, ada artis mencoba merambah ranah yang sangat “jauh” dari latar keilmuannya. Padahal, segala berhala dunia itu, baik material maupun immaterial, akhirnya akan berlepasan dan bertanggalan satu demi satu seiring dengan laju pertambahan usia.

Inilah yang didedah secara cerdas oleh Esha Tegar Putra dalam kumpulan puisinya, Pinangan Orang Ladang yang berisikan 76 puisi dari tahun 2006-2008. Ia secara meyakinkan tampil sebagai sosok penyair yang lahir dari kekentalan tradisi Minang. Di satu sisi, ia menyerap estetika pantun, gurindam, dan peribahasa dalam penuangan gagasan estetiknya. Pada sisi lain, lewat beberapa puisi, ia berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara “orang menang” dan “orang kalah” dalam konstelasi adat Minang masa kini. Selain itu, juga membangun pengamsalan perihal segitiga “surau-lepau-rantau” dalam riwayat hidup kekinian. Bahkan, ia menawarkan satu alternatif baru: ladang. Ladang bisa menjadi tempat para lelaki membangun rumah, bersunyi-sunyi, dan menikmati kenangan kegemilangan masa lalu dalam bangunan ingatan. Ladang, dengan segala sepinya, bisa pula menjadi tempat sembunyi dari gunjing-cela dan olok-olok orang sekampung. Orang rantau sebagai pemenang dan orang ladang sebagai orang kalah adalah dua wajah berbeda, bagai “loyang” dan “emas”. Begitulah, Esha menawarkan ladang sebagai tempat mentafakuri kekalahan. Akan tetapi, sesederhana itukah pencapaian estetis penyair kelahiran Solok ini? Tentu saja, tidak. Banyak hal baru yang bisa kita temukan.

Di sinilah pentingnya lelaku kepenyairan membutuhkan berbagai penggalian dan pencarian, baik kelaziman bentuk maupun kedalaman estetika, bahkan pemberontakan pada tradisi kepenyairan. Maka, semakin berlama-lama kita mengupas setiap demi setiap sajak dalam antologi ini, semakin bertemu keindahan bunyi, kelezatan puitik, dan keragaman diksi yang dikemas dengan telaten untuk menunjukkan eksistensi sosok seorang penyair yang baru “sering” berpuisi pada akhir 2005. Berpuisi, bagi Esha, adalah laku ketelatenan, keseriusan, dan kesungguhan.

Garapan gagasan, sebagaimana diungkap Damhuri Muhammad ketika membedah antologi ini (Wapres Jakarta, 27/5), adalah wilayah unik bagi penyair seusia Esha. Ada asketisme orang kalah. Pesimisme “orang rantau” yang kembali ke kampung halaman sebagai “orang kalah”. Keputusasaan karena kekalahan itu tidak bisa sepanjang hari dieramkan di surau, apalagi di rumah yang setiap kamarnya sudah dikuasai oleh kaum perempuan. Sementara, lepau hanya bisa menyuguhkan rasa nyaman pada malam hari: ratap mana yang kau timpakan, ini sakit menjadi berlapis-lapis/ di ceruk malam aku menjadi sesuatu yang lain/ seuatu yang asing (Putus:71). Dan, siang merupakan siksaan bagi “orang kalah” itu. Maka jadilah ladang sebagai tempat persembunyian: di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut tali puisi (Garis Ladang:50).

Apa yang tersisa dari orang yang “sudah mengaku kalah” dan memilih ladang untuk bersunyi-sunyi diri? Yang ada adalah kepuasan dan ketidakpuasan, rasa terpenuhi dan frustasi, juga sisa semangat dan keputusasaan: lelaki yang tersudut di ujung pisau pancung/ menasbihkan rindu pulang/ berkali-kali (Kuala Lengang:53). Namun, tidak berarti tak ada lagi “harapan hidup”, bahkan masih tersisa keinginan menyunting gadis impian: bukan meminangmu kungerikan/ tapi sepulau cinta yang bakal karam/ sebab jalan hilang pijakan (Pinangan:59). Bagi lelaki Minang, yang pulang dari rantau dan dipaksa keadaan memilih ladang sebagai persinggahan akhir, maka ketakutan dan keputusasaan menghadapi ketidakpastian masa depan, justru lebih mengerikan daripada sekadar penolakan atas pinangan yang diajukan.

Tampaknya Esha sedang dijangkiti kegelisahan lantaran sekian banyak lelaku kepenyairan mutakhir ternyata gagal mengantarkannya pada kenikmatan berpuisi. Itu sebabnya ia meneruka jalan baru, yang meski terpaksa banyak menggunakan kata-kata janggal, tapi pasti menghulu ke kedalaman estetika. Diam-diam Esha meramu sajak-sajaknya menjadi sebentuk “kamus baru” guna menggiring pembaca mencari sendiri makna kata yang berasa asing dan janggal itu. Berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar/ saluang ditiup pula oleh para penghela dendang. Di mana rahasia/ kejadian lama disurukkan? Di salempang induk beras, di kopiah/ tuan kopi atau di saku baju para penggetah burung rimba? (Penari Piring:88). Saluang-disurukkan-salempang-kopiah-penggetah: kata-kata yang tidak akrab dan tidak lazim digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahkan dalam puisi.

Akhirnya, jika sang penyair tidak berhati-hati, kedalaman makna yang diharapkan menjadi inti, menjadi substansi, bisa jadi terposisikan hanya sebagai sisipan, suplemen, atau pelengkap belaka. Akibatnya, kedalaman yang dijanjikannya, sebagaimana lazimnya banyak puisi, sukar untuk diselami. Apa yang dilakukan Esha patut mendapat apresiasi, dan semoga bisa membangun ruang baru bagi “jalan kepenyairan”. Bukankah puisi tidak semata keindahan bahasa?

KHRISNA PABICHARA, penyair dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta. Selain menyunting buku, juga menulis buku motivasi, sajak, esai sastra, dan resensi buku. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan sajaknya, Mozaik Berahi, sedang dalam proses terbit.

Padang Ekspres, 21 Juni 2009

Selanjutnya......

Soal Posisi Perempuan

Judul buku : Tuhan telah Memutuskan
Penulis : Free Hearty
Penerbit : Jendela
Cetakan : I, Safar 1430 H/Februari 2009
Tebal : 272 halaman


Fretty, seorang perempuan yang begitu percaya dengan nasehat ibu, nenek, dan mertuanya. Posisi perempuan di hadapan lelaki adalah sebagai pengabdi. Perempuan tak berhak menggugat. Mereka—kaum perempuan itu—tidak boleh tidur, sebelum suami pulang kerja. Bahkan, bila sedang melaksanakan salat sunat, lalu mendengar suami pulang kerja, wajib bagi perempuan membukakan pintu lebih dulu kepada suami (hal. 22).

Dalam diam, timbul gugatan-gugatan terhadap apa yang diterima. Kenapa posisi perempuan lebih rendah? Kenapa perempuan tak boleh menggugat? Timbul pemberontakan-pemberontakan dalam diam Fretty. Tapi ia tak mampu berbuat apa. Ia menerima saja yang ada.

Fretty tersadar, ketika Junedi tak seperti yang ia kira. Tak sesuai dengan nasehat ibu, nenek, dan mertuanya itu. Komunikasi yang jarang di rumah dengan suaminya, membuat ia tak pernah tahu, bahkan pekerjaan suaminya di luar. Suaminya selingkuh. Tapi Fretty masih bertahan dengan kondisi itu.

Tuhan Telah Memutuskan, menggali, bahkan menggugat posisi perempuan. Tak hanya dalam rumah tangga, tapi juga posisinya di antara lelaki. Siapa sebenarnya makhluk yang bernama perempuan ini?

Di sini, perempuan ditampilkan tidak memiliki status inferior. Ini pun disebabkan oleh kaum perempuan itu sendiri yang begitu pasrah menerima citra mereka yang tidak menguntungkan itu.

Bila pikiran kita kembali pada masa lalu, sepertinya ini lazim terjadi. Toh, memang pikiran tokoh utama sangat dipengaruhi oleh masa lalu: melalui nasehat-nasehat ibu,nenek dan mertuanya.

Dalam karya A. Discourse on Political Economy (1755), filsuf Jean Jacques Rousseau juga secara konsisten memandang perempuan sebagai makhluk inferior dan tersubordinasi. Tujuan hidup mereka hanya untuk melayani laki-laki. Karena itu, mereka tidak mungkin atau tidak akan mampu melebihi laki-laki.

Free Hearty, barangkali hendak menggugat ketertindasan-ketertindasan yang terjadi pada status ke-perempuan-an mereka. Namun di sisi lain, ia juga mempertanyakan masalah kodrat. Ada titik ambiguitas ketika perempuan dihadapkan pada status mereka tersebut.

Tokoh Saras sepertinya mewakili sosok perempuan yang ideal: pintar, tak terikat dengan kasur, sumur, dapur, serta mampu berbuat laiknya seperti lelaki—bahkan melebihi. Tapi ia bukan tanpa cela. Saras seorang lesbi. Di balik keberhasilannya mengangkat harkat perempuan, ia tak bisa melawan sisi jiwanya yang lain: bahwa ia tak tertarik dengan laki-laki.

Novel ini, dengan sudut pandang seorang perempuan pula, memang secara eksplisit dan terang mengkritik perempuan, menyanjungnya, dan mempertanyakan hakekat-hakekat keperempuanan. Novel ini cocok dibaca oleh orang yang ingin menjadi perempuan yang tahu akan hak dan batasannya.

Perempuan dalam Rumah Tangga

Tuhan Telah Memutuskan kaya akan nasehat-nasehat terhadap kaum perempuan, terutama dalam rumah tangga. “Jadi, kehidupan rumah tangga itu sebenarnya terletak kepada bagaimana orang-orang di dalamnya melaksanakan tanggungjawab, begitu kan Wit?”. Dialog ini barangkali menyampaikan pikiran sang penulis bagaimana menghadapi rumah tangga. Dialog ini secara tersirat menyampaikan pesan kepada semua kaum perempuan: di dalam rumah tangga, tanggungjawab tak hanya milik perempuan saja, tapi juga suami.

Rumah tangga akan menjadi seperti yang diharapkan, bila ada saling mengerti. Terjadi hubungan yang harmonis, dan saling menghargai. Ini diperlihatkan pada bab akhir. Tokoh Freety hidup bahagia dengan suaminya yang baru: Martin.

Martin adalah sosok lelaki ideal (dalam kehidupan nyata, sepertinya sulit ditemukan lelaki seperti Martin). Ia seorang lelaki yang pintar membangun rumah tangga. Martin, kepada anak-anak Freety mengajarkan untuk tidak saling membenci. Kehidupan mereka tidak dibahas lebih jauh.

Perempuan-perempuan yang ditampilkan dalam novel ini: Freety, Saras, Wita, dan anak-anak mereka, merupakan contoh sosok perempuan yang sebenarnya. Akhirnya memang, mereka semua hidup dengan pilihan mereka masing-masing. Freety bahagia dengan rumah tangga barunya. Wita memutuskan menikah—sebelumnya ia selingkuh dengan Junaedi, suami Freety, dan Saras menerima keadaannya yang lesbi itu.

Tapi, yang merupakan inti dari persoalan-persoalan perempuan tersebut adalah, bagaimana mereka berjuang dalam menghadapi ketertindasan-ketertindasan disebabkan status keperempuanan tersebut. Perempuan yang berhasil adalah, bagaimana mereka memaknai masalah-masalah yang terjadi. Karena permasalahan-permasalahan yang terjadi, cenderung beragam. (Andika Destika Khagen)

Selanjutnya......

Guru Hasim

Persendiannya terasa lelah. Tiba-tiba ia merasa tak berarti. Tas kulit yang menemaninya 30 tahun, dilempar tanpa iba. Ia mengantuk. Tapi matanya tak akan terpejam malam ini.

Diperbiarkan saja matahari senja masuk ke dalam ruang tamunya. Ia tak berselera bercengkrama. Ketika istrinya menghidangkan kopi, ia tak seperti biasa, menyeduhnya sampai habis. Ia ingin berteriak melepas kekesalan, di sebuah tempat yang hanya ada ia dan dirinya sendiri. Ingin diusirnya semua makhluk yang bernyawa, yang berada di depannya. Guru Hasim, tak habis

pikir istrinya, wajahnya begitu murung. Ditanya, ia bisu. Ia enggan bersuara. Di ruang tamu, ia bermenung sendiri. Seperti orang yang kehilangan sesuatu benda berharga, tapi tak pernah tahu, di mana benda itu ditaruh. Ya, benda berharga itu memang telah hilang dari dirinya: semangat seorang guru.

“Tak akan ada yang berubah Guru Hasim.” Kalimat itu menyentaknya. Masuk ke dalam nadinya menjadi pisau. Mengirisnya. Lalu ia meregang.

Kini, ia muak melihat Rosna, Saldi, Halim, Hasan, Nira, dan semua orang yang menyebut diri mereka guru. Telah berapa kali didebatnya di dalam rapat majelis guru, sudahlah, jangan terlalu peributkan masalah gaji, yang penting, bagaimana anak didik kita menjadi orang. Itu tanggung jawab kita.

“Tidak bisa Guru Hasim. Ini hak.” Disela kepala sekolah. Disoraki semua guru,

“Ya.perjuangkan.” Guru-guru itu, turun ke jalan. Menuntut haknya di jalan. Ia tak

habis pikir. Melelahkan, semua lokal, hari itu, ia yang mengajar sendirian. Namun, bukan itu yang membuatnya begitu lelah, ia hanya tak ingin meninggalkan tanggungjawabnya sebagai guru. Ia selalu ingin memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya.

Hari ini, ia telah memutuskan: berhenti menjadi guru.

***

“Jangan terlalu idealis, Pak.” Istrinya tak setuju. Murung wajahnya mendengar ucapan suami tercinta.

“Aku ini guru. Tidak pernah bisa menjadi pengusaha.”

“Aku tidak mengerti apa omongan Bapak.”

“Kau memang tidak akan pernah mengerti, istriku.”

Setelah larut malam, belum juga tenang hatinya. Dibangunkan istrinya yang sudah tidur dengan lelap. “Ada apa Pak?” Disodorkan selembar kertas yang sudah terketik dengan rapi. Nama-nama guru dengan daftar gaji. Kertas itu, tadi siang diambilnya dari ruang kepala sekolah yang pergi berdemo.

Istrinya masih tak paham, apa maksud suaminya itu. Wajah polosnya seperti memelas. Berharap segera tiba jawaban agar ia tak lagi bingung.

“Gara-gara angka itu, mereka meninggalkan murid-murid. Guru kencing berdiri, murid telah kencing berlari.”

Istrinya, yang sudah beruban itu, sepertinya masih tak paham, kemana arah pembicaraan suaminya. “Apa yang hendak Bapak perbuat? Berhenti menjadi guru? Apa Bapak mau jadi pengusaha? Begitu?”

Matanya menerawang ke loteng. Aku tak pernah memperdebatkan masalah gaji, dari dulu, ketika aku telah memutuskan untuk menjadi pendidik. Kau tahulah istriku, ini pekerjaan terpuji.

“Bagaimana..”

“Jangan kau potong pembicaraanku, istriku. Kau tidak akan pernah tahu, bagaimana perasaan seorang guru yang sebenarnya.”

Aku tak habis pikir, atau jangan-jangan karena aku tidak punya anak, sehingga aku tidak bisa membedakan diriku, sebagai guru atau seorang bapak. Aku merasa diriku hanya sebagai guru. Istrinya menunduk. Ia merasa terpojok dengan ucapan suaminya. Ah, andai ia bisa memberikan anak kepada suaminya tercinta.

Guru Hasim turun dari dipan. Diambil mesin tik tua, satu-satu miliknya yang berharga di rumah itu. “Bapak mau apa?” tanya istrinya heran.

“Aku mau membuat surat pengunduran diri.”

***

Semakin bulatlah tekadnya. Tidak di timbang-timbang lagi keputusan itu. sudah terlalu bulat. Entah kenapa, ketika datang pagi ini ke sekolah, ia muak melihat guru. Tidak menyapa kepada seorang pun. Hanya kepada murid-muridnya, ia menitipkan pesan terus belajar, walau tanpa guru.

“Kenapa kau Guru Hasim? Gaji naik, kau malah mengundurkan diri?” ujar Kepala sekolah ketika diserahkannya surat itu.

Ah, andai kepala sekolah ini tahu (ia sudah berjanji untuk diam sedari rumah), ia hanya ingin menjadi guru, tidak pengusaha yang menjadi guru. Jika pendapat ini disampaikannya di rapat majelis, ia selalu kena cemoohan. Sok idealis, muna, dan sebagainya.

“Berhenti kalian semua jadi guru.” Masih terngiang suaranya bergema sampai ke angkasa di suatu rapat siang itu. Karena siang itu, yang diperebutkan adalah hal yang tidak perlu. Kepala sekolah akan mengutus beberapa orang guru senior untuk mengikuti sertifikasi di Ibukota provinsi. Guru Hasim tidak terima, sebab, Hasan dan Nira, dua orang guru yang akan diutus tersebut, ia tahu benar siapa mereka. Di dalam benak kepala dua orang itu, yang ada hanya uang..uang…dan uang. Oh, semua guru sekarang hanya memikirkan uang..uang..uang. Tak pernah lagi mereka memikirkan muridnya dengan benar.

“Kalau kau tidak terima, ya sudah Hasim.” Suasana rapat malah bertambah panas. Sebab, tak ada yang terima dengan ucapan Guru Hasim. Bah, kata Halim, 4 tahun sekolah di IKIP, tiba-tiba disuruh berhenti menjadi guru. Mau makan apa nanti? Kita, mesti memperjuangkan nasib kita, agar pendidikan ini menjadi lebih baik. Bukankah, kalau gaji kita mencukupi, baru bisa kita berbicara profesionalisme?

Wah, tambah panas Guru Hasim. Berdiri ia dari duduk. Saya tahu, apa yang ada dalam benak kalian semua. Cuma uang..uang..dan uang. Mana pernah kalian mengajar dengan benar? Saya berani bertaruh, siapa guru yang paling dekat dengan siswa? Ha..ha.kalian itu bukan guru. Akui sajalah. Tiap sebentar rapat sertifikasilah, rapat beasiswalah. Murid-murid yang masih bau kencur itu, kalian perbiarkan belajar sendiri. Hanya saya yang tidak pernah berpikir seperti kalian.” Panjang lebar Guru Hasim berbicara, sampai berputar-putar ia di ruang majelis itu.

Kepala sekolah tahu keadaan tidak lagi kondisif. Dihentikannya rapat. Kata terakhir Guru Hasim, “Sesekali, cobalah undang saya untuk rapat kemajuan murid-murid kita, jangan hanya kesejahteraan guru.” Oh, tak ada lagi yang mendengar. Semua guru telah keluar dari ruangan.

“Ya sudah, kalau itu maumu. Besok, akan aku buatkan surat pensiun.”

“Tidak usah, Pak. Saya mengundurkan diri, tidak pensiun.”

***
Hasim merasa membuat keputusan yang sangat tepat. Sudah 20 tahun, tak pernah ia menyesali keputusan itu. Baginya, guru tetap pahlawan tanpa tanda jasa. Tugasnya adalah mendidik. Soal kesejahteraan, ia yakin, suatu hari akan datang dengan sendirinya. Setelah pendidikan maju dengan guru-guru yang benar-benar ingin mendidik, kesejahteraan akan muncul. Sama halnya, ketika ia tidak pernah memikirkan untuk mendirikan sebuah sekolah tanpa biaya yang dirintisnya sendiri. Gurunya, hanya ia sendiri. Gedungnya adalah rumahnya.

Paling penting, ia tidak pernah lagi rapat majelis. Tidak pernah berdebat tentang sertifikasi. Ia hanya mengajar, mengajar, dan mengajar. Uang sekolahnya, sumbangan beras dari murid-murid. Tak banyak memang yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah yang diberinya nama Sekolah Dasar Hasim, sebab sekolah itu tidak memiliki ijazah. Hanya orang-orang miskin, tergerak belajar, yang merelakan dirinya datang pagi-pagi, pulang sampai pukul empat sore. Malam hari, kebanyakan dari mereka, kalau tidak membantu orang tua, tidur di rumah Guru Hasim.

Ia mengorbankan dirinya untuk anak-anak yang belum tahu, bahwa guru mereka itu, tidak pernah memikirkan mereka. Suruh buat tugas, marah-marah, beri nilai lapor. Rutinitas yang selalu diejeknya. Di sekolahnya, tidak ada nilai, lapor, atau tugas. Yang ada hanya: murid-murid Guru Hasim itu, mesti bisa mengaji, sopan kepada orang yang lebih tua, dan kepalanya diisi dengan moral. Ilmu eksak, tak begitu besar porsinya diajarkan.

Suatu siang, ia kedatangan tamu. Hasan, S. Pd. M. Pd., begitu nama yang tertulis dari papan nama dibaju dinasnya. Sudah lama tak berkabar, rupanya Hasan, temannya sesama mengajar di SDN O1 Desa Makmur, yang pernah diejeknya dulu. Sudah mewah ia sekarang. Dulu hanya punya Honda Cup keluaran tahun 70-an, sekarang ia telah bermobil mewah.

“Oh, sahabat. Ada apa gerangan kau datang ke sini?” Sambutnya ramah.

“Aku sekarang tidak lagi mengajar. Aku naik jabatan, 10 tahun yang lalu, menjadi Kepala Dinas Pendidikan. Dinas Pendidikan ingin memberikan penghargaan kepadamu sebagai salah seorang pendidik teladan. Aku selalu mengikuti sepak terjangmu, walau kau tidak pernah suka dengan caraku.”

“Ha..ha..terima kasih. Tapi aku bukan guru dari lembaga resmi pemerintah. Bagaimana alasanmu?”

“Ini bukan penghargaan untuk guru, tapi pendidik. Kau adalah keduanya, guru dan pendidik sejati. Ingin kuakui, kau adalah guru sepanjang masa, setidaknya di kampung ini.”

Guru Hasim tidak tersenyum dengan pujian itu. Ia malah masuk ke dalam lokal, dan memperbiarkan Hasan di luar sendirian. “Jangan kepadaku berikan penghargaan itu. Kalau kau mau, bantu saja aku dengan buku. Untuk murid-muridku.”

***

Anak-anak tanpa sandal berlari dengan wajah yang pucat. Sambil menangis dan ngos-ngosan. Orang-orang kaget dan bertanya, apa yang terjadi? “Guru Hasim..Guru Hasim.” Jawab anak-anak itu. Sebentar, rumah Guru Hasim yang juga menjadi tempatnya mengajar, telah ramai. Istrinya yang benar-benar sudah tua itu, tak henti-hentinya menangis.

“Bagaimana kejadiannya?” Tanya seseorang kepada anak-anak murid Guru Hasim.

“Guru..guru..Hu…hu…” anak itu malah menangis.

Ramailah orang berkunjung. Dari kawan hingga lawan. Hasan, yang baru siang kemarin bertemu dengan Guru Hasim tidak menyangka dengan kejadian itu. Tak tahan ia menitikkan air mata. Semua masyarakat melayat. Desa Makmur menangisi seorang putra terbaik mereka.

Mereka menangis, barangkali sadar dengan ucapan-ucapan guru Hasim, walau kasar, tapi baru sekarang mereka rasakan kebenarannya. Guru sejati adalah orang yang tidak mempedulikan apa yang ia terima, tapi sebanyak mungkin mampu memberi. Guru adalah orang yang tidak pernah lelah mengajar.

Ah, mereka juga menangisi, anak-anak didik Guru Hasim. Akan kemana mereka setelah itu. Sebab, mereka dididik tidak dengan cara yang selama ini diakui. Mereka dididik dengan cara Guru Hasim sendiri. Hanya ia yang tahu bagaimana mendidik. Istrinya yang sudah itu, tak pernah pula diajak atau diajarkan untuk menjadi guru yang benar. Hanya ia sendiri yang tahu bagaimana menjadi guru.

Rumah itu, setelah penguburan, akan lengang dari gelak tawa anak-anak yang sering bertanya dan Guru Hasim kadang kewalahannya menjawabnya. Rumah itu akan sepi dari canda, tawa, dan buku-buku.

Tujuh hari setelah kematian Guru Hasim, sekolah itu benar-benar sudah tutup. Sepertinya, tidak akan pernah dibuka lagi. Sebab, tonggaknya benar yang telah rubuh.

Ah, andai Guru Hasim mau menurut dari dulu, tentu rumahnya sekarang telah bagus. ia bisa pula membeli mobil. Dan kalau mau, mendirikan sekolah sendiri, setidaknya tempat les. Ilmunya bisa dicontoh banyak orang. Tapi sekarang, hanya ia sendiri yang tahu cara menjadi guru. Begitu rapat di SD 01, siang itu, mengenang kematian Guru Hasim.
Ruangsempit, Mei 2009


Selanjutnya......

Fani di Depan Pintu

Bila Emak marah, Fani akan duduk di depan pintu. Itu caranya meredam emosi Emak. Biasanya, Emak akan berhenti meluapkan emosinya, lalu memeluk Fani, anak semata wayangnya itu dengan hangat.

Dihitungnya lagi dengan cermat, sampai lima kali. Hingga hitungan terakhir dengan jari-jarinya, Fani sepertinya tak menemukan cara untuk mengurangi umurnya: tiga puluh. Diulanginya lagi: tiga puluh. Dua bulan lagi, tepat ia akan merayakan ulang tahun yang ke tiga puluh satu.

Kemarin sore, Neri datang lagi ke rumahnya. Ia membawa kabar gembira, tapi bukan untuknya. “Datang ya,” sembari memberikan undangan pernikahan. Teman karibnya sedari SD itu akan memulai kisah baru bersama pasangan hidupnya. Ia kenal Uda Anton, calon suami Neri itu. Mereka memadu kasih sejak kelas tiga SMP. Cinta monyet yang berujung menjadi perkawinan. Sering bertengkar, Neri sering mengadu itu kepadanya, tapi cinta mereka tak lekang oleh perkelahian itu.

Fani mengikuti betul, bagaimana teman-temannya memadu kasih. Terakhir, kisah antara Hasim dan Sari. Hasim, petani karet yang bau badannya tak pernah jauh-jauh dari karet, gigih betul perjuangannya. Berkali-kali Sari menolak, semakin ditolak, semakin teguh keyakinannya untuk berjuang.

“Sudah saya bilang, tidak. Sampai kapanpun.” Ucapan Sari kepada Hasim, di rumahnya, suatu sore. Hasim pergi untuk kembali lagi esok harinya. Ia membawa bunga mawar sebagai lambang cinta. Belum lagi bunga itu diberikan, Sari buru-buru mengambilnya dari tangan Hasim. Lalu menginjak-injaknya. Baru sekali itu kulihat, muka Hasim merah padam. Sari sepertinya keterlaluan.

Hasim berlalu dengan malu. Kuperingatkan Sari, tak boleh memperlakukan orang seperti itu. Terima saja bunganya sebagai bentuk penghargaan terhadap jerih payahnya. Mau dibuang atau disimpan, toh Hasim tidak pernah memikirkannya. Ia hanya ingin bunga itu diterima, untung kalau disimpan.

Sari marah kepadaku. Ia bilang tak usah campuri urusannya. Orang seperti itu, pikirannya pendek. Kalau bunga itu diterima, besoknya ia akan membawa cokelat. Esoknya lagi bisa saja akan membawa bunga. Lalu, ketika setiap bawaannya diterima, ia akan membawakan cincin tunangan. “Tidak perlu dikasihani,” katanya kepadaku.
Cinta memang tak pernah bisa dipikir. Masih jelas ucapan Sari terngiang-ngiang, dua bulan setelah kejadian itu, sebuah undangan terletak di atas meja. Aku sempat tak mengira ini nyata, tapi begitulah yang tertulis di kertas undangan itu: Sari dan Hasim akan menikah.

Sari, Neri, Pipit, Santi, dan Suci, teman karib sepetiduran waktu libur tiba ketika SMA dulu. Semuanya telah menikah. Paling cepat Suci. Belum lagi tamat SMA, sudah ada yang meminangnya. Seperti menghitung umurnya, dilihatnya lagi foto teman-temannya waktu liburan di Lubuk Jantan, kembali ia harus dihentakkan kesadaran, tinggal ia sendiri yang belum berumah tangga. Ya, hanya ia. Sampai tertidur, tak juga ditemukannya, barang satu orang pun teman-temannya yang belum menikah.

***

Umur 30, bagi Fani sangat tidak menyenangkan. Ia gusar. Keluar rumah malu. Orang-orang memandang sinis. Terlebih, ibu-ibu. “Perawan tua,” kata mereka yang membuat Fani tak habis pikir, sebab, kehidupannya adalah caranya sendiri. Menikah pun, pilihannya, lama atau cepat, hanya masalah waktu.

Ia tidak bisa selalu menghibur diri dengan prinsipnya. Sebab Emak, pun mendesaknya. Ah, ingin didebatnya Emak. Tapi ia sudah muak bertengkar, hampir tiap hari. Sebulan yang lalu, ada lelaki yang akan meminangnya. Namanya Budiono, orang Jawa yang bekerja di perkebunan. Ia seorang teknisi lapangan. Memiliki satu buah honda bebek. Paras mukanya biasa saja, agak kehitam-hitaman.

Saat itu, ia ingin mengakhiri kisah pilunya. Agar tak ada lagi yang menertawakan. Soal paras dan harta, baginya tak lagi penting. Bayangannya akan lelaki gagah, kaya, dan seperti bintang film, seperti gunjingan waktu SMA dulu, tak lagi dihiraukan. Ia tak ingin lagi bertengkar dengan Emak.

Ia telah menyatakan kesetujuannya di depan Budiono. Tapi Emak marah setelah budino pergi. Emak tidak ingin mendapatkan menantu orang luar. Apalagi yang tidak punya suku¹. Emak berharap, menantunya adalah orang sekampung saja. Alasannya sederhana, kalau terjadi apa-apa pada pernikahanku, misalkan suamiku selingkuh, ia bisa menuntut. Kalau bersuami orang luar, kemana akan dicari kalau terjadi pertengkaran yang berujung perceraian?

Emak menyamakan dengan pernikahannya yang kandas. Orang Jawa juga. Emak cemburu, ia mendapati sapu tangan Bapak ada lipstik perempuan ketika akan mencucinya. Ia masih ingat betul, Emak marah-marah di depannya. Esok paginya, Bapak pergi, dan tak ada yang tahu. Sampai kini, tak pernah Bapak berkabar.

Pernah juga, Emak mencarikanku jodoh. Bisannya. Oh, bukan aku tidak mau. Emak sebenarnya tahu, bisanku itu ringan tangan. Di kampung, berkelahi saja kerjanya. Apakah Emak tidak iba anaknya dipukul oleh lelaki yang pacakak itu? Jelas aku menolak mentah-mentah. Tak kuhiraukan Emak marah.

***

“Jangan duduk juga di depan pintu,” berkali-kali Emak memperingatkan itu. Tidak bisa diubah Mak, di depan pintu ini, aku bisa melepas hati karena Emak marah. Tak benar itu, mitos orang-orang tua kita yang bilang, kalau duduk di depan pintu, sulit mendapatkan jodoh. Jangan samakan dengan keadaanku sekarang. Ini hanya perihal waktu saja.

Sedari kecil, Emak sering menakut-nakutiku dengan hal-hal yang tidak masuk akal. “Jangan main jauh-jauh. Di depan ada orang yang akan memenggal kepala anak-anak untuk pondasi jembatan.” Emak menunjuk orang-orang berpakain kuning dengan helm kuning pula. Aku jadi takut, dan tak jadi main keluar rumah.

Ketika SMA aku baru sadar, ternyata yang dibilang Emak bukan orang yang akan memenggal kepala anak-anak, tetapi pekerja proyek yang sedang bertugas. Ah, Emak mengada-ada. Anak gadis tidak boleh pulang larut malam. Sulit pula mendapatkan jodoh.
Aku sudah terlalu malas bicara petuah-petuah tak masuk akal. Menggunting kuku disenja hari, tidak boleh. Lunak daging, katanya. Tidak kita yang berbuat, dituduh juga oleh orang lain. Siang hari, aku tak sempat menggunting kuku. Sibuk bermain dengan teman-teman. Hanya ini waktuku untuk membersihkan diri.

Menjahit baju di malam hari, juga tak boleh. Ada-ada saja. Katanya, kita mudah terkena sial. Apa pula hubungannya? Keluar akal.

Aku tak terima, duduk di depan pintu, bisa menjauhi jodoh. Terlalu jauh jaraknya jika ingin dipertemukan. Aku bukannya sulit mendapatkan jodoh. Hanya, setiap yang kudapat, Emak tak pernah bersetuju. Jodoh yang diberikannya padaku, tak cocok dengan seleraku. Aku kadang berpikiran buruk, jangan-jangan Emak sengaja membuat keadaan seperti ini. Tapi tak mungkin, aku anaknya. Ia pasti menginginkan yang terbaik. Sering aku mengalah dengan alasan itu.

Kalau Emak sudah marah, aku duduk lagi di depan pintu, seperti waktu-waktu yang lalu. Di sini, aku bisa bebas memandang orang-orang yang tak marah seperti Emak. Tapi hari ini Emak agak kasar. Biasanya ia hanya melarang, dan berucap mitos-mitos lama untuk menakutiku.

“Masuk, Maaasuuuukkk,” merah padam muka Emak. Belum pernah ia kulihat semarah itu, dari kecil.

Di umurku yang ke-30, tak pantaslah aku menerima sumpah serapah. Toh, aku sudah bekerja dan mampu menghidupi hidupku sendiri. Walau tak memadai menjadi guru honor, tapi untuk biaya hidupku sendiri, rasanya cukuplah. Tak perlu Emak berkasar-kasar seperti ini.

“Satu bulan lagi, waktumu. Kau harus mendapatkan jodoh. Emak sayang padamu. Tak tega Emak kamu dipergunjingkan ibu-ibu. Sudahlah, tidak usah memilih. Umurmu sudah terlalu tua sebagai wanita. Hanya satu permintaan Emak, harus orang punya suku, menantuku.”
Hatiku terlanjur beku untuk mengiyakan kata-kata Emak. Sekali ini, keterlaluan marahnya. Aku tak terima. Berlari lagi aku ke pintu, duduk di sana sambil menangis.

“Fani…” tegur Emak. Jangan duduk juga di depan pintu. Malu dilihat orang-orang yang lewat.

“Karena aku belum mendapatkan jodohkan, Mak?” sergahku memberanikan diri. Bukan melawan, hanya mempertanyakan alasannya tak memperbolehkan aku duduk di situ. Anak gadis (kadang aku malu bila Emak menyebut dengan panggilan itu) adalah penjaga rumah. Duduknya tidak di pintu, tapi di ruang tamu. Dalam hukum adat, perempuan yang duduk di pintu, selain tidak elok dipandang, juga sulit mendapatkan jodoh.

Apakah nama itu benar atau tidak, tapi Emak selalu menyebutnya bila aku duduk lagi di depan pintu seperti sekarang. Suru, sekarang telah meninggal, tidak pernah menikah sampai ia mengehembuskan nafas terakhir. Kau tahu? Gara-gara ia selalu duduk di depan pintu. Lelaki tidak mau mendapatkan jodoh gadis yang suka duduk di depan pintu.
Seperti berceramah, Emak berkhutbah. Dimata lelaki, gadis yang duduk di depan pintu adalah pemalas, tidak pandai merawat anak, sedikit masalah di rumah tangga, langsung cerai, karena memang gadis itu pikirannya sangat pendek.

Aku tak menemukan diriku pada apa yang dikatakan Emak. Tapi aku lelah membantahnya.

***

“Saya ingin melamar anak Ibu.” Seorang lelaki didampingi orang tuanya barangkali, membuka cerita sore ini. Sumringah wajah Emak kulihat. Tapi aku sengaja tak menghampirinya. Aku dengarkan saja dari jauh perbincangan Emak.
“Dari suku mana?” Biasa, Emak selalu memulai pertanyaan dengan itu. Aku kira, ini tak akan berakhir indah.

“Pitopang. Mamak saya Datuk Paduko Rajo,” ujarnya yakin.

Emak tercengang. Apa yang dinantinya telah datang. Tamu dari jauh, yang seharusnya datang pada umurku yang ke-25. Tapi tak apalah, walau terlambat, yang penting ia tak menghilang. “Fani, ambilkan air minum. Ada tamu.”

Aku datang dari belakang dengan nampan di tangan. Aku malu-malu. Masih ada, lelaki yang menerima perempuan setua ini. Itu kebanggaanku sore ini. “Sungguh kau ingin meminang anakku?”

Ia mengangguk. “Bagaimana Fani?” Emak berpaling kepadaku. Oh, aku malu-malu lagi. Sambil menunduk, sedikit tersenyum, aku masuk ke dalam kamar. Lelaki itu gagah, kuning langsat, dan matanya sedikit sayu.

Mereka pamit. Emak memelukku. Akhirnya aku bermenantu juga, kata Emak riang. Terbayang di wajahnya akan menggendong seorang cucu yang mungil. Melewati rumah ibu-ibu yang menertawakan anaknya. Sabarlah, tinggal mencari hari baik.

***

Bukan hari baik, tapi kabar buruk. Begitu kejadian yang secara tiba-tiba, dan tak sempat dicerna Emak, juga olehku. Jarak waktu setengah jam, semuanya berubah.
Lelaki yang memperkenalkan dirinya bernama Rudi, kini berada di ruang jenazah di salah satu rumah sakit di ibu kota kecamatan. Sepeda motornya ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil kijang yang melaju kencang. Ini cerita dari orang-orang yang tahu, barangkali hanya mendengar. Yang jelas, ia dan orang tuanya, tergilas. Ngeri aku membayangkan. Oh, baru saja harapan itu ada.

Emak, perangainya terhadapku langsung berubah mendengar kejadian itu. mitos-mitos kembali terlontar, yang berujung pertengkaran denganku. “Matanya itu sayu. Sayut-sayut sampai. Orang yang bermata sayu, umurnya tak panjang,” kata Emak. Aku tak menghiraukan kata-kata Emak sampai ia menyerangku dengan hal-hal yang tak masuk akal, yang lain.

“Kamu mesti di pabingkean² segera,” ujar Emak berlalu.

Ruangsempit, Mei 2009

¹ = di Minangkabau, orang yang sesuku disatukan dengan jalinan tali darah. Sifatnya turun temurun.
²= semacam doa tolak bala, dengan mengundang orang-orang datang ke rumah. Lalu mendoakan agar sialnya bisa hilang.

Selanjutnya......