Ibu dan Sebuah Nilai

Judul buku : Dua Ibu
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Juni 2009
Tebal : 304 halaman


Dalam kehidupan ada dua macam ibu. Pertama, ialah sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua, ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat kebahagiaan anak orang lain, dengan rasa bahagia pula.

Novel ini, di awal, memulai sekaligus menyelesaikan tujuannya. Tapi, ia tak cukup puas hanya sampai di sana. “Aku bisa bercerita karena aku memiliki.” Maka, sebuah keluarga dengan seorang ibu, adalah keluarga yang bahagia.
Sembilan orang anak, hanya satu yang merupakan anak kandung yang bernama Jamil. Selebihnya, merupakan anak titipan orang lain kepada tokoh ibu.

Pun, orang tua dari anak-anak yang sekarang dirawat oleh ibu, dulu juga dibesarkan oleh ibu. Dari dulu, ia merawat anak-anak tersebut tak berbeda, meski ia sebenarnya tak cukup mampu membesarkan mereka dalam konteks kekinian: sekolah, punya baju baru, dan tempat tinggal yang layak. Tapi, sang ibu, punya ketulusan.

Seorang anak menikah, satu sampai lima macam barang digadai. Hingga tak satu pun lagi barang-barang di rumahnya yang berbekas. “Kau lihat burung merpati itu? Kaulihat induknya? Makanan yang dicari susah di tempat jauh, yang masuk dalam paruhnya pun diberikan kepada anaknya,” kata sang ibu, ketika anak-anaknya tak setuju dengan caranya.

Begitulah ibu, ia berbeda dengan istri. Ibu adalah perempuan dengan naluri untuk berbuat baik. Perempuan yang mencintai kita sepenuhnya, dan tak menjadi cemas jika kita tiba-tiba mencintai perempuan lain. Seorang ibu merelakan anak lelakinya mencari perempuan untuk diperistri, akan tetapi seorang istri akan merasa aneh jika suaminya mencari ibu baru.

Dua Ibu, barangkali bukan membandingkan antara satu perempuan dengan perempuan lain, tapi sebuah tesis bahwa menjadi ibu adalah menjadi induk merpati, tetapi juga induk harimau. Yang dalam keadaan paling lapar dan marah sekalipun tak akan memangsa anaknya.

Mamid, Solemah, Mujanah, Jamil, Ratsih, Adam, Agus, dan Herit merasakan bagaimana mereka memiliki ibu. Tanpa mereka sadari, sang ibu menyelamatkan mereka dalam keadaan yang tak pernah diduga. Jamil suatu ketika pergi merantau entah kemana ingin memperbaiki keadaan dan menuntut cita-citanya. Ia berlayar tanpa sepengetahuan sang ibu. Tapi, ia terjebak dalam suatu penyeludupan yang membuatnya menjadi tumbal. Ia tak tahu apa-apa. Ia hanya dijadikan tumbal yang diberikan kepada polisi. Ia kemudian dibebaskan untuk menjadi ‘tumbal’ yang lain di Singapura. Hingga tak ada lagi tempat mengadu, tiba-tiba datang seorang yang tak ia kenal, kemudian membebaskan. Ia hanya bilang, “Aku kenal ibumu.”

Di setiap gadaian ketika anak-anaknya menikah, gadaian mereka tidak hanya soal barang, tapi juga reputasi. Ibu tidak akan pernah membuat orang sakit hati. Ia akan selalu membayar setiap yang ia pinjami. Hingga tak ada orang yang ragu untuk meminjamkan apapun.

Tapi, seperti anak mereka ketika berpisah dengan ibu dan membangun rumah tangga, tak mereka temukan sosok ibu yang sama seperti ibu mereka. Ini dialami Mamid. Ia mendengar orang tuanya akan bercerai, adiknya bertanya, “Kak Mamid mau tidak mempunyai ibu yang cantik?” Mamid menjawab polos, “Aku tidak tahu. Aku hanya mempunyai satu orang yang biasa aku panggil ibu.”

Meski hidup di manapun, dengan jarak yang jauh sekalipun, sosok ibu tak tergantikan. Seperti Mamed atau anak-anak ibu yang lain, mereka hanya menemukan satu orang ibu, barangkali juga tak ada ibu-ibu yang lain di dunia nyata sekalipun, yang membesarkan anak-anak orang lain dengan tak mengurangi kebahagiannya.

Memperbaiki Realitas
Arswendo Atmowiloto, seperti juga dengan karyanya yang banyak mengangkat tema keluarga, merupakan sebuah acuan tentang dunia kecil (keluarga) untuk memulai kebahagiaan. Sebuah kebahagiaan diawali dari sebuah keluarga yang saling harmoni.

Jika di Keluarga Cemara Arswendo Atmowiloto menceritakan tentang keluarga miskin yang bahagia, di Dua Ibu, ia menonjolkan peran penting ibu dalam keluarga.

Dalam konteks yang lebih luas, ibu yang dimaksud bukan hanya soal ibu yang ada dalam keluarga. Tapi bisa menjadi cerminan untuk sebuah sifat yang memberikan ketenangan dan kedamaian. Nilai-nilai tersebutlah yang diumbar Dua Ibu dengan jelas, bahkan sangat kentara.

Nilai-nilai tersebut barangkali memperbaiki apa yang banyak terjadi di realitas dan menumbuhkan nilai-nilai yang ideal. Bagaimana mungkin masih ada perkelahian? Kenapa mesti ada anak-anak yang nakal? Kenapa ada orang yang berani memakan yang bukan haknya? Apakah mereka tidak memiliki ibu? Atau tak pernah merasa penting dengan arti ibu?

Jika semua orang punya ‘Ibu’, itu tak akan terjadi. Yang merasakan kehadiran ibu di dalam dirinya, ia akan merasakan kasih sayang terus mengalir, bahkan menjaga dirinya.

Jika sifat ibu telah mengalir dalam diri seseorang, maka ia akan seperti Mamid, Solemah, Mujanah, Jamil, Ratsih, Adam, Agus, dan Herit. Seorang ibu menyatukan mereka dan memberikan ketenangan dalam kehidupan mereka. Ketika sang ibu telah tiada, nilai-nilai tersebut tak pudar. Bahkan, meski mereka saling berjauhan pada akhirnya, mereka punya kesepakatan untuk sekali setahun berziarah ke makam ibunya. Sesulit apapun keadaan.

Mereka disatukan oleh nilai-nilai tersebut. Ketenangan dan kebahagiaan yang mereka dapatkan berasal dari sosok ibu.

Selanjutnya......

Denda

RATIH kembali menangis. Di dekat makam ibunya, air matanya telah membanjiri bunga kamboja yang hampir layu. Dadanya sesak. Ada beban yang begitu berat sedang ditanggungnya. “Ibu, bagaimana aku bisa membeli seekor kambing?”

Ratih tak lagi punya tempat mengadu. Hasim, lelaki yang telah memperistrinya 20 tahun, hanya seorang lelaki pincang. Meski bisa mencari nafkah, tapi ia tak sanggup untuk membeli seekor kambing. Itu terlalu jauh dari penghasilannya. Mengadu kepada ibu yang jauh di sana, juga tak merubah apa-apa. Tapi itu bisa membuatnya sedikit tenang, meski tetap tak juga akan mendatangkan kambing ke rumahnya.

Ya, telah dikumpulkannya segala. Dijual barang berharga (baju, sepatu, kompor, panci, periuk). Termasuk benda yang harganya di atas yang ada: sebuah cangkul, benda yang setia menemaninya menggarap tanah, dijual lima puluh ribu. Dengan itu, ia bisa menghidupi dua orang anak yang tak akan pernah bisa ia sekolahkan. Ah, meski telah ia jual segala, tetap tak mampu ia membeli seekor kambing. Meski hanya anaknya saja.
Hanya ada satu jalan, tapi pengorbanannya terlalu luar biasa. Rumah kayunya dijual atau digadai. Itu bisa membeli empat sampai lima kambing. Ah, pikirnya, di mana ia akan berteduh setelahnya? Suaminya yang pincang—ia tak bisa dustai hatinya—bahwa ia tidak akan tega memperbiarkannya tidur tak beratap. Anak-anaknya tak mau pula ia gaduh, sudahlah tidak sekolah, tidak berumah pula. Duh, nasib.

“Itu bukan jalan,” batinnya. Saban hari, ia memikirkan banyak cara, bisa membeli kambing, dan denda selesai. Bebannya berakhir.

Hasim bukannya tak peduli, tapi Ratih tahu, ia telah bekerja sangat keras. Sejak denda ditetapkan di Balai Adat, Hasim membanting tulang melebihi tenaganya yang ada. Kadang, Hasim pulang sampai larut malam. Sering Ratih merasa iba. Tapi tak dikatakannya. Ia takut menyinggung perasaan suaminya itu.

Hanya tangan yang telah lisut, sebab ia bekerja apa saja. “Uda tak usah begitu keras bekerja. Nanti Uda sakit,” lalu Ratih memijit suaminya itu, sampai terlelap. Lalu, ia kembali berpikir sendirian, melunasi denda itu…..

***

Bila ada pemimpin di negeri ini, dan mengira keluarga Ratih tidak tergolong miskin, perlu dipertanyakan, bagaimana ia mencatat datanya? Tapi, sore itu, di Balai Adat, nama Ratih memang tidak tertera. Ia catut kembali kertas yang ditempel di kaca itu. Sampai beberapa kali diulanginya, yakinlah ia, namanya memang tak ada.

Sebagian orang telah pulang membawa beras bantuan, dengan senyuman yang mengembang. “Ratih, kenapa kamu tidak dapat?” Tanya Susanti, tetangganya. Ratih hanya diam, tak menggubrisnya. Diajak pulang, ia tetap membisu. Kejadian berikutnya, orang-orang yang masih menerima pembagian itu dikejutkan dengan kata-kata yang kaluar dari mulut Ratih.

“Bidin anjing,” teriaknya sangat keras, dan didengar semua orang yang berada di sana.
Barangkali, makian seperti itu tergolong biasa. Jika, sasarannya adalah orang-orang biasa. Tapi ini Bidin, orang nomor satu di kampung. Jangankan menyebutnya dengan anjing, namanya saja disebut, bisa kualat. Ia seorang pemimpin di adat dan juga di pemerintahan. Ia Wali Nagari dan juga Datuk.

Sebagai Wali Nagari, ia menentukan segala macam bantuan. Dan memang, setahu Ratih, pekerjaan Bidin hanya menerima dan menyalurkan bantuan saja. Sebagai pucuk tertinggi di adat, ia berkewenangan menentukan segala persoalan. Ah, menjadi pertanyaan bagi orang: mengapa Ratih berani mengucapkan kata-kata itu?

Benar saja. Malamnya, Ratih dipanggil ke Balai Adat. Emosinya tadi siang berbuntut panjang. Ia tak memikirkannya sejauh itu. Ia hanya melampiaskan kekesalan.
“Kamu sadar ucapan tadi siang?” Tanya Datuk Paduko, panggilan Bidin. Sejak ia menjadi Datuk, nama Bidin tidak lagi dipergunakan. Adat itu telah turun temurun. Barang siapa yang memanggil namanya, mereka akan didenda. Sesuai dengan keputusan rapat. Sejak ia menjadi Datuk, ia milik semua orang. Untuk menghormati seorang Datuk, nama mereka tidak lagi dipergunakan. Yang ada adalah panggilan terhadap gelar. Semua orang yang ditunjuk menjadi Datuk, panggilannya adalah gelar yang dilekatkan dengan malewakan gala.

Semestinya Ratih mengerti akan hal itu. Dan, rapat malam itu, yang menghadirkan semua petinggi adat, dan mempertimbangkan banyak hal, Ratih dikenakan denda seekor kambing. Kambing tersebut, nantinya akan dipergunakan untuk mengembalikan lagi nama baik Datuk, yang telah dihina oleh Ratih.

“Tidak adakah pertimbangan lain?” Suara Ratih parau, ditelan tangisnya sendiri. Di sebelah tempat duduknya, Hasim berkali-kali menyeka air mata istrinya. “Kenapa saya tidak peroleh bantuan beras itu?” Tiba-tiba Ratih berdiri. “Saya tak akan berbuat seperti itu. Saya tahu itu salah. Tapi pembagian itu benar-benar tidak adil. Puan, Mak Rani, Solihin, kenapa mereka diberikan bantuan? Mereka semua itu berada? Hadirin sekalian, Datuk-datuk yang mulia, dengar saya, semua orang yang saya sebut tadi, mereka adalah anak kemenakan Datuk Paduko. Kalian tahu itu bukan?” Entah darimana datangnya keberanian Ratih. Ia berputar-putar seperti orator.

Tapi rapat hari itu, Datuk Paduko tidak sebagai Wali Nagari. Ia sebagai seorang Datuk yang merasa terhina karena namanya disebut, dilabeli pula dengan kata anjing. Maka, tak ada hak Ratih untuk mempertanyakan itu. Ia sebagai pesakitan. Omongannya, meski banyak orang bersimpati, tapi tak tepat diucapkan. Itu urusan Camat, bukan Datuk-datuk yang menyidangkan Ratih tersebut. Ah, Ratih tentu tak tahu dengan itu.
Dan, jangka waktu pembayaran denda tersebut berselang sebulan. Alek akan dipersiapkan untuk mengembalikan lagi nama baik Datuk Paduko.

Ratih orang yang paling terakhir keluar dari Balai Adat….

***
Selesai salat Isya, anak-anak mereka telah tidur dengan lelap, Ratih dan Hasim melangkah keluar rumah. Hujan masih menyisakan gerimis, tapi mereka tak peduli. Datuk Paduko dan anak-anaknya tengah menonton gosip artis di televisi ketika mereka telah duduk di ruang tamu. Wajah Datuk masih menyisakan ketidaksenangan. Mereka disambut dengan hambar.

“Aku tak akan sanggup membayar denda itu, Datuk. Aku datang ke sini ingin memohon, lebih tinggi dari meminta. Tidakkah bisa hukuman itu diubah? Aku minta maaf, mulutku kilaf berucap.” Hasim menyambung dengan kalimat-kalimat yang merendahkan diri mereka sendiri.

Datuk tak memaling. Ia tetap menonton. Seolah-olah, ia tak mendengarkan perkataan barusan. Setelah ucapan itu diulangi kedua kali, baru Datuk bereaksi. “Ini hukuman adat. Saya tidak bisa berbuat apa-apa.” Jawab Datuk ketus.

“Apakah adat tidak memiliki belas kasihan, Datuk?” balas Ratih.

“Hey..sudahlah. Yang namanya hukuman tentu berat. Salah sendiri tidak bisa menjaga mulutmu itu,” naik emosi Datuk. “Kamu kan bisa, meminta kepada Datukmu pula untuk membayar denda itu. Banyak jalan. Keinginanmu yang tak mau membayar denda. Tangan mencincang bahu memikul.”

Lama Ratih dan Hasim terdiam. Datuk tetap menonton. Di rumah Datuk, mereka tak berarti apa-apa. “Benar Datuk. Aku mengaku salah. Tapi tidakkah bisa dilihat akar persoalan? Apa yang kuucapkan tak ada hubungannya dengan gelar Datuk yang disandang. Ucapanku itu ditujukan sebagain Wali Nagari, bukan Datuk,” Ratih masih membela diri.
Tiba-tiba Datuk berdiri. Lalu mengusir dua orang yang sedang memelas itu keluar. “Jangan mencari-cari perkara. Aku ini Datuk, juga Wali Nagari. Tidak ada bedanya. Keluar saja kalian. Besok batas waktu telah habis. Kita tentukan saja di Balai Adat.”
Entah darimana datang keberanian, Hasim tiba-tiba telah berdiri.

“Sebagai Wali Nagari ataupun Datuk, jika kami bayar denda itu, salah satu jalan adalah dengan menjual rumah kami satu-satunya. Apakah Datuk tidak punya perasaan?”
Merah pitam muka Datuk dikata-kataian seperti itu. Berdiri pula ia menantang Hasim. Anak-anaknya turut pula mengikuti Datuk yang diserang.

“Anjing..keluar kau!”

“Spontan kata itu keluar dari mulut Datuk.”

“Ha..ha..impas Datuk. Kata itu juga keluar dari mulutmu.” Hasim seperti mendapat kemenangan, atau telah sampai batas ketidakmampuannya.

“Pergi kalian dari rumahku.” Datuk dan anak-anaknya mengusir dengan paksa. Tapi Hasim tetap tertawa sampai ia keluar dari rumah Datuk. Ratih yang sedari tadi menyaksikan, memandang kepada suaminya dengan bangga. Ah, kebanggan yang muncul tiba-tiba.
***
Para Datuk telah berkumpul, lengkap dengan pakaian kebesaran. Ratih duduk di ujung paling kanan, sendirian sebagai pesakitan. Ratih mendapat kesempatan pertama untuk berbicara. Pelan ia berucap, “Saya tidak bisa memenuhi denda itu.”

Terjadi perdebatan panjang. Sebab, mereka juga tahu, bagaimana Ratih hidup sehari-hari. Tapi, kata Datuk Paduko, ini masalah adat. Adat mesti dijunjung tinggi. Lebih tinggi dari rasa belas kasihan itu sendiri. Agar tak ada orang yang basilinteh angan, terlebih terhadap Datuk. Adat membuat orang bisa menjadi sopan dan bertetika. Apapun bentuk masalahnya, adat tidak bisa dibaok lalu.

Bila berbicara tentang adat, para Datuk yang datang tak dapat membantah. Meski tak ada aturan tertulis tentang denda itu, tapi mereka percaya, adat yang turun temurun tersebut berguna mengatur kehidupan masyarakat yang sentosa.

“Bagaimanapun, denda itu mesti dibayar. Apapun jalannya,” kata para Datuk, serempak mengiyakan.

Ratih lebih banyak diam. Sebab, ia memang tidak bisa memenuhi denda itu. Sejak pertemuan dengan Datuk Paduko malam itu di rumahnya, ia berpikiran, andai pun ia punya uang untuk memenuhi denda itu, tak juga akan dibayarkannya. Baginya, ini telah impas. Datuk Paduko juga berucap yang sama.

“Baiklah,” lanjut Datuk Paduko setelah sampai satu jam berdebat, “Bagaimana kalau rentang waktunya ditambah sebulan lagi?”

“Ya…ya. Ditambah saja,” serontak yang lain menyepakati.
Ratih tak berucap apa-apa. Apapun keputusannya, ia telah menetapkan hati dan membulatkan pendirian. Terlebih, suaminya juga menguatkan, untuk diam saja. Tak perlu banyak bicara. Ia bisa saja berdebat tentang kejadian di rumah Datuk Paduko, tapi itu tak dilakukannya.

Baginya, sebulan, dua bulan, setahun sekali pun, ia yakin tidak akan mampu membayar denda itu. Dan, telah diutarakannya di awal tadi. Keluar dari Balai Adat, ia merasakan perasaan yang berbeda. Ia bahkan tak merasa berdosa lagi mengeluarkan kata-kata yang membuatnya berurusan dengan adat.

Datuk Paduko memandang sinis kepadanya selesai rapat. Ia menatap balik. Tiba-tiba saja ia berani melakukannya.
***
Kejadiannya begitu tiba-tiba. Orang-orang masih bermimpi dengan indah. Malam berbintang terang. Namun, sebentar saja, bintang ditutupi asap hitam. Asap itu berasal dari rumah kayu milik Ratih. Rumah papan itu begitu cepat dilalap api. Ratih, Hasim, dan anak-anaknya masih di dalam.

Bintang yang bersilau cahaya malam itu seakan tak berarti. Orang-orang yang telah terjaga mencari air, berusaha memadamkan api secepat mungkin. Namun, itu tak mampu menolong lebih jauh. Rumah kecil itu tak ada apa-apanya. Tak terhitung sejam, rumah itu telah menjadi abu, lengkap dengan penghuniya. Setelah api padam, jasad keluarga yang malang itu digotong keluar. Wajah-wajah mereka tak lagi berbentuk. Hitam.

Esok paginya, jasad keempat anak-beranak itu dikuburkan. Tangis mengalir dari mereka yang merasa iba. Atau sekedar merasa kasihan saja.

Kematian Ratih dan keluarga mengundang simpati. Mereka pergi dengan cara yang tak diduga. Terlebih, Ratih belum membayar denda atas perilakunya. Keterangan dari polisi, rumah mereka terbakar karena lampu petromaks terjatuh, dan melalap papan-papan dengan sangat cepat. Mereka sepertinya tak sempat menyelamatkan diri keluar rumah.

Rapat di Balai Adat digelar lebih cepat setelah kematian Ratih. Hasil rapat hari itu memutuskan, denda atas perbuatan Ratih dianggap telah lunas. Setelah kematian Ratih, semuanya menerima tanpa ada perdebatan panjang. Kali ini, rasa iba telah mengalahkan adat dengan sendirinya.

Datuk Paduko juga menerima keputusan itu, dan tidak dibantahnya pula. Ia tak lagi menjunjung adat seperti yang sering diagung-agungkannya. Namun ia tahu pasti, proses pemulihan nama baiknya tidak akan pernah terjadi…

Ruangsempit, September 2009
lukisan: wb5.itrademarket.com/pdimage/64/699164_11-119.

Selanjutnya......

Anak-anak Sawah

SEMBARI menunggu Rinto, kami bermain kelereng. “Kenapa dia lama sekali,” sungut Ifan. Sebelum yang lainnya berkomentar, tiba-tiba Rinto muncul sambil menggenggam kantung plastik. Ia membawa beras, lada, dan kail. “Semuanya sudah siap, mari berangkat.”

“Horeee…ke sawaaaaah.” Suara kami serempak tak dipandu.

Dari sekolah, jarak yang harus kami tempuh menuju sawah kira-kira 2 km. lumayan jauh, tapi kami telah terbiasa. Melewati ladang gambir, melintasi pohon-pohon karet yang rimbun. Dari sana, kami melihat hamparan sawah yang luas.

Setiba di sawah, kami mencari sansuduang¹ yang kosong. Di sana kami menaruh barang-barang bawaan tadi. Di sebelah sawah ada sungai yang tak terlalu dalam, dan tenang. Namanya Lubuk Jantan. Konon, Lubuk Jantan ini banyak sekali ikannya. Entah dari mana datang ceritanya, diyakini oleh penduduk setempat, ikan-ikan di Lubuk Jantan menjadi lebih banyak dari biasa bila selesai musim panen. Oh, kami beruntung.

Aku mencari posisi memancing di dekat batu. Rinto mendapatkan tempat yang lebih nyaman: di atas kepalanya ada pohon mahoni yang tumbuh rimbun, menutupi kepalanya dari panas matahari. Delapan orang temanku lagi, agak ke bawah sungai.

Dua jam kemudian, kami membuktikan kebenaran cerita itu. Ikan pancingan kami besar-besar, dan memang lebih banyak dari biasanya. Aku dapat enam ekor, Rinto cuma lima ekor. Bila dikumpulkan dengan ikan hasil tangkapan Ifan, Salim, Runi, Ade, Randi, Dede, Anto, dan Saldi, terkumpul sebanyak 45 ekor. Ikan sebanyak itu akan membuat perut kami kekenyangan siang ini.

Kembali ke Sansuduang, Rinto membawa tiga buah batu besar. Aku mengumpulkan ikan teman-teman, diikat menjadi lima bagian. Ifan menggiling cabe, dan lainnya mencari kesibukan.

Kayu api dibakar. Wuss…apinya membesar. Panci dinaikkan. Cabe yang selesai digiling, dimasukkan ke dalam panci. Ifan mengaduk-aduk. Runi menusuk-nusuk ikan dengan kayu yang tak terlalu besar. Satu kayu, ikannya ditusuk empat buah. Selesai memasak cabe tadi, ikan dipanggang. Wuih…harumnya. Berkali-kali aku mencium aromanya.

Nasi yang telah tersaji di daun pisang, campur sambalado, campur ikan panggang buatan kami, dibentang di atas sansuduang. Walau berebut, tapi semua kebagian. Tak ada yang cemberut setelah makan. Yang ada, buka baju, celana, berlari lagi ke Lubuk Jantan, bukan memancing, tapi berenang sepuasnya. Meloncat dari atas batu. Lomba berenang. Yang kalah: mencari batu berwarna putih yang terletak di dasar lubuk ini. Tak dapat, hukumannya lebih berat lagi: berlari keliling sawah tiga putaran. Tak berbaju.

Ha..haa…Ifan sepertinya sudah tak sanggup lagi. Empat kali lomba digelar, ia yang selalau kalah. Ifan menyerah. Kami sebenarnya belum puas. Tapi kasihan juga melihat hidung dan mata Ifan yang memerah. Empat kali menyelam ke dasar lubuk, tentu terasa berat juga. Tapi hukuman untuk Ifan bukan tidak ada, diganti dengan hukuman yang lebih ringan. Semua sepakat: Ifan mengumpulkan tanah sebanyak-banyaknya dan kemudian dibuat bulat-bulat, tidak terlalu besar, seperti bola.

Ah, sepertinya Ifan beruntung siang itu. Salim, Runi, Ade, dan Dede membantu Ifan mengumpulkan tanah. Yang lainnya membuatnya seperti bola. Tak lama pekerjaan itu. Setelah sepakat dengan pembagian tim, tanah yang berbentuk bola itu dibagi. Perang akan dimulai.

Perang-perangan ini, sepertinya menjadi rutinitas kami bila ke sawah. Tak pernah terlewatkan. Entah mengapa, kami begitu suka melihat tanah-tanah ini mengenai punggung, dan kaki lawan. “Menyerah…menyerah..” Bila sudah ada yang mengucapkan itu, permainan selesai. Tak ada hukuman. Tanah-tanah itu telah cukup menjadi hukuman yang perih.
***
Hari Sabtu, barangkali maknanya sama bagi siapa saja. Juga bagi kami. Itu hari, tempat kami bermain sepuas-puasnya, walau di hari-hari biasa, sebenarnya kami pun masih bermain. Bedanya, barangkali di hari Sabtu, tempat bermainnya. Tidak di sekolah atau di surau tempat kami mengaji sore hari, tapi di sawah.

Hari Sabtu pulang sekolah lebih cepat. Biasanya, tak ada kesepakatan bersama untuk bermain di sawah. Perginya berdua-dua, kadang berlima sekaligus. Bagi yang mau ganti baju seragam dulu ke rumah, bisa datang belakangan.

Sawah memang menjadi tempat kami bisa bermain sepuas hati. Kami hafal betul, tiap-tiap musim. Karena berganti musim, juga berganti jenis permainan kami. Bila sedang musim menanam padi, kami biasanya membuat kapal-kapalan dari batang pisang. Hampir menyerupai perahu. Kapal-kapalan itu akan membawa kami menusuri sungai sepanjang mungkin. Di atas kapal tersebut bisa muat dua sampai tiga orang. Di musim menanam ini, air sungai sedang deras. Kami selalu tertantang untuk menaklukkan arus sungai.

Musim manggoroh², kami membuat ketapel. Burung-burung sepertinya bertambah banyak pada musim itu. Mulai dari burung gereja, burung pipit, dan burung-burung yang kami tidak tahu namanya. Kalau di sawah tak dapat burung itu, kami ke hutan yang agak lebat. Wah…di dalam hutan yang tak jauh dari sawah ini, bermacam burung yang memang kami belum tahu namanya, sangat indah dan banyak sekali. Sepertinya jinak, walau ketapel kami jarang yang berhasil menjatuhkan mereka dari atas batang kayu itu.
Paling menggembirakan, bila dapat burung yang mau: Suaranya bagus dan sering berkicau. Membuat sangkarnya jauh lebih menggembirakan lagi. Tak jarang, kami mengerjakan sangkar itu di sekolah.

Di musim panen, kami kembali masuk ke hutan. Kali ini mencari bambu. Bambu itu kami pergunakan untuk membuat layangan. Di kedai-kedai sebenarnya ada yang menjual layangan, tapi kami tak pernah membelinya. Karena layangan yang dijual di kedai itu, ukurannya sangat kecil, kami menyebutnya dengan layang-layang maco. Yang kami inginkan adalah layang-layang bangkok, ukurannya besar. Dan itu tak ada yang menjual.

Musim panen itu, anginnya sangatlah kencang di sawah. Layangan kami mudah naik. Semakin tinggi layangan, semakin terobatilah hati kami yang susah-susah mencari bambu di hutan, mengirisnya, memasang benangnya, membuat ekornya sampai panjang, baru bisa dinaikkan. Tapi, bila layangan itu telah sampai di awan, kami tak lagi merasakan rasa kelelahan itu. Benar-benar tak merasakan.

Maka, di hari Sabtu itu, kami menemukan kegembiraan yang luar biasa. Terlebih, bila guru-guru ada rapat, biasanya hari Sabtu, kami pulang lebih cepat dari biasanya.
Aku dengar cerita dari kakak, bermain di sawah adalah warisan turun temurun. Kakak dulu juga bermain di sawah, persis seperti yang aku, dan teman-teman lakukan sekarang.

Karena itu pula, orang tua kami tak pernah cemas, apalagi marah bila hari Sabtu itu kami tak berganti baju pulang. Mereka pasti mengira kami sedang bermain di sawah. Sebab, dari musim menanam sampai panen padi, kami selalu bertemu orang tua kami di sawah. Sebab, kami memang anak-anak sawah. Ibu dan Ayah kami bekerja di sawah. Kakek kami dulu juga bekerja di sawah. Dan sawah-sawah yang dikerjakan orang tua kami ini adalah sawah warisan, mungkin kami nantinya juga akan mengerjakan sawah-sawah ini.
***
“Kamu sudah menghafal, Fan?” Anto yang bertanya.

Tiba-tiba kami tersentak. Perang-perangan mendadak berhenti. Langit sudah mengelam. Azan magrib sayup-sayup terdengar.

Oh, kami sempat lupa, ini hari terakhir kami bisa bermain bersama. Senin nanti, nasib kami akan ditentukan oleh yang namanya ujian akhir. “Kenapa kita sampai lupa ya, Senin nanti ujian?” Tak ada yang menjawab, hanya menggeleng tak tahu. Kami buru-buru mengenakan baju, mengumpulkan peralatan, kembali pulang ke rumah masing-masing.

Di perjalanan, tak seperti kami berangkat tadi. Tak ada suara yang keluar dari mulut kami. Semua seperti membisu.

“Apa pelajaran yang paling sulit bagi kamu, Nto?” tanyaku mencairkan suasana. Anto diam. Yang lain memandang padaku. Aku memaling wajah. Salahkah pertanyaanku?

Barangkali memang salah. Sebab, kami memang tak boleh bersuara. Kata Runi berbisik kepadaku, teman-teman lagi sedih, sebab setelah ujian akan berpisah. Oh, kenapa aku tidak berfikir sampai ke sana? Kenapa aku lupa, di kampung kami ini tidak ada SMP? Artinya, setelah selesai pengumuman hasil ujian nanti, kami tidak akan bertemu lagi.
Dua hari yang lalu, selang istirahat siang di sekolah, kami berkumpul. Kami saling berbagi, dan mendengarkan pendapat. Dari pertemuan itu, tak satupun rencananya yang akan tinggal di kampung ini. Rino, Runi, dan dan Rinto berencana melanjutkan sekolah ke SMP di kampung sebelah. Ifan ikut kakaknya ke Pekanbaru. Di sana ia akan sekolah. Aku, Dede, Salim, dan Saldi belum tentu. Tapi, katanya, mereka tidak akan melanjutkan sekolah. Mereka ingin pergi merantau untuk mencari kerja.

Kaki rasanya semakin berat untuk dilangkahkan. Ladang gambir, pohon-pohon karet yang kami lewati, begitu sulit ditaklukkan sekarang. Rumah terasa semakin jauh saja.

“Apakah kita masih bisa berkumpul lagi?” Tanya Salim.

Mendadak langkah kami terhenti. Saling pandang.

“Anak-anak sawah. Kita anak-anak sawah,” kataku. Teman-teman lainnya mengikuti kalimat itu. Anak-anak sawah, ya..kita adalah anak-anak sawah. Serempak kami mengucapkan. Oh, ternyata dari tempat kami berdiri sekarang, sawah-sawah masih terlihat. Alangkah indahnya sawah itu bila dilihat dari tempat yang lebih tinggi.

Kami bermain lagi. Membuat lingkaran. Mengucapkan kalimat: kita adalah anak-anak sawah. Sembari memandang jauh ke hamparan sawah yang semakin jauh semakin hilang dari pandangan mata kami.

Kami berdiri di tempat yang lebih tinggi. Di mana hamparan sawah masih bisa kami lihat. Sejenak kami membisu. Melihat sawah itu, rasanya kami ingin kembali ke sana. Menghabiskan hari, bermain bersama.

“Kenapa jumlah kita lengkap sekarang ya?” ujar Salim entah kepada siapa.

Oh, Salim ternyata benar. Biasanya, bila ke sawah, kami tidak pernah selengkap ini. Kadang hanya empat orang, paling tinggi tujuh orang. Sekarang, kami berkumpul semuanya, sepuluh orang. Satu lokal. Firasat apa ini? Tiba-tiba pikiran kami buruk. Jangan-jangan ini pertemuan kami terakhir, di sawah.

Entah siapa yang memulai. Kami kemudian berpelukkan bersama. Saling memagut erat. Setelah itu, kembali kami pendangi sawah. Dan mengulangi kalimat itu lagi, “Kita adalah anak-anak sawah.” Sebagai penyatu, barangkali pengingat jika kami sedang jauh, untuk mempertemukan kami, bila kami benar-benar tidak akan bertemu lagi.

Sore sudah semakin larut. Kami memang harus pulang, dan memalingkan wajah dari sawah. Langkah kaki kami sangat perlahan. Aku tak lagi bertanya.
***
Hari Minggu, kami disibukkan dengan persiapan mengikuti ujian esok hari.. Anto memanjat pohon rambutan. Di sebuah batang yang besar, ia duduk di sana. Lalu membuka buku. Ia mengajakku, tapi aku tak mau. Aku lebih memilih belajar di dalam rumah saja.

Kami memang mesti belajar lebih keras di ujian akhir ini. Agar lulus dan tak ada yang bersedih di waktu kelulusan. Ternyata pejuangan itu berbuah. Di hari kelulusan, kami bergembira. Semuanya lulus dengan nilai yang tinggi.

Sebulan setelah kelulusan itu, kami tak pernah lagi bertemu. Di musim panen ini, biasanya kami bermain layangan. Di sawah, aku mengingat lagi kenangan itu. Sebab, hanya aku yang benar-benar bisa mengingatnya. Aku kini tinggal di sawah. Ibu mengajakku, selama musim panen ini tidak pulang ke rumah. Kami bermalam di sawah. Biasanya, lamanya sebulan. Dede, Salim, dan Saldi telah pergi merantau. Kabar yang kudengar, mereka dibawa oleh kakaknya masing-masing. Yang jelas, tidak lagi di kampung ini.

Aku tak melamar ke SMP. Belum juga terpikirkan untuk merantau. Aku, seorang diri, dan tak lagi melihat teman-teman. Hanya seorang diri. Di sawah ini, aku menatap jauh ke tempat kami biasa bermain. Aku merasakan kehadiran teman-teman. Dan berharap ada yang datang, lalu mengajakku berenang, masuk ke hutan membuat layangan.

Tapi, setiap hari, tak ada yang datang menemuiku di sawah ini. Namun setiap hari pula kurasakan kehadiran mereka, di sawah ini.

Koto Alam, Juli 2009


¹ Sansuduang, dialek Koto Alam yang bearti semacam pondok yang terletak di sawah, biasanya terletak di tengah-tengah sawah.
² Manggoroh, dialek Koto Alam yang bearti musim di mana padi sedang menguning, burung-burung sedang banyak mengincar padi yang menguning itu. Biasanya, di musim ini, butuh penjagaan ekstra menjaga padi, sebab banyak sekali gangguan yang mengancam. Selain burung, juga kadang diganggu oleh babi, ular, dan lainnya.


lukisan: www.art-erica.com/.../20070502232220

Selanjutnya......

Dongeng Bapak Tua

HASIM telah menimbang baik buruk. Keputusannya telah bulat, kali-kalinya cukup: kota asap, 10 tahun dihuninya, akan ditinggalkannya tanpa bekas. Ia memilih hidup tak hiruk pikuk. Tempat yang ditujunya adalah sebuah desa yang padinya masih mau tumbuh, karet yang tak lelah mengeluarkan getah. Itu tempat pertama kali ia diajarkan tentang baik buruk.

Di desa itu ia akan seperti Bapaknya: membawa cangkul pagi hari, menunggu musim durian tiba. Ah, dulu itu masa anak-anaknya. Aroma kuini dan ambacang di depan rumah, telah membayang. Ia akan segera lekas pulang. Istri pun telah setuju.

Ia juga telah berkabar kepada Sutan Mudo, Mamaknya¹. “Pulang saja. Kami akan menyambutmu.” Kata-kata Mamak itu meyakinkannya lagi. Pagi ini, ia telah mengemas semua barang.

Sutan Mudo dan beberapa orang kolega menunggunya di terminal, menyambutnya suka cita. Suasana seperti ini, 10 tahun tak lagi dirasakannya. Bila ia mengenang 10 tahun yang lalu, sekarang ia merasakan niatnya yang salah. Keramahtamahan seperti ini tak pernah didapatkannya di kota asap. Ah, lama ia menatap daun-daun hijau, rerumputan liar. Betapa ia telah merasa asing dengan semua itu.

“Istirahat dulu Sim. Besok kita akan berbicara di BalaiAdat².” Hasim mengangguk. Namun, sampai esok harinya, matanya tak mau terpejam. Ia masih merasa asing dengan tanah kelahirannya sendiri.

Sampai esok paginya, ia dikejutkan dengan suara keras Rino, teman karibnya sewaktu SD. Ia telah mendengar kabar kepulangan Hasim. Mereka bercerita banyak. Hasim begitu semangat melayaninya. Habis empat buah goreng pisang, segelas kopi, tawa mereka tetap saja masih lepas.

Sutan Mudo menyuruhnya datang ke Balai Adat sehabis lohor. Pertemuan empat jam itu menghasilkan sebuah kesepakatan yang pernah dijanjikan Mamaknya dulu: sawah kaum yang akan ia garap. Rasanya, itu telah cukup untuk ia menopang hidup.
***
Keceriaan Hasim berhenti di suatu sore. Tangannya masih memegang cangkul. Sebuah pukulan telak menampar wajahnya. “Tidak usah merantau. Lihat si Hasim.” Banyak yang ia dengar dari tetangganya itu. Namun kalimat itu yang paling menyakitkan. Ingin ia menghampiri Sawitri. Lalu menampar wajahnya. Niat itu urung. Ia masih berpikir panjang melakukannya.

Dari bilik kamarnya yang hanya dibatasi triplek, kembali ia mendengar suara Sawitri. Untung istrinya belum paham apa yang diucapkan Sawitri.

“Aku berjanji tak akan seperti Hasim, Bu,” terdengar suara dari sebelah. Itu suara Dodi, anak Sawitri.

“Kamu anakku satu-satunya. Bantu saja Ibu di sawah. Lihat Hasim. Jauh-jauh merantau, toh akan ke sawah juga.”

Barrrr…menggelegak dadanya. Di keluarga Sawitri, ia menjadi contoh, sayangnya tak baik. Dodi kembali mendebat ibunya. Hasim mendengarkan semuanya. Hingga pukul dua belas dini hari, suara dari sebelah itu tak kunjung hilang. Berkali-kali pula istri Hasim bertanya, apa yang dibicarakan tetangganya itu. Hasim hanya tersenyum, lalu menyuruh istrinya untuk tidur.

Untuk pertama kalinya Hasim mesti merenung akan kepulangannya itu. Paginya ia tak ke sawah. Ia memilih pergi ke kuburan orang tuanya. Kali-kalinya sepertinya tak cukup. Ada satu hal yang tak dipikirkannya ketika kembali ke kampung ini: soal tanggapan.

Ia kembali ingat nasehat orang tuanya, 10 tahun lalu itu. “Jangan kembali sebelum berhasil.” Itu dipegangnya teguh. Selama merantau, memang ia tak pernah pulang. Ketika Sutan Mudo mengabarkan orang tuanya meninggal, ia tetap bersikukuh untuk tak pulang. Janjinya kepada orang tuanya tak akan diingkari. Baginya, pantang pulang sebelum meraih cita-cita.

Cita-citanya hanya satu: ingin merubah hidup. Bisa berkirim uang ke orang tua. Itu pernah dilakukannya ketika masih bujangan. Tiap bulan ia berkirim uang ke kampung. Namun, ketika telah memiliki istri dan dua orang anak, tak sanggup lagi ia berkirim uang. Pun, ketika orang tuanya meninggal, kain kapan pun tak sanggup ia sumbangkan.

Hasim menangis di nisan orang tuanya. Namun, kembali lagi ke kota asap tentu tak mungkin. Ia telah lelah menjadi orang suruhan. Ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Dan itu hanya bisa dilakukan di tempat kelahirannya ini, tidak di kota asap.

Di sinilah ia merasa menjadi seorang manusia. Punya hak dan kewajiban. Tapi orang kampung masih memegang ajaran kolot itu: siapa yang pulang dari rantau adalah orang yang gagal. Telah tertanam dalam benak mereka, pulang itu berarti kalah.

Jauh di lubuk hatinya,Hasim juga membenarkan apa yang diucapkan Sawitri. Di rantau, ia telah kalah. Ia hanya tak bisa membenarkan dijadikan contoh kekalahan. Ia ingin menyusun kembali puing-puing kekalahannya. Telah dimulainya. Itu jauh lebih beharga daripada ia tak punya cita-cita. Di nisan orang tuanya, ia berjanji, seperti 10 tahun yang lalu, untuk tak menyerah.

Dihapusnya semua ingatan tentang ucapan Sawitri. Ia merebahkan badan di sebuah pohon mahoni, tak jauh dari kuburan orang tuanya. Angin sepoi-sepoi. Kicauan burung pipit membuat hatinya sejuk. Ia begitu menikmati aliran air, awan yang berarak, suara hening.

Baru sore ia menganjakkan kaki dari kuburan orang tuanya itu. Namun, kakinya tak dilangkahkan menuju rumah. Ia masih yakin, sore-sore seperti ini, Sawitri akan bergunjing lagi dengan anaknya itu. Atau, ia malah berpikiran buruk, itu sengaja untuk menyakiti hatinya. Ups, ia meralat sendiri apa yang sedang bergejolak di batinnya.

Ia menuju kedai Uwo. Tempat orang muda dan tua berkumpul. Barangkali di kedai Uwo, ia akan menemukan sesuatu yang berbeda.

“Eh…. Hasim. Masuk!”

Ramah ia disambut. Pesan satu gelas kopi, ia membaur dengan Ujang, Anton, Sardi, dan Eko. Cerita bisa kemana saja, tentang sawah, karet, sampai soal istri di ranjang. Sardi jadi bahan olokan. Kalau bercerita soal ranjang, Sardi terlihat diam. Ketakmampuannya menghasilkan satu orang anak pun, menjadi olokan yang disuka.

“Lihat anakku, telah enam. Rencananya mau ditambah lagi,” ujar Eko yang kembali disambut tawa. Sardi makin terpojok.

“Ngomong-ngomong, kamu kenapa pulang Sim?” Selesai mengolok-olok Sardi, Ujang mengalihkan pertanyaan.

“Biasalah. Kalau sudah tak mampu, pasti larinya ke kampung.” Pernyataan Anton disambut lagi dengan tawa.

Hasim masih tenang. Ia tak ingin lagi memikirkan itu. Dijelaskannya sesederhana mungkin. Termasuk kali-kalinya. “Aku memikirkan anakku,” itu alasannya paling logis yang disambut “Ooooo”. Berhasil menguasai suasana, Hasim bercerita panjang lebar.

Jakarta, aku lebih suka menyebutnya kota asap, tidak seperti yang dibayangkan. Kota asap itu tidak indah. Gedung-gedung tinggi itu tidak megah. Nyawa tak berharga. Tetangga tak kenal. Pokoknya, kata Hasim, tak ada yang bisa dibanggakan dari kota itu. Ditambah dengan sedikit bumbu,”Kalian pernah dengar lumpur Lapindo?”. Semuanya mengangguk. “Kalian tahu, 10 tahun lagi, pulau Jawa akan terbenam oleh lumpur itu. Kota itu telah kena kutuk. Semua termangu. Hasim merasa puas.

“Kalau begitu, anakku tak akan kuperbolehkan merantau ke Jakarta.” Eko meresapi benar apa yang dikatakan Hasim. Hasim tak menjawabnya. Tiba-tiba ia merasa bersalah.

Sejenak banyak yang termangu setelah mendengar Hasim berbicara. Mereka sepertinya membenarkan soal kepulangan Hasim. Kemudian tema cerita berpindah lagi ke soal lain. Sampai kedai Uwo tutup, mereka baru berhenti berkelakar. Hasim dan Ujang langsung pulang. Ia tak ikut dengan Anton, Sardi, dan Eko yang katanya memancing ikan sampai pagi.

Dalam perjalanan pulang, Hasim masih berpikir soal ucapannya tadi. Ada sesuatu yang menenangkan dalam jiwanya, sekaligus merasa bersalah. Ia merasa bersalah pada Eko. Ia membayangkan anak Eko yang berumur 17 tahun telah mempersiapkan diri untuk pergi merantau. Karena dalam ajaran yang sudah turun temurun, tak ada gunanya lelaki yang tak pergi merantau. Tinggal di kampung selama hidup adalah kegagalan yang pasti disesali semua orang. Eko pasti akan seperti Sawitri. Melarang niat anaknya. Ia merasa berdosa besar.

Oh, belum lagi pikirannya itu hilang, tiba-tiba ia kembali mendengar suara dari balik triplek. Badan baru akan direbahkan. Suara itu muncul lagi. Seperti kemarin malam juga. Dengan tema yang tak ubah-ubah. Namun, kali ini sepertinya lebih dahsyat. Terdengar oleh Hasim, jika tak diizinkan, Dodi akan pergi merantau tanpa izin. Jelas saja Sawitri mencak-mencak.

“Diaaammmm.” Tiba-tiba suara itu keluar dari mulut Hasim. Istrinya dan anaknya terbangun. Seketika hening, termasuk dari sebelah.
***
Baru akan mengayunkan cangkul di sawah, tiba-tiba datang Sati. Ia berkain sarung saja, sepertinya terburu-buru. Hasim tentu kenal betul dengan Sati. Sati adalah saudara sepupuannya. “Aku ingin bicara,” katanya tanpa basa-basi. Hasim terbengong-bengong. Ada sesuatu hal penting yang akan dibicarakannya.

“Kenapa sawah ini yang kau kerjakan?” Sati langsung pada pokok persoalan.

“Maksudmu?”

“Sebelum kamu pulang, sawah ini saya yang mengerjakannya. Dari hasil sawah ini anak bini saya makan. Kamu sogok berapa Sutan Mudo?”

Lama Hasim termenung. Ia tak mengerti apa yang dimaksudkan Sati. Ia hanya peroleh sawah ini dari Sutan Mudo, Mamaknya yang juga Mamak Sati. Soal dulu, benar-benar ia tak mengerti.

“Aku tak pernah diberi tahu. Sutan Mudo, Mamak kita itu, juga tak memberi tahu.Tiba-tiba aku lihat kamu telah membawa cangkul. Tidakkah terpikir oleh kalian, keluargaku juga butuh makan?”

“Padahal sudah jelas dalam adat, tanah kaum diperuntukkan untuk yang susah. Saya ini orang susah. Hanya mengharapkan makan dari hasil sawah. Anakku lebih banyak dari anakmu. Dengan apa kuberi makan anak-anakku?”

Hasim hanya melongo setiap ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Sati. Ia tak bisa menjawab, apalagi memberikan putusan. “Bagaimana kalau kita selesaikan dengan Mamak saja, Sati?”

Sati menoleh dengan muka tak penuh. “Ha..Menyelesaikan masalah dengan Sutan Mudo? Ya..pasti kamu lah yang menang. Kamu kan dari rantau. Masih punya uang. Aku ini orang miskin. Tak akan pernah menang kalau soal ini.”

Sati berdiri dari duduknya. Ia menoleh tajam kepada Hasim. “Aku tak akan selesaikan masalah ini. Aku tak pernah percaya dengan Sutan Mudo. Kamu belum seumur jagung hidup di desa ini. Belum mengenal Sutan Mudo luar dalam.”

Telunjuknya menghadap ke muka Hasim. “Jika sawah ini kau kerjakan juga, aku akan menebarkan penyakit di padi yang kau tanam.” Ia berlalu sambil mengangkat-ngangkat kain sarung di pematang sawah.

“Kenapa pulang cepat hari ini Mas?” Istrinya menyambut heran setiba di rumah. Hasim tak bercerita. Ia mengganti pakain, lalu terburu-buru menuju rumah Mamaknya, Sutan Mudo. Diceritakan semua yang dialami.

Berubah ekspresi wajah Sutan Mudo mendengar perkataan Hasim. Ia mamburansang. Diambilnya keris di kamar, lalu berlari keluar rumah. “Sati..ke sini. kuhajar kau.” Hasim mengikutinya dari belakang. Berkali-kali ia menahan langkah Mamaknya, tapi tak berhasil.

Sati keluar, masih dengan kain sarung. Sebilah keris juga telah dipegangnya. Tak banyak bicara. Mereka berdua sepertinya telah paham kenapa mereka harus mengayunkan keris.

“Yeaahhh…” Sutan Mudo berusaha mencederai Sati dengan kerisnya. Berkali-kali ia mencoba menusukkan keris ke dada Sati. Tapi Sati sepertinya lincah. Ia selalu berhasil berkelit.

Tak berapa lama kemudian, Sati berhasil menguasai suasana. Hanya dengan beberapa gerakan, Sati berhasil menusukkan keris ke dada Sutan Mudo. Darah segar berhamburan keluar dari dada sang Mamak. Orang-orang terlambat berdatangan. Sutan Mudo tewas ketika itu juga.

Polisi datang membawa Sati. Ia tak meronta.. Hanya pandangannya tajamnya mengarah kepada Hasim. Sutan Mudo dikuburkan hari itu juga, di sebelah makam orang tuanya. Hasim kembali merasa bersalah kepada dirinya. Selesai Mamaknya dikuburkan, orang-orang kembali memandang Hasim dengan pandangan sinis. Ia hanya bisa menunduk. Ia adalah orang yang paling merasa bersalah dengan kejadian ini.

Dari sahabatnya Rino, Hasim tahu, Sutan Mudo dan Sati telah lama bermusuhan. Sejak mendegar kepulangan Hasim, Sutan Mudo seperti mendapat angin untuk mengambil alih sawah yang biasanya dikerjakan Sati. Sebagai seorang petinggi suku, Sutan Mudo memang berhak melakukannya. Di rapat Balai Adat, semua orang setuju, sebab, tanah ulayat memang harus digilir pemakaiannya. Kebetulan Hasim lagi susah, maka dialah yang mengerjakan sawah. Sati disuruh manakiak³ karet, sebab ia punya keahlian juga tentang itu.

Tapi Sati tak setuju. Penghasilan karet tak seberapa. Tak cukup menghidupi anaknya lima orang. Ia tak terima. Tapi rapat hari itu tetap menghasilkan kesimpulan bahwa untuk sawah, yang mengerjakan adalah Hasim. Alasannya, Hasim tak bisa manakiak karet.

“Tapi aku tak mengira kejadiannya sampai seperti ini.” Rino menunduk. Hasim masih menangis. Hasim teringat ketika ia dijemput Mamaknya di terminal.
***
Disusunnya puzzle kehidupan. Ditimbangnya lagi apa yang terjadi. “Istriku..aku telah lelah berpikir. Apa pendapatmu?”

“Saya nurut Mas aja,” ujar istrinya dengan logat Jawa yang kental.

Oh, Hasim menyesal bertanya. Tapi ia tak lagi punya kekuatan untuk menumbuhkan emosi. Beberapa kejadian yang dialami telah cukup memukul perasan.

Gara-gara kepulangannya, Sawitri bertengkar dengan anaknya. Eko mungkin akan seperti itu juga. Mamaknya terbunuh. Semuanya dengan pusat kesalahan yang sama yaitu dirinya. Ya..dirinya. Sampai malam, ia tak beranjak dari tempat duduk semula. Nasi masih terletak di atas meja. Telah dingin.

Esoknya, Hasim pergi ke sawah. Tempat di mana ia pernah berharap untuk memulai kehidupan yang baru. Namun, ia tak menemukan lagi kehidupan di sana. Ia hanya menemukan dirinya yang tak bisa apa-apa. Ia menemukan dirinya yang menimbulkan banyak perkara. Ia tak hanya gagal, tapi juga banyak dosa.

Sawah itu tak lagi dikerjakannya. Untuk kedua kalinya, ia merasakan perasaan menyesal: menyesal telah pulang. Tapi ia tak punya lagi kekuatan untuk melakukan perantauan yang kedua.

Hasim menyesali apa yang terjadi, lima tahun lamanya. Selama itu, ia tak berbuat apa-apa. Di dua tempat yang diyakini akan merubah nasibnya, justru memberikannya cerita yang lain.
***
Sebelum tidur, Hasim tiap malam mendongeng untuk anak-anaknya yang terus tumbuh menjadi remaja. Ia tak mendongengkan seekor kancil yang licik, harimau yang perkasa, dan peri yang baik hati. Ia tak pernah tahu kisah-kisah itu. Ia selalu berdongeng tentang kisah yang tak pernah habis, dengan tokoh utama seorang Bapak tua.

“Bodoh sekali Bapak tua itu. Tinggal di kota kan lebih baik daripada di desa yang sepi seperti ini..” tutur anaknya yang paling tua. Hasim terus bercerita tak lelah.

“Yah, kenapa Bapak tua itu mesti mengibuli orang lain?” Anaknya yang paling kecil telah duduk di atas pahanya. Diusap rambut anak perempuannya itu. Ia minta untuk tidur lagi. “Besok kita lanjutkan ceritanya ya?” Ia merapatkan selimut kepada kedua anaknya. Tapi mereka tak terima. Keduanya merengek. Hasim tak kuasa menolak. Ia kembali duduk di samping anak-anaknya itu.

“Licik ya orang tua itu…kenapa tidak ia saja yang berkelahi?” Hasim menatap anaknya dengan teduh. Ia berusaha kuat untuk tersenyum.

Anak yang paling tua bangun lagi. Entah mengapa, tiba-tiba ia memeluk dirinya dengan erat. Anak keduanya mengikuti. “Yah, kami tidak mau seperti orang tua itu!!!” Sambil menangis, anak-anaknya semakin erat memeluk sang Ayah.

Diselimuti kedua anaknya. Sambil tersenyum ia berucap,”Kalian memang tidak boleh seperti Bapak tua itu. Kalian harus bekerja keras agar bisa merubah diri.”

Kedua anaknya mengangguk setuju. Mereka pun tertidur dengan pulas. Hasim memandangi anaknya yang telah tertidur itu. Ia berhasil menghidupkan Bapak tua dalam ingatan anaknya. Sejak kematian Sutan Mudo, ini keberhasilan yang membuat ia selalu tersenyum keluar dari kamar sang anak….

lukisan: sintang.go.id

Padang, Oktober 2009

¹Mamak : pimpinan suku di Minangkabau.
²Balai Adat : tempat rapat kaum adat. Biasanya membahas masalah-masalah kaum.
³Manakiak : bekerja untuk menghasilkan karet.




Selanjutnya......

Korban

Kita semua adalah korban. Bila dihaluskan, kata ini bisa bermakna dirugikan. Lihatlah, tiap hari, mass media memberitakan: korban bencana, korban politik, dan korban kekuasaan. Setiap hari, semua orang menjadi korban.

Santer terdengar, bulan ini, jeritan korban para caleg. Daftar Penduduk Tetap (DPT) tak jelas dikeluarkan KPU, sehingga suara Golput lebih banyak dari partai pemenang. Seorang anak terpaksa menjadi korban, orang tuanya menyuruhnya turun ke jalan.

Apa yang dirasakan korban? Tersakiti. Dilukai. Merasa tak dihargai. Semuanya adalah aura negatif. Kita yang menjadi korban, antonimnya bisa saja bermakna balas dendam. Anak muda yang ditangkap polisi karena tertangkap menggunakan narkoba, ketika keluar dari penjara, yang pertama dicarinya adalah, pengkhianat (bisa jadi teman sendiri: kibus). Ia akan membalasnya. Bisa jadi ia akan membunuh. Caleg yang merasa dikorbankan oleh pemilih, ia akan menarik kembali ‘hadiah’ yang pernah diberikannya waktu kampanye.

Tak ada orang yang ingin menjadi korban. Dengarlah, ketika setiap hari kita lihat, korban lumpur lapindo menjerit, memperjuangkan haknya yang dirampas. Memperjuangkan itu merupakan bagian dari ketidakinginannya menjadi korban. Bila tetap menjadi korban, kita akan beriak, lalu mengadukan kepada hukum. Di sana, tertulis: korban dan tersangka. Korban adalah objek (protagonis), tersangka subjeknya (antagonis).

Tapi ada pula, korban yang tak merasa menjadi korban. Temuilah anak-anak di jalanan. Tanyakan padanya,”Siapa yang menyuruhmu?” Kalau ia tak jujur (biasanya memang begitu), dijawab, “Tidak ada.” Bagaimana mungkin, keberanian turun ke jalan, didapatkan oleh anak yang berumur 5 tahun, misalnya? Pasti ada seseorang yang telah memberikan keberanian itu kepadanya.

Bila posisi ‘korban’ terus melanda, biasanya, kita yang lemah ini akan menyalahkan Tuhan. “Tuhan tidak adil. Kebenaran tidak tegak.” Orang-orang yang menjadi korban, kecendrungannya adalah menjadi lemah. Suatu kekuatan telah hilang, yaitu kekuatan diri sendiri.

Maka, kita semua adalah korban, karena tidak pernah berdaya melawan hukum yang tidak adil, dan selalu dikorbankan. Anak-anak yang hidup di jalanan, akan selamanya jadi korban, ketika ia menikmati dan tak pernah diberikan peringatan tentang itu. Kita adalah korban yang selalu mempersalahkan orang lain terhadap status ke-korban-an itu.
Enam belas orang kepala sekolah, suatu hari di Komentar Singgalang (24 April 2009), ditangkap karena terbukti membocorkan soal Ujian Nasional (UN). Dengarlah, betapa status korban telah memaksa orang untuk tidak jujur! Orang tua malu, daerah kehilangan muka, ketika siswa mereka tidak mampu memenuhi target. Mereka tidak mau menjadi korban akibat sebuah standar.

Status itu memalukan. Cara, lupakan proses, mutlak dilakukan untuk mencapai standar itu. Kadang kita tak habis pikir, lalu mengutuk, ini tak benar, terlebih dalam dunia pendidikan. Tapi jika ini dipertanyakan, kita akan menemukan jawaban,”Saya tak ingin menjadi korban.”

“Sudah menjadi sifat saya bahwa penderitaan orang lain membuat saya sangat sedih.” Ghandi, barangkali orang yang tak pernah terpikirkan oleh kita, yang mengubah ‘korban’ menjadi sebuah kekuatan. Satyagraha yang dilancarkannya di India dan Afrika Selatan, telah mengubah Negara itu dari dampak ketertindasan, yang akan membuat orang-orang menjadi korban.

Ia rela menjadi korban, bahkan terhadap dirinya sendiri, asal orang-orang setelahnya bebas berpikir, bebas bernafas, dan bebas menentukan pilihan hidupnya. Di sini, kita merasakan, betapa kita belum menjadi korban seperti Ghandi.
Yah, kita adalah korban, tapi bukan untuk menjadi lemah.***

Selanjutnya......

DEMI HAK AZAZI PETANI DAN KEDAULATAN PANGAN

SAGO INDRA

“Siapa yang menguasai benih, akan menguasai pangan. Siapa yang menguasai pangan, tentu akan menguasai dunia!”


Dalam pergerakan Serikat Petani Indonesia (SPI), nama Eka kurniawan Sago Indra (rekan di pergerakan menyebutnya Sago Indra), bukanlah orang kemarin siang. Sago duduk dalam Dewan Pimpinan Pusat SPI. Berbicara dengannya tidak hanya terbatas pada persoalan petani seperti yang kita bayangkan, sebatas mahalnya pupuk atau sulitnya bibit. Namun berbagai persoalan pelik petani tandas dalam pembahasan sampai ke urat-uratnya. Dengan telaten dan detil, ia merinci setiap hal yang ditanyakan sembari menuliskannya di whiteboard, di sekretariat Serikat Petani Indonesia, di Jl Mutiara No 12 Tunggulhitam, Padang. Ternyata, dari uraiannya, ia adalah petani intelek, yang bersama rekan-rekannya, betul-betul berpikir dan berjuang untuk martabat hidup petani.


Kondisi dan kebijakan pertanian
Miskin, tidak punya tanah atau lahannya sempit, ketergantungan bibit, pupuk, pestisida, kurangnya modal usaha, tiada akses informasi dan pendidikan, tidak mempunyai posisi tawar di bidang pemasaran, dan politik, tidak adanya kelompok atau organisasi tani yang kuat dan mandiri, individualis, serta politisasi organisasi tani dan berbagai stigma atas organisasi tani, membuat kondisi petani semakin pelik. Hal inilah, antara lain, yang membuat Sago tidak bisa berpangku tangan.

“Ini sesuatu yang acap luput dari pembicaraan, dan pembahasan, baik oleh pemerintah maupun oleh partai politik, serta masyarakat,” kata Sago. Padahal, katanya, negara kita negara agraris. Tapi, kenapa petani terabaikan dan dimarjinalkan dari segala sisi. Di Sumatera Barat, kata Sago, kemiskinan mencapai 27% dari jumlah penduduknya. Lebih dari 65% penduduk miskin di Sumatera Barat adalah petani. Dengan rata-rata kepemilikan tanah, seperti yang pernah disebut Gamawan Fauzi sewaktu jadi gubernur, 0,4 Ha.

“Pangkal persoalannya adalah kebijakan pemerintah,” tukas Sago, menjawab petani selalu dalam posisi miskin dan terabaikan? Diterangkan laki-laki yang telah memilih hidup menjadi petani dan melindungi hak-hak petani melalui organisasi pergerakannya, SPI, ini bisa dilihat sejak dilaksanakannya Revolusi Hijau. Revolusi hijau dimulai tahun 1970-an. Di Sumatera Barat dimulai 1975-1976. Dalam revolusi hijau itu pemakaian pupuk dan pestisida dipaksakan kepada petani, bahkan militer ikut memaksakan pemakaiannya. Revolusi hijau berdampak pada kerusakan struktur hara tanah. Pemakaian pestisida merusak ekosistem di tanah dan ekosistem musuh alami tanaman serta rantai makanan. Juga menghilangkan kekayaan bibit lokal, dan kebijakan lainnya yang mengakibatkan petani ketergantungan dari segala sektor. “Kebijakan ini membuat mainstream petani ketika akan memulai bertani, adalah modal yang cukup besar,” kata Sago.

Kedaulatan Pangan
Ternyata, tanpa disadari kita tidak berdaulat dengan pangan. Kita cendrung memilih makanan ekspor dan instan ketimbang dari hasil kebun sendiri, dalam artian produk lokal. Makan buah saja umpamanya. Kalau kita ke pasar dan membeli buah, jarang kita temui buah lokal. Yang banyak hanya buah impor. Masyarakat lebih suka dengan buah impor, makanan kaleng, instan. “Kondisi ini mengakibatkan hasil tani atau buah lokal kita tak punya harga dibanding buah impor. Contoh apel impor saja di kaki lima sekarang minimal Rp 2.500 perbuah atau perkilo mencapai Rp10 ribu – Rp15 ribu. Begitu juga anggur, pir, jeruk, dan sebagainya, yang lebih murah dibandingkan dengan harga pisang, rambutan, ambacang, pauah, piraweh atau jambu yang sudah tidak tren lagi di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, buah organik hanya bisa bertahan selama tiga hari sementara buah impor masih segar selama dua minggu bahkan lebih,” terang Sago prihatin. Artinya, tentu ada yang perlu diherankan, kok buah bisa tetap terlihat segar setelah lebih tiga hari. Dulu, tomat dua hari saja sudah busuk.

“Kehidupan Minangkabau yang sudah bergeser dari sosialis religius menjadi kapitalis individualis hampir menjadi budaya sehari-hari. Hal ini bisa terlihat dari yang ada di perkotaan, mulai berjalan sampai ke pelosok nagari-nagari yang berada di Minangkabau. Dipicu semenjak revolusi hijau dan ekonomi liberal yang mulai diperkenalkan ke Minangkabau dan Indonesia umumnya. Masalah ekonomi saat ini di nagari-nagari di Sumbar nyaris 100% di kuasai sistem ekonomi neoliberal secara sadar atau tidak.

Dimana kita ketahui dan yakini bersama bahwa simbol kedaulatan pangan yang berfungsi sosial religius adalah pada rangkiang. Saat ini tidak ada lagi rangkiang yang menjalankan fungsi sebagai lambang adanya budaya Minang yang terlepas dari kelaparan dan berdaulatnya anak nagari atas pertanian, secara pasti juga mengurangi nilai-nilai sosial religius yang kita maksud,” terang Sago lebih lanjut.

Dalam pemahamannya, konsep perumahan rumah tangga petani ideal itu seperti yang pernah dilakukan nenek moyang kita dulunya. Di sekitar rumah orang Minang, sebagaimana rumah gadang, ada lahan untuk kolam ikan, tanaman buah dan obat, serta sayuran. Kemudian ada rangkiang tempat menyimpan hasil pangan termasuk padi abuan, atau benih untuk musim tanam berikutnya. Sehingga kelestarian bibit dapat terjaga. “Dengan konsep ini, kedaulatan pangan akan terjaga. Sebab tiap orang makan dari hasil produksinya sendiri, yang lebih organik. Bukan dari produk impor, yang memiskinkan petani lokal.”

Kedaulatan pangan, terang Sago, pada dasarnya mengutamakan produksi pertanian lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap orang, rumah tangga, masyarakat dan bangsa, dengan menjamin akses petani atas tanah, air, benih, teknologi dan kredit. Kedaulatan pangan adalah dasar bagi kedaulatan bangsa yang mencakup land reform agar petani dapat bertani di tanahnya sendiri, menolak GMO (Genetically Modified Organism) karena benih seharusnya dapat diakses oleh semua orang, memelihara kelestarian sumber air agar dapat digunakan oleh setiap orang sesuai dengan tingkat kebutuhannya, dan mengatur tata niaga pertanian agar adil bagi semua.

Hak Azasi Petani
Mengingat sejarah, Sago menjelaskan, petani kehilangan hak-hak azazinya sejak adanya agenda Revolusi Hijau pada tahun 1970-an. Petani dikenalkan dengan pemakaian pestisida, pupuk dan pertanian monokultur. Akibatnya, petani kehilangan akar sosial budayanya sendiri dan lebih mengedepankan nilai ekonomi semu. Budaya gotong royong dengan sifat komunal, telah berubah menjadi sifat individualis.

Kebijakan pertanian yang berorientasi ekspor, bagi Sago telah membuat petani kehilangan lahan pertanian pangan. Tanah-tanah petani mulai dirampas dan dipaksa untuk penanaman karet, sawit, dan tanaman perkebunan lainnya.

Tanaman orientasi ekspor ini didengungkan untuk peningkatan kesejahteraan petani. Tetapi sebenarnya justru menjebak petani, karena harga produksi ada di tangan pemodal (investor dan eksportir). Mereka selalu memainkan harga produk tersebut. Apalagi kebijakan ini 'dipaksakan' dan didukung Bank Dunia, IMF serta ADB.

”Melalui Stuktural Adjusment Program (SAP), Bank Dunia, IMF dan ADB memaksa pemerintah kita untuk mengarahkan kebijakan-kebijakan yang tidak melindungi rakyat, atau lebih berpihak kepada pengusaha besar. Kebijakan tersebut dimulai dari kebijakan revolusi hijau sampai kebijakan organisasi perdagangan dunia (WTO), privatisasi, dan pasar bebas,” ungkap Sago.

Keikutsertaan Indonesia ke dalam WTO sejak 1994, mengakibatkan pembangunan perkebunan, konversi lahan, pembangunan waduk besar, begitu leluasa di negeri ini. Tanah-tanah milik petani diambil paksa, sehingga mereka mulai kehilangan sumber-sumber agrarianya, yang berujung pada konflik agraria.

Kebijakan impor bahan pangan di Indonesia, seperti beras, gula, dan buah-buahan, telah menurunkan harga produk pertanian. “Nah, ini pada akhirnya membuat petani kita tidak dapat bersaing, dan menurunkan nilai tukar petani,” jelas Sago.

Di samping kebijakan pasar bebas yang membuat petani tidak berdaya, Sago juga mengingatkan, saat ini WTO lebih leluasa 'menghabisi' kedaulatan petani kita, dengan melahirkan benih rekayasa genetika dan bibit-bibit hibrida yang dikembangkan industri besar. Sehingga kita harus kehilangan bibit dan benih lokal, serta mengalami kehancuran tatanan pertanian tradisonal yang beralih menjadi agribisnis (pertanian bisnis) tanpa ada pertimbangan terhadap kesuburan tanah, kesehatan, dan keseimbangan alam.

Hal itu diperparah dengan keluarnya UU No.7/2004 tentang Sumber Daya Air. Meski UU tersebut baru sebatas mem-privatisasi air minum, namun tidak tertutup kemungkinan privatisasi sumber-sumber air untuk keperluan pertanian. Hal ini bisa dilihat melalui pendekatan Petani Pemakai dan Pengelola (P3A) yang mulai “membudayakan” iuran untuk lahan pertanian yang setara nantinya dengan pajak.

”Sebagai jawaban dari deretan kasus-kasus tersebut. Maka sangat dibutuhkan pengakuan hak azazi petani, yang intinya memberi perlindungan atas hak-hak ekonomi, politik, sosial dan budaya,” tambah Sago.

Hak petani, menurut Sago, yaitu bagaimana faktor-faktor pendukungnya terpenuhi. Alat produksi, awalnya. Petani mesti memiliki tanah untuk bercocok tanam. Sarana produksinya mesti dilengkapi, yaitu pupuk, bibit, dan semacamnya. Pasca produksi, mesti ada jaminan produksi. Apakah dengan penyedian sebuah alat yang mengolah hasil pertanian. Semisal, tersedianya alat untuk membuat keripik dari pisang. Pemerintah harus menjamin pasar agar harga tak menindas petani. Di sini, Negara berperan untuk melindungi petani agar tak menjadi korban kepentingan.

Soal sarana produksi, ‘permainan’ konglomerat lebih terlihat daripada membantu petani. Bibit-bibit untuk petani banyak yang didatangkan dari luar: dupong (bibit jagung dari Perancis), Monsanto (produksi pertisida dari Swis dan Amerika), dan Bast (produksi pupuk dari Jerman). Dalam analisis Sago Indra, bibit yang didatangkan dari luar itu, bea cukainya masuk ke dalam kas Negara. Pemerintah tak mencoba membuat sarana produksi sendiri.

Apalagi soal pasca produksi. Petani konvensional, hanya tahu satu cara yang dapat dilakukan pasca produksi, yaitu bagaimana menjualnya kemudian menghasilkan untung. Jarang yang berpikir bagaimana memanfaatkan hasil pertanian dengan misal, pisang dibuat menjadi kripik.

Sampai sekarang, tak ada jaminan pasar terhadap petani. Harga bisa dengan mudah naiknya. Sebaliknya, sangat cepat pula turunnya. Ini memberikan ketidakpastian kepada petani. Petani tak mendapatkan satu pun haknya.

”Dengan adanya hak-hak itu, petani akan bebas menentukan jenis dan varietas tanaman baik secara ekonomi, ekologi yang sangat sesuai dengan alam, berdasarkan budaya/kearifan lokal petani. Mereka juga berhak untuk menolak segala jenis tanaman pangan, obat-obatan, dan melestarikan nutfah,” lanjutnya.

Begitu pula dengan informasi, petani akan memperoleh keterangan yang benar dan seimbang tentang modal, pasar, kebijakan, harga, serta teknologi yang berhubungan dengan kepentingan pertanian.

”Kemudian dengan adanya hak-hak tersebut, para petani sanggup menata serta mempertahankan kelestarian lingkungan, kearifan lokal, dan menolak segala bentuk eksploitasi sumber-sumber agraria yang berdampak pada pengrusakkan lingkungan.”

Untuk mendapat pengakuan atas haknya ini tak jarang petani mengalami pelanggaran-pelanggaran. Tidak hanya di Indonesia. Di Negara-negara lain juga demikian. Sago yang hadir sebagai salah satu peserta dalam Sidang komisi Hak Azazi Manusia yang digelar Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss, tanggal 22 Maret sampai 22 April 2005, mengatakan ribuan pelanggaran HAM terjadi setiap tahunnya, termasuk pelanggaran HAM petani. “Petani tidak hanya dikondisikan untuk tetap miskin-raya. Tapi mereka dizalimi dengan kekerasan, bahkan sampai kematian.” Di Indonesia banyak kasus pelanggaran HAM petani yang belum terselesaikan. Seperti, konflik tanah antara masyarakat Silau Jawa, Asahan Sumatera Utara dengan PTPN IV. Masyarakat tidak hanya kehilangan pekerjaan untuk melangsungkan kehidupan, melainkan juga kehilangan tanah lantaran diklaim PTPN IV sebagai miliknya.

Di Sumbar juga demikian, sengketa pembangunan waduk PLTA Koto Panjang, Pangkalan, Sumatera Barat, yang masih banyak meninggalkan persoalan-persoalan bagi masyarakat. Serta sengketa perkebunan kelapa sawit di atas tanah ulayat masyarakat adat dan lahan pertanian petani (anak nagari) di kabupaten Agam dan Pasaman.

Reforma Agraria
Lantas, bagaimana persoalan petani ini, bisa terselesaikan? Sago menegaskan, bahwa, “Reforma Agraria (RA) harus dilaksanakan secara total. Sebab, lebih dari 2500 tahun, gagasan tentang pembaruan agraria intinya tetap sama, yaitu, penataan-ulang struktur pemilikan dan penguasaan sumber agraria demi kesejahteraan masyarakat, khususnya rakyat kecil, petani dan buruh tani.”

Dalam kasus sejarah Reforma Agraria di Indonesia yang demikian kompleks dan khas, dengan susah payah dan terseok-seok akhirnya melahirkan UUPA 1960 sebagai payung hukum atas kekayaan sumber-sumber agraria nasional. Undang-undang inipun tak luput dari pemandulan, pembelokan, pembiasan, dan stigmatisasi. Sehingga, subtansi dasar dari UUPA 1960 yang berazaskan keadilan sosial demi seluas-luasnya kepentingan rakyat (UUD 1945 pasal 33) tidak berfungsi.

”Para petani harus mendapatkan pengakuan, kemudian dilanjutkan dengan perlindungan untuk mewujudkan organisasi petani yang independen. Serta ruang dan fasilitas publik untuk mengutarakan pendapatnya baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Nah, pertanyaan yang muncul sekarang akankah hak-hak azazi, kedaulatan, serta reforma agraria yang harus dipenuhi dan diakui itu terwujud? Atau sebaliknya, kedaulatan pangan kita tetap diatur para kapitalis?” (Yusrizal KW/Gusriyono/Andika D. Khagen)

Selanjutnya......

EKI, Mengumpulkan Kekayaan Bahasa

Judul buku : Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia
Penyusun : Dewan Redaksi Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia
Pemimpin Redaksi : Hasanudin WS, Prof. Dr., M.Hum.
Penerbit : Angkasa Bandung
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 1.370 halaman

DIBANDINGKAN penerbitan novel, ensiklopedi terbilang jarang diterbitkan di Indonesia. Semua yang terjadi seperti berlalu begitu saja, tanpa ada yang mencatatnya. Ensiklopedi sebenarnya berfungsi untuk mencatat setiap perkembangan tersebut, dalam segala bidang.

Di bidang kebahasaan, pun seperti itu. Ketika Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia (EKI) diperkenalkan di Inna Muara, Juni lalu, ditegaskan bahwa ini adalah ensiklopedi bidang kebahasaan yang pertama kali hadir. Padahal, permasalahan kebahasaan di Negara kita, terus mengalami rintangan. Sejak pertama kali bahasa Indonesia dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928 lalu, bahasa Indonesia terus mencari jati dirinya. Namun, semakin dicari, semakin banyak saja aral dan rintangan yang menghadang.

Sebut saja media cetak, televisi, atau radio yang berbahasa seenak gue. Cita-cita luhur bahasa, budaya yang dibawanya, seperti tertimbun arus modernitas. Kekuatiran kita, selain masalah perpecahan bangsa, juga masalah bahasa.

Pakar Kebahasaan, Dendy Sugono mengatakan, dalam hubungan dengan kehidupan masyarakat, bahasa Indonesia telah terjadi berbagai perubahan, terutama yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, khususnya teknologi informasi. Kondisi ini telah menempatkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, pada posisi strategis yang memungkinkan bahasa itu memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa dan mempengaruhi pekembangan bahasa Indonesia. Gejala munculnya penggunaan bahasa asing di pertemuan-pertemuan resmi dan di media-media (elektronik atau cetak) di tempat-tempat umum menunjukkan perubahan perilaku masyarakat tersebut.

Acara-acara di televisi, walaupun isinya berbahasa Indonesia, tapi kebanyakan judulnya berbahasa asing. Hal ini menyiratkan ketidakpercayaan diri terhadap bahasa Indonesia. Selain itu, nama-nama tempat umum seperti mal, rumah sakit, dan gedung-gedung bertingkat juga lebih banyak menggunakan bahasa asing seperti penggunaan kata square, trade centre, atau residence. Ada anggapan kalau menggunakan bahasa asing dapat lebih menunjukkan gengsi daripada berbahasa Indonesia. Bahkan ada pula yang mengatakan, dengan bahasa asing maka akan memperlihatkan kecendikiaan seseorang.
Selain bahasa asing, penggunaan bahasa daerah khususnya bahasa Melayu Jakarta dan bahasa ‘gaul’ telah mewarnai penggunaan bahasa Indonesia lisan. Bahkan, bahasa iklan sangat diwarnai oleh penggunaan bahasa daerah tersebut. Sebut saja radio sebagai media elektronik yang banyak mengandalkan lisan dalam interaksinya, turut menyumbangkan perilaku berbahasa yang salah. Terutama radio yang sasarannya khusus untuk kaum muda yang memang banyak diminati.

Ya, tiap detik dengan mudah kita mendengarkan bahasa buruk. Gue banget, thank you banget, ya!, eh, jangan ngomongin aib pacarnya dia, dan sebagainya. Semakin lama, semakin banyak orang yang berbahasa Indonesia seenaknya, tidak mengindahkan norma atau aturan berbahasa yang berlaku resmi.

Bila dibentang lagi, permasalahan bahasa ini sepertinya tak terputus. Saya kira, permasalahan bahasa kita, selain masalah bahasa itu sendiri, juga masalah penuturnya seperti yang diuraikan di atas.

Namun, apakah kita tinggal diam dengan kondisi yang seperti ini? Setidaknya, kita masih punya ‘hutang’ untuk mempertahankan bahasa Indonesia sebagai amanat tahun 1928 lalu, yang telah menyatukan Indonesia melalui bahasa.

EKI yang disusun oleh Hasanuddin WS dibantu beberapa orang penyelia, saya kira adalah menyusun kembali kekayaan bahasa, tidak hanya di Indonesia, lebih luas bersifat global. Ia berbicara tentang persoalan bahasa dalam ruang lingkup yang lebih global dan majemuk. Lihat saja, tata bahasa dalam bahasa Inggris mendapat tempat dalam EKI. Berbagai macam aksara seperti aksara rencong, aksara pegon, atau aksara Jawa. Aksara ini bersanding dengan aksara yang lahir di luar negeri seperti aksara Han’gul dari Korea Selatan, aksara Brahmi dari India Kuno, termasuk juga aksara arab.

Entri yang terhimpun dan dijelaskan secara keseluruhan berkaitan dengan masalah kebahasaan bahasa Indonesia yang dapat dikategorikan pada tiga kelompok yaitu: istilah kebahasaan, tokoh ahli bahasa, dan karya kebahasaan. Untuk penyusunan, entri-entri dalam EKI disusun berdasarkan urutan abjad, entri demi entri, dan buku demi buku. Panjang dan pendeknya entri tidak sama untuk setiap entri. Entri yang memerlukan penjelasan lebih rinci mendapat perhatian yang lebih khusus untuk diuraikan. Istilah entri sendiri dimaksudkan topik atau judul atau hal yang dijelaskan dan diuraikan dalam ensiklopedi.

Dengan kehadiran EKI di tengah masyarakat yang ‘tidak peduli’ dengan bahasa, barangkali demikian tantangannya ke depan. Tapi setidaknya, EKI akan mencari tempatnya tersendiri untuk dimanfaatkan.

Tapi, bahasa sebagaimana dunia ini, terus mengalami perubahan. Dalam waktu yang sangat cepat, dalam bidang bahasa, pun akan mengalaminya. Artinya, dua atau tiga tahun mendatang, akan banyak istilah-istilah ataupun tokoh-tokoh kebahasaan yang hadir, lahir, terus berkembang. Istilah lama barangkali tidak lagi dipergunakan pemakainya. Namun, seperti kamus, kehadiran EKI akan mencatat dengan jelas setiap kelahiran tersebut. Ia akan menjadi semacam dokumentasi yang tidak dibawa oleh arus perubahan. EKI akan turut serta mengikuti perubahan itu sendiri, dalam edisi revisinya.

Harapan yang jelas adalah, bagaimana EKI bisa memberikan pengetahuan kepada semua orang—tidak hanya para linguis—untuk diambil saripatinya.

Selanjutnya......