Berjalan Kaki Taklukkan Sumatera

Novel (2 dari kiri)

TELAH 120 hari, 2880 jam, melewati 4 provinsi, kini ia singgah di Sumatera Barat, sebuah provinsi yang memang dalam tujuannya. “Perjuangan menembus batas,” begitu ia menyebut.

Adalah Ahmad Novel Alatas (30) yang melakukannya. Pria yang tinggal di Kramat, Sentiong, Jakarta Pusat ini memulai perjalannya dari Jakarta menuju Banten-Lampung-Palembang-Jambi-Padang-Medan, dan berakhir di Aceh. Tak memanfaatkan jasa angkutan apapun. Ia melakukan dengan kakinya sendiri!

Berbekal seadanya, makan nasi kecap sekali sehari, pria keturuan Arab-Sunda ini, memulai perjalanannya dari Jakarta. Maka, 15 Desember 2008 lalu, ia berangkat dari rumah. Kepada orang tuanya dibilang, akan pergi mendaki gunung. Ia berbohong. Tapi orang tuanya paham, ia memang suka mendaki. Yang tidak diketahui orang tuanya adalah, ia berjalan kaki keliling Sumatera.

Novel bukan mahasiswa pecinta alam, ia adalah seorang yang tidak menamatkan bangku pendidikan SMA, kemudian tertarik mencari pengalaman dengan melihat alam. “Di dalam hidup, kita harus berjuang. Menembus batas-batas dalam kemampuan kita,” ujarnya berfilosofi. Perjuangan menembus batas, sekarang dilakukannya dengan jalan kaki.
Bungsu 4 bersaudara ini, bukan pertama kali melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Selama 6 bulan, ia melangkahkan kakinya dari Jakarta menuju Bali, setahun yang lalu. Barangkali, tak bisa membayangkan, pria bertubuh kecil, rambut panjang keriting, mampu melakukan perjalanan sejauh itu. Tapi hatinya sudah bertekad, ia akan menembus batas itu!!!

Tak seperti Backpaking, ia tak mencari apa-apa dalam perjalannya. Ia hanya ingin terus berjalan, berjalan, sejauh yang ada dalam pikirannya. Dalam setiap perjalanan itu, ia melihat, kemudian dicatatnya dalam buku kecil. Dalam setiap perjalanan, ia melihat, kemudian merasakan, bagaimana manusia itu beragam dalam ciptaannya.

Dianggap Gila, Dibuntuti Perampok
“Memori saya sudah berkurang. Kejadian hari ini saja saya sudah banyak yang lupa,” ujar Novel. Tapi ternyata ia masih ingat apa yang dialaminya di Jambi. Seperti kebiasaannya, ketika memasuki suatu daerah, ia pergi mencari gubuk petani untuk menginap. Daerah-daerah yang dilalui sebelumnya, tidak ada hambatan.

Matanya sudah sangat mengantuk waktu itu. Tenaganya sudah hampir habis. Ia ingin mencari pondok petani untuk bisa merebahkan badan. Seperti kebiasaannya juga, ia minta izin kepada penduduk setempat. Pemuda tempat dia meminta izin memandang curiga. “Lapor dulu kepada kepala dusun,” tutur pemuda tersebut.

Jarak dari tempat pemuda itu ke rumah kepala dusun sekitar 3 kilometer. Ia tak sanggup sejauh itu berjalan. Ia meyakinkan pemuda itu, tak sanggup lagi berjalan. Hanya untuk menumpang tidur semalam saja. Esok ia akan langsung pergi. Pemuda itu tetap tak mengizinkan dan menawarkan akan mengantarnya naik sepeda motor ke tempat kepala dusun. Ia tak punya pilihan.

Belum selesai. Di Jambi, sedang berganti kepemimpinan. Kepala Dusun menyuruhnya melapor ke ketua RT. Jaraknya dari sana 3 kilo lagi. Untunglah, di saat keputusasaannya, pemuda yang mengantarkannya itu kemudian berbaik hati. Ia tak jadi mengantarkan Novel ke ketua RT. Pemuda itu menawarkan menginap di sawahnya saja. Jadilah, malam itu ia menginap di dangau pemuda tersebut.

Sederet pengalaman itu, laiknya hidup di jalanan, bagi Novel adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga. Ia menyadari betul, di tempat mana ia singgah, bahaya bisa saja mengancamnya. Bisa pula, banyak kebaikan yang mengahampirinya.
Di Lampung, ia diikuti oleh sekelompok orang yang mencurigakan. Ia tahu dari gelagat orang itu, yang sepertinya tidak bermaksud baik. Ia dihampiri dan diintimidasi. Nasib baik. Tak terjadi apa-apa. Sekelompok orang itu mungkin tak menemukan benda berharga yang dibawa.

Hampir di setiap perjalanan, ia disangka gila oleh penduduk yang kebetulan melihatnya. Celananya yang sudah robek, rambut panjangnya yang keriting, dan penampilan semrawutan, membuat orang berpikir, ia bukan orang yang sehat. Tapi itu tak terlalu dipikirkannya, karena apa yang ia cari, hanya dia sendiri yang tahu dan merasakannya. Kenikmatan dan pilihan hidupnya, ia sendiri yang menentukan.
Sampai, Novel pernah putus asa. Sepertinya, ia tak sanggup lagi melanjutkan perjalanannya. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasakan lelah, suatu hal yang sudah dibunuhnya.

Orang-orang baik yang ditemuinya, memberinya semangat. “Teruslah berjalan,” katanya menirukan ucapan orang tersebut. Semangatnya kembali di sela-sela keputusasaan itu. Ia harus mencapai tujuan semula: mengelilingi Sumatera dan berakhir di Aceh.

Insting lebih Kuat

Banyak hal yang telah dilaluinya selama perjalanan. Kata Novel, setiap daerah yang telah dilalui itu, selain ancaman bahaya dan kebaikan manusia, ia melihat panorama alam Sumatera yang tidak ditemuinya di tempat kelahirannya. Hingga ia memberikan sendiri ‘gelar’ untuk mengingat daerah yang dilaluinya tersebut.

Banten diberinya nama 1001 kawasan industri. Dilihatnya, Banten banyak sekali industri yang berdiri megah seperti industri tekstil dan semen. Di Lampung, ia berkesan, daerah itu seperti karang. Ketika turun dari kapal di Bakauni, langsung disambut monumen yang berbentuk karang. Ia menyebutnya 1001 karang. Penglihatannya di Palembang, daerah itu belum banyak terjamah industri modern, sehingga daerah itu dipenuhi oleh rawa-rawa. Dalam buku catatannya ditulis, Palembang daerah 1001 rawa. Di setiap jalan, dan di mana ia singgah bila lelah, ditemuinya masjid di Jambi. Novel menyebut 1001 masjid. Memasuki Sumbar dari Solok, ia bertemu banyak sekali danau dan keindahan alam yang terjaga dengan alami. Kepada Padang Ekspres,
disebutnya, ini daerah dengan 1001 danau.

Hanya berbekal peta mudik yang pernah diterbitkan media waktu lebaran lalu, itulah petunjuk Novel mengelilingi Sumatera. Namun, ia menyadari sendiri keterbatasannya sebagai manusia. Itulah pelajaran yang dianggapnya sangat bernilai. Target Novel, ia sudah sampai di Aceh 15 April ini. Lalu kembali ke Jakarta. Ternyata itu tidak terwujud. Ia baru sampai di Padang. “Keterbatasan saya sebagai manusia, hanya bisa berniat,” tutur Novel. Ia tak mempersalahkan itu.

Selama berjalan, Novel mendapatkan sebuah kemampuan yang dianggapnya luar biasa. Ia merasa memiliki insting yang kuat. Mungkin, kata Novel, selama perjalanan, ia telah terlatih sendiri untuk itu.

Begitupun, ketika ia memasuki Sumbar dari Solok. Ia disambut hujan yang sangat lebat. Ia kemudian mencari tempat berlindung. Sebentar hujan berhenti, 15 menit kemudian, hujan turun lagi. Kejadian tersebut berlangsung selama 3 kali. Firasatnya mengatakan, “Daerah ini sepertinya akan ditimpa bencana.” Sampai di Padang, ia mendengar dari penduduk, telah terjadi Bencana di daerah Batusangkar. Firasatnya ternyata benar. “Bencana itu memang tidak bisa dicegah dan diketahui. Tapi bisa dirasakan,” tutur Novel tentang firasatnya itu.

Perjalanannya baru setengah. Di Padang, daerah yang sangat dikaguminya karena keindahan alam yang sangat alami, ia berniat terus melanjutkan perjalannya menuju Sumatera Utara dan Aceh. “Saya akan terus berjalan,” tutupnya.

1 comments:

Anonymous said...

luar biasa? sebuah perjalanan yang tidak biasa. tapi, aku mungkin tak akan seberani dia..!!!!

Post a Comment