Surat dari Israil
SEPUCUK surat terletak di pintu kamarku pagi ini ketika bangun tidur. Sebuah amplop putih yang tidak dilem. Tanpa alamat dan kop surat. Dari: Israil. Tulisan itu memenuhi seluruh amplop putih. Kukeluarkan surat itu dari sarangnya. Di dalam amplop kulihat pula sebuah tulisan yang tidak terlalu panjang. Tampaknya dibuat tergesa-gesa.
“Waktumu tinggal 24 jam setelah membaca surat ini.”
Mataku masih belum nyalang dengan benar. Sesekali aku menguap menandakan kantuk masih bersemayam di tubuh. Namun—setelah membaca surat itu—badanku jadi begitu segar. Kuapan telah hilang dengan sempurnanya.
Kucermati satu persatu kata dalam surat itu. “Duapuluh empat jam? Sama artinya umurku tinggal satu hari lagi.”
Dinginnya suasana pagi tidak terlalu kupedulikan. Surat ini menjadi sebuah ancaman. Kukedipkan kedua mata, salah satu anggota tubuh harus rela pula kucubit. Ternyata terasa sakitnya, dan sebuah pertanda bahwa aku memang tidak sedang bermimpi.
Kucermati lagi nama pengirimnya. Israil. Israil yang mana? Kuingat lagi nama teman-teman. Mulai dari teman TK sampai perguruan tinggi. Tidak ada yang bernama Israil. Yang ada Isron, teman selokal waktu SD. Apakah mungkin dia yang mengirim? Tapi setamat dari SD, kami tidak pernah bertemu lagi. Dia melanjutkan pendidikan ke Mataram, tempat ibunya bekerja.
“Tidak mungkin Isron,” batinku.
“Dari mana dia tahu alamatku?”
Ingatanku kembali ke masa lampau. Mencari-cari di dalam memori apakah ada yang bernama Israil.
“Jangan-jangan Isram, teman sewaktu SMA. Ia terkenal paling bandel. Tapi, dia sekarang kuliah di Jakarta . Tidak mungkin pula tahu alamatku. Lagi pula, aku tidak terlalu dekat dengannya. Bermusuhan pun tidak. Jadi, untuk apa dia mengirim surat ini?”
“Lalu, siapa Israil?” Kembali pertanyaan itu menghantuiku
Memori otak kembali berputar mencari manusia yang diberi nama Israil. Tapi tidak jua ada yang memunyai nama itu. Hanya mendekati, dan jelas tidak sama. Apakah benar ada manusia yang bernama Israil? Lalu, siapa yang mengirim surat bernada ancaman ini? Atau teroris yang memang sedang berkeliaran di negara ini?
Atau…
“Ah…ini pasti perbuatan Budi, kakakku yang suka iseng.”
“Siapa lagi kalau bukan dia yang masuk ke kamarku,” ujarku lirih.
Sebuah titik cerah kutemukan, walau belum terlalu menentramkan. Kakakku Budi memang suka iseng. Dari kecil, dia memang suka sekali iseng terhadapku.
Tak terlalu kupedulikan surat itu. Kuambil handuk di lemari, terus pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badan. Udara pagi yang sejuk sedikit menghilangkan pikiranku tentang surat tadi. Ketika berangkat ke kampus pun, aku tidak memberi tahu Ibu atau menanyakan kakak yang suka iseng itu.
“Awas kamu ya, nanti pasti kubalas.”
***
Sore ini, aku agak telat pulang dari kampus. Pulang kuliah, badanku sedikit lelah. Pelajaran yang kudapat dari dosen, hari ini sungguh mengesalkan. Belum lagi tugas yang menumpuk.
Di rumah, aku langsung menuju kamar. Tidak kulihat ibu. Mungkin ibu sedang pergi ke pasar. Kamarku terletak di lantai dua. Biasanya, ibu menyambutku setiap pulang kuliah dan menyajikan hidangan makanan di meja makan. Kadang aku disuapi ibu, sambil bertanya tentang pelajaran di kampus. Maklum, kami cuma dua bersaudara. Itu pun laki-laki keduanya, sehingga ibu sangat menyayangi kami berdua.
Pintu kamar kubuka. Kulempar tas ke atas dipan. Ketika akan membuka baju, kudapati lagi sepucuk surat .
Dari: Israil
Aku terkejut. Sama seperti surat tadi pagi, pengirimnya tidak mencantumkan alamat. Anehnya, nama pengirim sama: Israil. Surat itu benar-benar hendak mencabut nyawaku hari ini.
“Waktumu tinggal 15 jam dari sekarang.”
Cuma kalimat itu yang ditulis. Kuambil surat yang tadi pagi. Tulisannya sama. Kusimpulkan, bearti orangnya pun sama. Pikiranku langsung tertuju kepada kakakku. Keperhatikan lagi tulisannya.
“Tidak mungkin ini dari kakak. Kakak tidak bisa menulis huruf tegak bersambung,” pikirku.
“Lalu siapa?”
Aku keluar dari kamar. Kucari kakak. Walaupun bukan dia yang membuat surat itu, setidaknya dia tahu orang yang masuk ke rumah ketika aku di kampus. Aku turun menuruni tangga seperti hendak mencari maling yang lari ketika mendapatkan hasil jarahannya. Kucari ke kamarnya. Pintu dikunci.
Tidak ada orang di rumah. Aku pergi ke dapur. Mencari Bik Inah, pembantuku. Sore-sore begini biasanya dia sibuk menonton gosip artis di televisi.
“Bi, apakah ada tamu yang datang ke rumah ketika aku pergi kuliah?”
Bibi masih sibuk dengan televisinya. Dia larut ke dalam acara yang ditampilkan televisi. Sehingga ketika aku bertanya, dia tidak mendengarkan.
“Bii…,” kali ini suaraku agak besar.
“Ya… den. Ada apa?” terbata-bata suara Bibi mendengar teguranku.
Kuulangi lagi pertanyaan yang tadi.
“Tidak ada, Den. Dari pagi Bibi tidak melihat ada tamu yang datang. Memangnya ada apa, Den?”
“Benar tidak ada?”
“Benar Den.”
Aku pergi meninggalkan Bibi. Dia tampak masih keheranan. Aku berlari keliling rumah. Mencari kalau-kalau ada jejak yang mencurigakan. Kuperhatikan mulai dari pintu jendela sampai ventilasi rumah. Tidak ada yang mencurigakan.
Aku duduk di teras. Lelah. Ibu belum juga pulang.
“Siapa sebenarnya Israil?”
Aku kembali ke kamar. Kuperhatikan lagi surat itu. Benar-benar sebuah ancaman yang menakutkan. Kalau benar yang mengirim surat adalah Israil, untuk apa dia mengirim surat ? Bukankah Israil mencabut nyawa manusia tidak pakai surat ? Lalu kenapa sekarang dia melanggar itu? Atau…apakah memang benar isi surat itu? Aku akan mati? Ini sangat melanggar hukum Tuhan. Atau Israil perlu mengirim surat untuk mencabut nyawa manusia? Beribu-ribu tanya muncul di benakku.
“Ah…mana mungkin Israil bisa membuat surat ?” Hatiku berperang antara percaya dan tidak percaya.
“Lalu, untuk apa dia mengirim surat kepadaku? Apakah dosaku terlalu besar sehingga perlu diberi surat agar aku bertobat sebelum nyawa dipisahkan dari raga?”
Aku takut. Kalau benar Israil yang mengirim surat , berarti umurku tinggal 9 jam.
Badanku yang lelah ketika pulang kuliah kini semakin terasa. Rasa kantuk mulai menjalari tubuhku. Berlahan, rasa kantuk itu menguasai seluruh tubuh. Aku tidak berkutik dan tertidur dengan surat masih digenggam.
***
Aku terbangun ketika azan subuh sudah berkumandang. Ayam jantan dengan kokoknya yang bersahut-sahutan menyambut pagi yang akan muncul. Surat yang kugenggam sudah tergeletak di bawah lantai. Kubuka pintu kamar menuju kamar mandi untuk berwudu’. Ketika membuka pintu, kulihat lagi sepucuk surat .
“Ini pasti dari Israil, apalagi yang hendak disampaikannya padaku pagi ini? Apakah dia akan mencabut terornya?”
Kuambil surat itu. Benar, dari Israil.
“Waktumu tinggal 2 jam.”
Aku mulai gelisah. Nafasku ngos-ngosan. Peluhku bercucuran. Dua jam lagi nyawaku telah berpindah tempat. Aku tidak akan bertemu lagi dengan ibu dan kakak.
Subuh yang dingin telah berganti dengan sebuah ketakutan. Aku turun dari kamar, tidak jadi pergi berwudu’. Teror ini benar-benar sekarang menakutiku. Aku menemui ibu, menemui kakak, untuk minta maaf, jika benar dua jam lagi Israil akan melaksanakan niatnya.
Rupanya Ibu dan kakak sudah bangun. Mereka sedang duduk di ruang tamu.
“Bu, maafkan aku,” air mataku keluar. Kepada kakak aku juga berucap begitu.
“Kamu kenapa, kok tiba-tiba langsung minta maaf pagi-pagi begini?”
Aku terdiam. Apakah Ibu percaya yang akan kukatakan? Sebuah keraguan muncul, atau ibu akan menganggapnya sebuah candaan. Tapi teror ini harus segera dilaporkan. Kuberikan surat itu pada Ibu.
Ibu membacanya. Kemudian raut wajahnya berubah.
“Ibu juga dapat surat yang sama.”
“Apa?”
“Kakakmu juga.”
Diperlihatkannya surat itu kepadaku. Mulai dari jenis tulisan sampai kepada isinya, memang tidak ada satu pun yang berbeda.
“Kita semua dapat surat yang sama,” lanjut Ibu.
“Jika benar Isaril akan mencabut nyawa kita dua jam lagi, kita akan bertemu lagi di dunia yang berbeda.”
“Maafkan Ibu, Nak!”
Ibu menangis. Kakak juga seperti selesai menangis. Kami saling koreksi diri. Kemudian maaf-maafan. Ibu memeluk kami berdua. Air matanya telah mengganti pagi menjadi sebuah drama.
“Anakku, dua jam lagi kita tidak akan bertemu. Dan Ibu tidak tahu, apakah di dunia lain kita akan kembali bersama.”
Aku dan kakak tidak menjawab pertanyaannya. Ibu mengeluarkan semua uneg-unegnya. Kami semua ketakutan. Takut akan ajal yang sudah di depan mata.
Bik Inah muncul dari dapur. Tergopoh-gopoh berlari menuju kami. Kemudian diberikannya sepucuk surat kepada Ibu.
***
Pagi mulai tiba. Kami sekeluarga masih berpeluk-pelukan. Tidak sampai dua jam lagi kami akan berpisah. Bik Inah, kini juga sudah menyatu dalam pelukan kami. Dia juga mendapatkan surat dari Israil.
Kami keluar dari rumah. Minta maaf dengan tetangga. Tidak peduli, apakah tetangga-tetangga nantinya percaya atau tidak. Kami benar-benar ketakutan.
Di luar rumah kelihatan ramai sekali. Pagi ini semua orang keluar dari rumahnya masing-masing. Jalanan tidak ada mobil. Suara sepeda motor yang biasa lewat tiap pagi telah berganti menjadi suara langkah kaki manusia yang berlari. Semua berlari sambil memegang sepucuk surat di tangan mereka. Entah kemana mereka berlari. Kami pun ikut berlari. Semua orang tampak ketakutan.
Rupanya, Israil memberikan suratnya kepada semua penduduk kota ini. Pak Hamdan yang biasa lewat tiap pagi sambil berjongging terlihat juga sedang berlari dengan satu helai kertas di tangannya. Bu Darsih, dosenku, dengan gaun tidurnya tampak pula dalam rombongan itu.
Dalam pelarian itu, semua orang berteriak:
“Tuhan…ampuni kami!!!”
Padang, 28/12/06





0 comments:
Post a Comment