Dinamika Perbukuan di Sumatera Barat

DI Padang, sejak 2005 hingga sekarang telah beberapa kali digelar book fair atau pameran buku dengan label, seperti, Padang Book Fair, Minangkabau Book Fair, dan Pesta Buku. Meski tidak diikuti oleh seluruh penerbit, setidaknya apa yang kita lihat pada perhelatan buku tersebut, bisa menjadi bagian kecil dari persoalan perbukuan di Sumatra Barat, menyangkut jumlah judul buku, yang terbit dan beredar, berbanding dengan jumlah pengunjung.

Informasi yang sangat menarik dari beberapa sumber, industri perbukuan cenderung menggembirakan, tetapi jumlah buku yang diproduksi sangat rendah, termasuk dibandingkan dengan Vietnam sekalipun. Jika ini dilihat dengan perbandingan jumlah penduduk Indonesia, sungguh ironis, Indonesia yang berpenduduk lebih dari 225 juta jiwa baru sanggup menerbitkan sekitar 8.000 judul buku per tahun. Jumlah ini sama dengan Malaysia yang berpenduduk sekitar 27 juta jiwa dan jauh di bawah Vietnam yang bisa mencapai 15.000 judul buku per tahun dengan jumlah penduduk sekitar 80 juta jiwa.


Kita bisa bayangkan pengetahuan seperti apa yang akan diperoleh oleh 225 juta jiwa itu dari 8.000 judul buku. Cukup beralasan, jika selama ini kita cenderung miris memandang pengetahuan masyarakat. Belum lagi, kita diributkan dengan wacana minat baca. Lalu, akar persoalannya di mana?

Dari sekian banyak akar persoalan yang berkelindan tentang perbukuan ini, jika ditelusuri, akan sampailah pada urat tunggangnya; penerbit. Di sinilah pangkal persoalan. Kita tidak akan meragukan tentang berapa jumlah naskah yang siap tulis. Sebab, penulis berlimpahan di sini. Di tilik secara garis besar, ada dua persoalan yang muncul dari penerbit, seiring dengan sedikitnya buku terbit di Indonesia.
Pertama, persoalan bahan baku, dalam hal ini kertas. Harga kertas yang selalu mengarah naik, menjadi persoalan tersendiri bagi penerbit. Penerbit tentu sangat berharap adanya subsidi terhadap kertas ini. Namun, di luar itu, strategi lain juga dibutuhkan. Seperti yang disampaikan Fadlillah Malin Sutan Kayo, penulis buku Kecerdasan Budaya, “Guna mengimbangi mahalnya harga kertas terhadap tuntutan harga buku, bisa dilakukan dengan memakai kertas dengan kualitas standar atau sedikit di bawah standar, itu untuk dilempar ke masyarakat. Sementara untuk kolektor buku, bisa dipesan ke penerbit sesuai kertas yang diingininya.”

Mungkin bagi penerbit besar ini tidak berlaku, tetapi bagi penerbit kecil ini sangat perlu, selain harapan regulasi pemerintah semacam subsidi. “Strategi dan regulasi pemerintah tersebut, pada akhirnya akan menguntungkan semua pihak, penerbit bisa menggenjot produksinya, impian masyarakat tentang buku murah pun bisa terwujud,” tambah Fadlillah.

Persoalan selanjutnya, masalah yang berkaitan dengan distribusi buku. Jaringan pemasaran dari penerbit ke toko-toko buku dihadapkan pada kelindan urusan administratif. Entah itu perizinan, likuiditas, sampai solvabilitas penerbit. Sehingga buku-buku banyak dipasarkan secara gerilya dalam satu komunitas. Tak jarang penulis pun terlibat dalam pemasaran buku-bukunya. Hal ini diakui Esha Tegar Putra, penyair, yang buku kumpulan puisinya Pinangan Orang Ladang akan diluncurkan akhir bulan ini. Keadaan yang memaksa untuk itu, terkadang hasil nota kesepakatan dengan penerbit tidak cocok, atau ada faktor lain yang menyebabkan itu. “Ya, ada penulis yang ikut dalam pendistribusian bukunya sendiri. Bagi saya itu biasa saja, penulis tentu saja ingin melihat apakah bukunya diminati banyak orang, dan apakah buku tersebut ada manfaatnya setelah dibaca. Meski di satu sisi ini sangat miris sekali, tapi tak ada salahnya bukan?”

Untuk itu, penerbit perlu juga melakukan studi pemasaran buku. Tidak hanya sekadar menerbitkan, tapi juga harus paham bagaimana mendistribusikannya. “Jadi diperlukan juga ahli tata niaga perbukuan,” imbuh Fadlillah. Di Sumatra Barat, yang hanya memiliki dua toko buku yang besar (Gramedia dan Sari Anggrek), menurut Azhar Muhammad, pemilik toko buku Sari Anggrek, “Kita tidak tahu persis berapa banyak penerbit yang masuk ke Sumbar. Di toko buku Sari Anggrek ada kurang lebih 200 penerbit yang mendistribusikan buku.”

Jumlah tersebut tentu sangat kecil dibanding jumlah penerbit yang menjamur seperti sekarang. IKAPI yang nota bene kumpulan para penerbit juga kewalahan dalam mengatur mata rantai distribusi ini. Dibenarkan oleh Miko Kamal, wakil ketua IKAPI Sumbar, “Kalau saya melihat dunia perbukuan Sumbar sekarang ini, belum maksimal. Keterbatasan kita adalah masalah dana dan jaringan. Berbicara tentang jaringan, kita di Sumbar belum terlalu kuat untuk mengkooptasi penulis.”

Jaringan yang tidak terkooptasi ini membuat sebagian besar penulis buku di Sumbar menyerahkan naskahnya kepada penerbit di luar Sumbar. Ini menyangkut penyebaran buku mereka nantinya setelah terbit. Apalagi penerbit luar menerapkan strategi; penulis dapat memakai nama sebuah komunitas untuk menjadi label penerbit pada buku tersebut, sementara penerbit yang mencetak naskah tersebut cukup sebagai pencetak saja. Namun, distribusinya diatur oleh penerbit pencetak tersebut sesuai kesepakatan dengan penulis.

Strategi ini sebenarnya berimbas baik juga terhadap penerbit kecil atau lokal. Dengan menyerahkan naskah terbitannya ke luar, mereka akan terbantu dalam pemasaran, sebab penerbit luar yang dituju tentu saja penerbit yang mempunyai banyak jaringan di seluruh Indonesia. Sementara brand atau merek penerbit kecil/lokal tadi tetap dicantumkan sebagai penerbit. Seperti yang pernah diterapkan oleh Andalas University Press, yang menggaet Nailil Printika, Yogyakarta, untuk mencetak
Naskahnya. “Buku-buku tersebut tetap terbitan Andalas University Press, tapi dicetak oleh Nailil Printika. Dengan demikian, untuk pemasaran kita terbantu,” ungkap Zaiyardam Zubir, penulis buku-buku gerakan sosial dan panitia penerbitan 50 buku Unand.

Begitulah dinamika perbukuan, di sekian banyak pesta buku yang kita kunjungi di Padang, seyogyanya kita bisa sumringah ketika meninggalkan arena pesta dengan membawa buku yang diingini. Namun, sengkarutnya dunia perbukuan di negeri ini, membuat kita hanya bisa menghela nafas panjang sambil mengusap dada. (Gusriyono/S Metron M/Andika Destika Khagen/Fadli Akbar)

0 comments:

Post a Comment