Pengunjung Badan Perpustakaan dan Kearsipan Meningkat
TANGGAL 17 Mei 2009tak banyak yang tahu adalah hari buku Nasional. Sebuah peringatan untuk memberikan penyadaran, sebanyak apa kita membaca buku. Tak gembor-gembor seperti laiknya merayakan ulang tahun selebriti, hanya membuat kita kembali sadar, bahwa membaca itu sangatlah penting. Seperti pesan pada sebuah spanduk yang terpajang di Pustaka Daerah dan kearsipan Sumatera Barat, “Belajar sepanjang hayat, Membaca sepanjang masa.”
Tidak punya uang membeli buku? Malas? Enggan? Terlalu berat? Masih ada lagi alasan? Untuk buku, sepertinya tak ada alasan untuk tak membacanya. Sebab, tutur Eka Nuzla, SH, Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar, membaca akan memberikan pencerdasan bagi siapa saja yang mau bergelut di dalamnya.
Tak ada alasan, karena membaca hanya masalah kemauan. Tak perlu membeli, sebab telah tersedia bahan bacaan itu, setidaknya di perpustakaan. Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumatera Barat, kepada pelanggan, memberikan banyak kemudahan-kemudahan. Semua, demi tujuan, masyarakat mau membaca. Hanya itu.
Seperti yang tertuang dalam Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia nomor 001/org/1990, tugas perpustakaan adalah melaksanakan pemberian layanan dan pengembangan perpustakaan di daerah dan pelestarian bahan pustaka. Pada hakekatnya, perpustakaan adalah milik bersama, tempat meningkatkan ilmu mendidik diri dan tempat belajar. Mirip toko serbaguna. Semuanya ada. Dari koleksi ilmiah, koleksi popular, hingga koleksi praktis. Dari jenis buku fiksi, non fiksi sampai jenis non buku seperti cd, microfish, dan kaset pita.
Bagi pengunjung yang ingin mencari informasi yang dibutuhkan secara cepat, bisa dibantu oleh petugas pustaka untuk mendapatkannya. Ini salah satu layanan dengan nama Layanan Penelusuran Informasi. Layanan informasi referensi yang membutuhkan layanan cepat melalui telepon, surat faxmili, dan email, pun dilayani. Pada dasarnya, siapapun kita, apapun profesinya, dan ingin membaca apa dan membutuhkan apa, pustaka daerah dipersiapkan untuk itu.
Secara keseluruhan, ada sebanyak 282.723 judul buku yang bisa dibaca pada tahun 2005 dengan jumlah 542.348 eksemplar. Pada tahun 2006, jumlah itu ditambah sebanyak 4.611 judul buku (36.085 eks). Ditahun berikutnya, koleksi perpustakaan bertambah sebanyak 3.690 judul buku (28.000 eks). Di tahun 2008, perpustakaan menambah lagi koleksinya sebanyak 18.300 eksemplar.
Perpustakaan Keliling
Hubungan antara membaca dengan buku adalah hubungan yang bersifat mutualisme (saling membutuhkan). Buku tidak ada artinya, bila tak ada yang membaca. Tak mau buku pustaka hanya dibaca warga kota, yang notabene segala akses mudah, pustaka daerah mengembangkan sayap ke daerah.
Di armada mobil tertulis tulisan yang ukurannya besar: Perpustakaan Keliling. Mobil itu, memang telah melakukan tugasnya dari kisaran tahun 80-an lalu. Waktu itu, 9 unit mobil disediakan. Mobil dengan cat putih ini memasuki daerah-derah yang letak geografisnya jauh dari pustaka. Memasuki 18 kabupaten/kota yang ada di Sumatera Barat. Daerah Mentawai pun dimasuki.
Di tahun 2005 dan 2009, dua unit mobil lagi ditambah. Dengan jumlah 11 mobil tersebut, dan membawa 2.500 judul buku (setiap judul masing-masing 5 eksemplar), jika hubungan mutualisme ini berlaku, masyarakat tidak bisa beralasan, tidak ada buku yang akan dibaca. “Bola telah diantar.” Begitulah, bagaimana masyarakat akan dimanjakan dengan bahan-bahan bacaan. Buku yang merupakan sumber ilmu, diharapkan mampu mengeluarkan bangsa ini dari kemiskinan dan kebodohan yang berkepanjangan.
Tantangan
Di semua layanan, pengunjung perpustakaan, mengalami peningkatan. Sebanyak 112.800 orang pada tahun 2005, meningkat menjadi 123.384 tahun berikutnya. Tahun 2007 meningkat lagi menjadi 152. 961 pengunjung. Di tahun 2008, pengunjung perpustakaan berjumlah sebanyak 166.307 orang. Namun, angka-angka itu masih terbilang sedikit, jika misalnya dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Padang sebanyak 819. 740 jiwa (www.padang.go.id).
Namun, Badan Perpustakaan Daerah dan Kearsipan melihat keadaan ini sebagai sebuah tantangan. Tahun 2009, Badan Perpustakaan Daerah membuka layanan sampai jam 9 malam, khusus untuk hari Sabtu dan Minggu. Tujuannya jelas, bagaimana masyarakat diberikan kesempatan untuk terus meningkatkan minat baca mereka.
Tinggal, bagaimana masyarakat memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Tutur Dra. Zuriah, Kepala Bagian Pelayanan Perpustakaan, pengelola perpustakaan akan terus berbenah untuk memperbaiki layanannya. Agar masyarakat semakin betah dan nyaman berkunjung ke pustaka. Tantangan ini mesti disambut. Sebab, perpustakaan tak ada artinya bila tidak ada pengunjung. (Andika Destika Khagen)





0 comments:
Post a Comment