Soal Posisi Perempuan

Judul buku : Tuhan telah Memutuskan
Penulis : Free Hearty
Penerbit : Jendela
Cetakan : I, Safar 1430 H/Februari 2009
Tebal : 272 halaman


Fretty, seorang perempuan yang begitu percaya dengan nasehat ibu, nenek, dan mertuanya. Posisi perempuan di hadapan lelaki adalah sebagai pengabdi. Perempuan tak berhak menggugat. Mereka—kaum perempuan itu—tidak boleh tidur, sebelum suami pulang kerja. Bahkan, bila sedang melaksanakan salat sunat, lalu mendengar suami pulang kerja, wajib bagi perempuan membukakan pintu lebih dulu kepada suami (hal. 22).

Dalam diam, timbul gugatan-gugatan terhadap apa yang diterima. Kenapa posisi perempuan lebih rendah? Kenapa perempuan tak boleh menggugat? Timbul pemberontakan-pemberontakan dalam diam Fretty. Tapi ia tak mampu berbuat apa. Ia menerima saja yang ada.

Fretty tersadar, ketika Junedi tak seperti yang ia kira. Tak sesuai dengan nasehat ibu, nenek, dan mertuanya itu. Komunikasi yang jarang di rumah dengan suaminya, membuat ia tak pernah tahu, bahkan pekerjaan suaminya di luar. Suaminya selingkuh. Tapi Fretty masih bertahan dengan kondisi itu.

Tuhan Telah Memutuskan, menggali, bahkan menggugat posisi perempuan. Tak hanya dalam rumah tangga, tapi juga posisinya di antara lelaki. Siapa sebenarnya makhluk yang bernama perempuan ini?

Di sini, perempuan ditampilkan tidak memiliki status inferior. Ini pun disebabkan oleh kaum perempuan itu sendiri yang begitu pasrah menerima citra mereka yang tidak menguntungkan itu.

Bila pikiran kita kembali pada masa lalu, sepertinya ini lazim terjadi. Toh, memang pikiran tokoh utama sangat dipengaruhi oleh masa lalu: melalui nasehat-nasehat ibu,nenek dan mertuanya.

Dalam karya A. Discourse on Political Economy (1755), filsuf Jean Jacques Rousseau juga secara konsisten memandang perempuan sebagai makhluk inferior dan tersubordinasi. Tujuan hidup mereka hanya untuk melayani laki-laki. Karena itu, mereka tidak mungkin atau tidak akan mampu melebihi laki-laki.

Free Hearty, barangkali hendak menggugat ketertindasan-ketertindasan yang terjadi pada status ke-perempuan-an mereka. Namun di sisi lain, ia juga mempertanyakan masalah kodrat. Ada titik ambiguitas ketika perempuan dihadapkan pada status mereka tersebut.

Tokoh Saras sepertinya mewakili sosok perempuan yang ideal: pintar, tak terikat dengan kasur, sumur, dapur, serta mampu berbuat laiknya seperti lelaki—bahkan melebihi. Tapi ia bukan tanpa cela. Saras seorang lesbi. Di balik keberhasilannya mengangkat harkat perempuan, ia tak bisa melawan sisi jiwanya yang lain: bahwa ia tak tertarik dengan laki-laki.

Novel ini, dengan sudut pandang seorang perempuan pula, memang secara eksplisit dan terang mengkritik perempuan, menyanjungnya, dan mempertanyakan hakekat-hakekat keperempuanan. Novel ini cocok dibaca oleh orang yang ingin menjadi perempuan yang tahu akan hak dan batasannya.

Perempuan dalam Rumah Tangga

Tuhan Telah Memutuskan kaya akan nasehat-nasehat terhadap kaum perempuan, terutama dalam rumah tangga. “Jadi, kehidupan rumah tangga itu sebenarnya terletak kepada bagaimana orang-orang di dalamnya melaksanakan tanggungjawab, begitu kan Wit?”. Dialog ini barangkali menyampaikan pikiran sang penulis bagaimana menghadapi rumah tangga. Dialog ini secara tersirat menyampaikan pesan kepada semua kaum perempuan: di dalam rumah tangga, tanggungjawab tak hanya milik perempuan saja, tapi juga suami.

Rumah tangga akan menjadi seperti yang diharapkan, bila ada saling mengerti. Terjadi hubungan yang harmonis, dan saling menghargai. Ini diperlihatkan pada bab akhir. Tokoh Freety hidup bahagia dengan suaminya yang baru: Martin.

Martin adalah sosok lelaki ideal (dalam kehidupan nyata, sepertinya sulit ditemukan lelaki seperti Martin). Ia seorang lelaki yang pintar membangun rumah tangga. Martin, kepada anak-anak Freety mengajarkan untuk tidak saling membenci. Kehidupan mereka tidak dibahas lebih jauh.

Perempuan-perempuan yang ditampilkan dalam novel ini: Freety, Saras, Wita, dan anak-anak mereka, merupakan contoh sosok perempuan yang sebenarnya. Akhirnya memang, mereka semua hidup dengan pilihan mereka masing-masing. Freety bahagia dengan rumah tangga barunya. Wita memutuskan menikah—sebelumnya ia selingkuh dengan Junaedi, suami Freety, dan Saras menerima keadaannya yang lesbi itu.

Tapi, yang merupakan inti dari persoalan-persoalan perempuan tersebut adalah, bagaimana mereka berjuang dalam menghadapi ketertindasan-ketertindasan disebabkan status keperempuanan tersebut. Perempuan yang berhasil adalah, bagaimana mereka memaknai masalah-masalah yang terjadi. Karena permasalahan-permasalahan yang terjadi, cenderung beragam. (Andika Destika Khagen)

0 comments:

Post a Comment