Pulang Kampung

KAMI bertemu lagi di kota yang pernah meninggalkan sisa kenangan. Dalam keadaan yang berbeda, dan perut yang tak lagi datar. Rusdi sudah jadi Dokter, semakin putih kulitnya. Hasim masih menulis, jadi wartawan ia kini. Salim, teman lama yang tak akrab, pekerjaannya tak pernah jauh dari cita-citanya dulu: guru, lebih dikenal dengan sebutan Guru Salim. Aku tak kalah dari mereka. Setidaknya, dalam hal penghidupan. Aku pedagang barang kebutuhan harian. Tak terlalu miskin, masih bisa menabung.

Kerinduan masa lalu mengantarkan kami bertemu di tempat yang sudah sangat lama tak berkabar, di bawah pohon mahoni yang rindang semasa SMA. Kami bertemu tidak lagi dengan wajah anak-anak, tapi tetap dengan senyum yang sama. Satu kesamaan, yang membuat kami tertawa serempak adalah, perut yang semakin berisi. Paling gendut Rusdi. Ia juga yang paling lebar senyumnya.

“Seharusnya yang gendut itu kau,” tunjuk Hasim kepadaku. Pedagang itu selalu culas. Laba saja yang ada dalam otaknya. Aku tersenyum. Temanku yang satu ini tidak pernah berubah. Cemeehnya tetap saja kental.
Cerita anak-anak paling menarik bagi Rusdi. Anaknya dua. Luar negeri sekolahnya, yang paling tua. Kami bertiga merendah karena tak bisa lagi meninggi. Salim anaknya paling banyak. Walau, ia yang bergaji paling sedikit. Anak terkecilnya saja masih Taman Kanak-kanak. Kami sempat terdiam tak bersuara dan saling pandang satu sama lain, ketika Salim bertanya daerah rantau. Serempak menjawab, “Jakarta.” Ah, alangkah sempitnya dunia ini.
Ternyata kami dekat. Tapi tidak pernah bertemu selama 35 tahun. Jaman yang semakin modern tak juga bisa mempertemukan kami di kota yang sumpek itu. Atau jangan-jangan, kota itu tak pernah bisa mempertemukan orang-orang. Barangkali hanya keajaiban, ketika di tempat ini, kami bisa berkumpul lagi.
Lima jam sudah waktu habis bercerita. Uban di kepala tak bisa menutupi jiwa kanak-kanak kami. Dari masalah pacar, pekerjaan, sampai Hasim yang katanya akan bercerai. Semua dibungkus dalam cerita yang tak berideologi. Hanya untuk tertawa saja. Saling ejek tapi tak menyakitkan hati.

“Ngomong-ngomong, kalian kenapa pada pulang kampung semua?” Pertanyaan yang dari tadi hendak kuajukan.
Semua saling pandang. Serempak menjawab, “Mengabdi kepada kampung halaman.” Rusdi menambahkan, marantau bujang dulu, di kampuang paguno balun. Mengabdi? Aku mengerutkan kening. Karena tepat, alasanku juga sama dengan mereka.
***
Hanya aku yang belum punya rumah sendiri di kampung halaman. Rusdi, Salim, dan Hasim katanya sudah membuat rumah untuk anak perempuan mereka. Ya, terpaksa, aku numpang di rumah orang tua. Ah, tak apa. Aku tak terlalu lama di kampung. Jika pekerjaan ini sudah selesai, aku balik lagi ke Jakarta.
“Sudah dapat orangnya, Bujang?” tanyaku pada kemenakan jauhku.
“Sudah, Da. Katanya nanti sore akan ke sini.”
Kemenakanku itu, sebelum aku pulang kampung, memang kusuruh untuk mencari orang yang bisa dipercaya dan pandai berdiplomasi. Setidaknya, ia bisa mewakili ide-ide yang kucanangkan untuk membangun kampung halaman.
“Begini. Aku akan mencalonkan diri mencadi calon legislatif. Yang kumaksud, kau bisa mencari dukungan sebanyak-banyaknya untukku. Apa pekerjaanmu?”
“Saya mahasiswa, aktif di legislatif. Tapi sebentar lagi tamat.
Esoknya, kusuruh ia datang lagi ke rumah. Kuberitahu beberapa pokok-pokok pikiran yang sudah kupersiapkan. Kertas-kertas yang telah kufotokopi kuserahkan kepadanya. Setiap kau bertemu orang, kataku padanya, katakan bahwa aku, anak Sutan Sulaiman akan mengabdi kepada kampung halamannya. Ia akan membantu masyarakat untuk lepas dari belenggu kemiskinan, memudahkan mengurus surat tanah, jalan akan dibangun. Katakan juga, aku sudah banyak mendapatkan ilmu di Jakarta.
“Mambangkik batang tarandam, begitulah kira-kira,” kataku.
Yudi, aktivis itu mengangguk. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaan ini di kampus. Aku lega. Kemenakanku mencarikan orang yang tepat. Aku janjikan padanya, bila nanti aku terpilih, ia akan kutempatkan di posisi yang terhormat. Aku lihat ia tersenyum. Sebelum pergi dari rumah, kuberikan ia uang untuk pekerjaan yang akan dilakukannya itu.

Besok aku akan kembali lagi ke Jakarta. Kukemas segala barang. Maksud telah sampai, niat terwujud sudah. Satu pekerjaan awal menggemberikan. Sehabis mandi sore, kusempatkan diri datang ke bawah pohon mahoni di dekat SMA. Ah, pohon itu terus memanggil-manggilku bila pulang. Seorang diri aku duduk di sana. Tiga orang temanku , tak lagi berkabar. Mereka tentu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Larut dengan tujuan mereka untuk pulang kampung. Aku juga tak sempat berkunjung ke rumah mereka masing-masing. Persediaan danaku sudah menipis. artinya, aku tak boleh lama-lama lagi di sini. Ah, aku teringat percakapan terakhir kami, dua minggu yang lalu di bawah pohon mahoni ini. Mengabdi kepada kampung halaman? Oh, mengapa aku baru sadar sekarang, tiga orang temanku itu, aku kira, mereka juga akan menjadi calon wakil rakyat.

Tapi, sudahlah. Besok aku akan ke Jakarta.
***
Entah keajaiban apa ini. Kami berempat bertemu lagi di bandara, cuma beda pesawat. Seperti biasa, senyum mengambang dan ruang tunggu pesawat penuh dengan canda. “Kok bisa ya?” Salim bergumam. Jangan-jangan, dipotong, Hasim, di antara kita ada yang akan meninggal. Barangkali ini adalah firasat. Waktu mempertemukan kita untuk yang terakhir kalinya. Aku memotong firasat Hasim, “Jangan berbicara seperti itu. Berpikir rasional saja. Bukankah kita berempat akan menjadi wakil rakyat?” oh, tiba-tiba lidahku keliru berbicara.
Suasana menjadi diam seketika. Tapi hanya sejenak, Salim memulai lagi pembicaraan. Kali ini cara bicaranya tidak kukenali. Tak seperti guru. Dari dulu, kata Salim, kami berempat selalu bersaing. Entah kenapa, lebih sering memperebutkan hal yang sama. Mulai dari memperebutkan Resti waktu kami kelas tiga SMA, sampai memperebutkan posisi di tim sepakbola. “Apa yang hendak kau berikan kepada kampung halaman, Rusdi?” Tanya Salim. Yang membuatnya tidak seperti guru adalah ucapan terakhirnya. Dari dulu, Rusdi sangat pendiam. Meski ia yang paling berhasil, tapi ia tidak tahu cara berkomunikasi dengan orang. Lalu, bagaimana pula akan mengabdi kepada masyarakat.

Untunglah Rusdi tidak tersinggung. Ruang tunggu pesawat ini seperti milik kami berempat saja. Orang-orang yang di sekitar tak kami pedulikan. “Sesuai dengan pekerjaanku. Aku akan membuat masyarakat sehat. Dari sana pembangunan itu dimulai,” tutur Rusdi. Teori-teori pembangunan dijelaskannya kepada kami, sepertinya kata-kata itu telah disusunnya. Jepang bisa menjadi Negara maju karena masyarakatnya sehat-sehat. Aku akan memberikan masyarakat kesehatan yang gratis. Ini yang jarang diperhatikan selama ini. Pertanyaan itu diputarbalikkannya kepada Salim. “Apa yang hendak kau perbuat?”
Salim meyulut rokoknya. Tapi keburu dimatikan. Sebab, seorang satpam melihat kepadanya.

“Aku tidak ingin bantah pendapatmu. Tapi penglihatan kita beda. Masyarakat kita menjadi bodoh karena mereka tidak sekolah. Itu yang akan kuperjuangkan.”
“Kau ingin menaikkan anggaran pendidikan?” Hasim menyela. Aku perlu memberitahu, korupsi terbanyak ada di dunia pendidikan. Jangan-jangan, nanti kau terjebak di situ. Tanpa ditanya, Hasim menyampaikan visi dan misinya. Ruang pesawat ini seperti arena debat calon di telivisi saja.

Aku paling tahu kondisi Negara ini. Setiap hari aku bertemu dan menelaah masalah di bidang ekonomi, politik, dan semacamnya. Artinya, aku lebih menguasai banyak masalah daripada kalian, tutur Hasim. Aku bisa membangun banyak relasi untuk membangun kampung halaman kita. Aku pikir, wartawan itu sendiri adalah wakil rakyat. Aku hanya berpindah tempat duduk, dari satu mobil ke mobil lain.
“Wartawan tidak bisa menyelesaikan masalah yang diketahuinya, kawan.” Salim yang memotong. Dari tadi, memang Salim yang banyak berbicara. Ia seperti mendebat murid-muridnya saja. Dari pengeras suara kemudian terdengar panggilan. Rusdi dan Hasim, yang satu pesawat, kemudian berdiri. Pembicaraan terhenti seketika. Kali ini, kulihat wajah teman-teman tidak lagi seperti wajah anak-anak. Mereka sudah tua, rupanya.

Untunglah mereka tidak bertanya kepadaku. Karena aku tidak tahu, apa yang akan kuberikan kepada masyarakat. Aku hanya ingin mambangkik batang tarandam. Jika tadi mereka bertanya, aku tahu Hasim akan menyela, “Negara ini hancur karena pedagang.” Aku tahu betul itu. Di ruang tunggu ini, kini tinggal aku dan Salim. Tapi Salim tidak bertanya apa-apa. Aku pun tidak. Kami hanya diam, sampai pesawatku tiba. Ia masih menunggu.
***
Hari selanjutnya, semakin dekat hari pemilihan, semakin sering waktu kuluangkan untuk pulang kampung. Tapi aku tak sempat lagi singgah di pohon mahoni dekat SMA, pohon kenangan kami. Aku tak tahu teman-temanku, apakah mereka sering datang ke sana atau tidak. Aku pikir tidak, sebab, aku sering melihat mereka di sekretariat partai dan di biro iklan.

Sebenarnya kami sering bertemu, tapi tidak berpapasan. Sudah kukatakan, menjelang hari pemilihan, semua caleg banyak turun ke masyarakat untuk menarik simpatisan. Kami sering bertemu di lapangan. Tapi tak ada yang mau menyapa duluan. Entah kenapa pula, daerah pemilihan kami sama, yaitu Daerah Pilihan II Air Tawar dan Koto Gadang.
Kadang, kami bersirobok di rumah penduduk yang sama. Tapi tetap tak menegur. Barangkali, kami memang sudah menjadi musuh betulan. Ideologi kami yang berbeda dalam membangun masyarakat, sepertinya sulit disatukan. Lihatlah, ketika aku kirim pesan singkat ke Hasim untuk mengajaknya barang sejenak duduk bersama, ia bilang, “Wakil rakyat yang baik adalah tidak pernah duduk, apalagi tidur,” ujarnya.
Oh, padahal aku tak sedang menyapanya sebagai calon wakil rakyat, tapi sebagai seorang teman karib dari kecil. Tidak bisakah lagi ia membedakan teman? Jangan-jangan, dengan menjadi caleg, ia tidak butuh temannya lagi. Yang ia butuhkan hanya suara.

Menjelang salat Zuhur, aku melihat Salim. Aku me nuju musalla hendak mengambil wuduk. Kulihat Salim akan menuju musalla itu juga. Kulambaikan tangan. Ia tersenyum kecil. Tapi kemudian buru-buru pergi. Aku heran, tidakkah ia datang ke masjid ini untuk salat? Tapi ia keburu menjauh.

Ah, aku pun tak bisa mengelak. Dua hari yang lalu, di rumah Ibu Rusni, aku bertemu dengan Rusdi. Sehabis menunjukkan cara memilih yang benar pada pemilu nanti, Rusdi memanggilku. Aku seperti tak acuh. Ia mengajakku duduk di bawah pohon mahoni dekat SMA. “Tidak ada waktu untuk bersantai, kawan.” Tuturku ketus. Ia berlalu, dan tak menoleh lagi. Malamnya, aku teringat ucapanku itu. Ingin aku minta maaf, tapi tak kulalukakan itu.

Kami sering bertemu di kampung ini. Barangkali dengan tujuan yang sama, menunjukkan kepada semua orang, siapa yang terbaik di antara kami. Sejak percakapan terakhir di ruang tunggu pesawat itu, kami jarang lagi bersapa, walau kini, waktu pertemuan kami lebih banyak. Seharusnya kami berbahagia karena ini. Jangan-jangan firasat Hasim benar, keajaiban di bandara adalah pertanda, bahwa salah seorang di antara kami akan mati. Dan memang, sejak pertemuan itu, kami tak lagi saling mengenal, walau masih hidup.
Tapi itu tak terlalu kupedulikan. Aku memikirkan, bagaimana bisa mengalahkan teman-temanku itu dalam persaingan. Ini tugas yang paling berat. Karena Rusdi, Hasim, dan Salim, materi mereka lebih banyak daripadaku. Mereka semua berduit. Orang tua mereka juga pada kaya raya. Partai yang mereka tompangi adalah partai-partai pemenang pemilu tahun lalu. Aku kebalikan dari semua itu. tapi aku tidak patah semangat, aku tahu kemampuan mereka. Aku orang dagang, lebih menguasai situasi.
***
Pemilu berakhir dengan pilu. Tak seorang pun di antara kami yang duduk di legislatif. Aku temenung. Salim tak bisa menahan air matanya keluar. Hasim tak aku lihat. Kabar yang kudengar, ia berhenti dari pekerjaannya. Hanya Rusdi yang kulihat tenang.

Di bawah pohon mahoni, kami bertemu lagi, suatu sore. Tapi ada yang hilang, kami tak lagi becanda. Kami hanya saling tatap satu sama lain. Sama-sama termenung, seakan tidak percaya dengan hasil pemilihan. Rusdi tidak lagi menceritakan anaknya yang sekolah di luar negeri itu. Tak ada tawa, dan pohon mahoni itu menjatuhkan daunnya satu persatu.

Kupandang teman-teman lamaku itu. Entah kenapa, aku sampai pada kesimpulan, ini pertemuan kami yang terkahir. Mereka tidak akan pulang kampung lagi setelah ini. Dari wajah-wajah kalah itu, aku melihat mereka sudah semakin tua.
Padang, Maret 2009


Selanjutnya......