Guru Hasim
Persendiannya terasa lelah. Tiba-tiba ia merasa tak berarti. Tas kulit yang menemaninya 30 tahun, dilempar tanpa iba. Ia mengantuk. Tapi matanya tak akan terpejam malam ini.
Diperbiarkan saja matahari senja masuk ke dalam ruang tamunya. Ia tak berselera bercengkrama. Ketika istrinya menghidangkan kopi, ia tak seperti biasa, menyeduhnya sampai habis. Ia ingin berteriak melepas kekesalan, di sebuah tempat yang hanya ada ia dan dirinya sendiri. Ingin diusirnya semua makhluk yang bernyawa, yang berada di depannya. Guru Hasim, tak habis
pikir istrinya, wajahnya begitu murung. Ditanya, ia bisu. Ia enggan bersuara. Di ruang tamu, ia bermenung sendiri. Seperti orang yang kehilangan sesuatu benda berharga, tapi tak pernah tahu, di mana benda itu ditaruh. Ya, benda berharga itu memang telah hilang dari dirinya: semangat seorang guru.
“Tak akan ada yang berubah Guru Hasim.” Kalimat itu menyentaknya. Masuk ke dalam nadinya menjadi pisau. Mengirisnya. Lalu ia meregang.
Kini, ia muak melihat Rosna, Saldi, Halim, Hasan, Nira, dan semua orang yang menyebut diri mereka guru. Telah berapa kali didebatnya di dalam rapat majelis guru, sudahlah, jangan terlalu peributkan masalah gaji, yang penting, bagaimana anak didik kita menjadi orang. Itu tanggung jawab kita.
“Tidak bisa Guru Hasim. Ini hak.” Disela kepala sekolah. Disoraki semua guru,
“Ya.perjuangkan.” Guru-guru itu, turun ke jalan. Menuntut haknya di jalan. Ia tak
habis pikir. Melelahkan, semua lokal, hari itu, ia yang mengajar sendirian. Namun, bukan itu yang membuatnya begitu lelah, ia hanya tak ingin meninggalkan tanggungjawabnya sebagai guru. Ia selalu ingin memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya.
Hari ini, ia telah memutuskan: berhenti menjadi guru.
***
“Jangan terlalu idealis, Pak.” Istrinya tak setuju. Murung wajahnya mendengar ucapan suami tercinta.
“Aku ini guru. Tidak pernah bisa menjadi pengusaha.”
“Aku tidak mengerti apa omongan Bapak.”
“Kau memang tidak akan pernah mengerti, istriku.”
Setelah larut malam, belum juga tenang hatinya. Dibangunkan istrinya yang sudah tidur dengan lelap. “Ada apa Pak?” Disodorkan selembar kertas yang sudah terketik dengan rapi. Nama-nama guru dengan daftar gaji. Kertas itu, tadi siang diambilnya dari ruang kepala sekolah yang pergi berdemo.
Istrinya masih tak paham, apa maksud suaminya itu. Wajah polosnya seperti memelas. Berharap segera tiba jawaban agar ia tak lagi bingung.
“Gara-gara angka itu, mereka meninggalkan murid-murid. Guru kencing berdiri, murid telah kencing berlari.”
Istrinya, yang sudah beruban itu, sepertinya masih tak paham, kemana arah pembicaraan suaminya. “Apa yang hendak Bapak perbuat? Berhenti menjadi guru? Apa Bapak mau jadi pengusaha? Begitu?”
Matanya menerawang ke loteng. Aku tak pernah memperdebatkan masalah gaji, dari dulu, ketika aku telah memutuskan untuk menjadi pendidik. Kau tahulah istriku, ini pekerjaan terpuji.
“Bagaimana..”
“Jangan kau potong pembicaraanku, istriku. Kau tidak akan pernah tahu, bagaimana perasaan seorang guru yang sebenarnya.”
Aku tak habis pikir, atau jangan-jangan karena aku tidak punya anak, sehingga aku tidak bisa membedakan diriku, sebagai guru atau seorang bapak. Aku merasa diriku hanya sebagai guru. Istrinya menunduk. Ia merasa terpojok dengan ucapan suaminya. Ah, andai ia bisa memberikan anak kepada suaminya tercinta.
Guru Hasim turun dari dipan. Diambil mesin tik tua, satu-satu miliknya yang berharga di rumah itu. “Bapak mau apa?” tanya istrinya heran.
“Aku mau membuat surat pengunduran diri.”
***
Semakin bulatlah tekadnya. Tidak di timbang-timbang lagi keputusan itu. sudah terlalu bulat. Entah kenapa, ketika datang pagi ini ke sekolah, ia muak melihat guru. Tidak menyapa kepada seorang pun. Hanya kepada murid-muridnya, ia menitipkan pesan terus belajar, walau tanpa guru.
“Kenapa kau Guru Hasim? Gaji naik, kau malah mengundurkan diri?” ujar Kepala sekolah ketika diserahkannya surat itu.
Ah, andai kepala sekolah ini tahu (ia sudah berjanji untuk diam sedari rumah), ia hanya ingin menjadi guru, tidak pengusaha yang menjadi guru. Jika pendapat ini disampaikannya di rapat majelis, ia selalu kena cemoohan. Sok idealis, muna, dan sebagainya.
“Berhenti kalian semua jadi guru.” Masih terngiang suaranya bergema sampai ke angkasa di suatu rapat siang itu. Karena siang itu, yang diperebutkan adalah hal yang tidak perlu. Kepala sekolah akan mengutus beberapa orang guru senior untuk mengikuti sertifikasi di Ibukota provinsi. Guru Hasim tidak terima, sebab, Hasan dan Nira, dua orang guru yang akan diutus tersebut, ia tahu benar siapa mereka. Di dalam benak kepala dua orang itu, yang ada hanya uang..uang…dan uang. Oh, semua guru sekarang hanya memikirkan uang..uang..uang. Tak pernah lagi mereka memikirkan muridnya dengan benar.
“Kalau kau tidak terima, ya sudah Hasim.” Suasana rapat malah bertambah panas. Sebab, tak ada yang terima dengan ucapan Guru Hasim. Bah, kata Halim, 4 tahun sekolah di IKIP, tiba-tiba disuruh berhenti menjadi guru. Mau makan apa nanti? Kita, mesti memperjuangkan nasib kita, agar pendidikan ini menjadi lebih baik. Bukankah, kalau gaji kita mencukupi, baru bisa kita berbicara profesionalisme?
Wah, tambah panas Guru Hasim. Berdiri ia dari duduk. Saya tahu, apa yang ada dalam benak kalian semua. Cuma uang..uang..dan uang. Mana pernah kalian mengajar dengan benar? Saya berani bertaruh, siapa guru yang paling dekat dengan siswa? Ha..ha.kalian itu bukan guru. Akui sajalah. Tiap sebentar rapat sertifikasilah, rapat beasiswalah. Murid-murid yang masih bau kencur itu, kalian perbiarkan belajar sendiri. Hanya saya yang tidak pernah berpikir seperti kalian.” Panjang lebar Guru Hasim berbicara, sampai berputar-putar ia di ruang majelis itu.
Kepala sekolah tahu keadaan tidak lagi kondisif. Dihentikannya rapat. Kata terakhir Guru Hasim, “Sesekali, cobalah undang saya untuk rapat kemajuan murid-murid kita, jangan hanya kesejahteraan guru.” Oh, tak ada lagi yang mendengar. Semua guru telah keluar dari ruangan.
“Ya sudah, kalau itu maumu. Besok, akan aku buatkan surat pensiun.”
“Tidak usah, Pak. Saya mengundurkan diri, tidak pensiun.”
***
Hasim merasa membuat keputusan yang sangat tepat. Sudah 20 tahun, tak pernah ia menyesali keputusan itu. Baginya, guru tetap pahlawan tanpa tanda jasa. Tugasnya adalah mendidik. Soal kesejahteraan, ia yakin, suatu hari akan datang dengan sendirinya. Setelah pendidikan maju dengan guru-guru yang benar-benar ingin mendidik, kesejahteraan akan muncul. Sama halnya, ketika ia tidak pernah memikirkan untuk mendirikan sebuah sekolah tanpa biaya yang dirintisnya sendiri. Gurunya, hanya ia sendiri. Gedungnya adalah rumahnya.
Paling penting, ia tidak pernah lagi rapat majelis. Tidak pernah berdebat tentang sertifikasi. Ia hanya mengajar, mengajar, dan mengajar. Uang sekolahnya, sumbangan beras dari murid-murid. Tak banyak memang yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah yang diberinya nama Sekolah Dasar Hasim, sebab sekolah itu tidak memiliki ijazah. Hanya orang-orang miskin, tergerak belajar, yang merelakan dirinya datang pagi-pagi, pulang sampai pukul empat sore. Malam hari, kebanyakan dari mereka, kalau tidak membantu orang tua, tidur di rumah Guru Hasim.
Ia mengorbankan dirinya untuk anak-anak yang belum tahu, bahwa guru mereka itu, tidak pernah memikirkan mereka. Suruh buat tugas, marah-marah, beri nilai lapor. Rutinitas yang selalu diejeknya. Di sekolahnya, tidak ada nilai, lapor, atau tugas. Yang ada hanya: murid-murid Guru Hasim itu, mesti bisa mengaji, sopan kepada orang yang lebih tua, dan kepalanya diisi dengan moral. Ilmu eksak, tak begitu besar porsinya diajarkan.
Suatu siang, ia kedatangan tamu. Hasan, S. Pd. M. Pd., begitu nama yang tertulis dari papan nama dibaju dinasnya. Sudah lama tak berkabar, rupanya Hasan, temannya sesama mengajar di SDN O1 Desa Makmur, yang pernah diejeknya dulu. Sudah mewah ia sekarang. Dulu hanya punya Honda Cup keluaran tahun 70-an, sekarang ia telah bermobil mewah.
“Oh, sahabat. Ada apa gerangan kau datang ke sini?” Sambutnya ramah.
“Aku sekarang tidak lagi mengajar. Aku naik jabatan, 10 tahun yang lalu, menjadi Kepala Dinas Pendidikan. Dinas Pendidikan ingin memberikan penghargaan kepadamu sebagai salah seorang pendidik teladan. Aku selalu mengikuti sepak terjangmu, walau kau tidak pernah suka dengan caraku.”
“Ha..ha..terima kasih. Tapi aku bukan guru dari lembaga resmi pemerintah. Bagaimana alasanmu?”
“Ini bukan penghargaan untuk guru, tapi pendidik. Kau adalah keduanya, guru dan pendidik sejati. Ingin kuakui, kau adalah guru sepanjang masa, setidaknya di kampung ini.”
Guru Hasim tidak tersenyum dengan pujian itu. Ia malah masuk ke dalam lokal, dan memperbiarkan Hasan di luar sendirian. “Jangan kepadaku berikan penghargaan itu. Kalau kau mau, bantu saja aku dengan buku. Untuk murid-muridku.”
***
Anak-anak tanpa sandal berlari dengan wajah yang pucat. Sambil menangis dan ngos-ngosan. Orang-orang kaget dan bertanya, apa yang terjadi? “Guru Hasim..Guru Hasim.” Jawab anak-anak itu. Sebentar, rumah Guru Hasim yang juga menjadi tempatnya mengajar, telah ramai. Istrinya yang benar-benar sudah tua itu, tak henti-hentinya menangis.
“Bagaimana kejadiannya?” Tanya seseorang kepada anak-anak murid Guru Hasim.
“Guru..guru..Hu…hu…” anak itu malah menangis.
Ramailah orang berkunjung. Dari kawan hingga lawan. Hasan, yang baru siang kemarin bertemu dengan Guru Hasim tidak menyangka dengan kejadian itu. Tak tahan ia menitikkan air mata. Semua masyarakat melayat. Desa Makmur menangisi seorang putra terbaik mereka.
Mereka menangis, barangkali sadar dengan ucapan-ucapan guru Hasim, walau kasar, tapi baru sekarang mereka rasakan kebenarannya. Guru sejati adalah orang yang tidak mempedulikan apa yang ia terima, tapi sebanyak mungkin mampu memberi. Guru adalah orang yang tidak pernah lelah mengajar.
Ah, mereka juga menangisi, anak-anak didik Guru Hasim. Akan kemana mereka setelah itu. Sebab, mereka dididik tidak dengan cara yang selama ini diakui. Mereka dididik dengan cara Guru Hasim sendiri. Hanya ia yang tahu bagaimana mendidik. Istrinya yang sudah itu, tak pernah pula diajak atau diajarkan untuk menjadi guru yang benar. Hanya ia sendiri yang tahu bagaimana menjadi guru.
Rumah itu, setelah penguburan, akan lengang dari gelak tawa anak-anak yang sering bertanya dan Guru Hasim kadang kewalahannya menjawabnya. Rumah itu akan sepi dari canda, tawa, dan buku-buku.
Tujuh hari setelah kematian Guru Hasim, sekolah itu benar-benar sudah tutup. Sepertinya, tidak akan pernah dibuka lagi. Sebab, tonggaknya benar yang telah rubuh.
Ah, andai Guru Hasim mau menurut dari dulu, tentu rumahnya sekarang telah bagus. ia bisa pula membeli mobil. Dan kalau mau, mendirikan sekolah sendiri, setidaknya tempat les. Ilmunya bisa dicontoh banyak orang. Tapi sekarang, hanya ia sendiri yang tahu cara menjadi guru. Begitu rapat di SD 01, siang itu, mengenang kematian Guru Hasim.
Ruangsempit, Mei 2009





