Guru Hasim

Persendiannya terasa lelah. Tiba-tiba ia merasa tak berarti. Tas kulit yang menemaninya 30 tahun, dilempar tanpa iba. Ia mengantuk. Tapi matanya tak akan terpejam malam ini.

Diperbiarkan saja matahari senja masuk ke dalam ruang tamunya. Ia tak berselera bercengkrama. Ketika istrinya menghidangkan kopi, ia tak seperti biasa, menyeduhnya sampai habis. Ia ingin berteriak melepas kekesalan, di sebuah tempat yang hanya ada ia dan dirinya sendiri. Ingin diusirnya semua makhluk yang bernyawa, yang berada di depannya. Guru Hasim, tak habis

pikir istrinya, wajahnya begitu murung. Ditanya, ia bisu. Ia enggan bersuara. Di ruang tamu, ia bermenung sendiri. Seperti orang yang kehilangan sesuatu benda berharga, tapi tak pernah tahu, di mana benda itu ditaruh. Ya, benda berharga itu memang telah hilang dari dirinya: semangat seorang guru.

“Tak akan ada yang berubah Guru Hasim.” Kalimat itu menyentaknya. Masuk ke dalam nadinya menjadi pisau. Mengirisnya. Lalu ia meregang.

Kini, ia muak melihat Rosna, Saldi, Halim, Hasan, Nira, dan semua orang yang menyebut diri mereka guru. Telah berapa kali didebatnya di dalam rapat majelis guru, sudahlah, jangan terlalu peributkan masalah gaji, yang penting, bagaimana anak didik kita menjadi orang. Itu tanggung jawab kita.

“Tidak bisa Guru Hasim. Ini hak.” Disela kepala sekolah. Disoraki semua guru,

“Ya.perjuangkan.” Guru-guru itu, turun ke jalan. Menuntut haknya di jalan. Ia tak

habis pikir. Melelahkan, semua lokal, hari itu, ia yang mengajar sendirian. Namun, bukan itu yang membuatnya begitu lelah, ia hanya tak ingin meninggalkan tanggungjawabnya sebagai guru. Ia selalu ingin memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya.

Hari ini, ia telah memutuskan: berhenti menjadi guru.

***

“Jangan terlalu idealis, Pak.” Istrinya tak setuju. Murung wajahnya mendengar ucapan suami tercinta.

“Aku ini guru. Tidak pernah bisa menjadi pengusaha.”

“Aku tidak mengerti apa omongan Bapak.”

“Kau memang tidak akan pernah mengerti, istriku.”

Setelah larut malam, belum juga tenang hatinya. Dibangunkan istrinya yang sudah tidur dengan lelap. “Ada apa Pak?” Disodorkan selembar kertas yang sudah terketik dengan rapi. Nama-nama guru dengan daftar gaji. Kertas itu, tadi siang diambilnya dari ruang kepala sekolah yang pergi berdemo.

Istrinya masih tak paham, apa maksud suaminya itu. Wajah polosnya seperti memelas. Berharap segera tiba jawaban agar ia tak lagi bingung.

“Gara-gara angka itu, mereka meninggalkan murid-murid. Guru kencing berdiri, murid telah kencing berlari.”

Istrinya, yang sudah beruban itu, sepertinya masih tak paham, kemana arah pembicaraan suaminya. “Apa yang hendak Bapak perbuat? Berhenti menjadi guru? Apa Bapak mau jadi pengusaha? Begitu?”

Matanya menerawang ke loteng. Aku tak pernah memperdebatkan masalah gaji, dari dulu, ketika aku telah memutuskan untuk menjadi pendidik. Kau tahulah istriku, ini pekerjaan terpuji.

“Bagaimana..”

“Jangan kau potong pembicaraanku, istriku. Kau tidak akan pernah tahu, bagaimana perasaan seorang guru yang sebenarnya.”

Aku tak habis pikir, atau jangan-jangan karena aku tidak punya anak, sehingga aku tidak bisa membedakan diriku, sebagai guru atau seorang bapak. Aku merasa diriku hanya sebagai guru. Istrinya menunduk. Ia merasa terpojok dengan ucapan suaminya. Ah, andai ia bisa memberikan anak kepada suaminya tercinta.

Guru Hasim turun dari dipan. Diambil mesin tik tua, satu-satu miliknya yang berharga di rumah itu. “Bapak mau apa?” tanya istrinya heran.

“Aku mau membuat surat pengunduran diri.”

***

Semakin bulatlah tekadnya. Tidak di timbang-timbang lagi keputusan itu. sudah terlalu bulat. Entah kenapa, ketika datang pagi ini ke sekolah, ia muak melihat guru. Tidak menyapa kepada seorang pun. Hanya kepada murid-muridnya, ia menitipkan pesan terus belajar, walau tanpa guru.

“Kenapa kau Guru Hasim? Gaji naik, kau malah mengundurkan diri?” ujar Kepala sekolah ketika diserahkannya surat itu.

Ah, andai kepala sekolah ini tahu (ia sudah berjanji untuk diam sedari rumah), ia hanya ingin menjadi guru, tidak pengusaha yang menjadi guru. Jika pendapat ini disampaikannya di rapat majelis, ia selalu kena cemoohan. Sok idealis, muna, dan sebagainya.

“Berhenti kalian semua jadi guru.” Masih terngiang suaranya bergema sampai ke angkasa di suatu rapat siang itu. Karena siang itu, yang diperebutkan adalah hal yang tidak perlu. Kepala sekolah akan mengutus beberapa orang guru senior untuk mengikuti sertifikasi di Ibukota provinsi. Guru Hasim tidak terima, sebab, Hasan dan Nira, dua orang guru yang akan diutus tersebut, ia tahu benar siapa mereka. Di dalam benak kepala dua orang itu, yang ada hanya uang..uang…dan uang. Oh, semua guru sekarang hanya memikirkan uang..uang..uang. Tak pernah lagi mereka memikirkan muridnya dengan benar.

“Kalau kau tidak terima, ya sudah Hasim.” Suasana rapat malah bertambah panas. Sebab, tak ada yang terima dengan ucapan Guru Hasim. Bah, kata Halim, 4 tahun sekolah di IKIP, tiba-tiba disuruh berhenti menjadi guru. Mau makan apa nanti? Kita, mesti memperjuangkan nasib kita, agar pendidikan ini menjadi lebih baik. Bukankah, kalau gaji kita mencukupi, baru bisa kita berbicara profesionalisme?

Wah, tambah panas Guru Hasim. Berdiri ia dari duduk. Saya tahu, apa yang ada dalam benak kalian semua. Cuma uang..uang..dan uang. Mana pernah kalian mengajar dengan benar? Saya berani bertaruh, siapa guru yang paling dekat dengan siswa? Ha..ha.kalian itu bukan guru. Akui sajalah. Tiap sebentar rapat sertifikasilah, rapat beasiswalah. Murid-murid yang masih bau kencur itu, kalian perbiarkan belajar sendiri. Hanya saya yang tidak pernah berpikir seperti kalian.” Panjang lebar Guru Hasim berbicara, sampai berputar-putar ia di ruang majelis itu.

Kepala sekolah tahu keadaan tidak lagi kondisif. Dihentikannya rapat. Kata terakhir Guru Hasim, “Sesekali, cobalah undang saya untuk rapat kemajuan murid-murid kita, jangan hanya kesejahteraan guru.” Oh, tak ada lagi yang mendengar. Semua guru telah keluar dari ruangan.

“Ya sudah, kalau itu maumu. Besok, akan aku buatkan surat pensiun.”

“Tidak usah, Pak. Saya mengundurkan diri, tidak pensiun.”

***
Hasim merasa membuat keputusan yang sangat tepat. Sudah 20 tahun, tak pernah ia menyesali keputusan itu. Baginya, guru tetap pahlawan tanpa tanda jasa. Tugasnya adalah mendidik. Soal kesejahteraan, ia yakin, suatu hari akan datang dengan sendirinya. Setelah pendidikan maju dengan guru-guru yang benar-benar ingin mendidik, kesejahteraan akan muncul. Sama halnya, ketika ia tidak pernah memikirkan untuk mendirikan sebuah sekolah tanpa biaya yang dirintisnya sendiri. Gurunya, hanya ia sendiri. Gedungnya adalah rumahnya.

Paling penting, ia tidak pernah lagi rapat majelis. Tidak pernah berdebat tentang sertifikasi. Ia hanya mengajar, mengajar, dan mengajar. Uang sekolahnya, sumbangan beras dari murid-murid. Tak banyak memang yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah yang diberinya nama Sekolah Dasar Hasim, sebab sekolah itu tidak memiliki ijazah. Hanya orang-orang miskin, tergerak belajar, yang merelakan dirinya datang pagi-pagi, pulang sampai pukul empat sore. Malam hari, kebanyakan dari mereka, kalau tidak membantu orang tua, tidur di rumah Guru Hasim.

Ia mengorbankan dirinya untuk anak-anak yang belum tahu, bahwa guru mereka itu, tidak pernah memikirkan mereka. Suruh buat tugas, marah-marah, beri nilai lapor. Rutinitas yang selalu diejeknya. Di sekolahnya, tidak ada nilai, lapor, atau tugas. Yang ada hanya: murid-murid Guru Hasim itu, mesti bisa mengaji, sopan kepada orang yang lebih tua, dan kepalanya diisi dengan moral. Ilmu eksak, tak begitu besar porsinya diajarkan.

Suatu siang, ia kedatangan tamu. Hasan, S. Pd. M. Pd., begitu nama yang tertulis dari papan nama dibaju dinasnya. Sudah lama tak berkabar, rupanya Hasan, temannya sesama mengajar di SDN O1 Desa Makmur, yang pernah diejeknya dulu. Sudah mewah ia sekarang. Dulu hanya punya Honda Cup keluaran tahun 70-an, sekarang ia telah bermobil mewah.

“Oh, sahabat. Ada apa gerangan kau datang ke sini?” Sambutnya ramah.

“Aku sekarang tidak lagi mengajar. Aku naik jabatan, 10 tahun yang lalu, menjadi Kepala Dinas Pendidikan. Dinas Pendidikan ingin memberikan penghargaan kepadamu sebagai salah seorang pendidik teladan. Aku selalu mengikuti sepak terjangmu, walau kau tidak pernah suka dengan caraku.”

“Ha..ha..terima kasih. Tapi aku bukan guru dari lembaga resmi pemerintah. Bagaimana alasanmu?”

“Ini bukan penghargaan untuk guru, tapi pendidik. Kau adalah keduanya, guru dan pendidik sejati. Ingin kuakui, kau adalah guru sepanjang masa, setidaknya di kampung ini.”

Guru Hasim tidak tersenyum dengan pujian itu. Ia malah masuk ke dalam lokal, dan memperbiarkan Hasan di luar sendirian. “Jangan kepadaku berikan penghargaan itu. Kalau kau mau, bantu saja aku dengan buku. Untuk murid-muridku.”

***

Anak-anak tanpa sandal berlari dengan wajah yang pucat. Sambil menangis dan ngos-ngosan. Orang-orang kaget dan bertanya, apa yang terjadi? “Guru Hasim..Guru Hasim.” Jawab anak-anak itu. Sebentar, rumah Guru Hasim yang juga menjadi tempatnya mengajar, telah ramai. Istrinya yang benar-benar sudah tua itu, tak henti-hentinya menangis.

“Bagaimana kejadiannya?” Tanya seseorang kepada anak-anak murid Guru Hasim.

“Guru..guru..Hu…hu…” anak itu malah menangis.

Ramailah orang berkunjung. Dari kawan hingga lawan. Hasan, yang baru siang kemarin bertemu dengan Guru Hasim tidak menyangka dengan kejadian itu. Tak tahan ia menitikkan air mata. Semua masyarakat melayat. Desa Makmur menangisi seorang putra terbaik mereka.

Mereka menangis, barangkali sadar dengan ucapan-ucapan guru Hasim, walau kasar, tapi baru sekarang mereka rasakan kebenarannya. Guru sejati adalah orang yang tidak mempedulikan apa yang ia terima, tapi sebanyak mungkin mampu memberi. Guru adalah orang yang tidak pernah lelah mengajar.

Ah, mereka juga menangisi, anak-anak didik Guru Hasim. Akan kemana mereka setelah itu. Sebab, mereka dididik tidak dengan cara yang selama ini diakui. Mereka dididik dengan cara Guru Hasim sendiri. Hanya ia yang tahu bagaimana mendidik. Istrinya yang sudah itu, tak pernah pula diajak atau diajarkan untuk menjadi guru yang benar. Hanya ia sendiri yang tahu bagaimana menjadi guru.

Rumah itu, setelah penguburan, akan lengang dari gelak tawa anak-anak yang sering bertanya dan Guru Hasim kadang kewalahannya menjawabnya. Rumah itu akan sepi dari canda, tawa, dan buku-buku.

Tujuh hari setelah kematian Guru Hasim, sekolah itu benar-benar sudah tutup. Sepertinya, tidak akan pernah dibuka lagi. Sebab, tonggaknya benar yang telah rubuh.

Ah, andai Guru Hasim mau menurut dari dulu, tentu rumahnya sekarang telah bagus. ia bisa pula membeli mobil. Dan kalau mau, mendirikan sekolah sendiri, setidaknya tempat les. Ilmunya bisa dicontoh banyak orang. Tapi sekarang, hanya ia sendiri yang tahu cara menjadi guru. Begitu rapat di SD 01, siang itu, mengenang kematian Guru Hasim.
Ruangsempit, Mei 2009


Selanjutnya......

Fani di Depan Pintu

Bila Emak marah, Fani akan duduk di depan pintu. Itu caranya meredam emosi Emak. Biasanya, Emak akan berhenti meluapkan emosinya, lalu memeluk Fani, anak semata wayangnya itu dengan hangat.

Dihitungnya lagi dengan cermat, sampai lima kali. Hingga hitungan terakhir dengan jari-jarinya, Fani sepertinya tak menemukan cara untuk mengurangi umurnya: tiga puluh. Diulanginya lagi: tiga puluh. Dua bulan lagi, tepat ia akan merayakan ulang tahun yang ke tiga puluh satu.

Kemarin sore, Neri datang lagi ke rumahnya. Ia membawa kabar gembira, tapi bukan untuknya. “Datang ya,” sembari memberikan undangan pernikahan. Teman karibnya sedari SD itu akan memulai kisah baru bersama pasangan hidupnya. Ia kenal Uda Anton, calon suami Neri itu. Mereka memadu kasih sejak kelas tiga SMP. Cinta monyet yang berujung menjadi perkawinan. Sering bertengkar, Neri sering mengadu itu kepadanya, tapi cinta mereka tak lekang oleh perkelahian itu.

Fani mengikuti betul, bagaimana teman-temannya memadu kasih. Terakhir, kisah antara Hasim dan Sari. Hasim, petani karet yang bau badannya tak pernah jauh-jauh dari karet, gigih betul perjuangannya. Berkali-kali Sari menolak, semakin ditolak, semakin teguh keyakinannya untuk berjuang.

“Sudah saya bilang, tidak. Sampai kapanpun.” Ucapan Sari kepada Hasim, di rumahnya, suatu sore. Hasim pergi untuk kembali lagi esok harinya. Ia membawa bunga mawar sebagai lambang cinta. Belum lagi bunga itu diberikan, Sari buru-buru mengambilnya dari tangan Hasim. Lalu menginjak-injaknya. Baru sekali itu kulihat, muka Hasim merah padam. Sari sepertinya keterlaluan.

Hasim berlalu dengan malu. Kuperingatkan Sari, tak boleh memperlakukan orang seperti itu. Terima saja bunganya sebagai bentuk penghargaan terhadap jerih payahnya. Mau dibuang atau disimpan, toh Hasim tidak pernah memikirkannya. Ia hanya ingin bunga itu diterima, untung kalau disimpan.

Sari marah kepadaku. Ia bilang tak usah campuri urusannya. Orang seperti itu, pikirannya pendek. Kalau bunga itu diterima, besoknya ia akan membawa cokelat. Esoknya lagi bisa saja akan membawa bunga. Lalu, ketika setiap bawaannya diterima, ia akan membawakan cincin tunangan. “Tidak perlu dikasihani,” katanya kepadaku.
Cinta memang tak pernah bisa dipikir. Masih jelas ucapan Sari terngiang-ngiang, dua bulan setelah kejadian itu, sebuah undangan terletak di atas meja. Aku sempat tak mengira ini nyata, tapi begitulah yang tertulis di kertas undangan itu: Sari dan Hasim akan menikah.

Sari, Neri, Pipit, Santi, dan Suci, teman karib sepetiduran waktu libur tiba ketika SMA dulu. Semuanya telah menikah. Paling cepat Suci. Belum lagi tamat SMA, sudah ada yang meminangnya. Seperti menghitung umurnya, dilihatnya lagi foto teman-temannya waktu liburan di Lubuk Jantan, kembali ia harus dihentakkan kesadaran, tinggal ia sendiri yang belum berumah tangga. Ya, hanya ia. Sampai tertidur, tak juga ditemukannya, barang satu orang pun teman-temannya yang belum menikah.

***

Umur 30, bagi Fani sangat tidak menyenangkan. Ia gusar. Keluar rumah malu. Orang-orang memandang sinis. Terlebih, ibu-ibu. “Perawan tua,” kata mereka yang membuat Fani tak habis pikir, sebab, kehidupannya adalah caranya sendiri. Menikah pun, pilihannya, lama atau cepat, hanya masalah waktu.

Ia tidak bisa selalu menghibur diri dengan prinsipnya. Sebab Emak, pun mendesaknya. Ah, ingin didebatnya Emak. Tapi ia sudah muak bertengkar, hampir tiap hari. Sebulan yang lalu, ada lelaki yang akan meminangnya. Namanya Budiono, orang Jawa yang bekerja di perkebunan. Ia seorang teknisi lapangan. Memiliki satu buah honda bebek. Paras mukanya biasa saja, agak kehitam-hitaman.

Saat itu, ia ingin mengakhiri kisah pilunya. Agar tak ada lagi yang menertawakan. Soal paras dan harta, baginya tak lagi penting. Bayangannya akan lelaki gagah, kaya, dan seperti bintang film, seperti gunjingan waktu SMA dulu, tak lagi dihiraukan. Ia tak ingin lagi bertengkar dengan Emak.

Ia telah menyatakan kesetujuannya di depan Budiono. Tapi Emak marah setelah budino pergi. Emak tidak ingin mendapatkan menantu orang luar. Apalagi yang tidak punya suku¹. Emak berharap, menantunya adalah orang sekampung saja. Alasannya sederhana, kalau terjadi apa-apa pada pernikahanku, misalkan suamiku selingkuh, ia bisa menuntut. Kalau bersuami orang luar, kemana akan dicari kalau terjadi pertengkaran yang berujung perceraian?

Emak menyamakan dengan pernikahannya yang kandas. Orang Jawa juga. Emak cemburu, ia mendapati sapu tangan Bapak ada lipstik perempuan ketika akan mencucinya. Ia masih ingat betul, Emak marah-marah di depannya. Esok paginya, Bapak pergi, dan tak ada yang tahu. Sampai kini, tak pernah Bapak berkabar.

Pernah juga, Emak mencarikanku jodoh. Bisannya. Oh, bukan aku tidak mau. Emak sebenarnya tahu, bisanku itu ringan tangan. Di kampung, berkelahi saja kerjanya. Apakah Emak tidak iba anaknya dipukul oleh lelaki yang pacakak itu? Jelas aku menolak mentah-mentah. Tak kuhiraukan Emak marah.

***

“Jangan duduk juga di depan pintu,” berkali-kali Emak memperingatkan itu. Tidak bisa diubah Mak, di depan pintu ini, aku bisa melepas hati karena Emak marah. Tak benar itu, mitos orang-orang tua kita yang bilang, kalau duduk di depan pintu, sulit mendapatkan jodoh. Jangan samakan dengan keadaanku sekarang. Ini hanya perihal waktu saja.

Sedari kecil, Emak sering menakut-nakutiku dengan hal-hal yang tidak masuk akal. “Jangan main jauh-jauh. Di depan ada orang yang akan memenggal kepala anak-anak untuk pondasi jembatan.” Emak menunjuk orang-orang berpakain kuning dengan helm kuning pula. Aku jadi takut, dan tak jadi main keluar rumah.

Ketika SMA aku baru sadar, ternyata yang dibilang Emak bukan orang yang akan memenggal kepala anak-anak, tetapi pekerja proyek yang sedang bertugas. Ah, Emak mengada-ada. Anak gadis tidak boleh pulang larut malam. Sulit pula mendapatkan jodoh.
Aku sudah terlalu malas bicara petuah-petuah tak masuk akal. Menggunting kuku disenja hari, tidak boleh. Lunak daging, katanya. Tidak kita yang berbuat, dituduh juga oleh orang lain. Siang hari, aku tak sempat menggunting kuku. Sibuk bermain dengan teman-teman. Hanya ini waktuku untuk membersihkan diri.

Menjahit baju di malam hari, juga tak boleh. Ada-ada saja. Katanya, kita mudah terkena sial. Apa pula hubungannya? Keluar akal.

Aku tak terima, duduk di depan pintu, bisa menjauhi jodoh. Terlalu jauh jaraknya jika ingin dipertemukan. Aku bukannya sulit mendapatkan jodoh. Hanya, setiap yang kudapat, Emak tak pernah bersetuju. Jodoh yang diberikannya padaku, tak cocok dengan seleraku. Aku kadang berpikiran buruk, jangan-jangan Emak sengaja membuat keadaan seperti ini. Tapi tak mungkin, aku anaknya. Ia pasti menginginkan yang terbaik. Sering aku mengalah dengan alasan itu.

Kalau Emak sudah marah, aku duduk lagi di depan pintu, seperti waktu-waktu yang lalu. Di sini, aku bisa bebas memandang orang-orang yang tak marah seperti Emak. Tapi hari ini Emak agak kasar. Biasanya ia hanya melarang, dan berucap mitos-mitos lama untuk menakutiku.

“Masuk, Maaasuuuukkk,” merah padam muka Emak. Belum pernah ia kulihat semarah itu, dari kecil.

Di umurku yang ke-30, tak pantaslah aku menerima sumpah serapah. Toh, aku sudah bekerja dan mampu menghidupi hidupku sendiri. Walau tak memadai menjadi guru honor, tapi untuk biaya hidupku sendiri, rasanya cukuplah. Tak perlu Emak berkasar-kasar seperti ini.

“Satu bulan lagi, waktumu. Kau harus mendapatkan jodoh. Emak sayang padamu. Tak tega Emak kamu dipergunjingkan ibu-ibu. Sudahlah, tidak usah memilih. Umurmu sudah terlalu tua sebagai wanita. Hanya satu permintaan Emak, harus orang punya suku, menantuku.”
Hatiku terlanjur beku untuk mengiyakan kata-kata Emak. Sekali ini, keterlaluan marahnya. Aku tak terima. Berlari lagi aku ke pintu, duduk di sana sambil menangis.

“Fani…” tegur Emak. Jangan duduk juga di depan pintu. Malu dilihat orang-orang yang lewat.

“Karena aku belum mendapatkan jodohkan, Mak?” sergahku memberanikan diri. Bukan melawan, hanya mempertanyakan alasannya tak memperbolehkan aku duduk di situ. Anak gadis (kadang aku malu bila Emak menyebut dengan panggilan itu) adalah penjaga rumah. Duduknya tidak di pintu, tapi di ruang tamu. Dalam hukum adat, perempuan yang duduk di pintu, selain tidak elok dipandang, juga sulit mendapatkan jodoh.

Apakah nama itu benar atau tidak, tapi Emak selalu menyebutnya bila aku duduk lagi di depan pintu seperti sekarang. Suru, sekarang telah meninggal, tidak pernah menikah sampai ia mengehembuskan nafas terakhir. Kau tahu? Gara-gara ia selalu duduk di depan pintu. Lelaki tidak mau mendapatkan jodoh gadis yang suka duduk di depan pintu.
Seperti berceramah, Emak berkhutbah. Dimata lelaki, gadis yang duduk di depan pintu adalah pemalas, tidak pandai merawat anak, sedikit masalah di rumah tangga, langsung cerai, karena memang gadis itu pikirannya sangat pendek.

Aku tak menemukan diriku pada apa yang dikatakan Emak. Tapi aku lelah membantahnya.

***

“Saya ingin melamar anak Ibu.” Seorang lelaki didampingi orang tuanya barangkali, membuka cerita sore ini. Sumringah wajah Emak kulihat. Tapi aku sengaja tak menghampirinya. Aku dengarkan saja dari jauh perbincangan Emak.
“Dari suku mana?” Biasa, Emak selalu memulai pertanyaan dengan itu. Aku kira, ini tak akan berakhir indah.

“Pitopang. Mamak saya Datuk Paduko Rajo,” ujarnya yakin.

Emak tercengang. Apa yang dinantinya telah datang. Tamu dari jauh, yang seharusnya datang pada umurku yang ke-25. Tapi tak apalah, walau terlambat, yang penting ia tak menghilang. “Fani, ambilkan air minum. Ada tamu.”

Aku datang dari belakang dengan nampan di tangan. Aku malu-malu. Masih ada, lelaki yang menerima perempuan setua ini. Itu kebanggaanku sore ini. “Sungguh kau ingin meminang anakku?”

Ia mengangguk. “Bagaimana Fani?” Emak berpaling kepadaku. Oh, aku malu-malu lagi. Sambil menunduk, sedikit tersenyum, aku masuk ke dalam kamar. Lelaki itu gagah, kuning langsat, dan matanya sedikit sayu.

Mereka pamit. Emak memelukku. Akhirnya aku bermenantu juga, kata Emak riang. Terbayang di wajahnya akan menggendong seorang cucu yang mungil. Melewati rumah ibu-ibu yang menertawakan anaknya. Sabarlah, tinggal mencari hari baik.

***

Bukan hari baik, tapi kabar buruk. Begitu kejadian yang secara tiba-tiba, dan tak sempat dicerna Emak, juga olehku. Jarak waktu setengah jam, semuanya berubah.
Lelaki yang memperkenalkan dirinya bernama Rudi, kini berada di ruang jenazah di salah satu rumah sakit di ibu kota kecamatan. Sepeda motornya ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil kijang yang melaju kencang. Ini cerita dari orang-orang yang tahu, barangkali hanya mendengar. Yang jelas, ia dan orang tuanya, tergilas. Ngeri aku membayangkan. Oh, baru saja harapan itu ada.

Emak, perangainya terhadapku langsung berubah mendengar kejadian itu. mitos-mitos kembali terlontar, yang berujung pertengkaran denganku. “Matanya itu sayu. Sayut-sayut sampai. Orang yang bermata sayu, umurnya tak panjang,” kata Emak. Aku tak menghiraukan kata-kata Emak sampai ia menyerangku dengan hal-hal yang tak masuk akal, yang lain.

“Kamu mesti di pabingkean² segera,” ujar Emak berlalu.

Ruangsempit, Mei 2009

¹ = di Minangkabau, orang yang sesuku disatukan dengan jalinan tali darah. Sifatnya turun temurun.
²= semacam doa tolak bala, dengan mengundang orang-orang datang ke rumah. Lalu mendoakan agar sialnya bisa hilang.

Selanjutnya......