KETIKA Marlis mengajak anaknya nonton randai, sang anak bertanya, “Apaan sih asyiknya?” Marlis tidak menjawab. Ia menceritakan sekilas saja, bahwa randai itu kesenian tradisional Minang, yang menarik untuk ditonton. Sang anak akhirnya ikut. Ketika pertunjukan dimulai, sang anak yang baru kelas I SMA itu, mencoba memperhatikan dengan serius. Setelah itu, ia asyik mengirim dan menerima sms dari temannya. Setengah jalan pertunjukan randai, ia bilang, “Yah, pulang yuk!”
Kemudian, di tempat lain, pada sebuah rumah, seorang perempuan berusia 60-an, menyalakan televisi. Ada acara saluang di televisi lokal. Tapi, ketika itu anak dan cucunya minjam remot, dan mengalihkan ke acara musik di televisi swasta nasional. Sang nenek marah, “Sini, sini remot itu. Kalian saja yang nonton….” Sang cucu merengut pergi, sembari bergumam lambat, “Kolot!” Ilustrasi di atas, sebuah gambaran sederhana, yang ada di tengah masyarakat kita. Pertunjukan seni tradisi, lengang penonton. Beberapa di antaranya, untuk seremoni pejabat pemerintah, setidaknya untuk penjawab tanya dan bahan pidato, kalau kita tetap mencintai kesenian tradisi kita.
Marliani, mengakui, memang dia tak pernah punya keinginan khusus untuk menonton pertunjukan seni tradisi. Dulu, waktu masih kecil (kini dia berusia 47 tahun), kalau ada tetangga baralek, biasanya mengundang rabab atau saluang. Dia melihat banyak orang menikmati. Kini, kalau ada usulan baralek mengundang rabab atau saluang, banyak yang mematahkan. Diganti organ tunggal. Tak ada nilai budaya di situ. Kini, kalaupun ada orang barabab atau saluang, ia mengaku jujur, tidak pernah menyarankan anaknya untuk nonton dan kenal. “Wajar kalau seniman tradisi dan pertunjukan kesenian tradisi semakin hari, kian jarang kita lihat….”
Banyak di antara kita lebih memilih nonton tayangan konser atau sinetron jika dibandingkan dengan acara seni tradisi minangkabau. Jojo (24), misalnya, dia mengatakan bahwa konser dan sinetron lebih mengasyikan. Kemudian ia menyebutkan alasan bahwa ia tidak tertarik pada seni tradisi kerena memang tidak diajarkan untuk tertarik.
”Bagaimana bisa tertarik kalau di jam sekolah mata pelajaran kesenian tradisi hanya jadi ban serap pelajaran lainnya,” ujarnya. Selain itu dalam sekolah cara menyampaikan pelajaran seni tradisi itu juga tidak menarik. Tak ada yang membuatnya terkesan, lantaran pengajarnya tak kalah kurang mengerti tentang apa yang diajarkannya. Ia tidak menyangkal bahwa ketidakpahamannya ini membuatnya berjarak dengan tradisi itu sendiri. Walaupun terlibat dengan beberapa aktivitas seni pertunjukan tradisi, ia masih saja tidak ada keinginan untuk menggali lebih dalam lagi. Keterlibatan yang terjalin juga lantaran ia memainkan kesenian tradisi yang telah terhybrid dengan aransemen modern.
Fenomena yang sama juga diungkap Heri Faisal (20), yang kurang tahu dengan seni tradisi, tapi ia senang sesekali menontonnya. Baginya ada sesuatu yang baru ketika menonton seni tradisi, misalnya tabuik. Tetap saja bila diberi pilihan menonton musik kontemporer atau musik tradisi, Heri lebih suka menonton musik kontemporer di televisi dari pada tayangan yang bebau seni tradisi. Sebab baginya musik kontemprer lebih variatif, dan mengasyikkan.
Warti (30), ibu dua anak ini menyebut seni tradisi sebagai seni yang berhubungan dengan nuansa tradisional. Karena ia sendiri tidak diberikan pengetahuan dan pengalaman tentang seni tradisi, ia juga tidak terlalu memberikan anaknya pengetahuan tentang seni tradisi. Kalau di suruh untuk menonton seni tradisi atau sinetron, maka ia akan memilih menonton sinetron. Ia tidak memiliki banyak pengetahuan tentang seni tradisi, itu akibatnya ia tidak merindukannya. Begitu pula dengan Devi (27), karyawan swasta ini berpendapat seni tradisi adalah seni masa lalu. Ia lebih suka menyaksikan konser dari pada harus menonton tayangan seni tradisi. Ia tidak tertarik pada seni tradisi karena tidak diajarkan bagaimana untuk mencintai seni tradisi. Waktu di sekolah dulu ia hanya mendapatkan seni tradisi sebagai sebuah mata pelajaran tambahan namun dianggap tidak penting.
Melihat keadaan yang demikian, wajar kiranya seni tradisi semakin meredup dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Hasannadi, dosen dan peneliti budaya Minangkabau, mendasarkan ini pada kebutuhan masyarakat akan seni tradisi tersebut. Di mana bagi masyarakat sekarang menonton atau mempelajari seni tradisi bukan lagi sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan akan hiburan ini bergeser pada seni-seni alternatif atau kontemporer, meski, pada orang tua-tua, kerinduan terhadap seni tradisi ini masih muncul.
Namun, persoalan pelik pada generasi muda menyangkut identitas. Bahwa, identitas ditentukan oleh hal-hal prestisius yang disuguhkan kepada masyarakat. “Selain itu, proses pewarisan seni tradisi yang tidak diiringi dengan transformasi nilai-nilai, serta kepercayaan diri pewaris dalam menghadapi tantangan hidup berkesenian,” tutur Hasannadi. Melanjutkan penjelasan Hasannadi, Tulus Handra Kadir, dosen Sendratasik UNP, mengatakan,” Terlalu cepat kalau kita mengatakan bahwa seni tradisi itu tidak dipedulikan lagi oleh generasi sekarang. Untuk saat ini masih ada orang yang minat masuk sanggar, bersekolah di sekolah atau universitas seni.
Permasalahannya yang mungkin ada adalah bahwa apresiasi terhadap seni tradisi itu belum sampai pada generasi sekarang, sehingga generasi mencerna sendiri apa yang dia lihat, apa yang mereka pahami. Sebagian dari mereka tidak begitu paham dengan esensi-esensinya. Sehingga dia hanya melihat bahwa seni itu hanya sebagai hiburan.”
Nilai-nilai seni tradisi selama ini tidak teraktualisasikan sehingga tak dipahami akan arti pentingnya kesenian tesebut. Ada permasalahan yang krusial, apalagi jika permasalahan itu dikaitkan dengan proses pendidikan. Nilai-nilai yang mungkin dahulu pernah ada dalam kesenian pendahulunya, sekarang mungkin tidak terasa lagi. Orang dahulu kesenian adalah bagian dari kehidupannya. Mungkin tidak terjadi lagi pada generasi saat ini. ”Sekarang esensi itu sudah lain karena sebagian besar nilai sudah diambil alih oleh sistem pendidikan formal. Sehingga apa yang tersisa? Ya, yang tersisa aspek hiburannya saja. Bukan esensi dari seni tradisional itu. Sehinga yang diperlukan itu adalah pewarisan dengan pemahaman esensi seni tradisi itu,” sambung Tulus.
Sementara itu, dicabutnya kebudayaan dan kesenian dari departemen pendidikan ke departemen pariwisata saat ini akan sangat mempengaruhi perubahan cara generasi muda dalam melihat kesenian tradisi ke depan, yakni negara telah merubah kebijakan status kesenian menjadi barang yang bisa diperdagangkan, aset yang bisa dijual kepada turis. Kalau dulu kesenian adalah bagian dari budaya untuk membina bangsa, di bawah naungan pendidikan. Kondisi inilah yang akan membentuk cara generasi melihat seni tradisi. Jadi, lagi-lagi pendidikan adalah aspek yang paling krusial dalam membentuk pemahaman yang ideal tentang seni tradisi di ranah Minang.
Menyoal siapa pewarisnya, sebenarnya pewaris seni tradisi itu tidak akan pernah hilang, ia mungkin hanya menemukan bentuk baru, dengan merujuk dari bentuk yang lama. ”Namanya ivented tradition. Memang, mungkin seni tradisi itu hanya seperti sebuah penanda identitas, simbol kedaerahan untuk selanjutnya. Bukan pemahaman substansionalnya. Tapi inilah kenyataan seni tradisi di Minang kabau. Sakali aie gadang, sakali tapian barubah. Seni tradisi diminang juga seperti itu.
Karena faktor sosiokulturalnya yang membentuk arah dan orientasi seni tradisi tersebut,” papar Tulus lagi, dengan mencontohkan alat musik talempong. Saat ini orang memainkan seni yang secara fisiknya saja, bukan secara esensinya lagi. Namun kondisi ini bukanlah kesalahan mereka karena mereka tidak mengalaminya lagi konteks talempong yang dulunya adalah sebuah pamenan masyarakat agraris Minang setelah panen. Seiring dengan itu, budayawan Bagindo Fahmi berpendapat, “memasukkan unsur modern itu bagus, tapi kalau tidak memiliki pengertian yang jelas tentang modern itu, inilah nantinya yang akan menyebabkan kehancuran pada nilai-nilai tradisi yang ada.”
Beberapa langkah ideal bisa dilakukan agar seni tradisi diminati dan dipahami nilai dan maknanya. Seperti yang ditawarkan Aldi, mahasiswa STSI Padangpanjang, “Membangkitkan kembali selera seni tradisi dalam masyarakat Minangkabau, itu semangat yang mesti kita usung. Wujudnya bisa saja dengan menggalakkan atau mengadakan pertunjukan rutin untuk membangkitkan semangat itu. Serta merevitalisasi kampung-kampung yang menjadi basis seni tradisi.”
Demikian juga dengan Bagindo Fahmi, pekan budaya yang diadakan Dinas Pariwisata dengan UPTD Taman Budaya Sumbar tiap tahun, sebenarnya menjadi lahan yang ideal untuk membangkitkan semangat berkesenian daerah. Namun, ini belum berjalan sebagaimana mestinya. “Hendaknya pekan budaya menghadirkan seluruh budaya daerah yang ada di Sumbar, kemudian adakan diskusi di antara pelaku seni tradisi itu, bagaimana kita memelihara seni tradisi ini agar tetap bertahan.”
Sementara itu, Hasannadi lebih menekankan pada upaya mengaktifkan peran unsur masyarakat nagari. “Peran elit nagari seperti ninik mamak dan unsur lainnya sangat dibutuhkan dalam menumbuhkembangkan seni tradisi di nagarinya. Sebab, mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di masyarakat dan diikuti.”
Walau bagaimanapun, kelangsungan hidup seni tradisi tetap menjadi tanggung jawab bersama. Sejatinya, peran semua unsur menjadi bagian yang tak terelakkan. Mari berbenah. (Gusriyono/Andika Destika Khagen/Fadli Akbar)
f: ruangfoto.com
Padang Ekspres, 14 Juni 2009
Selanjutnya......