Perpustakaan Penghubung Kebudayaan

DI NEGARA maju, perpustakaan sangat penting keberadaannya. Ia melambangkan sebuah peradaban, juga jadi pembeda antara bangsa maju dan terbelakang.

Bagi Ardoni Yonas, yang sehari-hari dosen Ilmu Perpustakaan dan Kearsipan (IIPK) Universitas Negeri Padang (UNP), bangsa yang maju adalah bangsa yang mementingkan perpustakaan. Di sana (perpustakaan—red), tak hanya ada ilmu, tapi juga tersimpan kekayaan-kekayaan budaya.

Ketika gempa yang melanda Sumatera Barat dan sekitarnya, yang turut menghancurkan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah yang tergolong koleksinya lengkap (Tipe A), Ardoni tak bisa menyimpan kegundahannya.

“Orang akan kehilangan informasi yang sahih,” tuturnya. Internet sebenarnya bisa menjadi sumber informasi, namun tak dapat dijadikan pegangan. Psikologinya, kata Ardoni, orang lebih nyaman memegang buku. Bisa dilihat di mana saja, dan dapat dibawa kemana-mana. Buku juga telah teruji kesahihannya. Internet sebaliknya, dan tak bisa disensor. Internet hanya berfungsi sekedar menambah wawasan, bukan pengetahuan.

Begitu pentingnya perpustakaan, Ardoni Yonas membandingkannya apa yang diperbuat orang di negara-negara maju. Mc Gafer, salah seorang detektif yang terkenal di Eropa, ketika memecahkan suatu masalah, tempat pertama yang ditujunya adalah perpustakaan. Di sana, ia membaca banyak hal. Sampai akhirnya ia bisa membuat sebuah kesimpulan dan melanjutkan tugasnya. Keluar dari perpustakaan, ia telah bisa menentukan sikap: apa yang akan diperbuat.

Di Cina, negara yang beraliansi komunis, pada tahun 90-an bersidang untuk membahas arti penting perpustakaan. Disadari oleh semua anggota sidang, “Tanpa ilmu, ekonomi akan hancur.” Maka, dalam pembangunannya, Cina ‘doyan’ melengkapi perpustakaannya.
Negara yang menyadari guna buku dan perpustakaan, lanjut Ardoni, mereka berlomba-lomba untuk membuat perpustakaan dan melengkapi koleksi bukunya. Begitu pentingnya sebuah buku, setiap terjadi peperangan di Irak, katanya, yang diserang adalah perpustakaannya.

Ardoni kembali bersedih mengingat Perpustakaan Daerah yang telah hancur. Pikirannya menerawang.

Penghubung Kebudayaan

Indonesia tak lah seperti bangsa maju. Minat baca sangat rendah. Itu juga berlaku bagi masyarakat Sumatera Barat (Sumbar). Masyarakat belum terlalu butuh perpustakaan. Budaya lisan begitu kentara.

Namun, bukan itu yang membuat Ardoni menerawang. Yang ia takutkan adalah, bahwa isi perpustakaan tak hanya buku. Di sana juga tempat tersimpannya aset kebudayaan. Perpustakaan adalah penghubung kebadayaan itu sendiri. 20 tahun yang akan datang, orang mungkin telah lupa dengan randai atau rabab. Tapi, perpustakaan tak akan pernah melupakannya. Di sana masih tersimpan arsip tertulisnya yang bisa dipelajari oleh generasi mendatang.

Yang akan terjadi adalah, orang-orang akan salah paham dengan sejarah. Kalau tidak punya arsip tertulis, hal ini memungkinkan terjadi.

“Ini yang ditakutkan, kebudayaan itu akan terputus,” lanjutnya sambil mengisap dalam-dalam rokok mildnya yang hampir habis.

Gedung yang hancur, baginya tidaklah terlalu dipermasalahkan. Gedung bisa dibangun dalam waktu yang cepat, tapi kebudayaan tak bisa dibangun linear dengan pembangunan fisik. Tapi apa yang akan terjadi, jika kita tidak punya lagi arsip lisan tentang sejarah Minangkabau?

Sebab, tutur Ardoni yang sedang sekarang sedang memikirkan untuk melanjutkan studi doktornya itu, pengelolaan perpustakaan di negara ini jauh dari kondisi sempurna. Ini yang akan membuat lambat pembangunan gudang ilmu pengetahuan tersebut.

Selama ini, lanjut Ardoni, kita memang belum peduli dengan pustaka. Beberapa hal menjadi indikator. Pertama, tuturnya, perpustakaan bergantung kepada pimpinan, tidak oleh profesional. Ia menyebut ada perpustakaan di daerah ini yang dibangun di tempat yang sepi, jauh dari keramaian. “La..siapa yang akan membaca?” Ketergantungan terhadap pimpinan, membuat perpustakaan tak terlalu dipedulikan. Sebab, pemegang kekuasaan masih terlalu memikirkan masalah ekonomi.

“Lihatlah buku-buku yang tersimpan di perpustakaan kita,” lanjutnya. Banyak buku bermutu hanya ada dalam bahasa Inggris. Ini berbeda dari apa yang terjadi di Jepang. Mereka di sana, mengutus masyarakatnya belajar bahasa Inggris ke luar. Balik ke Jepang, mereka disuruh untuk translet buku-buku yang ada di perpustakaan ke dalam bahasa Jepang.

Minat baca masyarakat yang rendah butuh tenaga yang besar pula untuk mengelolanya. Lihatlah di perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indonesia ini, lanjutnya, tenaga pengelolanya sangat sedikit sekali. Ditambah, jarang yang cakap terhadap urusan tersebut. Untuk membangun perpustakaan, memang butuh tenaga yang sangat besar.
Karenanya, Ardoni kuatir, tali kebudayaan itu benar-benar putus.

Perpustakaan di Daerah Rawan Gempa

Perpustakaan itu isinya buku. Kalau satu buku, itu tidaklah berat. Bila jumlahnya sampai seratus atau ribuan, itu tak bisa dianggap ringan. Dalam membangun perpustakaan, itu penting menjadi pertimbangan. Apalagi di daerah yang rawan bencana.

Ardoni yang telah berkunjung ke banyak perpustakaan di Indonesia ini, dalam pengamatannya, jarang perpustakaan yang dibangun tinggi.
“Biasanya lebar,” tuturnya.

Hal yang menjadi pertimbangan adalah, dalam membaca, orang butuh kenyamanan. Jarak antara buku dengan orang, semestinya agak berjauhan. Makanya, perpustakaan yang ideal juga memperhatikan pembangunan gedung.

Perpustakaan yang dibangun lebar, bagi Ardoni, cocok untuk membangun perpustakaan kembali di Sumbar ini. “Jangan memikirkan berapa lahan tanah yang akan digunakan. Tapi bagaimana memikirkan menyelamatkan aset bangsa ini,” tutupnya. (Andika Destika Khagen)

Selanjutnya......