EKI, Mengumpulkan Kekayaan Bahasa
Judul buku : Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia
Penyusun : Dewan Redaksi Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia
Pemimpin Redaksi : Hasanudin WS, Prof. Dr., M.Hum.
Penerbit : Angkasa Bandung
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 1.370 halaman
DIBANDINGKAN penerbitan novel, ensiklopedi terbilang jarang diterbitkan di Indonesia. Semua yang terjadi seperti berlalu begitu saja, tanpa ada yang mencatatnya. Ensiklopedi sebenarnya berfungsi untuk mencatat setiap perkembangan tersebut, dalam segala bidang.
Di bidang kebahasaan, pun seperti itu. Ketika Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia (EKI) diperkenalkan di Inna Muara, Juni lalu, ditegaskan bahwa ini adalah ensiklopedi bidang kebahasaan yang pertama kali hadir. Padahal, permasalahan kebahasaan di Negara kita, terus mengalami rintangan. Sejak pertama kali bahasa Indonesia dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928 lalu, bahasa Indonesia terus mencari jati dirinya. Namun, semakin dicari, semakin banyak saja aral dan rintangan yang menghadang.
Sebut saja media cetak, televisi, atau radio yang berbahasa seenak gue. Cita-cita luhur bahasa, budaya yang dibawanya, seperti tertimbun arus modernitas. Kekuatiran kita, selain masalah perpecahan bangsa, juga masalah bahasa.
Pakar Kebahasaan, Dendy Sugono mengatakan, dalam hubungan dengan kehidupan masyarakat, bahasa Indonesia telah terjadi berbagai perubahan, terutama yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, khususnya teknologi informasi. Kondisi ini telah menempatkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, pada posisi strategis yang memungkinkan bahasa itu memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa dan mempengaruhi pekembangan bahasa Indonesia. Gejala munculnya penggunaan bahasa asing di pertemuan-pertemuan resmi dan di media-media (elektronik atau cetak) di tempat-tempat umum menunjukkan perubahan perilaku masyarakat tersebut.
Acara-acara di televisi, walaupun isinya berbahasa Indonesia, tapi kebanyakan judulnya berbahasa asing. Hal ini menyiratkan ketidakpercayaan diri terhadap bahasa Indonesia. Selain itu, nama-nama tempat umum seperti mal, rumah sakit, dan gedung-gedung bertingkat juga lebih banyak menggunakan bahasa asing seperti penggunaan kata square, trade centre, atau residence. Ada anggapan kalau menggunakan bahasa asing dapat lebih menunjukkan gengsi daripada berbahasa Indonesia. Bahkan ada pula yang mengatakan, dengan bahasa asing maka akan memperlihatkan kecendikiaan seseorang.
Selain bahasa asing, penggunaan bahasa daerah khususnya bahasa Melayu Jakarta dan bahasa ‘gaul’ telah mewarnai penggunaan bahasa Indonesia lisan. Bahkan, bahasa iklan sangat diwarnai oleh penggunaan bahasa daerah tersebut. Sebut saja radio sebagai media elektronik yang banyak mengandalkan lisan dalam interaksinya, turut menyumbangkan perilaku berbahasa yang salah. Terutama radio yang sasarannya khusus untuk kaum muda yang memang banyak diminati.
Ya, tiap detik dengan mudah kita mendengarkan bahasa buruk. Gue banget, thank you banget, ya!, eh, jangan ngomongin aib pacarnya dia, dan sebagainya. Semakin lama, semakin banyak orang yang berbahasa Indonesia seenaknya, tidak mengindahkan norma atau aturan berbahasa yang berlaku resmi.
Bila dibentang lagi, permasalahan bahasa ini sepertinya tak terputus. Saya kira, permasalahan bahasa kita, selain masalah bahasa itu sendiri, juga masalah penuturnya seperti yang diuraikan di atas.
Namun, apakah kita tinggal diam dengan kondisi yang seperti ini? Setidaknya, kita masih punya ‘hutang’ untuk mempertahankan bahasa Indonesia sebagai amanat tahun 1928 lalu, yang telah menyatukan Indonesia melalui bahasa.
EKI yang disusun oleh Hasanuddin WS dibantu beberapa orang penyelia, saya kira adalah menyusun kembali kekayaan bahasa, tidak hanya di Indonesia, lebih luas bersifat global. Ia berbicara tentang persoalan bahasa dalam ruang lingkup yang lebih global dan majemuk. Lihat saja, tata bahasa dalam bahasa Inggris mendapat tempat dalam EKI. Berbagai macam aksara seperti aksara rencong, aksara pegon, atau aksara Jawa. Aksara ini bersanding dengan aksara yang lahir di luar negeri seperti aksara Han’gul dari Korea Selatan, aksara Brahmi dari India Kuno, termasuk juga aksara arab.
Entri yang terhimpun dan dijelaskan secara keseluruhan berkaitan dengan masalah kebahasaan bahasa Indonesia yang dapat dikategorikan pada tiga kelompok yaitu: istilah kebahasaan, tokoh ahli bahasa, dan karya kebahasaan. Untuk penyusunan, entri-entri dalam EKI disusun berdasarkan urutan abjad, entri demi entri, dan buku demi buku. Panjang dan pendeknya entri tidak sama untuk setiap entri. Entri yang memerlukan penjelasan lebih rinci mendapat perhatian yang lebih khusus untuk diuraikan. Istilah entri sendiri dimaksudkan topik atau judul atau hal yang dijelaskan dan diuraikan dalam ensiklopedi.
Dengan kehadiran EKI di tengah masyarakat yang ‘tidak peduli’ dengan bahasa, barangkali demikian tantangannya ke depan. Tapi setidaknya, EKI akan mencari tempatnya tersendiri untuk dimanfaatkan.
Tapi, bahasa sebagaimana dunia ini, terus mengalami perubahan. Dalam waktu yang sangat cepat, dalam bidang bahasa, pun akan mengalaminya. Artinya, dua atau tiga tahun mendatang, akan banyak istilah-istilah ataupun tokoh-tokoh kebahasaan yang hadir, lahir, terus berkembang. Istilah lama barangkali tidak lagi dipergunakan pemakainya. Namun, seperti kamus, kehadiran EKI akan mencatat dengan jelas setiap kelahiran tersebut. Ia akan menjadi semacam dokumentasi yang tidak dibawa oleh arus perubahan. EKI akan turut serta mengikuti perubahan itu sendiri, dalam edisi revisinya.
Harapan yang jelas adalah, bagaimana EKI bisa memberikan pengetahuan kepada semua orang—tidak hanya para linguis—untuk diambil saripatinya.




