<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137</id><updated>2009-11-07T07:25:07.212-08:00</updated><title type='text'>Tawa Lepas</title><subtitle type='html'>kabar dari dalam jiwa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>68</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-323700440097017072</id><published>2009-10-31T10:49:00.000-07:00</published><updated>2009-10-31T10:57:33.390-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>EKI, Mengumpulkan Kekayaan Bahasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sux5vjbUdnI/AAAAAAAAARQ/hEfGubVMu54/s1600-h/eki+baru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 148px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sux5vjbUdnI/AAAAAAAAARQ/hEfGubVMu54/s200/eki+baru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398823911181022834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul buku                    : Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia&lt;br /&gt;Penyusun                     : Dewan Redaksi Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi    : Hasanudin WS, Prof. Dr., M.Hum.&lt;br /&gt;Penerbit                       : Angkasa Bandung&lt;br /&gt;Cetakan                                : Pertama, 2009&lt;br /&gt;Tebal                             : 1.370 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DIBANDINGKAN&lt;/span&gt; penerbitan novel, ensiklopedi terbilang jarang diterbitkan di Indonesia.  Semua yang terjadi seperti berlalu begitu saja, tanpa ada yang mencatatnya. Ensiklopedi sebenarnya berfungsi untuk mencatat setiap perkembangan tersebut, dalam segala bidang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di bidang kebahasaan, pun seperti itu. Ketika Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia (EKI) diperkenalkan di Inna Muara, Juni lalu, ditegaskan bahwa ini adalah ensiklopedi bidang kebahasaan yang pertama kali hadir. Padahal, permasalahan kebahasaan di Negara kita, terus mengalami rintangan. Sejak pertama kali bahasa Indonesia dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928 lalu, bahasa Indonesia terus mencari jati dirinya. Namun, semakin dicari, semakin banyak saja aral dan rintangan yang menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja media cetak, televisi, atau radio yang berbahasa seenak gue. Cita-cita luhur bahasa, budaya yang dibawanya, seperti tertimbun arus modernitas.  Kekuatiran kita, selain masalah perpecahan bangsa, juga masalah bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar Kebahasaan, Dendy Sugono mengatakan, dalam hubungan dengan kehidupan masyarakat, bahasa Indonesia telah terjadi berbagai perubahan, terutama yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, khususnya teknologi informasi. Kondisi ini telah menempatkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, pada posisi strategis yang memungkinkan bahasa itu memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa dan mempengaruhi pekembangan bahasa Indonesia. Gejala munculnya penggunaan bahasa asing di pertemuan-pertemuan resmi dan di media-media (elektronik atau cetak) di tempat-tempat umum menunjukkan perubahan perilaku masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara-acara di televisi, walaupun isinya berbahasa Indonesia, tapi kebanyakan judulnya berbahasa asing. Hal ini menyiratkan ketidakpercayaan diri terhadap bahasa Indonesia. Selain itu, nama-nama tempat umum seperti mal, rumah sakit, dan gedung-gedung bertingkat juga lebih banyak menggunakan bahasa asing seperti penggunaan kata square, trade centre, atau residence. Ada anggapan kalau menggunakan bahasa asing dapat lebih menunjukkan gengsi daripada berbahasa Indonesia. Bahkan ada pula yang mengatakan, dengan bahasa asing maka akan memperlihatkan kecendikiaan seseorang.&lt;br /&gt;Selain bahasa asing, penggunaan bahasa daerah khususnya bahasa Melayu Jakarta dan bahasa ‘gaul’ telah mewarnai penggunaan bahasa Indonesia lisan. Bahkan, bahasa iklan sangat diwarnai oleh penggunaan bahasa daerah tersebut. Sebut saja radio sebagai media elektronik yang banyak mengandalkan lisan dalam interaksinya, turut menyumbangkan perilaku berbahasa yang salah. Terutama radio yang sasarannya khusus untuk kaum muda yang memang banyak diminati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tiap detik dengan mudah kita mendengarkan bahasa buruk. Gue banget, thank you banget, ya!, eh, jangan ngomongin aib pacarnya dia, dan sebagainya. Semakin lama, semakin banyak orang yang berbahasa Indonesia seenaknya, tidak mengindahkan norma atau aturan berbahasa yang berlaku resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibentang lagi, permasalahan bahasa ini sepertinya tak terputus. Saya kira, permasalahan bahasa kita, selain masalah bahasa itu sendiri, juga masalah penuturnya seperti yang diuraikan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apakah kita tinggal diam dengan kondisi yang seperti ini? Setidaknya, kita masih punya ‘hutang’ untuk mempertahankan bahasa Indonesia sebagai amanat tahun 1928 lalu, yang telah menyatukan Indonesia melalui bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EKI yang disusun oleh Hasanuddin WS dibantu beberapa orang penyelia, saya kira adalah menyusun kembali kekayaan bahasa, tidak hanya di Indonesia, lebih luas bersifat global. Ia berbicara tentang persoalan bahasa dalam ruang lingkup yang lebih global dan majemuk. Lihat saja, tata bahasa dalam bahasa Inggris mendapat tempat dalam EKI. Berbagai macam aksara seperti aksara rencong, aksara pegon, atau aksara Jawa. Aksara ini bersanding dengan aksara yang lahir di luar negeri seperti aksara Han’gul dari Korea Selatan, aksara Brahmi dari India Kuno, termasuk juga aksara arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entri yang terhimpun dan dijelaskan secara keseluruhan berkaitan dengan masalah kebahasaan bahasa Indonesia yang dapat dikategorikan pada tiga kelompok yaitu: istilah kebahasaan, tokoh ahli bahasa, dan karya kebahasaan. Untuk penyusunan, entri-entri dalam EKI disusun berdasarkan urutan abjad, entri demi entri, dan buku demi buku. Panjang dan pendeknya entri tidak sama untuk setiap entri. Entri yang memerlukan penjelasan lebih rinci mendapat perhatian yang lebih khusus untuk diuraikan. Istilah entri sendiri dimaksudkan topik atau judul atau hal yang dijelaskan dan diuraikan dalam ensiklopedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kehadiran EKI di tengah masyarakat yang ‘tidak peduli’ dengan bahasa, barangkali demikian tantangannya ke depan. Tapi setidaknya, EKI akan mencari tempatnya tersendiri untuk dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bahasa sebagaimana dunia ini, terus mengalami perubahan. Dalam waktu yang sangat cepat, dalam bidang bahasa, pun akan mengalaminya. Artinya, dua atau tiga tahun mendatang, akan banyak istilah-istilah ataupun tokoh-tokoh kebahasaan yang hadir, lahir, terus berkembang. Istilah lama barangkali tidak lagi dipergunakan pemakainya. Namun, seperti kamus, kehadiran EKI akan mencatat dengan jelas setiap kelahiran tersebut. Ia akan menjadi semacam dokumentasi yang tidak dibawa oleh arus perubahan. EKI akan turut serta mengikuti perubahan itu sendiri, dalam edisi revisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan yang jelas adalah, bagaimana EKI bisa memberikan pengetahuan kepada semua orang—tidak hanya para linguis—untuk diambil saripatinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-323700440097017072?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/323700440097017072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/10/eki-mengumpulkan-kekayaan-bahasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/323700440097017072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/323700440097017072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/10/eki-mengumpulkan-kekayaan-bahasa.html' title='EKI, Mengumpulkan Kekayaan Bahasa'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sux5vjbUdnI/AAAAAAAAARQ/hEfGubVMu54/s72-c/eki+baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-7204007655278988549</id><published>2009-10-29T08:09:00.001-07:00</published><updated>2009-10-29T08:23:42.555-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Perpustakaan Penghubung Kebudayaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SumwficXoMI/AAAAAAAAARI/k3P9tCFDrVw/s1600-h/P1010087.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SumwficXoMI/AAAAAAAAARI/k3P9tCFDrVw/s200/P1010087.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398039684248477890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI NEGARA&lt;/span&gt; maju, perpustakaan sangat penting keberadaannya. Ia melambangkan sebuah peradaban, juga jadi pembeda antara bangsa maju dan terbelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ardoni Yonas, yang sehari-hari dosen Ilmu Perpustakaan dan Kearsipan (IIPK) Universitas Negeri Padang (UNP), bangsa yang maju adalah bangsa yang mementingkan perpustakaan. Di sana (perpustakaan—red), tak hanya ada ilmu, tapi juga tersimpan kekayaan-kekayaan budaya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika gempa yang melanda Sumatera Barat dan sekitarnya, yang turut menghancurkan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah yang tergolong koleksinya lengkap (Tipe A), Ardoni tak bisa menyimpan kegundahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang akan kehilangan informasi yang sahih,” tuturnya. Internet sebenarnya bisa menjadi sumber informasi, namun tak dapat dijadikan pegangan. Psikologinya, kata Ardoni, orang lebih nyaman memegang buku. Bisa dilihat di mana saja, dan dapat dibawa kemana-mana. Buku juga telah teruji kesahihannya. Internet sebaliknya, dan tak bisa disensor. Internet hanya berfungsi sekedar menambah wawasan, bukan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pentingnya perpustakaan, Ardoni Yonas membandingkannya apa yang diperbuat orang  di negara-negara maju. Mc Gafer, salah seorang detektif yang terkenal di Eropa, ketika memecahkan suatu masalah, tempat pertama yang ditujunya adalah perpustakaan. Di sana, ia membaca banyak hal. Sampai akhirnya ia bisa membuat sebuah kesimpulan dan melanjutkan tugasnya. Keluar dari perpustakaan, ia telah bisa menentukan sikap: apa yang akan diperbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Cina, negara yang beraliansi komunis, pada tahun 90-an bersidang untuk membahas arti penting perpustakaan. Disadari oleh semua anggota sidang, “Tanpa ilmu, ekonomi akan hancur.” Maka, dalam pembangunannya, Cina ‘doyan’ melengkapi perpustakaannya.&lt;br /&gt;Negara yang menyadari guna buku dan perpustakaan, lanjut Ardoni, mereka berlomba-lomba untuk membuat perpustakaan dan melengkapi koleksi bukunya. Begitu pentingnya sebuah buku, setiap terjadi peperangan di Irak, katanya, yang diserang adalah perpustakaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardoni kembali bersedih mengingat Perpustakaan Daerah yang telah hancur. Pikirannya menerawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penghubung Kebudayaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia tak lah seperti bangsa maju. Minat baca sangat rendah. Itu juga berlaku bagi masyarakat Sumatera Barat (Sumbar). Masyarakat belum terlalu butuh perpustakaan. Budaya lisan begitu kentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukan itu yang membuat Ardoni menerawang. Yang ia takutkan adalah, bahwa isi perpustakaan tak hanya buku. Di sana juga tempat tersimpannya aset kebudayaan. Perpustakaan adalah penghubung kebadayaan itu sendiri. 20 tahun yang akan datang, orang mungkin telah lupa dengan randai atau rabab. Tapi, perpustakaan tak akan pernah melupakannya. Di sana masih tersimpan arsip tertulisnya yang bisa dipelajari oleh generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang akan terjadi adalah, orang-orang akan salah paham dengan sejarah. Kalau tidak punya arsip tertulis, hal ini memungkinkan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini yang ditakutkan, kebudayaan itu akan terputus,” lanjutnya sambil mengisap dalam-dalam rokok mildnya yang hampir habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung yang hancur, baginya tidaklah terlalu dipermasalahkan. Gedung bisa dibangun dalam waktu yang cepat, tapi kebudayaan tak bisa dibangun linear dengan pembangunan fisik. Tapi apa yang akan terjadi, jika kita tidak punya lagi arsip lisan tentang sejarah Minangkabau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, tutur Ardoni yang sedang sekarang sedang memikirkan untuk melanjutkan studi doktornya itu, pengelolaan perpustakaan di negara ini jauh dari kondisi sempurna. Ini yang akan membuat lambat pembangunan gudang ilmu pengetahuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, lanjut Ardoni, kita memang belum peduli dengan pustaka. Beberapa hal menjadi indikator. Pertama, tuturnya, perpustakaan bergantung kepada pimpinan, tidak oleh profesional. Ia menyebut ada perpustakaan di daerah ini yang dibangun di tempat yang sepi, jauh dari keramaian. “La..siapa yang akan membaca?” Ketergantungan terhadap pimpinan, membuat perpustakaan tak terlalu dipedulikan. Sebab, pemegang kekuasaan masih terlalu memikirkan masalah ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah buku-buku yang tersimpan di perpustakaan kita,” lanjutnya. Banyak buku bermutu hanya ada  dalam bahasa Inggris. Ini berbeda dari apa yang terjadi di Jepang. Mereka di sana, mengutus masyarakatnya belajar bahasa Inggris ke luar.  Balik ke Jepang, mereka disuruh untuk translet buku-buku yang ada di perpustakaan ke dalam bahasa Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat baca masyarakat yang rendah butuh tenaga yang besar pula untuk mengelolanya. Lihatlah di perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indonesia ini, lanjutnya, tenaga pengelolanya sangat sedikit sekali. Ditambah, jarang yang cakap terhadap urusan tersebut. Untuk membangun perpustakaan, memang butuh tenaga yang sangat besar.&lt;br /&gt;Karenanya, Ardoni kuatir, tali kebudayaan itu benar-benar putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perpustakaan di Daerah Rawan Gempa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan itu isinya buku. Kalau satu buku, itu tidaklah berat. Bila jumlahnya sampai seratus atau ribuan, itu  tak bisa dianggap ringan. Dalam membangun perpustakaan, itu penting menjadi pertimbangan. Apalagi di daerah yang rawan bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardoni yang telah berkunjung ke banyak perpustakaan di Indonesia ini, dalam pengamatannya, jarang perpustakaan yang dibangun tinggi.&lt;br /&gt;“Biasanya lebar,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menjadi pertimbangan adalah, dalam membaca, orang butuh kenyamanan. Jarak antara buku dengan orang, semestinya agak berjauhan. Makanya, perpustakaan yang ideal juga memperhatikan pembangunan gedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan yang dibangun lebar, bagi Ardoni, cocok untuk membangun perpustakaan kembali di Sumbar ini. “Jangan memikirkan berapa lahan tanah yang akan digunakan. Tapi bagaimana memikirkan menyelamatkan aset bangsa ini,” tutupnya. (Andika Destika Khagen)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-7204007655278988549?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/7204007655278988549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/10/perpustakaan-penghubung-kebudayaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7204007655278988549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7204007655278988549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/10/perpustakaan-penghubung-kebudayaan.html' title='Perpustakaan Penghubung Kebudayaan'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SumwficXoMI/AAAAAAAAARI/k3P9tCFDrVw/s72-c/P1010087.JPG' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-4930525276943165088</id><published>2009-07-11T05:11:00.000-07:00</published><updated>2009-07-11T05:19:10.143-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Tak Ambil Pusing di Kakus Pesing</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SliBvMAAH5I/AAAAAAAAAQ4/m99388oAWE0/s1600-h/toilet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 130px; height: 135px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SliBvMAAH5I/AAAAAAAAAQ4/m99388oAWE0/s200/toilet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357174404432273298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selama &lt;/span&gt;seminggu, Tim Nan Padek (Padang Ekspres) memasuki pasar, kampus, dan kantor pemerintahan. Bukan menemui pejabat. Tapi menuju sebuah tempat yang letaknya di belakang: kakus. WC. Tempat orang membuang sisa kotoran dari tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pasar Inpres II, di sana ada terminal bemo. Di atasnya, tempat orang berjual beli segala macam daging. Orang-orang sibuk berlalu lalang. Bila tak seksama melihat, maka kakus yang terletak persis di atas jenjang (dekat terminal bemo) itu tak terlihat. Letaknya memang menghadap ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakus itu terdiri dari tiga buah tempat untuk buang air besar dan 4 buah kran air. Pedagang pasar memanfaatkannya untuk pelbagai keperluan: buang air, wuduk, dan mencuci ember yang kotor. Namun, tak ada yang gelisah, sebab di kakus itu, saluran airnya tidaklah lancar. Air menggenang di segala penjuru. Pintu kakus itu pun menua dan terlihat lapuk.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lewat jembatan penyebrangan di lantai II Pasar Raya itu, kita menuju ke sebelahnya. Tukang jahit, pegawai salon, penjual kliping koran menunggu pembeli. Di sini tak seramai dibandingkan pasar raya di bawah. Ada yang kelihatan sedang main domino, biliar, sekedar menghabiskan hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakusnya berada di belakang. Seorang perempuan menunggui orang yang keluar dari kakus di depan meja persegi dengan uang receh dan seribuan. Orang-orang yang keluar dari kakus itu, memberikan uang sebesar Rp 1000. Kakus itu hampir sama kondisinya dengan yang pertama. Tempat pembuangan air tidak lancar dan bau pesing. Bedanya, di kakus ini, tidak ada pemisahan tempat untuk perempuan dan laki-laki. Hanya ada satu pintu masuk, baik untuk laki-laki maupun perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah bak yang tidak terlalu besar di dalamnya, dipergunakan bersama untuk wuduk atau mencuci kaki. 6 buah kamar tempat buang air besar di tempat yang sama. Siapa yang duluan, bisa masuk ke tempat tersebut. Karena air buangan yang tidak lancar, lantai di kakus ini becek, sedikt tak terawatt sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di lantai II tersebut, persisnya di dekat Padang Teater, ada lagi sebuah kakus—lagi-lagi letaknya di belakang. Agak sulit menemuinya karena letaknya yang tersembunyi. Ini kakus, lebih parah kondisinya dari yang dua tadi. Air yang keluar dari kran tidak lancar. Bak penampungan air tidak lagi dipergunakan. Sebuah ember besar yang telah berlumut, menampung air tersebut. Bau pesing di mana-mana. Meski di sebelahnya tempat orang salat, namun airnya tidaklah bersih. Bau yang tak sedap—seperti bau tanah—tercium dari air tersebut. Ada 4 buah kamar tempat buang hajat. Hanya dua yang dalam kondisi bisa dipergunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, barangkali ucapan seorang pedagang di Pasar Raya itu benar, namanya juga pasar. Tidak ada yang bersih di pasar, apalagi kakusnya. Ada saja sudah cukup, tidak perlu neko-neko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di tempat lain, yang diisi oleh kaum-kaum intelektual (baca: kampus), kondisi hampir seragam ditemukan. Di Pusat Kegiatan Mahasiswa UNP misalnya. Punya dua buah kakus. Air jarang mengalir. Tempat buang air besar tak bisa dipergunakan.&lt;br /&gt;Anti, salah seorang mahasiswa mengakatan, “Kalau tidak terpaksa benar, lebih baik buang air di kos saja.” Ia misalnya, pernah menemui (maaf) pembalut perempuan berserakan. Tak jarang ditemuinya, mahasiswa yang buang hajat, tak menyiramnya. Ini tentu menimbulkan bau yang lebih busuk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kakus dekat mushalla—masih di kampus tersebut—keadaannya lebih parah. Ada tiga buah kakus. Satu kakus tak lagi digunakan (rusak). Air lancar, tapi bak penampung air warnanya telah hitam. Tak pernah diganti. Tempat pembuangan air tidak lancar. Kotoran di mana-mana. Bau kencing sampai keluar. Mahasiswa yang kebetulan lewat di depan kakus itu, tak jarang menutup hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakus di rektorat UNP—letaknya di lantai dasar—meski tak sekotor yang tadi, tapi puntung rokok tampak berserakan. Keramiknya agak berlumut—kelihatannya sudah lama tak digosok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya malas masuk kakus di kampus,” begitu kata Rio, juga salah seorang mahasiswa di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (PSIKM) FK UNAND, yang terdiri dari 3 lantai itu—di setiap lantai ada kakus. Kakus yang terletak di lantai dua, pintunya macet, air sering mati, dan bau pesing. Hingga, kakus ini jarang dipergunakan oleh mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak saja di Fakultas Kedokteran, bila kita berkunjung ke Kampus Unand Limau Manih, kita akan ditemui dengan fenomena yang sama. WC yang tidak terawat, tidak bisa digunakan, air yang tidak mengalir, dan seterusnya. Bahkan, banyak di antara wc itu yang di tutup dan tidak dipergunakan lagi, terutama di gedung-gedung kuliah bersama. Begitu pula dengan dekanat, wc-nya juga sering tidak dialiri air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru UNP dan Unand, sebagai universitas ternama di Sumbar, belum lagi kalau kita berkunjung ke kampus-kampus lain. Sepertinya, wc bukan hal krusial bagi para intelektual tersebut untuk dibenahi. ”Sarjana jebolan wc rusak,” kata seorang mahasiswa jutek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, kita—entah pemerintah atau diri sendiri—tak memperdulikan ini. Kita, kata Masoed Abidin—yang akrab disapa Buya itu—tak tahu cara kencing yang benar. Kita masih saja tak menyiram bila kencing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa saja karena kita tak mendapatkan pendidikan. Dulu, semasanya, Buya bilang, di sekolahnya diajarkan latihan gotong royong. Diajarkan pula di mana membuang sampah. Meski kelihatan sepele, tapi itu akan membentuk karakter orang untuk lebih beraturan. Sekarang, sekolah tidak mengajarkan hal yang remeh temeh itu lagi, juga masalah kencing. Di rumah tidak, di surau bukan. Makanya, orang buang air sekehendak hatinya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga sebuah pertanda, orang tak salat dengan baik. Orang salat itu kan bersih. 5 kali membersihkan diri sehari. Semestinya itu terbawa dalam kegiatan sehari-hari.&lt;br /&gt;Perlu ada komitmen dari pemerintah kita serta masyarakat kota yang mendidikkan bagaimana cara buang air dari tubuh yang benar. Guru-guru juga penting mengajarkan kepada anak didiknya tentang hal itu. “Karena saya takutkan,” lanjut Buya, “seribu tahun ke depan, masyarakat kita tetap tidak tahu cara kencing yang benar.”&lt;br /&gt;Pemahaman masyarakat, begitu menurut sosiolog Unand, Damsar. Pemahaman masyarakat tentang hidup sehat perlu diperhatikan. Sebab, ini akan mempengaruhi juga bagaimana menjadikan kakus umum itu bersih dan higienis. Dengan kebiasaan hidup sehat, masyarakat tahu dan mengerti kalau kakus yang jorok tersebut merupakan sumber penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban berikutnya ada di pundak pemerintah. Pemerintah tak boleh tinggal diam. Pemerintah seharusnya mengalokasikan dana untuk pemeliharaan dan perbaikan kakus umum tersebut. Selain itu, pemerintah juga mesti mengevaluasi pengelolaan dan pemeliharaan kakus tersebut.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Penulusuran Padang Ekspres berakhir di Balai Kota Padang. Terbesit pikiran, ini tak seperti yang ditemui semula. Kakus di sini tentu tak seperti yang ditemui di pasar raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kakus lantai dasar Balaikota tersebut, kakus untuk perempuan terkunci rapat. “Rusak,” kata seseorang yang lewat di sana. Di kakus laki-laki, ada tiga buah tempat buang air besar. Satu rusak. Cuma ada satu tempat penampungan air dari tiga kakus tersebut. Bila dua orang karyawan sama-sama tersesak buang air besar, mesti antre. Sebab, penampungnya hanya ember. Itu pun cuma satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air di kloset mengalir dengan lancar. Tapi kloset tersebut, sepertinya jarang disentuh. Berlumut. Lima buah kran ada di sana, tiganya rusak. Di sekitar kakus itu, keramiknya tak terawat dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, ini merupakan cermin, kita terlalu menganggap sepele. Hal di atas, hanya contoh kecil. Hampir setiap kantor, sekolah dan WC umum, keadaan WC-nya tidak bersih. WC umum, menurut pengamat kebijakan publik Eka Vidya Putra, “Khususnya untuk WC umum, orang kan bayar. Berhak mendapatkan WC yang bersih. Sekali kencing seribu, harusnya setimpal dengan pelayanan WC bersih.” Atau, jangan-jangan, kita terbiasa dengan yang pesing, sehingga tak perlu ambil pusing!!! &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Andika Destika Khagen/Gusriyono/Nilna R Isna)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang Ekspres, 5 Juli 2009&lt;br /&gt;sumber foto: ajinitisuwito.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-4930525276943165088?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/4930525276943165088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/tak-ambil-pusing-di-wc-pesing_11.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4930525276943165088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4930525276943165088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/tak-ambil-pusing-di-wc-pesing_11.html' title='Tak Ambil Pusing di Kakus Pesing'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SliBvMAAH5I/AAAAAAAAAQ4/m99388oAWE0/s72-c/toilet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-3854367229492630673</id><published>2009-07-06T00:17:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T00:21:24.025-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjektif'/><title type='text'>Ironi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AKHIR-AKHIR&lt;/span&gt; ini, sepertinya kita terbiasa dengan banyak ironi. Di sekeliling, bertebaran janji-janji; hal-hal baru, menyalahkan yang lama. Sepertinya, itu akan terjadi pada masa depan. Bila ironi diartikan sebagai kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau seharusnya terjadi (pengertian kamus), maka benar, ini adalah ironi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelbagai debat yang kita dengar, sebelum tanggal 8 Juli nanti, walau berbeda, sebenarnya satu pendapat: meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia. Tapi, apakah itu akan terjadi? Tidakkah kekuasaan itu membuat orang menjadi maruk? Banyak orang yang curiga, ini hanya bagian dari ironi yang besar. Mengobok-obok rakyat dengan gula-gula yang manis itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, jangan-jangan, kita perlu curiga, kita sudah terbiasa bergelut dengan ironi? Begitu biasanya, kita tak perlu lagi memikirkannya. Biarlah, toh tak akan berubah keadaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, bahaya besar dari ironi adalah sikap skeptisme. Tak mau peduli dengan apa yang terjadi (berpura-pura peduli). Atau sebaliknya, karena ironi sudah terlalu biasa, menjadi berlebihan. Mudah sekali memukul orang, sangat gampang mengucapkan kata-kata yang membuat orang lain tersinggung, dan mudah mengumbar janji, tak perlu ditepati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? karena semua orang sudah kenyang dengan ironi. Bisa jadi berlebihan. Dan di negara dengan ironi berkembang pesat, etika, budi pekerti, dan nilai bukan lagi hitungan yang perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi tumbuh pesat di saat kepastian tak ada, kalau bisa dikatakan tak mungkin. Menggapai yang tak bisa, lalu dijanjikan, akan melahirkan ironi. Lalu diumbar-umbar, dipaksa bisa, menggebu-gebu (persis seperti kampanye), lalu diam, dan bersembunyi di balik keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang sah mengejek, merendahkan harkat orang lain. Yang paling penting adalah tujuan. Toh, di negara dengan ironi besar, memang tak butuh bukti? Ajarannya seperti ini, “Berjanjilah untuk menang.” Memang, yang dibutuhkan hanya itu. Untuk mengalahkan lawan, sikut saja. Kapan perlu, jelek-jelekkan. Burukkan citranya kepada publik. Buat lawan terhina. Tersenyumlah bila menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan telah tercapai. Karena ini negara hidup dengan ironi—rakyatnya juga seperti itu—kembaliah ke tujuan awal. Mengalahkan musuh. Membuatnya tak berkutik. Janji? Nanti dulu. Banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan segera. Rakyat tak akan berontak. Karena mereka selama ini telah dibesarkan dengan ironi-ironi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, rakyat pun tak peduli. Kontrol hanya basa-basi agar dilirik kekuasaan. Negara dengan banyak ironi mengajarkan, “Berpandai-pandai.” Tak ada yang namanya hutan yang hijau, laut yang kaya dengan terumbu karangnya, dan petani-petani yang berjasa.” Yang ada hanya uang, tahta, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kita semua ternyata adalah ironi itu sendiri. Di keseharian, kita tidak bisa tepat waktu, misalnya. Berjanji dengan relasi pukul empat sore, terlambat setengah jam. Masuk kantor pukul delapan, tiba pukul sepuluh. Padahal, itu mudah dilakukan. Yang menjadi masalah adalah, ironi tadi. Tak mau menepati, sebab, terlambat datang setengah jam sudah biasa. Sangat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan-kebiasaan ini kemudian menjadi keseharian. Dilakukan banyak orang. Berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dilakukan tukang becak sampai pejabat tinggi. Mulai dari pembantu rumah tangga sampai mentri. Berkembanglah ironi: sesuatu yang mungkin (harus)  dilakukan, tapi tak terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menumbuhkan kepercayaan di tengah ironi? Barangkali tak mudah (atau tak mungkin?). Bila kepercayaan itu benar yang tak ada dalam diri, semua hal rasanya tak bermanfaat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, kita—yang sudah terbiasa dengan ironi tadi—dipaksa keluar dari itu semua. ‘Dipaksa’ percaya, dibuat tak berdaya oleh keadaan. Berseliweranlah hal-hal yang kemudian dicibirkan, pada akhirnya mencibirkan diri sendiri. Barangkali semakin benar, negara dengan ironi yang dirawat sehingga tumbuh besar, akan selalu menjadi kerdil, dan tak diperhitungkan. Permasalahannya hanya itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dihadapan kita sekarang, ironi-ironi itu tengah berkembang!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-3854367229492630673?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/3854367229492630673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/ironi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3854367229492630673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3854367229492630673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/ironi.html' title='Ironi'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-7229129035512087377</id><published>2009-07-06T00:06:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T00:13:50.952-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Siapa Pewaris Seni Tradisi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGi_kTR2rI/AAAAAAAAAPI/duA9GW0ldwo/s1600-h/_dsc1847.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 157px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGi_kTR2rI/AAAAAAAAAPI/duA9GW0ldwo/s200/_dsc1847.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355240644880226994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KETIKA&lt;/span&gt; Marlis mengajak anaknya nonton randai, sang anak bertanya, “Apaan sih asyiknya?” Marlis tidak menjawab. Ia menceritakan sekilas saja, bahwa randai itu kesenian tradisional  Minang, yang menarik untuk ditonton. Sang anak akhirnya ikut. Ketika pertunjukan dimulai, sang anak yang baru kelas I SMA itu, mencoba memperhatikan dengan serius. Setelah itu, ia asyik mengirim dan menerima sms dari temannya. Setengah jalan pertunjukan randai, ia bilang, “Yah, pulang yuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, di tempat lain, pada sebuah rumah, seorang perempuan berusia 60-an, menyalakan televisi. Ada acara saluang di televisi lokal. Tapi, ketika itu anak dan cucunya minjam remot, dan mengalihkan ke acara musik di televisi swasta nasional. Sang nenek marah, “Sini, sini remot itu. Kalian saja yang nonton….” Sang cucu merengut pergi, sembari bergumam lambat, “Kolot!” Ilustrasi di atas, sebuah gambaran sederhana, yang ada di tengah masyarakat kita. Pertunjukan seni tradisi, lengang penonton. Beberapa di antaranya, untuk seremoni pejabat pemerintah, setidaknya untuk penjawab tanya dan bahan pidato, kalau kita tetap mencintai kesenian tradisi kita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Marliani, mengakui, memang dia tak pernah punya keinginan khusus untuk menonton pertunjukan seni tradisi. Dulu, waktu masih kecil (kini dia berusia 47 tahun), kalau ada tetangga baralek, biasanya mengundang rabab atau saluang. Dia melihat banyak orang menikmati. Kini, kalau ada usulan baralek mengundang rabab atau saluang, banyak yang mematahkan. Diganti organ tunggal. Tak ada nilai budaya di situ. Kini, kalaupun ada orang barabab atau saluang, ia mengaku jujur, tidak pernah menyarankan anaknya untuk nonton dan kenal. “Wajar kalau seniman tradisi dan pertunjukan kesenian tradisi semakin hari, kian jarang kita lihat….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak di antara kita lebih memilih nonton tayangan konser atau sinetron jika dibandingkan dengan acara seni tradisi minangkabau. Jojo (24), misalnya, dia mengatakan bahwa konser dan sinetron lebih mengasyikan. Kemudian ia menyebutkan alasan bahwa ia tidak tertarik pada seni tradisi kerena memang tidak diajarkan untuk tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana bisa tertarik kalau di jam sekolah mata pelajaran kesenian tradisi hanya jadi ban serap pelajaran lainnya,” ujarnya. Selain itu dalam sekolah cara menyampaikan pelajaran seni tradisi itu juga tidak menarik. Tak ada yang membuatnya terkesan, lantaran pengajarnya tak kalah kurang mengerti tentang apa yang diajarkannya. Ia tidak menyangkal bahwa ketidakpahamannya ini membuatnya berjarak dengan tradisi itu sendiri. Walaupun terlibat dengan beberapa aktivitas seni pertunjukan tradisi, ia masih saja tidak ada keinginan untuk menggali lebih dalam lagi. Keterlibatan yang terjalin juga lantaran ia memainkan kesenian tradisi yang telah terhybrid dengan aransemen modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang sama juga diungkap Heri Faisal (20), yang kurang tahu dengan seni tradisi, tapi ia senang sesekali menontonnya. Baginya ada sesuatu yang baru ketika menonton seni tradisi, misalnya tabuik. Tetap saja bila diberi pilihan menonton musik kontemporer atau musik tradisi, Heri lebih suka menonton musik kontemporer di televisi dari pada tayangan yang bebau seni tradisi. Sebab baginya musik kontemprer lebih variatif, dan mengasyikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warti (30), ibu dua anak ini menyebut seni tradisi sebagai seni yang berhubungan dengan nuansa tradisional. Karena ia sendiri tidak diberikan pengetahuan dan pengalaman tentang seni tradisi, ia juga tidak terlalu memberikan anaknya pengetahuan tentang seni tradisi. Kalau di suruh untuk menonton seni tradisi atau sinetron, maka ia akan memilih menonton sinetron. Ia tidak memiliki banyak pengetahuan tentang seni tradisi, itu akibatnya ia tidak merindukannya. Begitu pula dengan Devi (27), karyawan swasta ini berpendapat seni tradisi adalah seni masa lalu. Ia lebih suka menyaksikan konser dari pada harus menonton tayangan seni tradisi. Ia tidak tertarik pada seni tradisi karena tidak  diajarkan bagaimana untuk mencintai seni tradisi. Waktu di sekolah dulu ia hanya mendapatkan seni tradisi sebagai sebuah mata pelajaran tambahan namun dianggap tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keadaan yang demikian, wajar kiranya seni tradisi semakin meredup dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Hasannadi, dosen dan peneliti budaya Minangkabau, mendasarkan ini pada kebutuhan masyarakat akan seni tradisi tersebut. Di mana bagi masyarakat sekarang menonton atau mempelajari seni tradisi bukan lagi sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan akan hiburan ini bergeser pada seni-seni alternatif atau kontemporer, meski, pada orang tua-tua, kerinduan terhadap seni tradisi ini masih muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, persoalan pelik pada generasi muda menyangkut identitas. Bahwa, identitas ditentukan oleh hal-hal prestisius yang disuguhkan kepada masyarakat. “Selain itu, proses pewarisan seni tradisi yang tidak diiringi dengan transformasi nilai-nilai, serta kepercayaan diri pewaris dalam menghadapi tantangan hidup berkesenian,” tutur Hasannadi. Melanjutkan penjelasan Hasannadi, Tulus Handra Kadir, dosen Sendratasik UNP, mengatakan,” Terlalu cepat kalau kita mengatakan bahwa seni tradisi itu tidak dipedulikan lagi oleh generasi sekarang. Untuk saat ini masih ada orang yang minat masuk sanggar, bersekolah di sekolah atau universitas seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya yang mungkin ada adalah bahwa apresiasi terhadap seni tradisi itu belum sampai pada generasi sekarang, sehingga generasi mencerna sendiri apa yang dia lihat, apa yang mereka pahami. Sebagian dari mereka tidak begitu paham dengan esensi-esensinya. Sehingga dia hanya melihat bahwa seni itu hanya sebagai hiburan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai seni tradisi selama ini tidak teraktualisasikan sehingga tak dipahami akan arti pentingnya kesenian tesebut. Ada permasalahan yang krusial, apalagi jika permasalahan itu dikaitkan dengan proses pendidikan. Nilai-nilai yang mungkin dahulu pernah ada dalam kesenian pendahulunya, sekarang mungkin tidak terasa lagi. Orang dahulu kesenian adalah bagian dari kehidupannya. Mungkin tidak terjadi lagi pada generasi saat ini. ”Sekarang esensi itu sudah lain karena sebagian besar nilai sudah diambil alih oleh sistem pendidikan formal. Sehingga apa yang tersisa? Ya, yang tersisa aspek hiburannya saja. Bukan esensi dari seni tradisional itu. Sehinga yang diperlukan itu adalah pewarisan dengan pemahaman esensi seni tradisi itu,” sambung Tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dicabutnya kebudayaan dan kesenian dari departemen pendidikan ke departemen pariwisata saat ini akan sangat mempengaruhi perubahan cara generasi muda dalam melihat kesenian tradisi ke depan, yakni negara telah merubah kebijakan status kesenian menjadi barang yang bisa diperdagangkan, aset yang bisa dijual kepada turis. Kalau dulu kesenian adalah bagian dari budaya untuk membina bangsa, di bawah naungan pendidikan. Kondisi inilah yang akan membentuk cara generasi melihat seni tradisi. Jadi, lagi-lagi pendidikan adalah aspek yang paling krusial dalam membentuk pemahaman yang ideal tentang seni tradisi di ranah Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyoal siapa pewarisnya, sebenarnya pewaris seni tradisi itu tidak akan pernah hilang, ia mungkin hanya menemukan bentuk baru, dengan merujuk dari bentuk yang lama. ”Namanya ivented tradition.  Memang, mungkin seni tradisi itu hanya seperti sebuah penanda identitas, simbol kedaerahan untuk selanjutnya. Bukan pemahaman substansionalnya. Tapi inilah kenyataan seni tradisi di Minang kabau. Sakali aie gadang, sakali tapian barubah. Seni tradisi diminang juga seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena faktor sosiokulturalnya yang membentuk arah dan orientasi seni tradisi tersebut,” papar Tulus lagi, dengan mencontohkan alat musik talempong. Saat ini orang memainkan seni yang secara fisiknya saja, bukan secara esensinya lagi. Namun kondisi ini bukanlah kesalahan mereka karena mereka tidak mengalaminya lagi konteks talempong yang dulunya adalah sebuah pamenan masyarakat agraris Minang setelah panen.  Seiring dengan itu, budayawan Bagindo Fahmi berpendapat, “memasukkan unsur modern itu bagus, tapi kalau tidak memiliki pengertian yang jelas tentang modern itu, inilah nantinya yang akan menyebabkan kehancuran pada nilai-nilai tradisi yang ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah ideal bisa dilakukan agar seni tradisi diminati dan dipahami nilai dan maknanya. Seperti yang ditawarkan Aldi, mahasiswa STSI Padangpanjang, “Membangkitkan kembali selera seni tradisi dalam masyarakat Minangkabau, itu semangat yang mesti kita usung. Wujudnya bisa saja dengan menggalakkan atau mengadakan pertunjukan rutin untuk membangkitkan semangat itu. Serta merevitalisasi kampung-kampung yang menjadi basis seni tradisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan Bagindo Fahmi, pekan budaya yang diadakan Dinas Pariwisata dengan UPTD Taman Budaya Sumbar tiap tahun, sebenarnya menjadi lahan yang ideal untuk membangkitkan semangat berkesenian daerah. Namun, ini belum berjalan sebagaimana mestinya. “Hendaknya pekan budaya menghadirkan seluruh budaya daerah yang ada di Sumbar, kemudian adakan diskusi di antara pelaku seni tradisi itu, bagaimana kita memelihara seni tradisi ini agar tetap bertahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Hasannadi lebih menekankan pada upaya mengaktifkan peran unsur masyarakat nagari. “Peran elit nagari seperti ninik mamak dan unsur lainnya sangat dibutuhkan dalam menumbuhkembangkan seni tradisi di nagarinya. Sebab, mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di masyarakat dan diikuti.”&lt;br /&gt;Walau bagaimanapun, kelangsungan hidup seni tradisi tetap menjadi tanggung jawab bersama. Sejatinya, peran semua unsur menjadi bagian yang tak terelakkan. Mari berbenah.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Gusriyono/Andika Destika Khagen/Fadli Akbar) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;f: ruangfoto.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang Ekspres, 14 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-7229129035512087377?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/7229129035512087377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/siapa-pewaris-seni-tradisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7229129035512087377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7229129035512087377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/siapa-pewaris-seni-tradisi.html' title='Siapa Pewaris Seni Tradisi?'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGi_kTR2rI/AAAAAAAAAPI/duA9GW0ldwo/s72-c/_dsc1847.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-9104054929321537182</id><published>2009-07-05T23:47:00.002-07:00</published><updated>2009-07-06T00:00:15.928-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>LADANG: ASKETISME ORANG KALAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGgXt266RI/AAAAAAAAAPA/-FWP3vvYkxw/s1600-h/pinangan-orang-ladang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 212px; height: 159px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGgXt266RI/AAAAAAAAAPA/-FWP3vvYkxw/s200/pinangan-orang-ladang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355237761227614482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pengarang: &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Esha Tegar Putra&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penerbit: &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Framepublishing&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cetakan: &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mei 2009 &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ukuran: &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;120 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seberapa&lt;/span&gt;  tegar seorang lelaki memasuki dunia sunyinya, dunia masa tua, dunia yang dipenuhi kenangan “kegemilangan” masa lalu? Apa akibatnya bila manusia mengabaikan dimensi abadi hidupnya? Bagaimana caranya membunuh sunyi, dengan sebentuk keraguan-raguan eksistensial, yang terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan? Dan, keputusasaan. Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai dan memasuki kehidupan otentik, yang diidamkan, memang tidaklah mudah. Setiap orang memiliki pandangan hidup, yakni cara melihat dan bertindak dalam dunia, yang berbeda dalam konsep dan terapan. Cara pandang ini memuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang paling didambakan di dunia, apa yang paling bernilai, apa yang sebenarnya dikejar, bagaimana mewujudkan tujuan, dan sebagainya. Jawabannya pastilah beragam. Berbeda-beda. Tergantung pada siapa yang memberikan jawaban. Boleh jadi, hal yang paling diburu di dunia adalah kekayaan. Atau kebahagiaan. Tapi, tidak menutup kemungkinan, ada yang memilih kehormatan, cinta kasih, atau kedamaian hari tua sebagai jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, kita kerap mencampuradukkan atau menyamaratakan antara keinginan dengan tujuan hidup. Akibatnya, tujuan hidup pun tak lebih dari bertumpuk keinginan untuk mencari kekayaan sebanyak mungkin, atau tersohor, dan bahkan menjadi seorang yang “dihormati”. Maka, seorang politikus akan berusaha memenangkan pemilu atau mendapatkan jabatan dengan “penghalalan” segala cara. Seorang sastrawan atau ilmuwan berkeras menerbitkan buku dan melahirkan masterpiece sebanyak mungkin biar semakin populer. Bahkan, tak jarang, ada artis mencoba merambah ranah yang sangat “jauh” dari latar keilmuannya. Padahal, segala berhala dunia itu, baik material maupun immaterial, akhirnya akan berlepasan dan bertanggalan satu demi satu seiring dengan laju pertambahan usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang didedah secara cerdas oleh Esha Tegar Putra dalam kumpulan puisinya, Pinangan Orang Ladang yang berisikan 76 puisi dari tahun 2006-2008. Ia secara meyakinkan tampil sebagai sosok penyair yang lahir dari kekentalan tradisi Minang. Di satu sisi, ia menyerap estetika pantun, gurindam, dan peribahasa dalam penuangan gagasan estetiknya. Pada sisi lain, lewat beberapa puisi, ia berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara  “orang menang” dan “orang kalah” dalam konstelasi adat Minang masa kini. Selain itu, juga membangun pengamsalan perihal segitiga “surau-lepau-rantau” dalam riwayat hidup kekinian. Bahkan, ia menawarkan satu alternatif baru: ladang. Ladang bisa menjadi tempat para lelaki membangun rumah, bersunyi-sunyi, dan menikmati kenangan kegemilangan masa lalu dalam bangunan ingatan. Ladang, dengan segala sepinya, bisa pula menjadi tempat sembunyi dari gunjing-cela dan olok-olok orang sekampung. Orang rantau sebagai pemenang dan orang ladang sebagai orang kalah adalah dua wajah berbeda, bagai “loyang” dan “emas”. Begitulah, Esha menawarkan ladang sebagai tempat mentafakuri kekalahan. Akan tetapi, sesederhana itukah pencapaian estetis penyair kelahiran Solok ini? Tentu saja, tidak. Banyak hal baru yang bisa kita temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah pentingnya lelaku kepenyairan membutuhkan berbagai penggalian dan pencarian, baik kelaziman bentuk maupun kedalaman estetika, bahkan pemberontakan pada tradisi kepenyairan. Maka, semakin berlama-lama kita mengupas setiap demi setiap sajak dalam antologi ini, semakin bertemu keindahan bunyi, kelezatan puitik, dan keragaman diksi yang dikemas dengan telaten untuk menunjukkan eksistensi sosok seorang penyair yang baru “sering” berpuisi pada akhir 2005. Berpuisi, bagi Esha, adalah laku ketelatenan, keseriusan, dan kesungguhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garapan gagasan, sebagaimana diungkap Damhuri Muhammad ketika membedah antologi ini (Wapres Jakarta, 27/5), adalah wilayah unik bagi penyair seusia Esha. Ada asketisme orang kalah. Pesimisme “orang rantau” yang kembali ke kampung halaman sebagai “orang kalah”. Keputusasaan karena kekalahan itu tidak bisa sepanjang hari dieramkan di surau, apalagi di rumah yang setiap kamarnya sudah dikuasai oleh kaum perempuan. Sementara, lepau hanya bisa menyuguhkan rasa nyaman pada malam hari: ratap mana yang kau timpakan, ini sakit menjadi berlapis-lapis/ di ceruk malam aku menjadi sesuatu yang lain/ seuatu yang asing (Putus:71). Dan, siang merupakan siksaan bagi “orang kalah” itu. Maka jadilah ladang sebagai tempat persembunyian: di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut tali puisi (Garis Ladang:50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang tersisa dari orang yang “sudah mengaku kalah” dan memilih ladang untuk bersunyi-sunyi diri? Yang ada adalah kepuasan dan ketidakpuasan, rasa terpenuhi dan frustasi, juga sisa semangat dan keputusasaan: lelaki yang tersudut di ujung pisau pancung/ menasbihkan rindu pulang/ berkali-kali (Kuala Lengang:53). Namun, tidak berarti tak ada lagi “harapan hidup”, bahkan masih tersisa keinginan menyunting gadis impian: bukan meminangmu kungerikan/ tapi sepulau cinta yang bakal karam/ sebab jalan hilang pijakan (Pinangan:59). Bagi lelaki Minang, yang pulang dari rantau dan dipaksa keadaan memilih ladang sebagai persinggahan akhir, maka ketakutan dan keputusasaan menghadapi ketidakpastian masa depan, justru lebih mengerikan daripada sekadar penolakan atas pinangan yang diajukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Esha sedang dijangkiti kegelisahan lantaran sekian banyak lelaku kepenyairan mutakhir ternyata gagal mengantarkannya pada kenikmatan berpuisi. Itu sebabnya ia meneruka jalan baru, yang meski terpaksa banyak menggunakan kata-kata janggal, tapi pasti menghulu ke kedalaman estetika. Diam-diam Esha meramu sajak-sajaknya menjadi sebentuk “kamus baru” guna menggiring pembaca mencari sendiri makna kata yang berasa asing dan janggal itu. Berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar/ saluang ditiup pula oleh para penghela dendang. Di mana rahasia/ kejadian lama disurukkan? Di salempang induk beras, di kopiah/  tuan kopi atau di saku baju para penggetah burung rimba? (Penari Piring:88). Saluang-disurukkan-salempang-kopiah-penggetah: kata-kata yang tidak akrab dan tidak lazim digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahkan dalam puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, jika sang penyair tidak berhati-hati, kedalaman makna yang diharapkan menjadi inti, menjadi substansi, bisa jadi terposisikan hanya sebagai sisipan, suplemen, atau pelengkap belaka. Akibatnya, kedalaman yang dijanjikannya, sebagaimana lazimnya banyak puisi, sukar untuk diselami. Apa yang dilakukan Esha patut mendapat apresiasi, dan semoga bisa membangun ruang baru bagi “jalan kepenyairan”. Bukankah puisi tidak semata keindahan bahasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KHRISNA PABICHARA,&lt;/span&gt; p&lt;span style="font-style: italic;"&gt;enyair dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta. Selain menyunting buku, juga menulis buku motivasi, sajak, esai sastra, dan resensi buku. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan sajaknya, Mozaik Berahi, sedang dalam proses terbit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang Ekspres, 21 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-9104054929321537182?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/9104054929321537182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/ladang-asketisme-orang-kalah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/9104054929321537182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/9104054929321537182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/ladang-asketisme-orang-kalah.html' title='LADANG: ASKETISME ORANG KALAH'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGgXt266RI/AAAAAAAAAPA/-FWP3vvYkxw/s72-c/pinangan-orang-ladang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-8276318664615433779</id><published>2009-07-05T22:07:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T22:09:57.912-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Soal Posisi Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGG_EOttQI/AAAAAAAAAOw/3L4sLO2FqOQ/s1600-h/0905200835309144.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGG_EOttQI/AAAAAAAAAOw/3L4sLO2FqOQ/s200/0905200835309144.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355209849945568514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul buku  : Tuhan telah Memutuskan&lt;br /&gt;Penulis  : Free Hearty&lt;br /&gt;Penerbit : Jendela&lt;br /&gt;Cetakan : I, Safar 1430 H/Februari 2009&lt;br /&gt;Tebal  : 272 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fretty, seorang perempuan yang begitu percaya dengan nasehat ibu, nenek, dan mertuanya. Posisi perempuan di hadapan lelaki adalah sebagai pengabdi. Perempuan tak berhak menggugat. Mereka—kaum perempuan itu—tidak boleh tidur, sebelum suami pulang kerja. Bahkan, bila sedang melaksanakan salat sunat, lalu mendengar suami pulang kerja, wajib bagi perempuan membukakan pintu lebih dulu kepada suami (hal. 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diam, timbul gugatan-gugatan terhadap apa yang diterima. Kenapa posisi perempuan lebih rendah? Kenapa perempuan tak boleh menggugat? Timbul pemberontakan-pemberontakan dalam diam Fretty. Tapi ia tak mampu berbuat apa. Ia menerima saja yang ada.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fretty tersadar, ketika Junedi tak seperti yang ia kira. Tak sesuai dengan nasehat ibu, nenek, dan mertuanya itu. Komunikasi yang jarang di rumah dengan suaminya, membuat ia tak pernah tahu, bahkan pekerjaan suaminya di luar. Suaminya selingkuh. Tapi Fretty masih bertahan dengan kondisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Telah Memutuskan, menggali, bahkan menggugat posisi perempuan. Tak hanya dalam rumah tangga, tapi juga posisinya di antara lelaki. Siapa sebenarnya makhluk yang bernama perempuan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, perempuan ditampilkan tidak memiliki status inferior. Ini pun disebabkan oleh kaum perempuan itu sendiri yang begitu pasrah menerima citra mereka yang tidak menguntungkan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pikiran kita kembali pada masa lalu, sepertinya ini lazim terjadi. Toh, memang pikiran tokoh utama sangat dipengaruhi oleh masa lalu: melalui nasehat-nasehat ibu,nenek dan mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya A. Discourse on Political Economy (1755), filsuf Jean Jacques Rousseau juga secara konsisten memandang perempuan sebagai makhluk inferior dan tersubordinasi. Tujuan hidup mereka hanya untuk melayani laki-laki. Karena itu, mereka tidak mungkin atau tidak akan mampu melebihi laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Free Hearty, barangkali hendak menggugat ketertindasan-ketertindasan yang terjadi pada status ke-perempuan-an mereka. Namun di sisi lain, ia juga mempertanyakan masalah kodrat. Ada titik ambiguitas ketika perempuan dihadapkan pada status mereka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Saras sepertinya mewakili sosok perempuan yang ideal: pintar, tak terikat dengan kasur, sumur, dapur, serta mampu berbuat laiknya seperti lelaki—bahkan melebihi. Tapi ia bukan tanpa cela. Saras seorang lesbi. Di balik keberhasilannya mengangkat harkat perempuan, ia tak bisa melawan sisi jiwanya yang lain: bahwa ia tak tertarik dengan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini, dengan sudut pandang seorang perempuan pula, memang secara eksplisit dan terang mengkritik perempuan, menyanjungnya, dan mempertanyakan hakekat-hakekat keperempuanan. Novel ini cocok dibaca oleh orang yang ingin menjadi perempuan yang tahu akan hak dan batasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan dalam Rumah Tangga &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Telah Memutuskan kaya akan nasehat-nasehat terhadap kaum perempuan, terutama dalam rumah tangga. “Jadi, kehidupan rumah tangga itu sebenarnya terletak kepada bagaimana orang-orang di dalamnya melaksanakan tanggungjawab, begitu kan Wit?”. Dialog ini barangkali menyampaikan pikiran sang penulis bagaimana menghadapi rumah tangga. Dialog ini secara tersirat menyampaikan pesan kepada semua kaum perempuan: di dalam rumah tangga, tanggungjawab tak hanya milik perempuan saja, tapi juga suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tangga akan menjadi seperti yang diharapkan, bila ada saling mengerti. Terjadi hubungan yang harmonis, dan saling menghargai. Ini diperlihatkan pada bab akhir. Tokoh Freety hidup bahagia dengan suaminya yang baru: Martin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martin adalah sosok lelaki ideal (dalam kehidupan nyata, sepertinya sulit ditemukan lelaki seperti Martin). Ia seorang lelaki yang pintar membangun rumah tangga. Martin, kepada anak-anak Freety mengajarkan untuk tidak saling membenci. Kehidupan mereka tidak dibahas lebih jauh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perempuan-perempuan yang ditampilkan dalam novel ini: Freety, Saras, Wita, dan anak-anak mereka, merupakan contoh sosok perempuan yang sebenarnya. Akhirnya memang, mereka semua hidup dengan pilihan mereka masing-masing. Freety bahagia dengan rumah tangga barunya. Wita memutuskan menikah—sebelumnya ia selingkuh dengan Junaedi, suami Freety, dan Saras menerima keadaannya yang lesbi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang merupakan inti dari persoalan-persoalan perempuan tersebut adalah, bagaimana mereka berjuang dalam menghadapi ketertindasan-ketertindasan disebabkan status keperempuanan tersebut. Perempuan yang berhasil adalah, bagaimana mereka memaknai masalah-masalah yang terjadi. Karena permasalahan-permasalahan yang terjadi, cenderung beragam. (Andika Destika Khagen)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-8276318664615433779?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/8276318664615433779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/soal-posisi-perempuan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8276318664615433779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8276318664615433779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/soal-posisi-perempuan.html' title='Soal Posisi Perempuan'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGG_EOttQI/AAAAAAAAAOw/3L4sLO2FqOQ/s72-c/0905200835309144.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-6803980363585587597</id><published>2009-06-19T02:12:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T02:16:23.173-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Guru Hasim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtXQrqjowI/AAAAAAAAAOo/oUIrCVPNBNQ/s1600-h/1guru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 176px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtXQrqjowI/AAAAAAAAAOo/oUIrCVPNBNQ/s200/1guru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348964926543340290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Persendiannya&lt;/span&gt; terasa lelah. Tiba-tiba ia merasa tak berarti. Tas kulit yang menemaninya 30 tahun, dilempar tanpa iba. Ia mengantuk. Tapi matanya tak akan terpejam malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperbiarkan saja matahari senja masuk ke dalam ruang tamunya. Ia tak berselera bercengkrama. Ketika istrinya menghidangkan kopi, ia tak seperti  biasa, menyeduhnya sampai habis. Ia ingin berteriak melepas kekesalan, di sebuah tempat yang hanya ada ia dan dirinya sendiri. Ingin diusirnya semua makhluk yang bernyawa, yang berada di depannya.        Guru Hasim, tak habis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pikir istrinya, wajahnya begitu murung. Ditanya, ia bisu. Ia enggan bersuara. Di ruang tamu, ia bermenung sendiri. Seperti orang yang kehilangan sesuatu benda berharga, tapi tak pernah tahu, di mana benda itu ditaruh. Ya, benda berharga itu memang telah hilang dari dirinya: semangat seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Tak akan ada yang berubah Guru Hasim.” Kalimat itu menyentaknya. Masuk ke dalam nadinya menjadi pisau. Mengirisnya. Lalu ia meregang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ia muak melihat Rosna, Saldi, Halim, Hasan, Nira, dan semua orang yang menyebut diri mereka guru. Telah berapa kali didebatnya di dalam rapat majelis guru, sudahlah, jangan terlalu peributkan masalah gaji, yang penting, bagaimana anak didik kita menjadi orang. Itu tanggung jawab kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisa Guru Hasim. Ini hak.” Disela kepala sekolah. Disoraki semua guru,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.perjuangkan.” Guru-guru itu, turun ke jalan. Menuntut haknya di jalan. Ia tak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;habis pikir. Melelahkan, semua lokal, hari itu, ia yang mengajar sendirian. Namun, bukan itu yang membuatnya begitu lelah, ia hanya tak ingin meninggalkan tanggungjawabnya sebagai guru. Ia selalu ingin memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, ia telah memutuskan: berhenti menjadi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan terlalu idealis, Pak.” Istrinya tak setuju. Murung wajahnya mendengar ucapan suami tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ini guru. Tidak pernah bisa menjadi pengusaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mengerti apa omongan Bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau memang tidak akan pernah mengerti, istriku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah larut malam, belum juga tenang hatinya. Dibangunkan istrinya yang sudah tidur dengan lelap. “Ada apa Pak?” Disodorkan selembar kertas yang sudah terketik dengan rapi. Nama-nama guru dengan daftar gaji. Kertas itu, tadi siang diambilnya dari ruang kepala sekolah yang pergi berdemo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya masih tak paham, apa maksud suaminya itu. Wajah polosnya seperti memelas. Berharap segera tiba jawaban agar ia tak lagi bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gara-gara angka itu, mereka meninggalkan murid-murid. Guru kencing berdiri, murid telah kencing berlari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya, yang sudah beruban itu, sepertinya masih tak paham, kemana arah pembicaraan suaminya. “Apa yang hendak Bapak perbuat? Berhenti menjadi guru? Apa Bapak mau jadi pengusaha? Begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya menerawang ke loteng. Aku tak pernah memperdebatkan masalah gaji, dari dulu, ketika aku telah memutuskan untuk menjadi pendidik. Kau tahulah istriku, ini pekerjaan terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan kau potong pembicaraanku, istriku. Kau tidak akan pernah tahu, bagaimana perasaan seorang guru yang sebenarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak habis pikir, atau jangan-jangan karena aku tidak punya anak, sehingga aku tidak bisa membedakan diriku, sebagai guru atau seorang bapak. Aku merasa diriku hanya sebagai guru. Istrinya menunduk. Ia merasa terpojok dengan ucapan suaminya. Ah, andai ia bisa memberikan anak kepada suaminya tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Hasim turun dari dipan. Diambil mesin tik tua, satu-satu miliknya yang berharga di rumah itu. “Bapak mau apa?” tanya istrinya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau membuat surat pengunduran diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin bulatlah tekadnya. Tidak di timbang-timbang lagi keputusan itu. sudah terlalu bulat. Entah kenapa, ketika datang pagi ini ke sekolah, ia muak melihat guru. Tidak menyapa kepada seorang pun. Hanya kepada murid-muridnya, ia menitipkan pesan terus belajar, walau tanpa guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau Guru Hasim? Gaji naik, kau malah mengundurkan diri?” ujar Kepala sekolah ketika diserahkannya surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, andai kepala sekolah ini tahu (ia sudah berjanji untuk diam sedari rumah), ia hanya ingin menjadi guru, tidak pengusaha yang menjadi guru. Jika pendapat ini disampaikannya di rapat majelis, ia selalu kena cemoohan. Sok idealis, muna, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti kalian semua jadi guru.” Masih terngiang suaranya bergema sampai ke angkasa di suatu rapat siang itu. Karena siang itu, yang diperebutkan adalah hal yang tidak perlu. Kepala sekolah akan mengutus beberapa orang guru senior untuk mengikuti sertifikasi di Ibukota provinsi. Guru Hasim tidak terima, sebab, Hasan dan Nira, dua orang guru yang akan diutus tersebut, ia tahu benar siapa mereka. Di dalam benak kepala dua orang itu, yang ada hanya uang..uang…dan uang. Oh, semua guru sekarang hanya memikirkan uang..uang..uang. Tak pernah lagi mereka memikirkan muridnya dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau tidak terima, ya sudah Hasim.” Suasana rapat malah bertambah panas. Sebab, tak ada yang terima dengan ucapan Guru Hasim. Bah, kata Halim, 4 tahun sekolah di IKIP, tiba-tiba disuruh berhenti menjadi guru. Mau makan apa nanti? Kita, mesti memperjuangkan nasib kita, agar pendidikan ini menjadi lebih baik. Bukankah, kalau gaji kita mencukupi, baru bisa kita berbicara profesionalisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, tambah panas Guru Hasim. Berdiri ia dari duduk. Saya tahu, apa yang ada dalam benak kalian semua. Cuma uang..uang..dan uang. Mana pernah kalian mengajar dengan benar? Saya berani bertaruh, siapa guru yang paling dekat dengan siswa? Ha..ha.kalian itu bukan guru. Akui sajalah. Tiap sebentar rapat sertifikasilah, rapat beasiswalah. Murid-murid yang masih bau kencur itu, kalian perbiarkan belajar sendiri. Hanya saya yang tidak pernah berpikir seperti kalian.” Panjang lebar Guru Hasim berbicara, sampai berputar-putar ia di ruang majelis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah tahu keadaan tidak lagi kondisif. Dihentikannya rapat. Kata terakhir Guru Hasim, “Sesekali, cobalah undang saya untuk rapat kemajuan murid-murid kita, jangan hanya kesejahteraan guru.” Oh, tak ada lagi yang mendengar. Semua guru telah keluar dari ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah, kalau itu maumu. Besok, akan aku buatkan surat pensiun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak usah, Pak. Saya mengundurkan diri, tidak pensiun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hasim merasa membuat keputusan yang sangat tepat. Sudah 20 tahun, tak pernah ia menyesali keputusan itu. Baginya, guru tetap pahlawan tanpa tanda jasa. Tugasnya adalah mendidik. Soal kesejahteraan, ia yakin, suatu hari akan datang dengan sendirinya. Setelah pendidikan maju dengan guru-guru yang benar-benar ingin mendidik, kesejahteraan akan muncul. Sama halnya, ketika ia tidak pernah memikirkan untuk mendirikan sebuah sekolah tanpa biaya yang dirintisnya sendiri. Gurunya, hanya ia sendiri. Gedungnya adalah rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling penting, ia tidak pernah lagi rapat majelis. Tidak pernah berdebat tentang sertifikasi. Ia hanya mengajar, mengajar, dan mengajar. Uang sekolahnya, sumbangan beras dari murid-murid. Tak banyak memang yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah yang diberinya nama Sekolah Dasar Hasim, sebab sekolah itu tidak memiliki ijazah. Hanya orang-orang miskin, tergerak belajar, yang merelakan dirinya datang pagi-pagi, pulang sampai pukul empat sore. Malam hari, kebanyakan dari mereka, kalau tidak membantu orang tua, tidur di rumah Guru Hasim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengorbankan dirinya untuk anak-anak yang belum tahu, bahwa guru mereka itu, tidak pernah memikirkan mereka. Suruh buat tugas, marah-marah, beri nilai lapor. Rutinitas yang selalu diejeknya. Di sekolahnya, tidak ada nilai, lapor, atau tugas. Yang ada hanya: murid-murid Guru Hasim itu, mesti bisa mengaji, sopan kepada orang yang lebih tua, dan kepalanya diisi dengan moral. Ilmu eksak, tak begitu besar porsinya diajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang, ia kedatangan tamu. Hasan, S. Pd. M. Pd., begitu nama yang tertulis dari papan nama dibaju dinasnya. Sudah lama tak berkabar, rupanya Hasan, temannya sesama mengajar di SDN O1 Desa Makmur, yang pernah diejeknya dulu. Sudah mewah ia sekarang. Dulu hanya punya Honda Cup keluaran tahun 70-an, sekarang ia telah bermobil mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, sahabat. Ada apa gerangan kau datang ke sini?” Sambutnya ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sekarang tidak lagi mengajar. Aku naik jabatan, 10 tahun yang lalu, menjadi Kepala Dinas Pendidikan. Dinas Pendidikan ingin memberikan penghargaan kepadamu sebagai salah seorang pendidik teladan. Aku selalu mengikuti sepak terjangmu, walau kau tidak pernah suka dengan caraku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha..ha..terima kasih. Tapi aku bukan guru dari lembaga resmi pemerintah. Bagaimana alasanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukan penghargaan untuk guru, tapi pendidik. Kau adalah keduanya, guru dan pendidik sejati. Ingin kuakui, kau adalah guru sepanjang masa, setidaknya di kampung ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Hasim tidak tersenyum dengan pujian itu. Ia malah masuk ke dalam lokal, dan memperbiarkan Hasan di luar sendirian. “Jangan kepadaku berikan penghargaan itu. Kalau kau mau, bantu saja aku dengan buku. Untuk murid-muridku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak tanpa sandal berlari dengan wajah yang pucat. Sambil menangis dan ngos-ngosan. Orang-orang kaget dan bertanya, apa yang terjadi? “Guru Hasim..Guru Hasim.” Jawab anak-anak itu. Sebentar, rumah Guru Hasim yang juga menjadi tempatnya mengajar, telah ramai. Istrinya yang benar-benar sudah tua itu, tak henti-hentinya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kejadiannya?” Tanya seseorang kepada anak-anak murid Guru Hasim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru..guru..Hu…hu…” anak itu malah menangis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ramailah orang berkunjung. Dari kawan hingga lawan. Hasan, yang baru siang kemarin bertemu dengan Guru Hasim tidak menyangka dengan kejadian itu. Tak tahan ia menitikkan air mata. Semua masyarakat melayat. Desa Makmur menangisi seorang putra terbaik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menangis, barangkali sadar dengan ucapan-ucapan guru Hasim, walau kasar, tapi baru sekarang mereka rasakan kebenarannya. Guru sejati adalah orang yang tidak mempedulikan apa yang ia terima, tapi sebanyak mungkin mampu memberi. Guru adalah orang yang tidak pernah lelah mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mereka juga menangisi, anak-anak didik Guru Hasim. Akan kemana mereka setelah itu. Sebab, mereka dididik tidak dengan cara yang selama ini diakui. Mereka dididik dengan cara Guru Hasim sendiri. Hanya ia yang tahu bagaimana mendidik. Istrinya yang sudah itu, tak pernah pula diajak atau diajarkan untuk menjadi guru yang benar. Hanya ia sendiri yang tahu bagaimana menjadi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu, setelah penguburan, akan lengang dari gelak tawa anak-anak yang sering bertanya dan Guru Hasim kadang kewalahannya menjawabnya. Rumah itu akan sepi dari canda, tawa, dan buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh hari setelah kematian Guru Hasim, sekolah itu benar-benar sudah tutup. Sepertinya, tidak akan pernah dibuka lagi. Sebab, tonggaknya benar yang telah rubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, andai Guru Hasim mau menurut dari dulu, tentu rumahnya sekarang telah bagus. ia bisa pula membeli mobil. Dan kalau mau, mendirikan sekolah sendiri, setidaknya tempat les. Ilmunya bisa dicontoh banyak orang. Tapi sekarang, hanya ia sendiri yang tahu cara menjadi guru. Begitu rapat di SD 01, siang itu, mengenang kematian Guru Hasim.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruangsempit, Mei 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-6803980363585587597?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/6803980363585587597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/guru-hasim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6803980363585587597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6803980363585587597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/guru-hasim.html' title='Guru Hasim'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtXQrqjowI/AAAAAAAAAOo/oUIrCVPNBNQ/s72-c/1guru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-1337767103913149133</id><published>2009-06-19T02:03:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T02:11:00.993-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Fani di Depan Pintu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtV5XyEERI/AAAAAAAAAOg/5QJGCBTDsEA/s1600-h/pintu-tua.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 181px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtV5XyEERI/AAAAAAAAAOg/5QJGCBTDsEA/s200/pintu-tua.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348963426557497618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bila &lt;/span&gt;Emak marah, Fani akan duduk di depan pintu. Itu caranya meredam emosi Emak. Biasanya, Emak akan berhenti meluapkan emosinya, lalu memeluk Fani, anak semata wayangnya itu dengan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihitungnya lagi dengan cermat, sampai lima kali. Hingga hitungan terakhir dengan jari-jarinya, Fani sepertinya tak menemukan cara untuk mengurangi umurnya: tiga puluh. Diulanginya lagi: tiga puluh. Dua bulan lagi, tepat ia akan merayakan ulang tahun yang ke tiga puluh satu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore, Neri datang lagi ke rumahnya. Ia membawa kabar gembira, tapi bukan untuknya. “Datang ya,” sembari memberikan undangan pernikahan. Teman karibnya sedari SD itu akan memulai kisah baru bersama pasangan hidupnya. Ia kenal Uda Anton, calon suami Neri itu. Mereka memadu kasih sejak kelas tiga SMP. Cinta monyet yang berujung menjadi perkawinan. Sering bertengkar, Neri sering mengadu itu kepadanya, tapi cinta mereka tak lekang oleh perkelahian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fani mengikuti betul, bagaimana teman-temannya memadu kasih. Terakhir, kisah antara Hasim dan Sari. Hasim, petani karet yang bau badannya tak pernah jauh-jauh dari karet, gigih betul perjuangannya. Berkali-kali Sari menolak, semakin ditolak, semakin teguh keyakinannya untuk berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah saya bilang, tidak. Sampai kapanpun.” Ucapan Sari kepada Hasim, di rumahnya, suatu sore. Hasim pergi untuk kembali lagi esok harinya. Ia membawa bunga mawar sebagai lambang cinta. Belum lagi bunga itu diberikan, Sari buru-buru mengambilnya dari tangan Hasim. Lalu menginjak-injaknya. Baru sekali itu kulihat, muka Hasim merah padam. Sari sepertinya keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasim berlalu dengan malu. Kuperingatkan Sari, tak boleh memperlakukan orang seperti itu. Terima saja bunganya sebagai bentuk penghargaan terhadap jerih payahnya. Mau dibuang atau disimpan, toh Hasim tidak pernah memikirkannya. Ia hanya ingin bunga itu diterima, untung kalau disimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari marah kepadaku. Ia bilang tak usah campuri urusannya. Orang seperti itu, pikirannya pendek. Kalau bunga itu diterima, besoknya ia akan membawa cokelat. Esoknya lagi bisa saja akan membawa bunga. Lalu, ketika setiap bawaannya diterima, ia akan membawakan cincin tunangan. “Tidak perlu dikasihani,” katanya kepadaku.&lt;br /&gt;Cinta memang tak pernah bisa dipikir. Masih jelas ucapan Sari terngiang-ngiang, dua bulan setelah kejadian itu, sebuah undangan terletak di atas meja. Aku sempat tak mengira ini nyata, tapi begitulah yang tertulis di kertas undangan itu: Sari dan Hasim akan menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari, Neri, Pipit, Santi, dan Suci, teman  karib sepetiduran waktu libur tiba ketika SMA dulu. Semuanya telah menikah. Paling cepat Suci. Belum lagi tamat SMA, sudah ada yang meminangnya. Seperti menghitung umurnya, dilihatnya lagi foto teman-temannya waktu liburan di Lubuk Jantan, kembali ia harus dihentakkan kesadaran, tinggal ia sendiri yang belum berumah tangga. Ya, hanya ia. Sampai tertidur, tak juga ditemukannya, barang satu orang pun teman-temannya yang belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Umur 30, bagi Fani sangat tidak menyenangkan. Ia gusar. Keluar rumah malu. Orang-orang memandang sinis. Terlebih, ibu-ibu. “Perawan tua,” kata mereka yang membuat Fani tak habis pikir, sebab, kehidupannya adalah caranya sendiri. Menikah pun, pilihannya, lama atau cepat, hanya masalah waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak bisa selalu menghibur diri dengan prinsipnya. Sebab Emak, pun mendesaknya. Ah, ingin didebatnya Emak. Tapi ia sudah muak bertengkar, hampir tiap hari. Sebulan yang lalu, ada lelaki yang akan meminangnya. Namanya Budiono, orang Jawa yang bekerja di perkebunan. Ia seorang teknisi lapangan. Memiliki satu buah honda bebek. Paras mukanya biasa saja, agak kehitam-hitaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, ia ingin mengakhiri kisah pilunya. Agar tak ada lagi yang menertawakan. Soal paras dan harta, baginya tak lagi penting. Bayangannya akan lelaki gagah, kaya, dan seperti bintang film, seperti gunjingan waktu SMA dulu, tak lagi dihiraukan. Ia tak ingin lagi bertengkar dengan Emak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah menyatakan kesetujuannya di depan Budiono. Tapi Emak marah setelah budino pergi. Emak tidak ingin mendapatkan menantu orang luar. Apalagi yang tidak punya suku¹. Emak berharap, menantunya adalah orang sekampung saja. Alasannya sederhana, kalau terjadi apa-apa pada pernikahanku, misalkan suamiku selingkuh, ia bisa menuntut. Kalau bersuami orang luar, kemana akan dicari kalau terjadi pertengkaran yang berujung perceraian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak menyamakan dengan pernikahannya yang kandas. Orang Jawa juga. Emak cemburu, ia mendapati sapu tangan Bapak ada lipstik perempuan ketika akan mencucinya. Ia masih ingat betul, Emak marah-marah di depannya. Esok paginya, Bapak pergi, dan tak ada yang tahu. Sampai kini,  tak pernah Bapak berkabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga, Emak mencarikanku jodoh. Bisannya. Oh, bukan aku tidak mau. Emak sebenarnya tahu, bisanku itu ringan tangan. Di kampung, berkelahi saja kerjanya. Apakah Emak tidak iba anaknya dipukul oleh lelaki yang pacakak itu? Jelas aku menolak mentah-mentah. Tak kuhiraukan Emak marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Jangan duduk juga di depan pintu,” berkali-kali Emak memperingatkan itu. Tidak bisa diubah Mak, di depan pintu ini, aku bisa melepas hati karena Emak marah. Tak benar itu, mitos orang-orang tua kita yang bilang, kalau duduk di depan pintu, sulit mendapatkan jodoh. Jangan samakan dengan keadaanku sekarang. Ini hanya perihal waktu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari kecil, Emak sering menakut-nakutiku dengan hal-hal yang tidak masuk akal. “Jangan main jauh-jauh. Di depan ada orang yang akan memenggal kepala anak-anak untuk pondasi jembatan.” Emak menunjuk orang-orang berpakain kuning dengan helm kuning pula. Aku jadi takut, dan tak jadi main keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika SMA aku baru sadar, ternyata yang dibilang Emak bukan orang yang akan memenggal kepala anak-anak, tetapi pekerja proyek yang sedang bertugas. Ah, Emak mengada-ada. Anak gadis tidak boleh pulang larut malam. Sulit pula mendapatkan jodoh.&lt;br /&gt;Aku sudah terlalu malas bicara petuah-petuah tak masuk akal. Menggunting kuku disenja hari, tidak boleh. Lunak daging, katanya. Tidak kita yang berbuat, dituduh juga oleh orang lain. Siang hari, aku tak sempat menggunting kuku. Sibuk bermain dengan teman-teman. Hanya ini waktuku untuk membersihkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjahit baju di malam hari, juga tak boleh. Ada-ada saja. Katanya, kita mudah terkena sial. Apa pula hubungannya? Keluar akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak terima, duduk di depan pintu, bisa menjauhi jodoh. Terlalu jauh jaraknya jika ingin dipertemukan. Aku bukannya sulit mendapatkan jodoh. Hanya, setiap yang kudapat, Emak tak pernah bersetuju. Jodoh yang diberikannya padaku, tak cocok dengan seleraku. Aku kadang berpikiran buruk, jangan-jangan Emak sengaja membuat keadaan seperti ini. Tapi tak mungkin, aku anaknya. Ia pasti menginginkan yang terbaik. Sering aku mengalah dengan alasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Emak sudah marah, aku duduk lagi di depan pintu, seperti waktu-waktu yang lalu. Di sini, aku bisa bebas memandang orang-orang yang tak marah seperti Emak. Tapi hari ini Emak agak kasar. Biasanya ia hanya melarang, dan berucap mitos-mitos lama untuk menakutiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuk,  Maaasuuuukkk,” merah padam muka Emak. Belum pernah ia kulihat semarah itu, dari kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di umurku yang ke-30, tak pantaslah aku menerima sumpah serapah. Toh, aku sudah bekerja dan mampu menghidupi hidupku sendiri. Walau tak memadai menjadi guru honor, tapi untuk biaya hidupku sendiri, rasanya cukuplah. Tak perlu Emak berkasar-kasar seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu bulan lagi, waktumu. Kau harus mendapatkan jodoh. Emak sayang padamu. Tak tega Emak kamu dipergunjingkan ibu-ibu. Sudahlah, tidak usah memilih. Umurmu sudah terlalu tua sebagai wanita. Hanya satu permintaan Emak, harus orang punya suku, menantuku.”&lt;br /&gt;Hatiku terlanjur beku untuk mengiyakan kata-kata Emak. Sekali ini, keterlaluan marahnya. Aku tak terima. Berlari lagi aku ke pintu, duduk di sana sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fani…” tegur Emak. Jangan duduk juga di depan pintu. Malu dilihat orang-orang yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku belum mendapatkan jodohkan, Mak?” sergahku memberanikan diri. Bukan melawan, hanya mempertanyakan alasannya tak memperbolehkan aku duduk di situ. Anak gadis (kadang aku malu bila Emak menyebut dengan panggilan itu) adalah penjaga rumah. Duduknya tidak di pintu, tapi di ruang tamu. Dalam hukum adat, perempuan yang duduk di pintu, selain tidak elok dipandang, juga sulit mendapatkan jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah nama itu benar atau tidak, tapi Emak selalu menyebutnya bila aku duduk lagi di depan pintu seperti sekarang. Suru, sekarang telah meninggal, tidak pernah menikah sampai ia mengehembuskan nafas terakhir. Kau tahu? Gara-gara ia selalu duduk di depan pintu. Lelaki tidak mau mendapatkan jodoh gadis yang suka duduk di depan pintu.&lt;br /&gt;Seperti berceramah, Emak berkhutbah. Dimata lelaki, gadis yang duduk di depan pintu adalah pemalas, tidak pandai merawat anak, sedikit masalah di rumah tangga, langsung cerai, karena memang gadis itu pikirannya sangat pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menemukan diriku pada apa yang dikatakan Emak. Tapi aku lelah membantahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Saya ingin melamar anak Ibu.” Seorang lelaki didampingi orang tuanya barangkali, membuka cerita sore ini. Sumringah wajah Emak kulihat. Tapi aku sengaja tak menghampirinya. Aku dengarkan saja dari jauh perbincangan Emak.&lt;br /&gt;“Dari suku mana?” Biasa, Emak selalu memulai pertanyaan dengan itu. Aku kira, ini tak akan berakhir indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pitopang. Mamak saya Datuk Paduko Rajo,” ujarnya yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak tercengang. Apa yang dinantinya telah datang. Tamu dari jauh, yang seharusnya datang pada umurku yang ke-25. Tapi tak apalah, walau terlambat, yang penting ia tak menghilang. “Fani, ambilkan air minum. Ada tamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang dari belakang dengan nampan di tangan. Aku malu-malu. Masih ada, lelaki yang menerima perempuan setua ini. Itu kebanggaanku sore ini. “Sungguh kau ingin meminang anakku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangguk. “Bagaimana Fani?” Emak berpaling kepadaku. Oh, aku malu-malu lagi. Sambil menunduk, sedikit tersenyum, aku masuk ke dalam kamar. Lelaki itu gagah, kuning langsat, dan matanya sedikit sayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pamit. Emak memelukku. Akhirnya aku bermenantu juga, kata Emak riang. Terbayang di wajahnya akan menggendong seorang cucu yang mungil. Melewati rumah ibu-ibu yang menertawakan anaknya. Sabarlah, tinggal mencari hari baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bukan hari baik, tapi kabar buruk. Begitu kejadian yang secara tiba-tiba, dan tak sempat dicerna Emak, juga olehku. Jarak waktu setengah jam, semuanya berubah.&lt;br /&gt;Lelaki yang memperkenalkan dirinya bernama Rudi, kini berada di ruang jenazah di salah satu rumah sakit di ibu kota kecamatan. Sepeda motornya ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil kijang yang melaju kencang. Ini cerita dari orang-orang yang tahu, barangkali hanya mendengar. Yang jelas, ia dan orang tuanya, tergilas. Ngeri aku membayangkan. Oh, baru saja harapan itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak, perangainya terhadapku langsung berubah mendengar kejadian itu. mitos-mitos kembali terlontar, yang berujung pertengkaran denganku. “Matanya itu sayu. Sayut-sayut sampai. Orang yang bermata sayu, umurnya tak panjang,” kata Emak. Aku tak menghiraukan kata-kata Emak sampai ia menyerangku dengan hal-hal yang tak masuk akal, yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mesti di pabingkean² segera,” ujar Emak berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruangsempit, Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;¹ = di Minangkabau, orang yang sesuku disatukan dengan jalinan tali darah. Sifatnya turun temurun.&lt;br /&gt;²=  semacam doa tolak bala, dengan mengundang orang-orang datang ke rumah. Lalu      mendoakan agar sialnya bisa hilang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-1337767103913149133?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/1337767103913149133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/fani-di-depan-pintu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1337767103913149133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1337767103913149133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/fani-di-depan-pintu.html' title='Fani di Depan Pintu'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtV5XyEERI/AAAAAAAAAOg/5QJGCBTDsEA/s72-c/pintu-tua.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-5135332083054504386</id><published>2009-06-14T08:24:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T01:10:10.917-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Andreas Harsono (Praktisi Pers) : Masyarakat Bermutu Lahir dari Pers yang Bermutu</title><content type='html'>&lt;a style="font-weight: bold;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjUW9uz15fI/AAAAAAAAAOY/6BExefeYzTw/s1600-h/andreasharsono.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjUW9uz15fI/AAAAAAAAAOY/6BExefeYzTw/s320/andreasharsono.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347205382365636082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HARMOKO &lt;/span&gt;melarangnya bekerja di media. Ia dianggap wartawan yang berbahaya. Di harian  Jakarta Post, ia dikeluarkan tahun 1994. Biangnya: ia diduga terlibat organisasi wartawan menentang pemerintah. Bill Kovach membuka matanya tentang kebenaran jurnalistik.  Kepada Padang Ekspres, Adreas Harsono, lelaki keturunan Jawa-China itu, bertutur banyak hal tentang wartawan, perusahaan pers, dan dirinya sendiri. Sangat terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama kecilnya adalah Ong Tjie Liang. Dibesarkan di Jember. Kelak, nama Liang oleh sengkek (ayah) diganti dengan nama Jawa: Andreas Harsono. Keputusan ini diambil akibat pemerintah Orde Baru yang diskriminatif terhadap warga keturunan. Dari kejadian itu, Andreas bercita-cita ingin menjadi jurnalis. Ia ingin membela, bahkan membebaskan orang-orang yang menderita dan tertindas. Tentu, dengan caranya: menulis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itu tidaklah mudah. Sebab, di Indonesia, suara pers dibungkam oleh penguasa. Media menyimpang dibrendel. Tugas terberat yang diembannya adalah memperjuangkan kebebasan pers. Ia percaya benar, masyarakat bermutu lahir dari pers yang bermutu pula. Maka proses untuk mendapatkan informasi yang bermutu itu perlu dilindungi. Artinya pers atau media harus bebas agar kehidupan masyarakat terlindungi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 7 Agustus 1994, ia bersama teman-temannya menandatangani Deklarasi Sirnagalih di Puncak—deklarasi yang mendirikan Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI), dua minggu sesudah rezim Orde Baru membredel tiga mingguan di Jakarta. AJI jelas dan tegas prinsipnya, berjuang untuk kebebasan pers yang dibungkam dengan rapat oleh pemerintah.&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama, ia bergabung dengan Institute for the Studies on Free Flow of Information—institut yang mengkaji kebebasan informasi. Andreas menjabat sekretaris umum. NGO ini didirikan setelah ditutupnya tiga surat kabar mingguan—Detik, Editor, Tempo—oleh rezim Soeharto bulan Juni tahun 1994. Goenawan Mohamad (pendiri majalah Tempo) memimpin NGO ini untuk bertarung melawan penyensoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan pers dibuka pada tahun 1998, ketika rezim yang membredel pers itu runtuh. Ia kemudian mendirikan SEAPA, sebuah organisasi nirlaba yang menyuarakan kebebasan murni pada pers yang ada di Asia Tenggara. Didirikan di Bangkok pada tahun 1998. SEAPA, tutur Andreas, bertujuan untuk menyatukan jurnalis yang independen dan organisasi pers di daerah-daerah untuk mendapatkan perlindungan hukum dan perlindungan bersama-sama pada setiap daerah.&lt;br /&gt;Andreas Harsono jelas tidak ingin kebebasan itu direnggut lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan Kebebasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Soeharto mundur dari jabatan presiden, pelbagai macam sensor pemerintah mulai dihapus. Ia, yang pada tahun 1993 telah memulai kariernya sebagai wartawan penuh, dan aktif pada gerakan melawan rezim yang membungkam kebebasan pers, semakin memperkaya pemahamannya tentang makna kebebasan pers itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang gerak pers lebih longgar terwujud. Kemudian, mudah mendirikan perusahaan pers. Namun, kebebasan itu berakibat ironi, banyak muncul media yang kurang bermutu, bermunculan bahkan bersemangat. Ada saja kelakuan mereka. “Saya pikir, kelonggaran ini seyogyanya diimbangi dengan peningkatan mutu jurnalisme.” Ini jadi semakin serius ketika ia belajar dengan asuhan guru jurnalisme Bill Kovach di Universitas Harvard pada 1999-2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, ujar Andreas, apa yang ditakutkan banyak orang terjadi. Sekarang ini, isi media dominan kriminalitas, seks, dan sebagainya. Televisi juga penuh acara mistik. Acara-acara aneh yang dianggap kurang bertanggungjawab.  Dari sudut lain, tekanan juga muncul, namanya pasar. Dan juga konglomerasi media. Sekarang orang harus efesien. Satu  wartawan harus menulis tiga berita.  Atau terjadi pemakaian berita secara bersama-sama: satu wartawan beritanya dipakai oleh beberapa atau puluhan surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga mencolok adalah: media di Jawa, Medan. Makassar, dan lain-lain tidak pernah mau mengkritik sesama media. Ini luar biasa anehnya. Kenapa? Karena salah satu kerja media adalah memantau kekuasaan. Kekuasaan itu bisa pemerintah, pers, tentara, agama, dan sebagainya. Tapi terhadap sesama media, tidak pernah dipantau dengan standar yang sama. Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, di negera  lain—misalnya India atau Amerika Serikat—praktik semacam itu cukup lazim. Artinya kalau ada koran atau majalah nulis jelek, dia akan dikritik oleh koran lain. Misalnya, kalau ada tuduhan bahwa salah seorang pimpinan media melakukan tindakan korupsi, menggelapkan pajak, dan sebagainya. Namun apakah ada pemberitaan tentang itu di media lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas Andreas, itu adalah solidaritas yang tidak pada tempatnya. Semestinya pemilik koran itu tidak dipandang sebagai pemilik, melainkan sebagai warga negara biasa.  “Saya pernah bekerja di beberapa media internasional. Kalau editor saya salah, mereka selalu bilang: Anda punya hak untuk melaporkan dan menulis cerita tentang saya di koran ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BBC London pernah membuat kesalahan sehingga seorang narasumber mereka bunuh diri. Itu dilaporkan oleh BBC sendiri. Reporter The New York Times pernah menipu, dan dilaporkan oleh The New York Times sendiri. Koran itu juga pernah keliru dalam soal senjata pemusnah masal di Irak; itu diberitakan oleh NYT dan mereka minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi di media kita, kalau wartawannya sendiri yang meninggal atau kawin, barulah beritanya dimuat. Tapi, menjadikan koran seperti media keluarga semacam itu tidak mengapa. Asalkan, kalau pemiliknya melakukan kejahatan, misalnya korupsi atau melakukan pelecehan seksual, itu harus diberitakan. Mereka toh memberitakan orang lain — orang selingkuh diberitakan, orang korupsi diberitakan. Tapi dirinya sendiri tidak diberitakan. Padahal, kalau media menempatkan diri sebagai institusi masyarakat, memberitakan diri sendiri itu tidak ada masalah, justru akan membuat kredibilitas koran bersangkutan semakin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman terhadap kebebasan pers juga bisa muncul dari pemilik media itu, misalnya dengan alasan bisnis. Menurut survei National Democratic Institute, hampir 95 persen dari semua informasi soal politik yang diperoleh warga Indonesia –kecuali Maluku dan Papua—didapat dari surat kabar dan televisi yang pemegang sahamnya ada di Jakarta. Jadi sangat terkonsentrasi oleh segelintir orang yang ada di Jakarta. Sekitar sebelas televisi nasional yang ada di Jakarta itu menguasai audiens sekitar 92 persen di seluruh Indonesia. Ini sangat mengganggu. Artinya suara, reportase, perspektif, interpretasi berita itu semua ditentukan dari Jakarta. Efeknya adalah suara-suara orang di luar Jakarta tidak pernah muncul di media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu bisa disimpulkan bahwa kebebasan pers dan kebebasan mendapatkan informasi tidak termanfaatkan dengan semestinya. Terjadi konsentrasi pemilik modal di Jakarta. Mutu wartawan juga masih masalah besar. Menurut beberapa survei, kebanyakan wartawan di Jawa dan Medan menerima amplop, suap. Saya kira di tempat-tempat lain pun sama. Inilah salah satu sisi terburuk dalam jurnalisme Indonesia, yaitu wartawannya mudah sekali disuap. Mungkin mereka mengatakan gajinya kecil. Tapi, saya kira kebanyakan wartawan menerima upah di atas upah minimum. Jadi tidak ada alasan untuk membenarkan suap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu tulisan mereka juga buruk. Semua orang mengeluhkan hal ini. Sekarang, ada lebih dari 25 ribu wartawan. Dalam waktu 4 tahun, bisa muncul lebih dari 18 ribu wartawan. Ini bukan sesuatu yang bisa disederhanakan. Penyebab yang ditimbulkannya adalah, banyak wartawan dan editor yang tidak terlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurnalistik yang Memikat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil meminum kopi yang hampir dingin, tiba-tiba Andreas berkata agak lantang,” Mengapa kita di Indonesia tidak punya media di mana kita menulis secara panjang?” Mengapa jurnalisme sastrawi (literary journalism) tidak berkembang dalam dunia media, sastra, seni dan intelektual Indonesia? Atau dengan kalimat perbandingan. Mengapa kita tidak punya majalah semacam The New Yorker? Atlantic Monthly? Harper’s?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Amerika Serikat mereka punya majalah TIME, Newsweek dan sejenisnya, kita juga punya Tempo, Forum, dan lain-lain. Kalau Amerika punya harian The New York Times, Washington Post, kita juga punya harian sejenis. Tapi mengapa kita ompong di jurnalisme sastrawi? Istilah jurnalisme sastrawi adalah salah satu dari sekian banyak nama buat genre tertentu dalam jurnalisme. Tom Wolfe pada 1960-an memperkenalkannya dengan nama “jurnalisme baru.” Ada juga yang memakai nama “narrative reporting”. Ada juga yang pakai nama “passionate journalism.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi intinya, genre ini menukik lebih dalam daripada apa yang kita kenal sebagai “in-depth reporting.” Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut. Tulisan biasanya panjang. The New Yorker bahkan pernah hanya menerbitkan satu laporan hanya dalam satu edisi majalah. Wawancara untuk sebuah laporan bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan ratusan, nara sumber. Risetnya juga tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua. Tapi bisa berbulan-bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, tutur Andreas,  tentu ada penulis yang punya kegemaran menulis panjang dan bergaya jurnalisme baru. Ia, katanya,  menikmati sekali buku Bondan Winarno, “Sebongkah Emas di Kaki Pelangi” atau artikel-artikel George J. Aditjondro.  Tapi di kalangan penulis yang muda, siapa yang suka menulis lebih dari 20.000 kata? Mereka tumbuh hanya dengan batas 1.000 atau 2.000 kata. “Saya pikir gaya begini tidak akan berkembang bila di Indonesia tidak ada media yang menjadi wadah buat perkembangan para penulis muda dengan gaya jurnalisme baru,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mereka tidak berkembang karena pasarnya kecil? Apakah mereka ompong karena jamannya Orde Baru belum memungkinkan buat gaya begitu? Andreas tidak tahu jawabannya secara pasti.  Dan, ketika pulang dari Harvard, ia diminta menyunting majalah Pantau, yang mencoba menerapkan laporan jurnalisme tersebut. Sayang, majalah tersebut tidak bertahan lama. Kendalanya dana tak memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan untukWartawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan pers di Indonesia perlu cepat-cepat diperkuat antara lain dengan mengembangkan kemampuan jurnalisme dan memperbanyak jumlah wartawan yang memperdalam ilmunya. Dalam dua tahun ini di Indonesia mungkin ada lebih dari 1.000 penerbitan baru. Tapi sumber daya manusia di bidang media sangat terbatas. Banyak media baru tapi sedikit wartawan. Redaktur juga banyak yang tidak memenuhi syarat. Lembaga pendidikan kurang siap. Di Indonesia hanya ada beberapa perguruan tinggi yang punya jurusan jurnalisme: Universitas Pajajaran Bandung, IISIP Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan negara-negara Asia lainnya, wartawan Jakarta juga termasuk ketinggalan dalam mencari beasiswa. Ambil contoh Nieman Foundation di Universitas Harvard. Indonesia sejak program ini berdiri 1938 hanya memiliki tiga alumni: Sabam Siagian (The Jakarta Post), Goenawan Mohamad (Tempo) dan Ratih Hardjono (Kompas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan Jepang (26), India (17) dan Cina (14). Atau kalau mau dibandingkan dengan negara-negara Asia yang lebih kecil: Korea Selatan (19), Filipina (11), Malaysia (4) dan Thailand (4). Indonesia hanya lebih tinggi dari Vietnam (2) dan Singapura (1).  “Saya optimis, wartawan dengan kualitas bagus, akan meningkatkan mutu jurnalisme kita.” (Andika Destika Khagen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-5135332083054504386?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/5135332083054504386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/andreas-harsono-praktisi-pers.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/5135332083054504386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/5135332083054504386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/andreas-harsono-praktisi-pers.html' title='Andreas Harsono (Praktisi Pers) : Masyarakat Bermutu Lahir dari Pers yang Bermutu'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjUW9uz15fI/AAAAAAAAAOY/6BExefeYzTw/s72-c/andreasharsono.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-7430781877003369246</id><published>2009-05-17T09:38:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T02:26:07.194-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Dinamika Perbukuan di Sumatera Barat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDJfR6BxI/AAAAAAAAAPQ/FAnu64YSWYc/s1600-h/buku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 162px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDJfR6BxI/AAAAAAAAAPQ/FAnu64YSWYc/s200/buku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355275999703074578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI&lt;/span&gt;  Padang, sejak 2005 hingga sekarang telah beberapa kali digelar book fair atau pameran buku dengan label, seperti, Padang Book Fair, Minangkabau Book Fair, dan Pesta Buku. Meski tidak diikuti oleh seluruh penerbit, setidaknya  apa yang kita lihat pada perhelatan buku tersebut, bisa menjadi bagian kecil dari persoalan perbukuan di Sumatra Barat, menyangkut jumlah judul buku, yang terbit dan beredar, berbanding dengan jumlah pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang sangat menarik dari beberapa sumber, industri perbukuan cenderung menggembirakan, tetapi jumlah buku yang diproduksi sangat rendah, termasuk dibandingkan dengan Vietnam sekalipun. Jika ini dilihat dengan perbandingan jumlah penduduk Indonesia, sungguh ironis, Indonesia yang berpenduduk lebih dari 225 juta jiwa baru sanggup menerbitkan sekitar 8.000 judul buku per tahun. Jumlah ini sama dengan Malaysia yang berpenduduk sekitar 27 juta jiwa dan jauh di bawah Vietnam yang bisa mencapai 15.000 judul buku per tahun dengan jumlah penduduk sekitar 80 juta jiwa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa bayangkan pengetahuan seperti apa yang akan diperoleh oleh 225 juta jiwa itu dari 8.000 judul buku. Cukup beralasan, jika selama ini kita cenderung miris memandang pengetahuan masyarakat. Belum lagi, kita diributkan dengan wacana minat baca. Lalu, akar persoalannya di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak akar persoalan yang berkelindan tentang perbukuan ini, jika ditelusuri, akan sampailah pada urat tunggangnya; penerbit. Di sinilah pangkal persoalan. Kita tidak akan meragukan tentang berapa jumlah naskah yang siap tulis. Sebab, penulis berlimpahan di sini. Di tilik secara garis besar, ada dua persoalan yang muncul dari penerbit, seiring dengan sedikitnya buku terbit di Indonesia.&lt;br /&gt;Pertama, persoalan bahan baku, dalam hal ini kertas. Harga kertas yang selalu mengarah naik, menjadi persoalan tersendiri bagi penerbit. Penerbit tentu sangat berharap adanya subsidi terhadap kertas ini. Namun, di luar itu, strategi lain juga dibutuhkan. Seperti yang disampaikan Fadlillah Malin Sutan Kayo, penulis buku Kecerdasan Budaya, “Guna mengimbangi mahalnya harga kertas terhadap tuntutan harga buku, bisa dilakukan dengan memakai kertas dengan kualitas standar atau sedikit di bawah standar, itu untuk dilempar ke masyarakat. Sementara untuk kolektor buku, bisa dipesan ke penerbit sesuai kertas yang diingininya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bagi penerbit besar ini tidak berlaku, tetapi bagi penerbit kecil ini sangat perlu, selain harapan regulasi pemerintah semacam subsidi. “Strategi dan regulasi pemerintah tersebut, pada akhirnya akan menguntungkan semua pihak, penerbit bisa menggenjot produksinya, impian masyarakat tentang buku murah pun bisa terwujud,” tambah Fadlillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan selanjutnya, masalah yang berkaitan dengan distribusi buku. Jaringan pemasaran dari penerbit ke toko-toko buku dihadapkan pada kelindan urusan administratif. Entah itu perizinan, likuiditas, sampai solvabilitas penerbit. Sehingga buku-buku banyak dipasarkan secara gerilya dalam satu komunitas. Tak jarang penulis pun terlibat dalam pemasaran buku-bukunya.  Hal ini diakui Esha Tegar Putra, penyair, yang buku kumpulan puisinya Pinangan Orang Ladang akan diluncurkan akhir bulan ini. Keadaan yang memaksa untuk itu, terkadang hasil nota kesepakatan dengan penerbit tidak cocok, atau ada faktor lain yang menyebabkan itu. “Ya, ada penulis yang ikut dalam pendistribusian bukunya sendiri. Bagi saya itu biasa saja, penulis tentu saja ingin melihat apakah bukunya diminati banyak orang, dan apakah buku tersebut ada manfaatnya setelah dibaca. Meski di satu sisi ini sangat miris sekali, tapi tak ada salahnya bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, penerbit perlu juga melakukan studi pemasaran buku. Tidak hanya sekadar menerbitkan, tapi juga harus paham bagaimana mendistribusikannya. “Jadi diperlukan juga ahli tata niaga perbukuan,” imbuh Fadlillah. Di Sumatra Barat, yang hanya memiliki dua toko buku yang besar (Gramedia dan Sari Anggrek), menurut Azhar Muhammad, pemilik toko buku Sari Anggrek, “Kita tidak tahu persis berapa banyak penerbit yang masuk ke Sumbar. Di toko buku Sari Anggrek ada kurang lebih 200 penerbit yang mendistribusikan buku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah tersebut tentu sangat kecil dibanding jumlah penerbit yang menjamur seperti sekarang. IKAPI yang nota bene kumpulan para penerbit juga kewalahan dalam mengatur mata rantai distribusi ini. Dibenarkan oleh Miko Kamal, wakil ketua IKAPI Sumbar, “Kalau saya melihat dunia perbukuan Sumbar sekarang ini, belum maksimal. Keterbatasan kita adalah masalah dana dan jaringan. Berbicara tentang jaringan, kita di Sumbar belum terlalu kuat untuk mengkooptasi penulis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan yang tidak terkooptasi ini membuat sebagian besar penulis buku di Sumbar menyerahkan naskahnya kepada penerbit di luar Sumbar. Ini menyangkut penyebaran buku mereka nantinya setelah terbit. Apalagi penerbit luar menerapkan strategi; penulis dapat memakai nama sebuah komunitas untuk menjadi label penerbit pada buku tersebut, sementara penerbit yang mencetak naskah tersebut cukup sebagai pencetak saja. Namun, distribusinya diatur oleh penerbit pencetak tersebut sesuai kesepakatan dengan penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi ini sebenarnya berimbas baik juga terhadap penerbit kecil atau lokal. Dengan menyerahkan naskah terbitannya ke luar, mereka akan terbantu dalam pemasaran, sebab penerbit luar yang dituju tentu saja penerbit yang mempunyai banyak jaringan di seluruh Indonesia. Sementara brand atau merek penerbit kecil/lokal tadi tetap dicantumkan sebagai penerbit. Seperti yang pernah diterapkan oleh Andalas University Press, yang menggaet Nailil Printika, Yogyakarta, untuk mencetak&lt;br /&gt;Naskahnya. “Buku-buku tersebut tetap terbitan Andalas University Press, tapi dicetak oleh Nailil Printika. Dengan demikian, untuk pemasaran kita terbantu,” ungkap Zaiyardam Zubir, penulis buku-buku gerakan sosial dan panitia penerbitan 50 buku Unand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dinamika perbukuan, di sekian banyak  pesta buku yang kita kunjungi di Padang, seyogyanya kita bisa sumringah ketika meninggalkan arena pesta dengan membawa buku yang diingini. Namun, sengkarutnya dunia perbukuan di negeri ini, membuat kita hanya bisa menghela nafas panjang sambil mengusap dada. (Gusriyono/S Metron M/Andika Destika Khagen/Fadli Akbar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-7430781877003369246?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/7430781877003369246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/dinamika-pembukuan-di-sumatera-barat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7430781877003369246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7430781877003369246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/dinamika-pembukuan-di-sumatera-barat.html' title='Dinamika Perbukuan di Sumatera Barat'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDJfR6BxI/AAAAAAAAAPQ/FAnu64YSWYc/s72-c/buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-224701982090022360</id><published>2009-05-17T09:31:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T02:26:55.474-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Pengunjung Badan Perpustakaan dan Kearsipan Meningkat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDVYhvjOI/AAAAAAAAAPY/7CjUdSVFwyE/s1600-h/library.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDVYhvjOI/AAAAAAAAAPY/7CjUdSVFwyE/s200/library.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355276204048878818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TANGGAL &lt;/span&gt;17 Mei 2009tak banyak yang tahu adalah hari buku Nasional. Sebuah peringatan untuk memberikan penyadaran, sebanyak apa kita membaca buku. Tak gembor-gembor seperti laiknya merayakan ulang tahun selebriti, hanya membuat kita kembali sadar, bahwa membaca itu sangatlah penting. Seperti pesan pada sebuah spanduk yang terpajang di Pustaka Daerah dan kearsipan Sumatera Barat, “Belajar sepanjang hayat, Membaca sepanjang masa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak punya uang membeli buku? Malas? Enggan? Terlalu berat? Masih ada lagi alasan? Untuk buku, sepertinya tak ada alasan untuk tak membacanya. Sebab, tutur Eka Nuzla, SH, Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar, membaca akan memberikan pencerdasan bagi siapa saja yang mau bergelut di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak ada alasan, karena membaca hanya masalah kemauan. Tak perlu membeli, sebab telah tersedia bahan bacaan itu, setidaknya di perpustakaan. Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumatera Barat, kepada pelanggan, memberikan banyak kemudahan-kemudahan. Semua, demi tujuan, masyarakat mau membaca. Hanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang tertuang dalam Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia nomor 001/org/1990, tugas perpustakaan adalah melaksanakan pemberian layanan dan pengembangan perpustakaan di daerah dan pelestarian bahan pustaka. Pada hakekatnya, perpustakaan adalah milik bersama, tempat meningkatkan ilmu mendidik diri dan tempat belajar. Mirip toko serbaguna. Semuanya ada. Dari koleksi ilmiah, koleksi popular, hingga koleksi praktis. Dari jenis buku fiksi, non fiksi sampai jenis non buku seperti cd, microfish, dan kaset pita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pengunjung yang ingin mencari informasi yang dibutuhkan secara cepat, bisa dibantu oleh petugas pustaka untuk mendapatkannya. Ini salah satu layanan dengan nama Layanan Penelusuran Informasi. Layanan informasi referensi yang membutuhkan layanan cepat melalui telepon, surat faxmili, dan email, pun dilayani. Pada dasarnya, siapapun kita, apapun profesinya, dan ingin membaca apa dan membutuhkan apa, pustaka daerah dipersiapkan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, ada sebanyak 282.723 judul buku yang bisa dibaca pada tahun 2005 dengan jumlah 542.348 eksemplar. Pada tahun 2006, jumlah itu ditambah sebanyak 4.611 judul buku (36.085 eks). Ditahun berikutnya, koleksi perpustakaan bertambah sebanyak 3.690 judul buku (28.000 eks). Di tahun 2008, perpustakaan menambah lagi koleksinya sebanyak 18.300 eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perpustakaan Keliling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara membaca dengan buku adalah hubungan yang bersifat mutualisme (saling membutuhkan). Buku tidak ada artinya, bila tak ada yang membaca. Tak mau buku pustaka hanya dibaca warga kota, yang notabene segala akses mudah, pustaka daerah mengembangkan sayap ke daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di armada mobil tertulis tulisan yang ukurannya besar: Perpustakaan Keliling. Mobil itu, memang telah melakukan tugasnya dari kisaran tahun 80-an lalu. Waktu itu, 9 unit mobil disediakan. Mobil dengan cat putih ini memasuki daerah-derah yang letak geografisnya jauh dari pustaka. Memasuki 18 kabupaten/kota yang ada di Sumatera Barat.  Daerah Mentawai pun dimasuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 2005 dan 2009, dua unit mobil lagi ditambah. Dengan jumlah 11 mobil tersebut, dan membawa 2.500 judul buku (setiap judul masing-masing 5 eksemplar), jika hubungan mutualisme ini berlaku, masyarakat tidak bisa beralasan, tidak ada buku yang akan dibaca. “Bola telah diantar.” Begitulah, bagaimana masyarakat akan dimanjakan dengan bahan-bahan bacaan. Buku yang merupakan sumber ilmu, diharapkan mampu mengeluarkan bangsa ini dari kemiskinan dan kebodohan yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Di semua layanan, pengunjung perpustakaan, mengalami peningkatan. Sebanyak 112.800 orang pada tahun 2005, meningkat menjadi 123.384 tahun berikutnya. Tahun 2007 meningkat lagi menjadi 152. 961 pengunjung. Di tahun 2008, pengunjung perpustakaan berjumlah sebanyak 166.307 orang. Namun, angka-angka itu masih terbilang sedikit, jika misalnya dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Padang sebanyak 819. 740 jiwa (www.padang.go.id).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Badan Perpustakaan Daerah dan Kearsipan melihat keadaan ini sebagai sebuah tantangan. Tahun 2009, Badan Perpustakaan Daerah membuka layanan sampai jam 9 malam, khusus untuk hari Sabtu dan Minggu. Tujuannya jelas, bagaimana masyarakat diberikan kesempatan untuk terus meningkatkan minat baca mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal, bagaimana masyarakat memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Tutur Dra. Zuriah, Kepala Bagian Pelayanan Perpustakaan, pengelola  perpustakaan akan terus berbenah untuk memperbaiki layanannya. Agar masyarakat semakin betah dan nyaman berkunjung ke pustaka. Tantangan ini mesti disambut. Sebab, perpustakaan tak ada artinya bila tidak ada pengunjung. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Andika Destika Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-224701982090022360?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/224701982090022360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/pengunjung-badang-perpustakaan-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/224701982090022360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/224701982090022360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/pengunjung-badang-perpustakaan-dan.html' title='Pengunjung Badan Perpustakaan dan Kearsipan Meningkat'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDVYhvjOI/AAAAAAAAAPY/7CjUdSVFwyE/s72-c/library.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-8755111443731925389</id><published>2009-05-11T11:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T11:37:27.895-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Pembaca Juga Wartawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sghv_l4rK4I/AAAAAAAAAOA/4qdjdRwWibA/s1600-h/reading.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 162px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sghv_l4rK4I/AAAAAAAAAOA/4qdjdRwWibA/s200/reading.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334636896912616322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abad 21&lt;/span&gt; menyuguhkan informasi yang tanpa batas, dengan media yang beragam. Sebelumnya, kita kenal dengan penyampai informasi (media) yang dibuat secara cetak. Dari sanalah orang mendapatkan informasi tentang politik, keadaan negara, dan informasi kesehatan, misalnya. Jurnalistik, begitu kerja ini disebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman terus berkembang. Memasuki era internet, masyarakat dikenyangkan dengan informasi yang tanpa batas. Tidak lagi didominasi media cetak, berita online (media online) pun hadir. Dimulai dari detik.com di Indonesia. Kini, media online menjamur. Ada yang didirikan secara independen (di Sumbar: padangmedia.com dan padangkini. com). Ada pula, media online yang isinya adalah berita dari media cetak (seperti: singgalang.co.id, padangekspres.co.id, riau pos.com, dll). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Media informasi online, biayanya lebih murah dari media cetak. Barangkali, ini salah satu keunggulan yang tidak bisa dijangkau oleh media cetak. Kalau tidak punya koneksi, dengan biaya Rp 2.000 saja, di  dalam warnet, orang-orang telah bisa mengakses banyak informasi dari banyak media online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, itu saja ternyata belum cukup. Media internet yang murah tersebut, sekarang dimanfaatkan orang untuk membuat informasi sendiri.  Bisa dari segala bidang. Tak butuh banyak modal seperti perusahaan-perusahaan besar. Hanya tinggal kemauan dan informasi semacam apa yang akan diberikan. Itulah blog, friendster, atau facebook. Di dalamnya, orang-orang berkabar kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan media cetak?  Setidaknya, harus diakui, pembaca media cetak semakin berkurang dengan adanya media online. Harga kertas yang terus melambung, ongkos produksi yang besar, ini kendala besar bagi media cetak yang mau tak mau, terus menaikkan harga. Jika media cetak tidak punya strategi yang jitu menyisiati perkembangan ini, bukan tidak mungkin, media cetak ditinggalkan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pakar komunikasi memprediksi, media cetak tidak akan pernah ‘mati’, karena ia tetap dibutuhkan oleh banyak orang, minimal sebagai arsip. Tapi memang, media cetak harus bisa membuat pembacanya mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan di media online. Itulah sebabnya, kemudian media cetak beralih dari berita straight news ke feature. Berlomba-lomba, media cetak menghadirkan sebanyak mungkin feature. Kompas, salah satu media yang disegani di Indonesia, memuat sekitar 7 buah feature dalam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menarik pembaca lebih banyak, lahir citizen journalism: siapa saja bisa membuat berita. Dua media harian di Sumbar (Padang Ekspres dan Singgalang), mengapresiasi dengan menyediakan rubrik tersebut di edisi minggu. Isinya jelas: pembacalah yang membuat berita dan disampaikan melalui media cetak. Isinya bisa apa saja dan tentang apa saja. Mulai dari telpon umum sampai politik sekalipun.  Artinya, pembaca sekaligus wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada kode etik tentang itu, baik batasan-batasannya, dan kabar semacam apa yang akan dimuat di media cetak. Tentu, media cetak melalui redakturnya, punya kriteria khusus untuk memuat kabar dari pembaca ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto UNP, menyadari ini untuk memberikan pendidikan membuat berita kepada masyakat. Di Auditorium UNP (3/5), seminar citizen journalism digelar. Menurut Ketua Panitia, Heri Faisal, pendidikan membuat berita penting diberikan kepada pembaca agar mereka tanggap terhadap apa saja yang terjadi di sekitarnya, lalu mengolahnya menjadi sebuah bahan yang siap dibaca dan dipublikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pematerinya adalah Yusrizal KW, sebagai pengelola rubrik Kabar Pembaca di Padang Ekspres dan Khairul Jasmi (Pimred harian Singgalang).  Lanjut Heri, dihararapkan dari seminar ini, masyarakat lebih cerdas mengapresiasi apa saja yang terjadi di sekitar mereka. (Andika D. Khagen)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-8755111443731925389?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/8755111443731925389/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/pembaca-juga-wartawan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8755111443731925389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8755111443731925389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/pembaca-juga-wartawan.html' title='Pembaca Juga Wartawan'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sghv_l4rK4I/AAAAAAAAAOA/4qdjdRwWibA/s72-c/reading.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-1828516582226426197</id><published>2009-05-11T11:07:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T01:10:26.412-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Hasanuddin WS: Menjawab Tantangan Chairil Anwar</title><content type='html'>“Saya telah mulai jenuh dengan sastra. Mungkin, karena saya terlalu dekat dengannya,” katanya menyentak. Namun, bukan berarti ia membenci sastra. Ia ingin memberikan jarak agar bisa kembali melihat sastra secara objektif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara terakhir yang bersinggungan dengan sastra adalah saat memberikan orasi kebudayaan di Teater Tertutup FBSS UNP, 29 April lalu.  Sehari sesudah sebuah monumen dipakukan melalui Hari Chairil Anwar (CA).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam orasi itu ia mengutip sepenggal puisi CA, “Sekali berarti dan sesudah itu mati”, dan juga “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Menurutnya, seseorang bisa saja mati (muda), sebagaimana CA, namun makna  dan spirit kehadiran manusia itu dapat hidup sepanjang zaman. sepanjang hayatnya, CA sesungguhnya telah menyatakan pikiran-pikiran dan sikap kebudayaan yang masih sangat relevan untuk saat ini maupun masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Kepercayaan Gelanggang yang merupakan pernyataan sikap dan konsepsi kebudayaan CA dan teman-temannya sesama Angkatan 45, merupakan bentuk jawaban tegas atas permasalahan zaman dan fenomena budaya pada zamannya yang ternyata sampai saat ini tetap menjadi tantangan kebudayaan kita. “Hari ini kita masih ditantang untuk mewujudkan impian Chairil,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chairil dan angkatannya, jelas sekali dalam mengungkapkan sikap ketika mengikrarkan Surat Kepercayaan Gelanggang. Poin menarik bagi Hasanuddin adalah Chairil dan kawan-kawannya tetap berpijak pada ketradisonalan mereka tetapi tidak melap-lapnya untuk kepentingan tradisonal itu. Tapi malah untuk kepentingan dunia dan mereka, CA, dkk, sebagai warga dunia.&lt;br /&gt;Inilah yang dilihatnya pada sastra zaman sekarang. Repotnya, sastrawan modern Indonesia sebagai anggota masyarakat yang hidup bersama-sama masyarakatnya, pada sisi tertentu, justru tumbuh dan berkembang dalam kooptasi kepentingan sistem budaya yang didukungnya. Dari pandangannya sastrawan Indonesia juga tampak tidak secara bersungguh-sungguh menempatkan akar tradisi sebagai bahan pengucapan sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, dalam hal ini, lembaga-lembaga pendidikan dan kemasyarakatan yang ada, haruslah berperan sebagai lembaga yang mampu mendorong pembaharuan, perubahan, dan berwawasan masa depan. Kekayaan adat dan tradisi mesti dipahami esensinya untuk kemudian diberikan semangat baru agar berguna bagi masyarakat di dalam menghadapi tantangan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, lembaga-lembaga pendidikan harus memberi tempat bagi berkembangnya kualitas pribadi, daya kritis, kearifan, dan kemampuan untuk beradaptasi. Universitas dengan sivitas tanpa kegiatan penelitian dan berkarya, serta tidak berorientasi menjadikan universitasnya sebagai sumber informasi adalah universitas omong kosong, bahkan dapat dinilai telah melakukan tindakan kriminal. “Lebih baik tidak usah bermimpi untuk masuk warga dunia,” katanya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, menghadapi zaman sekarang, urai Hasanuddin, CA adalah teladan. Ia merupakan personifikasi atau simbol dari pemikiran-pemikiran besar, jiwa dan semangat besar, pemikiran dan semangat yang menjawab tantangan zamannya dan tantangan masa depan.&lt;br /&gt;Makanya ia agak merasa aneh ketika ada yang mengusulkan Hari Chairil Anwar  diganti menjadi hari puisi saja. Bagi Hasanuddin, ini menghilangkan identitas Chairil. Padahal, soal identitas itulah yang penting. “Kalau begitu kenapa tidak sekalian Hari Kartini bisa juga ditukar dengan hari perempuan?” tanyanya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(S Metron M/Andika Destika Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PadangEkspres, 3 Mei 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-1828516582226426197?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/1828516582226426197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/hasanuddin-ws-menjawab-tantangan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1828516582226426197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1828516582226426197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/hasanuddin-ws-menjawab-tantangan.html' title='Hasanuddin WS: Menjawab Tantangan Chairil Anwar'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-2980203645743862252</id><published>2009-05-02T08:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T11:37:27.895-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Tamu 1x24 Jam=Harap Lapor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SfxrfddqTnI/AAAAAAAAAN4/3ZlysXsx_Zo/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 104px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SfxrfddqTnI/AAAAAAAAAN4/3ZlysXsx_Zo/s200/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331254247128977010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI&lt;/span&gt; beberapa rumah ketua RT, saat ini, kalau kita amati masih terdapat plang kecil bertulisan: 1x 24 Jam Tamu Harap Lapor. Artinya, orang asing (bukan warga RT) yang menginap semalam atau lebih dari 24 jam, wajib lapor kepada ketua RT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan tersebut, sesungguhnya melekat di ingatan masyarakat Indonesia. Tujuannya sederhana saja. “Untuk keamanan,” kata Rusli, warga Koto Tangah Padang. Ia menjelaskan dengan pemahamannya sendiri, “Ketua RT tentu perlu tahu siapa yang jadi tamu warganya. Nanti, jika terjadi hal-hal buruk, misalnya teroris menyusup, tentu yang dicari pertama pihak keamanan adalah RT dan pemilik rumah,” kata Rusli mengira-ngira gunanya 1x24 Jam harap lapor itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau Paino, Rt 02 Padang Besi melihat kegunaan  wajib lapor itu untuk memantau keadaan warga. Terutama warga yang datang malam hari. “Apalagi, di komplek ini kebanyakan warga pendatang. Jadi harus selalu mengetahui siapa yang datang atau pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita perhatikan, saat ini, banyak warga yang mengabaikan aturan tersebut. Mungkin, karena merasa, tamu itu kan urusan tuan rumah. RT jangan ikut campur. Karena itu, banyak masyarakat, ketika ada tamu, bermalam di rumahnya, tidak perlu melaporkan ke RT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan demikian, disadari Amril di Lubuk Begalung Padang, sebagai suatu hal yang negatif. “Kita harus mengikuti aturan untuk kepentingan bersama,” katanya. Namun, ia malah mengaku, tak bisa ikut membantu menerapkan hal itu, dengan alasan, kadang 1x24 jam wajib laporan itu sepertinya dituntut kesadaran, boleh lapor boleh tidak. Jika ada tamu, sudah dua hari bermalam di rumahnya, tahu-tahu Pak RT-nya tenang-tenang saja. Tidak ada teguran atau sanksi. Maka, menjadi percumalah tulisan 1x24 jam wajib lapor itu dipasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menumbuhkan kesadaran untuk kepentingan bersama, dari beberapa responden yang diwawancarai, ternyata amat susah. Apalagi, ketika beberapa orang mencoba untuk mengikuti peraturan tersebut. Misalnya, ketika mereka ada tamu, pergi ke rumah RT. Tahu-tahu, RT-nya pergi, apalagi di jam kerja, tentu Ketua RT pergi bekerja pula. Karena menjadi RT bukan profesi. “Masyarakat kita kan paling malas berurusan, sekecil apa pun. Sekalipun kita menyadari itu sebagai kepentingan umum, untuk kebaikan bersama,” ujar Amril lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lola melihatnya lain lagi. Warga RT 3 Padang Besi ini merasa tidak perlu melapor ke RT karena yang datang hanya keluarga atau handai tolan. Baik dari kampung atau rantau. ”Untuk apa? Kecuali kalau orang yang akan nginap tidak dikenal sama sekali. Tapi, itu kan  tidak mungkin, orang yang tidka emneganl nginap di rumah kita,” ujar perempuan yang baru menikah dua bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bur, pemilik rumah kos di Air Tawar, mengatakan,  yang paling penting adalah, partisipasi warga dalam menjaga keamanan. Dulu, memang ada peraturan yang diperlakukan: Tamu lapor 1X24 jam. “Tapi menurut saya, itu tidak terlalu efektif. Mana ada orang yang mau disuruh melapor? Kadang, kalau melapor, RT nya tidak ada di rumah,” katanya. Dia tambahkan juga, orang paling malas berurusan dengan birokrasi. Kadang, kalau melapor ke RT, kalau-kalau ketua RT nya nakal, takut dimintai duit. Makanya, yang paling efektif bagi Pak Bur, semua sebagai warga wajib peduli dengan keamanan di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan Aris, warga RT 03 RW 02 Jl. Tunggang, “Sebenarnya melapor itu perlu, sebab itu penting untuk keselamatan tamu. Misalnya saja ketika kita ada tamu yang menginap beberapa hari, lalu ada kemalingan, kita bisa melindungi si tamu tari tuduhan maling tersebut, sebab kita telah melapor.” Namun, bapak 2 anak ini juga tak menampik kalau masih banyak yang tidak menyadari pentingnya melapor ini. “Cuma masalahnya tidak setiap warga mau melaporkan tamunya. Termasuk saya. Sebab, urusannya susah, RT yang tidak di rumah lah, kalaupun ada di interogasi macam-macam oleh pak RT, dan sebagainya. Selain itu sosialisasi RT tentang peraturan ini juga kurang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada juga diamini oleh Murni, warga RT 06 RW 02 Jl. Tunggang, “Melaporkan tamu itu wajib, sebab kalau terjadi apa-apa (masalah) dengan mereka kita tidak repot. Cuma karena tamu itu menginap sehari, kita juga malas melaporkannya. Apalagi pak RT jarang di rumah. Buang waktu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Amsal, di Jl. Gajah Mada Padang, menilai melapor 1 x 24 jam tersebut, patut dipertahankan. Kita harus dukung. Di masa orde baru, peraturan itu agak tegas. Kita bisa rasakan, semua orang yang menjadi tamu dan nginap, harus lapor. Jika tidak, dia merasa risih. “Pengalaman saya, kadang cara lapornya tidak formal. Mungkin sambil berangkat kerja singgah, dan melaporkan tamu kita dan asalnya. Yang lebih baiknya, si tamu ikut menghadap,” kata Am, ayah tiga anak asal Batusangkar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan Am, bahwa saat ini warga, terutama di komplek-komplek perumahan, seakan kian individualistik. Main selamatkan diri sendiri-sendiri. Padahal, kalau disadari, jika terjadi kericuhan atau masalah dengan tamu, dengan siapa saja yang tinggal di rumah kita, urusan pertamanya adalah ketua RT. Yang paling memprihatinkan, lingkungan tempat tinggal kita, kawasan RT, seakan tak ada orang, siapa saja boleh lalu-lalang. Kita tidak tahu, siapa yang bermalam di sebelah rumah kita, atau Pak RT barangkali tidak juga tahu, kalau misalnya pada sebuah rumah, ada yang dimanfaatkan untuk maksiat. “1x24 jam wajib lapor, menurut saya harus ada, bersama-sama ditegakkan. Kalau ada warga melanggar ditegur….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aturan 1x24 jam itu diyakini sebagai salah satu tameng keamanan dan ketertiban kompleks atau lingkungan tempat tinggal, ketika itu pula mestinya masyarakat bersama-sama mendukungnya. “Mudah saja kok. Kita sepakati dulu melalui rapat, setelah itu baru kita terapkan dengan kekuatan, siapa saja melalaikan aturan ini, perlu diingatkan,” kata Dodi Razali, warga Simpang Haru. Ketika ditanya kepadanya, apakah dia merasa terbebani atau tidak melakukannya, dia menjawab, “Sebenarnya merepotkan. Tetapi, kalau semua melakukannya, kita harus paksa diri menghormati pula….” Sambil tertawa, kemudian dia mengungkapkan kepesimisannya. “Sejak reformasi, semua aturan banyak diremehkan. Orang banyak tak peduli, karena alasannya, sekarang dunia sudah berubah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang berpendapat, 1x24 jam itu tergantung RT dan perangkatnya. Karena, warga RT akan cenderung ikut, kalau kepengurusan RT-nya punya wibawa yang dijaga bersama. Hal inilah yang menurut Amsal, harus direnungkan. Kita kaji manfaat positifnya. Kalau banyak mudaratnya, ya udah, tak perlu pakai lapor. “Nah, kalau akal sehat kita meyakini perlu, ini maslahat, wajib didukung….” Katanya. Kalau tidak, kita seakan tak punya hak, misalnya dengan orang-orang yang tak jelas juntrungnya, ada tamu yang berhari-hari kos di salah satu rumah warga, tak perlu disuruh melapor. Kalau kita menegur, akan ada jawaban miring, “RT saja tak negur….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dimintai saran dan pandangan tentang 1x24 jam, semua yang diwawancarai, menilai positif. Disimpulkan pandangan positif bersama tersebut adalah: lingkungan tempat tinggal, RT/RW, bisa dihormati oleh orang luar. Juga, keamanannya terjamin. Dampak lain, antarwarga, bisa saling menjaga dan memahami siapa tamunya. Tamu pun, secara tak langsung merasa nyaman, karena dia masuk dengan salam yang positif.&lt;br /&gt;“Terpenting lagi, jabatan dan wibawa sebagai ketua RT terjaga, dan menjadi teramat penting,” tukas Amsal, sambil mengingatkan, banyak orang menganggap sepele keberadaan ketua RT. Kita harus hormati, karena dia kita percaya demi kepentingan bersama. Nah, tertiblah, minimal pada 1x24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anak Kos&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Peraturan 1x24 Jam wajib lapor, terutama di daerah dimana banyak anak kos, penting. Ini jalan lain mencegah maksiat. Sebab, kalau peraturan itu tidak ditegakkan, bisa-bisa mereka mengurung bukan muhrimnya di kamar. Karena itu, salah satu antisipasi, telah dilakukan pemilik rumah kos. Misalnya, untuk kos putri, tamu pria boleh hingga pukul 21.00 Wib, itu pun di luar pagar. Tapi, banyak juga, sebagaimana pendapat Samsul, salah seorang anak kos, yang mengabaikan keberadaan RT.&lt;br /&gt;Artinya, masih banyak, yang sudah berbulan-bulan kos, tapi Pak RT tak tahu karena tidak melapor. “Mestinya, ibu atau bapak kos yang melaporkan, kalau di rumahnya ada anak kos. Atau anak kos disuruh menemui RT,” kata Samsul yang tinggal di Andalas ini. Sebagai mahasiswa, dia setuju wajib lapor RT. Untuk anak kos, kalau tak diawasi dengan peraturan, lanjutnya, bukan tak mungkin orang bisa berniat jahat, misalnya bandar narkoba kos, tak perlu RT tahu apalagi melapor....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, 1x24 Jam, mestinya sama dengan Wajib Lapor. Kenapa, biar aman dan terpantau, lalu semua nyaman menjaga ldaerah masing-masing.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Gusriyono/S Metron/Andika Destika Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimuat Padang Ekspres, 26 April 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-2980203645743862252?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/2980203645743862252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/tamu-1x24-jamharap-lapor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/2980203645743862252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/2980203645743862252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/tamu-1x24-jamharap-lapor.html' title='Tamu 1x24 Jam=Harap Lapor'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SfxrfddqTnI/AAAAAAAAAN4/3ZlysXsx_Zo/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-519733982870314340</id><published>2009-04-24T03:00:00.000-07:00</published><updated>2009-04-24T12:18:47.274-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PELAJARAN HARI INI'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-family:courier new;font-size:130%;"  &gt;Sahabat terbaik adalah, orang yang berkata padamu, ketika kamu menangis terus menerus (karena merasa tersakiti) oleh kekasihmu: "Temuilah, dialah kekasihmu. Karenanya kamu menangis." Bukan orang yang mengajak, "Tinggalkanlah dia. Karenanya kamu menangis."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-519733982870314340?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/519733982870314340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/sahabat-terbaik-adalah-orang-yang.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/519733982870314340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/519733982870314340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/sahabat-terbaik-adalah-orang-yang.html' title=''/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-67803596425815924</id><published>2009-04-24T02:55:00.000-07:00</published><updated>2009-04-24T03:07:27.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PELAJARAN HARI INI'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;blockquote style="font-family: courier new; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: courier new;font-family:courier new;font-size:130%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 102, 102); font-family: courier new;font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Jangan pernah Buat Dirimu Merasa Nyaman."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-67803596425815924?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/67803596425815924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/jangan-pernah-buat-dirimu-merasa-nyaman.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/67803596425815924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/67803596425815924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/jangan-pernah-buat-dirimu-merasa-nyaman.html' title=''/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-6820225466532375216</id><published>2009-04-22T10:17:00.000-07:00</published><updated>2009-04-22T10:28:21.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Berjalan Kaki Taklukkan Sumatera</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Se9SdviCioI/AAAAAAAAANw/RBEK5KyBvD4/s1600-h/19_04_09_hl4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Se9SdviCioI/AAAAAAAAANw/RBEK5KyBvD4/s320/19_04_09_hl4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327567555131509378" border="0" /&gt;                                                       &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Novel (2 dari kiri)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TELAH &lt;/span&gt;120 hari, 2880 jam, melewati 4 provinsi, kini ia singgah di Sumatera Barat, sebuah provinsi yang memang dalam tujuannya. “Perjuangan menembus batas,” begitu ia menyebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ahmad Novel Alatas (30) yang melakukannya. Pria yang tinggal di Kramat, Sentiong, Jakarta Pusat ini memulai perjalannya dari Jakarta menuju Banten-Lampung-Palembang-Jambi-Padang-Medan, dan berakhir di Aceh. Tak memanfaatkan jasa angkutan apapun. Ia melakukan dengan kakinya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berbekal seadanya, makan nasi kecap sekali sehari, pria keturuan Arab-Sunda ini, memulai perjalanannya dari Jakarta. Maka, 15 Desember 2008 lalu, ia berangkat dari rumah. Kepada orang tuanya dibilang, akan pergi mendaki gunung. Ia berbohong. Tapi orang tuanya paham, ia memang suka mendaki. Yang tidak diketahui orang tuanya adalah, ia berjalan kaki keliling Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel bukan mahasiswa pecinta alam, ia adalah seorang yang tidak menamatkan bangku pendidikan SMA, kemudian tertarik mencari pengalaman dengan melihat alam. “Di dalam hidup, kita harus berjuang. Menembus batas-batas dalam kemampuan kita,” ujarnya berfilosofi. Perjuangan menembus batas, sekarang dilakukannya dengan jalan kaki.&lt;br /&gt;Bungsu 4 bersaudara ini, bukan pertama kali melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Selama 6 bulan, ia melangkahkan kakinya dari Jakarta menuju Bali, setahun yang lalu. Barangkali, tak  bisa membayangkan, pria bertubuh kecil, rambut panjang keriting, mampu melakukan perjalanan sejauh itu. Tapi hatinya sudah bertekad, ia akan menembus batas itu!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti Backpaking, ia tak mencari apa-apa dalam perjalannya. Ia hanya ingin terus berjalan, berjalan, sejauh yang ada dalam pikirannya. Dalam setiap perjalanan itu, ia melihat, kemudian dicatatnya dalam buku kecil. Dalam setiap perjalanan, ia melihat, kemudian merasakan, bagaimana manusia itu beragam dalam ciptaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dianggap Gila, Dibuntuti Perampok&lt;/span&gt;      &lt;br /&gt;“Memori saya sudah berkurang. Kejadian hari ini saja saya sudah banyak yang lupa,” ujar Novel. Tapi ternyata ia masih ingat apa yang dialaminya di Jambi. Seperti kebiasaannya, ketika memasuki suatu daerah, ia pergi mencari gubuk petani untuk menginap. Daerah-daerah yang dilalui sebelumnya, tidak ada hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya sudah sangat mengantuk waktu itu. Tenaganya sudah hampir habis. Ia ingin mencari pondok petani untuk bisa merebahkan badan. Seperti kebiasaannya juga, ia minta izin kepada penduduk setempat. Pemuda tempat dia meminta izin memandang curiga. “Lapor dulu kepada kepala dusun,” tutur pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak dari tempat pemuda itu ke rumah kepala dusun sekitar 3 kilometer. Ia tak sanggup sejauh itu berjalan. Ia meyakinkan pemuda itu, tak sanggup lagi berjalan. Hanya untuk menumpang tidur semalam saja. Esok ia akan langsung pergi. Pemuda itu tetap tak mengizinkan dan menawarkan akan mengantarnya naik sepeda motor ke tempat kepala dusun. Ia tak punya pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai. Di Jambi, sedang berganti kepemimpinan. Kepala Dusun menyuruhnya melapor ke ketua RT. Jaraknya dari sana 3 kilo lagi. Untunglah, di saat keputusasaannya, pemuda yang mengantarkannya itu kemudian berbaik hati. Ia tak jadi mengantarkan Novel ke ketua RT. Pemuda itu menawarkan menginap di sawahnya saja. Jadilah, malam itu ia menginap di dangau pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet pengalaman itu, laiknya hidup di jalanan, bagi  Novel adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga. Ia menyadari betul, di tempat mana ia singgah, bahaya bisa saja mengancamnya. Bisa pula, banyak kebaikan yang mengahampirinya.&lt;br /&gt;Di Lampung, ia diikuti oleh sekelompok orang yang mencurigakan. Ia tahu dari gelagat orang itu, yang sepertinya tidak bermaksud baik. Ia dihampiri dan diintimidasi. Nasib baik. Tak terjadi apa-apa. Sekelompok orang itu mungkin tak menemukan benda berharga yang dibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir di setiap perjalanan, ia disangka gila oleh penduduk yang kebetulan melihatnya. Celananya yang sudah robek, rambut panjangnya yang keriting, dan penampilan semrawutan, membuat orang berpikir, ia bukan orang yang sehat. Tapi itu tak terlalu dipikirkannya, karena apa yang ia cari, hanya dia sendiri yang tahu dan merasakannya. Kenikmatan dan pilihan hidupnya, ia sendiri yang menentukan.&lt;br /&gt;Sampai, Novel pernah putus asa. Sepertinya, ia tak sanggup lagi melanjutkan perjalanannya. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasakan lelah, suatu hal yang sudah dibunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang baik yang ditemuinya, memberinya semangat. “Teruslah berjalan,” katanya menirukan ucapan orang tersebut. Semangatnya kembali di sela-sela keputusasaan itu. Ia harus mencapai tujuan semula: mengelilingi Sumatera dan berakhir di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Insting lebih Kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Banyak hal yang telah dilaluinya selama perjalanan. Kata Novel, setiap daerah yang telah dilalui itu, selain ancaman bahaya dan kebaikan manusia, ia melihat panorama alam Sumatera yang tidak ditemuinya di tempat kelahirannya. Hingga ia memberikan sendiri ‘gelar’ untuk mengingat daerah yang dilaluinya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banten diberinya nama 1001 kawasan industri. Dilihatnya, Banten banyak sekali industri yang berdiri megah seperti industri tekstil dan semen. Di Lampung, ia berkesan, daerah itu seperti karang. Ketika turun dari kapal di Bakauni, langsung disambut monumen yang berbentuk karang. Ia menyebutnya 1001 karang. Penglihatannya di Palembang, daerah itu belum banyak terjamah industri modern, sehingga daerah itu dipenuhi oleh rawa-rawa. Dalam buku catatannya ditulis, Palembang daerah 1001 rawa. Di setiap jalan, dan di mana ia singgah bila lelah, ditemuinya masjid di Jambi. Novel menyebut 1001 masjid. Memasuki Sumbar dari Solok, ia bertemu banyak sekali danau dan keindahan alam yang terjaga dengan alami. Kepada Padang Ekspres,&lt;br /&gt;disebutnya, ini daerah dengan 1001 danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya berbekal peta mudik yang pernah diterbitkan media waktu lebaran lalu, itulah petunjuk Novel mengelilingi Sumatera. Namun, ia menyadari sendiri keterbatasannya sebagai manusia. Itulah pelajaran yang dianggapnya sangat bernilai. Target Novel, ia sudah sampai di Aceh 15 April ini. Lalu kembali ke Jakarta. Ternyata itu tidak terwujud. Ia baru sampai di Padang. “Keterbatasan saya sebagai manusia, hanya bisa berniat,” tutur Novel. Ia tak mempersalahkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berjalan, Novel mendapatkan sebuah kemampuan yang dianggapnya luar biasa. Ia merasa memiliki insting yang kuat. Mungkin, kata Novel, selama perjalanan, ia telah terlatih sendiri untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun, ketika ia memasuki Sumbar dari Solok. Ia disambut hujan yang sangat lebat. Ia kemudian mencari tempat berlindung. Sebentar hujan berhenti, 15 menit kemudian, hujan turun lagi. Kejadian tersebut berlangsung selama 3 kali. Firasatnya mengatakan, “Daerah ini sepertinya akan ditimpa bencana.” Sampai di Padang, ia mendengar dari penduduk, telah terjadi Bencana di daerah Batusangkar. Firasatnya ternyata benar. “Bencana itu memang tidak bisa dicegah dan diketahui. Tapi bisa dirasakan,” tutur Novel tentang firasatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanannya baru setengah. Di Padang, daerah yang sangat dikaguminya karena keindahan alam yang sangat alami, ia berniat terus melanjutkan perjalannya menuju Sumatera Utara dan Aceh. “Saya akan terus berjalan,” tutupnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-6820225466532375216?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/6820225466532375216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/berjalan-kaki-taklukkan-sumatera.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6820225466532375216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6820225466532375216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/berjalan-kaki-taklukkan-sumatera.html' title='Berjalan Kaki Taklukkan Sumatera'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Se9SdviCioI/AAAAAAAAANw/RBEK5KyBvD4/s72-c/19_04_09_hl4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-6149489922203619792</id><published>2009-04-15T08:47:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T02:28:21.785-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Surat dari Israil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDq9OnC2I/AAAAAAAAAPg/e1BElq_SyqY/s1600-h/jacklatter.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 166px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDq9OnC2I/AAAAAAAAAPg/e1BElq_SyqY/s200/jacklatter.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355276574677994338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEPUCUK &lt;/span&gt;surat terletak di pintu kamarku pagi ini ketika bangun tidur. Sebuah amplop putih yang tidak dilem. Tanpa alamat dan kop surat. Dari: Israil. Tulisan itu memenuhi seluruh amplop putih. Kukeluarkan surat itu dari sarangnya. Di dalam amplop kulihat pula sebuah tulisan yang tidak terlalu panjang. Tampaknya dibuat tergesa-gesa.&lt;br /&gt;“Waktumu tinggal 24 jam setelah membaca surat ini.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mataku masih belum nyalang dengan benar. Sesekali aku menguap menandakan kantuk masih bersemayam di tubuh. Namun—setelah membaca surat itu—badanku jadi begitu segar. Kuapan telah hilang dengan sempurnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucermati satu persatu kata dalam surat itu. “Duapuluh empat jam? Sama artinya umurku tinggal satu hari lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinginnya suasana pagi tidak terlalu kupedulikan. Surat ini menjadi sebuah ancaman. Kukedipkan kedua mata, salah satu anggota tubuh harus rela pula kucubit. Ternyata terasa sakitnya, dan sebuah pertanda bahwa aku memang tidak sedang bermimpi.&lt;br /&gt;Kucermati lagi nama pengirimnya. Israil. Israil yang mana? Kuingat lagi nama teman-teman. Mulai dari teman TK sampai perguruan tinggi. Tidak ada yang bernama Israil. Yang ada Isron, teman selokal waktu SD. Apakah mungkin dia yang mengirim? Tapi setamat dari SD, kami tidak pernah bertemu lagi. Dia melanjutkan pendidikan ke Mataram, tempat ibunya bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin Isron,” batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana dia tahu alamatku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku kembali ke masa lampau. Mencari-cari di dalam memori apakah ada yang bernama Israil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan-jangan Isram, teman sewaktu SMA. Ia terkenal paling bandel. Tapi, dia sekarang kuliah di Jakarta . Tidak mungkin pula tahu alamatku. Lagi pula, aku tidak terlalu dekat dengannya. Bermusuhan pun tidak. Jadi, untuk apa dia mengirim surat ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, siapa Israil?” Kembali pertanyaan itu menghantuiku&lt;br /&gt;Memori otak kembali berputar mencari manusia yang diberi nama Israil. Tapi tidak jua ada yang memunyai nama itu. Hanya mendekati, dan jelas tidak sama. Apakah benar ada manusia yang bernama Israil? Lalu, siapa yang mengirim surat bernada ancaman ini? Atau teroris yang memang sedang berkeliaran di negara ini?&lt;br /&gt;Atau…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…ini pasti perbuatan Budi, kakakku yang suka iseng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa lagi kalau bukan dia yang masuk ke kamarku,” ujarku lirih.&lt;br /&gt;Sebuah titik cerah kutemukan, walau belum terlalu menentramkan. Kakakku Budi memang suka iseng. Dari kecil, dia memang suka sekali iseng terhadapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terlalu kupedulikan surat itu. Kuambil handuk di lemari, terus pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badan. Udara pagi yang sejuk sedikit menghilangkan pikiranku tentang surat tadi. Ketika berangkat ke kampus pun, aku tidak memberi tahu Ibu atau menanyakan kakak yang suka iseng itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas kamu ya, nanti pasti kubalas.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sore ini, aku agak telat pulang dari kampus. Pulang kuliah, badanku sedikit lelah. Pelajaran yang kudapat dari dosen, hari ini sungguh mengesalkan. Belum lagi tugas yang menumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, aku langsung menuju kamar. Tidak kulihat ibu. Mungkin ibu sedang pergi ke pasar. Kamarku terletak di lantai dua. Biasanya, ibu menyambutku setiap pulang kuliah dan menyajikan hidangan makanan di meja makan. Kadang aku disuapi ibu, sambil bertanya tentang pelajaran di kampus. Maklum, kami cuma dua bersaudara. Itu pun laki-laki keduanya, sehingga ibu sangat menyayangi kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kamar kubuka. Kulempar tas ke atas dipan. Ketika akan membuka baju, kudapati lagi sepucuk surat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari: Israil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut. Sama seperti surat tadi pagi, pengirimnya tidak mencantumkan alamat. Anehnya, nama pengirim sama: Israil. Surat itu benar-benar hendak mencabut nyawaku hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktumu tinggal 15 jam dari sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma kalimat itu yang ditulis. Kuambil surat yang tadi pagi. Tulisannya sama. Kusimpulkan, bearti orangnya pun sama. Pikiranku langsung tertuju kepada kakakku. Keperhatikan lagi tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin ini dari kakak. Kakak tidak bisa menulis huruf tegak bersambung,” pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar dari kamar. Kucari kakak. Walaupun bukan dia yang membuat surat itu, setidaknya dia tahu orang yang masuk ke rumah ketika aku di kampus. Aku turun menuruni tangga seperti hendak mencari maling yang lari ketika mendapatkan hasil jarahannya. Kucari ke kamarnya. Pintu dikunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada orang di rumah. Aku pergi ke dapur. Mencari Bik Inah, pembantuku. Sore-sore begini biasanya dia sibuk menonton gosip artis di televisi.&lt;br /&gt;“Bi, apakah ada tamu yang datang ke rumah ketika aku pergi kuliah?”&lt;br /&gt;Bibi masih sibuk dengan televisinya. Dia larut ke dalam acara yang ditampilkan televisi. Sehingga ketika aku bertanya, dia tidak mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bii…,” kali ini suaraku agak besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya… den. Ada apa?” terbata-bata suara Bibi mendengar teguranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuulangi lagi pertanyaan yang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada, Den. Dari pagi Bibi tidak melihat ada tamu yang datang. Memangnya ada apa, Den?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar tidak ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar Den.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pergi meninggalkan Bibi. Dia tampak masih keheranan. Aku berlari keliling rumah. Mencari kalau-kalau ada jejak yang mencurigakan. Kuperhatikan mulai dari pintu jendela sampai ventilasi rumah. Tidak ada yang mencurigakan.&lt;br /&gt;Aku duduk di teras. Lelah. Ibu belum juga pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa sebenarnya Israil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke kamar. Kuperhatikan lagi surat itu. Benar-benar sebuah ancaman yang menakutkan. Kalau benar yang mengirim surat adalah Israil, untuk apa dia mengirim surat ? Bukankah Israil mencabut nyawa manusia tidak pakai surat ? Lalu kenapa sekarang dia melanggar itu? Atau…apakah memang benar isi surat itu? Aku akan mati? Ini sangat melanggar hukum Tuhan. Atau Israil perlu mengirim surat untuk mencabut nyawa manusia? Beribu-ribu tanya muncul di benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…mana mungkin Israil bisa membuat surat ?” Hatiku berperang antara percaya dan tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, untuk apa dia mengirim surat kepadaku? Apakah dosaku terlalu besar sehingga perlu diberi surat agar aku bertobat sebelum nyawa dipisahkan dari raga?”&lt;br /&gt;Aku takut. Kalau benar Israil yang mengirim surat , berarti umurku tinggal 9 jam.&lt;br /&gt;Badanku yang lelah ketika pulang kuliah kini semakin terasa. Rasa kantuk mulai menjalari tubuhku. Berlahan, rasa kantuk itu menguasai seluruh tubuh. Aku tidak berkutik dan tertidur dengan surat masih digenggam.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku terbangun ketika azan subuh sudah berkumandang. Ayam jantan dengan kokoknya yang bersahut-sahutan menyambut pagi yang akan muncul. Surat yang kugenggam sudah tergeletak di bawah lantai. Kubuka pintu kamar menuju kamar mandi untuk berwudu’. Ketika membuka pintu, kulihat lagi sepucuk surat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini pasti dari Israil, apalagi yang hendak disampaikannya padaku pagi ini? Apakah dia akan mencabut terornya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuambil surat itu. Benar, dari Israil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktumu tinggal 2 jam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai gelisah. Nafasku ngos-ngosan. Peluhku bercucuran. Dua jam lagi nyawaku telah berpindah tempat. Aku tidak akan bertemu lagi dengan ibu dan kakak.&lt;br /&gt;Subuh yang dingin telah berganti dengan sebuah ketakutan. Aku turun dari kamar, tidak jadi pergi berwudu’. Teror ini benar-benar sekarang menakutiku. Aku menemui ibu, menemui kakak, untuk minta maaf, jika benar dua jam lagi Israil akan melaksanakan niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Ibu dan kakak sudah bangun. Mereka sedang duduk di ruang tamu.&lt;br /&gt;“Bu, maafkan aku,” air mataku keluar. Kepada kakak aku juga berucap begitu.&lt;br /&gt;“Kamu kenapa, kok tiba-tiba langsung minta maaf pagi-pagi begini?”&lt;br /&gt;Aku terdiam. Apakah Ibu percaya yang akan kukatakan? Sebuah keraguan muncul, atau ibu akan menganggapnya sebuah candaan. Tapi teror ini harus segera dilaporkan. Kuberikan surat itu pada Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu membacanya. Kemudian raut wajahnya berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu juga dapat surat yang sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakakmu juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlihatkannya surat itu kepadaku. Mulai dari jenis tulisan sampai kepada isinya, memang tidak ada satu pun yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita semua dapat surat yang sama,” lanjut Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika benar Isaril akan mencabut nyawa kita dua jam lagi, kita akan bertemu lagi di dunia yang berbeda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan Ibu, Nak!”&lt;br /&gt;Ibu menangis. Kakak juga seperti selesai menangis. Kami saling koreksi diri. Kemudian maaf-maafan. Ibu memeluk kami berdua. Air matanya telah mengganti pagi menjadi sebuah drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku, dua jam lagi kita tidak akan bertemu. Dan Ibu tidak tahu, apakah di dunia lain kita akan kembali bersama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kakak tidak menjawab pertanyaannya. Ibu mengeluarkan semua uneg-unegnya. Kami semua ketakutan. Takut akan ajal yang sudah di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bik Inah muncul dari dapur. Tergopoh-gopoh berlari menuju kami. Kemudian diberikannya sepucuk surat kepada Ibu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pagi mulai tiba. Kami sekeluarga masih berpeluk-pelukan. Tidak sampai dua jam lagi kami akan berpisah. Bik Inah, kini juga sudah menyatu dalam pelukan kami. Dia juga mendapatkan surat dari Israil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami keluar dari rumah. Minta maaf dengan tetangga. Tidak peduli, apakah tetangga-tetangga nantinya percaya atau tidak. Kami benar-benar ketakutan.&lt;br /&gt;Di luar rumah kelihatan ramai sekali. Pagi ini semua orang keluar dari rumahnya masing-masing. Jalanan tidak ada mobil. Suara sepeda motor yang biasa lewat tiap pagi telah berganti menjadi suara langkah kaki manusia yang berlari. Semua berlari sambil memegang sepucuk surat di tangan mereka. Entah kemana mereka berlari. Kami pun ikut berlari. Semua orang tampak ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, Israil memberikan suratnya kepada semua penduduk kota ini. Pak Hamdan yang biasa lewat tiap pagi sambil berjongging terlihat juga sedang berlari dengan satu helai kertas di tangannya. Bu Darsih, dosenku, dengan gaun tidurnya tampak pula dalam rombongan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelarian itu, semua orang berteriak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan…ampuni kami!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang, 28/12/06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-6149489922203619792?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/6149489922203619792/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/surat-dari-israil.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6149489922203619792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6149489922203619792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/surat-dari-israil.html' title='Surat dari Israil'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDq9OnC2I/AAAAAAAAAPg/e1BElq_SyqY/s72-c/jacklatter.png' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-4235679912315131016</id><published>2009-04-15T08:33:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T02:30:40.277-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Gadis Menangis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHENgwJbVI/AAAAAAAAAPw/K3wkVkm2b3U/s1600-h/tear3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHENgwJbVI/AAAAAAAAAPw/K3wkVkm2b3U/s200/tear3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355277168329452882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEHABIS &lt;/span&gt;hujan sore itu, gerimis belum berhenti, sayup kudengar teriakan minta tolong. Seperti suara perempuan. Makin lambat semakin tak terdengar. Oh, adakah ia sedang diperkosa? Tempat ku berdiri begitu sepi. Bagi penikmat tubuh perempuan, suasana seperti ini cocok melampiaskan hasrat. Aku akan menolongnya? Bagaimana jika ia, si pemerkosa itu, punya pistol? Bagaimana aku mesti melawannya dengan tangan &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tolong Pak, aku mendengar suara perempuan minta tolong di gang lengang.” Cepat kuambil tindakan. Barangkali masyarakat sekitar masih ada yang tidak kedinginan, dan mau menyempatkan dirinya keluar rumah, membantu perempuan itu. &lt;br /&gt;“Tidak salah dengar kau?” Lelaki itu berlari-lari kecil ke dapur, mengambil pisau, barangkali. Aku berlari lagi. Satu orang tidak akan bisa menolong perempuan itu.  40 orang berhasil kukumpulkan. Kayu, parang, golok, siap mencari makanannya. Si pemerkosa itu mesti diberi pelajaran budi pekerti. Itu  perempuan, seorang diri, tidak pantas disakiti. “Cepat..”       &lt;br /&gt;“Di mana?”      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendengaranku tak salah, tapi aku terlalu lambat berbuat. Perempuan itu, dengan langkah terhuyung-huyung, menahan sakit di selangkangan. Wajahnya pucat. Paras cantiknya tak bercahaya. Tak sempat ia mengenakan baju. Aku yang memasangkannya. “Kemana laki-laki itu pergi?” Ia tak menjawab. barangkali suaranya telah habis meronta. Aku membayangkan saat-saat kritis itu. Kubantu ia berdiri. “Lapor pada polisi. Mari!” Kata yang lain. Perempuan itu menggeleng.         &lt;br /&gt;Bisu. Lama ia tidak bersuara. “Mari kuantar pulang. Dimana rumahmu?” Ia jadi tontonan. Orang-orang iba. Tapi perempuan itu, barangkali tak butuh belas kasihan. “Pergi..pergi..” Ia mengusir semua. Membabi-buta. Kemudian meraung. Orang-orang tak bisa berbuat apa. Hanya menatap iba. Lalu pulang. Aku menyalahkan diri. Andai, 60 menit yang lalu itu, aku mengambil kayu, memukul lelaki yang berada di atas tubuhnya. Kepalanya akan berdarah. Lalu pingsan. Ah…       &lt;br /&gt;Perempuan itu tinggal sendiri. Gerimis belum berhenti. Dingin. Apakah perempuan itu juga kedinginan? Aku menyesal tak bisa menyelematkan sebuah kesucian. Lalu kuhampiri lagi dia. Kesalahan kedua tak boleh kubuat. “Mari kuantar pulang. Di sini dingin sekali.” Kurangkul tangannya. Oh, ia tidak menolak. Ia menyandarkan tubuhnya ke dadaku. Kurasakan, detak jantungnya yang cepat. Ia terpaku tak bertenaga.   &lt;br /&gt;Ia rebah didadaku. Lalu pingsan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Untung ada Emak Enah. Nenek tua, yang telah menganggapku anak, bersedia merawat. Barangkali sampai ia bisa mengatakan alamat rumahnya. Akan kuantar ia pulang. Walau, kata Emak, tak mudah mengembalikan semangat hidupnya. Tapi ia tentu butuh semangat untuk meyakinkan, ia masih punya kehidupan setelah itu. Emak orang yang cocok untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 1999, musim dingin. Angin di mana-mana. Nun jauh, dalam hati yang pedih karena luka, perempuan itu pertama kalinya membuka suara. Aku terkejut. Emak tersenyum. “Siapa namamu?” Ah, dua bulan perempuan itu di rumah Emak, aku belum tahu namanya. Ia barangkali tak setegar batu karang. Dimatanya, masih kulihat ia mengenang dukanya. Menggenangi pipinya dengan air mata. Air mata itu belum berhenti turun dari dua bulan yang lalu. “Aku benci laki-laki.”     &lt;br /&gt;Aku kira, perempuan itu, tak akan bisa memaafkan laki-laki. Ya..laki-laki. Termasuk aku. Meski aku bukan laki-laki yang membuat ia menjadi korban. Tapi apa bedanya. Di dalam jiwanya, semua laki-laki adalah pemerkosa. Laki-laki yang membuat ia bernista diri. Seharusnya ia tidak di rumah Emak sekarang. Bagaimana bisa Emak meyakinkan semua laki-laki tak seperti ia kira? Oh, aku hanya ingin mengantarnya pulang. “Dimana rumahmu?” Tanyaku kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak berumah. Aku tak berkeluarga.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  tidak percaya. Paras cantiknya itu, pertanda wajahnya dirawat baik-baik. Kulitnya masih halus. Aku merasakan ketika menggendongnya ke rumah Emak. Barangkali ia anak orang kaya. Baju Guess yang ia kenakan, tak semua orang mampu membelinya. Ia belum terlalu sehat. Atau, ia tidak akan pernah sembuh. Oh, apakah tidak ada, di kota yang besar ini, seorang Ibu yang kehilangan anaknya? Tiap hari koran kubeli, tak ada iklan seorang ibu yang kehilangan anak gadisnya.       &lt;br /&gt;Gadis ini tidak punya orang tua, kata Emak suatu malam. Menurutku Emak hanya mengira-ngira.        &lt;br /&gt;Emak akan merawatnya. Alasan Emak sederhana, anaknya bertambah satu lagi. Meski kedua anaknya itu tidak berasal dari rahimnya. Emak memang perempuan sahaja yang pernah kukenal. Begitu lembut. Dari kerut wajahnya, tersimpan kasih sayang tak berbatas. Kepada siapa saja.         &lt;br /&gt;Hari Jumat, sepulang salat dari masjid, Emak kutemui bermenung. Gadis itu telah pergi, kata Emak. Tidak tahu kemana, dan tak ada pesan. Tiba-tiba pikiranku buruk. Gadis itu akan bunuh diri. Ia tidak bisa menerima keadaannya. Emak tak mampu meyakinkannya. “Mari Mak, kita cari sampai dapat.”     &lt;br /&gt;Kesalahan ketiga adalah, menemukannya jadi mayat. Tapi, dimana gadis itu akan dicari? Yang pasti, kataku pada Emak, ia belum jauh. Kondisinya, walau segala macam obat telah diminum, tidak terlalu baik. Obat yang diperoleh dari dokter tak mampu menyembuhkan jiwanya. Alasan yang masuk akal, jika ia berniat bunuh diri, mencarinya di tempat-tempat yang memungkinkan untuk bunuh diri. Ia masuk ke dalam supermarket, sampai ke lantai tertinggi, loncat dari atas sana. Atau ia pergi ke laut yang letaknya tak jauh dari kota. Di sana, kemungkinan itu terbuka lebar. Lebih mungkin, ia menabrakkan diri ke mobil yang lewat di jalan raya. Ah, kami bingung. Semua kemungkinan terbuka lebar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafas ngos-ngosan. Sampai tengah malam, gadis itu tak jua bertemu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Satu bulan, satu tahun, sudah lima tahun, gadis itu hilang dengan sempurnanya. Tak pernah ada kabar. Emak, sampai batas kemampuannya, sudah merelakan gadis itu. Mudah-mudahan saja ia kembali ke rumahnya. Ah, tentu saja, di pelukan ibunya, ia bisa lebih tenang. Aku yakin, ia akan setegar batu karang. Walau kenangan itu akan terus membekas, aku berharap ia bisa melupakannya. Aku tidak berharap ia mengenang orang yang telah menolongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menulis sajak perempuan senja, untuk mengingatnya.     Seorang lelaki, lima puluh tahun kukira, duduk di teras rumah Emak. Aku tak mengenalnya. Tapi aku yakin, pembicaraanya penting. Tak pernah ada tamu, sebelum atau sesudah perempuan itu dirawat Emak.    &lt;br /&gt;“Ia mencari gadis itu. Katanya, ia orang tuanya.” Aku sempat tak yakin, seperti Emak. Bagaimana mungkin, setelah lima tahun, ia mengaku mencari gadisnya? Apakah ia tidak pernah merasa kehilangan? Namun, jika benar ia adalah orang tua gadis itu, pencariannya sangat terlambat. Aku kira, ia tidak benar-benar serius mencari gadisnya itu. Seharusnya, tak di rumah ini dicarinya. Bisa ke tempat lain. Kenapa laki-laki itu, pikirku, tak bersama polisi? Oh, aku tak memikirkan laki-laki yang mengaku orang tuanya itu. Aku teringat gadis itu, yang belum sempat kutau namanya. Kemana ia berlabuh? Sudahkah ia berada di surga?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku sudah tua. Emak tak ada lagi. Gorong-gorong yang sepi itu, masih seperti dulu. Barangkali tempat itu disediakan untuk para pemerkosa. Setiap kali aku melewati gorong-gorong itu, masih kudengar rintihan seorang gadis yang mempertahankan kesuciannya. Telah bertahun-tahun, aku tak pernah mendengar kabarnya. Ia tentunya sudah tua seperti ku juga, andai ia masih hidup. Aku memang tak pernah berpikir, ia telah tak ada. Aku begitu yakin, entah darimana keyakinan itu, ia akan bertahan dengan deritanya. Kata-kata Emak kepadanya, hidup adalah cobaan, setiap langkah, buruk atau baik, titiknya adalah Tuhan. Kepadanya tempat segala mengadu. Ia yang menentukan. Kala itu, aku melihat gadis itu terpaku.     Menangis. Bukan untuk deritanya. Saat itu ia mungkin sadar satu hal, masih ada tempat mengadu: Emak dan Tuhan. Barangkali Emak dan aku sengaja diutus untuk memberikan semangat kepada gadis ini.       &lt;br /&gt;Di malam yang dingin, aku terbiasa menghabiskan sebatang rokok sebelum tidur. Mengenangnya bila bayangan itu muncul tiba-tiba. Masih kusesali, ketidakmampuanku menolongnya. Penyesalan yang telah begitu lama larut dalam tubuhku. &lt;br /&gt;Ah, kenapa, di setiap gerimis sehabis hujan, aku melihat bayangannya di mana-mana? Aku melihat Emak yang memeluknya. “Uda..nasi sudah dingin.” Oh, maafkan aku istriku. Nasi yang kau hidangkan untukku, belum sempat kumakan. Aku mengenang perempuan itu lagi. Tapi tak usah kau tahu. Ia masa lalu dari kesalahanku.  &lt;br /&gt;“Tok..tok..”       &lt;br /&gt;Langit basah. Di laut, ombak tak akan tenang. Angin seperti tak pernah berhenti berembus. Seseorang mengetuk pintu. Di malam yang semakin dingin, aku enggan menerima tamu. Tapi tak ada salahnya kubuka. Istriku barangkali tengah mengajarkan cucunya membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tua. Langkah yang tak lagi tegas, tersenyum mengulum. “Boleh aku masuk?” Tak sempat kutanyakan, kamu siapa? Mau apa? Ia masuk, lalu duduk di ruang tamu. Satu hal terlintas, perempuan ini tidak akan berbuat buruk. Ia tentu datang untuk maksud yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku datang untuk satu kalimat yang telah lama ingin kukatakan. Terima kasih.” Aku baru akan pergi ke dapur, menyuruh istriku membuatkan segelas teh panas. Tapi tak jadi. Terima kasih? Iakah yang kutunggu-tunggu? Gadis itu, yang dulunya kabur, tak berkabar. Ia masih ingat rumah yang sempat memberikannya ketenangan, barangkali. Bagaimana aku mesti mengingatnya? Ia sudah tua. Kira-kira seumuran denganku. Tak ada tanda yang bisa mengingatkanku padanya.     &lt;br /&gt;“Kau kah gadis itu. Dari dulu, aku belum tahu namamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersenyum. Berulangkali minta maaf.        Aku bukan lagi seorang perempuan setelah kejadian itu. Ibuku  mengajarkan betul, hanya kesucian yang dimiliki seorang perempuan. Semua di dunia ini adalah milik laki-laki, kecuali kesucian itu. Aku tak bisa menyesal, kesucian itu direnggut sengaja. Tanpa ikatan apa-apa. Aku malu. Aku tak sanggup menemui Ibu, Tuhan, atau diriku sendiri. Aku nista. Aku tak pantas hidup. Tak layak ditolong.     &lt;br /&gt;Aku kabur dari rumahmu.      &lt;br /&gt;“Emak telah tak ada,” kataku.    &lt;br /&gt;Oh, aku belum sempat berucap terimakasih kepada Emak. Kuceritakan saat kematian Emak. Hal yang selalu diingatnya ketika sakit adalah menyebut namamu, kataku. Ia tertegun. Tangisannya itu, ya air mata itu, kuingat betul. Tapi itu tidak penting, kataku lagi. Kini kau telah kembali, walau sebenarnya dari dulu keadaan seperti ini kudamba. “Bagaimana keadaanmu sekarang?”       &lt;br /&gt;Aku tak kuat kembali ke rumah. Aku tak akan kembali ke rumah. “Seorang lelaki tua, mengaku orang tuamu, datang rumah ini setelah lima tahun kau menghilang,” ujarku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tertunduk. Dipegangnya tanganku erat. Kekuatan terbesarku adalah, aku mampu meyakinkan diri. Aku tinggal di rumah Bibi. Kepadanya kuceritakan semuanya. Ia yang membuat semangatku kembali. Aku tinggal di rumahnya. Tapi tak boleh kuberi tahu, untuk berkata pada Ayah atau Ibu. Ia setuju.    &lt;br /&gt;Tapi aku selalu merindukan Ibu yang baik hati. Ayah yang selalu mengajarkanku ilmu agama. Suatu hari, Ayah dan Ibu datang. Mungkin Bibi melanggar perjanjian. Mereka tidak marah. Mereka terlalu rindu dengan kehadiranku di sisinya. Tak lama setelah kejadian itu, Ibu meninggal. Dua tahun kemudian, Ayah menyusul. Aku tak punya siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uda…nasinya sudah dingin.”    &lt;br /&gt;Ah, benar istriku. Nasi ini telah dingin. Barangkali aku sedang tak lapar.&lt;br /&gt;Malam masih gelap. Di gang lengang, aku masih melihat perempuan itu minta tolong. Rintihan nafas menahan perih. Kubawa setangkai bunga mawar. Aku ingin, di tempat ini, bunga-bunga mawar itu mekar. Meski tak akan kulihat lagi bunga itu tumbuh dan merekah. Bila ada orang yang ke sini, mereka akan mengenang, seperti kalimat tak penting yang kutulis di sana, merekahlah bunga, sebarkan wangimu.&lt;br /&gt;                                                                                    Ruangsempit—malam dingin, 2009   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-4235679912315131016?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/4235679912315131016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/gadis-menangis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4235679912315131016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4235679912315131016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/gadis-menangis.html' title='Gadis Menangis'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHENgwJbVI/AAAAAAAAAPw/K3wkVkm2b3U/s72-c/tear3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-4041230940599974366</id><published>2009-04-13T01:26:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T02:29:41.308-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Pulang Kampung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHD-uoGZnI/AAAAAAAAAPo/x7LJSyt5oeY/s1600-h/a5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 169px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHD-uoGZnI/AAAAAAAAAPo/x7LJSyt5oeY/s200/a5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355276914355758706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;KAMI&lt;/strong&gt; bertemu lagi di kota yang pernah meninggalkan sisa kenangan. Dalam keadaan yang berbeda, dan perut yang tak lagi datar. Rusdi sudah jadi Dokter, semakin putih kulitnya. Hasim masih menulis, jadi wartawan ia kini. Salim, teman lama yang tak akrab, pekerjaannya tak pernah jauh dari cita-citanya dulu: guru, lebih dikenal dengan sebutan Guru Salim. Aku tak kalah dari mereka. Setidaknya, dalam hal penghidupan. Aku pedagang barang kebutuhan harian. Tak terlalu miskin, masih bisa menabung.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan masa lalu mengantarkan kami bertemu di tempat yang sudah sangat lama tak berkabar, di bawah pohon mahoni yang rindang semasa SMA. Kami bertemu tidak lagi dengan wajah anak-anak, tapi tetap dengan senyum yang sama. Satu kesamaan, yang membuat kami tertawa serempak adalah, perut yang semakin berisi. Paling gendut Rusdi. Ia juga yang paling lebar senyumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya yang gendut itu kau,” tunjuk Hasim kepadaku. Pedagang itu selalu culas. Laba saja yang ada dalam otaknya. Aku tersenyum. Temanku yang satu ini tidak pernah berubah. Cemeehnya tetap saja kental.&lt;br /&gt;Cerita anak-anak paling menarik bagi Rusdi. Anaknya dua. Luar negeri sekolahnya, yang paling tua. Kami bertiga merendah karena tak bisa lagi meninggi. Salim anaknya paling banyak. Walau, ia yang bergaji paling sedikit. Anak terkecilnya saja masih Taman Kanak-kanak. Kami sempat terdiam tak bersuara dan saling pandang satu sama lain, ketika Salim bertanya daerah rantau. Serempak menjawab, “Jakarta.” Ah, alangkah sempitnya dunia ini.&lt;br /&gt;Ternyata kami dekat. Tapi tidak pernah bertemu selama 35 tahun. Jaman yang semakin modern tak juga bisa mempertemukan kami di kota yang sumpek itu. Atau jangan-jangan, kota itu tak pernah bisa mempertemukan orang-orang. Barangkali hanya keajaiban, ketika di tempat ini, kami bisa berkumpul lagi.&lt;br /&gt;Lima jam sudah waktu habis bercerita. Uban di kepala tak bisa menutupi jiwa kanak-kanak kami. Dari masalah pacar, pekerjaan, sampai Hasim yang katanya akan bercerai. Semua dibungkus dalam cerita yang tak berideologi. Hanya untuk tertawa saja. Saling ejek tapi tak menyakitkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomong-ngomong, kalian kenapa pada pulang kampung semua?” Pertanyaan yang dari tadi hendak kuajukan.&lt;br /&gt;Semua saling pandang. Serempak menjawab, “Mengabdi kepada kampung halaman.” Rusdi menambahkan, marantau bujang dulu, di kampuang paguno balun. Mengabdi? Aku mengerutkan kening. Karena tepat, alasanku juga sama dengan mereka.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hanya aku yang belum punya rumah sendiri di kampung halaman. Rusdi, Salim, dan Hasim katanya sudah membuat rumah untuk anak perempuan mereka. Ya, terpaksa, aku numpang di rumah orang tua. Ah, tak apa. Aku tak terlalu lama di kampung. Jika pekerjaan ini sudah selesai, aku balik lagi ke Jakarta.&lt;br /&gt;“Sudah dapat orangnya, Bujang?” tanyaku pada kemenakan jauhku.&lt;br /&gt;“Sudah, Da. Katanya nanti sore akan ke sini.”&lt;br /&gt;Kemenakanku itu, sebelum aku pulang kampung, memang kusuruh untuk mencari orang yang bisa dipercaya dan pandai berdiplomasi. Setidaknya, ia bisa mewakili ide-ide yang kucanangkan untuk membangun kampung halaman.&lt;br /&gt;“Begini. Aku akan mencalonkan diri mencadi calon legislatif. Yang kumaksud, kau bisa mencari dukungan sebanyak-banyaknya untukku. Apa pekerjaanmu?”&lt;br /&gt;“Saya mahasiswa, aktif di legislatif. Tapi sebentar lagi tamat.&lt;br /&gt;Esoknya, kusuruh ia datang lagi ke rumah. Kuberitahu beberapa pokok-pokok pikiran yang sudah kupersiapkan. Kertas-kertas yang telah kufotokopi kuserahkan kepadanya. Setiap kau bertemu orang, kataku padanya, katakan bahwa aku, anak Sutan Sulaiman akan mengabdi kepada kampung halamannya. Ia akan membantu masyarakat untuk lepas dari belenggu kemiskinan, memudahkan mengurus surat tanah, jalan akan dibangun. Katakan juga, aku sudah banyak mendapatkan ilmu di Jakarta.&lt;br /&gt;“Mambangkik batang tarandam, begitulah kira-kira,” kataku.&lt;br /&gt;Yudi, aktivis itu mengangguk. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaan ini di kampus. Aku lega. Kemenakanku mencarikan orang yang tepat. Aku janjikan padanya, bila nanti aku terpilih, ia akan kutempatkan di posisi yang terhormat. Aku lihat ia tersenyum. Sebelum pergi dari rumah, kuberikan ia uang untuk pekerjaan yang akan dilakukannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok aku akan kembali lagi ke Jakarta. Kukemas segala barang. Maksud telah sampai, niat terwujud sudah. Satu pekerjaan awal menggemberikan. Sehabis mandi sore, kusempatkan diri datang ke bawah pohon mahoni di dekat SMA. Ah, pohon itu terus memanggil-manggilku bila pulang. Seorang diri aku duduk di sana. Tiga orang temanku , tak lagi berkabar. Mereka tentu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Larut dengan tujuan mereka untuk pulang kampung. Aku juga tak sempat berkunjung ke rumah mereka masing-masing. Persediaan danaku sudah menipis. artinya, aku tak boleh lama-lama lagi di sini. Ah, aku teringat percakapan terakhir kami, dua minggu yang lalu di bawah pohon mahoni ini. Mengabdi kepada kampung halaman? Oh, mengapa aku baru sadar sekarang, tiga orang temanku itu, aku kira, mereka juga akan menjadi calon wakil rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sudahlah. Besok aku akan ke Jakarta.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Entah keajaiban apa ini. Kami berempat bertemu lagi di bandara, cuma beda pesawat. Seperti biasa, senyum mengambang dan ruang tunggu pesawat penuh dengan canda. “Kok bisa ya?” Salim bergumam. Jangan-jangan, dipotong, Hasim, di antara kita ada yang akan meninggal. Barangkali ini adalah firasat. Waktu mempertemukan kita untuk yang terakhir kalinya. Aku memotong firasat Hasim, “Jangan berbicara seperti itu. Berpikir rasional saja. Bukankah kita berempat akan menjadi wakil rakyat?” oh, tiba-tiba lidahku keliru berbicara.&lt;br /&gt;Suasana menjadi diam seketika. Tapi hanya sejenak, Salim memulai lagi pembicaraan. Kali ini cara bicaranya tidak kukenali. Tak seperti guru. Dari dulu, kata Salim, kami berempat selalu bersaing. Entah kenapa, lebih sering memperebutkan hal yang sama. Mulai dari memperebutkan Resti waktu kami kelas tiga SMA, sampai memperebutkan posisi di tim sepakbola. “Apa yang hendak kau berikan kepada kampung halaman, Rusdi?” Tanya Salim. Yang membuatnya tidak seperti guru adalah ucapan terakhirnya. Dari dulu, Rusdi sangat pendiam. Meski ia yang paling berhasil, tapi ia tidak tahu cara berkomunikasi dengan orang. Lalu, bagaimana pula akan mengabdi kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah Rusdi tidak tersinggung. Ruang tunggu pesawat ini seperti milik kami berempat saja. Orang-orang yang di sekitar tak kami pedulikan. “Sesuai dengan pekerjaanku. Aku akan membuat masyarakat sehat. Dari sana pembangunan itu dimulai,” tutur Rusdi. Teori-teori pembangunan dijelaskannya kepada kami, sepertinya kata-kata itu telah disusunnya. Jepang bisa menjadi Negara maju karena masyarakatnya sehat-sehat. Aku akan memberikan masyarakat kesehatan yang gratis. Ini yang jarang diperhatikan selama ini. Pertanyaan itu diputarbalikkannya kepada Salim. “Apa yang hendak kau perbuat?”&lt;br /&gt;Salim meyulut rokoknya. Tapi keburu dimatikan. Sebab, seorang satpam melihat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak ingin bantah pendapatmu. Tapi penglihatan kita beda. Masyarakat kita menjadi bodoh karena mereka tidak sekolah. Itu yang akan kuperjuangkan.”&lt;br /&gt;“Kau ingin menaikkan anggaran pendidikan?” Hasim menyela. Aku perlu memberitahu, korupsi terbanyak ada di dunia pendidikan. Jangan-jangan, nanti kau terjebak di situ. Tanpa ditanya, Hasim menyampaikan visi dan misinya. Ruang pesawat ini seperti arena debat calon di telivisi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku paling tahu kondisi Negara ini. Setiap hari aku bertemu dan menelaah masalah di bidang ekonomi, politik, dan semacamnya. Artinya, aku lebih menguasai banyak masalah daripada kalian, tutur Hasim. Aku bisa membangun banyak relasi untuk membangun kampung halaman kita. Aku pikir, wartawan itu sendiri adalah wakil rakyat. Aku hanya berpindah tempat duduk, dari satu mobil ke mobil lain.&lt;br /&gt;“Wartawan tidak bisa menyelesaikan masalah yang diketahuinya, kawan.” Salim yang memotong. Dari tadi, memang Salim yang banyak berbicara. Ia seperti mendebat murid-muridnya saja. Dari pengeras suara kemudian terdengar panggilan. Rusdi dan Hasim, yang satu pesawat, kemudian berdiri. Pembicaraan terhenti seketika. Kali ini, kulihat wajah teman-teman tidak lagi seperti wajah anak-anak. Mereka sudah tua, rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah mereka tidak bertanya kepadaku. Karena aku tidak tahu, apa yang akan kuberikan kepada masyarakat. Aku hanya ingin mambangkik batang tarandam. Jika tadi mereka bertanya, aku tahu Hasim akan menyela, “Negara ini hancur karena pedagang.” Aku tahu betul itu. Di ruang tunggu ini, kini tinggal aku dan Salim. Tapi Salim tidak bertanya apa-apa. Aku pun tidak. Kami hanya diam, sampai pesawatku tiba. Ia masih menunggu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari selanjutnya, semakin dekat hari pemilihan, semakin sering waktu kuluangkan untuk pulang kampung. Tapi aku tak sempat lagi singgah di pohon mahoni dekat SMA, pohon kenangan kami. Aku tak tahu teman-temanku, apakah mereka sering datang ke sana atau tidak. Aku pikir tidak, sebab, aku sering melihat mereka di sekretariat partai dan di biro iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kami sering bertemu, tapi tidak berpapasan. Sudah kukatakan, menjelang hari pemilihan, semua caleg banyak turun ke masyarakat untuk menarik simpatisan. Kami sering bertemu di lapangan. Tapi tak ada yang mau menyapa duluan. Entah kenapa pula, daerah pemilihan kami sama, yaitu Daerah Pilihan II Air Tawar dan Koto Gadang.&lt;br /&gt;Kadang, kami bersirobok di rumah penduduk yang sama. Tapi tetap tak menegur. Barangkali, kami memang sudah menjadi musuh betulan. Ideologi kami yang berbeda dalam membangun masyarakat, sepertinya sulit disatukan. Lihatlah, ketika aku kirim pesan singkat ke Hasim untuk mengajaknya barang sejenak duduk bersama, ia bilang, “Wakil rakyat yang baik adalah tidak pernah duduk, apalagi tidur,” ujarnya.&lt;br /&gt;Oh, padahal aku tak sedang menyapanya sebagai calon wakil rakyat, tapi sebagai seorang teman karib dari kecil. Tidak bisakah lagi ia membedakan teman? Jangan-jangan, dengan menjadi caleg, ia tidak butuh temannya lagi. Yang ia butuhkan hanya suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang salat Zuhur, aku melihat Salim. Aku me nuju musalla hendak mengambil wuduk. Kulihat Salim akan menuju musalla itu juga. Kulambaikan tangan. Ia tersenyum kecil. Tapi kemudian buru-buru pergi. Aku heran, tidakkah ia datang ke masjid ini untuk salat? Tapi ia keburu menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku pun tak bisa mengelak. Dua hari yang lalu, di rumah Ibu Rusni, aku bertemu dengan Rusdi. Sehabis menunjukkan cara memilih yang benar pada pemilu nanti, Rusdi memanggilku. Aku seperti tak acuh. Ia mengajakku duduk di bawah pohon mahoni dekat SMA. “Tidak ada waktu untuk bersantai, kawan.” Tuturku ketus. Ia berlalu, dan tak menoleh lagi. Malamnya, aku teringat ucapanku itu. Ingin aku minta maaf, tapi tak kulalukakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sering bertemu di kampung ini. Barangkali dengan tujuan yang sama, menunjukkan kepada semua orang, siapa yang terbaik di antara kami. Sejak percakapan terakhir di ruang tunggu pesawat itu, kami jarang lagi bersapa, walau kini, waktu pertemuan kami lebih banyak. Seharusnya kami berbahagia karena ini. Jangan-jangan firasat Hasim benar, keajaiban di bandara adalah pertanda, bahwa salah seorang di antara kami akan mati. Dan memang, sejak pertemuan itu, kami tak lagi saling mengenal, walau masih hidup.&lt;br /&gt;Tapi itu tak terlalu kupedulikan. Aku memikirkan, bagaimana bisa mengalahkan teman-temanku itu dalam persaingan. Ini tugas yang paling berat. Karena Rusdi, Hasim, dan Salim, materi mereka lebih banyak daripadaku. Mereka semua berduit. Orang tua mereka juga pada kaya raya. Partai yang mereka tompangi adalah partai-partai pemenang pemilu tahun lalu. Aku kebalikan dari semua itu. tapi aku tidak patah semangat, aku tahu kemampuan mereka. Aku orang dagang, lebih menguasai situasi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pemilu berakhir dengan pilu. Tak seorang pun di antara kami yang duduk di legislatif. Aku temenung. Salim tak bisa menahan air matanya keluar. Hasim tak aku lihat. Kabar yang kudengar, ia berhenti dari pekerjaannya. Hanya Rusdi yang kulihat tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah pohon mahoni, kami bertemu lagi, suatu sore. Tapi ada yang hilang, kami tak lagi becanda. Kami hanya saling tatap satu sama lain. Sama-sama termenung, seakan tidak percaya dengan hasil pemilihan. Rusdi tidak lagi menceritakan anaknya yang sekolah di luar negeri itu. Tak ada tawa, dan pohon mahoni itu menjatuhkan daunnya satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandang teman-teman lamaku itu. Entah kenapa, aku sampai pada kesimpulan, ini pertemuan kami yang terkahir. Mereka tidak akan pulang kampung lagi setelah ini. Dari wajah-wajah kalah itu, aku melihat mereka sudah semakin tua.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Padang, Maret 2009&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-4041230940599974366?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/4041230940599974366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/pulang-kampung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4041230940599974366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4041230940599974366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/pulang-kampung.html' title='Pulang Kampung'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHD-uoGZnI/AAAAAAAAAPo/x7LJSyt5oeY/s72-c/a5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-53959838058583750</id><published>2009-04-11T04:34:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T04:53:21.128-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjektif'/><title type='text'>Memantau  Wakil Rakyat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SeCA6w5sk4I/AAAAAAAAAMo/02HoXqCAjco/s1600-h/politisi_maling.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 158px; height: 100px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SeCA6w5sk4I/AAAAAAAAAMo/02HoXqCAjco/s200/politisi_maling.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323396506599592834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALEK&lt;/span&gt; besar itu telah selesai digelar. Kita akan disuguhkan banyak cerita tentang kalah dan menang. Wakil yang dipilih rakyat telah ditunjuk melalui sebuah proses demokrasi yang Jurdil (Jujur dan Adil). Kita kesampingkan, apakah pemilihan itu dipengaruhi faktor tertentu atau tidak. Kita percaya, bahwa siapa yang duduk adalah benar-benar pilihan rakyat dan itu patut diapresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil rakyat akan bertugas. Setidaknya, untuk memenuhi janji-janji semasa kampanye dulu. Ada harapan baru di sana, untuk kehidupan bernegara yang lebih baik. Untuk itulah, kenapa amanat ini diberikan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita tidak akan berhadapan dengan janji lagi. Setelahnya, yang dihadapi adalah sebuah pekerjaan besar, memenuhi tuntutan rakyat yang ‘haus’, dalam segala hal. Haus dalam keadilan, haus untuk kesejahteraan, dan haus untuk pendidikan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi yang besar, karena ke depan, kita tidak lagi berurusan dengan janji. Menjadi rumit, karena janji adalah ironi itu sendiri. Pengalaman mengajarkan, sebuah janji bila dihadapkan pada kekuasaan, ia seperti air: semakin jauh mengalir, semakin lupa, di mana ia pernah singgah. Bila sampai di muara, ia akan menyatu dengan janji-janji lain. Dan kita akan semakin lupa, mana janji yang dulu pernah diucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah lawan dari kekuasaan adalah lupa? Bukankah terlalu banyak wakil rakyat yang berbohong? Dalam tanda tanya besar, sekarang rakyat dihadapkan dengan itu. Karena kita tahu, materi yang tak sedikit, perjuangan kelompok untuk pemenangan, akan berubah menjadi batu sandungan untuk menjadi lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, mesti ada pengawasan. Untuk wakil rakyat supaya tak semena-mena terhadap rakyat yang telah bersusah payah datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pagi-pagi hari. Agar ia tidak hanya menjadi ikan yang dipancing, lalu digoreng untuk makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mahasiswa sebagai kontrol&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ilmu politik tidak menciptakan manusia, tetapi memanfaatkan manusia&lt;/span&gt;. Aristoteles menulis ini dalam bukunya la politica untuk memberitahu kita bahwa, politik itu sulit untuk dipercaya. Politik itu adalah sesuatu yang tidak kita ketahui berwujud apa. Bisa bermujud wajah seorang gadis yang cantik, yang memberikan senyum kepada semua orang. Bisa pula berwajah ganda, di wajah manis, hati siapa yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar ia tidak berwujud semakin tidak diketahui, dari awal kita tidak boleh larut dalam euforia. Ke depan, jalan terjal terlalu panjang. Bangsa ini sedang sakit. Makanya, sangat diharapkan wakil rakyat yang bisa menjadi obat. Agar euforia kemengan tidak menjadi malapetaka itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapa tugas berat itu diberikan? Pemerintah sebenarnya telah memiliki banyak sekali alat untuk mengontrol ini. Namun, ia memiliki keterbatasan, yang berada pada tataran normatif saja. Masih bisa melakukan kongkalingkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah bangsa ini mengajarkan, setiap wakil rakyat (kekuasaan) yang menyimpang, yang berada pada barisan terdepan adalah kaum muda, lebih khusus lagi mahasiswa. Mahasiswa menjadi pahlawan pada tahun 1966, 1978, dan 1998. Kalau dicermati lagi, hampir setiap kepemimpinan, mahasiswa mencatat sejarahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsinya sebagai kontrol (agent of change) yang diberikan oleh masyarakat adalah sebuah tanda, mahasiswa tidak hanya belajar di lokal kuliah, ikut organisasi, lalu mengadakan seminar. Ia juga punya kepentingan, mewakili suara rakyat untuk setiap ketidakbenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena janji wakil rakyat kita semasa kampanye adalah untuk perubahan. Walau tidak banyak yang menjelaskan, perubahan untuk apa, namun kita tentu sependapat, bahwa perubahan yang dijanjikan adalah perubahan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.&lt;br /&gt;Di depan mata, ada jutaan rakyat yang masih tidak makan dalam sehari. Jutaan anak-anak yang turun ke jalan menjadi pengemis. Ini permasalahan sosial yang mesti dipecahkan oleh wakil rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan kita sekarang, ada UU Badan Hukum Perguruan Tinggi (BHP). UU yang mengamanatkan (di sisi lain) sekolah hanya untuk yang berduit dengan iming-iming kualitas (seolah-olah, tanpa BHP, pendidikan tidak bisa berkualitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekililing badan kita, anak-anak terbaik bangsa, yang memperjuangan keadilan, dibunuh lalu kasusnya ‘seakan’ enggan untuk diselesaikan, masih meminta keadilan dan hak. Orang-orang pinggiran yang rumahnya dibongkar lalu disuruh tinggal di kolong jembatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ini yang ada di dalam pikiran cerdas wakil rakyat kita untuk perubahan? Bukankah tidak ada wakil rakyat untuk perubahan ke  arah yang lebih buruk? Mudah-mudahan memang tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan besar itu, sekarang tidak hanya di pundak wakil rakyat, tapi juga diembankan di pundak mahasiswa. Jalannya untuk perubahan, tidak serta merta diwakilkan kepada segelintir orang, tapi menuntut ‘yang lain’ untuk melakukan pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sangat tidak berharap, kekuasaan yang sekarang telah didapat, berubah menjadi mesin hasrat (desiring machine). Bukankah hasrat, sebagaimana dikatakan Deleuze dan Guattari hanya akan memproduksi hasrat-hasrat berikutnya yang lebih besar, lebih memuaskan, dan lebih dahsyat? Kita sama-sama menakuti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan secara bersama-sama, kita mesti mengingatkan wakil rakyat yang lupa dan berdalih jika lupa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Singgalang, 11 April 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-53959838058583750?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/53959838058583750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/memantau-wakil-rakyat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/53959838058583750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/53959838058583750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/memantau-wakil-rakyat.html' title='Memantau  Wakil Rakyat'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SeCA6w5sk4I/AAAAAAAAAMo/02HoXqCAjco/s72-c/politisi_maling.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-6542101218934345448</id><published>2009-03-24T04:44:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T04:56:52.408-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Berhelm Bukan karena Takut Polisi</title><content type='html'>&lt;a style="font-weight: bold;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/ScjI3R9WYwI/AAAAAAAAAMg/ANoDqkECpi0/s1600-h/hel1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 289px; height: 183px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/ScjI3R9WYwI/AAAAAAAAAMg/ANoDqkECpi0/s320/hel1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316720212149953282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerap&lt;/span&gt; kita menyaksikan, atau malah mengalami sendiri, ketika menumpang dengan sepeda motor teman, tiba-tiba di tengah perjalanan—biasanya menjelang perempatan traffic light—kita diturunkan, “Turun di sini saja ya, saya tidak membawa helm dua. Di sana ada polisi.” Atau yang seperti ini, “Sudah malam, tidak ada polisi. Tidak apa-apa tidak pakai helm.” Dan masih banyak peristiwa lainnya, menyangkut helm, yang bermuara pada keengganan kita mengenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai alasan pun menderas dari mulut kita. Seperti yang dikeluhkan Rahmat, mahasiswa yang pulang-pergi ke kampus naik motor ini, “Kepala saya sering gatal kalau pakai helm, malah rambut saya sampai rontok olehnya.” Hal serupa juga dirasakan Yuliana, pegawai swasta, “Saya sering linglung kalau pakai helm apalagi helm besar (full face-red). Belum lagi rambut saya yang bau dibuatnya. Ya, karena tempat kerja saya tidak lewat jalan raya, jadi tidak pakai helm. Tidak ada polisi juga.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ujang, yang berprofesi tukang ojek, juga berpendapat demikian, “Saya tidak biasa pakai helm. Lagi pula, selama ini tidak ada masalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhelm, tidak ada masalah? Perlukah kita bermasalah dulu, baru jera seperti yang telah disadari oleh Syafril, “Saya akui, saya pergunakan helm karena saya mengalami suatu kejadian yang membuat saya tersadar. Tahun 1989, saya kecelakaan. Tabrakan dengan mikrolet. Waktu itu saya menggunakan helm proyek. Belum lagi saya terjatuh, helm saya sudah duluan terjatuh. Helm itu tidak bisa melindungi kepala saya. Kemudian, saya melihat dengan mata kepala sendiri. Seorang pengendara motor berada di depan saya. Tiba-tiba ia memotong sebuah truk pasir. Datang dari arah berlawanan sebuah  truk pula. Ia terjepit dan tidak bisa mengendalikan motornya. Ia terjatuh tepat berada di bawah kolong mobil. Helm standar yang dipakainya itu melindungi kepalanya. Jadi, ketika terjatuh, kepalanya tepat berada di roda truk paling belakang. Ketika roda itu akan menggilas kepalanya, helm itu berfungsi seperti bola, berputar dan menjauh dari roda. Akhirnya kepalanya tidak apa-apa karena menggunakan helm itu. Dari kejadian itu, sampai sekarang, kemana pun pergi, saya selalu menggunakan helm standar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, “Jangan tunggu dulu kecelakaan itu terjadi,” ujar Syafrino, mahasiswa yang memanfaatkan motor sebagai kendaraan alternatifnya. Karena Syafrino pernah mengalami sendiri akibat kelalainnya. Kepalanya berdarah dan mendapatkan lima jahitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah benar-benar ditilik, mengenakan helm saat berkendara jelas untuk si pengguna motor itu sendiri. Bukan alasan sebenarnya kalau kita berhelm, karena takut polisi. “Memakai helm yang memenuhi standar itu demi keselamatan diri sendiri. Untung dan ruginya buat diri sendiri, bukan polisi,” tegas Ajo, yang bolak-balik kerja pakai motor.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan helm standar juga sebagai kebutuhan bagi pengendara motor. Simak saja apa yang dipaparkan Selno Afdianto, “Kalau sudah keluar rumah, dan menempuh jalan raya, saya selalu menggunakan helm standar. Menggunakan helm yang full face atau standar adalah kebutuhan pokok. Bukan karena saya takut dengan polisi, tanpa ada polisi pun, bepergian keluar dari kompleks rumah, saya selalu menggunakan helm standar. Malam misalnya, tetap juga saya menggunakan helm. Terserah, malam sudah larut atau bukan. Kita kan tidak tahu, kapan kecelakaan menimpa kita. Yang penting, ketika berkendara, kita sudah harus siap dengan segala resiko-resiko di jalan. Untuk meminimalisirnya, tentu, kita harus menggunakan standar keamanan yang ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Syafril, yang selalu mengingatkan anak-anaknya memakai helm jika bermotor.”Karena masalah helm adalah permasalahan keselamatan, bukan gaya-gayaan.&lt;br /&gt;Maka, kalau anak-anak saya keluar rumah, selalu saya ingatkan agar menggunakan helm standar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, helm standar juga memiliki manfaat lain dalam berkendara, “Manfaatnya bagi saya begitu banyak dan memang terasa langsung. Padang ini kan kotanya panas, kalau menggunakan helm yang menutupi hanya separuh kepala, debu murah masuk ke mata dan akhirnya kita tidak konsentrasi membawa motor. Helm standar bisa menutupi itu dan suara-suara bising juga bisa dikurangi,” imbuh Selno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, penerapan peraturan pemakaian helm standar yang sedang gencar disosialisasikan di Indonesia sekarang ini, berujung pada pengendara sendiri. Siapa yang tidak ingin keselamatannya terjaga dalam hidup. Bukankah nyawa kita yang satu itu sangat berharga, akankah kita sia-siakan? Rully, PNS yang juga penikmat perjalanan dengan motor, sangat menyetujui penerapan peraturan helm standar ini. “Bukan untuk polisi, tapi untuk kita sendiri. Disuruh selamat kok tidak mau,” celetuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Rully, Erwin yang sering ikut balapan liar, juga mendukung pakai helm standar berkendara. “Tidak jamannya lagi, bermotor ugal-ugalan. Sekarang saatnya menikmati perjalanan dengan motor secara tertib dan aman. Jadi, tidak ada alasan untuk menolak peraturan helm standar itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bukan untuk penghilang resiko, namun dengan helm standar, tentu kita tidak akan was-was lagi berkendara. “Saya setuju sama peraturan tersebut. Sebenarnya masalah pemilihan helm ini sudah jadi tanggung jawab pribadi si pengendara motor. Kalau  sayang kepala, pakai helm standar jangan asal pakai helm saja,” lansir Rahman. Begitu juga dengan yang membonceng di sepeda motor. Mereka juga harus diberi helm, apalagi mitos yang berkembang di masyarakat, bahwa, biasanya yang sering parah saat kecelakaan adalah penumpang. Maka dari itu, keselamatan penumpang juga berada dalam pikiran pengendara. “Tiap menumpang naik motor teman saya selalu menanyakan helm. Pakai motor sendiri juga demikian, saya kalau keluar naik motor sama keluarga selalu menyuruh pakai helm, termasuk anak-anak saya. Helm khusus anak-anak juga tersedia,” papar Kariman, teknisi bengkel motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selno juga seperti itu, “Saya selalu membawa dua buah helm ketika bepergian. Jika da teman yang menumpang misalnya, telah saya sediakan helm untuk mereka.”&lt;br /&gt;Peraturan tentang helm termaktub  dalam Undang-undang No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 61 ayat (3) dan PP No. 44 tahun 1993 yang menyaratkan bagi semua pengendara sepeda motor dan penumpangnya untuk memakai helm. Kemudian dilanjutkan dengan peraturan terbaru tentang wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk helm kendaraan bermotor roda dua. Aturan tersebut ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 40/M-IND/Per/6/2008 tentang pemberlakuan SNI helm pengendara kendaraan bermotor roda dua secara wajib. Aturan-aturan ini hendaknya dipahami sebagai upaya Negara menyelamatkan warganya. Bukan untuk menyengsarakan, karena harga helm standar yang mahal misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpikiran terbuka seperti itu, setidaknya kita telah menyadari dan menyambut baik upaya pemerintah menekan angka kecelakaan di jalan. Sebab, masing-masing kita, sudah mengerti dan paham bagaimana pentingnya helm ini dalam melindungi kepala. Meski bukan berarti menghilangkan resiko, setidaknya mengurangi tingkat resiko yang bakal kita hadapi dalam berkendara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai alat peminimalisir resiko, tentu kita akan mencari dan mengenakan helm dengan kualitas bagus sesuai standar, dan dipakai dengan benar. Sehingga hal remeh yang bisa berakibat besar bagi kita dan orang lain terkurangi, seperti helm yang jatuh ditiup angin, biasanya helm batok, yang juga menganggu pengguna jalan lain. Apa artinya mengenakan helm, jika pengenaan helm tersebut sama sekali tidak dapat mengurangi resiko yang dapat mengakibatkan kerugian pada diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Jika sudah demikian, memakai helm sesuai standar dengan baik dan benar, maka rasa aman dan nyaman berkendara akan selalu menyertai perjalanan kita dan kita bisa menikmatinya. Tidak perlu lagi kucing-kucingan dengan polisi.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Gusriyono/Andika D Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang Ekspres, 22 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-6542101218934345448?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/6542101218934345448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/berhelm-bukan-karena-takut-polisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6542101218934345448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6542101218934345448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/berhelm-bukan-karena-takut-polisi.html' title='Berhelm Bukan karena Takut Polisi'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/ScjI3R9WYwI/AAAAAAAAAMg/ANoDqkECpi0/s72-c/hel1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-8196962842516300448</id><published>2009-03-17T02:23:00.001-07:00</published><updated>2009-03-17T02:27:26.953-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjektif'/><title type='text'>Tan Malaka dan Bangsa yang Melupakan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sb9sTokdWVI/AAAAAAAAALY/nNG21OXsPZw/s1600-h/tanamalaka.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sb9sTokdWVI/AAAAAAAAALY/nNG21OXsPZw/s320/tanamalaka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314085169884125522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Indonesia &lt;/span&gt;telah merdeka selama 63 tahun. Kemerdekaan itu diperoleh dengan perjuangan panjang, dan mengorbankan banyak anak bangsa. Kemerdekaan diperoleh tidak dengan ‘hadiah’ dari Belanda, tapi perjuangan panjang yang berdarah dan tak mengenal lelah. Apa dan siapa di balik kemerdekaan, kemudian dikenal dengan istilah fonding father. Kita mengenal Soekarno, Sjahrir, juga Hatta. Mereka adalah fonding father yang berjasa besar memberikan kebebasan kepada rakyat Indonesia. Sayangnya,tidak semua pahlawan bangsa yang dicatat oleh sejarah, salah satunya Tan Malaka. Meskipun ia telah mengorbankan nyawanya untuk kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka yang bernama asli Ibrahim adalah seorang anak desa yang berasal dari Ampang Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Perjuangannya untuk Indonesia bukan lagi perjuangan yang berskala nasional, tapi internasional. Walau perjuangannya lintas benua, Tan Malaka tidak diperkenalkan kepada murid-murid sekolah dasar. Dalam buku sejarah, Tan Malaka tidak dipelajari. meskipun pada zaman Soekarno (1963) ia dinobatkan sebagai pahlawan nasional.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka adalah pejuang yang revolusioner. Ia dikenal sebagai tokoh nasioanal yang juga memiliki reputasi regional Asia bahkan Internasional. Tahun 1925, di Canton China ia mencetak buku tentang konsepsi Negara Indonesia dalam bahasa Belanda berjudul “Naar de Repoeblik Indonesia.” Menurut Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, dalam Rehabilitasi Tan Malaka, ia juga melakukan pergerakan di Bangkok, Manila, Amoy, Hongkong, Syanghai, Rangon, Singapura dan Ho Chi Minh. Tan Malaka sendiri pernah berujar di depan polisi Hongkong yang menangkapnya tahun 1927, “Di dalam kubur suaraku akan terdengar lebih keras daripada di atas bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Tan Malaka bukan saja dikagumi oleh generasi muda dan aktivis gerakan kemerdekaan, tapi juga oleh pemimpin nasional. Bahkan, Presiden Soekarno, sangat menyanjung Tan Malaka. Hingga dalam suasana kritis pasca proklamasi, Soekarno berujar “Jika revolusi ini gagal, yang akan menggantikan saya sebagai presiden adalah Tan malaka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Tan Malaka adalah sosok yang pemikirannya penuh dengan ide-ide cemerlang. Beberapa karya legendaris ditulisnya dalam keadaan di penjara dan di hukum. Madilog (matreialisme, Dialektika, dan Dialog) serta Gerpolek adalah beberapa di antara banyak pemikirannya untuk Bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun, setelah kemerdekaan diproklamasikan, terdapat dua model poerjuangan untuk menghadapi Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia yaitu berunding atau mengadakan perlawanan senjata. Pemerintahan Sjahrir memilih jalan yang pertama, sedangkan Tan Malaka memiliki visi yang berbeda yaitu melakukan revolusi total. Revolusi total disampiakannya dalam pidato tentang pentingnya persatuan untuk mencapai kemerdekaan 100 persen yang kemudian menjadi program pertama gerakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka adalah seorang yang sangat peduli kepada rakyat. Ia mendirikan sekolah gratis. Dan kepada murid-muridnya, ia mengajarkan tiga pelajaran penting agar mereka menjadi manusia merdeka, filsafat agar mereka tahu akar pengetahuan dan berorganisasi agar mereka menjadi bagian dari pergerakan. Tan Malaka berprinsip, untuk melawan imperialisme adalah dengan pendidikan dan pergerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner adalah keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis. Seluruh kekuatan Rakyat itu harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air. Persatuan harus di tempatkan di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dosa Bangsa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Adalah pantas dibilang dosa bila Tan Malaka dimarginalkan dalam sejarah bangsa. Perjuangannya pantas mendapat tempat, dan pemikirannya penting untuk dipelajari. Salah satu dosa bangsa adalah tuduhan yang dialamatkan kepadanya tentang komunis. Tan Malaka memang pernah bergabung dengan partai Komunis. Ketika ia masih di Belanda, ia aktif menjalin hubungan dengan komunis internasional. Saat pecah pemberontakan PKI tahun 1926 di Banten dan Sumatera Barat, Tan Malaka malah menjadi orang yang paling keras menentang. Ia menolak hasil konferensi PKI di Prambanban pada November 1925 yang keputusannya melawan kolonial dengan cara memberontak (Jurnal Indonesia, Februari 2007). Tan Malaka menilai, pemberontakan hanya menghasilkan kesengsaraan bagi rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hary A. Poeze yang meniliti Tan Malaka selama 30 tahun, di Indonesia ada partai komunis yang dipengaruhi oleh pemikiran Stalin di Rusia. Dalam wawancaranya di Jurnal Indonesia, Poeze menagatakan Tan Malaka menerapkan komunis tidak setia kepada Moskow. Secara ideologi, memang terjadi perbedaan besar tentang komunis. Partai Komunis Indonesia menolak Islam dan peranannya, sedangkan Tan Malaka dan pengikutnya mengakui peranan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa yang lebih besar adalah belum diketahuinya makam pemimpin revolisioner itu. Niat baik seorang peneliti Belanda, Hary A Poeze dari KITLV Belanda mesti diberikan acungan jempol. Dari penelitian Poeze, Tan Malaka dikubur di desa Selepanggung, Kediri, Jawa Timur. Ia ditangkap oleh pasukan dari Divisi Soerachmad tanggal 21 Februari 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas bangsa ini adalah memastikan bahwa Tan Malaka memang di kubur di sana. Hary sudah mempersiapkan peralatan dari Belanda untuk tes DNA. Tinggal, bagaimana pemerintah Indonesia menyambutnya. Sejarah ini kewajiban penerus bangsa untuk meluruskannya. Selama 32 tahun sejarah Indonesia menjadi Hitam-Putih, kini tiba saatnya kita membongkar semua hal yang perlu diluruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, ke depan, kita mesti belajar pada Amerika dalam memandang sejarah. Di Amerika, di tingkat perguruan tinggi, sejarah dipelajari secara filosofi dengan mata kuliah Kontroversi Sejarah. Di sana diperdebatkan tentang pahlawan dan hal-hal yang menyangkut sejarah. Mahasiswa menilai mana yang pantas ditiru dan digugu. bukan hitam-putih seperti yang terrjadi di negara Republik ini. Sejarah kita, terlalu banyak kepentingankepentingannya. Penulis yakin, tidak semua yang dikubur di Kalibata adalah pahlawan nasional.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-8196962842516300448?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/8196962842516300448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/tan-malaka-dan-bangsa-yang-melupakan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8196962842516300448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8196962842516300448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/tan-malaka-dan-bangsa-yang-melupakan.html' title='Tan Malaka dan Bangsa yang Melupakan'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sb9sTokdWVI/AAAAAAAAALY/nNG21OXsPZw/s72-c/tanamalaka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-1542473275671409524</id><published>2009-03-16T11:08:00.001-07:00</published><updated>2009-07-06T02:32:05.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Lagu Minang Layak Berkembang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHEh9XKZnI/AAAAAAAAAP4/wGxXM_PGldE/s1600-h/BoySandyCD.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 198px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHEh9XKZnI/AAAAAAAAAP4/wGxXM_PGldE/s200/BoySandyCD.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355277519606670962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BELAKANGAN,&lt;/span&gt; berbagai tanggapan muncul terhadap lagu Minang yang berkembang sekarang. Di antaranya begini, “Kini sudah tidak ada lagi lagu Minang. Yang ada, lagu-lagu kacangan berbahasa Minang. Jauh beda dengan masa-masa di bawah dekade 1980-an. Lagu Minang melantun, menghanyutkan dan sarat makna. Akibatnya, sepanjang masa tembang-tembang demikian abadi. Dikenal dan disenangi semua generasi,” demikian tertulis di sebuah blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan atau juga sirat keprihatinan seperti itulah yang kini mewabah dalam masyarakat Minangkabau, melihat perkembangan lagu-lagu hari ini. Sepertinya lagu Minang kehilangan rasa dan makna. Lagu yang dulu identik dengan ratok (ratap), karena berakar dari dendang saluang juga rabab dan bansi, kini seakan tertutupi oleh komposisi musik yang berkembang sekarang. Sebagaimana hal serupa juga dirasakan Ardoni Yonas, pengamat dan pencipta lagu Minang, “Walau tidak semuanya, tapi kita akan sepakat bahwa lagu Minang sekarang tidak lagi mencerminkan budaya. Contoh, dalam sebuah lagu Minang, ada lelaki yang menangis karena ditinggalkan pacarnya. Padahal, dalam budaya Minang, laki-laki itu tegar dan tidak boleh menangis.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Indra Yeni, peneliti lagu Minang, dalam pengamatannya juga menemukan hal yang sama. “Yang tidak bisa dilepaskan dari lagu Minang dulu adalah pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Bagi orang Minang, lagu itu adalah sebuah pesan, yang disampaikan dengan makna yang berkias. Dalam perkembangannya, lagu Minang sekarang tidak lagi menampakkan itu. Mungkin, karena saya memang dibesarkan dengan kultur yang lama sehingga saya berkesimpulan bahwa lagu-lagu Minang sekarang hampir tidak memiliki lagi pesan dalam setiap penyampaiannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, penyanyi lagu Minang legendaris, Elly Kasim pun mengemukan hal yang sama tentang lagu Minang sekarang. Sebagaimana dilansir padangkini.com, “Kalau dahulu lagu Minang itu diambil dari pantun yang merupakan salah satu budaya Minangkabau yang menyembunyikan makna tersirat dalam tiap syairnya, namun saat ini hal tersebut sudah mulai menipis, barangkali budaya Minangkabau sudah kurang diminati lagi atau kurang dipertahankan oleh generasi-generasi muda zaman sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Arifni Netrirosa, peneliti di Jurusan Etnomusikologi USU, dalam situs cimbuak.net melihat, bahwa di Minangkabau, perkembangan musik pop daerah dewasa ini sudah sangat jauh memasuki dunia musik pop yang berkembang secara umum di Indonesia, bahkan dengan cepat telah memanfaatkan ciri-ciri tren musik dunia. Misalnya di Minangkabau bisa kita lihat musik pop daerahnya yang cukup populer seperti lagu Kutang Barendo yang berasal dari seni vokal tradisional dendang Minangkabau dengan iringan Saluang (end blown flute) dengan teknik sirkulasi tiupan. Bahkan tidak kalah lagi di antara lagu-lagu pop daerah yang berangkat dari musik dan lagu tradisi itu telah dikembangkan lagi dengan memasukkan unsur-unsur ‘rap’ ke dalam komposisi musiknya. Memang mau tidak mau harus diakui bahwa lagu-lagu dengan memuat musik seperti di atas cukup laris terjual di Sumatera Barat dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati yang seperti itu, lalu muncul pertanyaan, ada apa sebenarnya dengan perkembangan lagu Minang tersebut. Barangkali, perlu juga kita dudukkan apa yang dimaksud dengan lagu Minang itu sendiri. Sebab, setiap orang memiliki defenisi masing-masing tentang ini. Indra Yeni, yang juga dosen di Jurusan PG-PAUD FIP UNP, memberi defenisi yang jelas tentang lagu Minang. “Berdasarkan tata bahasanya, secara resmi definisi lagu Minang itu tidak kita temui. Lagu Minang hanyalah sebuah sebutan untuk lagu-lagu yang berasal dari daerah Minangkabau atau Sumatra Barat. Karena pengaruh dialek, lagu Minangkabau sering disebut sebagai lagu Minang saja. Dari sini kita ketahui bahwa sebenarnya lagu Minang itu adalah semacam lagu daerah bukan lagu rakyat (folk song). Biasanya yang disebut dengan lagu-lagu Minang adalah lagu-lagu daerah yang dikomersilkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tonggak Tuo lagu pop Minang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Merujuk pada defenisi tersebut, adanya komersialisasi dalam perkembangan lagu Minang tidak lepas dari sejarah munculnya kreatifitas seniman dalam memopulerkan lagu-lagu Minang. Frans Sartono (kompas.com), menjelaskan, pada era 1950-1960-an, pembatasan pemutaran musik pop Barat di radio berimbas pada kreatifitas seniman lokal untuk berbicara dengan bahasa daerah dalam lirik lagu. Orkes Gumarang yang personelnya adalah Urang Awak memopulerkan lagu berbahasa Minang, seperti Ayam Den Lapeh sampai Laruik Sanjo. Mereka mengakomodasikan unsur musik Latin yang saat itu banyak digemari di negeri ini. Oslan Husein, dengan bahasa Minang pula, memopulerkan lagu seperti Kampuang nan Jauh di Mato, dan Elly Kasim dikenal lewat Bareh Solok.&lt;br /&gt;Dengan penelusuran yang lebih lengkap mengenai sejarah munculnya lagu-lagu Minang yang bersinergi dengan musik-musik lain, Theodore KS, penulis masalah industri musik (kompas.com) menguraikan, bahwa di masa 50-an muncul grup-grup musik yang menggubah lagu-lagu Minang dengan warna musik lain, seperti musik klasik. Orkes Gumarang dengan irama Latin dan Teruna Ria me-rock’n’roll-kan lagu serta musiknya. Sementara gitar bersuara saluang ala Nuskan Syarif masih bisa dinikmati sampai sekarang bersama Kumbang Tjari-nya. Mereka-mereka ini merupakan grup musik yang dianggap tonggak tuo dalam memopulerkan lagu pop Minang ketika itu. Kelahiran grup-grup musik ini ditopang oleh keberhasilan orkes Penghibur Hati yang lebih dulu berdiri dan terkenal dalam mendendangkan lagu-lagu Minang di RRI Jakarta. Lagu-lagu Penghibur Hati yang disiarkan radio itu, antara lain, Kaparinyo, Dayung Palinggam, Nasib Sawahlunto, dan Sempaya. Pengaruh lagu-lagu Latin, seperti Melody d’Amour, Besame Mucho, Cachito, Maria Elena, dan Quizas, yang sedang digemari tak mampu ditepis.&lt;br /&gt;Gumarang yang dilirik oleh perusahaan rekaman Irama pimpinan Suryoso Karsono, merekam Ayam Den Lapeh ciptaan A Hamid, Jiko Bapisah dan Laruik Sanjo ciptaan Asbon, Yo baitu ciptaan Syaiful Nawas, Takana Adiak ciptaan Januar Arifin, Baju Karuang, Ko Upiek Lah Gadang, Titian Nan Lapuak, Nasib Sawahlunto, dan lagu lain-lain, yang jelas sekali dipadukan dengan irama cha-cha yang dikenal sebagai pengiring tarian di Amerika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti sukses Gumarang, Kumbang Tjari pun tak kalah terkenalnya. Adalah Nuskan Syarif yang menakhodai grup musik yang berdiri tahun 1961 ini. Meskipun mengagumi Gumarang, Nuskan berusaha membuat musik yang berbeda. Kalau Gumarang dominan dengan pianonya, Kumbang Tjari mengedepankan melodi gitar. Di sinilah Nuskan menunjukkan keperkasaannya sebagai pemain gitar, bukan hanya dalam soal teknik, namun juga dalam soal eksplorasi bunyi. Petikan gitarnya mengingatkan pendengarnya akan suara saluang, seruling bambu khas Minang. Ciri khas ini belum ada duanya sampai sekarang.&lt;br /&gt;Memasuki studio rekaman piringan hitam (PH), album Kumbang Tjari yang pertama ini berisi lagu-lagu Asmara Dara yang dinyanyikan oleh Elly Kasim, Randang Darek dinyanyikan Nuskan Syarif, Taratak Tangga (Elly Kasim dan kawan-kawan), Mak Tatji (Nuskan Syarif), Apo Dajo (Elly Kasim dan kawan-kawan), Tjita Bahagia (Elly Kasim dan Nuskan Syarif), Cha Cha Mari Cha (Nuskan Syarif), Gadis Tuladan (Nuskan Syarif), Kumbang Djanti (Elly Kasim), Langkisau (Nuskan Syarif dan kawan kawan), Kureta Solok (Nusikan Syarif dan kawan-kawan), dan Oi, Bulan (Elly Kasim dan kawan-kawan).&lt;br /&gt;Selain Gumarang dan Kumbang Tjari, juga tidak bisa dilupakan orkes Teruna Ria yang mempertegas irama rock’n’roll dalam lagu-lagu Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bubarnya Teruna Ria menyebabkan penyanyi utamanya, Oslan Husein, mendirikan Osria. Sementara personel lainnya, Zaenal Arifin, mendirikan Zaenal Combo, yang merajai penataan musik rekaman hampir semua penyanyi pada akhir 1960-an sampai awal 1970-an. Penyanyi-penyanyi yang diiringi Zaenal Combo, yaitu Lilies Suryani, Ernie Djohan, Alfian, duet Tuty Subarjo/Onny Suryono, Retno, Patti Sisters, Tetty Kadi, Anna Mathovani, Emilia Contessa, Titi Qadarsih, Angle Paff, atau Lily Marlene.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seribu lagu setahun&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Melihat perkembangan awal lagu-lagu pop Minang ini, wajar saja kalau sebagian penggemar lagu Minang prihatin dan kecewa dengan lagu Minang sekarang. Salah satu faktor yang menyebabkan lagu-lagu Minang tempo dulu bisa hinggap lebih lama di telinga pendengarnya adalah tidak banyaknya industri rekaman, apalagi ditahun-tahun 50-an tersebut. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari lagu yang beredar. Belum lagi pada masa itu rekaman piringan hitam (PH) dengan gramafon sebagai medianya. Bahkan untuk tampil di RRI saja harus melewati seleksi yang ketat. “Pada masa itu tidaklah mudah bagi seorang penyanyi atau sebuah grup untuk tampil di RRI. Mereka harus lulus tes di depan sejumlah juri, sebagaimana layaknya peserta sebuah lomba,” tulis Theodore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan rentang 90-an hingga hari ini, lagu-lagu Minang diproduksi seperti kacang goreng. Bisa kita lihat, ada ribuan lagu dan ratusan artis yang beredar di pasar lagu Minang mulai dari kaset sampai VCD. “Sekarang saja ada seribu lebih lagu yang direkam dalam setahun” kata Agus Taher, pencipta dan produser lagu Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi seperti ini, Agus pun tidak menampik, pencipta lagu berkreasi mengikuti musik yang berkembang. Namun, tidak meninggalkan identitas Minangkabaunya. “Saya saja sudah menggunakan melodi manual seperti musik-musik anak muda sekarang itu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini perlu diingat, bahwa, seni dan budaya bukanlah hal yang statis atau tetap, tetapi dinamis atau terus berkembang. Seni itu berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Adat Minangkabau juga mengatur hal ini, yaitu, adat nan babuhua sentak atau adat yang megikuti perkembangan zaman. Jadi, pendapat bahwa lagu-lagu Minang sekarang tidak bermutu atau yang mengatakan lagu sekarang bukan lagu Minang, hendaknya juga menggunakan kaca mata yang sama dalam memandang lagu Minang sekarang. “Sayang sekali kalau kita ikut-ikutan memfonis terlalu dini. Sekali lagi, bahwa saat ini ada kenyataan yang tidak bisa dibantah, bahwa lagu Minang itu jelas semakin berkibar dan suatu kenyataan pula bahwa lagu Minang adalah produksi terbesar di Indonesia,” ulas Sexri Budiman, pencipta dan pengamat lagu Minang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Gusriyono/S Metron/Andika D Khagen)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Padang Ekspres, 15 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-1542473275671409524?l=andika-khagen.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/1542473275671409524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/lagu-minang-layak-berkembang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1542473275671409524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1542473275671409524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/lagu-minang-layak-berkembang.html' title='Lagu Minang Layak Berkembang'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='15360892826010279255'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHEh9XKZnI/AAAAAAAAAP4/wGxXM_PGldE/s72-c/BoySandyCD.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>