<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137</id><updated>2012-02-16T08:31:02.061-08:00</updated><category term='objektif'/><category term='Subjektif'/><category term='PELAJARAN HARI INI'/><category term='buku'/><category term='renungan'/><category term='puisi'/><category term='imajinatif'/><category term='tokoh'/><title type='text'>Tawa Lepas</title><subtitle type='html'>kabar dari dalam jiwa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>75</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-2173556484363933828</id><published>2011-06-02T13:17:00.000-07:00</published><updated>2011-06-02T13:27:57.461-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>“Berladang’ di Tepi Jalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-oo9L3WaLbDw/TefxrWa56JI/AAAAAAAAASY/lGxJf-vkaFE/s1600/FOTO%2BLEPAS.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-oo9L3WaLbDw/TefxrWa56JI/AAAAAAAAASY/lGxJf-vkaFE/s200/FOTO%2BLEPAS.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5613721187595708562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PADANG &lt;/span&gt;sering diakronimkan dengan Pandai Berdagang. Menyusuri jalan protokol di Kota Padang, akronim itu nyata terlihat. Pelbagai pedagang dengan segala macam dagangan bersaing dengan kendaraan merebut pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An (30) bangun pagi-pagi sekali di rumahnya di Gunung Pangilun. Mobil bak terbuka keluaran 1990, di depan ruang tamu sedari tadi mesinnya sudah dihidupkan. Istrinya menyiapkan teh panas. Ketika matahari belum beranjak tinggi, mobil An telah penuh berisi celana levis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celana levis memenuhi hampir separuh mobil An. Ia, seperti hari lalu, berkeliling menjajakan celana itu. Tapi bukan dari rumah ke rumah. Ia menjajakannya di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;An menuju Lolong. Mobilnya diparkir persis di depan pintu masuk Taman Makam Pahlawan (TMP).  Mobilnya tiba-tiba diubah menjadi toko. Beberapa potong celana di-hanger dan ditaruh menghadap ke jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah keseharian An.  Sedari tahun lalu, bersama mobilnya, ia mencoba peruntungan usaha menjual celana keliing. Dari pagi hingga sore, ia berada di Lolong. Sorenya, ia di Pasar Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi An, berdagang keliling, bukanlah pekerjaan baru. Sebelum itu, ia juga melakukan pekerjaan yang sama di Pekanbaru. Di Pekanbaru, ia menjual mainan anak-anak. Daerah transmigrasi menjadi tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Usaha ini tak berlaba besar, tapi pengeluarannya juga sedikit,” ujar An yang Kamis (126/5) siang itu sedang tawar menawar dengan pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeluaran yang dimaksud An, ia tidak mesti menyewa toko, yang harganya tinggi. Biaya parkir, keamanan, sewa ini dan itu, tak perlu pula dipikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, itu pula, celana yang ia beli di Bukittinggi, harganya jauh lebih murah.&lt;br /&gt;Celana levisnya dijual kisaran harga Rp50 ribu sampai Rp150 ribu. Harga Rp150 ribu untuk celana levis merek terkenal semisal Lea, Levi’s, atau Tira. Menurut An, bukan barang asli, tapi merek menentukan harga barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi (25) melakukan hal yang sama dengan An. Tapi ia menjual sepatu dan sandal khusus perempuan.  Setiap hari, ia bisa menjual sepatu itu paling sedikit sepuluh pasang. Di hari libur, sepatunya bisa terjual sampai 30 pasang. “Pembeli cenderung mencari harga murah,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga sepatu yang dijual Adi memang jauh lebih murah. Rata-rata ia menjual cuma dengan harga Rp25 ribu sampai Rp50 ribu. Kebanyakan pembelinya adalah mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Protokol Ramai oleh Pedagang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, trotoar di ruas jalan protokol dipenuhi pedagang, dengan segala macam&lt;br /&gt;dagangan. Mulai dari baju, celana, makanan, minuman, persis seperti di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di jalan Lolong, ruas jalan lain yang terlihat dipenuhi pedagang di antaranya di depan Taman Melati, STKIP Gunung Pangilun (pedagang poster), Khatib Sulaiman dan GOR Agus Salim (pedagang baju bola), dan Lubuk Buaya (pedagang minuman dan makanan).&lt;br /&gt;Menurut An, tempat berdagang tidak menjadi persoalan. “Biasanya, bila sudah ada seorang pedagang di sana, tandanya tempat itu ada pembeli,” katanya. An mengaku lebih banyak berjual beli di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembelinya tidak menentu, juga tidak ada pelanggan. Hanya berharap dari orang-orang yang tertarik, lalu turun dari kendaraanya,” ujar An sedikit berpromosi. Maka, untuk menarik pembeli, ia mengeluarkan hampir 50% dari barang dagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara ini, menurutnya, cukup ampuh membuat orang menghentikan sejenak perjanalannya. An mengaku sangat senang ada yang melihat-lihat, meskipun belum membeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Kepala Dinas Pasar Kota Padang Asnel menyebutkan, berdagang di tepi jalan, secara peraturan tidak diperbolehkan. Sebab, menurut Asnel, ia menganggu kebersihan dan ketertiban kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinas Pasar sendiri, lanjut Asnel, mengembangkan 9 pasar satelit dan 7 pasar yang dikelola Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM). “Adanya pasar yang dikelola LPM, memungkinkan pedagang mengadu untung di sana, daripada di trotoar,” tutur Asnel.&lt;br /&gt;Kelebihan lain, kata Asnel, di pasar resmi, pedagang bisa di data, sehingga mudah memberikan bantuan. “Kalau berdagang di tepi jalan, kita tidak bisa pantau, apalagi memberikan bantuan,” tutur Asnel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perlu Penataan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pengamat kebijakan publik, Eka Vidya Putra menilai, tumbuhnya pedagang tersebut disebabkan pasar pusat (Pasar Raya—red) dan satelit tak seimbang sebarannya, sehingga bermunculan pasar-pasar kecil, yang ia sebut dengan pasar kaget. Pengajar di FIS UNP ini menyebutkan dua hal yang menjadi pendorong.&lt;br /&gt;Pertama, menunjukkan betapa jauhnya orang ‘menemui’ pasar. Jauh itu berkaitan dengan transportasi dan kenyamanan. Kedua, barang yang dijual lebih baru, sebab masyarakat yang berbelanja melihat langsung barang tersebut habis atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eka melanjutkan, dalam kondisi yang demikian, pedagan g seperti ini akan terus bermunculan. Ironisnya, kadang tidak memikirkan tempat  di mana mesti berdagang. “Di sini pemerintah harus berperan. Tidak bisa tidak, pemerintah harus mengikuti perkembangannya,” tutur Eka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eka berharap, pemerintah memberikan jalan keluar terbaik, daripada digusur. Ia mencontohkan Malioboro, Yogyakarta, tempat di mana keinginan berdagang berjalan lurus dengan kebijakan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang, ada dua hal yang ditakutkan pedagang. An menyebutkan, ketakutan pertama adalah kepada pemerintah. Jangan-jangan, sedang berdagang, datang Satpol PP menggusur, tanpa pemberitahuan. Kedua, ia takut hujan turun, yang datangnya juga tiba-tiba. (*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-2173556484363933828?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/2173556484363933828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2011/06/berladang-di-tepi-jalan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/2173556484363933828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/2173556484363933828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2011/06/berladang-di-tepi-jalan.html' title='“Berladang’ di Tepi Jalan'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-oo9L3WaLbDw/TefxrWa56JI/AAAAAAAAASY/lGxJf-vkaFE/s72-c/FOTO%2BLEPAS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-8646086826922587078</id><published>2010-01-04T02:45:00.000-08:00</published><updated>2010-01-04T02:48:52.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Ibu dan Sebuah Nilai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/S0HHcqC9d9I/AAAAAAAAASA/7RXQg6mvIgY/s1600-h/dua+ibu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 138px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/S0HHcqC9d9I/AAAAAAAAASA/7RXQg6mvIgY/s200/dua+ibu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422834721467758546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul buku  : Dua Ibu&lt;br /&gt;Penulis  : Arswendo Atmowiloto&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan : Juni 2009&lt;br /&gt;Tebal  : 304 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kehidupan ada dua macam ibu. Pertama, ialah sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua, ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat kebahagiaan anak orang lain, dengan rasa bahagia pula.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Novel ini, di awal, memulai sekaligus menyelesaikan tujuannya. Tapi, ia tak cukup puas hanya sampai di sana. “Aku bisa bercerita karena aku memiliki.” Maka, sebuah keluarga dengan seorang ibu, adalah keluarga yang bahagia.&lt;br /&gt;Sembilan orang anak, hanya satu yang merupakan anak kandung yang bernama Jamil. Selebihnya, merupakan anak titipan orang lain kepada tokoh ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun, orang tua dari anak-anak yang sekarang dirawat oleh ibu, dulu juga dibesarkan oleh ibu. Dari dulu, ia  merawat anak-anak tersebut tak berbeda, meski ia sebenarnya tak cukup mampu membesarkan mereka dalam konteks kekinian: sekolah, punya baju baru, dan tempat tinggal yang layak. Tapi, sang ibu, punya ketulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak menikah, satu sampai lima macam barang digadai. Hingga tak satu pun lagi barang-barang di rumahnya yang berbekas. “Kau lihat burung merpati itu? Kaulihat induknya? Makanan yang dicari susah di tempat jauh, yang masuk dalam paruhnya pun diberikan kepada anaknya,” kata sang ibu, ketika anak-anaknya tak setuju dengan caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah ibu, ia berbeda dengan istri. Ibu adalah perempuan dengan naluri untuk berbuat baik. Perempuan yang mencintai kita sepenuhnya, dan tak menjadi cemas jika kita tiba-tiba mencintai perempuan lain. Seorang ibu merelakan anak lelakinya mencari perempuan untuk diperistri, akan tetapi seorang istri akan merasa aneh jika suaminya mencari ibu baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Ibu, barangkali bukan membandingkan antara satu perempuan dengan perempuan lain, tapi sebuah tesis bahwa menjadi ibu adalah menjadi induk merpati, tetapi juga induk harimau. Yang dalam keadaan paling lapar dan marah sekalipun tak akan memangsa anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamid, Solemah, Mujanah, Jamil, Ratsih, Adam, Agus, dan Herit merasakan bagaimana mereka memiliki ibu. Tanpa mereka sadari, sang ibu menyelamatkan mereka dalam keadaan yang tak pernah diduga. Jamil suatu ketika pergi merantau entah kemana ingin memperbaiki keadaan dan menuntut cita-citanya. Ia berlayar tanpa sepengetahuan sang ibu. Tapi, ia terjebak dalam suatu penyeludupan yang membuatnya menjadi tumbal. Ia tak tahu apa-apa. Ia hanya dijadikan tumbal yang diberikan kepada polisi. Ia kemudian dibebaskan untuk menjadi ‘tumbal’ yang lain di Singapura. Hingga tak ada lagi tempat mengadu, tiba-tiba datang seorang yang tak ia kenal, kemudian membebaskan. Ia hanya bilang, “Aku kenal ibumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap gadaian ketika anak-anaknya menikah, gadaian mereka tidak hanya soal barang, tapi juga reputasi. Ibu tidak akan pernah membuat orang sakit hati. Ia akan selalu membayar setiap yang ia pinjami. Hingga tak ada orang yang ragu untuk meminjamkan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, seperti anak mereka ketika berpisah dengan ibu dan membangun rumah tangga, tak mereka temukan sosok ibu yang sama seperti ibu mereka. Ini dialami Mamid. Ia mendengar orang tuanya akan bercerai, adiknya bertanya, “Kak Mamid mau tidak mempunyai ibu yang cantik?” Mamid menjawab polos, “Aku tidak tahu. Aku hanya mempunyai satu orang yang biasa aku panggil ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hidup di manapun, dengan jarak yang jauh sekalipun, sosok ibu tak tergantikan. Seperti Mamed atau anak-anak ibu yang lain, mereka hanya menemukan satu orang ibu, barangkali juga tak ada ibu-ibu yang lain di dunia nyata sekalipun, yang membesarkan anak-anak orang lain dengan tak mengurangi kebahagiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memperbaiki Realitas&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; Arswendo Atmowiloto, seperti juga dengan karyanya yang banyak mengangkat tema keluarga, merupakan sebuah acuan tentang dunia kecil (keluarga) untuk memulai kebahagiaan. Sebuah kebahagiaan diawali dari sebuah keluarga yang saling harmoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di Keluarga Cemara Arswendo Atmowiloto menceritakan tentang keluarga miskin yang bahagia, di Dua Ibu, ia menonjolkan peran penting ibu dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang lebih luas, ibu yang dimaksud bukan hanya soal ibu yang ada dalam keluarga. Tapi bisa menjadi cerminan untuk sebuah sifat yang memberikan ketenangan dan kedamaian. Nilai-nilai tersebutlah yang diumbar Dua Ibu dengan jelas, bahkan sangat kentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai tersebut barangkali memperbaiki apa yang banyak terjadi di realitas dan menumbuhkan nilai-nilai yang ideal. Bagaimana mungkin masih ada perkelahian? Kenapa mesti ada anak-anak yang nakal? Kenapa ada orang yang berani memakan yang bukan haknya? Apakah mereka tidak memiliki ibu? Atau tak pernah merasa penting dengan arti ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua orang punya ‘Ibu’, itu tak akan terjadi. Yang merasakan kehadiran ibu di dalam dirinya, ia akan merasakan kasih sayang terus mengalir, bahkan menjaga dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sifat ibu telah mengalir dalam diri seseorang, maka ia akan seperti Mamid, Solemah, Mujanah, Jamil, Ratsih, Adam, Agus, dan Herit. Seorang ibu menyatukan mereka dan memberikan ketenangan dalam kehidupan mereka. Ketika sang ibu telah tiada, nilai-nilai tersebut tak pudar. Bahkan, meski mereka saling berjauhan pada akhirnya, mereka punya kesepakatan untuk sekali setahun berziarah ke makam ibunya. Sesulit apapun keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka disatukan oleh nilai-nilai tersebut. Ketenangan dan kebahagiaan yang mereka dapatkan berasal dari sosok ibu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-8646086826922587078?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/8646086826922587078/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2010/01/ibu-dan-sebuah-nilai.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8646086826922587078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8646086826922587078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2010/01/ibu-dan-sebuah-nilai.html' title='Ibu dan Sebuah Nilai'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/S0HHcqC9d9I/AAAAAAAAASA/7RXQg6mvIgY/s72-c/dua+ibu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-5295725651232794583</id><published>2009-12-27T03:47:00.000-08:00</published><updated>2009-12-27T03:52:24.983-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Denda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SzdKLNqPQ0I/AAAAAAAAAR4/oGcrVfLGakQ/s1600-h/699164_11-1193-z000ut5y.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SzdKLNqPQ0I/AAAAAAAAAR4/oGcrVfLGakQ/s200/699164_11-1193-z000ut5y.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419882233069519682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RATIH&lt;/span&gt; kembali menangis. Di dekat makam ibunya, air matanya telah membanjiri bunga kamboja yang hampir layu. Dadanya sesak. Ada beban yang  begitu berat sedang ditanggungnya.  “Ibu, bagaimana aku bisa membeli seekor kambing?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratih tak lagi punya tempat mengadu. Hasim, lelaki yang telah memperistrinya 20 tahun, hanya seorang lelaki pincang. Meski bisa mencari nafkah, tapi ia tak sanggup untuk membeli seekor kambing. Itu terlalu jauh dari penghasilannya. Mengadu kepada ibu yang jauh di sana, juga tak merubah apa-apa. Tapi itu bisa membuatnya sedikit tenang, meski tetap tak juga akan mendatangkan kambing ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ya, telah dikumpulkannya segala. Dijual barang berharga (baju, sepatu, kompor, panci, periuk). Termasuk benda yang harganya di atas yang ada: sebuah cangkul, benda yang setia menemaninya menggarap tanah, dijual lima puluh ribu. Dengan itu, ia bisa menghidupi dua orang anak yang tak akan pernah bisa ia sekolahkan. Ah, meski telah ia jual segala, tetap tak mampu ia membeli seekor kambing. Meski hanya anaknya saja.&lt;br /&gt;Hanya ada satu jalan, tapi pengorbanannya terlalu luar biasa. Rumah kayunya dijual atau digadai. Itu bisa membeli empat sampai lima kambing. Ah, pikirnya, di mana ia akan berteduh setelahnya? Suaminya yang pincang—ia tak bisa dustai hatinya—bahwa ia tidak akan tega memperbiarkannya tidur tak beratap. Anak-anaknya tak mau pula ia gaduh, sudahlah tidak sekolah, tidak berumah pula. Duh, nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bukan jalan,” batinnya. Saban hari, ia memikirkan banyak cara, bisa membeli kambing, dan denda selesai. Bebannya berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasim bukannya tak peduli, tapi Ratih tahu, ia telah bekerja sangat keras. Sejak denda ditetapkan di Balai Adat, Hasim membanting tulang melebihi tenaganya yang ada. Kadang, Hasim pulang sampai larut malam. Sering Ratih merasa iba. Tapi tak dikatakannya. Ia takut menyinggung perasaan suaminya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya tangan yang telah lisut, sebab ia  bekerja apa saja. “Uda tak usah begitu keras bekerja. Nanti Uda sakit,” lalu Ratih memijit suaminya itu, sampai terlelap. Lalu, ia kembali berpikir sendirian, melunasi denda itu…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada pemimpin di negeri ini, dan mengira keluarga Ratih tidak tergolong miskin, perlu dipertanyakan, bagaimana ia mencatat datanya? Tapi, sore itu, di Balai Adat, nama Ratih memang tidak tertera. Ia catut kembali kertas yang ditempel di kaca itu. Sampai beberapa kali diulanginya, yakinlah ia, namanya memang tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang telah pulang membawa beras bantuan, dengan senyuman yang mengembang. “Ratih, kenapa kamu tidak dapat?” Tanya Susanti, tetangganya. Ratih hanya diam, tak menggubrisnya. Diajak pulang, ia tetap membisu. Kejadian berikutnya, orang-orang yang masih menerima pembagian itu dikejutkan dengan kata-kata yang kaluar dari mulut Ratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bidin anjing,” teriaknya sangat keras, dan didengar semua orang yang berada di sana.&lt;br /&gt;Barangkali, makian seperti itu tergolong biasa. Jika, sasarannya adalah orang-orang biasa. Tapi ini Bidin, orang nomor satu di kampung. Jangankan menyebutnya dengan anjing, namanya saja disebut, bisa kualat. Ia seorang pemimpin di adat dan juga di pemerintahan. Ia Wali Nagari dan juga Datuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Wali Nagari, ia menentukan segala macam bantuan. Dan memang, setahu Ratih, pekerjaan Bidin hanya menerima dan menyalurkan bantuan saja. Sebagai pucuk tertinggi di adat, ia berkewenangan menentukan segala persoalan. Ah, menjadi pertanyaan bagi orang: mengapa Ratih berani mengucapkan kata-kata itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Malamnya, Ratih dipanggil ke Balai Adat. Emosinya tadi siang berbuntut panjang. Ia tak memikirkannya sejauh itu. Ia hanya melampiaskan kekesalan.&lt;br /&gt;“Kamu sadar ucapan tadi siang?” Tanya Datuk Paduko, panggilan Bidin. Sejak ia menjadi Datuk, nama Bidin tidak lagi dipergunakan. Adat itu telah turun temurun. Barang siapa yang memanggil namanya, mereka akan didenda. Sesuai dengan keputusan rapat. Sejak ia menjadi Datuk, ia milik semua orang. Untuk menghormati seorang Datuk, nama mereka tidak lagi dipergunakan. Yang ada adalah panggilan terhadap gelar. Semua orang yang ditunjuk menjadi Datuk, panggilannya adalah gelar yang dilekatkan dengan malewakan gala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya Ratih mengerti akan hal itu. Dan, rapat malam itu, yang menghadirkan semua petinggi adat, dan mempertimbangkan banyak hal, Ratih dikenakan denda seekor kambing. Kambing tersebut, nantinya akan dipergunakan untuk mengembalikan lagi nama baik Datuk, yang telah dihina oleh Ratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak adakah pertimbangan lain?” Suara Ratih parau, ditelan tangisnya sendiri. Di sebelah tempat duduknya, Hasim berkali-kali menyeka air mata istrinya. “Kenapa saya tidak peroleh bantuan beras itu?” Tiba-tiba Ratih berdiri. “Saya tak akan berbuat seperti itu. Saya tahu itu salah. Tapi pembagian itu benar-benar tidak adil. Puan, Mak Rani, Solihin, kenapa mereka diberikan bantuan? Mereka semua itu berada? Hadirin sekalian, Datuk-datuk yang mulia, dengar saya, semua orang yang saya sebut tadi, mereka adalah anak kemenakan Datuk Paduko. Kalian tahu itu bukan?” Entah darimana datangnya keberanian Ratih. Ia berputar-putar seperti orator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rapat hari itu, Datuk Paduko tidak sebagai Wali Nagari. Ia sebagai seorang Datuk yang merasa terhina karena namanya disebut, dilabeli pula dengan kata anjing. Maka, tak ada hak Ratih untuk mempertanyakan itu. Ia sebagai pesakitan. Omongannya, meski banyak orang bersimpati, tapi tak tepat diucapkan. Itu urusan Camat, bukan Datuk-datuk yang menyidangkan Ratih tersebut. Ah, Ratih tentu tak tahu dengan itu.&lt;br /&gt;Dan, jangka waktu pembayaran denda tersebut berselang sebulan. Alek akan dipersiapkan untuk mengembalikan lagi nama baik Datuk Paduko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratih orang yang paling terakhir keluar dari Balai Adat….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Selesai salat Isya, anak-anak mereka telah tidur dengan lelap, Ratih dan Hasim melangkah keluar rumah. Hujan masih menyisakan gerimis, tapi mereka tak peduli. Datuk Paduko dan anak-anaknya tengah menonton gosip artis di televisi ketika mereka telah duduk di ruang tamu. Wajah Datuk masih menyisakan ketidaksenangan. Mereka disambut dengan hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak akan sanggup membayar denda itu, Datuk. Aku datang ke sini ingin memohon, lebih tinggi dari meminta. Tidakkah bisa hukuman itu diubah? Aku minta maaf, mulutku kilaf berucap.” Hasim menyambung dengan kalimat-kalimat yang merendahkan diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk tak memaling. Ia tetap menonton. Seolah-olah, ia tak mendengarkan perkataan barusan. Setelah ucapan itu diulangi kedua kali, baru Datuk bereaksi. “Ini hukuman adat. Saya tidak bisa berbuat apa-apa.” Jawab Datuk ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah adat tidak memiliki belas kasihan, Datuk?” balas Ratih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey..sudahlah. Yang namanya hukuman tentu berat. Salah sendiri tidak bisa menjaga mulutmu itu,” naik emosi Datuk. “Kamu kan bisa, meminta kepada Datukmu pula untuk membayar denda itu. Banyak jalan. Keinginanmu yang tak mau membayar denda. Tangan mencincang bahu memikul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama Ratih dan Hasim terdiam. Datuk tetap menonton. Di rumah Datuk, mereka tak berarti apa-apa. “Benar Datuk. Aku mengaku salah. Tapi tidakkah bisa dilihat akar persoalan? Apa yang kuucapkan tak ada hubungannya dengan gelar Datuk yang disandang. Ucapanku itu ditujukan sebagain Wali Nagari, bukan Datuk,” Ratih masih membela diri.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Datuk berdiri. Lalu mengusir dua orang yang sedang memelas itu keluar. “Jangan mencari-cari perkara. Aku ini Datuk, juga Wali Nagari. Tidak ada bedanya. Keluar saja kalian. Besok batas waktu telah habis. Kita tentukan saja di Balai Adat.”&lt;br /&gt;Entah darimana datang keberanian, Hasim tiba-tiba telah berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai Wali Nagari ataupun Datuk, jika kami bayar denda itu, salah satu jalan adalah dengan menjual rumah kami satu-satunya. Apakah Datuk tidak punya perasaan?”&lt;br /&gt;Merah pitam muka Datuk dikata-kataian seperti itu. Berdiri pula ia menantang Hasim. Anak-anaknya turut pula mengikuti Datuk yang diserang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anjing..keluar kau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Spontan kata itu keluar dari mulut Datuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha..ha..impas Datuk. Kata itu juga keluar dari mulutmu.” Hasim seperti mendapat kemenangan, atau telah sampai batas ketidakmampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergi kalian dari rumahku.” Datuk dan anak-anaknya mengusir dengan paksa. Tapi Hasim tetap tertawa sampai ia keluar dari rumah Datuk. Ratih yang sedari tadi menyaksikan, memandang kepada suaminya dengan bangga. Ah, kebanggan yang muncul tiba-tiba.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Para Datuk telah berkumpul, lengkap dengan pakaian kebesaran. Ratih duduk di ujung paling kanan, sendirian sebagai pesakitan. Ratih mendapat kesempatan pertama untuk berbicara. Pelan ia berucap, “Saya tidak bisa memenuhi denda itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi perdebatan panjang. Sebab, mereka juga tahu, bagaimana Ratih hidup sehari-hari. Tapi, kata Datuk Paduko, ini masalah adat. Adat mesti dijunjung tinggi. Lebih tinggi dari rasa belas kasihan itu sendiri. Agar tak ada orang yang basilinteh angan, terlebih terhadap Datuk. Adat membuat orang bisa menjadi sopan dan bertetika. Apapun bentuk masalahnya, adat tidak bisa dibaok lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila berbicara tentang adat, para Datuk yang datang tak dapat membantah. Meski tak ada aturan tertulis tentang denda itu, tapi mereka percaya, adat yang turun temurun tersebut berguna mengatur kehidupan masyarakat yang sentosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimanapun, denda itu mesti dibayar. Apapun jalannya,” kata para Datuk, serempak mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratih lebih banyak diam. Sebab, ia memang tidak bisa memenuhi denda itu. Sejak pertemuan dengan Datuk Paduko malam itu di rumahnya, ia berpikiran, andai pun ia punya uang untuk memenuhi denda itu, tak juga akan dibayarkannya. Baginya, ini telah impas. Datuk Paduko juga berucap yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah,” lanjut Datuk Paduko setelah sampai satu jam berdebat, “Bagaimana kalau rentang waktunya ditambah sebulan lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya…ya. Ditambah saja,” serontak yang lain menyepakati.&lt;br /&gt;Ratih tak berucap apa-apa. Apapun keputusannya, ia telah menetapkan hati dan membulatkan pendirian. Terlebih, suaminya juga menguatkan, untuk diam saja. Tak perlu banyak bicara. Ia bisa saja berdebat tentang kejadian di rumah Datuk Paduko, tapi itu tak dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, sebulan, dua bulan, setahun sekali pun, ia yakin tidak akan mampu membayar denda itu. Dan, telah diutarakannya di awal tadi. Keluar dari Balai Adat, ia merasakan perasaan yang berbeda. Ia bahkan tak merasa berdosa lagi mengeluarkan kata-kata yang membuatnya berurusan dengan adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Paduko memandang sinis kepadanya selesai rapat. Ia menatap balik. Tiba-tiba saja ia berani melakukannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kejadiannya begitu tiba-tiba. Orang-orang masih bermimpi dengan indah. Malam berbintang terang. Namun, sebentar saja, bintang ditutupi asap hitam. Asap itu berasal dari rumah kayu milik Ratih. Rumah papan itu begitu cepat dilalap api. Ratih, Hasim, dan anak-anaknya masih di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang yang bersilau cahaya malam itu seakan tak berarti. Orang-orang yang telah terjaga mencari air, berusaha memadamkan api secepat mungkin. Namun, itu tak mampu menolong lebih jauh. Rumah kecil itu tak ada apa-apanya. Tak terhitung sejam, rumah itu telah menjadi abu, lengkap dengan penghuniya. Setelah api padam, jasad keluarga yang malang itu digotong keluar. Wajah-wajah mereka tak lagi berbentuk. Hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya, jasad keempat anak-beranak itu dikuburkan. Tangis mengalir dari mereka yang merasa iba. Atau sekedar merasa kasihan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Ratih dan keluarga mengundang simpati. Mereka pergi dengan cara yang tak diduga. Terlebih, Ratih belum membayar denda atas perilakunya. Keterangan dari polisi, rumah mereka terbakar karena lampu petromaks  terjatuh, dan melalap papan-papan dengan sangat cepat. Mereka sepertinya tak sempat menyelamatkan diri keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat di Balai Adat digelar lebih cepat setelah kematian Ratih. Hasil rapat hari itu memutuskan, denda atas perbuatan Ratih dianggap telah lunas. Setelah kematian Ratih, semuanya menerima tanpa ada perdebatan panjang. Kali ini, rasa iba telah mengalahkan adat dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Paduko juga menerima keputusan itu, dan tidak dibantahnya pula. Ia tak lagi menjunjung adat seperti yang sering diagung-agungkannya. Namun ia tahu pasti, proses pemulihan nama baiknya tidak akan pernah terjadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruangsempit, September 2009&lt;br /&gt;lukisan: wb5.itrademarket.com/pdimage/64/699164_11-119.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-5295725651232794583?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/5295725651232794583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/12/denda.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/5295725651232794583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/5295725651232794583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/12/denda.html' title='Denda'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SzdKLNqPQ0I/AAAAAAAAAR4/oGcrVfLGakQ/s72-c/699164_11-1193-z000ut5y.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-4572499902527110494</id><published>2009-12-27T03:39:00.000-08:00</published><updated>2009-12-27T03:47:35.218-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Anak-anak Sawah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SzdJFXfA1UI/AAAAAAAAARw/cUoP2nhk5Bc/s1600-h/20070502232220.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 158px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SzdJFXfA1UI/AAAAAAAAARw/cUoP2nhk5Bc/s200/20070502232220.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419881033115948354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEMBARI&lt;/span&gt; menunggu Rinto, kami bermain kelereng. “Kenapa dia lama sekali,” sungut Ifan. Sebelum yang lainnya berkomentar, tiba-tiba Rinto muncul sambil menggenggam kantung plastik. Ia membawa beras, lada, dan kail. “Semuanya sudah siap, mari berangkat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Horeee…ke sawaaaaah.” Suara kami serempak tak dipandu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekolah, jarak yang harus kami tempuh menuju sawah kira-kira 2 km. lumayan jauh, tapi kami telah terbiasa. Melewati ladang gambir, melintasi pohon-pohon karet yang rimbun. Dari sana, kami melihat hamparan sawah yang luas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setiba di sawah, kami mencari sansuduang¹ yang kosong. Di sana kami menaruh barang-barang bawaan tadi. Di sebelah sawah ada sungai yang tak terlalu dalam, dan tenang. Namanya Lubuk Jantan. Konon, Lubuk Jantan ini banyak sekali ikannya. Entah dari mana datang ceritanya, diyakini oleh penduduk setempat, ikan-ikan di Lubuk Jantan menjadi lebih banyak dari biasa bila selesai musim panen. Oh, kami beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencari posisi memancing di dekat batu. Rinto mendapatkan tempat yang lebih nyaman: di atas kepalanya ada pohon mahoni yang tumbuh rimbun, menutupi kepalanya dari panas matahari. Delapan orang temanku lagi, agak ke bawah sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam kemudian, kami membuktikan kebenaran cerita itu. Ikan pancingan kami besar-besar, dan memang lebih banyak dari biasanya. Aku dapat enam ekor, Rinto cuma lima ekor. Bila dikumpulkan dengan ikan hasil tangkapan Ifan, Salim, Runi, Ade, Randi, Dede, Anto, dan Saldi, terkumpul sebanyak 45 ekor. Ikan sebanyak itu akan membuat perut kami kekenyangan siang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Sansuduang, Rinto membawa tiga buah batu besar. Aku mengumpulkan ikan teman-teman, diikat menjadi lima bagian. Ifan menggiling cabe, dan lainnya mencari kesibukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayu api dibakar. Wuss…apinya membesar. Panci dinaikkan. Cabe yang selesai digiling, dimasukkan ke dalam panci. Ifan mengaduk-aduk. Runi menusuk-nusuk ikan dengan kayu yang tak terlalu besar. Satu kayu, ikannya ditusuk empat buah. Selesai memasak cabe tadi, ikan dipanggang. Wuih…harumnya. Berkali-kali aku mencium aromanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi yang telah tersaji di daun pisang, campur sambalado, campur ikan panggang buatan kami, dibentang di atas sansuduang. Walau berebut, tapi semua kebagian. Tak ada yang cemberut setelah makan. Yang ada, buka baju, celana, berlari lagi ke Lubuk Jantan, bukan memancing, tapi berenang sepuasnya. Meloncat dari atas batu. Lomba berenang. Yang kalah: mencari batu berwarna putih yang terletak di dasar lubuk ini. Tak dapat, hukumannya lebih berat lagi: berlari keliling sawah tiga putaran. Tak berbaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha..haa…Ifan sepertinya sudah tak sanggup lagi. Empat kali lomba digelar, ia yang selalau kalah. Ifan menyerah. Kami sebenarnya belum puas. Tapi kasihan juga melihat hidung dan mata Ifan yang memerah. Empat kali menyelam ke dasar lubuk, tentu terasa berat juga. Tapi hukuman untuk Ifan bukan tidak ada, diganti dengan hukuman yang lebih ringan. Semua sepakat: Ifan mengumpulkan tanah sebanyak-banyaknya dan kemudian dibuat bulat-bulat, tidak terlalu besar, seperti bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sepertinya Ifan beruntung siang itu. Salim, Runi, Ade, dan Dede membantu Ifan mengumpulkan tanah. Yang lainnya membuatnya seperti bola. Tak lama pekerjaan itu. Setelah sepakat dengan pembagian tim, tanah yang berbentuk bola itu dibagi. Perang akan dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang-perangan ini, sepertinya menjadi rutinitas kami bila ke sawah. Tak pernah terlewatkan. Entah mengapa, kami begitu suka melihat tanah-tanah ini mengenai punggung, dan kaki lawan. “Menyerah…menyerah..” Bila sudah ada yang mengucapkan itu, permainan selesai. Tak ada hukuman. Tanah-tanah itu telah cukup menjadi hukuman yang perih.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari Sabtu, barangkali maknanya sama bagi siapa saja. Juga bagi kami. Itu hari, tempat kami bermain sepuas-puasnya, walau di hari-hari biasa, sebenarnya kami pun masih bermain. Bedanya, barangkali di hari Sabtu, tempat bermainnya. Tidak di sekolah atau di surau tempat kami mengaji sore hari, tapi di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu pulang sekolah lebih cepat. Biasanya, tak ada kesepakatan bersama untuk bermain di sawah. Perginya berdua-dua, kadang berlima sekaligus. Bagi yang mau ganti baju seragam dulu ke rumah, bisa datang belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawah memang menjadi tempat kami bisa bermain sepuas hati. Kami hafal betul, tiap-tiap musim. Karena berganti musim, juga berganti jenis permainan kami. Bila sedang musim menanam padi, kami biasanya membuat kapal-kapalan dari batang pisang. Hampir menyerupai perahu. Kapal-kapalan itu akan membawa kami menusuri sungai sepanjang mungkin. Di atas kapal tersebut bisa muat dua sampai tiga orang. Di musim menanam ini, air sungai sedang deras. Kami selalu tertantang untuk menaklukkan arus sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim manggoroh², kami membuat ketapel. Burung-burung sepertinya bertambah banyak pada musim itu. Mulai dari burung gereja, burung pipit, dan burung-burung yang kami tidak tahu namanya. Kalau di sawah tak dapat burung itu, kami ke hutan yang agak lebat. Wah…di dalam hutan yang tak jauh dari sawah ini, bermacam burung yang memang kami belum tahu namanya, sangat indah dan banyak sekali. Sepertinya jinak, walau ketapel kami jarang yang berhasil menjatuhkan mereka dari atas batang kayu itu.&lt;br /&gt;Paling menggembirakan, bila dapat burung yang mau: Suaranya bagus dan sering berkicau. Membuat sangkarnya jauh lebih menggembirakan lagi. Tak jarang, kami mengerjakan sangkar itu di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di musim panen, kami kembali masuk ke hutan. Kali ini mencari bambu. Bambu itu kami pergunakan untuk membuat layangan. Di kedai-kedai sebenarnya ada yang menjual layangan, tapi kami tak pernah membelinya. Karena layangan yang dijual di kedai itu, ukurannya sangat kecil, kami menyebutnya dengan layang-layang maco. Yang kami inginkan adalah layang-layang bangkok, ukurannya besar. Dan itu tak ada yang menjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim panen itu, anginnya sangatlah kencang di sawah. Layangan kami mudah naik. Semakin tinggi layangan, semakin terobatilah hati kami yang susah-susah mencari bambu di hutan, mengirisnya, memasang benangnya, membuat ekornya sampai panjang, baru bisa dinaikkan. Tapi, bila layangan itu telah sampai di awan, kami tak lagi merasakan rasa kelelahan itu. Benar-benar tak merasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, di hari Sabtu itu, kami menemukan kegembiraan yang luar biasa. Terlebih, bila guru-guru ada rapat, biasanya hari Sabtu, kami pulang lebih cepat dari biasanya.&lt;br /&gt;Aku dengar cerita dari kakak, bermain di sawah adalah warisan turun temurun. Kakak dulu juga bermain di sawah, persis seperti yang aku, dan teman-teman lakukan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pula, orang tua kami tak pernah cemas, apalagi marah bila hari Sabtu itu kami tak berganti baju pulang. Mereka pasti mengira kami sedang bermain di sawah. Sebab, dari musim menanam sampai panen padi, kami selalu bertemu orang tua kami di sawah. Sebab, kami memang anak-anak sawah. Ibu dan Ayah kami bekerja di sawah. Kakek kami dulu juga bekerja di sawah. Dan sawah-sawah yang dikerjakan orang tua kami ini adalah sawah warisan, mungkin kami nantinya juga akan mengerjakan sawah-sawah ini.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Kamu sudah menghafal, Fan?” Anto yang bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kami tersentak. Perang-perangan mendadak berhenti. Langit sudah mengelam. Azan magrib sayup-sayup terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, kami sempat lupa, ini hari terakhir kami bisa bermain bersama. Senin nanti, nasib kami akan ditentukan oleh yang namanya ujian akhir. “Kenapa kita sampai lupa ya, Senin nanti ujian?” Tak ada yang menjawab, hanya menggeleng tak tahu. Kami buru-buru mengenakan baju, mengumpulkan peralatan, kembali pulang ke rumah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan, tak seperti kami berangkat tadi. Tak ada suara yang keluar dari mulut kami. Semua seperti membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa pelajaran yang paling sulit bagi kamu, Nto?” tanyaku mencairkan suasana. Anto diam. Yang lain memandang padaku. Aku memaling wajah. Salahkah pertanyaanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali memang salah. Sebab, kami memang tak boleh bersuara. Kata Runi berbisik kepadaku, teman-teman lagi sedih, sebab setelah ujian akan berpisah. Oh, kenapa aku tidak berfikir sampai ke sana? Kenapa aku lupa, di kampung kami ini tidak ada SMP? Artinya, setelah selesai pengumuman hasil ujian nanti, kami tidak akan bertemu lagi.&lt;br /&gt;Dua hari yang lalu, selang istirahat siang di sekolah, kami berkumpul. Kami saling berbagi, dan mendengarkan pendapat. Dari pertemuan itu, tak satupun rencananya yang akan tinggal di kampung ini. Rino, Runi, dan dan Rinto berencana melanjutkan sekolah ke SMP di kampung sebelah. Ifan ikut kakaknya ke Pekanbaru. Di sana ia akan sekolah. Aku, Dede, Salim, dan Saldi belum tentu. Tapi, katanya, mereka tidak akan melanjutkan sekolah. Mereka ingin pergi merantau untuk mencari kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki rasanya semakin berat untuk dilangkahkan. Ladang gambir, pohon-pohon karet yang kami lewati, begitu sulit ditaklukkan sekarang. Rumah terasa semakin jauh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kita masih bisa berkumpul lagi?” Tanya Salim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak langkah kami terhenti. Saling pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anak sawah. Kita anak-anak sawah,” kataku. Teman-teman lainnya mengikuti kalimat itu. Anak-anak sawah, ya..kita adalah anak-anak sawah. Serempak kami mengucapkan. Oh, ternyata dari tempat kami berdiri sekarang, sawah-sawah masih terlihat. Alangkah indahnya sawah itu bila dilihat dari tempat yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bermain lagi. Membuat lingkaran. Mengucapkan kalimat: kita adalah anak-anak sawah. Sembari memandang jauh ke hamparan sawah yang semakin jauh semakin hilang dari pandangan mata kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdiri di tempat yang lebih tinggi. Di mana hamparan sawah masih bisa kami lihat. Sejenak kami membisu. Melihat sawah itu, rasanya kami ingin kembali ke sana. Menghabiskan hari, bermain bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa jumlah kita lengkap sekarang ya?” ujar Salim entah kepada siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Salim ternyata benar. Biasanya, bila ke sawah, kami tidak pernah selengkap ini. Kadang hanya empat orang, paling tinggi tujuh orang. Sekarang, kami berkumpul semuanya, sepuluh orang. Satu lokal. Firasat apa ini? Tiba-tiba pikiran kami buruk. Jangan-jangan ini pertemuan kami terakhir, di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang memulai. Kami kemudian berpelukkan bersama. Saling memagut erat. Setelah itu, kembali kami pendangi sawah. Dan mengulangi kalimat itu lagi, “Kita adalah anak-anak sawah.” Sebagai penyatu, barangkali pengingat jika kami sedang jauh, untuk mempertemukan kami, bila kami benar-benar tidak akan bertemu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore sudah semakin larut. Kami memang harus pulang, dan memalingkan wajah dari sawah. Langkah kaki kami sangat perlahan. Aku tak lagi bertanya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari Minggu, kami disibukkan dengan persiapan mengikuti ujian esok hari.. Anto memanjat pohon rambutan. Di sebuah batang yang besar, ia duduk di sana. Lalu membuka buku. Ia mengajakku, tapi aku tak mau. Aku lebih memilih belajar di dalam rumah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memang mesti belajar lebih keras di ujian akhir ini. Agar lulus dan tak ada yang bersedih di waktu kelulusan. Ternyata pejuangan itu berbuah. Di hari kelulusan, kami bergembira. Semuanya lulus dengan nilai yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan setelah kelulusan itu, kami tak pernah lagi bertemu. Di musim panen ini, biasanya kami bermain layangan. Di sawah, aku mengingat lagi kenangan itu. Sebab, hanya aku yang benar-benar bisa mengingatnya. Aku kini tinggal di sawah. Ibu mengajakku, selama musim panen ini tidak pulang ke rumah. Kami bermalam di sawah. Biasanya, lamanya sebulan. Dede, Salim, dan Saldi telah pergi merantau. Kabar yang kudengar, mereka dibawa oleh kakaknya masing-masing. Yang jelas, tidak lagi di kampung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak melamar ke SMP. Belum juga terpikirkan untuk merantau. Aku, seorang diri, dan tak lagi melihat teman-teman. Hanya seorang diri. Di sawah ini, aku menatap jauh ke tempat kami biasa bermain. Aku merasakan kehadiran teman-teman. Dan berharap ada yang datang, lalu mengajakku berenang, masuk ke hutan membuat layangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, setiap hari, tak ada yang datang menemuiku di sawah ini. Namun setiap hari pula kurasakan kehadiran mereka, di sawah ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Koto Alam, Juli 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;¹ Sansuduang, dialek Koto Alam yang bearti semacam pondok yang terletak di sawah, biasanya terletak di tengah-tengah sawah.&lt;br /&gt;² Manggoroh, dialek Koto Alam yang bearti musim di mana padi sedang menguning, burung-burung sedang banyak mengincar padi yang menguning itu. Biasanya, di musim ini, butuh penjagaan ekstra menjaga padi, sebab banyak sekali gangguan yang mengancam. Selain burung, juga kadang diganggu oleh babi, ular, dan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lukisan: www.art-erica.com/.../20070502232220&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-4572499902527110494?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/4572499902527110494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/12/anak-anak-sawah.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4572499902527110494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4572499902527110494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/12/anak-anak-sawah.html' title='Anak-anak Sawah'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SzdJFXfA1UI/AAAAAAAAARw/cUoP2nhk5Bc/s72-c/20070502232220.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-2163062210148088485</id><published>2009-12-27T03:24:00.000-08:00</published><updated>2009-12-27T03:37:31.696-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Dongeng Bapak Tua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SzdGHx8Be7I/AAAAAAAAARo/DVPwEWcKqW0/s1600-h/lukisan1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SzdGHx8Be7I/AAAAAAAAARo/DVPwEWcKqW0/s200/lukisan1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419877776041802674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HASIM&lt;/span&gt; telah menimbang baik buruk. Keputusannya telah bulat, kali-kalinya cukup: kota asap, 10 tahun dihuninya, akan ditinggalkannya tanpa bekas. Ia memilih hidup tak hiruk pikuk. Tempat yang ditujunya adalah sebuah desa yang padinya masih mau tumbuh, karet yang tak lelah mengeluarkan getah. Itu tempat pertama kali ia diajarkan tentang baik buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa itu ia akan seperti Bapaknya: membawa cangkul pagi hari, menunggu musim durian tiba. Ah, dulu itu masa anak-anaknya. Aroma kuini dan ambacang di depan rumah, telah membayang. Ia akan segera lekas pulang. Istri pun telah setuju.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia juga telah berkabar kepada Sutan Mudo, Mamaknya¹. “Pulang saja. Kami akan menyambutmu.” Kata-kata Mamak itu meyakinkannya lagi. Pagi ini, ia telah mengemas semua barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan Mudo dan beberapa orang kolega menunggunya di terminal, menyambutnya suka cita. Suasana seperti ini, 10 tahun tak lagi dirasakannya. Bila ia mengenang 10 tahun yang lalu, sekarang ia merasakan niatnya yang salah. Keramahtamahan seperti ini tak pernah didapatkannya di kota asap. Ah, lama ia menatap daun-daun hijau, rerumputan liar. Betapa ia telah merasa asing dengan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istirahat dulu Sim. Besok kita akan berbicara di BalaiAdat².” Hasim mengangguk. Namun, sampai esok harinya, matanya tak mau terpejam. Ia masih merasa asing dengan tanah kelahirannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai esok paginya, ia dikejutkan dengan suara keras Rino, teman karibnya sewaktu SD. Ia telah mendengar kabar kepulangan Hasim. Mereka bercerita banyak. Hasim begitu semangat melayaninya. Habis empat buah goreng pisang, segelas kopi, tawa mereka tetap saja masih lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutan Mudo menyuruhnya datang ke Balai Adat sehabis lohor. Pertemuan empat jam itu menghasilkan sebuah kesepakatan yang pernah dijanjikan Mamaknya dulu: sawah kaum yang akan ia garap. Rasanya, itu telah cukup untuk ia menopang hidup.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Keceriaan Hasim berhenti di suatu sore. Tangannya masih memegang cangkul. Sebuah pukulan telak menampar wajahnya. “Tidak usah merantau. Lihat si Hasim.” Banyak yang ia dengar dari tetangganya itu. Namun kalimat itu yang paling menyakitkan. Ingin ia menghampiri Sawitri. Lalu menampar wajahnya. Niat itu urung. Ia masih berpikir panjang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bilik kamarnya yang hanya dibatasi triplek, kembali ia mendengar suara Sawitri. Untung istrinya belum paham apa yang diucapkan Sawitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berjanji tak akan seperti Hasim, Bu,” terdengar suara dari sebelah. Itu suara Dodi, anak Sawitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu anakku satu-satunya. Bantu saja Ibu di sawah. Lihat Hasim. Jauh-jauh merantau, toh akan ke sawah juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barrrr…menggelegak dadanya. Di keluarga Sawitri, ia menjadi contoh, sayangnya tak baik. Dodi kembali mendebat ibunya. Hasim mendengarkan semuanya. Hingga pukul dua belas dini hari, suara dari sebelah itu tak kunjung hilang. Berkali-kali pula istri Hasim bertanya, apa yang dibicarakan tetangganya itu. Hasim hanya tersenyum, lalu menyuruh istrinya untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya Hasim mesti merenung akan kepulangannya itu. Paginya ia tak ke sawah. Ia memilih pergi ke kuburan orang tuanya. Kali-kalinya sepertinya tak cukup. Ada satu hal yang tak dipikirkannya ketika kembali ke kampung ini: soal tanggapan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali ingat nasehat orang tuanya, 10 tahun lalu itu. “Jangan kembali sebelum berhasil.” Itu dipegangnya teguh. Selama merantau, memang ia tak pernah pulang. Ketika Sutan Mudo mengabarkan orang tuanya meninggal, ia tetap bersikukuh untuk tak pulang. Janjinya kepada orang tuanya tak akan diingkari. Baginya, pantang pulang sebelum meraih cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-citanya hanya satu: ingin merubah hidup. Bisa berkirim uang ke orang tua. Itu pernah dilakukannya ketika masih bujangan. Tiap bulan ia berkirim uang ke kampung. Namun, ketika telah memiliki istri dan dua orang anak, tak sanggup lagi ia berkirim uang. Pun, ketika orang tuanya meninggal, kain kapan pun tak sanggup ia sumbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasim menangis di nisan orang tuanya. Namun, kembali lagi ke kota asap tentu tak mungkin. Ia telah lelah menjadi orang suruhan. Ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Dan itu hanya bisa dilakukan di tempat kelahirannya ini, tidak di kota asap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah ia merasa menjadi seorang manusia. Punya hak dan kewajiban. Tapi orang kampung masih memegang ajaran kolot itu: siapa yang pulang dari rantau adalah orang yang gagal. Telah tertanam dalam benak mereka, pulang itu berarti kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh di lubuk hatinya,Hasim juga membenarkan apa yang diucapkan Sawitri. Di rantau, ia telah kalah. Ia hanya tak bisa membenarkan dijadikan contoh kekalahan. Ia ingin menyusun kembali puing-puing kekalahannya. Telah dimulainya. Itu jauh lebih beharga daripada ia tak punya cita-cita. Di nisan orang tuanya, ia berjanji, seperti 10 tahun yang lalu, untuk tak menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihapusnya semua ingatan tentang ucapan Sawitri. Ia merebahkan badan di sebuah pohon mahoni, tak jauh dari kuburan orang tuanya. Angin sepoi-sepoi. Kicauan burung pipit membuat hatinya sejuk. Ia begitu menikmati aliran air, awan yang berarak, suara hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sore ia menganjakkan kaki dari kuburan orang tuanya itu. Namun, kakinya tak dilangkahkan menuju rumah. Ia masih yakin, sore-sore seperti ini, Sawitri akan bergunjing lagi dengan anaknya itu. Atau, ia malah berpikiran buruk, itu sengaja untuk menyakiti hatinya. Ups, ia meralat sendiri apa yang sedang bergejolak di batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menuju kedai Uwo. Tempat orang muda dan tua berkumpul. Barangkali di kedai Uwo, ia akan menemukan sesuatu yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh…. Hasim. Masuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramah ia disambut. Pesan satu gelas kopi, ia membaur dengan Ujang, Anton, Sardi, dan Eko. Cerita bisa kemana saja, tentang sawah, karet, sampai soal istri di ranjang. Sardi jadi bahan olokan. Kalau bercerita soal ranjang, Sardi terlihat diam. Ketakmampuannya menghasilkan satu orang anak pun, menjadi olokan yang disuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat anakku, telah enam. Rencananya mau ditambah lagi,” ujar Eko yang kembali disambut tawa. Sardi makin terpojok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomong-ngomong, kamu kenapa pulang Sim?” Selesai mengolok-olok Sardi, Ujang mengalihkan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasalah. Kalau sudah tak mampu, pasti larinya ke kampung.” Pernyataan Anton disambut lagi dengan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasim masih tenang. Ia tak ingin lagi memikirkan itu. Dijelaskannya sesederhana mungkin. Termasuk kali-kalinya. “Aku memikirkan anakku,” itu alasannya paling logis yang disambut “Ooooo”. Berhasil menguasai suasana, Hasim bercerita panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, aku lebih suka menyebutnya kota asap, tidak seperti yang dibayangkan. Kota asap itu tidak indah. Gedung-gedung tinggi itu tidak megah. Nyawa tak berharga. Tetangga tak kenal. Pokoknya, kata Hasim, tak ada yang bisa dibanggakan dari kota itu. Ditambah dengan sedikit bumbu,”Kalian pernah dengar lumpur Lapindo?”. Semuanya mengangguk. “Kalian tahu, 10 tahun lagi, pulau Jawa akan terbenam oleh lumpur itu. Kota itu telah kena kutuk. Semua termangu. Hasim merasa puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, anakku tak akan kuperbolehkan merantau ke Jakarta.” Eko meresapi benar apa yang dikatakan Hasim. Hasim tak menjawabnya. Tiba-tiba ia merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak banyak yang termangu setelah mendengar Hasim berbicara. Mereka sepertinya membenarkan soal kepulangan Hasim. Kemudian tema cerita berpindah lagi ke soal lain. Sampai kedai Uwo tutup, mereka baru berhenti berkelakar. Hasim dan Ujang langsung pulang. Ia tak ikut dengan Anton, Sardi, dan Eko yang katanya memancing ikan sampai pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, Hasim masih berpikir soal ucapannya tadi. Ada sesuatu yang menenangkan dalam jiwanya, sekaligus merasa bersalah. Ia merasa bersalah pada Eko. Ia membayangkan anak Eko yang berumur 17 tahun telah mempersiapkan diri untuk pergi merantau. Karena dalam ajaran yang sudah turun temurun, tak ada gunanya lelaki yang tak pergi merantau. Tinggal di kampung selama hidup adalah kegagalan yang pasti disesali semua orang. Eko pasti akan seperti Sawitri. Melarang niat anaknya. Ia merasa berdosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, belum lagi pikirannya itu hilang, tiba-tiba ia kembali mendengar suara dari balik triplek. Badan baru akan direbahkan. Suara itu muncul lagi. Seperti kemarin malam juga. Dengan tema yang tak ubah-ubah. Namun, kali ini sepertinya lebih dahsyat. Terdengar oleh Hasim, jika tak diizinkan, Dodi akan pergi merantau tanpa izin. Jelas saja Sawitri mencak-mencak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diaaammmm.” Tiba-tiba suara itu keluar dari mulut Hasim. Istrinya dan anaknya terbangun. Seketika hening, termasuk dari sebelah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Baru akan mengayunkan cangkul di sawah, tiba-tiba datang Sati. Ia berkain sarung saja, sepertinya terburu-buru. Hasim tentu kenal betul dengan Sati. Sati adalah saudara sepupuannya. “Aku ingin bicara,” katanya tanpa basa-basi. Hasim terbengong-bengong. Ada sesuatu hal penting yang akan dibicarakannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa sawah ini yang kau kerjakan?” Sati langsung pada pokok persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum kamu pulang, sawah ini saya yang mengerjakannya. Dari hasil sawah ini anak bini saya makan. Kamu sogok berapa Sutan Mudo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama Hasim termenung. Ia tak mengerti apa yang dimaksudkan Sati. Ia hanya peroleh sawah ini dari Sutan Mudo, Mamaknya yang juga Mamak Sati. Soal dulu, benar-benar ia tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak pernah diberi tahu. Sutan Mudo, Mamak kita itu, juga tak memberi tahu.Tiba-tiba aku lihat kamu telah membawa cangkul. Tidakkah terpikir oleh kalian, keluargaku juga butuh makan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal sudah jelas dalam adat, tanah kaum diperuntukkan untuk yang susah. Saya ini orang susah. Hanya mengharapkan makan dari hasil sawah. Anakku lebih banyak dari anakmu. Dengan apa kuberi makan anak-anakku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasim hanya melongo setiap ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Sati. Ia tak bisa menjawab, apalagi memberikan putusan. “Bagaimana kalau kita selesaikan dengan Mamak saja, Sati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sati menoleh dengan muka tak penuh. “Ha..Menyelesaikan masalah dengan Sutan Mudo? Ya..pasti kamu lah yang menang. Kamu kan dari rantau. Masih punya uang. Aku ini orang miskin. Tak akan pernah menang kalau soal ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sati berdiri dari duduknya. Ia menoleh tajam kepada Hasim. “Aku tak akan selesaikan masalah ini. Aku tak pernah percaya dengan Sutan Mudo. Kamu belum seumur jagung hidup di desa ini. Belum mengenal Sutan Mudo luar dalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telunjuknya menghadap ke muka Hasim. “Jika sawah ini kau kerjakan juga, aku akan menebarkan penyakit di padi yang kau tanam.” Ia berlalu sambil mengangkat-ngangkat kain sarung di pematang sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa pulang cepat hari ini Mas?” Istrinya menyambut heran setiba di rumah. Hasim tak bercerita. Ia mengganti pakain, lalu terburu-buru menuju rumah Mamaknya, Sutan Mudo. Diceritakan semua yang dialami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berubah ekspresi wajah Sutan Mudo mendengar perkataan Hasim. Ia mamburansang. Diambilnya keris di kamar, lalu berlari keluar rumah. “Sati..ke sini. kuhajar kau.” Hasim mengikutinya dari belakang. Berkali-kali ia menahan langkah Mamaknya, tapi tak berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sati keluar, masih dengan kain sarung. Sebilah keris juga telah dipegangnya. Tak banyak bicara. Mereka berdua sepertinya telah paham kenapa mereka harus mengayunkan keris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeaahhh…” Sutan Mudo berusaha mencederai Sati dengan kerisnya. Berkali-kali ia mencoba menusukkan keris ke dada Sati. Tapi Sati sepertinya lincah. Ia selalu berhasil berkelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian, Sati berhasil menguasai suasana. Hanya dengan beberapa gerakan, Sati berhasil menusukkan keris ke dada Sutan Mudo. Darah segar berhamburan keluar dari dada sang Mamak. Orang-orang terlambat berdatangan. Sutan Mudo tewas ketika itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisi datang membawa Sati. Ia tak meronta.. Hanya pandangannya tajamnya mengarah kepada Hasim. Sutan Mudo dikuburkan hari itu juga, di sebelah makam orang tuanya. Hasim kembali merasa bersalah kepada dirinya. Selesai Mamaknya dikuburkan, orang-orang kembali memandang Hasim dengan pandangan sinis. Ia hanya bisa menunduk. Ia adalah orang yang paling merasa bersalah dengan kejadian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sahabatnya Rino, Hasim tahu, Sutan Mudo dan Sati telah lama bermusuhan. Sejak mendegar kepulangan Hasim, Sutan Mudo seperti mendapat angin untuk mengambil alih sawah yang biasanya dikerjakan Sati. Sebagai seorang petinggi suku, Sutan Mudo memang berhak melakukannya. Di rapat Balai Adat, semua orang setuju, sebab,  tanah ulayat memang harus digilir pemakaiannya. Kebetulan Hasim lagi susah, maka dialah yang mengerjakan sawah. Sati disuruh manakiak³ karet, sebab ia punya keahlian juga tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sati tak setuju. Penghasilan karet tak seberapa. Tak cukup menghidupi anaknya lima orang. Ia tak terima. Tapi rapat hari itu tetap menghasilkan kesimpulan bahwa untuk sawah, yang mengerjakan adalah Hasim. Alasannya, Hasim tak bisa manakiak karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku tak mengira kejadiannya sampai seperti ini.” Rino menunduk. Hasim masih menangis. Hasim teringat ketika ia dijemput Mamaknya di terminal.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Disusunnya puzzle kehidupan. Ditimbangnya lagi apa yang terjadi. “Istriku..aku telah lelah berpikir. Apa pendapatmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya nurut Mas aja,” ujar istrinya dengan logat Jawa yang kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Hasim menyesal bertanya. Tapi ia tak lagi punya kekuatan untuk menumbuhkan emosi. Beberapa kejadian yang dialami telah cukup memukul perasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara kepulangannya, Sawitri bertengkar dengan anaknya. Eko mungkin akan seperti itu juga. Mamaknya terbunuh. Semuanya dengan pusat kesalahan yang sama yaitu dirinya. Ya..dirinya. Sampai malam, ia tak beranjak dari tempat duduk semula. Nasi masih terletak di atas meja. Telah dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, Hasim pergi ke sawah. Tempat di mana ia pernah berharap untuk memulai kehidupan yang baru. Namun, ia tak menemukan lagi kehidupan di sana. Ia hanya menemukan dirinya yang tak bisa apa-apa. Ia menemukan dirinya yang menimbulkan banyak perkara. Ia tak hanya gagal, tapi juga banyak dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sawah itu tak lagi dikerjakannya. Untuk kedua kalinya, ia merasakan perasaan menyesal: menyesal telah pulang. Tapi ia tak punya lagi kekuatan untuk melakukan perantauan yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasim menyesali apa yang terjadi, lima tahun lamanya. Selama itu, ia tak berbuat apa-apa. Di dua tempat yang diyakini akan merubah nasibnya, justru memberikannya cerita yang lain.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sebelum tidur, Hasim tiap malam mendongeng untuk anak-anaknya yang terus tumbuh menjadi remaja. Ia tak mendongengkan seekor kancil yang licik, harimau yang perkasa, dan peri yang baik hati. Ia tak pernah tahu kisah-kisah itu. Ia selalu berdongeng tentang kisah yang tak pernah habis, dengan tokoh utama seorang Bapak tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh sekali Bapak tua itu. Tinggal di kota kan lebih baik daripada di desa yang sepi seperti ini..” tutur anaknya yang paling tua. Hasim terus bercerita tak lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, kenapa Bapak tua itu mesti mengibuli orang lain?” Anaknya yang paling kecil telah duduk di atas pahanya. Diusap rambut anak perempuannya itu. Ia minta untuk tidur lagi. “Besok kita lanjutkan ceritanya ya?” Ia merapatkan selimut kepada kedua anaknya. Tapi mereka tak terima. Keduanya merengek. Hasim tak kuasa menolak. Ia kembali duduk di samping anak-anaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Licik ya orang tua itu…kenapa tidak ia saja yang berkelahi?” Hasim menatap anaknya dengan teduh. Ia berusaha kuat untuk tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang paling tua bangun lagi. Entah mengapa, tiba-tiba ia memeluk dirinya dengan erat. Anak keduanya mengikuti. “Yah, kami tidak mau seperti orang tua itu!!!” Sambil menangis, anak-anaknya semakin erat memeluk sang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselimuti kedua anaknya. Sambil tersenyum ia berucap,”Kalian memang tidak boleh seperti Bapak tua itu. Kalian harus bekerja keras agar bisa merubah diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua anaknya mengangguk setuju. Mereka pun tertidur dengan pulas. Hasim memandangi anaknya yang telah tertidur itu. Ia berhasil menghidupkan Bapak tua dalam ingatan anaknya. Sejak kematian Sutan Mudo, ini keberhasilan yang membuat ia selalu tersenyum keluar dari kamar sang anak….&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;lukisan: sintang.go.id&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Padang, Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;¹Mamak : pimpinan suku di Minangkabau.&lt;br /&gt;²Balai Adat : tempat rapat kaum adat. Biasanya membahas masalah-masalah kaum.&lt;br /&gt;³Manakiak : bekerja untuk menghasilkan karet. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-2163062210148088485?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/2163062210148088485/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/12/dongeng-bapak-tua.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/2163062210148088485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/2163062210148088485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/12/dongeng-bapak-tua.html' title='Dongeng Bapak Tua'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SzdGHx8Be7I/AAAAAAAAARo/DVPwEWcKqW0/s72-c/lukisan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-3434268859999568897</id><published>2009-12-04T20:39:00.000-08:00</published><updated>2009-12-04T20:42:08.579-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjektif'/><title type='text'>Korban</title><content type='html'>Kita semua adalah korban. Bila dihaluskan, kata ini bisa bermakna dirugikan. Lihatlah, tiap hari, mass media memberitakan: korban bencana, korban politik, dan korban kekuasaan. Setiap hari, semua orang menjadi korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santer terdengar, bulan ini, jeritan korban para caleg. Daftar Penduduk Tetap (DPT) tak jelas dikeluarkan KPU, sehingga suara Golput lebih banyak dari partai pemenang. Seorang anak terpaksa menjadi korban, orang tuanya menyuruhnya turun ke jalan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dirasakan korban? Tersakiti. Dilukai. Merasa tak dihargai. Semuanya adalah aura negatif. Kita yang menjadi korban, antonimnya bisa saja bermakna balas dendam. Anak muda yang ditangkap polisi karena tertangkap menggunakan narkoba, ketika keluar dari penjara, yang pertama dicarinya adalah, pengkhianat (bisa jadi teman sendiri: kibus). Ia akan membalasnya. Bisa jadi ia akan membunuh. Caleg yang merasa dikorbankan oleh pemilih, ia akan menarik kembali ‘hadiah’ yang pernah diberikannya waktu kampanye. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada orang yang ingin menjadi korban. Dengarlah, ketika setiap hari kita lihat, korban lumpur lapindo menjerit, memperjuangkan haknya yang dirampas. Memperjuangkan itu merupakan bagian dari ketidakinginannya menjadi korban. Bila tetap menjadi korban, kita akan beriak, lalu mengadukan kepada hukum. Di sana, tertulis: korban dan tersangka. Korban adalah objek (protagonis), tersangka subjeknya (antagonis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada pula, korban yang tak merasa menjadi korban. Temuilah anak-anak di jalanan. Tanyakan padanya,”Siapa yang menyuruhmu?” Kalau ia tak jujur (biasanya memang begitu), dijawab, “Tidak ada.” Bagaimana mungkin, keberanian turun ke jalan, didapatkan oleh anak yang berumur 5 tahun, misalnya? Pasti ada seseorang yang telah memberikan keberanian itu kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila posisi ‘korban’ terus melanda, biasanya, kita yang lemah ini akan menyalahkan Tuhan. “Tuhan tidak adil. Kebenaran tidak tegak.” Orang-orang yang menjadi korban, kecendrungannya adalah menjadi lemah. Suatu kekuatan telah hilang, yaitu kekuatan diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kita semua adalah korban, karena tidak pernah berdaya melawan hukum yang tidak adil, dan selalu dikorbankan. Anak-anak yang hidup di jalanan, akan selamanya jadi korban, ketika ia menikmati dan tak pernah diberikan peringatan tentang itu. Kita adalah korban yang selalu mempersalahkan orang lain terhadap status ke-korban-an itu.&lt;br /&gt;Enam belas orang kepala sekolah, suatu hari di Komentar Singgalang (24 April 2009), ditangkap karena terbukti membocorkan soal Ujian Nasional (UN). Dengarlah, betapa status korban telah memaksa orang untuk tidak jujur! Orang tua malu, daerah kehilangan muka, ketika siswa mereka tidak mampu memenuhi target. Mereka tidak mau menjadi korban akibat sebuah standar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status itu memalukan. Cara, lupakan proses, mutlak dilakukan untuk mencapai standar itu. Kadang kita tak habis pikir, lalu mengutuk, ini tak benar, terlebih dalam dunia pendidikan. Tapi jika ini dipertanyakan, kita akan menemukan jawaban,”Saya tak ingin menjadi korban.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah menjadi sifat saya bahwa penderitaan orang lain membuat saya sangat sedih.” Ghandi, barangkali orang yang tak pernah terpikirkan oleh kita, yang mengubah ‘korban’ menjadi sebuah kekuatan. Satyagraha yang dilancarkannya di India dan Afrika Selatan, telah mengubah Negara itu dari dampak ketertindasan, yang akan membuat orang-orang menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia rela  menjadi korban, bahkan terhadap dirinya sendiri, asal orang-orang setelahnya bebas berpikir, bebas bernafas, dan bebas menentukan pilihan hidupnya. Di sini, kita merasakan, betapa kita belum menjadi korban seperti Ghandi.&lt;br /&gt;Yah, kita adalah korban, tapi bukan untuk menjadi lemah.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-3434268859999568897?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/3434268859999568897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/12/korban.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3434268859999568897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3434268859999568897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/12/korban.html' title='Korban'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-7581113955084222051</id><published>2009-11-09T08:25:00.000-08:00</published><updated>2009-12-27T03:47:35.218-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>DEMI HAK AZAZI PETANI DAN KEDAULATAN PANGAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sxnmnk-rxVI/AAAAAAAAARg/J-JwkmZvljU/s1600-h/IMG_7589.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sxnmnk-rxVI/AAAAAAAAARg/J-JwkmZvljU/s200/IMG_7589.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5411609994878240082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SAGO INDRA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Siapa yang menguasai benih, akan menguasai pangan. Siapa yang menguasai pangan, tentu akan menguasai dunia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dalam pergerakan Serikat Petani Indonesia (SPI), nama Eka kurniawan Sago Indra (rekan di pergerakan menyebutnya Sago Indra), bukanlah orang kemarin siang. Sago duduk dalam Dewan Pimpinan Pusat SPI. Berbicara dengannya tidak hanya terbatas pada persoalan petani seperti yang kita bayangkan, sebatas mahalnya pupuk atau sulitnya bibit. Namun berbagai persoalan pelik petani tandas dalam pembahasan sampai ke urat-uratnya. Dengan telaten dan detil, ia merinci setiap hal yang ditanyakan sembari menuliskannya di whiteboard, di sekretariat Serikat Petani Indonesia, di Jl Mutiara No 12 Tunggulhitam, Padang. Ternyata, dari uraiannya, ia adalah petani intelek, yang bersama rekan-rekannya, betul-betul berpikir dan berjuang untuk martabat hidup petani.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kondisi dan kebijakan pertanian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Miskin, tidak punya tanah atau lahannya sempit, ketergantungan bibit, pupuk, pestisida, kurangnya modal usaha, tiada akses informasi dan pendidikan, tidak mempunyai posisi tawar di bidang pemasaran, dan politik, tidak adanya kelompok atau organisasi tani yang kuat dan mandiri, individualis, serta politisasi organisasi tani dan berbagai stigma atas organisasi tani, membuat kondisi petani semakin pelik. Hal inilah, antara lain, yang membuat Sago tidak bisa berpangku tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini sesuatu yang acap luput dari pembicaraan, dan pembahasan, baik oleh pemerintah maupun oleh partai politik, serta masyarakat,” kata Sago. Padahal, katanya, negara kita negara agraris. Tapi, kenapa petani terabaikan dan dimarjinalkan dari segala sisi. Di Sumatera Barat, kata Sago, kemiskinan mencapai 27% dari jumlah penduduknya. Lebih dari 65% penduduk miskin di Sumatera Barat adalah petani. Dengan rata-rata kepemilikan tanah, seperti yang pernah disebut Gamawan Fauzi sewaktu jadi gubernur,  0,4 Ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pangkal persoalannya adalah kebijakan pemerintah,” tukas Sago, menjawab petani selalu dalam posisi miskin dan terabaikan? Diterangkan laki-laki yang telah memilih hidup menjadi petani dan melindungi hak-hak petani melalui organisasi pergerakannya, SPI, ini bisa dilihat sejak dilaksanakannya Revolusi Hijau. Revolusi hijau dimulai tahun 1970-an. Di Sumatera Barat dimulai 1975-1976. Dalam revolusi hijau  itu pemakaian pupuk dan pestisida dipaksakan kepada petani, bahkan militer ikut memaksakan pemakaiannya. Revolusi hijau berdampak pada kerusakan struktur hara tanah. Pemakaian pestisida merusak ekosistem di tanah dan ekosistem musuh alami tanaman serta rantai makanan. Juga menghilangkan kekayaan bibit lokal, dan kebijakan lainnya yang mengakibatkan petani ketergantungan dari segala sektor. “Kebijakan ini membuat mainstream petani ketika akan memulai bertani, adalah modal yang cukup besar,” kata Sago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedaulatan Pangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, tanpa disadari kita tidak berdaulat dengan pangan. Kita cendrung memilih makanan ekspor dan instan ketimbang dari hasil kebun sendiri, dalam artian produk lokal. Makan buah saja umpamanya. Kalau kita ke pasar dan membeli buah, jarang kita temui buah lokal. Yang banyak hanya buah impor. Masyarakat lebih suka dengan buah impor, makanan kaleng, instan. “Kondisi ini mengakibatkan hasil tani atau buah lokal kita tak punya harga dibanding buah impor. Contoh apel impor saja di kaki lima sekarang minimal Rp 2.500 perbuah atau perkilo mencapai Rp10 ribu – Rp15 ribu. Begitu juga anggur, pir, jeruk, dan sebagainya, yang lebih murah dibandingkan dengan harga pisang, rambutan, ambacang, pauah, piraweh atau jambu yang sudah tidak tren lagi di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, buah organik hanya bisa bertahan selama tiga hari sementara buah impor masih segar selama dua minggu bahkan lebih,” terang Sago prihatin. Artinya, tentu ada yang perlu diherankan, kok buah bisa tetap terlihat segar setelah lebih tiga hari. Dulu, tomat dua hari saja sudah busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kehidupan Minangkabau yang sudah bergeser dari sosialis religius menjadi kapitalis individualis hampir menjadi budaya sehari-hari. Hal ini bisa terlihat dari yang ada di perkotaan, mulai berjalan sampai ke pelosok nagari-nagari yang berada di Minangkabau. Dipicu semenjak revolusi hijau dan ekonomi liberal yang mulai diperkenalkan ke Minangkabau dan Indonesia umumnya. Masalah ekonomi saat ini di nagari-nagari di Sumbar nyaris 100% di kuasai sistem ekonomi neoliberal secara sadar atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana  kita ketahui dan yakini bersama bahwa simbol kedaulatan pangan yang berfungsi sosial religius adalah pada rangkiang.  Saat ini tidak ada lagi rangkiang yang menjalankan fungsi sebagai lambang adanya budaya Minang yang terlepas dari kelaparan dan berdaulatnya anak nagari atas pertanian, secara pasti juga mengurangi nilai-nilai sosial religius yang kita maksud,” terang Sago lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahamannya, konsep perumahan rumah tangga petani ideal itu seperti yang pernah dilakukan nenek moyang kita dulunya. Di sekitar rumah orang Minang, sebagaimana rumah gadang, ada lahan untuk kolam ikan, tanaman buah dan obat, serta sayuran. Kemudian ada rangkiang tempat menyimpan hasil pangan termasuk padi abuan, atau benih untuk musim tanam berikutnya. Sehingga kelestarian bibit dapat terjaga. “Dengan konsep ini, kedaulatan pangan akan terjaga. Sebab tiap orang makan dari hasil produksinya sendiri, yang lebih organik. Bukan dari produk impor, yang memiskinkan petani lokal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan pangan, terang Sago, pada dasarnya mengutamakan produksi pertanian lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan setiap orang, rumah tangga, masyarakat dan bangsa, dengan menjamin akses petani atas tanah, air, benih, teknologi dan kredit. Kedaulatan pangan adalah dasar bagi kedaulatan bangsa yang mencakup land reform agar petani dapat bertani di tanahnya sendiri, menolak GMO (Genetically Modified Organism) karena benih seharusnya dapat diakses oleh semua orang, memelihara kelestarian sumber air agar dapat digunakan oleh setiap orang sesuai dengan tingkat kebutuhannya, dan mengatur tata niaga pertanian agar adil bagi semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hak Azasi Petani &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengingat sejarah, Sago menjelaskan, petani kehilangan hak-hak azazinya sejak adanya agenda Revolusi Hijau pada tahun 1970-an. Petani dikenalkan dengan pemakaian pestisida, pupuk dan pertanian monokultur. Akibatnya, petani kehilangan akar sosial budayanya sendiri dan lebih mengedepankan nilai ekonomi semu. Budaya gotong royong dengan sifat komunal, telah berubah menjadi sifat individualis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pertanian yang berorientasi ekspor, bagi Sago telah membuat petani kehilangan lahan pertanian pangan. Tanah-tanah petani mulai dirampas dan dipaksa untuk penanaman karet, sawit, dan tanaman perkebunan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman orientasi ekspor ini didengungkan untuk peningkatan kesejahteraan petani. Tetapi sebenarnya justru menjebak petani, karena harga produksi ada di tangan pemodal (investor dan eksportir).  Mereka selalu memainkan harga produk tersebut. Apalagi  kebijakan ini 'dipaksakan' dan didukung Bank Dunia, IMF serta ADB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Melalui Stuktural Adjusment Program (SAP),  Bank Dunia, IMF dan ADB memaksa pemerintah kita untuk  mengarahkan kebijakan-kebijakan yang tidak melindungi rakyat, atau lebih berpihak kepada pengusaha besar. Kebijakan tersebut dimulai dari kebijakan revolusi hijau sampai kebijakan organisasi perdagangan dunia (WTO), privatisasi, dan pasar bebas,” ungkap Sago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikutsertaan Indonesia ke dalam WTO sejak 1994, mengakibatkan pembangunan perkebunan, konversi lahan, pembangunan waduk besar, begitu leluasa di negeri ini. Tanah-tanah milik petani diambil paksa, sehingga mereka mulai kehilangan sumber-sumber agrarianya, yang berujung pada konflik agraria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan impor bahan pangan di Indonesia, seperti beras, gula, dan buah-buahan, telah menurunkan harga produk pertanian. “Nah, ini pada akhirnya membuat petani kita tidak dapat bersaing, dan menurunkan nilai tukar petani,” jelas Sago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kebijakan pasar bebas yang membuat petani tidak berdaya, Sago juga mengingatkan, saat ini WTO lebih leluasa 'menghabisi' kedaulatan petani kita, dengan melahirkan benih rekayasa genetika dan bibit-bibit hibrida yang dikembangkan industri besar. Sehingga kita harus kehilangan bibit dan benih lokal, serta mengalami kehancuran tatanan pertanian tradisonal yang beralih menjadi agribisnis (pertanian bisnis) tanpa ada pertimbangan terhadap kesuburan tanah, kesehatan, dan keseimbangan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu diperparah dengan keluarnya UU No.7/2004 tentang Sumber Daya Air. Meski UU tersebut baru sebatas mem-privatisasi air minum, namun tidak tertutup kemungkinan privatisasi sumber-sumber air untuk keperluan pertanian. Hal ini bisa dilihat melalui pendekatan Petani Pemakai dan Pengelola (P3A) yang mulai “membudayakan” iuran untuk lahan pertanian yang setara nantinya dengan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebagai jawaban dari deretan kasus-kasus tersebut. Maka sangat dibutuhkan pengakuan hak azazi petani, yang intinya memberi perlindungan atas hak-hak ekonomi, politik, sosial dan budaya,” tambah Sago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak petani, menurut Sago, yaitu bagaimana faktor-faktor pendukungnya terpenuhi. Alat produksi, awalnya. Petani mesti memiliki tanah untuk bercocok tanam. Sarana produksinya mesti dilengkapi, yaitu pupuk, bibit, dan semacamnya. Pasca produksi, mesti ada jaminan produksi. Apakah dengan penyedian sebuah alat yang mengolah hasil pertanian. Semisal, tersedianya alat untuk membuat keripik dari pisang. Pemerintah harus menjamin pasar agar harga tak menindas petani. Di sini, Negara berperan untuk melindungi petani agar tak menjadi korban kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal sarana produksi, ‘permainan’ konglomerat lebih terlihat daripada membantu petani. Bibit-bibit untuk petani banyak yang didatangkan dari luar: dupong (bibit jagung dari Perancis), Monsanto (produksi pertisida dari Swis dan Amerika), dan Bast (produksi pupuk dari Jerman). Dalam analisis Sago Indra, bibit yang didatangkan dari luar itu, bea cukainya masuk ke dalam kas Negara. Pemerintah tak mencoba membuat sarana produksi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi soal pasca produksi. Petani konvensional, hanya tahu satu cara yang dapat dilakukan pasca produksi, yaitu bagaimana menjualnya kemudian menghasilkan untung. Jarang yang berpikir bagaimana memanfaatkan hasil pertanian dengan misal, pisang dibuat menjadi kripik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, tak ada jaminan pasar terhadap petani. Harga bisa dengan mudah naiknya. Sebaliknya, sangat cepat pula turunnya. Ini memberikan ketidakpastian kepada petani. Petani tak mendapatkan satu pun haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dengan adanya hak-hak itu, petani akan bebas menentukan jenis dan varietas tanaman baik secara ekonomi, ekologi yang sangat sesuai dengan alam, berdasarkan  budaya/kearifan lokal petani. Mereka juga berhak untuk menolak segala jenis tanaman pangan, obat-obatan, dan melestarikan nutfah,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan informasi, petani akan memperoleh keterangan  yang benar dan seimbang tentang modal, pasar, kebijakan, harga, serta teknologi yang berhubungan dengan kepentingan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kemudian dengan adanya hak-hak tersebut, para petani sanggup menata serta mempertahankan kelestarian lingkungan, kearifan lokal, dan menolak segala bentuk eksploitasi sumber-sumber agraria yang berdampak pada pengrusakkan lingkungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapat pengakuan atas haknya ini tak jarang petani mengalami pelanggaran-pelanggaran. Tidak hanya di Indonesia. Di Negara-negara lain juga demikian. Sago yang hadir sebagai salah satu peserta dalam Sidang komisi Hak Azazi Manusia yang digelar Perserikatan Bangsa-Bangsa  di Jenewa, Swiss, tanggal 22 Maret sampai 22 April 2005, mengatakan ribuan pelanggaran HAM terjadi setiap tahunnya, termasuk pelanggaran HAM petani. “Petani tidak hanya dikondisikan untuk tetap miskin-raya. Tapi mereka dizalimi dengan kekerasan, bahkan sampai kematian.” Di Indonesia banyak kasus pelanggaran HAM petani yang belum terselesaikan. Seperti, konflik tanah antara masyarakat Silau Jawa, Asahan Sumatera Utara dengan PTPN IV. Masyarakat tidak hanya kehilangan pekerjaan untuk melangsungkan kehidupan, melainkan juga kehilangan tanah lantaran diklaim PTPN IV sebagai miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Sumbar juga demikian, sengketa pembangunan waduk PLTA Koto Panjang, Pangkalan, Sumatera Barat, yang masih banyak meninggalkan persoalan-persoalan bagi masyarakat. Serta sengketa perkebunan kelapa sawit di atas tanah ulayat masyarakat adat dan lahan pertanian petani (anak nagari) di kabupaten Agam dan Pasaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Reforma Agraria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana persoalan petani ini, bisa terselesaikan? Sago menegaskan, bahwa, “Reforma Agraria (RA) harus dilaksanakan secara total. Sebab, lebih dari 2500 tahun, gagasan tentang pembaruan agraria intinya tetap sama, yaitu, penataan-ulang struktur pemilikan dan penguasaan sumber agraria demi kesejahteraan masyarakat, khususnya rakyat kecil, petani dan buruh tani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus sejarah Reforma Agraria di Indonesia yang demikian kompleks dan khas, dengan susah payah dan terseok-seok akhirnya melahirkan UUPA 1960 sebagai payung hukum atas kekayaan sumber-sumber agraria nasional. Undang-undang inipun tak luput dari pemandulan, pembelokan, pembiasan, dan stigmatisasi. Sehingga, subtansi dasar dari UUPA 1960 yang berazaskan keadilan sosial demi seluas-luasnya kepentingan rakyat (UUD 1945 pasal 33) tidak berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Para petani harus mendapatkan pengakuan, kemudian dilanjutkan dengan perlindungan untuk mewujudkan organisasi petani yang independen. Serta ruang dan fasilitas publik untuk mengutarakan pendapatnya baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.  Nah, pertanyaan yang muncul sekarang akankah hak-hak azazi, kedaulatan, serta reforma agraria yang harus dipenuhi dan diakui itu terwujud? Atau sebaliknya, kedaulatan pangan kita tetap diatur para kapitalis?” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Yusrizal KW/Gusriyono/Andika D. Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-7581113955084222051?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/7581113955084222051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/11/demi-hak-azazi-petani-dan-kedaulatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7581113955084222051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7581113955084222051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/11/demi-hak-azazi-petani-dan-kedaulatan.html' title='DEMI HAK AZAZI PETANI DAN KEDAULATAN PANGAN'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sxnmnk-rxVI/AAAAAAAAARg/J-JwkmZvljU/s72-c/IMG_7589.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-323700440097017072</id><published>2009-10-31T10:49:00.000-07:00</published><updated>2009-10-31T10:57:33.390-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>EKI, Mengumpulkan Kekayaan Bahasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sux5vjbUdnI/AAAAAAAAARQ/hEfGubVMu54/s1600-h/eki+baru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 148px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sux5vjbUdnI/AAAAAAAAARQ/hEfGubVMu54/s200/eki+baru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398823911181022834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul buku                    : Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia&lt;br /&gt;Penyusun                     : Dewan Redaksi Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi    : Hasanudin WS, Prof. Dr., M.Hum.&lt;br /&gt;Penerbit                       : Angkasa Bandung&lt;br /&gt;Cetakan                                : Pertama, 2009&lt;br /&gt;Tebal                             : 1.370 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DIBANDINGKAN&lt;/span&gt; penerbitan novel, ensiklopedi terbilang jarang diterbitkan di Indonesia.  Semua yang terjadi seperti berlalu begitu saja, tanpa ada yang mencatatnya. Ensiklopedi sebenarnya berfungsi untuk mencatat setiap perkembangan tersebut, dalam segala bidang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di bidang kebahasaan, pun seperti itu. Ketika Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia (EKI) diperkenalkan di Inna Muara, Juni lalu, ditegaskan bahwa ini adalah ensiklopedi bidang kebahasaan yang pertama kali hadir. Padahal, permasalahan kebahasaan di Negara kita, terus mengalami rintangan. Sejak pertama kali bahasa Indonesia dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928 lalu, bahasa Indonesia terus mencari jati dirinya. Namun, semakin dicari, semakin banyak saja aral dan rintangan yang menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja media cetak, televisi, atau radio yang berbahasa seenak gue. Cita-cita luhur bahasa, budaya yang dibawanya, seperti tertimbun arus modernitas.  Kekuatiran kita, selain masalah perpecahan bangsa, juga masalah bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar Kebahasaan, Dendy Sugono mengatakan, dalam hubungan dengan kehidupan masyarakat, bahasa Indonesia telah terjadi berbagai perubahan, terutama yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, khususnya teknologi informasi. Kondisi ini telah menempatkan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, pada posisi strategis yang memungkinkan bahasa itu memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa dan mempengaruhi pekembangan bahasa Indonesia. Gejala munculnya penggunaan bahasa asing di pertemuan-pertemuan resmi dan di media-media (elektronik atau cetak) di tempat-tempat umum menunjukkan perubahan perilaku masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara-acara di televisi, walaupun isinya berbahasa Indonesia, tapi kebanyakan judulnya berbahasa asing. Hal ini menyiratkan ketidakpercayaan diri terhadap bahasa Indonesia. Selain itu, nama-nama tempat umum seperti mal, rumah sakit, dan gedung-gedung bertingkat juga lebih banyak menggunakan bahasa asing seperti penggunaan kata square, trade centre, atau residence. Ada anggapan kalau menggunakan bahasa asing dapat lebih menunjukkan gengsi daripada berbahasa Indonesia. Bahkan ada pula yang mengatakan, dengan bahasa asing maka akan memperlihatkan kecendikiaan seseorang.&lt;br /&gt;Selain bahasa asing, penggunaan bahasa daerah khususnya bahasa Melayu Jakarta dan bahasa ‘gaul’ telah mewarnai penggunaan bahasa Indonesia lisan. Bahkan, bahasa iklan sangat diwarnai oleh penggunaan bahasa daerah tersebut. Sebut saja radio sebagai media elektronik yang banyak mengandalkan lisan dalam interaksinya, turut menyumbangkan perilaku berbahasa yang salah. Terutama radio yang sasarannya khusus untuk kaum muda yang memang banyak diminati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tiap detik dengan mudah kita mendengarkan bahasa buruk. Gue banget, thank you banget, ya!, eh, jangan ngomongin aib pacarnya dia, dan sebagainya. Semakin lama, semakin banyak orang yang berbahasa Indonesia seenaknya, tidak mengindahkan norma atau aturan berbahasa yang berlaku resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibentang lagi, permasalahan bahasa ini sepertinya tak terputus. Saya kira, permasalahan bahasa kita, selain masalah bahasa itu sendiri, juga masalah penuturnya seperti yang diuraikan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apakah kita tinggal diam dengan kondisi yang seperti ini? Setidaknya, kita masih punya ‘hutang’ untuk mempertahankan bahasa Indonesia sebagai amanat tahun 1928 lalu, yang telah menyatukan Indonesia melalui bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EKI yang disusun oleh Hasanuddin WS dibantu beberapa orang penyelia, saya kira adalah menyusun kembali kekayaan bahasa, tidak hanya di Indonesia, lebih luas bersifat global. Ia berbicara tentang persoalan bahasa dalam ruang lingkup yang lebih global dan majemuk. Lihat saja, tata bahasa dalam bahasa Inggris mendapat tempat dalam EKI. Berbagai macam aksara seperti aksara rencong, aksara pegon, atau aksara Jawa. Aksara ini bersanding dengan aksara yang lahir di luar negeri seperti aksara Han’gul dari Korea Selatan, aksara Brahmi dari India Kuno, termasuk juga aksara arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entri yang terhimpun dan dijelaskan secara keseluruhan berkaitan dengan masalah kebahasaan bahasa Indonesia yang dapat dikategorikan pada tiga kelompok yaitu: istilah kebahasaan, tokoh ahli bahasa, dan karya kebahasaan. Untuk penyusunan, entri-entri dalam EKI disusun berdasarkan urutan abjad, entri demi entri, dan buku demi buku. Panjang dan pendeknya entri tidak sama untuk setiap entri. Entri yang memerlukan penjelasan lebih rinci mendapat perhatian yang lebih khusus untuk diuraikan. Istilah entri sendiri dimaksudkan topik atau judul atau hal yang dijelaskan dan diuraikan dalam ensiklopedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kehadiran EKI di tengah masyarakat yang ‘tidak peduli’ dengan bahasa, barangkali demikian tantangannya ke depan. Tapi setidaknya, EKI akan mencari tempatnya tersendiri untuk dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bahasa sebagaimana dunia ini, terus mengalami perubahan. Dalam waktu yang sangat cepat, dalam bidang bahasa, pun akan mengalaminya. Artinya, dua atau tiga tahun mendatang, akan banyak istilah-istilah ataupun tokoh-tokoh kebahasaan yang hadir, lahir, terus berkembang. Istilah lama barangkali tidak lagi dipergunakan pemakainya. Namun, seperti kamus, kehadiran EKI akan mencatat dengan jelas setiap kelahiran tersebut. Ia akan menjadi semacam dokumentasi yang tidak dibawa oleh arus perubahan. EKI akan turut serta mengikuti perubahan itu sendiri, dalam edisi revisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan yang jelas adalah, bagaimana EKI bisa memberikan pengetahuan kepada semua orang—tidak hanya para linguis—untuk diambil saripatinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-323700440097017072?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/323700440097017072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/10/eki-mengumpulkan-kekayaan-bahasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/323700440097017072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/323700440097017072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/10/eki-mengumpulkan-kekayaan-bahasa.html' title='EKI, Mengumpulkan Kekayaan Bahasa'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sux5vjbUdnI/AAAAAAAAARQ/hEfGubVMu54/s72-c/eki+baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-7204007655278988549</id><published>2009-10-29T08:09:00.001-07:00</published><updated>2009-10-29T08:23:42.555-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Perpustakaan Penghubung Kebudayaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SumwficXoMI/AAAAAAAAARI/k3P9tCFDrVw/s1600-h/P1010087.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SumwficXoMI/AAAAAAAAARI/k3P9tCFDrVw/s200/P1010087.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398039684248477890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI NEGARA&lt;/span&gt; maju, perpustakaan sangat penting keberadaannya. Ia melambangkan sebuah peradaban, juga jadi pembeda antara bangsa maju dan terbelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ardoni Yonas, yang sehari-hari dosen Ilmu Perpustakaan dan Kearsipan (IIPK) Universitas Negeri Padang (UNP), bangsa yang maju adalah bangsa yang mementingkan perpustakaan. Di sana (perpustakaan—red), tak hanya ada ilmu, tapi juga tersimpan kekayaan-kekayaan budaya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika gempa yang melanda Sumatera Barat dan sekitarnya, yang turut menghancurkan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah yang tergolong koleksinya lengkap (Tipe A), Ardoni tak bisa menyimpan kegundahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang akan kehilangan informasi yang sahih,” tuturnya. Internet sebenarnya bisa menjadi sumber informasi, namun tak dapat dijadikan pegangan. Psikologinya, kata Ardoni, orang lebih nyaman memegang buku. Bisa dilihat di mana saja, dan dapat dibawa kemana-mana. Buku juga telah teruji kesahihannya. Internet sebaliknya, dan tak bisa disensor. Internet hanya berfungsi sekedar menambah wawasan, bukan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pentingnya perpustakaan, Ardoni Yonas membandingkannya apa yang diperbuat orang  di negara-negara maju. Mc Gafer, salah seorang detektif yang terkenal di Eropa, ketika memecahkan suatu masalah, tempat pertama yang ditujunya adalah perpustakaan. Di sana, ia membaca banyak hal. Sampai akhirnya ia bisa membuat sebuah kesimpulan dan melanjutkan tugasnya. Keluar dari perpustakaan, ia telah bisa menentukan sikap: apa yang akan diperbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Cina, negara yang beraliansi komunis, pada tahun 90-an bersidang untuk membahas arti penting perpustakaan. Disadari oleh semua anggota sidang, “Tanpa ilmu, ekonomi akan hancur.” Maka, dalam pembangunannya, Cina ‘doyan’ melengkapi perpustakaannya.&lt;br /&gt;Negara yang menyadari guna buku dan perpustakaan, lanjut Ardoni, mereka berlomba-lomba untuk membuat perpustakaan dan melengkapi koleksi bukunya. Begitu pentingnya sebuah buku, setiap terjadi peperangan di Irak, katanya, yang diserang adalah perpustakaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardoni kembali bersedih mengingat Perpustakaan Daerah yang telah hancur. Pikirannya menerawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penghubung Kebudayaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia tak lah seperti bangsa maju. Minat baca sangat rendah. Itu juga berlaku bagi masyarakat Sumatera Barat (Sumbar). Masyarakat belum terlalu butuh perpustakaan. Budaya lisan begitu kentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukan itu yang membuat Ardoni menerawang. Yang ia takutkan adalah, bahwa isi perpustakaan tak hanya buku. Di sana juga tempat tersimpannya aset kebudayaan. Perpustakaan adalah penghubung kebadayaan itu sendiri. 20 tahun yang akan datang, orang mungkin telah lupa dengan randai atau rabab. Tapi, perpustakaan tak akan pernah melupakannya. Di sana masih tersimpan arsip tertulisnya yang bisa dipelajari oleh generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang akan terjadi adalah, orang-orang akan salah paham dengan sejarah. Kalau tidak punya arsip tertulis, hal ini memungkinkan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini yang ditakutkan, kebudayaan itu akan terputus,” lanjutnya sambil mengisap dalam-dalam rokok mildnya yang hampir habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung yang hancur, baginya tidaklah terlalu dipermasalahkan. Gedung bisa dibangun dalam waktu yang cepat, tapi kebudayaan tak bisa dibangun linear dengan pembangunan fisik. Tapi apa yang akan terjadi, jika kita tidak punya lagi arsip lisan tentang sejarah Minangkabau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, tutur Ardoni yang sedang sekarang sedang memikirkan untuk melanjutkan studi doktornya itu, pengelolaan perpustakaan di negara ini jauh dari kondisi sempurna. Ini yang akan membuat lambat pembangunan gudang ilmu pengetahuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, lanjut Ardoni, kita memang belum peduli dengan pustaka. Beberapa hal menjadi indikator. Pertama, tuturnya, perpustakaan bergantung kepada pimpinan, tidak oleh profesional. Ia menyebut ada perpustakaan di daerah ini yang dibangun di tempat yang sepi, jauh dari keramaian. “La..siapa yang akan membaca?” Ketergantungan terhadap pimpinan, membuat perpustakaan tak terlalu dipedulikan. Sebab, pemegang kekuasaan masih terlalu memikirkan masalah ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah buku-buku yang tersimpan di perpustakaan kita,” lanjutnya. Banyak buku bermutu hanya ada  dalam bahasa Inggris. Ini berbeda dari apa yang terjadi di Jepang. Mereka di sana, mengutus masyarakatnya belajar bahasa Inggris ke luar.  Balik ke Jepang, mereka disuruh untuk translet buku-buku yang ada di perpustakaan ke dalam bahasa Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat baca masyarakat yang rendah butuh tenaga yang besar pula untuk mengelolanya. Lihatlah di perpustakaan-perpustakaan yang ada di Indonesia ini, lanjutnya, tenaga pengelolanya sangat sedikit sekali. Ditambah, jarang yang cakap terhadap urusan tersebut. Untuk membangun perpustakaan, memang butuh tenaga yang sangat besar.&lt;br /&gt;Karenanya, Ardoni kuatir, tali kebudayaan itu benar-benar putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perpustakaan di Daerah Rawan Gempa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan itu isinya buku. Kalau satu buku, itu tidaklah berat. Bila jumlahnya sampai seratus atau ribuan, itu  tak bisa dianggap ringan. Dalam membangun perpustakaan, itu penting menjadi pertimbangan. Apalagi di daerah yang rawan bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardoni yang telah berkunjung ke banyak perpustakaan di Indonesia ini, dalam pengamatannya, jarang perpustakaan yang dibangun tinggi.&lt;br /&gt;“Biasanya lebar,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menjadi pertimbangan adalah, dalam membaca, orang butuh kenyamanan. Jarak antara buku dengan orang, semestinya agak berjauhan. Makanya, perpustakaan yang ideal juga memperhatikan pembangunan gedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan yang dibangun lebar, bagi Ardoni, cocok untuk membangun perpustakaan kembali di Sumbar ini. “Jangan memikirkan berapa lahan tanah yang akan digunakan. Tapi bagaimana memikirkan menyelamatkan aset bangsa ini,” tutupnya. (Andika Destika Khagen)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-7204007655278988549?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/7204007655278988549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/10/perpustakaan-penghubung-kebudayaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7204007655278988549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7204007655278988549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/10/perpustakaan-penghubung-kebudayaan.html' title='Perpustakaan Penghubung Kebudayaan'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SumwficXoMI/AAAAAAAAARI/k3P9tCFDrVw/s72-c/P1010087.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-4930525276943165088</id><published>2009-07-11T05:11:00.000-07:00</published><updated>2009-07-11T05:19:10.143-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Tak Ambil Pusing di Kakus Pesing</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SliBvMAAH5I/AAAAAAAAAQ4/m99388oAWE0/s1600-h/toilet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 130px; height: 135px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SliBvMAAH5I/AAAAAAAAAQ4/m99388oAWE0/s200/toilet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357174404432273298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selama &lt;/span&gt;seminggu, Tim Nan Padek (Padang Ekspres) memasuki pasar, kampus, dan kantor pemerintahan. Bukan menemui pejabat. Tapi menuju sebuah tempat yang letaknya di belakang: kakus. WC. Tempat orang membuang sisa kotoran dari tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pasar Inpres II, di sana ada terminal bemo. Di atasnya, tempat orang berjual beli segala macam daging. Orang-orang sibuk berlalu lalang. Bila tak seksama melihat, maka kakus yang terletak persis di atas jenjang (dekat terminal bemo) itu tak terlihat. Letaknya memang menghadap ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakus itu terdiri dari tiga buah tempat untuk buang air besar dan 4 buah kran air. Pedagang pasar memanfaatkannya untuk pelbagai keperluan: buang air, wuduk, dan mencuci ember yang kotor. Namun, tak ada yang gelisah, sebab di kakus itu, saluran airnya tidaklah lancar. Air menggenang di segala penjuru. Pintu kakus itu pun menua dan terlihat lapuk.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lewat jembatan penyebrangan di lantai II Pasar Raya itu, kita menuju ke sebelahnya. Tukang jahit, pegawai salon, penjual kliping koran menunggu pembeli. Di sini tak seramai dibandingkan pasar raya di bawah. Ada yang kelihatan sedang main domino, biliar, sekedar menghabiskan hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakusnya berada di belakang. Seorang perempuan menunggui orang yang keluar dari kakus di depan meja persegi dengan uang receh dan seribuan. Orang-orang yang keluar dari kakus itu, memberikan uang sebesar Rp 1000. Kakus itu hampir sama kondisinya dengan yang pertama. Tempat pembuangan air tidak lancar dan bau pesing. Bedanya, di kakus ini, tidak ada pemisahan tempat untuk perempuan dan laki-laki. Hanya ada satu pintu masuk, baik untuk laki-laki maupun perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah bak yang tidak terlalu besar di dalamnya, dipergunakan bersama untuk wuduk atau mencuci kaki. 6 buah kamar tempat buang air besar di tempat yang sama. Siapa yang duluan, bisa masuk ke tempat tersebut. Karena air buangan yang tidak lancar, lantai di kakus ini becek, sedikt tak terawatt sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di lantai II tersebut, persisnya di dekat Padang Teater, ada lagi sebuah kakus—lagi-lagi letaknya di belakang. Agak sulit menemuinya karena letaknya yang tersembunyi. Ini kakus, lebih parah kondisinya dari yang dua tadi. Air yang keluar dari kran tidak lancar. Bak penampungan air tidak lagi dipergunakan. Sebuah ember besar yang telah berlumut, menampung air tersebut. Bau pesing di mana-mana. Meski di sebelahnya tempat orang salat, namun airnya tidaklah bersih. Bau yang tak sedap—seperti bau tanah—tercium dari air tersebut. Ada 4 buah kamar tempat buang hajat. Hanya dua yang dalam kondisi bisa dipergunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, barangkali ucapan seorang pedagang di Pasar Raya itu benar, namanya juga pasar. Tidak ada yang bersih di pasar, apalagi kakusnya. Ada saja sudah cukup, tidak perlu neko-neko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di tempat lain, yang diisi oleh kaum-kaum intelektual (baca: kampus), kondisi hampir seragam ditemukan. Di Pusat Kegiatan Mahasiswa UNP misalnya. Punya dua buah kakus. Air jarang mengalir. Tempat buang air besar tak bisa dipergunakan.&lt;br /&gt;Anti, salah seorang mahasiswa mengakatan, “Kalau tidak terpaksa benar, lebih baik buang air di kos saja.” Ia misalnya, pernah menemui (maaf) pembalut perempuan berserakan. Tak jarang ditemuinya, mahasiswa yang buang hajat, tak menyiramnya. Ini tentu menimbulkan bau yang lebih busuk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kakus dekat mushalla—masih di kampus tersebut—keadaannya lebih parah. Ada tiga buah kakus. Satu kakus tak lagi digunakan (rusak). Air lancar, tapi bak penampung air warnanya telah hitam. Tak pernah diganti. Tempat pembuangan air tidak lancar. Kotoran di mana-mana. Bau kencing sampai keluar. Mahasiswa yang kebetulan lewat di depan kakus itu, tak jarang menutup hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakus di rektorat UNP—letaknya di lantai dasar—meski tak sekotor yang tadi, tapi puntung rokok tampak berserakan. Keramiknya agak berlumut—kelihatannya sudah lama tak digosok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya malas masuk kakus di kampus,” begitu kata Rio, juga salah seorang mahasiswa di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat (PSIKM) FK UNAND, yang terdiri dari 3 lantai itu—di setiap lantai ada kakus. Kakus yang terletak di lantai dua, pintunya macet, air sering mati, dan bau pesing. Hingga, kakus ini jarang dipergunakan oleh mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak saja di Fakultas Kedokteran, bila kita berkunjung ke Kampus Unand Limau Manih, kita akan ditemui dengan fenomena yang sama. WC yang tidak terawat, tidak bisa digunakan, air yang tidak mengalir, dan seterusnya. Bahkan, banyak di antara wc itu yang di tutup dan tidak dipergunakan lagi, terutama di gedung-gedung kuliah bersama. Begitu pula dengan dekanat, wc-nya juga sering tidak dialiri air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru UNP dan Unand, sebagai universitas ternama di Sumbar, belum lagi kalau kita berkunjung ke kampus-kampus lain. Sepertinya, wc bukan hal krusial bagi para intelektual tersebut untuk dibenahi. ”Sarjana jebolan wc rusak,” kata seorang mahasiswa jutek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, kita—entah pemerintah atau diri sendiri—tak memperdulikan ini. Kita, kata Masoed Abidin—yang akrab disapa Buya itu—tak tahu cara kencing yang benar. Kita masih saja tak menyiram bila kencing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa saja karena kita tak mendapatkan pendidikan. Dulu, semasanya, Buya bilang, di sekolahnya diajarkan latihan gotong royong. Diajarkan pula di mana membuang sampah. Meski kelihatan sepele, tapi itu akan membentuk karakter orang untuk lebih beraturan. Sekarang, sekolah tidak mengajarkan hal yang remeh temeh itu lagi, juga masalah kencing. Di rumah tidak, di surau bukan. Makanya, orang buang air sekehendak hatinya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga sebuah pertanda, orang tak salat dengan baik. Orang salat itu kan bersih. 5 kali membersihkan diri sehari. Semestinya itu terbawa dalam kegiatan sehari-hari.&lt;br /&gt;Perlu ada komitmen dari pemerintah kita serta masyarakat kota yang mendidikkan bagaimana cara buang air dari tubuh yang benar. Guru-guru juga penting mengajarkan kepada anak didiknya tentang hal itu. “Karena saya takutkan,” lanjut Buya, “seribu tahun ke depan, masyarakat kita tetap tidak tahu cara kencing yang benar.”&lt;br /&gt;Pemahaman masyarakat, begitu menurut sosiolog Unand, Damsar. Pemahaman masyarakat tentang hidup sehat perlu diperhatikan. Sebab, ini akan mempengaruhi juga bagaimana menjadikan kakus umum itu bersih dan higienis. Dengan kebiasaan hidup sehat, masyarakat tahu dan mengerti kalau kakus yang jorok tersebut merupakan sumber penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban berikutnya ada di pundak pemerintah. Pemerintah tak boleh tinggal diam. Pemerintah seharusnya mengalokasikan dana untuk pemeliharaan dan perbaikan kakus umum tersebut. Selain itu, pemerintah juga mesti mengevaluasi pengelolaan dan pemeliharaan kakus tersebut.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Penulusuran Padang Ekspres berakhir di Balai Kota Padang. Terbesit pikiran, ini tak seperti yang ditemui semula. Kakus di sini tentu tak seperti yang ditemui di pasar raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kakus lantai dasar Balaikota tersebut, kakus untuk perempuan terkunci rapat. “Rusak,” kata seseorang yang lewat di sana. Di kakus laki-laki, ada tiga buah tempat buang air besar. Satu rusak. Cuma ada satu tempat penampungan air dari tiga kakus tersebut. Bila dua orang karyawan sama-sama tersesak buang air besar, mesti antre. Sebab, penampungnya hanya ember. Itu pun cuma satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air di kloset mengalir dengan lancar. Tapi kloset tersebut, sepertinya jarang disentuh. Berlumut. Lima buah kran ada di sana, tiganya rusak. Di sekitar kakus itu, keramiknya tak terawat dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, ini merupakan cermin, kita terlalu menganggap sepele. Hal di atas, hanya contoh kecil. Hampir setiap kantor, sekolah dan WC umum, keadaan WC-nya tidak bersih. WC umum, menurut pengamat kebijakan publik Eka Vidya Putra, “Khususnya untuk WC umum, orang kan bayar. Berhak mendapatkan WC yang bersih. Sekali kencing seribu, harusnya setimpal dengan pelayanan WC bersih.” Atau, jangan-jangan, kita terbiasa dengan yang pesing, sehingga tak perlu ambil pusing!!! &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Andika Destika Khagen/Gusriyono/Nilna R Isna)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang Ekspres, 5 Juli 2009&lt;br /&gt;sumber foto: ajinitisuwito.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-4930525276943165088?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/4930525276943165088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/tak-ambil-pusing-di-wc-pesing_11.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4930525276943165088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4930525276943165088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/tak-ambil-pusing-di-wc-pesing_11.html' title='Tak Ambil Pusing di Kakus Pesing'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SliBvMAAH5I/AAAAAAAAAQ4/m99388oAWE0/s72-c/toilet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-3854367229492630673</id><published>2009-07-06T00:17:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T00:21:24.025-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjektif'/><title type='text'>Ironi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AKHIR-AKHIR&lt;/span&gt; ini, sepertinya kita terbiasa dengan banyak ironi. Di sekeliling, bertebaran janji-janji; hal-hal baru, menyalahkan yang lama. Sepertinya, itu akan terjadi pada masa depan. Bila ironi diartikan sebagai kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau seharusnya terjadi (pengertian kamus), maka benar, ini adalah ironi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelbagai debat yang kita dengar, sebelum tanggal 8 Juli nanti, walau berbeda, sebenarnya satu pendapat: meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia. Tapi, apakah itu akan terjadi? Tidakkah kekuasaan itu membuat orang menjadi maruk? Banyak orang yang curiga, ini hanya bagian dari ironi yang besar. Mengobok-obok rakyat dengan gula-gula yang manis itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, jangan-jangan, kita perlu curiga, kita sudah terbiasa bergelut dengan ironi? Begitu biasanya, kita tak perlu lagi memikirkannya. Biarlah, toh tak akan berubah keadaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, bahaya besar dari ironi adalah sikap skeptisme. Tak mau peduli dengan apa yang terjadi (berpura-pura peduli). Atau sebaliknya, karena ironi sudah terlalu biasa, menjadi berlebihan. Mudah sekali memukul orang, sangat gampang mengucapkan kata-kata yang membuat orang lain tersinggung, dan mudah mengumbar janji, tak perlu ditepati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? karena semua orang sudah kenyang dengan ironi. Bisa jadi berlebihan. Dan di negara dengan ironi berkembang pesat, etika, budi pekerti, dan nilai bukan lagi hitungan yang perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi tumbuh pesat di saat kepastian tak ada, kalau bisa dikatakan tak mungkin. Menggapai yang tak bisa, lalu dijanjikan, akan melahirkan ironi. Lalu diumbar-umbar, dipaksa bisa, menggebu-gebu (persis seperti kampanye), lalu diam, dan bersembunyi di balik keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang sah mengejek, merendahkan harkat orang lain. Yang paling penting adalah tujuan. Toh, di negara dengan ironi besar, memang tak butuh bukti? Ajarannya seperti ini, “Berjanjilah untuk menang.” Memang, yang dibutuhkan hanya itu. Untuk mengalahkan lawan, sikut saja. Kapan perlu, jelek-jelekkan. Burukkan citranya kepada publik. Buat lawan terhina. Tersenyumlah bila menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan telah tercapai. Karena ini negara hidup dengan ironi—rakyatnya juga seperti itu—kembaliah ke tujuan awal. Mengalahkan musuh. Membuatnya tak berkutik. Janji? Nanti dulu. Banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan segera. Rakyat tak akan berontak. Karena mereka selama ini telah dibesarkan dengan ironi-ironi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, rakyat pun tak peduli. Kontrol hanya basa-basi agar dilirik kekuasaan. Negara dengan banyak ironi mengajarkan, “Berpandai-pandai.” Tak ada yang namanya hutan yang hijau, laut yang kaya dengan terumbu karangnya, dan petani-petani yang berjasa.” Yang ada hanya uang, tahta, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kita semua ternyata adalah ironi itu sendiri. Di keseharian, kita tidak bisa tepat waktu, misalnya. Berjanji dengan relasi pukul empat sore, terlambat setengah jam. Masuk kantor pukul delapan, tiba pukul sepuluh. Padahal, itu mudah dilakukan. Yang menjadi masalah adalah, ironi tadi. Tak mau menepati, sebab, terlambat datang setengah jam sudah biasa. Sangat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan-kebiasaan ini kemudian menjadi keseharian. Dilakukan banyak orang. Berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dilakukan tukang becak sampai pejabat tinggi. Mulai dari pembantu rumah tangga sampai mentri. Berkembanglah ironi: sesuatu yang mungkin (harus)  dilakukan, tapi tak terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menumbuhkan kepercayaan di tengah ironi? Barangkali tak mudah (atau tak mungkin?). Bila kepercayaan itu benar yang tak ada dalam diri, semua hal rasanya tak bermanfaat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, kita—yang sudah terbiasa dengan ironi tadi—dipaksa keluar dari itu semua. ‘Dipaksa’ percaya, dibuat tak berdaya oleh keadaan. Berseliweranlah hal-hal yang kemudian dicibirkan, pada akhirnya mencibirkan diri sendiri. Barangkali semakin benar, negara dengan ironi yang dirawat sehingga tumbuh besar, akan selalu menjadi kerdil, dan tak diperhitungkan. Permasalahannya hanya itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dihadapan kita sekarang, ironi-ironi itu tengah berkembang!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-3854367229492630673?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/3854367229492630673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/ironi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3854367229492630673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3854367229492630673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/ironi.html' title='Ironi'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-7229129035512087377</id><published>2009-07-06T00:06:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T00:13:50.952-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Siapa Pewaris Seni Tradisi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGi_kTR2rI/AAAAAAAAAPI/duA9GW0ldwo/s1600-h/_dsc1847.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 157px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGi_kTR2rI/AAAAAAAAAPI/duA9GW0ldwo/s200/_dsc1847.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355240644880226994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KETIKA&lt;/span&gt; Marlis mengajak anaknya nonton randai, sang anak bertanya, “Apaan sih asyiknya?” Marlis tidak menjawab. Ia menceritakan sekilas saja, bahwa randai itu kesenian tradisional  Minang, yang menarik untuk ditonton. Sang anak akhirnya ikut. Ketika pertunjukan dimulai, sang anak yang baru kelas I SMA itu, mencoba memperhatikan dengan serius. Setelah itu, ia asyik mengirim dan menerima sms dari temannya. Setengah jalan pertunjukan randai, ia bilang, “Yah, pulang yuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, di tempat lain, pada sebuah rumah, seorang perempuan berusia 60-an, menyalakan televisi. Ada acara saluang di televisi lokal. Tapi, ketika itu anak dan cucunya minjam remot, dan mengalihkan ke acara musik di televisi swasta nasional. Sang nenek marah, “Sini, sini remot itu. Kalian saja yang nonton….” Sang cucu merengut pergi, sembari bergumam lambat, “Kolot!” Ilustrasi di atas, sebuah gambaran sederhana, yang ada di tengah masyarakat kita. Pertunjukan seni tradisi, lengang penonton. Beberapa di antaranya, untuk seremoni pejabat pemerintah, setidaknya untuk penjawab tanya dan bahan pidato, kalau kita tetap mencintai kesenian tradisi kita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Marliani, mengakui, memang dia tak pernah punya keinginan khusus untuk menonton pertunjukan seni tradisi. Dulu, waktu masih kecil (kini dia berusia 47 tahun), kalau ada tetangga baralek, biasanya mengundang rabab atau saluang. Dia melihat banyak orang menikmati. Kini, kalau ada usulan baralek mengundang rabab atau saluang, banyak yang mematahkan. Diganti organ tunggal. Tak ada nilai budaya di situ. Kini, kalaupun ada orang barabab atau saluang, ia mengaku jujur, tidak pernah menyarankan anaknya untuk nonton dan kenal. “Wajar kalau seniman tradisi dan pertunjukan kesenian tradisi semakin hari, kian jarang kita lihat….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak di antara kita lebih memilih nonton tayangan konser atau sinetron jika dibandingkan dengan acara seni tradisi minangkabau. Jojo (24), misalnya, dia mengatakan bahwa konser dan sinetron lebih mengasyikan. Kemudian ia menyebutkan alasan bahwa ia tidak tertarik pada seni tradisi kerena memang tidak diajarkan untuk tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana bisa tertarik kalau di jam sekolah mata pelajaran kesenian tradisi hanya jadi ban serap pelajaran lainnya,” ujarnya. Selain itu dalam sekolah cara menyampaikan pelajaran seni tradisi itu juga tidak menarik. Tak ada yang membuatnya terkesan, lantaran pengajarnya tak kalah kurang mengerti tentang apa yang diajarkannya. Ia tidak menyangkal bahwa ketidakpahamannya ini membuatnya berjarak dengan tradisi itu sendiri. Walaupun terlibat dengan beberapa aktivitas seni pertunjukan tradisi, ia masih saja tidak ada keinginan untuk menggali lebih dalam lagi. Keterlibatan yang terjalin juga lantaran ia memainkan kesenian tradisi yang telah terhybrid dengan aransemen modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang sama juga diungkap Heri Faisal (20), yang kurang tahu dengan seni tradisi, tapi ia senang sesekali menontonnya. Baginya ada sesuatu yang baru ketika menonton seni tradisi, misalnya tabuik. Tetap saja bila diberi pilihan menonton musik kontemporer atau musik tradisi, Heri lebih suka menonton musik kontemporer di televisi dari pada tayangan yang bebau seni tradisi. Sebab baginya musik kontemprer lebih variatif, dan mengasyikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warti (30), ibu dua anak ini menyebut seni tradisi sebagai seni yang berhubungan dengan nuansa tradisional. Karena ia sendiri tidak diberikan pengetahuan dan pengalaman tentang seni tradisi, ia juga tidak terlalu memberikan anaknya pengetahuan tentang seni tradisi. Kalau di suruh untuk menonton seni tradisi atau sinetron, maka ia akan memilih menonton sinetron. Ia tidak memiliki banyak pengetahuan tentang seni tradisi, itu akibatnya ia tidak merindukannya. Begitu pula dengan Devi (27), karyawan swasta ini berpendapat seni tradisi adalah seni masa lalu. Ia lebih suka menyaksikan konser dari pada harus menonton tayangan seni tradisi. Ia tidak tertarik pada seni tradisi karena tidak  diajarkan bagaimana untuk mencintai seni tradisi. Waktu di sekolah dulu ia hanya mendapatkan seni tradisi sebagai sebuah mata pelajaran tambahan namun dianggap tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keadaan yang demikian, wajar kiranya seni tradisi semakin meredup dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Hasannadi, dosen dan peneliti budaya Minangkabau, mendasarkan ini pada kebutuhan masyarakat akan seni tradisi tersebut. Di mana bagi masyarakat sekarang menonton atau mempelajari seni tradisi bukan lagi sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan akan hiburan ini bergeser pada seni-seni alternatif atau kontemporer, meski, pada orang tua-tua, kerinduan terhadap seni tradisi ini masih muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, persoalan pelik pada generasi muda menyangkut identitas. Bahwa, identitas ditentukan oleh hal-hal prestisius yang disuguhkan kepada masyarakat. “Selain itu, proses pewarisan seni tradisi yang tidak diiringi dengan transformasi nilai-nilai, serta kepercayaan diri pewaris dalam menghadapi tantangan hidup berkesenian,” tutur Hasannadi. Melanjutkan penjelasan Hasannadi, Tulus Handra Kadir, dosen Sendratasik UNP, mengatakan,” Terlalu cepat kalau kita mengatakan bahwa seni tradisi itu tidak dipedulikan lagi oleh generasi sekarang. Untuk saat ini masih ada orang yang minat masuk sanggar, bersekolah di sekolah atau universitas seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya yang mungkin ada adalah bahwa apresiasi terhadap seni tradisi itu belum sampai pada generasi sekarang, sehingga generasi mencerna sendiri apa yang dia lihat, apa yang mereka pahami. Sebagian dari mereka tidak begitu paham dengan esensi-esensinya. Sehingga dia hanya melihat bahwa seni itu hanya sebagai hiburan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai seni tradisi selama ini tidak teraktualisasikan sehingga tak dipahami akan arti pentingnya kesenian tesebut. Ada permasalahan yang krusial, apalagi jika permasalahan itu dikaitkan dengan proses pendidikan. Nilai-nilai yang mungkin dahulu pernah ada dalam kesenian pendahulunya, sekarang mungkin tidak terasa lagi. Orang dahulu kesenian adalah bagian dari kehidupannya. Mungkin tidak terjadi lagi pada generasi saat ini. ”Sekarang esensi itu sudah lain karena sebagian besar nilai sudah diambil alih oleh sistem pendidikan formal. Sehingga apa yang tersisa? Ya, yang tersisa aspek hiburannya saja. Bukan esensi dari seni tradisional itu. Sehinga yang diperlukan itu adalah pewarisan dengan pemahaman esensi seni tradisi itu,” sambung Tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dicabutnya kebudayaan dan kesenian dari departemen pendidikan ke departemen pariwisata saat ini akan sangat mempengaruhi perubahan cara generasi muda dalam melihat kesenian tradisi ke depan, yakni negara telah merubah kebijakan status kesenian menjadi barang yang bisa diperdagangkan, aset yang bisa dijual kepada turis. Kalau dulu kesenian adalah bagian dari budaya untuk membina bangsa, di bawah naungan pendidikan. Kondisi inilah yang akan membentuk cara generasi melihat seni tradisi. Jadi, lagi-lagi pendidikan adalah aspek yang paling krusial dalam membentuk pemahaman yang ideal tentang seni tradisi di ranah Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyoal siapa pewarisnya, sebenarnya pewaris seni tradisi itu tidak akan pernah hilang, ia mungkin hanya menemukan bentuk baru, dengan merujuk dari bentuk yang lama. ”Namanya ivented tradition.  Memang, mungkin seni tradisi itu hanya seperti sebuah penanda identitas, simbol kedaerahan untuk selanjutnya. Bukan pemahaman substansionalnya. Tapi inilah kenyataan seni tradisi di Minang kabau. Sakali aie gadang, sakali tapian barubah. Seni tradisi diminang juga seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena faktor sosiokulturalnya yang membentuk arah dan orientasi seni tradisi tersebut,” papar Tulus lagi, dengan mencontohkan alat musik talempong. Saat ini orang memainkan seni yang secara fisiknya saja, bukan secara esensinya lagi. Namun kondisi ini bukanlah kesalahan mereka karena mereka tidak mengalaminya lagi konteks talempong yang dulunya adalah sebuah pamenan masyarakat agraris Minang setelah panen.  Seiring dengan itu, budayawan Bagindo Fahmi berpendapat, “memasukkan unsur modern itu bagus, tapi kalau tidak memiliki pengertian yang jelas tentang modern itu, inilah nantinya yang akan menyebabkan kehancuran pada nilai-nilai tradisi yang ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah ideal bisa dilakukan agar seni tradisi diminati dan dipahami nilai dan maknanya. Seperti yang ditawarkan Aldi, mahasiswa STSI Padangpanjang, “Membangkitkan kembali selera seni tradisi dalam masyarakat Minangkabau, itu semangat yang mesti kita usung. Wujudnya bisa saja dengan menggalakkan atau mengadakan pertunjukan rutin untuk membangkitkan semangat itu. Serta merevitalisasi kampung-kampung yang menjadi basis seni tradisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan Bagindo Fahmi, pekan budaya yang diadakan Dinas Pariwisata dengan UPTD Taman Budaya Sumbar tiap tahun, sebenarnya menjadi lahan yang ideal untuk membangkitkan semangat berkesenian daerah. Namun, ini belum berjalan sebagaimana mestinya. “Hendaknya pekan budaya menghadirkan seluruh budaya daerah yang ada di Sumbar, kemudian adakan diskusi di antara pelaku seni tradisi itu, bagaimana kita memelihara seni tradisi ini agar tetap bertahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Hasannadi lebih menekankan pada upaya mengaktifkan peran unsur masyarakat nagari. “Peran elit nagari seperti ninik mamak dan unsur lainnya sangat dibutuhkan dalam menumbuhkembangkan seni tradisi di nagarinya. Sebab, mereka adalah orang-orang yang berpengaruh di masyarakat dan diikuti.”&lt;br /&gt;Walau bagaimanapun, kelangsungan hidup seni tradisi tetap menjadi tanggung jawab bersama. Sejatinya, peran semua unsur menjadi bagian yang tak terelakkan. Mari berbenah.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Gusriyono/Andika Destika Khagen/Fadli Akbar) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;f: ruangfoto.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang Ekspres, 14 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-7229129035512087377?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/7229129035512087377/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/siapa-pewaris-seni-tradisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7229129035512087377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7229129035512087377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/siapa-pewaris-seni-tradisi.html' title='Siapa Pewaris Seni Tradisi?'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGi_kTR2rI/AAAAAAAAAPI/duA9GW0ldwo/s72-c/_dsc1847.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-9104054929321537182</id><published>2009-07-05T23:47:00.002-07:00</published><updated>2009-07-06T00:00:15.928-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>LADANG: ASKETISME ORANG KALAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGgXt266RI/AAAAAAAAAPA/-FWP3vvYkxw/s1600-h/pinangan-orang-ladang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 212px; height: 159px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGgXt266RI/AAAAAAAAAPA/-FWP3vvYkxw/s200/pinangan-orang-ladang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355237761227614482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pengarang: &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Esha Tegar Putra&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penerbit: &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Framepublishing&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cetakan: &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mei 2009 &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ukuran: &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;120 halaman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seberapa&lt;/span&gt;  tegar seorang lelaki memasuki dunia sunyinya, dunia masa tua, dunia yang dipenuhi kenangan “kegemilangan” masa lalu? Apa akibatnya bila manusia mengabaikan dimensi abadi hidupnya? Bagaimana caranya membunuh sunyi, dengan sebentuk keraguan-raguan eksistensial, yang terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan? Dan, keputusasaan. Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai dan memasuki kehidupan otentik, yang diidamkan, memang tidaklah mudah. Setiap orang memiliki pandangan hidup, yakni cara melihat dan bertindak dalam dunia, yang berbeda dalam konsep dan terapan. Cara pandang ini memuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang paling didambakan di dunia, apa yang paling bernilai, apa yang sebenarnya dikejar, bagaimana mewujudkan tujuan, dan sebagainya. Jawabannya pastilah beragam. Berbeda-beda. Tergantung pada siapa yang memberikan jawaban. Boleh jadi, hal yang paling diburu di dunia adalah kekayaan. Atau kebahagiaan. Tapi, tidak menutup kemungkinan, ada yang memilih kehormatan, cinta kasih, atau kedamaian hari tua sebagai jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, kita kerap mencampuradukkan atau menyamaratakan antara keinginan dengan tujuan hidup. Akibatnya, tujuan hidup pun tak lebih dari bertumpuk keinginan untuk mencari kekayaan sebanyak mungkin, atau tersohor, dan bahkan menjadi seorang yang “dihormati”. Maka, seorang politikus akan berusaha memenangkan pemilu atau mendapatkan jabatan dengan “penghalalan” segala cara. Seorang sastrawan atau ilmuwan berkeras menerbitkan buku dan melahirkan masterpiece sebanyak mungkin biar semakin populer. Bahkan, tak jarang, ada artis mencoba merambah ranah yang sangat “jauh” dari latar keilmuannya. Padahal, segala berhala dunia itu, baik material maupun immaterial, akhirnya akan berlepasan dan bertanggalan satu demi satu seiring dengan laju pertambahan usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang didedah secara cerdas oleh Esha Tegar Putra dalam kumpulan puisinya, Pinangan Orang Ladang yang berisikan 76 puisi dari tahun 2006-2008. Ia secara meyakinkan tampil sebagai sosok penyair yang lahir dari kekentalan tradisi Minang. Di satu sisi, ia menyerap estetika pantun, gurindam, dan peribahasa dalam penuangan gagasan estetiknya. Pada sisi lain, lewat beberapa puisi, ia berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara  “orang menang” dan “orang kalah” dalam konstelasi adat Minang masa kini. Selain itu, juga membangun pengamsalan perihal segitiga “surau-lepau-rantau” dalam riwayat hidup kekinian. Bahkan, ia menawarkan satu alternatif baru: ladang. Ladang bisa menjadi tempat para lelaki membangun rumah, bersunyi-sunyi, dan menikmati kenangan kegemilangan masa lalu dalam bangunan ingatan. Ladang, dengan segala sepinya, bisa pula menjadi tempat sembunyi dari gunjing-cela dan olok-olok orang sekampung. Orang rantau sebagai pemenang dan orang ladang sebagai orang kalah adalah dua wajah berbeda, bagai “loyang” dan “emas”. Begitulah, Esha menawarkan ladang sebagai tempat mentafakuri kekalahan. Akan tetapi, sesederhana itukah pencapaian estetis penyair kelahiran Solok ini? Tentu saja, tidak. Banyak hal baru yang bisa kita temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah pentingnya lelaku kepenyairan membutuhkan berbagai penggalian dan pencarian, baik kelaziman bentuk maupun kedalaman estetika, bahkan pemberontakan pada tradisi kepenyairan. Maka, semakin berlama-lama kita mengupas setiap demi setiap sajak dalam antologi ini, semakin bertemu keindahan bunyi, kelezatan puitik, dan keragaman diksi yang dikemas dengan telaten untuk menunjukkan eksistensi sosok seorang penyair yang baru “sering” berpuisi pada akhir 2005. Berpuisi, bagi Esha, adalah laku ketelatenan, keseriusan, dan kesungguhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garapan gagasan, sebagaimana diungkap Damhuri Muhammad ketika membedah antologi ini (Wapres Jakarta, 27/5), adalah wilayah unik bagi penyair seusia Esha. Ada asketisme orang kalah. Pesimisme “orang rantau” yang kembali ke kampung halaman sebagai “orang kalah”. Keputusasaan karena kekalahan itu tidak bisa sepanjang hari dieramkan di surau, apalagi di rumah yang setiap kamarnya sudah dikuasai oleh kaum perempuan. Sementara, lepau hanya bisa menyuguhkan rasa nyaman pada malam hari: ratap mana yang kau timpakan, ini sakit menjadi berlapis-lapis/ di ceruk malam aku menjadi sesuatu yang lain/ seuatu yang asing (Putus:71). Dan, siang merupakan siksaan bagi “orang kalah” itu. Maka jadilah ladang sebagai tempat persembunyian: di ladang kita berpandang, bersahutan suara, saling berebut tali puisi (Garis Ladang:50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang tersisa dari orang yang “sudah mengaku kalah” dan memilih ladang untuk bersunyi-sunyi diri? Yang ada adalah kepuasan dan ketidakpuasan, rasa terpenuhi dan frustasi, juga sisa semangat dan keputusasaan: lelaki yang tersudut di ujung pisau pancung/ menasbihkan rindu pulang/ berkali-kali (Kuala Lengang:53). Namun, tidak berarti tak ada lagi “harapan hidup”, bahkan masih tersisa keinginan menyunting gadis impian: bukan meminangmu kungerikan/ tapi sepulau cinta yang bakal karam/ sebab jalan hilang pijakan (Pinangan:59). Bagi lelaki Minang, yang pulang dari rantau dan dipaksa keadaan memilih ladang sebagai persinggahan akhir, maka ketakutan dan keputusasaan menghadapi ketidakpastian masa depan, justru lebih mengerikan daripada sekadar penolakan atas pinangan yang diajukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Esha sedang dijangkiti kegelisahan lantaran sekian banyak lelaku kepenyairan mutakhir ternyata gagal mengantarkannya pada kenikmatan berpuisi. Itu sebabnya ia meneruka jalan baru, yang meski terpaksa banyak menggunakan kata-kata janggal, tapi pasti menghulu ke kedalaman estetika. Diam-diam Esha meramu sajak-sajaknya menjadi sebentuk “kamus baru” guna menggiring pembaca mencari sendiri makna kata yang berasa asing dan janggal itu. Berulang kali diri membilang bunyi piring diketuk kulit damar/ saluang ditiup pula oleh para penghela dendang. Di mana rahasia/ kejadian lama disurukkan? Di salempang induk beras, di kopiah/  tuan kopi atau di saku baju para penggetah burung rimba? (Penari Piring:88). Saluang-disurukkan-salempang-kopiah-penggetah: kata-kata yang tidak akrab dan tidak lazim digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahkan dalam puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, jika sang penyair tidak berhati-hati, kedalaman makna yang diharapkan menjadi inti, menjadi substansi, bisa jadi terposisikan hanya sebagai sisipan, suplemen, atau pelengkap belaka. Akibatnya, kedalaman yang dijanjikannya, sebagaimana lazimnya banyak puisi, sukar untuk diselami. Apa yang dilakukan Esha patut mendapat apresiasi, dan semoga bisa membangun ruang baru bagi “jalan kepenyairan”. Bukankah puisi tidak semata keindahan bahasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KHRISNA PABICHARA,&lt;/span&gt; p&lt;span style="font-style: italic;"&gt;enyair dan motivator pembelajaran, tinggal di pinggiran Jakarta. Selain menyunting buku, juga menulis buku motivasi, sajak, esai sastra, dan resensi buku. Saat ini berkhidmat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan sajaknya, Mozaik Berahi, sedang dalam proses terbit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang Ekspres, 21 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-9104054929321537182?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/9104054929321537182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/ladang-asketisme-orang-kalah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/9104054929321537182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/9104054929321537182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/ladang-asketisme-orang-kalah.html' title='LADANG: ASKETISME ORANG KALAH'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGgXt266RI/AAAAAAAAAPA/-FWP3vvYkxw/s72-c/pinangan-orang-ladang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-8276318664615433779</id><published>2009-07-05T22:07:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T22:09:57.912-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Soal Posisi Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGG_EOttQI/AAAAAAAAAOw/3L4sLO2FqOQ/s1600-h/0905200835309144.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGG_EOttQI/AAAAAAAAAOw/3L4sLO2FqOQ/s200/0905200835309144.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355209849945568514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul buku  : Tuhan telah Memutuskan&lt;br /&gt;Penulis  : Free Hearty&lt;br /&gt;Penerbit : Jendela&lt;br /&gt;Cetakan : I, Safar 1430 H/Februari 2009&lt;br /&gt;Tebal  : 272 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fretty, seorang perempuan yang begitu percaya dengan nasehat ibu, nenek, dan mertuanya. Posisi perempuan di hadapan lelaki adalah sebagai pengabdi. Perempuan tak berhak menggugat. Mereka—kaum perempuan itu—tidak boleh tidur, sebelum suami pulang kerja. Bahkan, bila sedang melaksanakan salat sunat, lalu mendengar suami pulang kerja, wajib bagi perempuan membukakan pintu lebih dulu kepada suami (hal. 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diam, timbul gugatan-gugatan terhadap apa yang diterima. Kenapa posisi perempuan lebih rendah? Kenapa perempuan tak boleh menggugat? Timbul pemberontakan-pemberontakan dalam diam Fretty. Tapi ia tak mampu berbuat apa. Ia menerima saja yang ada.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fretty tersadar, ketika Junedi tak seperti yang ia kira. Tak sesuai dengan nasehat ibu, nenek, dan mertuanya itu. Komunikasi yang jarang di rumah dengan suaminya, membuat ia tak pernah tahu, bahkan pekerjaan suaminya di luar. Suaminya selingkuh. Tapi Fretty masih bertahan dengan kondisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Telah Memutuskan, menggali, bahkan menggugat posisi perempuan. Tak hanya dalam rumah tangga, tapi juga posisinya di antara lelaki. Siapa sebenarnya makhluk yang bernama perempuan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, perempuan ditampilkan tidak memiliki status inferior. Ini pun disebabkan oleh kaum perempuan itu sendiri yang begitu pasrah menerima citra mereka yang tidak menguntungkan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pikiran kita kembali pada masa lalu, sepertinya ini lazim terjadi. Toh, memang pikiran tokoh utama sangat dipengaruhi oleh masa lalu: melalui nasehat-nasehat ibu,nenek dan mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya A. Discourse on Political Economy (1755), filsuf Jean Jacques Rousseau juga secara konsisten memandang perempuan sebagai makhluk inferior dan tersubordinasi. Tujuan hidup mereka hanya untuk melayani laki-laki. Karena itu, mereka tidak mungkin atau tidak akan mampu melebihi laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Free Hearty, barangkali hendak menggugat ketertindasan-ketertindasan yang terjadi pada status ke-perempuan-an mereka. Namun di sisi lain, ia juga mempertanyakan masalah kodrat. Ada titik ambiguitas ketika perempuan dihadapkan pada status mereka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Saras sepertinya mewakili sosok perempuan yang ideal: pintar, tak terikat dengan kasur, sumur, dapur, serta mampu berbuat laiknya seperti lelaki—bahkan melebihi. Tapi ia bukan tanpa cela. Saras seorang lesbi. Di balik keberhasilannya mengangkat harkat perempuan, ia tak bisa melawan sisi jiwanya yang lain: bahwa ia tak tertarik dengan laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini, dengan sudut pandang seorang perempuan pula, memang secara eksplisit dan terang mengkritik perempuan, menyanjungnya, dan mempertanyakan hakekat-hakekat keperempuanan. Novel ini cocok dibaca oleh orang yang ingin menjadi perempuan yang tahu akan hak dan batasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan dalam Rumah Tangga &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Telah Memutuskan kaya akan nasehat-nasehat terhadap kaum perempuan, terutama dalam rumah tangga. “Jadi, kehidupan rumah tangga itu sebenarnya terletak kepada bagaimana orang-orang di dalamnya melaksanakan tanggungjawab, begitu kan Wit?”. Dialog ini barangkali menyampaikan pikiran sang penulis bagaimana menghadapi rumah tangga. Dialog ini secara tersirat menyampaikan pesan kepada semua kaum perempuan: di dalam rumah tangga, tanggungjawab tak hanya milik perempuan saja, tapi juga suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tangga akan menjadi seperti yang diharapkan, bila ada saling mengerti. Terjadi hubungan yang harmonis, dan saling menghargai. Ini diperlihatkan pada bab akhir. Tokoh Freety hidup bahagia dengan suaminya yang baru: Martin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martin adalah sosok lelaki ideal (dalam kehidupan nyata, sepertinya sulit ditemukan lelaki seperti Martin). Ia seorang lelaki yang pintar membangun rumah tangga. Martin, kepada anak-anak Freety mengajarkan untuk tidak saling membenci. Kehidupan mereka tidak dibahas lebih jauh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perempuan-perempuan yang ditampilkan dalam novel ini: Freety, Saras, Wita, dan anak-anak mereka, merupakan contoh sosok perempuan yang sebenarnya. Akhirnya memang, mereka semua hidup dengan pilihan mereka masing-masing. Freety bahagia dengan rumah tangga barunya. Wita memutuskan menikah—sebelumnya ia selingkuh dengan Junaedi, suami Freety, dan Saras menerima keadaannya yang lesbi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang merupakan inti dari persoalan-persoalan perempuan tersebut adalah, bagaimana mereka berjuang dalam menghadapi ketertindasan-ketertindasan disebabkan status keperempuanan tersebut. Perempuan yang berhasil adalah, bagaimana mereka memaknai masalah-masalah yang terjadi. Karena permasalahan-permasalahan yang terjadi, cenderung beragam. (Andika Destika Khagen)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-8276318664615433779?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/8276318664615433779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/soal-posisi-perempuan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8276318664615433779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8276318664615433779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/07/soal-posisi-perempuan.html' title='Soal Posisi Perempuan'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlGG_EOttQI/AAAAAAAAAOw/3L4sLO2FqOQ/s72-c/0905200835309144.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-6803980363585587597</id><published>2009-06-19T02:12:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T02:16:23.173-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Guru Hasim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtXQrqjowI/AAAAAAAAAOo/oUIrCVPNBNQ/s1600-h/1guru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 176px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtXQrqjowI/AAAAAAAAAOo/oUIrCVPNBNQ/s200/1guru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348964926543340290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Persendiannya&lt;/span&gt; terasa lelah. Tiba-tiba ia merasa tak berarti. Tas kulit yang menemaninya 30 tahun, dilempar tanpa iba. Ia mengantuk. Tapi matanya tak akan terpejam malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperbiarkan saja matahari senja masuk ke dalam ruang tamunya. Ia tak berselera bercengkrama. Ketika istrinya menghidangkan kopi, ia tak seperti  biasa, menyeduhnya sampai habis. Ia ingin berteriak melepas kekesalan, di sebuah tempat yang hanya ada ia dan dirinya sendiri. Ingin diusirnya semua makhluk yang bernyawa, yang berada di depannya.        Guru Hasim, tak habis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pikir istrinya, wajahnya begitu murung. Ditanya, ia bisu. Ia enggan bersuara. Di ruang tamu, ia bermenung sendiri. Seperti orang yang kehilangan sesuatu benda berharga, tapi tak pernah tahu, di mana benda itu ditaruh. Ya, benda berharga itu memang telah hilang dari dirinya: semangat seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Tak akan ada yang berubah Guru Hasim.” Kalimat itu menyentaknya. Masuk ke dalam nadinya menjadi pisau. Mengirisnya. Lalu ia meregang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ia muak melihat Rosna, Saldi, Halim, Hasan, Nira, dan semua orang yang menyebut diri mereka guru. Telah berapa kali didebatnya di dalam rapat majelis guru, sudahlah, jangan terlalu peributkan masalah gaji, yang penting, bagaimana anak didik kita menjadi orang. Itu tanggung jawab kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisa Guru Hasim. Ini hak.” Disela kepala sekolah. Disoraki semua guru,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.perjuangkan.” Guru-guru itu, turun ke jalan. Menuntut haknya di jalan. Ia tak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;habis pikir. Melelahkan, semua lokal, hari itu, ia yang mengajar sendirian. Namun, bukan itu yang membuatnya begitu lelah, ia hanya tak ingin meninggalkan tanggungjawabnya sebagai guru. Ia selalu ingin memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, ia telah memutuskan: berhenti menjadi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan terlalu idealis, Pak.” Istrinya tak setuju. Murung wajahnya mendengar ucapan suami tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ini guru. Tidak pernah bisa menjadi pengusaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mengerti apa omongan Bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau memang tidak akan pernah mengerti, istriku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah larut malam, belum juga tenang hatinya. Dibangunkan istrinya yang sudah tidur dengan lelap. “Ada apa Pak?” Disodorkan selembar kertas yang sudah terketik dengan rapi. Nama-nama guru dengan daftar gaji. Kertas itu, tadi siang diambilnya dari ruang kepala sekolah yang pergi berdemo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya masih tak paham, apa maksud suaminya itu. Wajah polosnya seperti memelas. Berharap segera tiba jawaban agar ia tak lagi bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gara-gara angka itu, mereka meninggalkan murid-murid. Guru kencing berdiri, murid telah kencing berlari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya, yang sudah beruban itu, sepertinya masih tak paham, kemana arah pembicaraan suaminya. “Apa yang hendak Bapak perbuat? Berhenti menjadi guru? Apa Bapak mau jadi pengusaha? Begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya menerawang ke loteng. Aku tak pernah memperdebatkan masalah gaji, dari dulu, ketika aku telah memutuskan untuk menjadi pendidik. Kau tahulah istriku, ini pekerjaan terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan kau potong pembicaraanku, istriku. Kau tidak akan pernah tahu, bagaimana perasaan seorang guru yang sebenarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak habis pikir, atau jangan-jangan karena aku tidak punya anak, sehingga aku tidak bisa membedakan diriku, sebagai guru atau seorang bapak. Aku merasa diriku hanya sebagai guru. Istrinya menunduk. Ia merasa terpojok dengan ucapan suaminya. Ah, andai ia bisa memberikan anak kepada suaminya tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Hasim turun dari dipan. Diambil mesin tik tua, satu-satu miliknya yang berharga di rumah itu. “Bapak mau apa?” tanya istrinya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau membuat surat pengunduran diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin bulatlah tekadnya. Tidak di timbang-timbang lagi keputusan itu. sudah terlalu bulat. Entah kenapa, ketika datang pagi ini ke sekolah, ia muak melihat guru. Tidak menyapa kepada seorang pun. Hanya kepada murid-muridnya, ia menitipkan pesan terus belajar, walau tanpa guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau Guru Hasim? Gaji naik, kau malah mengundurkan diri?” ujar Kepala sekolah ketika diserahkannya surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, andai kepala sekolah ini tahu (ia sudah berjanji untuk diam sedari rumah), ia hanya ingin menjadi guru, tidak pengusaha yang menjadi guru. Jika pendapat ini disampaikannya di rapat majelis, ia selalu kena cemoohan. Sok idealis, muna, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berhenti kalian semua jadi guru.” Masih terngiang suaranya bergema sampai ke angkasa di suatu rapat siang itu. Karena siang itu, yang diperebutkan adalah hal yang tidak perlu. Kepala sekolah akan mengutus beberapa orang guru senior untuk mengikuti sertifikasi di Ibukota provinsi. Guru Hasim tidak terima, sebab, Hasan dan Nira, dua orang guru yang akan diutus tersebut, ia tahu benar siapa mereka. Di dalam benak kepala dua orang itu, yang ada hanya uang..uang…dan uang. Oh, semua guru sekarang hanya memikirkan uang..uang..uang. Tak pernah lagi mereka memikirkan muridnya dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau tidak terima, ya sudah Hasim.” Suasana rapat malah bertambah panas. Sebab, tak ada yang terima dengan ucapan Guru Hasim. Bah, kata Halim, 4 tahun sekolah di IKIP, tiba-tiba disuruh berhenti menjadi guru. Mau makan apa nanti? Kita, mesti memperjuangkan nasib kita, agar pendidikan ini menjadi lebih baik. Bukankah, kalau gaji kita mencukupi, baru bisa kita berbicara profesionalisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, tambah panas Guru Hasim. Berdiri ia dari duduk. Saya tahu, apa yang ada dalam benak kalian semua. Cuma uang..uang..dan uang. Mana pernah kalian mengajar dengan benar? Saya berani bertaruh, siapa guru yang paling dekat dengan siswa? Ha..ha.kalian itu bukan guru. Akui sajalah. Tiap sebentar rapat sertifikasilah, rapat beasiswalah. Murid-murid yang masih bau kencur itu, kalian perbiarkan belajar sendiri. Hanya saya yang tidak pernah berpikir seperti kalian.” Panjang lebar Guru Hasim berbicara, sampai berputar-putar ia di ruang majelis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah tahu keadaan tidak lagi kondisif. Dihentikannya rapat. Kata terakhir Guru Hasim, “Sesekali, cobalah undang saya untuk rapat kemajuan murid-murid kita, jangan hanya kesejahteraan guru.” Oh, tak ada lagi yang mendengar. Semua guru telah keluar dari ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah, kalau itu maumu. Besok, akan aku buatkan surat pensiun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak usah, Pak. Saya mengundurkan diri, tidak pensiun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hasim merasa membuat keputusan yang sangat tepat. Sudah 20 tahun, tak pernah ia menyesali keputusan itu. Baginya, guru tetap pahlawan tanpa tanda jasa. Tugasnya adalah mendidik. Soal kesejahteraan, ia yakin, suatu hari akan datang dengan sendirinya. Setelah pendidikan maju dengan guru-guru yang benar-benar ingin mendidik, kesejahteraan akan muncul. Sama halnya, ketika ia tidak pernah memikirkan untuk mendirikan sebuah sekolah tanpa biaya yang dirintisnya sendiri. Gurunya, hanya ia sendiri. Gedungnya adalah rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling penting, ia tidak pernah lagi rapat majelis. Tidak pernah berdebat tentang sertifikasi. Ia hanya mengajar, mengajar, dan mengajar. Uang sekolahnya, sumbangan beras dari murid-murid. Tak banyak memang yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah yang diberinya nama Sekolah Dasar Hasim, sebab sekolah itu tidak memiliki ijazah. Hanya orang-orang miskin, tergerak belajar, yang merelakan dirinya datang pagi-pagi, pulang sampai pukul empat sore. Malam hari, kebanyakan dari mereka, kalau tidak membantu orang tua, tidur di rumah Guru Hasim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengorbankan dirinya untuk anak-anak yang belum tahu, bahwa guru mereka itu, tidak pernah memikirkan mereka. Suruh buat tugas, marah-marah, beri nilai lapor. Rutinitas yang selalu diejeknya. Di sekolahnya, tidak ada nilai, lapor, atau tugas. Yang ada hanya: murid-murid Guru Hasim itu, mesti bisa mengaji, sopan kepada orang yang lebih tua, dan kepalanya diisi dengan moral. Ilmu eksak, tak begitu besar porsinya diajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang, ia kedatangan tamu. Hasan, S. Pd. M. Pd., begitu nama yang tertulis dari papan nama dibaju dinasnya. Sudah lama tak berkabar, rupanya Hasan, temannya sesama mengajar di SDN O1 Desa Makmur, yang pernah diejeknya dulu. Sudah mewah ia sekarang. Dulu hanya punya Honda Cup keluaran tahun 70-an, sekarang ia telah bermobil mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, sahabat. Ada apa gerangan kau datang ke sini?” Sambutnya ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sekarang tidak lagi mengajar. Aku naik jabatan, 10 tahun yang lalu, menjadi Kepala Dinas Pendidikan. Dinas Pendidikan ingin memberikan penghargaan kepadamu sebagai salah seorang pendidik teladan. Aku selalu mengikuti sepak terjangmu, walau kau tidak pernah suka dengan caraku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha..ha..terima kasih. Tapi aku bukan guru dari lembaga resmi pemerintah. Bagaimana alasanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukan penghargaan untuk guru, tapi pendidik. Kau adalah keduanya, guru dan pendidik sejati. Ingin kuakui, kau adalah guru sepanjang masa, setidaknya di kampung ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Hasim tidak tersenyum dengan pujian itu. Ia malah masuk ke dalam lokal, dan memperbiarkan Hasan di luar sendirian. “Jangan kepadaku berikan penghargaan itu. Kalau kau mau, bantu saja aku dengan buku. Untuk murid-muridku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak tanpa sandal berlari dengan wajah yang pucat. Sambil menangis dan ngos-ngosan. Orang-orang kaget dan bertanya, apa yang terjadi? “Guru Hasim..Guru Hasim.” Jawab anak-anak itu. Sebentar, rumah Guru Hasim yang juga menjadi tempatnya mengajar, telah ramai. Istrinya yang benar-benar sudah tua itu, tak henti-hentinya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kejadiannya?” Tanya seseorang kepada anak-anak murid Guru Hasim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru..guru..Hu…hu…” anak itu malah menangis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ramailah orang berkunjung. Dari kawan hingga lawan. Hasan, yang baru siang kemarin bertemu dengan Guru Hasim tidak menyangka dengan kejadian itu. Tak tahan ia menitikkan air mata. Semua masyarakat melayat. Desa Makmur menangisi seorang putra terbaik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menangis, barangkali sadar dengan ucapan-ucapan guru Hasim, walau kasar, tapi baru sekarang mereka rasakan kebenarannya. Guru sejati adalah orang yang tidak mempedulikan apa yang ia terima, tapi sebanyak mungkin mampu memberi. Guru adalah orang yang tidak pernah lelah mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mereka juga menangisi, anak-anak didik Guru Hasim. Akan kemana mereka setelah itu. Sebab, mereka dididik tidak dengan cara yang selama ini diakui. Mereka dididik dengan cara Guru Hasim sendiri. Hanya ia yang tahu bagaimana mendidik. Istrinya yang sudah itu, tak pernah pula diajak atau diajarkan untuk menjadi guru yang benar. Hanya ia sendiri yang tahu bagaimana menjadi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu, setelah penguburan, akan lengang dari gelak tawa anak-anak yang sering bertanya dan Guru Hasim kadang kewalahannya menjawabnya. Rumah itu akan sepi dari canda, tawa, dan buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh hari setelah kematian Guru Hasim, sekolah itu benar-benar sudah tutup. Sepertinya, tidak akan pernah dibuka lagi. Sebab, tonggaknya benar yang telah rubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, andai Guru Hasim mau menurut dari dulu, tentu rumahnya sekarang telah bagus. ia bisa pula membeli mobil. Dan kalau mau, mendirikan sekolah sendiri, setidaknya tempat les. Ilmunya bisa dicontoh banyak orang. Tapi sekarang, hanya ia sendiri yang tahu cara menjadi guru. Begitu rapat di SD 01, siang itu, mengenang kematian Guru Hasim.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruangsempit, Mei 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-6803980363585587597?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/6803980363585587597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/guru-hasim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6803980363585587597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6803980363585587597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/guru-hasim.html' title='Guru Hasim'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtXQrqjowI/AAAAAAAAAOo/oUIrCVPNBNQ/s72-c/1guru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-1337767103913149133</id><published>2009-06-19T02:03:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T02:11:00.993-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Fani di Depan Pintu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtV5XyEERI/AAAAAAAAAOg/5QJGCBTDsEA/s1600-h/pintu-tua.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 181px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtV5XyEERI/AAAAAAAAAOg/5QJGCBTDsEA/s200/pintu-tua.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348963426557497618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bila &lt;/span&gt;Emak marah, Fani akan duduk di depan pintu. Itu caranya meredam emosi Emak. Biasanya, Emak akan berhenti meluapkan emosinya, lalu memeluk Fani, anak semata wayangnya itu dengan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihitungnya lagi dengan cermat, sampai lima kali. Hingga hitungan terakhir dengan jari-jarinya, Fani sepertinya tak menemukan cara untuk mengurangi umurnya: tiga puluh. Diulanginya lagi: tiga puluh. Dua bulan lagi, tepat ia akan merayakan ulang tahun yang ke tiga puluh satu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore, Neri datang lagi ke rumahnya. Ia membawa kabar gembira, tapi bukan untuknya. “Datang ya,” sembari memberikan undangan pernikahan. Teman karibnya sedari SD itu akan memulai kisah baru bersama pasangan hidupnya. Ia kenal Uda Anton, calon suami Neri itu. Mereka memadu kasih sejak kelas tiga SMP. Cinta monyet yang berujung menjadi perkawinan. Sering bertengkar, Neri sering mengadu itu kepadanya, tapi cinta mereka tak lekang oleh perkelahian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fani mengikuti betul, bagaimana teman-temannya memadu kasih. Terakhir, kisah antara Hasim dan Sari. Hasim, petani karet yang bau badannya tak pernah jauh-jauh dari karet, gigih betul perjuangannya. Berkali-kali Sari menolak, semakin ditolak, semakin teguh keyakinannya untuk berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah saya bilang, tidak. Sampai kapanpun.” Ucapan Sari kepada Hasim, di rumahnya, suatu sore. Hasim pergi untuk kembali lagi esok harinya. Ia membawa bunga mawar sebagai lambang cinta. Belum lagi bunga itu diberikan, Sari buru-buru mengambilnya dari tangan Hasim. Lalu menginjak-injaknya. Baru sekali itu kulihat, muka Hasim merah padam. Sari sepertinya keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasim berlalu dengan malu. Kuperingatkan Sari, tak boleh memperlakukan orang seperti itu. Terima saja bunganya sebagai bentuk penghargaan terhadap jerih payahnya. Mau dibuang atau disimpan, toh Hasim tidak pernah memikirkannya. Ia hanya ingin bunga itu diterima, untung kalau disimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari marah kepadaku. Ia bilang tak usah campuri urusannya. Orang seperti itu, pikirannya pendek. Kalau bunga itu diterima, besoknya ia akan membawa cokelat. Esoknya lagi bisa saja akan membawa bunga. Lalu, ketika setiap bawaannya diterima, ia akan membawakan cincin tunangan. “Tidak perlu dikasihani,” katanya kepadaku.&lt;br /&gt;Cinta memang tak pernah bisa dipikir. Masih jelas ucapan Sari terngiang-ngiang, dua bulan setelah kejadian itu, sebuah undangan terletak di atas meja. Aku sempat tak mengira ini nyata, tapi begitulah yang tertulis di kertas undangan itu: Sari dan Hasim akan menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari, Neri, Pipit, Santi, dan Suci, teman  karib sepetiduran waktu libur tiba ketika SMA dulu. Semuanya telah menikah. Paling cepat Suci. Belum lagi tamat SMA, sudah ada yang meminangnya. Seperti menghitung umurnya, dilihatnya lagi foto teman-temannya waktu liburan di Lubuk Jantan, kembali ia harus dihentakkan kesadaran, tinggal ia sendiri yang belum berumah tangga. Ya, hanya ia. Sampai tertidur, tak juga ditemukannya, barang satu orang pun teman-temannya yang belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Umur 30, bagi Fani sangat tidak menyenangkan. Ia gusar. Keluar rumah malu. Orang-orang memandang sinis. Terlebih, ibu-ibu. “Perawan tua,” kata mereka yang membuat Fani tak habis pikir, sebab, kehidupannya adalah caranya sendiri. Menikah pun, pilihannya, lama atau cepat, hanya masalah waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak bisa selalu menghibur diri dengan prinsipnya. Sebab Emak, pun mendesaknya. Ah, ingin didebatnya Emak. Tapi ia sudah muak bertengkar, hampir tiap hari. Sebulan yang lalu, ada lelaki yang akan meminangnya. Namanya Budiono, orang Jawa yang bekerja di perkebunan. Ia seorang teknisi lapangan. Memiliki satu buah honda bebek. Paras mukanya biasa saja, agak kehitam-hitaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, ia ingin mengakhiri kisah pilunya. Agar tak ada lagi yang menertawakan. Soal paras dan harta, baginya tak lagi penting. Bayangannya akan lelaki gagah, kaya, dan seperti bintang film, seperti gunjingan waktu SMA dulu, tak lagi dihiraukan. Ia tak ingin lagi bertengkar dengan Emak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah menyatakan kesetujuannya di depan Budiono. Tapi Emak marah setelah budino pergi. Emak tidak ingin mendapatkan menantu orang luar. Apalagi yang tidak punya suku¹. Emak berharap, menantunya adalah orang sekampung saja. Alasannya sederhana, kalau terjadi apa-apa pada pernikahanku, misalkan suamiku selingkuh, ia bisa menuntut. Kalau bersuami orang luar, kemana akan dicari kalau terjadi pertengkaran yang berujung perceraian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak menyamakan dengan pernikahannya yang kandas. Orang Jawa juga. Emak cemburu, ia mendapati sapu tangan Bapak ada lipstik perempuan ketika akan mencucinya. Ia masih ingat betul, Emak marah-marah di depannya. Esok paginya, Bapak pergi, dan tak ada yang tahu. Sampai kini,  tak pernah Bapak berkabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga, Emak mencarikanku jodoh. Bisannya. Oh, bukan aku tidak mau. Emak sebenarnya tahu, bisanku itu ringan tangan. Di kampung, berkelahi saja kerjanya. Apakah Emak tidak iba anaknya dipukul oleh lelaki yang pacakak itu? Jelas aku menolak mentah-mentah. Tak kuhiraukan Emak marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Jangan duduk juga di depan pintu,” berkali-kali Emak memperingatkan itu. Tidak bisa diubah Mak, di depan pintu ini, aku bisa melepas hati karena Emak marah. Tak benar itu, mitos orang-orang tua kita yang bilang, kalau duduk di depan pintu, sulit mendapatkan jodoh. Jangan samakan dengan keadaanku sekarang. Ini hanya perihal waktu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari kecil, Emak sering menakut-nakutiku dengan hal-hal yang tidak masuk akal. “Jangan main jauh-jauh. Di depan ada orang yang akan memenggal kepala anak-anak untuk pondasi jembatan.” Emak menunjuk orang-orang berpakain kuning dengan helm kuning pula. Aku jadi takut, dan tak jadi main keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika SMA aku baru sadar, ternyata yang dibilang Emak bukan orang yang akan memenggal kepala anak-anak, tetapi pekerja proyek yang sedang bertugas. Ah, Emak mengada-ada. Anak gadis tidak boleh pulang larut malam. Sulit pula mendapatkan jodoh.&lt;br /&gt;Aku sudah terlalu malas bicara petuah-petuah tak masuk akal. Menggunting kuku disenja hari, tidak boleh. Lunak daging, katanya. Tidak kita yang berbuat, dituduh juga oleh orang lain. Siang hari, aku tak sempat menggunting kuku. Sibuk bermain dengan teman-teman. Hanya ini waktuku untuk membersihkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjahit baju di malam hari, juga tak boleh. Ada-ada saja. Katanya, kita mudah terkena sial. Apa pula hubungannya? Keluar akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak terima, duduk di depan pintu, bisa menjauhi jodoh. Terlalu jauh jaraknya jika ingin dipertemukan. Aku bukannya sulit mendapatkan jodoh. Hanya, setiap yang kudapat, Emak tak pernah bersetuju. Jodoh yang diberikannya padaku, tak cocok dengan seleraku. Aku kadang berpikiran buruk, jangan-jangan Emak sengaja membuat keadaan seperti ini. Tapi tak mungkin, aku anaknya. Ia pasti menginginkan yang terbaik. Sering aku mengalah dengan alasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Emak sudah marah, aku duduk lagi di depan pintu, seperti waktu-waktu yang lalu. Di sini, aku bisa bebas memandang orang-orang yang tak marah seperti Emak. Tapi hari ini Emak agak kasar. Biasanya ia hanya melarang, dan berucap mitos-mitos lama untuk menakutiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuk,  Maaasuuuukkk,” merah padam muka Emak. Belum pernah ia kulihat semarah itu, dari kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di umurku yang ke-30, tak pantaslah aku menerima sumpah serapah. Toh, aku sudah bekerja dan mampu menghidupi hidupku sendiri. Walau tak memadai menjadi guru honor, tapi untuk biaya hidupku sendiri, rasanya cukuplah. Tak perlu Emak berkasar-kasar seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu bulan lagi, waktumu. Kau harus mendapatkan jodoh. Emak sayang padamu. Tak tega Emak kamu dipergunjingkan ibu-ibu. Sudahlah, tidak usah memilih. Umurmu sudah terlalu tua sebagai wanita. Hanya satu permintaan Emak, harus orang punya suku, menantuku.”&lt;br /&gt;Hatiku terlanjur beku untuk mengiyakan kata-kata Emak. Sekali ini, keterlaluan marahnya. Aku tak terima. Berlari lagi aku ke pintu, duduk di sana sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fani…” tegur Emak. Jangan duduk juga di depan pintu. Malu dilihat orang-orang yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku belum mendapatkan jodohkan, Mak?” sergahku memberanikan diri. Bukan melawan, hanya mempertanyakan alasannya tak memperbolehkan aku duduk di situ. Anak gadis (kadang aku malu bila Emak menyebut dengan panggilan itu) adalah penjaga rumah. Duduknya tidak di pintu, tapi di ruang tamu. Dalam hukum adat, perempuan yang duduk di pintu, selain tidak elok dipandang, juga sulit mendapatkan jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah nama itu benar atau tidak, tapi Emak selalu menyebutnya bila aku duduk lagi di depan pintu seperti sekarang. Suru, sekarang telah meninggal, tidak pernah menikah sampai ia mengehembuskan nafas terakhir. Kau tahu? Gara-gara ia selalu duduk di depan pintu. Lelaki tidak mau mendapatkan jodoh gadis yang suka duduk di depan pintu.&lt;br /&gt;Seperti berceramah, Emak berkhutbah. Dimata lelaki, gadis yang duduk di depan pintu adalah pemalas, tidak pandai merawat anak, sedikit masalah di rumah tangga, langsung cerai, karena memang gadis itu pikirannya sangat pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menemukan diriku pada apa yang dikatakan Emak. Tapi aku lelah membantahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Saya ingin melamar anak Ibu.” Seorang lelaki didampingi orang tuanya barangkali, membuka cerita sore ini. Sumringah wajah Emak kulihat. Tapi aku sengaja tak menghampirinya. Aku dengarkan saja dari jauh perbincangan Emak.&lt;br /&gt;“Dari suku mana?” Biasa, Emak selalu memulai pertanyaan dengan itu. Aku kira, ini tak akan berakhir indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pitopang. Mamak saya Datuk Paduko Rajo,” ujarnya yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak tercengang. Apa yang dinantinya telah datang. Tamu dari jauh, yang seharusnya datang pada umurku yang ke-25. Tapi tak apalah, walau terlambat, yang penting ia tak menghilang. “Fani, ambilkan air minum. Ada tamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang dari belakang dengan nampan di tangan. Aku malu-malu. Masih ada, lelaki yang menerima perempuan setua ini. Itu kebanggaanku sore ini. “Sungguh kau ingin meminang anakku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangguk. “Bagaimana Fani?” Emak berpaling kepadaku. Oh, aku malu-malu lagi. Sambil menunduk, sedikit tersenyum, aku masuk ke dalam kamar. Lelaki itu gagah, kuning langsat, dan matanya sedikit sayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pamit. Emak memelukku. Akhirnya aku bermenantu juga, kata Emak riang. Terbayang di wajahnya akan menggendong seorang cucu yang mungil. Melewati rumah ibu-ibu yang menertawakan anaknya. Sabarlah, tinggal mencari hari baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bukan hari baik, tapi kabar buruk. Begitu kejadian yang secara tiba-tiba, dan tak sempat dicerna Emak, juga olehku. Jarak waktu setengah jam, semuanya berubah.&lt;br /&gt;Lelaki yang memperkenalkan dirinya bernama Rudi, kini berada di ruang jenazah di salah satu rumah sakit di ibu kota kecamatan. Sepeda motornya ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil kijang yang melaju kencang. Ini cerita dari orang-orang yang tahu, barangkali hanya mendengar. Yang jelas, ia dan orang tuanya, tergilas. Ngeri aku membayangkan. Oh, baru saja harapan itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak, perangainya terhadapku langsung berubah mendengar kejadian itu. mitos-mitos kembali terlontar, yang berujung pertengkaran denganku. “Matanya itu sayu. Sayut-sayut sampai. Orang yang bermata sayu, umurnya tak panjang,” kata Emak. Aku tak menghiraukan kata-kata Emak sampai ia menyerangku dengan hal-hal yang tak masuk akal, yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mesti di pabingkean² segera,” ujar Emak berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruangsempit, Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;¹ = di Minangkabau, orang yang sesuku disatukan dengan jalinan tali darah. Sifatnya turun temurun.&lt;br /&gt;²=  semacam doa tolak bala, dengan mengundang orang-orang datang ke rumah. Lalu      mendoakan agar sialnya bisa hilang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-1337767103913149133?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/1337767103913149133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/fani-di-depan-pintu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1337767103913149133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1337767103913149133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/fani-di-depan-pintu.html' title='Fani di Depan Pintu'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjtV5XyEERI/AAAAAAAAAOg/5QJGCBTDsEA/s72-c/pintu-tua.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-5135332083054504386</id><published>2009-06-14T08:24:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T01:10:10.917-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Andreas Harsono (Praktisi Pers) : Masyarakat Bermutu Lahir dari Pers yang Bermutu</title><content type='html'>&lt;a style="font-weight: bold;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjUW9uz15fI/AAAAAAAAAOY/6BExefeYzTw/s1600-h/andreasharsono.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjUW9uz15fI/AAAAAAAAAOY/6BExefeYzTw/s320/andreasharsono.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347205382365636082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HARMOKO &lt;/span&gt;melarangnya bekerja di media. Ia dianggap wartawan yang berbahaya. Di harian  Jakarta Post, ia dikeluarkan tahun 1994. Biangnya: ia diduga terlibat organisasi wartawan menentang pemerintah. Bill Kovach membuka matanya tentang kebenaran jurnalistik.  Kepada Padang Ekspres, Adreas Harsono, lelaki keturunan Jawa-China itu, bertutur banyak hal tentang wartawan, perusahaan pers, dan dirinya sendiri. Sangat terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama kecilnya adalah Ong Tjie Liang. Dibesarkan di Jember. Kelak, nama Liang oleh sengkek (ayah) diganti dengan nama Jawa: Andreas Harsono. Keputusan ini diambil akibat pemerintah Orde Baru yang diskriminatif terhadap warga keturunan. Dari kejadian itu, Andreas bercita-cita ingin menjadi jurnalis. Ia ingin membela, bahkan membebaskan orang-orang yang menderita dan tertindas. Tentu, dengan caranya: menulis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itu tidaklah mudah. Sebab, di Indonesia, suara pers dibungkam oleh penguasa. Media menyimpang dibrendel. Tugas terberat yang diembannya adalah memperjuangkan kebebasan pers. Ia percaya benar, masyarakat bermutu lahir dari pers yang bermutu pula. Maka proses untuk mendapatkan informasi yang bermutu itu perlu dilindungi. Artinya pers atau media harus bebas agar kehidupan masyarakat terlindungi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 7 Agustus 1994, ia bersama teman-temannya menandatangani Deklarasi Sirnagalih di Puncak—deklarasi yang mendirikan Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI), dua minggu sesudah rezim Orde Baru membredel tiga mingguan di Jakarta. AJI jelas dan tegas prinsipnya, berjuang untuk kebebasan pers yang dibungkam dengan rapat oleh pemerintah.&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama, ia bergabung dengan Institute for the Studies on Free Flow of Information—institut yang mengkaji kebebasan informasi. Andreas menjabat sekretaris umum. NGO ini didirikan setelah ditutupnya tiga surat kabar mingguan—Detik, Editor, Tempo—oleh rezim Soeharto bulan Juni tahun 1994. Goenawan Mohamad (pendiri majalah Tempo) memimpin NGO ini untuk bertarung melawan penyensoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan pers dibuka pada tahun 1998, ketika rezim yang membredel pers itu runtuh. Ia kemudian mendirikan SEAPA, sebuah organisasi nirlaba yang menyuarakan kebebasan murni pada pers yang ada di Asia Tenggara. Didirikan di Bangkok pada tahun 1998. SEAPA, tutur Andreas, bertujuan untuk menyatukan jurnalis yang independen dan organisasi pers di daerah-daerah untuk mendapatkan perlindungan hukum dan perlindungan bersama-sama pada setiap daerah.&lt;br /&gt;Andreas Harsono jelas tidak ingin kebebasan itu direnggut lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan Kebebasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Soeharto mundur dari jabatan presiden, pelbagai macam sensor pemerintah mulai dihapus. Ia, yang pada tahun 1993 telah memulai kariernya sebagai wartawan penuh, dan aktif pada gerakan melawan rezim yang membungkam kebebasan pers, semakin memperkaya pemahamannya tentang makna kebebasan pers itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang gerak pers lebih longgar terwujud. Kemudian, mudah mendirikan perusahaan pers. Namun, kebebasan itu berakibat ironi, banyak muncul media yang kurang bermutu, bermunculan bahkan bersemangat. Ada saja kelakuan mereka. “Saya pikir, kelonggaran ini seyogyanya diimbangi dengan peningkatan mutu jurnalisme.” Ini jadi semakin serius ketika ia belajar dengan asuhan guru jurnalisme Bill Kovach di Universitas Harvard pada 1999-2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, ujar Andreas, apa yang ditakutkan banyak orang terjadi. Sekarang ini, isi media dominan kriminalitas, seks, dan sebagainya. Televisi juga penuh acara mistik. Acara-acara aneh yang dianggap kurang bertanggungjawab.  Dari sudut lain, tekanan juga muncul, namanya pasar. Dan juga konglomerasi media. Sekarang orang harus efesien. Satu  wartawan harus menulis tiga berita.  Atau terjadi pemakaian berita secara bersama-sama: satu wartawan beritanya dipakai oleh beberapa atau puluhan surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga mencolok adalah: media di Jawa, Medan. Makassar, dan lain-lain tidak pernah mau mengkritik sesama media. Ini luar biasa anehnya. Kenapa? Karena salah satu kerja media adalah memantau kekuasaan. Kekuasaan itu bisa pemerintah, pers, tentara, agama, dan sebagainya. Tapi terhadap sesama media, tidak pernah dipantau dengan standar yang sama. Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, di negera  lain—misalnya India atau Amerika Serikat—praktik semacam itu cukup lazim. Artinya kalau ada koran atau majalah nulis jelek, dia akan dikritik oleh koran lain. Misalnya, kalau ada tuduhan bahwa salah seorang pimpinan media melakukan tindakan korupsi, menggelapkan pajak, dan sebagainya. Namun apakah ada pemberitaan tentang itu di media lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas Andreas, itu adalah solidaritas yang tidak pada tempatnya. Semestinya pemilik koran itu tidak dipandang sebagai pemilik, melainkan sebagai warga negara biasa.  “Saya pernah bekerja di beberapa media internasional. Kalau editor saya salah, mereka selalu bilang: Anda punya hak untuk melaporkan dan menulis cerita tentang saya di koran ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BBC London pernah membuat kesalahan sehingga seorang narasumber mereka bunuh diri. Itu dilaporkan oleh BBC sendiri. Reporter The New York Times pernah menipu, dan dilaporkan oleh The New York Times sendiri. Koran itu juga pernah keliru dalam soal senjata pemusnah masal di Irak; itu diberitakan oleh NYT dan mereka minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi di media kita, kalau wartawannya sendiri yang meninggal atau kawin, barulah beritanya dimuat. Tapi, menjadikan koran seperti media keluarga semacam itu tidak mengapa. Asalkan, kalau pemiliknya melakukan kejahatan, misalnya korupsi atau melakukan pelecehan seksual, itu harus diberitakan. Mereka toh memberitakan orang lain — orang selingkuh diberitakan, orang korupsi diberitakan. Tapi dirinya sendiri tidak diberitakan. Padahal, kalau media menempatkan diri sebagai institusi masyarakat, memberitakan diri sendiri itu tidak ada masalah, justru akan membuat kredibilitas koran bersangkutan semakin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman terhadap kebebasan pers juga bisa muncul dari pemilik media itu, misalnya dengan alasan bisnis. Menurut survei National Democratic Institute, hampir 95 persen dari semua informasi soal politik yang diperoleh warga Indonesia –kecuali Maluku dan Papua—didapat dari surat kabar dan televisi yang pemegang sahamnya ada di Jakarta. Jadi sangat terkonsentrasi oleh segelintir orang yang ada di Jakarta. Sekitar sebelas televisi nasional yang ada di Jakarta itu menguasai audiens sekitar 92 persen di seluruh Indonesia. Ini sangat mengganggu. Artinya suara, reportase, perspektif, interpretasi berita itu semua ditentukan dari Jakarta. Efeknya adalah suara-suara orang di luar Jakarta tidak pernah muncul di media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu bisa disimpulkan bahwa kebebasan pers dan kebebasan mendapatkan informasi tidak termanfaatkan dengan semestinya. Terjadi konsentrasi pemilik modal di Jakarta. Mutu wartawan juga masih masalah besar. Menurut beberapa survei, kebanyakan wartawan di Jawa dan Medan menerima amplop, suap. Saya kira di tempat-tempat lain pun sama. Inilah salah satu sisi terburuk dalam jurnalisme Indonesia, yaitu wartawannya mudah sekali disuap. Mungkin mereka mengatakan gajinya kecil. Tapi, saya kira kebanyakan wartawan menerima upah di atas upah minimum. Jadi tidak ada alasan untuk membenarkan suap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu tulisan mereka juga buruk. Semua orang mengeluhkan hal ini. Sekarang, ada lebih dari 25 ribu wartawan. Dalam waktu 4 tahun, bisa muncul lebih dari 18 ribu wartawan. Ini bukan sesuatu yang bisa disederhanakan. Penyebab yang ditimbulkannya adalah, banyak wartawan dan editor yang tidak terlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurnalistik yang Memikat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil meminum kopi yang hampir dingin, tiba-tiba Andreas berkata agak lantang,” Mengapa kita di Indonesia tidak punya media di mana kita menulis secara panjang?” Mengapa jurnalisme sastrawi (literary journalism) tidak berkembang dalam dunia media, sastra, seni dan intelektual Indonesia? Atau dengan kalimat perbandingan. Mengapa kita tidak punya majalah semacam The New Yorker? Atlantic Monthly? Harper’s?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Amerika Serikat mereka punya majalah TIME, Newsweek dan sejenisnya, kita juga punya Tempo, Forum, dan lain-lain. Kalau Amerika punya harian The New York Times, Washington Post, kita juga punya harian sejenis. Tapi mengapa kita ompong di jurnalisme sastrawi? Istilah jurnalisme sastrawi adalah salah satu dari sekian banyak nama buat genre tertentu dalam jurnalisme. Tom Wolfe pada 1960-an memperkenalkannya dengan nama “jurnalisme baru.” Ada juga yang memakai nama “narrative reporting”. Ada juga yang pakai nama “passionate journalism.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi intinya, genre ini menukik lebih dalam daripada apa yang kita kenal sebagai “in-depth reporting.” Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut. Tulisan biasanya panjang. The New Yorker bahkan pernah hanya menerbitkan satu laporan hanya dalam satu edisi majalah. Wawancara untuk sebuah laporan bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan ratusan, nara sumber. Risetnya juga tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua. Tapi bisa berbulan-bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, tutur Andreas,  tentu ada penulis yang punya kegemaran menulis panjang dan bergaya jurnalisme baru. Ia, katanya,  menikmati sekali buku Bondan Winarno, “Sebongkah Emas di Kaki Pelangi” atau artikel-artikel George J. Aditjondro.  Tapi di kalangan penulis yang muda, siapa yang suka menulis lebih dari 20.000 kata? Mereka tumbuh hanya dengan batas 1.000 atau 2.000 kata. “Saya pikir gaya begini tidak akan berkembang bila di Indonesia tidak ada media yang menjadi wadah buat perkembangan para penulis muda dengan gaya jurnalisme baru,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mereka tidak berkembang karena pasarnya kecil? Apakah mereka ompong karena jamannya Orde Baru belum memungkinkan buat gaya begitu? Andreas tidak tahu jawabannya secara pasti.  Dan, ketika pulang dari Harvard, ia diminta menyunting majalah Pantau, yang mencoba menerapkan laporan jurnalisme tersebut. Sayang, majalah tersebut tidak bertahan lama. Kendalanya dana tak memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan untukWartawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan pers di Indonesia perlu cepat-cepat diperkuat antara lain dengan mengembangkan kemampuan jurnalisme dan memperbanyak jumlah wartawan yang memperdalam ilmunya. Dalam dua tahun ini di Indonesia mungkin ada lebih dari 1.000 penerbitan baru. Tapi sumber daya manusia di bidang media sangat terbatas. Banyak media baru tapi sedikit wartawan. Redaktur juga banyak yang tidak memenuhi syarat. Lembaga pendidikan kurang siap. Di Indonesia hanya ada beberapa perguruan tinggi yang punya jurusan jurnalisme: Universitas Pajajaran Bandung, IISIP Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan negara-negara Asia lainnya, wartawan Jakarta juga termasuk ketinggalan dalam mencari beasiswa. Ambil contoh Nieman Foundation di Universitas Harvard. Indonesia sejak program ini berdiri 1938 hanya memiliki tiga alumni: Sabam Siagian (The Jakarta Post), Goenawan Mohamad (Tempo) dan Ratih Hardjono (Kompas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan Jepang (26), India (17) dan Cina (14). Atau kalau mau dibandingkan dengan negara-negara Asia yang lebih kecil: Korea Selatan (19), Filipina (11), Malaysia (4) dan Thailand (4). Indonesia hanya lebih tinggi dari Vietnam (2) dan Singapura (1).  “Saya optimis, wartawan dengan kualitas bagus, akan meningkatkan mutu jurnalisme kita.” (Andika Destika Khagen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-5135332083054504386?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/5135332083054504386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/andreas-harsono-praktisi-pers.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/5135332083054504386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/5135332083054504386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/06/andreas-harsono-praktisi-pers.html' title='Andreas Harsono (Praktisi Pers) : Masyarakat Bermutu Lahir dari Pers yang Bermutu'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SjUW9uz15fI/AAAAAAAAAOY/6BExefeYzTw/s72-c/andreasharsono.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-7430781877003369246</id><published>2009-05-17T09:38:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T02:26:07.194-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Dinamika Perbukuan di Sumatera Barat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDJfR6BxI/AAAAAAAAAPQ/FAnu64YSWYc/s1600-h/buku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 162px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDJfR6BxI/AAAAAAAAAPQ/FAnu64YSWYc/s200/buku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355275999703074578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI&lt;/span&gt;  Padang, sejak 2005 hingga sekarang telah beberapa kali digelar book fair atau pameran buku dengan label, seperti, Padang Book Fair, Minangkabau Book Fair, dan Pesta Buku. Meski tidak diikuti oleh seluruh penerbit, setidaknya  apa yang kita lihat pada perhelatan buku tersebut, bisa menjadi bagian kecil dari persoalan perbukuan di Sumatra Barat, menyangkut jumlah judul buku, yang terbit dan beredar, berbanding dengan jumlah pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang sangat menarik dari beberapa sumber, industri perbukuan cenderung menggembirakan, tetapi jumlah buku yang diproduksi sangat rendah, termasuk dibandingkan dengan Vietnam sekalipun. Jika ini dilihat dengan perbandingan jumlah penduduk Indonesia, sungguh ironis, Indonesia yang berpenduduk lebih dari 225 juta jiwa baru sanggup menerbitkan sekitar 8.000 judul buku per tahun. Jumlah ini sama dengan Malaysia yang berpenduduk sekitar 27 juta jiwa dan jauh di bawah Vietnam yang bisa mencapai 15.000 judul buku per tahun dengan jumlah penduduk sekitar 80 juta jiwa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa bayangkan pengetahuan seperti apa yang akan diperoleh oleh 225 juta jiwa itu dari 8.000 judul buku. Cukup beralasan, jika selama ini kita cenderung miris memandang pengetahuan masyarakat. Belum lagi, kita diributkan dengan wacana minat baca. Lalu, akar persoalannya di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak akar persoalan yang berkelindan tentang perbukuan ini, jika ditelusuri, akan sampailah pada urat tunggangnya; penerbit. Di sinilah pangkal persoalan. Kita tidak akan meragukan tentang berapa jumlah naskah yang siap tulis. Sebab, penulis berlimpahan di sini. Di tilik secara garis besar, ada dua persoalan yang muncul dari penerbit, seiring dengan sedikitnya buku terbit di Indonesia.&lt;br /&gt;Pertama, persoalan bahan baku, dalam hal ini kertas. Harga kertas yang selalu mengarah naik, menjadi persoalan tersendiri bagi penerbit. Penerbit tentu sangat berharap adanya subsidi terhadap kertas ini. Namun, di luar itu, strategi lain juga dibutuhkan. Seperti yang disampaikan Fadlillah Malin Sutan Kayo, penulis buku Kecerdasan Budaya, “Guna mengimbangi mahalnya harga kertas terhadap tuntutan harga buku, bisa dilakukan dengan memakai kertas dengan kualitas standar atau sedikit di bawah standar, itu untuk dilempar ke masyarakat. Sementara untuk kolektor buku, bisa dipesan ke penerbit sesuai kertas yang diingininya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bagi penerbit besar ini tidak berlaku, tetapi bagi penerbit kecil ini sangat perlu, selain harapan regulasi pemerintah semacam subsidi. “Strategi dan regulasi pemerintah tersebut, pada akhirnya akan menguntungkan semua pihak, penerbit bisa menggenjot produksinya, impian masyarakat tentang buku murah pun bisa terwujud,” tambah Fadlillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan selanjutnya, masalah yang berkaitan dengan distribusi buku. Jaringan pemasaran dari penerbit ke toko-toko buku dihadapkan pada kelindan urusan administratif. Entah itu perizinan, likuiditas, sampai solvabilitas penerbit. Sehingga buku-buku banyak dipasarkan secara gerilya dalam satu komunitas. Tak jarang penulis pun terlibat dalam pemasaran buku-bukunya.  Hal ini diakui Esha Tegar Putra, penyair, yang buku kumpulan puisinya Pinangan Orang Ladang akan diluncurkan akhir bulan ini. Keadaan yang memaksa untuk itu, terkadang hasil nota kesepakatan dengan penerbit tidak cocok, atau ada faktor lain yang menyebabkan itu. “Ya, ada penulis yang ikut dalam pendistribusian bukunya sendiri. Bagi saya itu biasa saja, penulis tentu saja ingin melihat apakah bukunya diminati banyak orang, dan apakah buku tersebut ada manfaatnya setelah dibaca. Meski di satu sisi ini sangat miris sekali, tapi tak ada salahnya bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, penerbit perlu juga melakukan studi pemasaran buku. Tidak hanya sekadar menerbitkan, tapi juga harus paham bagaimana mendistribusikannya. “Jadi diperlukan juga ahli tata niaga perbukuan,” imbuh Fadlillah. Di Sumatra Barat, yang hanya memiliki dua toko buku yang besar (Gramedia dan Sari Anggrek), menurut Azhar Muhammad, pemilik toko buku Sari Anggrek, “Kita tidak tahu persis berapa banyak penerbit yang masuk ke Sumbar. Di toko buku Sari Anggrek ada kurang lebih 200 penerbit yang mendistribusikan buku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah tersebut tentu sangat kecil dibanding jumlah penerbit yang menjamur seperti sekarang. IKAPI yang nota bene kumpulan para penerbit juga kewalahan dalam mengatur mata rantai distribusi ini. Dibenarkan oleh Miko Kamal, wakil ketua IKAPI Sumbar, “Kalau saya melihat dunia perbukuan Sumbar sekarang ini, belum maksimal. Keterbatasan kita adalah masalah dana dan jaringan. Berbicara tentang jaringan, kita di Sumbar belum terlalu kuat untuk mengkooptasi penulis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan yang tidak terkooptasi ini membuat sebagian besar penulis buku di Sumbar menyerahkan naskahnya kepada penerbit di luar Sumbar. Ini menyangkut penyebaran buku mereka nantinya setelah terbit. Apalagi penerbit luar menerapkan strategi; penulis dapat memakai nama sebuah komunitas untuk menjadi label penerbit pada buku tersebut, sementara penerbit yang mencetak naskah tersebut cukup sebagai pencetak saja. Namun, distribusinya diatur oleh penerbit pencetak tersebut sesuai kesepakatan dengan penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi ini sebenarnya berimbas baik juga terhadap penerbit kecil atau lokal. Dengan menyerahkan naskah terbitannya ke luar, mereka akan terbantu dalam pemasaran, sebab penerbit luar yang dituju tentu saja penerbit yang mempunyai banyak jaringan di seluruh Indonesia. Sementara brand atau merek penerbit kecil/lokal tadi tetap dicantumkan sebagai penerbit. Seperti yang pernah diterapkan oleh Andalas University Press, yang menggaet Nailil Printika, Yogyakarta, untuk mencetak&lt;br /&gt;Naskahnya. “Buku-buku tersebut tetap terbitan Andalas University Press, tapi dicetak oleh Nailil Printika. Dengan demikian, untuk pemasaran kita terbantu,” ungkap Zaiyardam Zubir, penulis buku-buku gerakan sosial dan panitia penerbitan 50 buku Unand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dinamika perbukuan, di sekian banyak  pesta buku yang kita kunjungi di Padang, seyogyanya kita bisa sumringah ketika meninggalkan arena pesta dengan membawa buku yang diingini. Namun, sengkarutnya dunia perbukuan di negeri ini, membuat kita hanya bisa menghela nafas panjang sambil mengusap dada. (Gusriyono/S Metron M/Andika Destika Khagen/Fadli Akbar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-7430781877003369246?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/7430781877003369246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/dinamika-pembukuan-di-sumatera-barat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7430781877003369246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/7430781877003369246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/dinamika-pembukuan-di-sumatera-barat.html' title='Dinamika Perbukuan di Sumatera Barat'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDJfR6BxI/AAAAAAAAAPQ/FAnu64YSWYc/s72-c/buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-224701982090022360</id><published>2009-05-17T09:31:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T02:26:55.474-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Pengunjung Badan Perpustakaan dan Kearsipan Meningkat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDVYhvjOI/AAAAAAAAAPY/7CjUdSVFwyE/s1600-h/library.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDVYhvjOI/AAAAAAAAAPY/7CjUdSVFwyE/s200/library.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355276204048878818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TANGGAL &lt;/span&gt;17 Mei 2009tak banyak yang tahu adalah hari buku Nasional. Sebuah peringatan untuk memberikan penyadaran, sebanyak apa kita membaca buku. Tak gembor-gembor seperti laiknya merayakan ulang tahun selebriti, hanya membuat kita kembali sadar, bahwa membaca itu sangatlah penting. Seperti pesan pada sebuah spanduk yang terpajang di Pustaka Daerah dan kearsipan Sumatera Barat, “Belajar sepanjang hayat, Membaca sepanjang masa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak punya uang membeli buku? Malas? Enggan? Terlalu berat? Masih ada lagi alasan? Untuk buku, sepertinya tak ada alasan untuk tak membacanya. Sebab, tutur Eka Nuzla, SH, Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar, membaca akan memberikan pencerdasan bagi siapa saja yang mau bergelut di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak ada alasan, karena membaca hanya masalah kemauan. Tak perlu membeli, sebab telah tersedia bahan bacaan itu, setidaknya di perpustakaan. Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumatera Barat, kepada pelanggan, memberikan banyak kemudahan-kemudahan. Semua, demi tujuan, masyarakat mau membaca. Hanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang tertuang dalam Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia nomor 001/org/1990, tugas perpustakaan adalah melaksanakan pemberian layanan dan pengembangan perpustakaan di daerah dan pelestarian bahan pustaka. Pada hakekatnya, perpustakaan adalah milik bersama, tempat meningkatkan ilmu mendidik diri dan tempat belajar. Mirip toko serbaguna. Semuanya ada. Dari koleksi ilmiah, koleksi popular, hingga koleksi praktis. Dari jenis buku fiksi, non fiksi sampai jenis non buku seperti cd, microfish, dan kaset pita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pengunjung yang ingin mencari informasi yang dibutuhkan secara cepat, bisa dibantu oleh petugas pustaka untuk mendapatkannya. Ini salah satu layanan dengan nama Layanan Penelusuran Informasi. Layanan informasi referensi yang membutuhkan layanan cepat melalui telepon, surat faxmili, dan email, pun dilayani. Pada dasarnya, siapapun kita, apapun profesinya, dan ingin membaca apa dan membutuhkan apa, pustaka daerah dipersiapkan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, ada sebanyak 282.723 judul buku yang bisa dibaca pada tahun 2005 dengan jumlah 542.348 eksemplar. Pada tahun 2006, jumlah itu ditambah sebanyak 4.611 judul buku (36.085 eks). Ditahun berikutnya, koleksi perpustakaan bertambah sebanyak 3.690 judul buku (28.000 eks). Di tahun 2008, perpustakaan menambah lagi koleksinya sebanyak 18.300 eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perpustakaan Keliling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara membaca dengan buku adalah hubungan yang bersifat mutualisme (saling membutuhkan). Buku tidak ada artinya, bila tak ada yang membaca. Tak mau buku pustaka hanya dibaca warga kota, yang notabene segala akses mudah, pustaka daerah mengembangkan sayap ke daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di armada mobil tertulis tulisan yang ukurannya besar: Perpustakaan Keliling. Mobil itu, memang telah melakukan tugasnya dari kisaran tahun 80-an lalu. Waktu itu, 9 unit mobil disediakan. Mobil dengan cat putih ini memasuki daerah-derah yang letak geografisnya jauh dari pustaka. Memasuki 18 kabupaten/kota yang ada di Sumatera Barat.  Daerah Mentawai pun dimasuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 2005 dan 2009, dua unit mobil lagi ditambah. Dengan jumlah 11 mobil tersebut, dan membawa 2.500 judul buku (setiap judul masing-masing 5 eksemplar), jika hubungan mutualisme ini berlaku, masyarakat tidak bisa beralasan, tidak ada buku yang akan dibaca. “Bola telah diantar.” Begitulah, bagaimana masyarakat akan dimanjakan dengan bahan-bahan bacaan. Buku yang merupakan sumber ilmu, diharapkan mampu mengeluarkan bangsa ini dari kemiskinan dan kebodohan yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Di semua layanan, pengunjung perpustakaan, mengalami peningkatan. Sebanyak 112.800 orang pada tahun 2005, meningkat menjadi 123.384 tahun berikutnya. Tahun 2007 meningkat lagi menjadi 152. 961 pengunjung. Di tahun 2008, pengunjung perpustakaan berjumlah sebanyak 166.307 orang. Namun, angka-angka itu masih terbilang sedikit, jika misalnya dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Padang sebanyak 819. 740 jiwa (www.padang.go.id).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Badan Perpustakaan Daerah dan Kearsipan melihat keadaan ini sebagai sebuah tantangan. Tahun 2009, Badan Perpustakaan Daerah membuka layanan sampai jam 9 malam, khusus untuk hari Sabtu dan Minggu. Tujuannya jelas, bagaimana masyarakat diberikan kesempatan untuk terus meningkatkan minat baca mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal, bagaimana masyarakat memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Tutur Dra. Zuriah, Kepala Bagian Pelayanan Perpustakaan, pengelola  perpustakaan akan terus berbenah untuk memperbaiki layanannya. Agar masyarakat semakin betah dan nyaman berkunjung ke pustaka. Tantangan ini mesti disambut. Sebab, perpustakaan tak ada artinya bila tidak ada pengunjung. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Andika Destika Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-224701982090022360?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/224701982090022360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/pengunjung-badang-perpustakaan-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/224701982090022360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/224701982090022360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/pengunjung-badang-perpustakaan-dan.html' title='Pengunjung Badan Perpustakaan dan Kearsipan Meningkat'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDVYhvjOI/AAAAAAAAAPY/7CjUdSVFwyE/s72-c/library.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-8755111443731925389</id><published>2009-05-11T11:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T11:37:27.895-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Pembaca Juga Wartawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sghv_l4rK4I/AAAAAAAAAOA/4qdjdRwWibA/s1600-h/reading.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 162px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sghv_l4rK4I/AAAAAAAAAOA/4qdjdRwWibA/s200/reading.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334636896912616322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abad 21&lt;/span&gt; menyuguhkan informasi yang tanpa batas, dengan media yang beragam. Sebelumnya, kita kenal dengan penyampai informasi (media) yang dibuat secara cetak. Dari sanalah orang mendapatkan informasi tentang politik, keadaan negara, dan informasi kesehatan, misalnya. Jurnalistik, begitu kerja ini disebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman terus berkembang. Memasuki era internet, masyarakat dikenyangkan dengan informasi yang tanpa batas. Tidak lagi didominasi media cetak, berita online (media online) pun hadir. Dimulai dari detik.com di Indonesia. Kini, media online menjamur. Ada yang didirikan secara independen (di Sumbar: padangmedia.com dan padangkini. com). Ada pula, media online yang isinya adalah berita dari media cetak (seperti: singgalang.co.id, padangekspres.co.id, riau pos.com, dll). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Media informasi online, biayanya lebih murah dari media cetak. Barangkali, ini salah satu keunggulan yang tidak bisa dijangkau oleh media cetak. Kalau tidak punya koneksi, dengan biaya Rp 2.000 saja, di  dalam warnet, orang-orang telah bisa mengakses banyak informasi dari banyak media online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, itu saja ternyata belum cukup. Media internet yang murah tersebut, sekarang dimanfaatkan orang untuk membuat informasi sendiri.  Bisa dari segala bidang. Tak butuh banyak modal seperti perusahaan-perusahaan besar. Hanya tinggal kemauan dan informasi semacam apa yang akan diberikan. Itulah blog, friendster, atau facebook. Di dalamnya, orang-orang berkabar kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan media cetak?  Setidaknya, harus diakui, pembaca media cetak semakin berkurang dengan adanya media online. Harga kertas yang terus melambung, ongkos produksi yang besar, ini kendala besar bagi media cetak yang mau tak mau, terus menaikkan harga. Jika media cetak tidak punya strategi yang jitu menyisiati perkembangan ini, bukan tidak mungkin, media cetak ditinggalkan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pakar komunikasi memprediksi, media cetak tidak akan pernah ‘mati’, karena ia tetap dibutuhkan oleh banyak orang, minimal sebagai arsip. Tapi memang, media cetak harus bisa membuat pembacanya mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan di media online. Itulah sebabnya, kemudian media cetak beralih dari berita straight news ke feature. Berlomba-lomba, media cetak menghadirkan sebanyak mungkin feature. Kompas, salah satu media yang disegani di Indonesia, memuat sekitar 7 buah feature dalam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menarik pembaca lebih banyak, lahir citizen journalism: siapa saja bisa membuat berita. Dua media harian di Sumbar (Padang Ekspres dan Singgalang), mengapresiasi dengan menyediakan rubrik tersebut di edisi minggu. Isinya jelas: pembacalah yang membuat berita dan disampaikan melalui media cetak. Isinya bisa apa saja dan tentang apa saja. Mulai dari telpon umum sampai politik sekalipun.  Artinya, pembaca sekaligus wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada kode etik tentang itu, baik batasan-batasannya, dan kabar semacam apa yang akan dimuat di media cetak. Tentu, media cetak melalui redakturnya, punya kriteria khusus untuk memuat kabar dari pembaca ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto UNP, menyadari ini untuk memberikan pendidikan membuat berita kepada masyakat. Di Auditorium UNP (3/5), seminar citizen journalism digelar. Menurut Ketua Panitia, Heri Faisal, pendidikan membuat berita penting diberikan kepada pembaca agar mereka tanggap terhadap apa saja yang terjadi di sekitarnya, lalu mengolahnya menjadi sebuah bahan yang siap dibaca dan dipublikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pematerinya adalah Yusrizal KW, sebagai pengelola rubrik Kabar Pembaca di Padang Ekspres dan Khairul Jasmi (Pimred harian Singgalang).  Lanjut Heri, dihararapkan dari seminar ini, masyarakat lebih cerdas mengapresiasi apa saja yang terjadi di sekitar mereka. (Andika D. Khagen)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-8755111443731925389?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/8755111443731925389/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/pembaca-juga-wartawan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8755111443731925389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8755111443731925389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/pembaca-juga-wartawan.html' title='Pembaca Juga Wartawan'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sghv_l4rK4I/AAAAAAAAAOA/4qdjdRwWibA/s72-c/reading.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-1828516582226426197</id><published>2009-05-11T11:07:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T01:10:26.412-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Hasanuddin WS: Menjawab Tantangan Chairil Anwar</title><content type='html'>“Saya telah mulai jenuh dengan sastra. Mungkin, karena saya terlalu dekat dengannya,” katanya menyentak. Namun, bukan berarti ia membenci sastra. Ia ingin memberikan jarak agar bisa kembali melihat sastra secara objektif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara terakhir yang bersinggungan dengan sastra adalah saat memberikan orasi kebudayaan di Teater Tertutup FBSS UNP, 29 April lalu.  Sehari sesudah sebuah monumen dipakukan melalui Hari Chairil Anwar (CA).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam orasi itu ia mengutip sepenggal puisi CA, “Sekali berarti dan sesudah itu mati”, dan juga “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Menurutnya, seseorang bisa saja mati (muda), sebagaimana CA, namun makna  dan spirit kehadiran manusia itu dapat hidup sepanjang zaman. sepanjang hayatnya, CA sesungguhnya telah menyatakan pikiran-pikiran dan sikap kebudayaan yang masih sangat relevan untuk saat ini maupun masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Kepercayaan Gelanggang yang merupakan pernyataan sikap dan konsepsi kebudayaan CA dan teman-temannya sesama Angkatan 45, merupakan bentuk jawaban tegas atas permasalahan zaman dan fenomena budaya pada zamannya yang ternyata sampai saat ini tetap menjadi tantangan kebudayaan kita. “Hari ini kita masih ditantang untuk mewujudkan impian Chairil,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chairil dan angkatannya, jelas sekali dalam mengungkapkan sikap ketika mengikrarkan Surat Kepercayaan Gelanggang. Poin menarik bagi Hasanuddin adalah Chairil dan kawan-kawannya tetap berpijak pada ketradisonalan mereka tetapi tidak melap-lapnya untuk kepentingan tradisonal itu. Tapi malah untuk kepentingan dunia dan mereka, CA, dkk, sebagai warga dunia.&lt;br /&gt;Inilah yang dilihatnya pada sastra zaman sekarang. Repotnya, sastrawan modern Indonesia sebagai anggota masyarakat yang hidup bersama-sama masyarakatnya, pada sisi tertentu, justru tumbuh dan berkembang dalam kooptasi kepentingan sistem budaya yang didukungnya. Dari pandangannya sastrawan Indonesia juga tampak tidak secara bersungguh-sungguh menempatkan akar tradisi sebagai bahan pengucapan sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, dalam hal ini, lembaga-lembaga pendidikan dan kemasyarakatan yang ada, haruslah berperan sebagai lembaga yang mampu mendorong pembaharuan, perubahan, dan berwawasan masa depan. Kekayaan adat dan tradisi mesti dipahami esensinya untuk kemudian diberikan semangat baru agar berguna bagi masyarakat di dalam menghadapi tantangan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, lembaga-lembaga pendidikan harus memberi tempat bagi berkembangnya kualitas pribadi, daya kritis, kearifan, dan kemampuan untuk beradaptasi. Universitas dengan sivitas tanpa kegiatan penelitian dan berkarya, serta tidak berorientasi menjadikan universitasnya sebagai sumber informasi adalah universitas omong kosong, bahkan dapat dinilai telah melakukan tindakan kriminal. “Lebih baik tidak usah bermimpi untuk masuk warga dunia,” katanya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, menghadapi zaman sekarang, urai Hasanuddin, CA adalah teladan. Ia merupakan personifikasi atau simbol dari pemikiran-pemikiran besar, jiwa dan semangat besar, pemikiran dan semangat yang menjawab tantangan zamannya dan tantangan masa depan.&lt;br /&gt;Makanya ia agak merasa aneh ketika ada yang mengusulkan Hari Chairil Anwar  diganti menjadi hari puisi saja. Bagi Hasanuddin, ini menghilangkan identitas Chairil. Padahal, soal identitas itulah yang penting. “Kalau begitu kenapa tidak sekalian Hari Kartini bisa juga ditukar dengan hari perempuan?” tanyanya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(S Metron M/Andika Destika Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PadangEkspres, 3 Mei 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-1828516582226426197?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/1828516582226426197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/hasanuddin-ws-menjawab-tantangan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1828516582226426197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1828516582226426197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/hasanuddin-ws-menjawab-tantangan.html' title='Hasanuddin WS: Menjawab Tantangan Chairil Anwar'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-2980203645743862252</id><published>2009-05-02T08:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-11T11:37:27.895-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Tamu 1x24 Jam=Harap Lapor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SfxrfddqTnI/AAAAAAAAAN4/3ZlysXsx_Zo/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 104px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SfxrfddqTnI/AAAAAAAAAN4/3ZlysXsx_Zo/s200/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331254247128977010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI&lt;/span&gt; beberapa rumah ketua RT, saat ini, kalau kita amati masih terdapat plang kecil bertulisan: 1x 24 Jam Tamu Harap Lapor. Artinya, orang asing (bukan warga RT) yang menginap semalam atau lebih dari 24 jam, wajib lapor kepada ketua RT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan tersebut, sesungguhnya melekat di ingatan masyarakat Indonesia. Tujuannya sederhana saja. “Untuk keamanan,” kata Rusli, warga Koto Tangah Padang. Ia menjelaskan dengan pemahamannya sendiri, “Ketua RT tentu perlu tahu siapa yang jadi tamu warganya. Nanti, jika terjadi hal-hal buruk, misalnya teroris menyusup, tentu yang dicari pertama pihak keamanan adalah RT dan pemilik rumah,” kata Rusli mengira-ngira gunanya 1x24 Jam harap lapor itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau Paino, Rt 02 Padang Besi melihat kegunaan  wajib lapor itu untuk memantau keadaan warga. Terutama warga yang datang malam hari. “Apalagi, di komplek ini kebanyakan warga pendatang. Jadi harus selalu mengetahui siapa yang datang atau pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita perhatikan, saat ini, banyak warga yang mengabaikan aturan tersebut. Mungkin, karena merasa, tamu itu kan urusan tuan rumah. RT jangan ikut campur. Karena itu, banyak masyarakat, ketika ada tamu, bermalam di rumahnya, tidak perlu melaporkan ke RT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan demikian, disadari Amril di Lubuk Begalung Padang, sebagai suatu hal yang negatif. “Kita harus mengikuti aturan untuk kepentingan bersama,” katanya. Namun, ia malah mengaku, tak bisa ikut membantu menerapkan hal itu, dengan alasan, kadang 1x24 jam wajib laporan itu sepertinya dituntut kesadaran, boleh lapor boleh tidak. Jika ada tamu, sudah dua hari bermalam di rumahnya, tahu-tahu Pak RT-nya tenang-tenang saja. Tidak ada teguran atau sanksi. Maka, menjadi percumalah tulisan 1x24 jam wajib lapor itu dipasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menumbuhkan kesadaran untuk kepentingan bersama, dari beberapa responden yang diwawancarai, ternyata amat susah. Apalagi, ketika beberapa orang mencoba untuk mengikuti peraturan tersebut. Misalnya, ketika mereka ada tamu, pergi ke rumah RT. Tahu-tahu, RT-nya pergi, apalagi di jam kerja, tentu Ketua RT pergi bekerja pula. Karena menjadi RT bukan profesi. “Masyarakat kita kan paling malas berurusan, sekecil apa pun. Sekalipun kita menyadari itu sebagai kepentingan umum, untuk kebaikan bersama,” ujar Amril lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lola melihatnya lain lagi. Warga RT 3 Padang Besi ini merasa tidak perlu melapor ke RT karena yang datang hanya keluarga atau handai tolan. Baik dari kampung atau rantau. ”Untuk apa? Kecuali kalau orang yang akan nginap tidak dikenal sama sekali. Tapi, itu kan  tidak mungkin, orang yang tidka emneganl nginap di rumah kita,” ujar perempuan yang baru menikah dua bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bur, pemilik rumah kos di Air Tawar, mengatakan,  yang paling penting adalah, partisipasi warga dalam menjaga keamanan. Dulu, memang ada peraturan yang diperlakukan: Tamu lapor 1X24 jam. “Tapi menurut saya, itu tidak terlalu efektif. Mana ada orang yang mau disuruh melapor? Kadang, kalau melapor, RT nya tidak ada di rumah,” katanya. Dia tambahkan juga, orang paling malas berurusan dengan birokrasi. Kadang, kalau melapor ke RT, kalau-kalau ketua RT nya nakal, takut dimintai duit. Makanya, yang paling efektif bagi Pak Bur, semua sebagai warga wajib peduli dengan keamanan di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan Aris, warga RT 03 RW 02 Jl. Tunggang, “Sebenarnya melapor itu perlu, sebab itu penting untuk keselamatan tamu. Misalnya saja ketika kita ada tamu yang menginap beberapa hari, lalu ada kemalingan, kita bisa melindungi si tamu tari tuduhan maling tersebut, sebab kita telah melapor.” Namun, bapak 2 anak ini juga tak menampik kalau masih banyak yang tidak menyadari pentingnya melapor ini. “Cuma masalahnya tidak setiap warga mau melaporkan tamunya. Termasuk saya. Sebab, urusannya susah, RT yang tidak di rumah lah, kalaupun ada di interogasi macam-macam oleh pak RT, dan sebagainya. Selain itu sosialisasi RT tentang peraturan ini juga kurang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada juga diamini oleh Murni, warga RT 06 RW 02 Jl. Tunggang, “Melaporkan tamu itu wajib, sebab kalau terjadi apa-apa (masalah) dengan mereka kita tidak repot. Cuma karena tamu itu menginap sehari, kita juga malas melaporkannya. Apalagi pak RT jarang di rumah. Buang waktu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Amsal, di Jl. Gajah Mada Padang, menilai melapor 1 x 24 jam tersebut, patut dipertahankan. Kita harus dukung. Di masa orde baru, peraturan itu agak tegas. Kita bisa rasakan, semua orang yang menjadi tamu dan nginap, harus lapor. Jika tidak, dia merasa risih. “Pengalaman saya, kadang cara lapornya tidak formal. Mungkin sambil berangkat kerja singgah, dan melaporkan tamu kita dan asalnya. Yang lebih baiknya, si tamu ikut menghadap,” kata Am, ayah tiga anak asal Batusangkar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan Am, bahwa saat ini warga, terutama di komplek-komplek perumahan, seakan kian individualistik. Main selamatkan diri sendiri-sendiri. Padahal, kalau disadari, jika terjadi kericuhan atau masalah dengan tamu, dengan siapa saja yang tinggal di rumah kita, urusan pertamanya adalah ketua RT. Yang paling memprihatinkan, lingkungan tempat tinggal kita, kawasan RT, seakan tak ada orang, siapa saja boleh lalu-lalang. Kita tidak tahu, siapa yang bermalam di sebelah rumah kita, atau Pak RT barangkali tidak juga tahu, kalau misalnya pada sebuah rumah, ada yang dimanfaatkan untuk maksiat. “1x24 jam wajib lapor, menurut saya harus ada, bersama-sama ditegakkan. Kalau ada warga melanggar ditegur….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aturan 1x24 jam itu diyakini sebagai salah satu tameng keamanan dan ketertiban kompleks atau lingkungan tempat tinggal, ketika itu pula mestinya masyarakat bersama-sama mendukungnya. “Mudah saja kok. Kita sepakati dulu melalui rapat, setelah itu baru kita terapkan dengan kekuatan, siapa saja melalaikan aturan ini, perlu diingatkan,” kata Dodi Razali, warga Simpang Haru. Ketika ditanya kepadanya, apakah dia merasa terbebani atau tidak melakukannya, dia menjawab, “Sebenarnya merepotkan. Tetapi, kalau semua melakukannya, kita harus paksa diri menghormati pula….” Sambil tertawa, kemudian dia mengungkapkan kepesimisannya. “Sejak reformasi, semua aturan banyak diremehkan. Orang banyak tak peduli, karena alasannya, sekarang dunia sudah berubah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang berpendapat, 1x24 jam itu tergantung RT dan perangkatnya. Karena, warga RT akan cenderung ikut, kalau kepengurusan RT-nya punya wibawa yang dijaga bersama. Hal inilah yang menurut Amsal, harus direnungkan. Kita kaji manfaat positifnya. Kalau banyak mudaratnya, ya udah, tak perlu pakai lapor. “Nah, kalau akal sehat kita meyakini perlu, ini maslahat, wajib didukung….” Katanya. Kalau tidak, kita seakan tak punya hak, misalnya dengan orang-orang yang tak jelas juntrungnya, ada tamu yang berhari-hari kos di salah satu rumah warga, tak perlu disuruh melapor. Kalau kita menegur, akan ada jawaban miring, “RT saja tak negur….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dimintai saran dan pandangan tentang 1x24 jam, semua yang diwawancarai, menilai positif. Disimpulkan pandangan positif bersama tersebut adalah: lingkungan tempat tinggal, RT/RW, bisa dihormati oleh orang luar. Juga, keamanannya terjamin. Dampak lain, antarwarga, bisa saling menjaga dan memahami siapa tamunya. Tamu pun, secara tak langsung merasa nyaman, karena dia masuk dengan salam yang positif.&lt;br /&gt;“Terpenting lagi, jabatan dan wibawa sebagai ketua RT terjaga, dan menjadi teramat penting,” tukas Amsal, sambil mengingatkan, banyak orang menganggap sepele keberadaan ketua RT. Kita harus hormati, karena dia kita percaya demi kepentingan bersama. Nah, tertiblah, minimal pada 1x24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anak Kos&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Peraturan 1x24 Jam wajib lapor, terutama di daerah dimana banyak anak kos, penting. Ini jalan lain mencegah maksiat. Sebab, kalau peraturan itu tidak ditegakkan, bisa-bisa mereka mengurung bukan muhrimnya di kamar. Karena itu, salah satu antisipasi, telah dilakukan pemilik rumah kos. Misalnya, untuk kos putri, tamu pria boleh hingga pukul 21.00 Wib, itu pun di luar pagar. Tapi, banyak juga, sebagaimana pendapat Samsul, salah seorang anak kos, yang mengabaikan keberadaan RT.&lt;br /&gt;Artinya, masih banyak, yang sudah berbulan-bulan kos, tapi Pak RT tak tahu karena tidak melapor. “Mestinya, ibu atau bapak kos yang melaporkan, kalau di rumahnya ada anak kos. Atau anak kos disuruh menemui RT,” kata Samsul yang tinggal di Andalas ini. Sebagai mahasiswa, dia setuju wajib lapor RT. Untuk anak kos, kalau tak diawasi dengan peraturan, lanjutnya, bukan tak mungkin orang bisa berniat jahat, misalnya bandar narkoba kos, tak perlu RT tahu apalagi melapor....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, 1x24 Jam, mestinya sama dengan Wajib Lapor. Kenapa, biar aman dan terpantau, lalu semua nyaman menjaga ldaerah masing-masing.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Gusriyono/S Metron/Andika Destika Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimuat Padang Ekspres, 26 April 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-2980203645743862252?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/2980203645743862252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/tamu-1x24-jamharap-lapor.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/2980203645743862252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/2980203645743862252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/05/tamu-1x24-jamharap-lapor.html' title='Tamu 1x24 Jam=Harap Lapor'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SfxrfddqTnI/AAAAAAAAAN4/3ZlysXsx_Zo/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-519733982870314340</id><published>2009-04-24T03:00:00.000-07:00</published><updated>2009-04-24T12:18:47.274-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PELAJARAN HARI INI'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-family:courier new;font-size:130%;"  &gt;Sahabat terbaik adalah, orang yang berkata padamu, ketika kamu menangis terus menerus (karena merasa tersakiti) oleh kekasihmu: "Temuilah, dialah kekasihmu. Karenanya kamu menangis." Bukan orang yang mengajak, "Tinggalkanlah dia. Karenanya kamu menangis."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-519733982870314340?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/519733982870314340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/sahabat-terbaik-adalah-orang-yang.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/519733982870314340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/519733982870314340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/sahabat-terbaik-adalah-orang-yang.html' title=''/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-67803596425815924</id><published>2009-04-24T02:55:00.000-07:00</published><updated>2009-04-24T03:07:27.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PELAJARAN HARI INI'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;blockquote style="font-family: courier new; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: courier new;font-family:courier new;font-size:130%;"  &gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 102, 102); font-family: courier new;font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Jangan pernah Buat Dirimu Merasa Nyaman."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-67803596425815924?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/67803596425815924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/jangan-pernah-buat-dirimu-merasa-nyaman.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/67803596425815924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/67803596425815924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/jangan-pernah-buat-dirimu-merasa-nyaman.html' title=''/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-6820225466532375216</id><published>2009-04-22T10:17:00.000-07:00</published><updated>2009-04-22T10:28:21.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Berjalan Kaki Taklukkan Sumatera</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Se9SdviCioI/AAAAAAAAANw/RBEK5KyBvD4/s1600-h/19_04_09_hl4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Se9SdviCioI/AAAAAAAAANw/RBEK5KyBvD4/s320/19_04_09_hl4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327567555131509378" border="0" /&gt;                                                       &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Novel (2 dari kiri)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TELAH &lt;/span&gt;120 hari, 2880 jam, melewati 4 provinsi, kini ia singgah di Sumatera Barat, sebuah provinsi yang memang dalam tujuannya. “Perjuangan menembus batas,” begitu ia menyebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ahmad Novel Alatas (30) yang melakukannya. Pria yang tinggal di Kramat, Sentiong, Jakarta Pusat ini memulai perjalannya dari Jakarta menuju Banten-Lampung-Palembang-Jambi-Padang-Medan, dan berakhir di Aceh. Tak memanfaatkan jasa angkutan apapun. Ia melakukan dengan kakinya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berbekal seadanya, makan nasi kecap sekali sehari, pria keturuan Arab-Sunda ini, memulai perjalanannya dari Jakarta. Maka, 15 Desember 2008 lalu, ia berangkat dari rumah. Kepada orang tuanya dibilang, akan pergi mendaki gunung. Ia berbohong. Tapi orang tuanya paham, ia memang suka mendaki. Yang tidak diketahui orang tuanya adalah, ia berjalan kaki keliling Sumatera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel bukan mahasiswa pecinta alam, ia adalah seorang yang tidak menamatkan bangku pendidikan SMA, kemudian tertarik mencari pengalaman dengan melihat alam. “Di dalam hidup, kita harus berjuang. Menembus batas-batas dalam kemampuan kita,” ujarnya berfilosofi. Perjuangan menembus batas, sekarang dilakukannya dengan jalan kaki.&lt;br /&gt;Bungsu 4 bersaudara ini, bukan pertama kali melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Selama 6 bulan, ia melangkahkan kakinya dari Jakarta menuju Bali, setahun yang lalu. Barangkali, tak  bisa membayangkan, pria bertubuh kecil, rambut panjang keriting, mampu melakukan perjalanan sejauh itu. Tapi hatinya sudah bertekad, ia akan menembus batas itu!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti Backpaking, ia tak mencari apa-apa dalam perjalannya. Ia hanya ingin terus berjalan, berjalan, sejauh yang ada dalam pikirannya. Dalam setiap perjalanan itu, ia melihat, kemudian dicatatnya dalam buku kecil. Dalam setiap perjalanan, ia melihat, kemudian merasakan, bagaimana manusia itu beragam dalam ciptaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dianggap Gila, Dibuntuti Perampok&lt;/span&gt;      &lt;br /&gt;“Memori saya sudah berkurang. Kejadian hari ini saja saya sudah banyak yang lupa,” ujar Novel. Tapi ternyata ia masih ingat apa yang dialaminya di Jambi. Seperti kebiasaannya, ketika memasuki suatu daerah, ia pergi mencari gubuk petani untuk menginap. Daerah-daerah yang dilalui sebelumnya, tidak ada hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya sudah sangat mengantuk waktu itu. Tenaganya sudah hampir habis. Ia ingin mencari pondok petani untuk bisa merebahkan badan. Seperti kebiasaannya juga, ia minta izin kepada penduduk setempat. Pemuda tempat dia meminta izin memandang curiga. “Lapor dulu kepada kepala dusun,” tutur pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak dari tempat pemuda itu ke rumah kepala dusun sekitar 3 kilometer. Ia tak sanggup sejauh itu berjalan. Ia meyakinkan pemuda itu, tak sanggup lagi berjalan. Hanya untuk menumpang tidur semalam saja. Esok ia akan langsung pergi. Pemuda itu tetap tak mengizinkan dan menawarkan akan mengantarnya naik sepeda motor ke tempat kepala dusun. Ia tak punya pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai. Di Jambi, sedang berganti kepemimpinan. Kepala Dusun menyuruhnya melapor ke ketua RT. Jaraknya dari sana 3 kilo lagi. Untunglah, di saat keputusasaannya, pemuda yang mengantarkannya itu kemudian berbaik hati. Ia tak jadi mengantarkan Novel ke ketua RT. Pemuda itu menawarkan menginap di sawahnya saja. Jadilah, malam itu ia menginap di dangau pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet pengalaman itu, laiknya hidup di jalanan, bagi  Novel adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga. Ia menyadari betul, di tempat mana ia singgah, bahaya bisa saja mengancamnya. Bisa pula, banyak kebaikan yang mengahampirinya.&lt;br /&gt;Di Lampung, ia diikuti oleh sekelompok orang yang mencurigakan. Ia tahu dari gelagat orang itu, yang sepertinya tidak bermaksud baik. Ia dihampiri dan diintimidasi. Nasib baik. Tak terjadi apa-apa. Sekelompok orang itu mungkin tak menemukan benda berharga yang dibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir di setiap perjalanan, ia disangka gila oleh penduduk yang kebetulan melihatnya. Celananya yang sudah robek, rambut panjangnya yang keriting, dan penampilan semrawutan, membuat orang berpikir, ia bukan orang yang sehat. Tapi itu tak terlalu dipikirkannya, karena apa yang ia cari, hanya dia sendiri yang tahu dan merasakannya. Kenikmatan dan pilihan hidupnya, ia sendiri yang menentukan.&lt;br /&gt;Sampai, Novel pernah putus asa. Sepertinya, ia tak sanggup lagi melanjutkan perjalanannya. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasakan lelah, suatu hal yang sudah dibunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang baik yang ditemuinya, memberinya semangat. “Teruslah berjalan,” katanya menirukan ucapan orang tersebut. Semangatnya kembali di sela-sela keputusasaan itu. Ia harus mencapai tujuan semula: mengelilingi Sumatera dan berakhir di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Insting lebih Kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Banyak hal yang telah dilaluinya selama perjalanan. Kata Novel, setiap daerah yang telah dilalui itu, selain ancaman bahaya dan kebaikan manusia, ia melihat panorama alam Sumatera yang tidak ditemuinya di tempat kelahirannya. Hingga ia memberikan sendiri ‘gelar’ untuk mengingat daerah yang dilaluinya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banten diberinya nama 1001 kawasan industri. Dilihatnya, Banten banyak sekali industri yang berdiri megah seperti industri tekstil dan semen. Di Lampung, ia berkesan, daerah itu seperti karang. Ketika turun dari kapal di Bakauni, langsung disambut monumen yang berbentuk karang. Ia menyebutnya 1001 karang. Penglihatannya di Palembang, daerah itu belum banyak terjamah industri modern, sehingga daerah itu dipenuhi oleh rawa-rawa. Dalam buku catatannya ditulis, Palembang daerah 1001 rawa. Di setiap jalan, dan di mana ia singgah bila lelah, ditemuinya masjid di Jambi. Novel menyebut 1001 masjid. Memasuki Sumbar dari Solok, ia bertemu banyak sekali danau dan keindahan alam yang terjaga dengan alami. Kepada Padang Ekspres,&lt;br /&gt;disebutnya, ini daerah dengan 1001 danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya berbekal peta mudik yang pernah diterbitkan media waktu lebaran lalu, itulah petunjuk Novel mengelilingi Sumatera. Namun, ia menyadari sendiri keterbatasannya sebagai manusia. Itulah pelajaran yang dianggapnya sangat bernilai. Target Novel, ia sudah sampai di Aceh 15 April ini. Lalu kembali ke Jakarta. Ternyata itu tidak terwujud. Ia baru sampai di Padang. “Keterbatasan saya sebagai manusia, hanya bisa berniat,” tutur Novel. Ia tak mempersalahkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berjalan, Novel mendapatkan sebuah kemampuan yang dianggapnya luar biasa. Ia merasa memiliki insting yang kuat. Mungkin, kata Novel, selama perjalanan, ia telah terlatih sendiri untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun, ketika ia memasuki Sumbar dari Solok. Ia disambut hujan yang sangat lebat. Ia kemudian mencari tempat berlindung. Sebentar hujan berhenti, 15 menit kemudian, hujan turun lagi. Kejadian tersebut berlangsung selama 3 kali. Firasatnya mengatakan, “Daerah ini sepertinya akan ditimpa bencana.” Sampai di Padang, ia mendengar dari penduduk, telah terjadi Bencana di daerah Batusangkar. Firasatnya ternyata benar. “Bencana itu memang tidak bisa dicegah dan diketahui. Tapi bisa dirasakan,” tutur Novel tentang firasatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanannya baru setengah. Di Padang, daerah yang sangat dikaguminya karena keindahan alam yang sangat alami, ia berniat terus melanjutkan perjalannya menuju Sumatera Utara dan Aceh. “Saya akan terus berjalan,” tutupnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-6820225466532375216?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/6820225466532375216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/berjalan-kaki-taklukkan-sumatera.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6820225466532375216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6820225466532375216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/berjalan-kaki-taklukkan-sumatera.html' title='Berjalan Kaki Taklukkan Sumatera'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Se9SdviCioI/AAAAAAAAANw/RBEK5KyBvD4/s72-c/19_04_09_hl4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-6149489922203619792</id><published>2009-04-15T08:47:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T02:28:21.785-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Surat dari Israil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDq9OnC2I/AAAAAAAAAPg/e1BElq_SyqY/s1600-h/jacklatter.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 166px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDq9OnC2I/AAAAAAAAAPg/e1BElq_SyqY/s200/jacklatter.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355276574677994338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEPUCUK &lt;/span&gt;surat terletak di pintu kamarku pagi ini ketika bangun tidur. Sebuah amplop putih yang tidak dilem. Tanpa alamat dan kop surat. Dari: Israil. Tulisan itu memenuhi seluruh amplop putih. Kukeluarkan surat itu dari sarangnya. Di dalam amplop kulihat pula sebuah tulisan yang tidak terlalu panjang. Tampaknya dibuat tergesa-gesa.&lt;br /&gt;“Waktumu tinggal 24 jam setelah membaca surat ini.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mataku masih belum nyalang dengan benar. Sesekali aku menguap menandakan kantuk masih bersemayam di tubuh. Namun—setelah membaca surat itu—badanku jadi begitu segar. Kuapan telah hilang dengan sempurnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucermati satu persatu kata dalam surat itu. “Duapuluh empat jam? Sama artinya umurku tinggal satu hari lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinginnya suasana pagi tidak terlalu kupedulikan. Surat ini menjadi sebuah ancaman. Kukedipkan kedua mata, salah satu anggota tubuh harus rela pula kucubit. Ternyata terasa sakitnya, dan sebuah pertanda bahwa aku memang tidak sedang bermimpi.&lt;br /&gt;Kucermati lagi nama pengirimnya. Israil. Israil yang mana? Kuingat lagi nama teman-teman. Mulai dari teman TK sampai perguruan tinggi. Tidak ada yang bernama Israil. Yang ada Isron, teman selokal waktu SD. Apakah mungkin dia yang mengirim? Tapi setamat dari SD, kami tidak pernah bertemu lagi. Dia melanjutkan pendidikan ke Mataram, tempat ibunya bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin Isron,” batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana dia tahu alamatku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku kembali ke masa lampau. Mencari-cari di dalam memori apakah ada yang bernama Israil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan-jangan Isram, teman sewaktu SMA. Ia terkenal paling bandel. Tapi, dia sekarang kuliah di Jakarta . Tidak mungkin pula tahu alamatku. Lagi pula, aku tidak terlalu dekat dengannya. Bermusuhan pun tidak. Jadi, untuk apa dia mengirim surat ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, siapa Israil?” Kembali pertanyaan itu menghantuiku&lt;br /&gt;Memori otak kembali berputar mencari manusia yang diberi nama Israil. Tapi tidak jua ada yang memunyai nama itu. Hanya mendekati, dan jelas tidak sama. Apakah benar ada manusia yang bernama Israil? Lalu, siapa yang mengirim surat bernada ancaman ini? Atau teroris yang memang sedang berkeliaran di negara ini?&lt;br /&gt;Atau…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…ini pasti perbuatan Budi, kakakku yang suka iseng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa lagi kalau bukan dia yang masuk ke kamarku,” ujarku lirih.&lt;br /&gt;Sebuah titik cerah kutemukan, walau belum terlalu menentramkan. Kakakku Budi memang suka iseng. Dari kecil, dia memang suka sekali iseng terhadapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terlalu kupedulikan surat itu. Kuambil handuk di lemari, terus pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badan. Udara pagi yang sejuk sedikit menghilangkan pikiranku tentang surat tadi. Ketika berangkat ke kampus pun, aku tidak memberi tahu Ibu atau menanyakan kakak yang suka iseng itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas kamu ya, nanti pasti kubalas.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sore ini, aku agak telat pulang dari kampus. Pulang kuliah, badanku sedikit lelah. Pelajaran yang kudapat dari dosen, hari ini sungguh mengesalkan. Belum lagi tugas yang menumpuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, aku langsung menuju kamar. Tidak kulihat ibu. Mungkin ibu sedang pergi ke pasar. Kamarku terletak di lantai dua. Biasanya, ibu menyambutku setiap pulang kuliah dan menyajikan hidangan makanan di meja makan. Kadang aku disuapi ibu, sambil bertanya tentang pelajaran di kampus. Maklum, kami cuma dua bersaudara. Itu pun laki-laki keduanya, sehingga ibu sangat menyayangi kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kamar kubuka. Kulempar tas ke atas dipan. Ketika akan membuka baju, kudapati lagi sepucuk surat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari: Israil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut. Sama seperti surat tadi pagi, pengirimnya tidak mencantumkan alamat. Anehnya, nama pengirim sama: Israil. Surat itu benar-benar hendak mencabut nyawaku hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktumu tinggal 15 jam dari sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma kalimat itu yang ditulis. Kuambil surat yang tadi pagi. Tulisannya sama. Kusimpulkan, bearti orangnya pun sama. Pikiranku langsung tertuju kepada kakakku. Keperhatikan lagi tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin ini dari kakak. Kakak tidak bisa menulis huruf tegak bersambung,” pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar dari kamar. Kucari kakak. Walaupun bukan dia yang membuat surat itu, setidaknya dia tahu orang yang masuk ke rumah ketika aku di kampus. Aku turun menuruni tangga seperti hendak mencari maling yang lari ketika mendapatkan hasil jarahannya. Kucari ke kamarnya. Pintu dikunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada orang di rumah. Aku pergi ke dapur. Mencari Bik Inah, pembantuku. Sore-sore begini biasanya dia sibuk menonton gosip artis di televisi.&lt;br /&gt;“Bi, apakah ada tamu yang datang ke rumah ketika aku pergi kuliah?”&lt;br /&gt;Bibi masih sibuk dengan televisinya. Dia larut ke dalam acara yang ditampilkan televisi. Sehingga ketika aku bertanya, dia tidak mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bii…,” kali ini suaraku agak besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya… den. Ada apa?” terbata-bata suara Bibi mendengar teguranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuulangi lagi pertanyaan yang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada, Den. Dari pagi Bibi tidak melihat ada tamu yang datang. Memangnya ada apa, Den?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar tidak ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar Den.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pergi meninggalkan Bibi. Dia tampak masih keheranan. Aku berlari keliling rumah. Mencari kalau-kalau ada jejak yang mencurigakan. Kuperhatikan mulai dari pintu jendela sampai ventilasi rumah. Tidak ada yang mencurigakan.&lt;br /&gt;Aku duduk di teras. Lelah. Ibu belum juga pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa sebenarnya Israil?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke kamar. Kuperhatikan lagi surat itu. Benar-benar sebuah ancaman yang menakutkan. Kalau benar yang mengirim surat adalah Israil, untuk apa dia mengirim surat ? Bukankah Israil mencabut nyawa manusia tidak pakai surat ? Lalu kenapa sekarang dia melanggar itu? Atau…apakah memang benar isi surat itu? Aku akan mati? Ini sangat melanggar hukum Tuhan. Atau Israil perlu mengirim surat untuk mencabut nyawa manusia? Beribu-ribu tanya muncul di benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah…mana mungkin Israil bisa membuat surat ?” Hatiku berperang antara percaya dan tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, untuk apa dia mengirim surat kepadaku? Apakah dosaku terlalu besar sehingga perlu diberi surat agar aku bertobat sebelum nyawa dipisahkan dari raga?”&lt;br /&gt;Aku takut. Kalau benar Israil yang mengirim surat , berarti umurku tinggal 9 jam.&lt;br /&gt;Badanku yang lelah ketika pulang kuliah kini semakin terasa. Rasa kantuk mulai menjalari tubuhku. Berlahan, rasa kantuk itu menguasai seluruh tubuh. Aku tidak berkutik dan tertidur dengan surat masih digenggam.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku terbangun ketika azan subuh sudah berkumandang. Ayam jantan dengan kokoknya yang bersahut-sahutan menyambut pagi yang akan muncul. Surat yang kugenggam sudah tergeletak di bawah lantai. Kubuka pintu kamar menuju kamar mandi untuk berwudu’. Ketika membuka pintu, kulihat lagi sepucuk surat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini pasti dari Israil, apalagi yang hendak disampaikannya padaku pagi ini? Apakah dia akan mencabut terornya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuambil surat itu. Benar, dari Israil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktumu tinggal 2 jam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai gelisah. Nafasku ngos-ngosan. Peluhku bercucuran. Dua jam lagi nyawaku telah berpindah tempat. Aku tidak akan bertemu lagi dengan ibu dan kakak.&lt;br /&gt;Subuh yang dingin telah berganti dengan sebuah ketakutan. Aku turun dari kamar, tidak jadi pergi berwudu’. Teror ini benar-benar sekarang menakutiku. Aku menemui ibu, menemui kakak, untuk minta maaf, jika benar dua jam lagi Israil akan melaksanakan niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Ibu dan kakak sudah bangun. Mereka sedang duduk di ruang tamu.&lt;br /&gt;“Bu, maafkan aku,” air mataku keluar. Kepada kakak aku juga berucap begitu.&lt;br /&gt;“Kamu kenapa, kok tiba-tiba langsung minta maaf pagi-pagi begini?”&lt;br /&gt;Aku terdiam. Apakah Ibu percaya yang akan kukatakan? Sebuah keraguan muncul, atau ibu akan menganggapnya sebuah candaan. Tapi teror ini harus segera dilaporkan. Kuberikan surat itu pada Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu membacanya. Kemudian raut wajahnya berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu juga dapat surat yang sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakakmu juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlihatkannya surat itu kepadaku. Mulai dari jenis tulisan sampai kepada isinya, memang tidak ada satu pun yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita semua dapat surat yang sama,” lanjut Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika benar Isaril akan mencabut nyawa kita dua jam lagi, kita akan bertemu lagi di dunia yang berbeda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan Ibu, Nak!”&lt;br /&gt;Ibu menangis. Kakak juga seperti selesai menangis. Kami saling koreksi diri. Kemudian maaf-maafan. Ibu memeluk kami berdua. Air matanya telah mengganti pagi menjadi sebuah drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku, dua jam lagi kita tidak akan bertemu. Dan Ibu tidak tahu, apakah di dunia lain kita akan kembali bersama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kakak tidak menjawab pertanyaannya. Ibu mengeluarkan semua uneg-unegnya. Kami semua ketakutan. Takut akan ajal yang sudah di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bik Inah muncul dari dapur. Tergopoh-gopoh berlari menuju kami. Kemudian diberikannya sepucuk surat kepada Ibu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pagi mulai tiba. Kami sekeluarga masih berpeluk-pelukan. Tidak sampai dua jam lagi kami akan berpisah. Bik Inah, kini juga sudah menyatu dalam pelukan kami. Dia juga mendapatkan surat dari Israil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami keluar dari rumah. Minta maaf dengan tetangga. Tidak peduli, apakah tetangga-tetangga nantinya percaya atau tidak. Kami benar-benar ketakutan.&lt;br /&gt;Di luar rumah kelihatan ramai sekali. Pagi ini semua orang keluar dari rumahnya masing-masing. Jalanan tidak ada mobil. Suara sepeda motor yang biasa lewat tiap pagi telah berganti menjadi suara langkah kaki manusia yang berlari. Semua berlari sambil memegang sepucuk surat di tangan mereka. Entah kemana mereka berlari. Kami pun ikut berlari. Semua orang tampak ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, Israil memberikan suratnya kepada semua penduduk kota ini. Pak Hamdan yang biasa lewat tiap pagi sambil berjongging terlihat juga sedang berlari dengan satu helai kertas di tangannya. Bu Darsih, dosenku, dengan gaun tidurnya tampak pula dalam rombongan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelarian itu, semua orang berteriak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan…ampuni kami!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang, 28/12/06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-6149489922203619792?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/6149489922203619792/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/surat-dari-israil.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6149489922203619792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6149489922203619792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/surat-dari-israil.html' title='Surat dari Israil'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHDq9OnC2I/AAAAAAAAAPg/e1BElq_SyqY/s72-c/jacklatter.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-4235679912315131016</id><published>2009-04-15T08:33:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T02:30:40.277-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Gadis Menangis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHENgwJbVI/AAAAAAAAAPw/K3wkVkm2b3U/s1600-h/tear3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHENgwJbVI/AAAAAAAAAPw/K3wkVkm2b3U/s200/tear3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355277168329452882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEHABIS &lt;/span&gt;hujan sore itu, gerimis belum berhenti, sayup kudengar teriakan minta tolong. Seperti suara perempuan. Makin lambat semakin tak terdengar. Oh, adakah ia sedang diperkosa? Tempat ku berdiri begitu sepi. Bagi penikmat tubuh perempuan, suasana seperti ini cocok melampiaskan hasrat. Aku akan menolongnya? Bagaimana jika ia, si pemerkosa itu, punya pistol? Bagaimana aku mesti melawannya dengan tangan &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tolong Pak, aku mendengar suara perempuan minta tolong di gang lengang.” Cepat kuambil tindakan. Barangkali masyarakat sekitar masih ada yang tidak kedinginan, dan mau menyempatkan dirinya keluar rumah, membantu perempuan itu. &lt;br /&gt;“Tidak salah dengar kau?” Lelaki itu berlari-lari kecil ke dapur, mengambil pisau, barangkali. Aku berlari lagi. Satu orang tidak akan bisa menolong perempuan itu.  40 orang berhasil kukumpulkan. Kayu, parang, golok, siap mencari makanannya. Si pemerkosa itu mesti diberi pelajaran budi pekerti. Itu  perempuan, seorang diri, tidak pantas disakiti. “Cepat..”       &lt;br /&gt;“Di mana?”      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendengaranku tak salah, tapi aku terlalu lambat berbuat. Perempuan itu, dengan langkah terhuyung-huyung, menahan sakit di selangkangan. Wajahnya pucat. Paras cantiknya tak bercahaya. Tak sempat ia mengenakan baju. Aku yang memasangkannya. “Kemana laki-laki itu pergi?” Ia tak menjawab. barangkali suaranya telah habis meronta. Aku membayangkan saat-saat kritis itu. Kubantu ia berdiri. “Lapor pada polisi. Mari!” Kata yang lain. Perempuan itu menggeleng.         &lt;br /&gt;Bisu. Lama ia tidak bersuara. “Mari kuantar pulang. Dimana rumahmu?” Ia jadi tontonan. Orang-orang iba. Tapi perempuan itu, barangkali tak butuh belas kasihan. “Pergi..pergi..” Ia mengusir semua. Membabi-buta. Kemudian meraung. Orang-orang tak bisa berbuat apa. Hanya menatap iba. Lalu pulang. Aku menyalahkan diri. Andai, 60 menit yang lalu itu, aku mengambil kayu, memukul lelaki yang berada di atas tubuhnya. Kepalanya akan berdarah. Lalu pingsan. Ah…       &lt;br /&gt;Perempuan itu tinggal sendiri. Gerimis belum berhenti. Dingin. Apakah perempuan itu juga kedinginan? Aku menyesal tak bisa menyelematkan sebuah kesucian. Lalu kuhampiri lagi dia. Kesalahan kedua tak boleh kubuat. “Mari kuantar pulang. Di sini dingin sekali.” Kurangkul tangannya. Oh, ia tidak menolak. Ia menyandarkan tubuhnya ke dadaku. Kurasakan, detak jantungnya yang cepat. Ia terpaku tak bertenaga.   &lt;br /&gt;Ia rebah didadaku. Lalu pingsan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Untung ada Emak Enah. Nenek tua, yang telah menganggapku anak, bersedia merawat. Barangkali sampai ia bisa mengatakan alamat rumahnya. Akan kuantar ia pulang. Walau, kata Emak, tak mudah mengembalikan semangat hidupnya. Tapi ia tentu butuh semangat untuk meyakinkan, ia masih punya kehidupan setelah itu. Emak orang yang cocok untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 1999, musim dingin. Angin di mana-mana. Nun jauh, dalam hati yang pedih karena luka, perempuan itu pertama kalinya membuka suara. Aku terkejut. Emak tersenyum. “Siapa namamu?” Ah, dua bulan perempuan itu di rumah Emak, aku belum tahu namanya. Ia barangkali tak setegar batu karang. Dimatanya, masih kulihat ia mengenang dukanya. Menggenangi pipinya dengan air mata. Air mata itu belum berhenti turun dari dua bulan yang lalu. “Aku benci laki-laki.”     &lt;br /&gt;Aku kira, perempuan itu, tak akan bisa memaafkan laki-laki. Ya..laki-laki. Termasuk aku. Meski aku bukan laki-laki yang membuat ia menjadi korban. Tapi apa bedanya. Di dalam jiwanya, semua laki-laki adalah pemerkosa. Laki-laki yang membuat ia bernista diri. Seharusnya ia tidak di rumah Emak sekarang. Bagaimana bisa Emak meyakinkan semua laki-laki tak seperti ia kira? Oh, aku hanya ingin mengantarnya pulang. “Dimana rumahmu?” Tanyaku kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak berumah. Aku tak berkeluarga.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  tidak percaya. Paras cantiknya itu, pertanda wajahnya dirawat baik-baik. Kulitnya masih halus. Aku merasakan ketika menggendongnya ke rumah Emak. Barangkali ia anak orang kaya. Baju Guess yang ia kenakan, tak semua orang mampu membelinya. Ia belum terlalu sehat. Atau, ia tidak akan pernah sembuh. Oh, apakah tidak ada, di kota yang besar ini, seorang Ibu yang kehilangan anaknya? Tiap hari koran kubeli, tak ada iklan seorang ibu yang kehilangan anak gadisnya.       &lt;br /&gt;Gadis ini tidak punya orang tua, kata Emak suatu malam. Menurutku Emak hanya mengira-ngira.        &lt;br /&gt;Emak akan merawatnya. Alasan Emak sederhana, anaknya bertambah satu lagi. Meski kedua anaknya itu tidak berasal dari rahimnya. Emak memang perempuan sahaja yang pernah kukenal. Begitu lembut. Dari kerut wajahnya, tersimpan kasih sayang tak berbatas. Kepada siapa saja.         &lt;br /&gt;Hari Jumat, sepulang salat dari masjid, Emak kutemui bermenung. Gadis itu telah pergi, kata Emak. Tidak tahu kemana, dan tak ada pesan. Tiba-tiba pikiranku buruk. Gadis itu akan bunuh diri. Ia tidak bisa menerima keadaannya. Emak tak mampu meyakinkannya. “Mari Mak, kita cari sampai dapat.”     &lt;br /&gt;Kesalahan ketiga adalah, menemukannya jadi mayat. Tapi, dimana gadis itu akan dicari? Yang pasti, kataku pada Emak, ia belum jauh. Kondisinya, walau segala macam obat telah diminum, tidak terlalu baik. Obat yang diperoleh dari dokter tak mampu menyembuhkan jiwanya. Alasan yang masuk akal, jika ia berniat bunuh diri, mencarinya di tempat-tempat yang memungkinkan untuk bunuh diri. Ia masuk ke dalam supermarket, sampai ke lantai tertinggi, loncat dari atas sana. Atau ia pergi ke laut yang letaknya tak jauh dari kota. Di sana, kemungkinan itu terbuka lebar. Lebih mungkin, ia menabrakkan diri ke mobil yang lewat di jalan raya. Ah, kami bingung. Semua kemungkinan terbuka lebar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafas ngos-ngosan. Sampai tengah malam, gadis itu tak jua bertemu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Satu bulan, satu tahun, sudah lima tahun, gadis itu hilang dengan sempurnanya. Tak pernah ada kabar. Emak, sampai batas kemampuannya, sudah merelakan gadis itu. Mudah-mudahan saja ia kembali ke rumahnya. Ah, tentu saja, di pelukan ibunya, ia bisa lebih tenang. Aku yakin, ia akan setegar batu karang. Walau kenangan itu akan terus membekas, aku berharap ia bisa melupakannya. Aku tidak berharap ia mengenang orang yang telah menolongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menulis sajak perempuan senja, untuk mengingatnya.     Seorang lelaki, lima puluh tahun kukira, duduk di teras rumah Emak. Aku tak mengenalnya. Tapi aku yakin, pembicaraanya penting. Tak pernah ada tamu, sebelum atau sesudah perempuan itu dirawat Emak.    &lt;br /&gt;“Ia mencari gadis itu. Katanya, ia orang tuanya.” Aku sempat tak yakin, seperti Emak. Bagaimana mungkin, setelah lima tahun, ia mengaku mencari gadisnya? Apakah ia tidak pernah merasa kehilangan? Namun, jika benar ia adalah orang tua gadis itu, pencariannya sangat terlambat. Aku kira, ia tidak benar-benar serius mencari gadisnya itu. Seharusnya, tak di rumah ini dicarinya. Bisa ke tempat lain. Kenapa laki-laki itu, pikirku, tak bersama polisi? Oh, aku tak memikirkan laki-laki yang mengaku orang tuanya itu. Aku teringat gadis itu, yang belum sempat kutau namanya. Kemana ia berlabuh? Sudahkah ia berada di surga?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku sudah tua. Emak tak ada lagi. Gorong-gorong yang sepi itu, masih seperti dulu. Barangkali tempat itu disediakan untuk para pemerkosa. Setiap kali aku melewati gorong-gorong itu, masih kudengar rintihan seorang gadis yang mempertahankan kesuciannya. Telah bertahun-tahun, aku tak pernah mendengar kabarnya. Ia tentunya sudah tua seperti ku juga, andai ia masih hidup. Aku memang tak pernah berpikir, ia telah tak ada. Aku begitu yakin, entah darimana keyakinan itu, ia akan bertahan dengan deritanya. Kata-kata Emak kepadanya, hidup adalah cobaan, setiap langkah, buruk atau baik, titiknya adalah Tuhan. Kepadanya tempat segala mengadu. Ia yang menentukan. Kala itu, aku melihat gadis itu terpaku.     Menangis. Bukan untuk deritanya. Saat itu ia mungkin sadar satu hal, masih ada tempat mengadu: Emak dan Tuhan. Barangkali Emak dan aku sengaja diutus untuk memberikan semangat kepada gadis ini.       &lt;br /&gt;Di malam yang dingin, aku terbiasa menghabiskan sebatang rokok sebelum tidur. Mengenangnya bila bayangan itu muncul tiba-tiba. Masih kusesali, ketidakmampuanku menolongnya. Penyesalan yang telah begitu lama larut dalam tubuhku. &lt;br /&gt;Ah, kenapa, di setiap gerimis sehabis hujan, aku melihat bayangannya di mana-mana? Aku melihat Emak yang memeluknya. “Uda..nasi sudah dingin.” Oh, maafkan aku istriku. Nasi yang kau hidangkan untukku, belum sempat kumakan. Aku mengenang perempuan itu lagi. Tapi tak usah kau tahu. Ia masa lalu dari kesalahanku.  &lt;br /&gt;“Tok..tok..”       &lt;br /&gt;Langit basah. Di laut, ombak tak akan tenang. Angin seperti tak pernah berhenti berembus. Seseorang mengetuk pintu. Di malam yang semakin dingin, aku enggan menerima tamu. Tapi tak ada salahnya kubuka. Istriku barangkali tengah mengajarkan cucunya membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tua. Langkah yang tak lagi tegas, tersenyum mengulum. “Boleh aku masuk?” Tak sempat kutanyakan, kamu siapa? Mau apa? Ia masuk, lalu duduk di ruang tamu. Satu hal terlintas, perempuan ini tidak akan berbuat buruk. Ia tentu datang untuk maksud yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku datang untuk satu kalimat yang telah lama ingin kukatakan. Terima kasih.” Aku baru akan pergi ke dapur, menyuruh istriku membuatkan segelas teh panas. Tapi tak jadi. Terima kasih? Iakah yang kutunggu-tunggu? Gadis itu, yang dulunya kabur, tak berkabar. Ia masih ingat rumah yang sempat memberikannya ketenangan, barangkali. Bagaimana aku mesti mengingatnya? Ia sudah tua. Kira-kira seumuran denganku. Tak ada tanda yang bisa mengingatkanku padanya.     &lt;br /&gt;“Kau kah gadis itu. Dari dulu, aku belum tahu namamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersenyum. Berulangkali minta maaf.        Aku bukan lagi seorang perempuan setelah kejadian itu. Ibuku  mengajarkan betul, hanya kesucian yang dimiliki seorang perempuan. Semua di dunia ini adalah milik laki-laki, kecuali kesucian itu. Aku tak bisa menyesal, kesucian itu direnggut sengaja. Tanpa ikatan apa-apa. Aku malu. Aku tak sanggup menemui Ibu, Tuhan, atau diriku sendiri. Aku nista. Aku tak pantas hidup. Tak layak ditolong.     &lt;br /&gt;Aku kabur dari rumahmu.      &lt;br /&gt;“Emak telah tak ada,” kataku.    &lt;br /&gt;Oh, aku belum sempat berucap terimakasih kepada Emak. Kuceritakan saat kematian Emak. Hal yang selalu diingatnya ketika sakit adalah menyebut namamu, kataku. Ia tertegun. Tangisannya itu, ya air mata itu, kuingat betul. Tapi itu tidak penting, kataku lagi. Kini kau telah kembali, walau sebenarnya dari dulu keadaan seperti ini kudamba. “Bagaimana keadaanmu sekarang?”       &lt;br /&gt;Aku tak kuat kembali ke rumah. Aku tak akan kembali ke rumah. “Seorang lelaki tua, mengaku orang tuamu, datang rumah ini setelah lima tahun kau menghilang,” ujarku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tertunduk. Dipegangnya tanganku erat. Kekuatan terbesarku adalah, aku mampu meyakinkan diri. Aku tinggal di rumah Bibi. Kepadanya kuceritakan semuanya. Ia yang membuat semangatku kembali. Aku tinggal di rumahnya. Tapi tak boleh kuberi tahu, untuk berkata pada Ayah atau Ibu. Ia setuju.    &lt;br /&gt;Tapi aku selalu merindukan Ibu yang baik hati. Ayah yang selalu mengajarkanku ilmu agama. Suatu hari, Ayah dan Ibu datang. Mungkin Bibi melanggar perjanjian. Mereka tidak marah. Mereka terlalu rindu dengan kehadiranku di sisinya. Tak lama setelah kejadian itu, Ibu meninggal. Dua tahun kemudian, Ayah menyusul. Aku tak punya siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uda…nasinya sudah dingin.”    &lt;br /&gt;Ah, benar istriku. Nasi ini telah dingin. Barangkali aku sedang tak lapar.&lt;br /&gt;Malam masih gelap. Di gang lengang, aku masih melihat perempuan itu minta tolong. Rintihan nafas menahan perih. Kubawa setangkai bunga mawar. Aku ingin, di tempat ini, bunga-bunga mawar itu mekar. Meski tak akan kulihat lagi bunga itu tumbuh dan merekah. Bila ada orang yang ke sini, mereka akan mengenang, seperti kalimat tak penting yang kutulis di sana, merekahlah bunga, sebarkan wangimu.&lt;br /&gt;                                                                                    Ruangsempit—malam dingin, 2009   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-4235679912315131016?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/4235679912315131016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/gadis-menangis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4235679912315131016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4235679912315131016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/gadis-menangis.html' title='Gadis Menangis'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHENgwJbVI/AAAAAAAAAPw/K3wkVkm2b3U/s72-c/tear3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-4041230940599974366</id><published>2009-04-13T01:26:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T02:29:41.308-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Pulang Kampung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHD-uoGZnI/AAAAAAAAAPo/x7LJSyt5oeY/s1600-h/a5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 169px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHD-uoGZnI/AAAAAAAAAPo/x7LJSyt5oeY/s200/a5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355276914355758706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;KAMI&lt;/strong&gt; bertemu lagi di kota yang pernah meninggalkan sisa kenangan. Dalam keadaan yang berbeda, dan perut yang tak lagi datar. Rusdi sudah jadi Dokter, semakin putih kulitnya. Hasim masih menulis, jadi wartawan ia kini. Salim, teman lama yang tak akrab, pekerjaannya tak pernah jauh dari cita-citanya dulu: guru, lebih dikenal dengan sebutan Guru Salim. Aku tak kalah dari mereka. Setidaknya, dalam hal penghidupan. Aku pedagang barang kebutuhan harian. Tak terlalu miskin, masih bisa menabung.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan masa lalu mengantarkan kami bertemu di tempat yang sudah sangat lama tak berkabar, di bawah pohon mahoni yang rindang semasa SMA. Kami bertemu tidak lagi dengan wajah anak-anak, tapi tetap dengan senyum yang sama. Satu kesamaan, yang membuat kami tertawa serempak adalah, perut yang semakin berisi. Paling gendut Rusdi. Ia juga yang paling lebar senyumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya yang gendut itu kau,” tunjuk Hasim kepadaku. Pedagang itu selalu culas. Laba saja yang ada dalam otaknya. Aku tersenyum. Temanku yang satu ini tidak pernah berubah. Cemeehnya tetap saja kental.&lt;br /&gt;Cerita anak-anak paling menarik bagi Rusdi. Anaknya dua. Luar negeri sekolahnya, yang paling tua. Kami bertiga merendah karena tak bisa lagi meninggi. Salim anaknya paling banyak. Walau, ia yang bergaji paling sedikit. Anak terkecilnya saja masih Taman Kanak-kanak. Kami sempat terdiam tak bersuara dan saling pandang satu sama lain, ketika Salim bertanya daerah rantau. Serempak menjawab, “Jakarta.” Ah, alangkah sempitnya dunia ini.&lt;br /&gt;Ternyata kami dekat. Tapi tidak pernah bertemu selama 35 tahun. Jaman yang semakin modern tak juga bisa mempertemukan kami di kota yang sumpek itu. Atau jangan-jangan, kota itu tak pernah bisa mempertemukan orang-orang. Barangkali hanya keajaiban, ketika di tempat ini, kami bisa berkumpul lagi.&lt;br /&gt;Lima jam sudah waktu habis bercerita. Uban di kepala tak bisa menutupi jiwa kanak-kanak kami. Dari masalah pacar, pekerjaan, sampai Hasim yang katanya akan bercerai. Semua dibungkus dalam cerita yang tak berideologi. Hanya untuk tertawa saja. Saling ejek tapi tak menyakitkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngomong-ngomong, kalian kenapa pada pulang kampung semua?” Pertanyaan yang dari tadi hendak kuajukan.&lt;br /&gt;Semua saling pandang. Serempak menjawab, “Mengabdi kepada kampung halaman.” Rusdi menambahkan, marantau bujang dulu, di kampuang paguno balun. Mengabdi? Aku mengerutkan kening. Karena tepat, alasanku juga sama dengan mereka.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hanya aku yang belum punya rumah sendiri di kampung halaman. Rusdi, Salim, dan Hasim katanya sudah membuat rumah untuk anak perempuan mereka. Ya, terpaksa, aku numpang di rumah orang tua. Ah, tak apa. Aku tak terlalu lama di kampung. Jika pekerjaan ini sudah selesai, aku balik lagi ke Jakarta.&lt;br /&gt;“Sudah dapat orangnya, Bujang?” tanyaku pada kemenakan jauhku.&lt;br /&gt;“Sudah, Da. Katanya nanti sore akan ke sini.”&lt;br /&gt;Kemenakanku itu, sebelum aku pulang kampung, memang kusuruh untuk mencari orang yang bisa dipercaya dan pandai berdiplomasi. Setidaknya, ia bisa mewakili ide-ide yang kucanangkan untuk membangun kampung halaman.&lt;br /&gt;“Begini. Aku akan mencalonkan diri mencadi calon legislatif. Yang kumaksud, kau bisa mencari dukungan sebanyak-banyaknya untukku. Apa pekerjaanmu?”&lt;br /&gt;“Saya mahasiswa, aktif di legislatif. Tapi sebentar lagi tamat.&lt;br /&gt;Esoknya, kusuruh ia datang lagi ke rumah. Kuberitahu beberapa pokok-pokok pikiran yang sudah kupersiapkan. Kertas-kertas yang telah kufotokopi kuserahkan kepadanya. Setiap kau bertemu orang, kataku padanya, katakan bahwa aku, anak Sutan Sulaiman akan mengabdi kepada kampung halamannya. Ia akan membantu masyarakat untuk lepas dari belenggu kemiskinan, memudahkan mengurus surat tanah, jalan akan dibangun. Katakan juga, aku sudah banyak mendapatkan ilmu di Jakarta.&lt;br /&gt;“Mambangkik batang tarandam, begitulah kira-kira,” kataku.&lt;br /&gt;Yudi, aktivis itu mengangguk. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaan ini di kampus. Aku lega. Kemenakanku mencarikan orang yang tepat. Aku janjikan padanya, bila nanti aku terpilih, ia akan kutempatkan di posisi yang terhormat. Aku lihat ia tersenyum. Sebelum pergi dari rumah, kuberikan ia uang untuk pekerjaan yang akan dilakukannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok aku akan kembali lagi ke Jakarta. Kukemas segala barang. Maksud telah sampai, niat terwujud sudah. Satu pekerjaan awal menggemberikan. Sehabis mandi sore, kusempatkan diri datang ke bawah pohon mahoni di dekat SMA. Ah, pohon itu terus memanggil-manggilku bila pulang. Seorang diri aku duduk di sana. Tiga orang temanku , tak lagi berkabar. Mereka tentu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Larut dengan tujuan mereka untuk pulang kampung. Aku juga tak sempat berkunjung ke rumah mereka masing-masing. Persediaan danaku sudah menipis. artinya, aku tak boleh lama-lama lagi di sini. Ah, aku teringat percakapan terakhir kami, dua minggu yang lalu di bawah pohon mahoni ini. Mengabdi kepada kampung halaman? Oh, mengapa aku baru sadar sekarang, tiga orang temanku itu, aku kira, mereka juga akan menjadi calon wakil rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sudahlah. Besok aku akan ke Jakarta.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Entah keajaiban apa ini. Kami berempat bertemu lagi di bandara, cuma beda pesawat. Seperti biasa, senyum mengambang dan ruang tunggu pesawat penuh dengan canda. “Kok bisa ya?” Salim bergumam. Jangan-jangan, dipotong, Hasim, di antara kita ada yang akan meninggal. Barangkali ini adalah firasat. Waktu mempertemukan kita untuk yang terakhir kalinya. Aku memotong firasat Hasim, “Jangan berbicara seperti itu. Berpikir rasional saja. Bukankah kita berempat akan menjadi wakil rakyat?” oh, tiba-tiba lidahku keliru berbicara.&lt;br /&gt;Suasana menjadi diam seketika. Tapi hanya sejenak, Salim memulai lagi pembicaraan. Kali ini cara bicaranya tidak kukenali. Tak seperti guru. Dari dulu, kata Salim, kami berempat selalu bersaing. Entah kenapa, lebih sering memperebutkan hal yang sama. Mulai dari memperebutkan Resti waktu kami kelas tiga SMA, sampai memperebutkan posisi di tim sepakbola. “Apa yang hendak kau berikan kepada kampung halaman, Rusdi?” Tanya Salim. Yang membuatnya tidak seperti guru adalah ucapan terakhirnya. Dari dulu, Rusdi sangat pendiam. Meski ia yang paling berhasil, tapi ia tidak tahu cara berkomunikasi dengan orang. Lalu, bagaimana pula akan mengabdi kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah Rusdi tidak tersinggung. Ruang tunggu pesawat ini seperti milik kami berempat saja. Orang-orang yang di sekitar tak kami pedulikan. “Sesuai dengan pekerjaanku. Aku akan membuat masyarakat sehat. Dari sana pembangunan itu dimulai,” tutur Rusdi. Teori-teori pembangunan dijelaskannya kepada kami, sepertinya kata-kata itu telah disusunnya. Jepang bisa menjadi Negara maju karena masyarakatnya sehat-sehat. Aku akan memberikan masyarakat kesehatan yang gratis. Ini yang jarang diperhatikan selama ini. Pertanyaan itu diputarbalikkannya kepada Salim. “Apa yang hendak kau perbuat?”&lt;br /&gt;Salim meyulut rokoknya. Tapi keburu dimatikan. Sebab, seorang satpam melihat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak ingin bantah pendapatmu. Tapi penglihatan kita beda. Masyarakat kita menjadi bodoh karena mereka tidak sekolah. Itu yang akan kuperjuangkan.”&lt;br /&gt;“Kau ingin menaikkan anggaran pendidikan?” Hasim menyela. Aku perlu memberitahu, korupsi terbanyak ada di dunia pendidikan. Jangan-jangan, nanti kau terjebak di situ. Tanpa ditanya, Hasim menyampaikan visi dan misinya. Ruang pesawat ini seperti arena debat calon di telivisi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku paling tahu kondisi Negara ini. Setiap hari aku bertemu dan menelaah masalah di bidang ekonomi, politik, dan semacamnya. Artinya, aku lebih menguasai banyak masalah daripada kalian, tutur Hasim. Aku bisa membangun banyak relasi untuk membangun kampung halaman kita. Aku pikir, wartawan itu sendiri adalah wakil rakyat. Aku hanya berpindah tempat duduk, dari satu mobil ke mobil lain.&lt;br /&gt;“Wartawan tidak bisa menyelesaikan masalah yang diketahuinya, kawan.” Salim yang memotong. Dari tadi, memang Salim yang banyak berbicara. Ia seperti mendebat murid-muridnya saja. Dari pengeras suara kemudian terdengar panggilan. Rusdi dan Hasim, yang satu pesawat, kemudian berdiri. Pembicaraan terhenti seketika. Kali ini, kulihat wajah teman-teman tidak lagi seperti wajah anak-anak. Mereka sudah tua, rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah mereka tidak bertanya kepadaku. Karena aku tidak tahu, apa yang akan kuberikan kepada masyarakat. Aku hanya ingin mambangkik batang tarandam. Jika tadi mereka bertanya, aku tahu Hasim akan menyela, “Negara ini hancur karena pedagang.” Aku tahu betul itu. Di ruang tunggu ini, kini tinggal aku dan Salim. Tapi Salim tidak bertanya apa-apa. Aku pun tidak. Kami hanya diam, sampai pesawatku tiba. Ia masih menunggu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari selanjutnya, semakin dekat hari pemilihan, semakin sering waktu kuluangkan untuk pulang kampung. Tapi aku tak sempat lagi singgah di pohon mahoni dekat SMA, pohon kenangan kami. Aku tak tahu teman-temanku, apakah mereka sering datang ke sana atau tidak. Aku pikir tidak, sebab, aku sering melihat mereka di sekretariat partai dan di biro iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kami sering bertemu, tapi tidak berpapasan. Sudah kukatakan, menjelang hari pemilihan, semua caleg banyak turun ke masyarakat untuk menarik simpatisan. Kami sering bertemu di lapangan. Tapi tak ada yang mau menyapa duluan. Entah kenapa pula, daerah pemilihan kami sama, yaitu Daerah Pilihan II Air Tawar dan Koto Gadang.&lt;br /&gt;Kadang, kami bersirobok di rumah penduduk yang sama. Tapi tetap tak menegur. Barangkali, kami memang sudah menjadi musuh betulan. Ideologi kami yang berbeda dalam membangun masyarakat, sepertinya sulit disatukan. Lihatlah, ketika aku kirim pesan singkat ke Hasim untuk mengajaknya barang sejenak duduk bersama, ia bilang, “Wakil rakyat yang baik adalah tidak pernah duduk, apalagi tidur,” ujarnya.&lt;br /&gt;Oh, padahal aku tak sedang menyapanya sebagai calon wakil rakyat, tapi sebagai seorang teman karib dari kecil. Tidak bisakah lagi ia membedakan teman? Jangan-jangan, dengan menjadi caleg, ia tidak butuh temannya lagi. Yang ia butuhkan hanya suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang salat Zuhur, aku melihat Salim. Aku me nuju musalla hendak mengambil wuduk. Kulihat Salim akan menuju musalla itu juga. Kulambaikan tangan. Ia tersenyum kecil. Tapi kemudian buru-buru pergi. Aku heran, tidakkah ia datang ke masjid ini untuk salat? Tapi ia keburu menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku pun tak bisa mengelak. Dua hari yang lalu, di rumah Ibu Rusni, aku bertemu dengan Rusdi. Sehabis menunjukkan cara memilih yang benar pada pemilu nanti, Rusdi memanggilku. Aku seperti tak acuh. Ia mengajakku duduk di bawah pohon mahoni dekat SMA. “Tidak ada waktu untuk bersantai, kawan.” Tuturku ketus. Ia berlalu, dan tak menoleh lagi. Malamnya, aku teringat ucapanku itu. Ingin aku minta maaf, tapi tak kulalukakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sering bertemu di kampung ini. Barangkali dengan tujuan yang sama, menunjukkan kepada semua orang, siapa yang terbaik di antara kami. Sejak percakapan terakhir di ruang tunggu pesawat itu, kami jarang lagi bersapa, walau kini, waktu pertemuan kami lebih banyak. Seharusnya kami berbahagia karena ini. Jangan-jangan firasat Hasim benar, keajaiban di bandara adalah pertanda, bahwa salah seorang di antara kami akan mati. Dan memang, sejak pertemuan itu, kami tak lagi saling mengenal, walau masih hidup.&lt;br /&gt;Tapi itu tak terlalu kupedulikan. Aku memikirkan, bagaimana bisa mengalahkan teman-temanku itu dalam persaingan. Ini tugas yang paling berat. Karena Rusdi, Hasim, dan Salim, materi mereka lebih banyak daripadaku. Mereka semua berduit. Orang tua mereka juga pada kaya raya. Partai yang mereka tompangi adalah partai-partai pemenang pemilu tahun lalu. Aku kebalikan dari semua itu. tapi aku tidak patah semangat, aku tahu kemampuan mereka. Aku orang dagang, lebih menguasai situasi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pemilu berakhir dengan pilu. Tak seorang pun di antara kami yang duduk di legislatif. Aku temenung. Salim tak bisa menahan air matanya keluar. Hasim tak aku lihat. Kabar yang kudengar, ia berhenti dari pekerjaannya. Hanya Rusdi yang kulihat tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah pohon mahoni, kami bertemu lagi, suatu sore. Tapi ada yang hilang, kami tak lagi becanda. Kami hanya saling tatap satu sama lain. Sama-sama termenung, seakan tidak percaya dengan hasil pemilihan. Rusdi tidak lagi menceritakan anaknya yang sekolah di luar negeri itu. Tak ada tawa, dan pohon mahoni itu menjatuhkan daunnya satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandang teman-teman lamaku itu. Entah kenapa, aku sampai pada kesimpulan, ini pertemuan kami yang terkahir. Mereka tidak akan pulang kampung lagi setelah ini. Dari wajah-wajah kalah itu, aku melihat mereka sudah semakin tua.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Padang, Maret 2009&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-4041230940599974366?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/4041230940599974366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/pulang-kampung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4041230940599974366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4041230940599974366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/pulang-kampung.html' title='Pulang Kampung'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHD-uoGZnI/AAAAAAAAAPo/x7LJSyt5oeY/s72-c/a5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-53959838058583750</id><published>2009-04-11T04:34:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T04:53:21.128-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjektif'/><title type='text'>Memantau  Wakil Rakyat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SeCA6w5sk4I/AAAAAAAAAMo/02HoXqCAjco/s1600-h/politisi_maling.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 158px; height: 100px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SeCA6w5sk4I/AAAAAAAAAMo/02HoXqCAjco/s200/politisi_maling.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323396506599592834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALEK&lt;/span&gt; besar itu telah selesai digelar. Kita akan disuguhkan banyak cerita tentang kalah dan menang. Wakil yang dipilih rakyat telah ditunjuk melalui sebuah proses demokrasi yang Jurdil (Jujur dan Adil). Kita kesampingkan, apakah pemilihan itu dipengaruhi faktor tertentu atau tidak. Kita percaya, bahwa siapa yang duduk adalah benar-benar pilihan rakyat dan itu patut diapresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil rakyat akan bertugas. Setidaknya, untuk memenuhi janji-janji semasa kampanye dulu. Ada harapan baru di sana, untuk kehidupan bernegara yang lebih baik. Untuk itulah, kenapa amanat ini diberikan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita tidak akan berhadapan dengan janji lagi. Setelahnya, yang dihadapi adalah sebuah pekerjaan besar, memenuhi tuntutan rakyat yang ‘haus’, dalam segala hal. Haus dalam keadilan, haus untuk kesejahteraan, dan haus untuk pendidikan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi yang besar, karena ke depan, kita tidak lagi berurusan dengan janji. Menjadi rumit, karena janji adalah ironi itu sendiri. Pengalaman mengajarkan, sebuah janji bila dihadapkan pada kekuasaan, ia seperti air: semakin jauh mengalir, semakin lupa, di mana ia pernah singgah. Bila sampai di muara, ia akan menyatu dengan janji-janji lain. Dan kita akan semakin lupa, mana janji yang dulu pernah diucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah lawan dari kekuasaan adalah lupa? Bukankah terlalu banyak wakil rakyat yang berbohong? Dalam tanda tanya besar, sekarang rakyat dihadapkan dengan itu. Karena kita tahu, materi yang tak sedikit, perjuangan kelompok untuk pemenangan, akan berubah menjadi batu sandungan untuk menjadi lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, mesti ada pengawasan. Untuk wakil rakyat supaya tak semena-mena terhadap rakyat yang telah bersusah payah datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pagi-pagi hari. Agar ia tidak hanya menjadi ikan yang dipancing, lalu digoreng untuk makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mahasiswa sebagai kontrol&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ilmu politik tidak menciptakan manusia, tetapi memanfaatkan manusia&lt;/span&gt;. Aristoteles menulis ini dalam bukunya la politica untuk memberitahu kita bahwa, politik itu sulit untuk dipercaya. Politik itu adalah sesuatu yang tidak kita ketahui berwujud apa. Bisa bermujud wajah seorang gadis yang cantik, yang memberikan senyum kepada semua orang. Bisa pula berwajah ganda, di wajah manis, hati siapa yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar ia tidak berwujud semakin tidak diketahui, dari awal kita tidak boleh larut dalam euforia. Ke depan, jalan terjal terlalu panjang. Bangsa ini sedang sakit. Makanya, sangat diharapkan wakil rakyat yang bisa menjadi obat. Agar euforia kemengan tidak menjadi malapetaka itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapa tugas berat itu diberikan? Pemerintah sebenarnya telah memiliki banyak sekali alat untuk mengontrol ini. Namun, ia memiliki keterbatasan, yang berada pada tataran normatif saja. Masih bisa melakukan kongkalingkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah bangsa ini mengajarkan, setiap wakil rakyat (kekuasaan) yang menyimpang, yang berada pada barisan terdepan adalah kaum muda, lebih khusus lagi mahasiswa. Mahasiswa menjadi pahlawan pada tahun 1966, 1978, dan 1998. Kalau dicermati lagi, hampir setiap kepemimpinan, mahasiswa mencatat sejarahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsinya sebagai kontrol (agent of change) yang diberikan oleh masyarakat adalah sebuah tanda, mahasiswa tidak hanya belajar di lokal kuliah, ikut organisasi, lalu mengadakan seminar. Ia juga punya kepentingan, mewakili suara rakyat untuk setiap ketidakbenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena janji wakil rakyat kita semasa kampanye adalah untuk perubahan. Walau tidak banyak yang menjelaskan, perubahan untuk apa, namun kita tentu sependapat, bahwa perubahan yang dijanjikan adalah perubahan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.&lt;br /&gt;Di depan mata, ada jutaan rakyat yang masih tidak makan dalam sehari. Jutaan anak-anak yang turun ke jalan menjadi pengemis. Ini permasalahan sosial yang mesti dipecahkan oleh wakil rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan kita sekarang, ada UU Badan Hukum Perguruan Tinggi (BHP). UU yang mengamanatkan (di sisi lain) sekolah hanya untuk yang berduit dengan iming-iming kualitas (seolah-olah, tanpa BHP, pendidikan tidak bisa berkualitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekililing badan kita, anak-anak terbaik bangsa, yang memperjuangan keadilan, dibunuh lalu kasusnya ‘seakan’ enggan untuk diselesaikan, masih meminta keadilan dan hak. Orang-orang pinggiran yang rumahnya dibongkar lalu disuruh tinggal di kolong jembatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ini yang ada di dalam pikiran cerdas wakil rakyat kita untuk perubahan? Bukankah tidak ada wakil rakyat untuk perubahan ke  arah yang lebih buruk? Mudah-mudahan memang tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan besar itu, sekarang tidak hanya di pundak wakil rakyat, tapi juga diembankan di pundak mahasiswa. Jalannya untuk perubahan, tidak serta merta diwakilkan kepada segelintir orang, tapi menuntut ‘yang lain’ untuk melakukan pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sangat tidak berharap, kekuasaan yang sekarang telah didapat, berubah menjadi mesin hasrat (desiring machine). Bukankah hasrat, sebagaimana dikatakan Deleuze dan Guattari hanya akan memproduksi hasrat-hasrat berikutnya yang lebih besar, lebih memuaskan, dan lebih dahsyat? Kita sama-sama menakuti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan secara bersama-sama, kita mesti mengingatkan wakil rakyat yang lupa dan berdalih jika lupa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Singgalang, 11 April 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-53959838058583750?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/53959838058583750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/memantau-wakil-rakyat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/53959838058583750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/53959838058583750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/04/memantau-wakil-rakyat.html' title='Memantau  Wakil Rakyat'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SeCA6w5sk4I/AAAAAAAAAMo/02HoXqCAjco/s72-c/politisi_maling.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-6542101218934345448</id><published>2009-03-24T04:44:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T04:56:52.408-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Berhelm Bukan karena Takut Polisi</title><content type='html'>&lt;a style="font-weight: bold;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/ScjI3R9WYwI/AAAAAAAAAMg/ANoDqkECpi0/s1600-h/hel1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 289px; height: 183px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/ScjI3R9WYwI/AAAAAAAAAMg/ANoDqkECpi0/s320/hel1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316720212149953282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerap&lt;/span&gt; kita menyaksikan, atau malah mengalami sendiri, ketika menumpang dengan sepeda motor teman, tiba-tiba di tengah perjalanan—biasanya menjelang perempatan traffic light—kita diturunkan, “Turun di sini saja ya, saya tidak membawa helm dua. Di sana ada polisi.” Atau yang seperti ini, “Sudah malam, tidak ada polisi. Tidak apa-apa tidak pakai helm.” Dan masih banyak peristiwa lainnya, menyangkut helm, yang bermuara pada keengganan kita mengenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai alasan pun menderas dari mulut kita. Seperti yang dikeluhkan Rahmat, mahasiswa yang pulang-pergi ke kampus naik motor ini, “Kepala saya sering gatal kalau pakai helm, malah rambut saya sampai rontok olehnya.” Hal serupa juga dirasakan Yuliana, pegawai swasta, “Saya sering linglung kalau pakai helm apalagi helm besar (full face-red). Belum lagi rambut saya yang bau dibuatnya. Ya, karena tempat kerja saya tidak lewat jalan raya, jadi tidak pakai helm. Tidak ada polisi juga.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ujang, yang berprofesi tukang ojek, juga berpendapat demikian, “Saya tidak biasa pakai helm. Lagi pula, selama ini tidak ada masalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhelm, tidak ada masalah? Perlukah kita bermasalah dulu, baru jera seperti yang telah disadari oleh Syafril, “Saya akui, saya pergunakan helm karena saya mengalami suatu kejadian yang membuat saya tersadar. Tahun 1989, saya kecelakaan. Tabrakan dengan mikrolet. Waktu itu saya menggunakan helm proyek. Belum lagi saya terjatuh, helm saya sudah duluan terjatuh. Helm itu tidak bisa melindungi kepala saya. Kemudian, saya melihat dengan mata kepala sendiri. Seorang pengendara motor berada di depan saya. Tiba-tiba ia memotong sebuah truk pasir. Datang dari arah berlawanan sebuah  truk pula. Ia terjepit dan tidak bisa mengendalikan motornya. Ia terjatuh tepat berada di bawah kolong mobil. Helm standar yang dipakainya itu melindungi kepalanya. Jadi, ketika terjatuh, kepalanya tepat berada di roda truk paling belakang. Ketika roda itu akan menggilas kepalanya, helm itu berfungsi seperti bola, berputar dan menjauh dari roda. Akhirnya kepalanya tidak apa-apa karena menggunakan helm itu. Dari kejadian itu, sampai sekarang, kemana pun pergi, saya selalu menggunakan helm standar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, “Jangan tunggu dulu kecelakaan itu terjadi,” ujar Syafrino, mahasiswa yang memanfaatkan motor sebagai kendaraan alternatifnya. Karena Syafrino pernah mengalami sendiri akibat kelalainnya. Kepalanya berdarah dan mendapatkan lima jahitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah benar-benar ditilik, mengenakan helm saat berkendara jelas untuk si pengguna motor itu sendiri. Bukan alasan sebenarnya kalau kita berhelm, karena takut polisi. “Memakai helm yang memenuhi standar itu demi keselamatan diri sendiri. Untung dan ruginya buat diri sendiri, bukan polisi,” tegas Ajo, yang bolak-balik kerja pakai motor.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan helm standar juga sebagai kebutuhan bagi pengendara motor. Simak saja apa yang dipaparkan Selno Afdianto, “Kalau sudah keluar rumah, dan menempuh jalan raya, saya selalu menggunakan helm standar. Menggunakan helm yang full face atau standar adalah kebutuhan pokok. Bukan karena saya takut dengan polisi, tanpa ada polisi pun, bepergian keluar dari kompleks rumah, saya selalu menggunakan helm standar. Malam misalnya, tetap juga saya menggunakan helm. Terserah, malam sudah larut atau bukan. Kita kan tidak tahu, kapan kecelakaan menimpa kita. Yang penting, ketika berkendara, kita sudah harus siap dengan segala resiko-resiko di jalan. Untuk meminimalisirnya, tentu, kita harus menggunakan standar keamanan yang ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Syafril, yang selalu mengingatkan anak-anaknya memakai helm jika bermotor.”Karena masalah helm adalah permasalahan keselamatan, bukan gaya-gayaan.&lt;br /&gt;Maka, kalau anak-anak saya keluar rumah, selalu saya ingatkan agar menggunakan helm standar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, helm standar juga memiliki manfaat lain dalam berkendara, “Manfaatnya bagi saya begitu banyak dan memang terasa langsung. Padang ini kan kotanya panas, kalau menggunakan helm yang menutupi hanya separuh kepala, debu murah masuk ke mata dan akhirnya kita tidak konsentrasi membawa motor. Helm standar bisa menutupi itu dan suara-suara bising juga bisa dikurangi,” imbuh Selno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, penerapan peraturan pemakaian helm standar yang sedang gencar disosialisasikan di Indonesia sekarang ini, berujung pada pengendara sendiri. Siapa yang tidak ingin keselamatannya terjaga dalam hidup. Bukankah nyawa kita yang satu itu sangat berharga, akankah kita sia-siakan? Rully, PNS yang juga penikmat perjalanan dengan motor, sangat menyetujui penerapan peraturan helm standar ini. “Bukan untuk polisi, tapi untuk kita sendiri. Disuruh selamat kok tidak mau,” celetuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Rully, Erwin yang sering ikut balapan liar, juga mendukung pakai helm standar berkendara. “Tidak jamannya lagi, bermotor ugal-ugalan. Sekarang saatnya menikmati perjalanan dengan motor secara tertib dan aman. Jadi, tidak ada alasan untuk menolak peraturan helm standar itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bukan untuk penghilang resiko, namun dengan helm standar, tentu kita tidak akan was-was lagi berkendara. “Saya setuju sama peraturan tersebut. Sebenarnya masalah pemilihan helm ini sudah jadi tanggung jawab pribadi si pengendara motor. Kalau  sayang kepala, pakai helm standar jangan asal pakai helm saja,” lansir Rahman. Begitu juga dengan yang membonceng di sepeda motor. Mereka juga harus diberi helm, apalagi mitos yang berkembang di masyarakat, bahwa, biasanya yang sering parah saat kecelakaan adalah penumpang. Maka dari itu, keselamatan penumpang juga berada dalam pikiran pengendara. “Tiap menumpang naik motor teman saya selalu menanyakan helm. Pakai motor sendiri juga demikian, saya kalau keluar naik motor sama keluarga selalu menyuruh pakai helm, termasuk anak-anak saya. Helm khusus anak-anak juga tersedia,” papar Kariman, teknisi bengkel motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selno juga seperti itu, “Saya selalu membawa dua buah helm ketika bepergian. Jika da teman yang menumpang misalnya, telah saya sediakan helm untuk mereka.”&lt;br /&gt;Peraturan tentang helm termaktub  dalam Undang-undang No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 61 ayat (3) dan PP No. 44 tahun 1993 yang menyaratkan bagi semua pengendara sepeda motor dan penumpangnya untuk memakai helm. Kemudian dilanjutkan dengan peraturan terbaru tentang wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk helm kendaraan bermotor roda dua. Aturan tersebut ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 40/M-IND/Per/6/2008 tentang pemberlakuan SNI helm pengendara kendaraan bermotor roda dua secara wajib. Aturan-aturan ini hendaknya dipahami sebagai upaya Negara menyelamatkan warganya. Bukan untuk menyengsarakan, karena harga helm standar yang mahal misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpikiran terbuka seperti itu, setidaknya kita telah menyadari dan menyambut baik upaya pemerintah menekan angka kecelakaan di jalan. Sebab, masing-masing kita, sudah mengerti dan paham bagaimana pentingnya helm ini dalam melindungi kepala. Meski bukan berarti menghilangkan resiko, setidaknya mengurangi tingkat resiko yang bakal kita hadapi dalam berkendara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai alat peminimalisir resiko, tentu kita akan mencari dan mengenakan helm dengan kualitas bagus sesuai standar, dan dipakai dengan benar. Sehingga hal remeh yang bisa berakibat besar bagi kita dan orang lain terkurangi, seperti helm yang jatuh ditiup angin, biasanya helm batok, yang juga menganggu pengguna jalan lain. Apa artinya mengenakan helm, jika pengenaan helm tersebut sama sekali tidak dapat mengurangi resiko yang dapat mengakibatkan kerugian pada diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Jika sudah demikian, memakai helm sesuai standar dengan baik dan benar, maka rasa aman dan nyaman berkendara akan selalu menyertai perjalanan kita dan kita bisa menikmatinya. Tidak perlu lagi kucing-kucingan dengan polisi.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Gusriyono/Andika D Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang Ekspres, 22 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-6542101218934345448?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/6542101218934345448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/berhelm-bukan-karena-takut-polisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6542101218934345448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6542101218934345448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/berhelm-bukan-karena-takut-polisi.html' title='Berhelm Bukan karena Takut Polisi'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/ScjI3R9WYwI/AAAAAAAAAMg/ANoDqkECpi0/s72-c/hel1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-8196962842516300448</id><published>2009-03-17T02:23:00.001-07:00</published><updated>2009-03-17T02:27:26.953-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjektif'/><title type='text'>Tan Malaka dan Bangsa yang Melupakan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sb9sTokdWVI/AAAAAAAAALY/nNG21OXsPZw/s1600-h/tanamalaka.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sb9sTokdWVI/AAAAAAAAALY/nNG21OXsPZw/s320/tanamalaka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314085169884125522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Indonesia &lt;/span&gt;telah merdeka selama 63 tahun. Kemerdekaan itu diperoleh dengan perjuangan panjang, dan mengorbankan banyak anak bangsa. Kemerdekaan diperoleh tidak dengan ‘hadiah’ dari Belanda, tapi perjuangan panjang yang berdarah dan tak mengenal lelah. Apa dan siapa di balik kemerdekaan, kemudian dikenal dengan istilah fonding father. Kita mengenal Soekarno, Sjahrir, juga Hatta. Mereka adalah fonding father yang berjasa besar memberikan kebebasan kepada rakyat Indonesia. Sayangnya,tidak semua pahlawan bangsa yang dicatat oleh sejarah, salah satunya Tan Malaka. Meskipun ia telah mengorbankan nyawanya untuk kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka yang bernama asli Ibrahim adalah seorang anak desa yang berasal dari Ampang Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Perjuangannya untuk Indonesia bukan lagi perjuangan yang berskala nasional, tapi internasional. Walau perjuangannya lintas benua, Tan Malaka tidak diperkenalkan kepada murid-murid sekolah dasar. Dalam buku sejarah, Tan Malaka tidak dipelajari. meskipun pada zaman Soekarno (1963) ia dinobatkan sebagai pahlawan nasional.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka adalah pejuang yang revolusioner. Ia dikenal sebagai tokoh nasioanal yang juga memiliki reputasi regional Asia bahkan Internasional. Tahun 1925, di Canton China ia mencetak buku tentang konsepsi Negara Indonesia dalam bahasa Belanda berjudul “Naar de Repoeblik Indonesia.” Menurut Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, dalam Rehabilitasi Tan Malaka, ia juga melakukan pergerakan di Bangkok, Manila, Amoy, Hongkong, Syanghai, Rangon, Singapura dan Ho Chi Minh. Tan Malaka sendiri pernah berujar di depan polisi Hongkong yang menangkapnya tahun 1927, “Di dalam kubur suaraku akan terdengar lebih keras daripada di atas bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Tan Malaka bukan saja dikagumi oleh generasi muda dan aktivis gerakan kemerdekaan, tapi juga oleh pemimpin nasional. Bahkan, Presiden Soekarno, sangat menyanjung Tan Malaka. Hingga dalam suasana kritis pasca proklamasi, Soekarno berujar “Jika revolusi ini gagal, yang akan menggantikan saya sebagai presiden adalah Tan malaka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Tan Malaka adalah sosok yang pemikirannya penuh dengan ide-ide cemerlang. Beberapa karya legendaris ditulisnya dalam keadaan di penjara dan di hukum. Madilog (matreialisme, Dialektika, dan Dialog) serta Gerpolek adalah beberapa di antara banyak pemikirannya untuk Bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun, setelah kemerdekaan diproklamasikan, terdapat dua model poerjuangan untuk menghadapi Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia yaitu berunding atau mengadakan perlawanan senjata. Pemerintahan Sjahrir memilih jalan yang pertama, sedangkan Tan Malaka memiliki visi yang berbeda yaitu melakukan revolusi total. Revolusi total disampiakannya dalam pidato tentang pentingnya persatuan untuk mencapai kemerdekaan 100 persen yang kemudian menjadi program pertama gerakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka adalah seorang yang sangat peduli kepada rakyat. Ia mendirikan sekolah gratis. Dan kepada murid-muridnya, ia mengajarkan tiga pelajaran penting agar mereka menjadi manusia merdeka, filsafat agar mereka tahu akar pengetahuan dan berorganisasi agar mereka menjadi bagian dari pergerakan. Tan Malaka berprinsip, untuk melawan imperialisme adalah dengan pendidikan dan pergerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner adalah keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis. Seluruh kekuatan Rakyat itu harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air. Persatuan harus di tempatkan di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dosa Bangsa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Adalah pantas dibilang dosa bila Tan Malaka dimarginalkan dalam sejarah bangsa. Perjuangannya pantas mendapat tempat, dan pemikirannya penting untuk dipelajari. Salah satu dosa bangsa adalah tuduhan yang dialamatkan kepadanya tentang komunis. Tan Malaka memang pernah bergabung dengan partai Komunis. Ketika ia masih di Belanda, ia aktif menjalin hubungan dengan komunis internasional. Saat pecah pemberontakan PKI tahun 1926 di Banten dan Sumatera Barat, Tan Malaka malah menjadi orang yang paling keras menentang. Ia menolak hasil konferensi PKI di Prambanban pada November 1925 yang keputusannya melawan kolonial dengan cara memberontak (Jurnal Indonesia, Februari 2007). Tan Malaka menilai, pemberontakan hanya menghasilkan kesengsaraan bagi rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hary A. Poeze yang meniliti Tan Malaka selama 30 tahun, di Indonesia ada partai komunis yang dipengaruhi oleh pemikiran Stalin di Rusia. Dalam wawancaranya di Jurnal Indonesia, Poeze menagatakan Tan Malaka menerapkan komunis tidak setia kepada Moskow. Secara ideologi, memang terjadi perbedaan besar tentang komunis. Partai Komunis Indonesia menolak Islam dan peranannya, sedangkan Tan Malaka dan pengikutnya mengakui peranan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa yang lebih besar adalah belum diketahuinya makam pemimpin revolisioner itu. Niat baik seorang peneliti Belanda, Hary A Poeze dari KITLV Belanda mesti diberikan acungan jempol. Dari penelitian Poeze, Tan Malaka dikubur di desa Selepanggung, Kediri, Jawa Timur. Ia ditangkap oleh pasukan dari Divisi Soerachmad tanggal 21 Februari 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas bangsa ini adalah memastikan bahwa Tan Malaka memang di kubur di sana. Hary sudah mempersiapkan peralatan dari Belanda untuk tes DNA. Tinggal, bagaimana pemerintah Indonesia menyambutnya. Sejarah ini kewajiban penerus bangsa untuk meluruskannya. Selama 32 tahun sejarah Indonesia menjadi Hitam-Putih, kini tiba saatnya kita membongkar semua hal yang perlu diluruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, ke depan, kita mesti belajar pada Amerika dalam memandang sejarah. Di Amerika, di tingkat perguruan tinggi, sejarah dipelajari secara filosofi dengan mata kuliah Kontroversi Sejarah. Di sana diperdebatkan tentang pahlawan dan hal-hal yang menyangkut sejarah. Mahasiswa menilai mana yang pantas ditiru dan digugu. bukan hitam-putih seperti yang terrjadi di negara Republik ini. Sejarah kita, terlalu banyak kepentingankepentingannya. Penulis yakin, tidak semua yang dikubur di Kalibata adalah pahlawan nasional.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-8196962842516300448?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/8196962842516300448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/tan-malaka-dan-bangsa-yang-melupakan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8196962842516300448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8196962842516300448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/tan-malaka-dan-bangsa-yang-melupakan.html' title='Tan Malaka dan Bangsa yang Melupakan'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/Sb9sTokdWVI/AAAAAAAAALY/nNG21OXsPZw/s72-c/tanamalaka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-1542473275671409524</id><published>2009-03-16T11:08:00.001-07:00</published><updated>2009-07-06T02:32:05.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Lagu Minang Layak Berkembang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHEh9XKZnI/AAAAAAAAAP4/wGxXM_PGldE/s1600-h/BoySandyCD.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 198px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHEh9XKZnI/AAAAAAAAAP4/wGxXM_PGldE/s200/BoySandyCD.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355277519606670962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BELAKANGAN,&lt;/span&gt; berbagai tanggapan muncul terhadap lagu Minang yang berkembang sekarang. Di antaranya begini, “Kini sudah tidak ada lagi lagu Minang. Yang ada, lagu-lagu kacangan berbahasa Minang. Jauh beda dengan masa-masa di bawah dekade 1980-an. Lagu Minang melantun, menghanyutkan dan sarat makna. Akibatnya, sepanjang masa tembang-tembang demikian abadi. Dikenal dan disenangi semua generasi,” demikian tertulis di sebuah blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan atau juga sirat keprihatinan seperti itulah yang kini mewabah dalam masyarakat Minangkabau, melihat perkembangan lagu-lagu hari ini. Sepertinya lagu Minang kehilangan rasa dan makna. Lagu yang dulu identik dengan ratok (ratap), karena berakar dari dendang saluang juga rabab dan bansi, kini seakan tertutupi oleh komposisi musik yang berkembang sekarang. Sebagaimana hal serupa juga dirasakan Ardoni Yonas, pengamat dan pencipta lagu Minang, “Walau tidak semuanya, tapi kita akan sepakat bahwa lagu Minang sekarang tidak lagi mencerminkan budaya. Contoh, dalam sebuah lagu Minang, ada lelaki yang menangis karena ditinggalkan pacarnya. Padahal, dalam budaya Minang, laki-laki itu tegar dan tidak boleh menangis.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Indra Yeni, peneliti lagu Minang, dalam pengamatannya juga menemukan hal yang sama. “Yang tidak bisa dilepaskan dari lagu Minang dulu adalah pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Bagi orang Minang, lagu itu adalah sebuah pesan, yang disampaikan dengan makna yang berkias. Dalam perkembangannya, lagu Minang sekarang tidak lagi menampakkan itu. Mungkin, karena saya memang dibesarkan dengan kultur yang lama sehingga saya berkesimpulan bahwa lagu-lagu Minang sekarang hampir tidak memiliki lagi pesan dalam setiap penyampaiannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, penyanyi lagu Minang legendaris, Elly Kasim pun mengemukan hal yang sama tentang lagu Minang sekarang. Sebagaimana dilansir padangkini.com, “Kalau dahulu lagu Minang itu diambil dari pantun yang merupakan salah satu budaya Minangkabau yang menyembunyikan makna tersirat dalam tiap syairnya, namun saat ini hal tersebut sudah mulai menipis, barangkali budaya Minangkabau sudah kurang diminati lagi atau kurang dipertahankan oleh generasi-generasi muda zaman sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Arifni Netrirosa, peneliti di Jurusan Etnomusikologi USU, dalam situs cimbuak.net melihat, bahwa di Minangkabau, perkembangan musik pop daerah dewasa ini sudah sangat jauh memasuki dunia musik pop yang berkembang secara umum di Indonesia, bahkan dengan cepat telah memanfaatkan ciri-ciri tren musik dunia. Misalnya di Minangkabau bisa kita lihat musik pop daerahnya yang cukup populer seperti lagu Kutang Barendo yang berasal dari seni vokal tradisional dendang Minangkabau dengan iringan Saluang (end blown flute) dengan teknik sirkulasi tiupan. Bahkan tidak kalah lagi di antara lagu-lagu pop daerah yang berangkat dari musik dan lagu tradisi itu telah dikembangkan lagi dengan memasukkan unsur-unsur ‘rap’ ke dalam komposisi musiknya. Memang mau tidak mau harus diakui bahwa lagu-lagu dengan memuat musik seperti di atas cukup laris terjual di Sumatera Barat dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati yang seperti itu, lalu muncul pertanyaan, ada apa sebenarnya dengan perkembangan lagu Minang tersebut. Barangkali, perlu juga kita dudukkan apa yang dimaksud dengan lagu Minang itu sendiri. Sebab, setiap orang memiliki defenisi masing-masing tentang ini. Indra Yeni, yang juga dosen di Jurusan PG-PAUD FIP UNP, memberi defenisi yang jelas tentang lagu Minang. “Berdasarkan tata bahasanya, secara resmi definisi lagu Minang itu tidak kita temui. Lagu Minang hanyalah sebuah sebutan untuk lagu-lagu yang berasal dari daerah Minangkabau atau Sumatra Barat. Karena pengaruh dialek, lagu Minangkabau sering disebut sebagai lagu Minang saja. Dari sini kita ketahui bahwa sebenarnya lagu Minang itu adalah semacam lagu daerah bukan lagu rakyat (folk song). Biasanya yang disebut dengan lagu-lagu Minang adalah lagu-lagu daerah yang dikomersilkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tonggak Tuo lagu pop Minang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Merujuk pada defenisi tersebut, adanya komersialisasi dalam perkembangan lagu Minang tidak lepas dari sejarah munculnya kreatifitas seniman dalam memopulerkan lagu-lagu Minang. Frans Sartono (kompas.com), menjelaskan, pada era 1950-1960-an, pembatasan pemutaran musik pop Barat di radio berimbas pada kreatifitas seniman lokal untuk berbicara dengan bahasa daerah dalam lirik lagu. Orkes Gumarang yang personelnya adalah Urang Awak memopulerkan lagu berbahasa Minang, seperti Ayam Den Lapeh sampai Laruik Sanjo. Mereka mengakomodasikan unsur musik Latin yang saat itu banyak digemari di negeri ini. Oslan Husein, dengan bahasa Minang pula, memopulerkan lagu seperti Kampuang nan Jauh di Mato, dan Elly Kasim dikenal lewat Bareh Solok.&lt;br /&gt;Dengan penelusuran yang lebih lengkap mengenai sejarah munculnya lagu-lagu Minang yang bersinergi dengan musik-musik lain, Theodore KS, penulis masalah industri musik (kompas.com) menguraikan, bahwa di masa 50-an muncul grup-grup musik yang menggubah lagu-lagu Minang dengan warna musik lain, seperti musik klasik. Orkes Gumarang dengan irama Latin dan Teruna Ria me-rock’n’roll-kan lagu serta musiknya. Sementara gitar bersuara saluang ala Nuskan Syarif masih bisa dinikmati sampai sekarang bersama Kumbang Tjari-nya. Mereka-mereka ini merupakan grup musik yang dianggap tonggak tuo dalam memopulerkan lagu pop Minang ketika itu. Kelahiran grup-grup musik ini ditopang oleh keberhasilan orkes Penghibur Hati yang lebih dulu berdiri dan terkenal dalam mendendangkan lagu-lagu Minang di RRI Jakarta. Lagu-lagu Penghibur Hati yang disiarkan radio itu, antara lain, Kaparinyo, Dayung Palinggam, Nasib Sawahlunto, dan Sempaya. Pengaruh lagu-lagu Latin, seperti Melody d’Amour, Besame Mucho, Cachito, Maria Elena, dan Quizas, yang sedang digemari tak mampu ditepis.&lt;br /&gt;Gumarang yang dilirik oleh perusahaan rekaman Irama pimpinan Suryoso Karsono, merekam Ayam Den Lapeh ciptaan A Hamid, Jiko Bapisah dan Laruik Sanjo ciptaan Asbon, Yo baitu ciptaan Syaiful Nawas, Takana Adiak ciptaan Januar Arifin, Baju Karuang, Ko Upiek Lah Gadang, Titian Nan Lapuak, Nasib Sawahlunto, dan lagu lain-lain, yang jelas sekali dipadukan dengan irama cha-cha yang dikenal sebagai pengiring tarian di Amerika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti sukses Gumarang, Kumbang Tjari pun tak kalah terkenalnya. Adalah Nuskan Syarif yang menakhodai grup musik yang berdiri tahun 1961 ini. Meskipun mengagumi Gumarang, Nuskan berusaha membuat musik yang berbeda. Kalau Gumarang dominan dengan pianonya, Kumbang Tjari mengedepankan melodi gitar. Di sinilah Nuskan menunjukkan keperkasaannya sebagai pemain gitar, bukan hanya dalam soal teknik, namun juga dalam soal eksplorasi bunyi. Petikan gitarnya mengingatkan pendengarnya akan suara saluang, seruling bambu khas Minang. Ciri khas ini belum ada duanya sampai sekarang.&lt;br /&gt;Memasuki studio rekaman piringan hitam (PH), album Kumbang Tjari yang pertama ini berisi lagu-lagu Asmara Dara yang dinyanyikan oleh Elly Kasim, Randang Darek dinyanyikan Nuskan Syarif, Taratak Tangga (Elly Kasim dan kawan-kawan), Mak Tatji (Nuskan Syarif), Apo Dajo (Elly Kasim dan kawan-kawan), Tjita Bahagia (Elly Kasim dan Nuskan Syarif), Cha Cha Mari Cha (Nuskan Syarif), Gadis Tuladan (Nuskan Syarif), Kumbang Djanti (Elly Kasim), Langkisau (Nuskan Syarif dan kawan kawan), Kureta Solok (Nusikan Syarif dan kawan-kawan), dan Oi, Bulan (Elly Kasim dan kawan-kawan).&lt;br /&gt;Selain Gumarang dan Kumbang Tjari, juga tidak bisa dilupakan orkes Teruna Ria yang mempertegas irama rock’n’roll dalam lagu-lagu Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bubarnya Teruna Ria menyebabkan penyanyi utamanya, Oslan Husein, mendirikan Osria. Sementara personel lainnya, Zaenal Arifin, mendirikan Zaenal Combo, yang merajai penataan musik rekaman hampir semua penyanyi pada akhir 1960-an sampai awal 1970-an. Penyanyi-penyanyi yang diiringi Zaenal Combo, yaitu Lilies Suryani, Ernie Djohan, Alfian, duet Tuty Subarjo/Onny Suryono, Retno, Patti Sisters, Tetty Kadi, Anna Mathovani, Emilia Contessa, Titi Qadarsih, Angle Paff, atau Lily Marlene.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seribu lagu setahun&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Melihat perkembangan awal lagu-lagu pop Minang ini, wajar saja kalau sebagian penggemar lagu Minang prihatin dan kecewa dengan lagu Minang sekarang. Salah satu faktor yang menyebabkan lagu-lagu Minang tempo dulu bisa hinggap lebih lama di telinga pendengarnya adalah tidak banyaknya industri rekaman, apalagi ditahun-tahun 50-an tersebut. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari lagu yang beredar. Belum lagi pada masa itu rekaman piringan hitam (PH) dengan gramafon sebagai medianya. Bahkan untuk tampil di RRI saja harus melewati seleksi yang ketat. “Pada masa itu tidaklah mudah bagi seorang penyanyi atau sebuah grup untuk tampil di RRI. Mereka harus lulus tes di depan sejumlah juri, sebagaimana layaknya peserta sebuah lomba,” tulis Theodore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan rentang 90-an hingga hari ini, lagu-lagu Minang diproduksi seperti kacang goreng. Bisa kita lihat, ada ribuan lagu dan ratusan artis yang beredar di pasar lagu Minang mulai dari kaset sampai VCD. “Sekarang saja ada seribu lebih lagu yang direkam dalam setahun” kata Agus Taher, pencipta dan produser lagu Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi seperti ini, Agus pun tidak menampik, pencipta lagu berkreasi mengikuti musik yang berkembang. Namun, tidak meninggalkan identitas Minangkabaunya. “Saya saja sudah menggunakan melodi manual seperti musik-musik anak muda sekarang itu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini perlu diingat, bahwa, seni dan budaya bukanlah hal yang statis atau tetap, tetapi dinamis atau terus berkembang. Seni itu berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Adat Minangkabau juga mengatur hal ini, yaitu, adat nan babuhua sentak atau adat yang megikuti perkembangan zaman. Jadi, pendapat bahwa lagu-lagu Minang sekarang tidak bermutu atau yang mengatakan lagu sekarang bukan lagu Minang, hendaknya juga menggunakan kaca mata yang sama dalam memandang lagu Minang sekarang. “Sayang sekali kalau kita ikut-ikutan memfonis terlalu dini. Sekali lagi, bahwa saat ini ada kenyataan yang tidak bisa dibantah, bahwa lagu Minang itu jelas semakin berkibar dan suatu kenyataan pula bahwa lagu Minang adalah produksi terbesar di Indonesia,” ulas Sexri Budiman, pencipta dan pengamat lagu Minang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Gusriyono/S Metron/Andika D Khagen)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Padang Ekspres, 15 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-1542473275671409524?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/1542473275671409524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/lagu-minang-layak-berkembang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1542473275671409524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1542473275671409524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/lagu-minang-layak-berkembang.html' title='Lagu Minang Layak Berkembang'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHEh9XKZnI/AAAAAAAAAP4/wGxXM_PGldE/s72-c/BoySandyCD.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-2527917424714766938</id><published>2009-03-11T04:34:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T04:40:20.714-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Makanan Bersisa, Duh, Mubazirnya Kita</title><content type='html'>&lt;a style="font-weight: bold;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SbeiiQONBeI/AAAAAAAAAKo/V12OV-WRYww/s1600-h/makanansisa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 174px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SbeiiQONBeI/AAAAAAAAAKo/V12OV-WRYww/s320/makanansisa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311892994860582370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di INDONESIA, &lt;/span&gt;Dewi Sri pernah hidup dalam benak masyarakat. Ia dipercaya sebagai lambang kesuburan. Namun, perupa Gigih Wiyono, dalam sebuah pameran tunggalnya tahun silam, melukiskan Dewi Sri dengan Diva Sri Migrasi. Dewi itu telah bermigrasi ke Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ia sedang gundah. Beberapa lukisannya mengenai Dewi Sri disimbolkan dengan perempuan berkonde, seperti dalam lukisan Dewi Sri Mencari Tanah Lapang. "Dewi Sri memegang alu, menumbuk beton karena sudah tidak ada padi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Atau, jangan-jangan, Gigih hanya galau sendiri. Sebab, Senin (23/2), di sebuah seminar nasional yang diadakan salah satu universitas negeri di kota ini, banyak nasi yang berserak. Sebuah pertanda, Dewi Sri tidak menumbuk beton. Nasi sisa yang berserak, dari 200 peserta, hampir semuanya bersisa. Bahkan ada, hanya dua buah suap, setelah itu jadi sisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula, dalam banyak acara yang kita lihat: entah itu di hotel, kampus, dan perhelatan, seakan-akan, ‘sisa’ sudah menjadi biasa. Ambil satu piring, cuma dimakan lima atau enam suap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eva, pedagang nasi yang berlokasi di kampus UNP, mengamatinya. Dari 50 sampai 60 piring yang terjual satu hari, 20-30 piring pasti menyisakan sisa. Sisa-sisa itu kadang ia berikan kepada kucing agar tidak terbuang percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya iba. Saya tidak habis pikir,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan, kata Eva, nasinya tidak enak atau bumbu yang ia berikan kurang atau berlebih. Ia tanyakan langsung kepada pelanggan. Jawaban yang ia dapat, jauh dari perkiraannya, “Saya sedang tidak lapar.” Ia terkejut. Bagaimana mungkin, tidak lapar, kok pesan makanan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak mengerti. Dan diambilnya kesimpulan sendiri. Pelanggannya itu sedang bersama pacarnya. Ia takut malu dibilang cangok jika makan banyak. Dan memang, kata Eva lagi, nasi-nasi yang bersisa, kebanyakan dari pelanggan yang sedang makan berduaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runi pernah merasa malu. Menguatkan kesimpulan Eva, ia makan di kafe Golden, Permindo. Ia datang bersama pacarnya untuk makan malam. Pesan nasi goreng dua porsi. Tidak habis. Di sebelahnya, duduk seorang ibu yang juga sedang makan malam. Ia bersama anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu melihat kepada Runi. Sebelum pergi, ibu itu bertanya. “Orang pacaran itu makannya sedikit, ya? Kok tidak habis?”  Aku Runi, ia malu dan tidak bisa menjawab pertanyaan ibu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Makanan yang Berkah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita akan terkejut, sisa nasi yang tidak dipikirkan, ternyata alangkah banyaknya. Skin, yang pernah tinggal di Jakarta, menceritakan penelitian seorang anak SD kelas VI yang meneliti tentang sisa nasi. Dikumpulkannya 40 piring nasi dalam sebuah rumah makan. Hasil yang didapat: 25 piring nasi masih bersisa. Rata-rata, perempuan menyisakan dua sampai tiga suap nasi, sedangkan laki-laki hanya satu suap. Dua suap, jika dikalikan dengan 40 orang, bisa menghasilkan enam piring lagi. Artinya, enam orang lagi bisa memperoleh makanan dari sisa makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini yang namanya mubazir,” kata Ahmad Kosasih, dosen agama di UNP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, kata Ahmad Kosasih, mubazir berarti sesuatu yang dilakukan berlebihan dan mengarah kepada sia-sia. Kuncinya adalah sia-sia. Seseorang yang tidak menghabiskan nasinya ketika makan, lalu terbuang percuma, adalah mubazir. Jika nasi sisanya tersebut bermanfaat, katakanlah diberikan kepada kucing, tidak dapat dikatakan mubazir karena masih bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, hukum mubazir adalah haram. Sebenarnya kita tahu porsi  perut yang akan kita isi, tapi karena adanya sifat mubazir tadi, seseorang akan mengambilnya berlebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya melihat, sifat mubazir ada pada diri orang-orang yang tidak punya perhitungan dalam hidup,” urai Ahmad Kosasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan yang berkah itu ialah makanan yang habis. Nabi Muhammad itu, kalau sedang makan, piring tempatnya  makan itu bersih. Ia menjilat-jilati tangannya selesai makan. Apa  pelajaran yang dapat dipetik? Bagi saya, itu sebuah  cara menikmati rejeki yang diberikan Tuhan, kata Ahmad lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan yang buruk, dan sebuah cerminan masyarakat yang tidak berbudaya. Masyakat yang semakin jauh dari nilai-nilai yang luhur. H. Masoed Abidin menilai, masyakat kita sekarang sudah kucawai yaitu mengabaikan nilai-nilai luhur. Dulu, kata Masoed, orang sangat menghargai sekali nilai-nilai moral itu. Makan sekedarnya saja, agar membawa berkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hemat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berikan kepada karibmu haknya. Berikan kepada orang miskin haknya. Berikan kepada Ibnu Sabil haknya. Jangan kamu mubazir, apalagi melewati batas. Buya—begitu ia biasa disapa mengutipkan Surat Bani Israil ayat 26 tentang sebuah perilaku mubazir. Dalam pandangan Buya, sifat mubazir telah menjadi budaya dalam kehidupan sekarang. Karena orang telah kucawai, imbasnya, dalam diri seseorang tumbuh individualisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individualisme inilah yang terus biak dan berkembang. Kita tidak segan-segan lagi, bahkan tidak merasa malu, bila makanan tidak habis. Barangkali, kata Buya, yang dikatakan modern sekarang adalah tidak menghabiskan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 kecendrungan seseorang bersifat mubazir. Pertama: show. Artinya, Menganggap diri sendiri atau keluarga status sosialnya tinggi. Sehingga, dengan status itu, ada sebuah perasaan bahwa makan harus ditempat yang mewah. Orang yang punya materi itu, makannya tidak habis (disengaja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Kebiasaan dari kecil dan tidak ada yang membimbing. Anak-anak, biasanya, selesai makan, masih minta makanan lagi. Jika ada ice krim lewat di depan rumah, orang tua, daripada anaknya menangis, dibelikan saja. Padahal perutnya sudah kenyang. Kebiasaan ini akan terus berlangsung sampai dewasa (sengaja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, urai Ahmad Kosasih, kebiasaan itu sudah dari kecil, secara tidak sengaja tertanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, ditambahkan Buya, adat Minang sangat berontak dengan mubazir. Ingek sabalun kanai, kalimek sabalun habih, begitu pepatah Minang mengatakan. Jika ada, sebaiknya dihemat. Itu berguna, ketika kita berada pada kondisi tidak ada. Keberhasilan sangat ditentukan oleh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, kata Buya, orang yang mubazir menghalangi pembangunan. Bayangkan (dicontohkan dalam acara perhelatan), separuh dari makanan acara baralek yang tidak habis, itu bisa dipergunakan untuk investasi bangsa. Membantu masyarakat lain yang kesusahan, yang kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah, menurut saya, tidak terlalu ambil peduli dengan ini. Meski tahun 2008 kita digembor-gemborkan swasembada pangan, tapi kita tidak pernah mempertanyakan, apakah swasembada itu sudah menjangkau masyarakat yang membutuhkan? Pemerintah selalu memikirkan, bagaimana menanam padi dengan pupuk? Tidak pernah dipikirkan, memelihara beras yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini sifat hemat. Untuk melawan mubazir,” kata Buya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, kata Buya yang telah berkunjung ke bebapa Negara ini, di Negara yang berbudaya, hemat begitu tertanam dalam diri mereka. Di Thailand, Vietnam, orang makan tidak ada yang tersisa. Orang Arab Saudi makannya lebih banyak. Dan memang mereka sengaja tidak menghabiskan makanan, karena di luar istana, ada fakir miskin yang menuggu. Separuh dari makannya diberikan buat fakir miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa yang mubazir akan menjadi miskin, karena, lanjut Buya lagi, mubazir akan menjauhkan dari sikap hati-hati, hemat, dan menabung. Problematika bangsa kita sekarang, bukan perihal modal, tapi watak. Watak yang suka mubazir, akan melahirkan korupsi-korupsi baru dan suka menghambur-hamburkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Abai dengan Hal Kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Runi merasa mendapatkan teguran ketika ia selesai makan di kafe  Golden itu. Pelajaran yang ia dapatkan adalah, hal terkecil pun membawa manfaatnya sendiri. Ahmad Kosasih berpolemik, orang yang abai terhadap hal kecil (seperti mubazir) memiliki kecendrungan berbuat apa saja dan melakukan apa saja untuk melakukan keinginanya. Ini disebut Ahmad kerusakan mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi yang selama ini terjadi, karena tidak bisa lagi membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Keinginan itu dekat sekali dengan mubazir. Sependapat dengan Ahmad, Buya juga mengatakan bangsa ini hancur karena hal-hal kecil. “Orang-orang mubazir akan menghancurkan bangsa,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigih Wahyono yang memajang 58 lukisan dan 1 patung yang dibuatnya tahun 1999-2007 itu, setidaknya adalah sebuah cerminan, mubazir akan membuat Dewi Sri minggat dari Indonesia.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Andika D. Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padek, 8 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-2527917424714766938?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/2527917424714766938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/makanan-bersisa-duh-mubazirnya-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/2527917424714766938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/2527917424714766938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/makanan-bersisa-duh-mubazirnya-kita.html' title='Makanan Bersisa, Duh, Mubazirnya Kita'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SbeiiQONBeI/AAAAAAAAAKo/V12OV-WRYww/s72-c/makanansisa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-305982660581620941</id><published>2009-03-05T21:30:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T23:32:53.666-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Sekeluarga Cinta Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SbC9U4Rq8mI/AAAAAAAAAKQ/HFUhnz6Bo_M/s1600-h/baru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 280px; height: 210px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SbC9U4Rq8mI/AAAAAAAAAKQ/HFUhnz6Bo_M/s320/baru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309952127071351394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI RUANG&lt;/span&gt; tempat menanti tamu, hanya ada satu buah karpet. Tidak ada kursi tamu. Tapi, di ruangan itu, Rayan (13) dan enam orang adiknya menghabiskan hari membaca buku. Sang Bapak, Suharmen (44), tersenyum. “Ini buah yang saya tanam,” ujarnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suharmen semestinya tertawa. Tujuh orang anaknya: Rayan (13), Habib (12), Adeli (9), Denisa (6), Danti (5), Rahma (3), dan Imat (1) tidak seperti anak-anak lainnya. Mereka bermain tidak dengan bola, sepeda, kelereng, atau petak umpet. Mereka bermain dengan buku.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suharmen terkenang orang tuanya. Semasa kecil, ia ingat, ibunya yang tamatan Sekolah Rakyat (SR) tiap hari membaca, entah buku atau koran. Apa saja dibaca. Kenangan itu membekas. ‘Perangai’ orang tuanya mengalir. Ia seperti orang tuanya: suka membaca.&lt;br /&gt;Berlanjut, sampai ia kuliah di Universitas Padjajaran (Unpad), kecintaannya terhadap membaca bertambah. Terlebih, ia berada di lingkungan yang sangat suka membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jebolan jurusan Sastra Perancis ini mengaku, teman-temannya yang berasal dari Jawa, sampai tengah malam pun masih berada di pustaka. Awalnya ia canggung dengan ritme sepeti itu. Tapi pada akhirnya, ia bisa mengalahkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang dibaca, banyak yang tahu. Dari buku, Suharmen semakin sadar, di sinilah letak ilmu. Katanya, yang menjadi pedomannya dalam hidup adalah surat pertama yang diturunkan Allah, Al-Alaq’: bacalah. Bacalah. Sampai ia berkeluarga, ia tidak pernah lupa dengan pegangan hidupnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Takut Bodoh&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pendapatnya tentang kaya adalah: pengetahuan. Semakin banyak tahu, semakin besar kemungkinan ia menjadi kaya. Orang yang miskin adalah tidak tahu apa pun. Materi, dalam pandangannya, tidak termasuk syarat menjadi kaya. Ia takut miskin (bodoh—red), makanya ia membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memulai hidup berkeluarga, ia juga takut menjadi bodoh. Ia takut anak-anaknya tidak tahu apa pun. Ia belajar dari ‘cara’ orang-orang Eropa  dalam mendidik anaknya. Mendongeng. Anak pertamanya, Rayan, sudah mulai didongengkan dengan pelbagai macam cerita sejak dini. Tujuannya jelas, mendidik anaknya itu suka dengan bacaan. Anak keduanya, Habib, mendapat perlakuan yang sama. Saat Rayan dan habib sudah bisa membaca, tugas orang tuanya itu langsung diambil alih. Untuk adik-adiknya yang lain, Rayan dan habib yang mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ia tidak cukup materi untuk membelikan anak-anaknya buku. Pekerjaanya menjual bumbu masak tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan itu. Satu hal yang bisa dilakukannya adalah mengunjungi pustaka. Jadilah, tiap hari minggu, ia sekeluarga mengunjungi pustaka daerah. Tujuh orang anaknya dibawa ke sana. Sempat, katanya, ia mendapat perhatian dari tamu-tamu lain di pustaka. Sebab, tidak ada anak-anak yang sebegitu banyaknya dibawa ke pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh orang anaknya, meski masih ada yang belum bisa membaca, didaftarkan menjadi anggota pustaka. Setiap anggota, diperbolehkan meminjam buku sebanyak 3 buah. Dalam seminggu, total, ia bisa meminjam buku sebanyak 18 buah. Buku-buku itulah yang jadi pegangan olehnya dalam mendidik anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin dilakukannya adalah, membiasakan anak-anaknya cinta terhadap bacaan. Kebiasaan, dan selalu dibiasakannya. Rutinitas itu berlanjut hingga kini.&lt;br /&gt;Suharmen bolehlah tersenyum. Kini anak-anaknya tidak mengenal Timezone. Rayan mengidolakan Galileo. Ilmuwan yang menarik bagi Rayan. Mungkin, urai Rayan, karena hobinya sama yaitu meneliti kosmos. Galileo orang pertama yang mempermasalahkan pusat tata surya. Kata Galileo, bumi bukan pusat tata surya, tapi matahari. Kita ini berada di dalam bumi. Yang menarik bagi Rayan, katanya, ternyata orang yang berilmu, bisa membantah teori-teori yang telah mapan. Habib mengidolakan penemu mobil marsedez. Katanya, bagaimana mobil itu begitu terkenal di dunia? Apakah karena mesin atau struktur luarnya yang indah dan menarik? Saya berharap bisa seperti dia, kata Habib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, ia mencuri dengar pembicaraan anak-anaknya itu. Sepulang sekolah (keduanya bersekolah di SMP 8), pembicaraan mereka seperti ilmuwan saja. Kata Habib, “Meteor itu berasal dari mana ya?” Rayan menjawab, jika meteor itu jatuh ke bumi, sebagian besar diperkirakan berasal dari sabuk asteroid yang berada di antara planet Mars dan Jupiter. Habib mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan membaca kini telah tertanam dalam diri anak-anak Suherman. Bila hari minggu—hari yang ditunggu-tunggu mengunjungi pustaka—orang tuanya sedang sibuk, rayan dan Habib datang berdua ke pustaka. Dari Air Camar yang berjarak 4 KM ke pustaka daerah, mereka rela naik sepeda asalkan dapat membaca.&lt;br /&gt;Anak-anaknya itu, kata Suharmen, memiliki inisiatif yang tinggi. “Saya kira ini pengaruh dari buku,” tuturnya. Seperti halnya pekerjaan rumah, tanpa di suruh, mereka langsung mengerjakannya. Mereka tahu dengan tugasnya masing-masing. Interaksi antara orang tua dan anak begitu mudah. Apa yang dibicarakan atau diperintahkan olehnya, begitu cepat dapat tanggapan dari anak-anaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergaulan, tutur Suharmen lagi, saya perhatikan, anak-anak saya begitu mudah berteman dan tidak memilih-milih kawan. Di tengah kawan-kawannya, ia menjadi tempat bertanya. “Saya kira ini masih manfaat dari apa yang mereka baca.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan keluarga ini terhadap buku mendapat sambutan dari Pustaka Daerah. Tahun 2007, mereka dinobatkan sebagai pengunjung terbaik. Suharmen merendah, “saya hanya tidak ingin keluarga saya menjadi bodoh.”&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Andika D. Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;PadangEkspres, 1 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-305982660581620941?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/305982660581620941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/sekeluarga-cinta-buku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/305982660581620941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/305982660581620941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/sekeluarga-cinta-buku.html' title='Sekeluarga Cinta Buku'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SbC9U4Rq8mI/AAAAAAAAAKQ/HFUhnz6Bo_M/s72-c/baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-3904963871762149119</id><published>2009-03-04T12:40:00.000-08:00</published><updated>2009-07-06T02:40:05.149-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Mimpi Jadi Presiden</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHGaiUCqQI/AAAAAAAAAQY/5jjOWNOiOvg/s1600-h/bayi-from-god.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHGaiUCqQI/AAAAAAAAAQY/5jjOWNOiOvg/s200/bayi-from-god.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355279591109994754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Baru kali ini Budi tidak menangis bangun tidur. Ibunya heran lantas bertanya, “Kenapa kamu tersenyum?” Turun ia dari dipan. Dipeluk ibunya. “Aku mimpi menjadi presiden.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum mengambang dari Ibu yang lembut hati. Mimpi kanak-kanak selalu tidak masuk akal. Semasa kecil ia bercita-cita menjadi dokter. Kata guru, tinggilkanlah cita-citamu setinggi langit di angkasa. Rendahkan hatimu serendah mutiara di dasar laut. Dokter merupakan cita-cita yang ia letakkan di angkasa, bahkan tinggi melampaui angkasa, Tapi ia mendapatkan (ia tidak yakin mutiara) di dasar laut. Menjadi petani.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Digendong anaknya tujuh tahun itu. Ia tahu, Anak sekecil itu belum tahu dengan presiden. Ia hanya mendengar cerita dari gurunya. Ah, ia tidak tahu, apa yang diceritakan oleh guru anaknya itu sampai mimpi menjadi presiden segala.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mandi dulu. Lalu berangkat sekolah. Ibu mau ke sawah.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tidur, ia menghampiri anaknya. Mengingatkan anaknya itu berdoa menjelang tidur, agar tidak bermimpi lagi menjadi presiden. Dipandang wajah polos anaknya. Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa mimpi itu tidak pantas singgah di dalam tidur anaknya. ia tidak ingin anaknya bercita-cita terlalu tinggi, meski hanya dalam mimpi. Bahkan, ia berharap anaknya tidak bermimpi malam ini. Ia ingin, dalam mimpi pun, anaknya bermimpi dengan wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mendongeng. Ia ingat, gurunya dulu berkata. Mimpi terjadi karena apa yang diinginkan ketika terjaga, tidak tercapai. Lalu diucapkan secara tidak sadar ketika tidur, yang disebut dengan mimpi. Maka, ia menceritakan kisah kancil.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu… pe..iden itu apa seh,” anaknya yang belum fasih lafal r dan s itu mengalihkan ceritanya. Diusap kepala anaknya. Meski ia tidak menginginkan pertanyaan itu, ia jawab juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Budi janji ya, setelah Ibu cerita, Budi langsung tidur.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budimengangguk.          Ia menceritakan sosok harimau. Di dalam rimba yang luas, ada banyak sekali binatang. Di antara yang banyak itu, ada seekor binatang yang sangat dihormati di rimba raya. “Kamutahubinatangitu?”         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harimau, Bu..”       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pinter. Benar, harimau. Kamu tahu sifat harimau?”    Gamblang ia bercerita. Karena cerita harimau sering didengarkannya dari guru di sekolah.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harimau itu penguasa hutan. Taringnya tajam, larinya cepat, dan semua binatang takutkepadanya.”         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harimau juga memangsa segala, termasuk manusia,” dipotong anaknya bercerita. Anaknya melongo. Ia seperti mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan ceritanya tentangharimau.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang berani menganggu harimau. Dengan kekuatannya, ia bisa melakukan apa saja dan berbuat apa saja. “Kamu mau menjadi orang yang ditakuti?” Oh, anaknya telah tertidur dengan pulas. Ia keasikan bercerita, rupanya. Mudah-mudahan ia tidak bermimpi bertemu harimau malam ini, harapnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ilham, Aldo, Putri, dan anaknya Budi, ketika ia sedang menyalakan tungku, datang sambil membawa kelereng. Dicampakkan saja tas ke atas kursi lusuh. Rumah itu, bagi mereka adalah tempat menghabiskan waktu. Karena hanya di rumah itu, ia tidak melarang mereka berbuat apa saja. Ia tidak takut rumahnya kotor karena anak-anak kecil itu. Hanya di rumah itu mereka bisa bermain dengan bebas. Tak ada yang menghardiknya seperti di sekolah. Pernah, suatu ketika, Ilham sepulang sekolah menangis tersedu-sedu. Kelerengnya diambil Ibu guru sambil marah-marah. “Sekolah tempat belajar, bukan bermain kelereng.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak habis pikir, anak sekecil itu dilarang bermain. Baginya, kehidupan terbesar anak-anak adalah bermain. Atau ia yang bodoh, yang tidak tahu bahwa sekolah tempat belajar, bukan bermain kelereng. Tapi, di rumah ini, anak-anak itu menikmati masa kanak-kanak mereka. Ibu mereka tidak akan cemas. Biasanya mereka akan langsung pulang bila lelah bermain. Jika perut mereka lapar, sambal seadanya di atas meja telah dipersiapkan. Mereka tinggal makan, ia tidak pernah marah karena itu.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hari ini mereka tidak bermain kelereng. Di ruang tamu, mereka asik bercerita. Barangkali pelajaran di sekolah hari ini menarik bagi mereka.    &lt;br /&gt;“Do…kenapa cita-cita kamu jadi dokter?” Ilham yang bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aldo di rumah sakit ketika Ayah meninggal. Aldo perhatikan seorang Bapak berkacamata memeriksa penyakit Bapak. Kata Ibu, ia dokter. Gagah sekali Bapak itu. Aldo ingin menolong orang yang sakit agar tidak banyak orang yang meninggal karena penyakit.” Entah darimana anak sekecil itu begitu mulia cita-citanya. Tapi memang, di antara mereka, Aldo yang selalu juara kelas. Anak petani satu ini, otaknya begitu cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KalauPutri?”Aldoyangbertanya.“Putri mau jadi apa ya…?” Ia justru mengalihkan pertanyaan itu kepada teman-temannya yang lain. “Putri mau jadi model saja. Putri, kata Ibu, kan cantik..” Mereka semua tertawa mengejek Putri. Ejekan anak-anak. Ah, barangkali Putri sering menonton televisi.   &lt;br /&gt;Putri mengalihkan pandangannya kepada Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Budi mau jadi apa?” Ia berhenti seketika memasak. Dari dapur, ia mendengarkan pertanyaan yang ditujukan kepada anaknya itu. “Budi mau jadi pe..iden.” “Pe…iden? Presiden?” Dibenarkan oleh Aldo ejaannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Ibu bilang, pe..iden itu sama seperti harimau, Ditakuti oleh banyak orang. Budi tidak mau ditakuti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Ilham tidak punya cita-cita. Kata Ibu, Orang miskin tidak boleh bercita-cita. Nanti gila jadinya. Seperti Datuk Bidin itu. Kalian tahu ceritanya?”Tidak ada yang bertanya kepada Ilham. Tapi pertanyaan yang diajukan Ilham menarik perhatian mereka. “Mau?”        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Bidin itu, dulu bercita-cita jadi tentara. Dia orang kaya di kampung ini. Sawahnya banyak. Tapi ia tidak lolos masuk tentara. Kata Ibu, tingginya kurang dua senti. Karena cita-citanya tidak sampai, ia jadi gila. Kalian lihat kan, Datuk Bidin sering bilang, “Serang..serang..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kalian makan ya. Nasi Ibu telah masak.” Ia datang melerai cita-cita anak-anak itu. “Horeee…” Mereka berlari ke dapur. Menikmati lezatnya ikan teri kesukaan mereka semua. Ikan teri itu melupakan cita-cita yang baru saja mereka bicarakan. Ah, Ibu itu membayangkan, barangkali hanya ini cita-cita kalian. Sepulang sekolah makan ikan teri sambil tertawa. Itu lebih baik dariapa menjadi dokter, model atau presiden. Hanya inilah yang kalian cita-citakan. Tidak dimarahi guru di sekolah karena bermain kelereng. Pulang ke rumah ini sambil membawa cerita lucu yang dinikmati bersama. Barangkali hanya itu yang bisa kalian cita-citakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang paling menakutkan bagi seorang Ibu? Bila anak-anaknya tiap malam bermimpi menjadi presiden. Ia bercerita tentang kancil, buaya, dan peri baik hati. Anaknya tetap mimpi menjadi presiden. “Bu, mimpi itu lagi.” Ibu itu akan memeluk. “Kamu lupa berdoa menjelang tidur.” Selalu begitu jawabnya. Padahal, tadi malam, ia sendiri yang mendengar anaknya berdoa sebelum tidur.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak ke sawah hari ini. Ia mendatangi sekolah. Kepada guru Budi ditanyakannya, apa saja pelajaran yang diberikan kepada Budi? Lalu ia menceritakan mimpi-mimpi Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh..Bukankah itu bagus, Bu. Bila pelajaran mengarang telah dimulai, saya selalu bertanya: apa cita-cita kalian anak-anak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru itu melanjutkan. Tapi ibu itu sudah yakin, guru ini yang menyebabkan anaknya terus bermimpi. “Hanya Budi lo Bu…cita-citanya selalu menjadi Presiden. Yang lain, tiap hari berubah cita-citanya. Saya pikir, anak itu akan sukses kelak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ia tidak bisa berdebat tentang ini. Toh,ia tidak berhak mengatur mimpi anaknya. Barangkali guru itu benar, anaknya berhak memiliki cita-cita sendiri. Persis cita-citanya dulu, tidak ada yang melarang. Tapi tidak ada yang bisa menjawab kegalauan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah harimau itu jahat, Bu?” Di rumah, anaknya yang belum berganti seragam, kembali bertanya. Disuruh anaknya ganti baju. Makan ikan teri kesukaan. Lalu duduk di teras rumah yang rimbun. Tempat ia biasanya bermain bersama-sama Aldo, Ilham, dan Putri. Hari ini, mereka tidak bermain di rumah Budi. Barangkali banyak tugas dari sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, sampai hari ini, ia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan anaknya. Apa salahnya bermimpi? Dia pun sering bermimpi, meski tidak menjadi presiden. Ia pun tidak pernah tahu, kenapa ia melarang anaknya bermimpi menjadi presiden? Ia hanya menurutkan kerendahan daya pikirnya. Bila pertanyaan itu datang dari mulut anaknya, jawabannya selalu sama dan tidak memuaskan Budi, ”Nanti kamu juga akan tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Budi tidak pernah tahu dan selalu ingin bertanya. Kepada guru di sekolah, ditanyakannya juga. “Kata Ibu, pe..iden itu ditakuti,” ditiru ucapan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini libur sekolah. Ia membawa Budi ke sawah. Tidak pernah sebelumnya ia membawa anak semata wayangnya itu ke sawah. Selain masih terlalu kecil, ia tidak tega melihat anaknya itu diserang matahari siang yang ganas. Biarlah ia sendiri yang merasakannya. Mencabik matahari, berteman dengan lintah dan lumpur. Budi mengambil sabit, meski sudah ia larang. Budi menyiangi pematang sawah yang ditumbuhi semak belukar. Peluhnya bercucuran diserang matahari. Semakin siang, matahari semakin menyengat. Budi tidak tahan. Ia masuk ke dangau. Mengambil air minum. Ibunya masih tetap di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sore, mereka telah pulang. Budi kelelahan sekali. Selesai makan siang, ia langsung tertidur. Pulas sekali. Anak itu baru terbangun ketika azan magrib berkumandang di masjid. Tidak sempat mandi, ia menuju kamar tidur, tempat buku-buku pelajarannya ditaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makan dulu, Nak..” Ia baru selesai salat. Ketika didapati anaknya itu sibuk mencari sesuatu.            &lt;br /&gt;“Buku PR Budi warna kuning, mana Bu?”&lt;br /&gt;“Oh..sudah Bu. Sudah dapat.” Dibelai rambut anaknya yang kini duduk di lantai sambil menulis. “Boleh Ibu tahu PR-nya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditatap sejenak wajah Ibunya itu. Ibu guru menyuruh kami membuat karangan. Judulnya Cita-citaku.  Aku lupa mengerjakannya tadi siang. Padahal mau dikumpulkan besok pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sepuluh malam, Budi tertidur di lantai. Barangkali ia terlalu kelelahan sehabis dari sawah tadi. Dipindahkan anaknya ke dalam kamar. Buku-buku yang berserakan dimasukkan ke dalam tas. Seperti biasa, ia mempersiapkan buku-buku pelajaran untuk anaknya esok pagi. Oh, sebentar ia ingat, anaknya baru selesai mengerjakan tugas mengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi aku ke sawah dengan Ibu. Aku lihat Ibu kelelahan. Peluh bercucuran dari keningnya yang sudah hampir keriput. Aku mengambil sabit, membantu Ibu. Ibu melarang, aku tetap menyabit rumput. Aku tidak sanggup, lalu masuk ke dangau. Kami pulang lebih cepat, tidak seperti  biasa. Aku tidak lagi ingin menjadi presiden. Aku membantu ibu saja di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu sudah tertidur dengan pulas. Sampai kini, ia belum menemukan jawaban untuk menjawab pertanyaan anaknya. Ia merasa bersalah, tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ruangsempit--Padang, 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-3904963871762149119?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/3904963871762149119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/mimpi-jadi-presiden.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3904963871762149119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3904963871762149119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/mimpi-jadi-presiden.html' title='Mimpi Jadi Presiden'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHGaiUCqQI/AAAAAAAAAQY/5jjOWNOiOvg/s72-c/bayi-from-god.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-3722443752260908953</id><published>2009-03-03T09:36:00.001-08:00</published><updated>2009-07-06T02:38:56.912-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Taufiq Ismail (Penyair), DARI SASTRA MANUSIA BELAJAR KEHIDUPAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHGKFIM8TI/AAAAAAAAAQQ/x9SC7OL4CXQ/s1600-h/taufik_ismail.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 171px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHGKFIM8TI/AAAAAAAAAQQ/x9SC7OL4CXQ/s200/taufik_ismail.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355279308397801778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SELAMA&lt;/span&gt; lebih satu dekade, ia selalu menyuarakan gerakan membaca demi membangkitkan negara yang dianggapnya rabun membaca dan lumpuh menulis. Sejak 1998 dengan gencar ia menyerbu 168 kota, mendatangi 213 SMA yang ada di Indonesia, melatih 2000 guru bagaimana mengapresiasi sastra, membawa 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris untuk membuka otak kanan bangsa agar lebih seimbang dalam melihat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, meski program itu sudah habis kontraknya, ia mencari cara lain agar usahanya selama 10 tahun tidak terbuang sia-sia. Lewat hadiah sastra Habibie Award 2007 sebesar 25.000 dollar AS, setelah dipotong pajak menjadi Rp200 juta, yang didapatnya, dibangunlah rumah agar seluruh pelaksanaan gerakan membaca bisa tetap terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua gelar doctor honoris causa yang diraihnya dari dua perguruan tinggi terkemuka Indonesia, UI dan UGM, hanyalah pemasti bahwa putra Bukittinggi itu telah mengerjakan pekerjaan yang hampir musykil dilakukan setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rumah Puisi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Suatu hari, Taufiq dan Istri, Ati Ismail, sedang berbincang. Hari itu Sang Istri, yang selama ini menjadi manejer Taufiq untuk kegiatannya, bertanya, “Andai umur tak panjang, mau dikemanakan buku-buku yang Uda punya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang, Taufiq menjawab, “Serahkan ke pusat dokumentasi HB Jassin saja (yang berlokasi di TIM Jakarta).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ati tidak setuju. “Kalau di Jakarta, seluruh pelajar dengan mudah mendapatkan akses informasi. Bagaimana dengan pelajar di kampung? Apa yang sudah Uda berikan?” tanya Ati tajam.Menurut pengakuan Taufiq, ia merasa tertohok dengan pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang sudah hidup dengannya selama berpuluh tahun itu membuka matanya. Maka, berbiaklah pikiran bagaimana merumahkan 6000 judul buku yang dimiliki Taufiq. Tidak hanya itu, tempat yang akan didirikan nanti sekaligus menjadi tempat berlanjutnya program gerakan membaca yang telah diterukanya selama lebih sepuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007, ia menerima hadiah 200 juta dari Habibie Center, membuat Taufiq punya harapan besar. Tapi, di mana tempatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana, kesengajaannya membeli sayuran organik di Kanagarian Aie Angek Kab. Tanahdatar saban pulang kampung, memberikan imajinasi sendiri. Di apit dua gunung, pemandangan yang indah, ada tanaman yang sehat, membuat Taufiq merasakan menemukan “rumahnya”. Rumah Puisi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh karya sastra memiliki keindahan puitiknya masing-masing. Istilah puisi menjadi kata sifat bersama dan payung dari seluruh karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah dua kalimat yang menjelaskan kenapa Taufiq menamakannya Rumah Puisi. Tapi, “Kalau saya penulis cerpen, mungkin namanya Rumah Cerpen,” guraunya ketika di wawancarai di rumah budayawan Wisran Hadi, Lapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan Desember 2008, rumah idaman Taufiq selesai. Ia menjadikan rumah itu gabungan antara perpustakaan, tempat pelatihan guru bahasa dan sastra, sanggar siswa membaca buku dan berlatih menulis serta tempat sastra diapresiasikan dan di situ pula sastrawan berinteraksi. Sampai saat ini sudah empat sastrawan yang dirumahkan Taufiq di Rumah Puisi. Di antaranya, D. Zawawi Imron, Ahmad Tohari, Acep Zamzam Noor dan Joni Ariadinata. Selama sebulan atau 2 minggu mereka berkeliling ke sekolah-sekolah mengajarkan dan berdiskusi tentang sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selain itu, nanti akan diundang komunitas-komunitas sastra yang ada di Sumbar untuk mengisi acara di sini,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, Rumah Puisi yang didirikan bukan bertujuan untuk menjadikan seorang pelajar menjadi sastrawan. “Peningkatan budaya baca buku dan kemampuan menulis anak bangsa, itu yang menjadi tujuan utama,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Desember lalu, rumah puisi sudah mulai beroperasi. Beberapa pelatihan guru dan pelajar diadakan. Taufiq juga mendatangkan sastrawan tamu untuk memberikan pengajaran sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus Rumah Puisi, Taufiq memang dan hanya mendirikan di Sumatra Barat. “Sekaligus ini bentuk romantisme saya terhadap kampung. Tapi, kalau sastrwan lain ingin mendirikannya di daerah yang mereka sukai, silahkan saja,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gerakan Minat Baca, Tumbuhkan Budaya Menulis&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sejak Menteri Kebudayaan dijabat Nugroho Notosusanto, Taufiq dan beberapa sastrawan lainnya sudah memikirkan cara bagaimana sastra diajarkan secara benar sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena seorang sastrawan saja ia merasa sastra penting untuk diajarkan. Lebih dari itu, ia menganggap hanya seni—termasuk sastra—yang bisa membuka cakrawala berpikir seorang manusia. Ia beranggapan, dari sastra seorang manusia belajar tentang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk mengajarkan sastra juga didorong oleh penglihatannya akan begitu banyaknya pekerjaan menumpuk dari teman-teman departemen pendidikan. ”Mereka butuh bantuan,” ujar Taufiq, “meski sebenarnya itu bukan pekerjaan seniman.”&lt;br /&gt;Sayang keseriusan Taufiq dan teman-teman dapat ujian. Sifat menunggu masih dipakai, sehingga tidak ada kabar mengenai kelanjutan program yang sudah ditawarkan oleh Taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri berganti, Taufiq kembali mendatangi Fuad Hasan. Terjadi dejavu. Tidak jelas kelanjutannya. Baru ketika Wardiman Djojodiningrat menjabat mendikbud, Taufiq mempunyai harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asa itu muncul berasal dari pertanyaan Wardiman yang mengagetkan Taufiq. “Jadi, begitu parah, ya, keadaan sekarang. Pak Taufiq punya data?” cerita Taufiq, “Waktu itu saya cuma bisa bilang tunggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah ia mewawancarai 50 pelajar yang ada di 50 negara. Sayang, tidak semua bisa dihubungi. Yang memberikan jawaban hanya 23 negara. Dan seperti yang sudah dipidatokannya di mana-mana, Indonesia menduduki urutan buncit, 0 buku dan 3 kali menulis selama SMA. “Bayangkan dari 0 (baca) buku mereka masih bisa menulis. Tak terbayangkan,” ujarnya miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan itu kemudian dibawa kepada Wardiman. Mendikbud mengangguk dan menyetujui program ke sekolah-sekolah yang ditawarkan Taufiq. Sebelumnya Taufiq minta syarat, “Pegawai dikbud tidak boleh ikut campur dalam pemberian kurikulum nanti.” Pak Menteri juga setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar gembira juga datang kepada pemimpin majalah budaya Horison ini. Proposal yang diajukan kepada Yayasan Ford juga disetujui. Maka dimulailah kerja mengelingi nusantara untuk mengajarkan dan mengapresiasi sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufiq beranggapan, kecintaan membaca buku dalam bidang apa pun, secara awal ditumbuhkan melalui kecintaan membaca karya sastra. Demikianlah pembibitan awal kebiasaan membaca dilakukan di seluruh dunia yang beradab. Latihan menulis yang terus-menerus dapat mengantarkan siswa menulis karya sastra, kalau berminat. Tetapi kalau tidak, ia akan memiliki kemampuan menulis secara umum. Dia akan menjadi insan yang cinta sampai adiksi buku, merasa perpustakaan sebagai rumahnya yang kedua, dan mampu menulis dalam bidang profesinya masingmasing. Bila kelak dia menjadi arsitek, pelaku bisnis, guru, spesialis bedah, Kepala Direktorat, pakar agronomi, Komandan Resimen, wartawan, pilot antar benua, ibu rumah tangga, dan seterusnya, maka dia adalah profesional yang rujukan utamanya buku bacaan dan mampu menulis dalam spesialisasinya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kelak di antara mereka, satu di antara seratus, ada yang menjadi penyair, cerpenis, novelis, dramawan dan esais terkemuka, tentu itu sangat patut disyukuri,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski apresiasi sastra begitu rendah, tidak sekali pun ia menyalahkan guru. “Mereka tidak bisa disalahkan,” bela Taufiq. Maka yang dilakukannya adalah memberi tahu guru-guru, terutama guru Bahasa Indonesia agar bisa memberikan pengajaran sastra lebih rileks dan berisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung ia kenal dengan seorang dosen UI, Ismail Marahimin. Ismail pernah belajar ke AS. Di sana, cerita Taufiq, Ismail menemukan kelas apresiasi sastra yang bisa membuka cara berpikir siswa terhadap sastra dengan lebih positif. Cara itu diterapkan Ismail begitu kembali ke Indonesia. “Sampai sekarang, siapapun yang masuk kelas Pak Ismail mesti lewat seleksi,” kata Taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sepuluh tahun berjalan, Taufiq merasakan manfaatnya. Ia memang tidak tahu angka pasti berapa persen minat baca masyarakat Indonesia tumbuh. Berapa persen orang mau membeli buku da membuat pustaka di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari histeria saat acara diadakan, dari sms-sms yang diterimanya, dirasakan bagaimana saat ini ada gelombang baru yang siap datang. Gelombang dari generasi yang terbuka mata dan telinganya akan kehidupan. Dan semua bermula dari membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun di sana, pada sebuah kanagarian di Tanahdatar, berdiri sebuah rumah di mana semua pelajar dan guru diharapkan bersuka ria membaca dan menulis. Lebih dari itu, sebuah mimpi sedang diuji. Mimpi menciptakan generasi penuh imaji dengan daya kreatifitas tinggi. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(S Metron M/Gusriyono/Andika Destika Khagen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimuat Padang Ekspres, 1 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-3722443752260908953?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/3722443752260908953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/taufiq-ismail-penyair-dari-sastra.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3722443752260908953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3722443752260908953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/03/taufiq-ismail-penyair-dari-sastra.html' title='Taufiq Ismail (Penyair), DARI SASTRA MANUSIA BELAJAR KEHIDUPAN'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHGKFIM8TI/AAAAAAAAAQQ/x9SC7OL4CXQ/s72-c/taufik_ismail.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-4867670229164083018</id><published>2009-02-22T09:53:00.000-08:00</published><updated>2009-07-06T02:37:39.691-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjektif'/><title type='text'>Demo dan Civil Disobedience</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHFBg3sWaI/AAAAAAAAAQI/tzanonK1jP0/s1600-h/baru+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 176px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHFBg3sWaI/AAAAAAAAAQI/tzanonK1jP0/s200/baru+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355278061714299298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PADA&lt;/span&gt; tahun 1998, lewat sebuah aksi demo yang besar, kekuasaan berhasil ditumbangkan. Aksi tersebut menjadi sebuah pencapaian, karena setelah itu banyak ‘kran’ yang terbuka: kebebasan pers, hak bersuara, hak berpendapat, dan hak-hak lainnya. Keadaan berbalik, dari sejarah pengekangan ke peradaban yang terbuka. Semua orang bisa berpendapat; semua orang memiliki hak bersuara. Kejadian itu menjadi klimaks kekuasaan yang semena-mena. Tapi ia membuka ‘kran’ yang lain: sejarah kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan yang terjadi setelah itu adalah kekerasan yang bersifat serta merta dan membawa pada chaos—suatu fenomena atau keadaan tertentu yang tidak mungkin diprediksi arah perkembangannya, disebabkan berfluktuasinya indikator-indikator yang digunakan untuk menjelaskan perkembangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pencapaian pada tahun 1998 itu, menanamkan kesadaran pada banyak orang dan kelompok: melawan  kekuasaan perlu dengan menggerakkan massa (demo). Rakyat kita sekarang ingin membalikkan apa yang dikatakan Marx dengan Kesadaran Semu (False Conscicusness)—penguasa itu selalu baik, dan rakyatnya selalu jahat; penguasa itu selalu benar, dan rakyat selalu salah; penguasa itu selalu tahu, dan rakyat selalu harus diberi petunjuk.&lt;br /&gt;Demo adalah bagian dari pembangkangan. Di dalamnya terkandung makna ketidakpatuhan terhadap sebuah kebijakan, atau menuntut sesuatu maksud yang hendak dicapai. Karena selama ini, rakyat tidak mendapatkan haknya sebagai warga negara sehingga banyak ketakutan-ketakutan yang muncul, kalau saja negara ini kembali kepada pemerintahan yang lalim.&lt;br /&gt;Setelah sekian lama menjadi kebiasaan, kita kemudian dikejutkan dengan demo yang terjadi di Sumatera Utara. Ketua DPRD Sumatera Utara, Abdul Aziz Angkat meninggal. Pemicunya adalah demo brutal yang menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli Selatan (Protap). Sekali lagi, kekerasan terjadi dikarenakan bentuk ketidakpuasaan (atau keserakahan). Bila dibentang lagi, banyak bentuk-bentuk ketidakpuasan yang terjadi: Fatwa MUI, RUU APP, UU BHP. Semuanya menuai protes, yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam era pengekangan (Orde Baru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Civil Disobedience&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Charles Tilly berpendapat bahwa pembangkangan sipil adalah fenomena dalam masyarakat demokratis dan liberal, atau sekurangnya masyarakat yang menuju transisi ke arah sana. Para ‘monster-monster’ alamiah pembangkang memanfaatkan kebebasan yang tersedia dalam masyarakat itu, di samping juga karena gagalnya konvenan-konvenan konstitusi menyediakan keadilan dalam ruang publik atau—meminjam istilah Habermas—krisis legitimasi. Dengan kata lain, pembangkangan sipil ialah krisis atas keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Negara yang hukumnya tidak adil, legislatif yang congak dan congkak, merupakan embrio masyarakat sipil akan berontak dengan caranya yang kadang masif.&lt;br /&gt;Tapi, apa yang terbentang dihadapan kita sekarang adalah sebuah keadaan yang tidak hanya chaos, tapi juga tidak dapat dikendalikan. Keadaan yang barangkali merupakan tidak adanya lagi kepercayaan. Rakyat tidak percaya kepada lembaga legislative, atau juga semua perangkat pemerintah. Rakyat tidak percaya kepada bentuk-bentuk peraturan yang diciptakan oleh penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih, begitu banyak data yang mencuat, bahwa penguasa memang tidak dapat dipercaya. Korupsi masih tinggi, hukum masih milik yang berduit, biaya pendidikan semakin tinggi, dan pejabat tidak mau tahu dengan rakyatnya (kecuali waktu kampanye). Fenomena-fenomena semacam ini membentang di hadapan kita. Begitu jelas, dan kadang tanpa malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat semakin tidak tentram, di sekitarnya banyak orang-orang yang menahan lapar. Di televisi mereka melihat penguasa yang tidur ketika memperjuangakan nasib mereka. Rakyat banting tulang mencari sesuap nasi, penguasa jalan-jalan ke luar negeri. Anak-anak mereka tidak bisa sekolah. Anak tetangganya tiap hari ganti baju baru.&lt;br /&gt;Rakyat tidak mendapatkan tempat di negaranya sendiri. Negara menjanjikan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, tapi masih banyak yang bergaji di bawah UMR. Negara menjanjikan pendidikan yang murah, tapi banyak yang tidak bersekolah. Keadaan sosial semacam ini, membuat rakyat tidak punya banyak pilihan untuk bertahan di negaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan kita semua. Di balik yang tidak kita tahu, keadaan ini juga dimanfaatkan oleh yang berkepentingan. Yasraf Amir Piliang menyebutnya dengan zaman horror—kita tidak tahu siapa yang berada di balik apa. Keadaan semacam ini juga mudah menggerakkan aksi massa (demo) yang menimbulkan civil disobedience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara ini, kita menyaksikan aksi massa yang durasinya terus mengalami peningkatan. Karena pengalaman mengajarkan: hanya cara ini suara akan didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, cara yang dianggap paling mempengaruhi untuk menyampaikan pendapat (kepentingan), ternyata menimbulkan sisi lain yang sebenarnya tidak diinginkan yaitu kekerasan. Yang tidak hanya sangat disayangkan, tapi juga memakan korban. Bukankah ini bukan bagian cara menyampaikan pendapat (kepentingan)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Civil Disobedience boleh saja berwajah keriput dan terjadi di mana-mana. Akan tetapi, itu hanya sebagai politik ingatan melawan tirani lupa, bukan sebuah bentuk melahirkan kekerasan yang baru dan legal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Demokrasi tetap merupakan sebuah cara, yang menurut Mahatma Ghandi mampu menyelesaikan permasalahan dalam sebuah negara paling baik dan bijak. Dalam demokrasi, pendapat diuji kebenaran dan kelayakannya. Dari uji kelayakan dan keputusan bersama, permasalahan diletakkan dalam kepentingan bersama. Demo sebagai sebuah civil disobedience sudah terlalu banyak dicampuri oleh kepentingan.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Andika D Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-4867670229164083018?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/4867670229164083018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/demo-dan-civil-disobedience.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4867670229164083018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4867670229164083018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/demo-dan-civil-disobedience.html' title='Demo dan Civil Disobedience'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHFBg3sWaI/AAAAAAAAAQI/tzanonK1jP0/s72-c/baru+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-682820126856187246</id><published>2009-02-22T09:20:00.000-08:00</published><updated>2009-07-06T02:33:06.518-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Maaf, Kita Semakin Tak Santun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHEyXZW9vI/AAAAAAAAAQA/8nDj6btqdVs/s1600-h/sampah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 182px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHEyXZW9vI/AAAAAAAAAQA/8nDj6btqdVs/s200/sampah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355277801473111794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ADA&lt;/span&gt; yang mengeluh, kehidupan semakin tak ramah. Orang-orang kasar dimana-mana. Gampang marah, mudah memaki, enggan berterimakasih, dalam berpakaian dan bersikap jauh dari rasa malu, tak mau mengalah, merasa paling benar, dan satu lagi: tak takut melanggar aturan dan norma-norma dalam masyarakat. Hal itu kini telah menjadi realita pahit di piring kehidupan kita yang terpaksa harus ditelan. Dan, akhirnya, ketika kita merenung, tiba-tiba kita rindu kesantunan untuk kenyamanan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bicara kesantunan, tentulah kita bicara tentang apa sesungguhnya kesantunan itu. Pada hakikatnya santun berarti halus dan baik budi bahasa, tingkah laku, sopan, sabar dan tenang. Orang santun suka menolong, menaruh rasa belas kasihan dan hormat. Orang santun biasanya orang yang ramah, baik hati dan menarik budi bahasanya, manis tutur kata dan sikapnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal demikianlah, yang mestinya dimiliki oleh manusia, dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hidup terasa indah. Jika tidak, maka kita dinilai tidak memiliki etiket, tak paham tata cara dalam masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusia, baik kenal maupun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesantunan, yang tentu di dalamnya keramahan terpatri, adalah hal yang menganggumkan kalau ada dimiliki manusia Indonesia hari ini. Kenapa? Karena kita mulai merasakan, alangkah susahnya mendapatkan keramahan dan kesantunan dalam kehidupan ini, yang berdampak pada ketenteraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sopan santun itu penting, harus dimulai dari keluarga. Orangtua adalah contoh yang tepat bagi anak belajar santun. Baik sikap orangtua di rumah, anak akan meniru,” kata Eva Hotman, 39, wiraswasta tinggal di Air Tawar, Padang. Kemudian, Eva menyebut kerisauan hatinya melihat orangtua kini dan para anak gadis yang banyak kurang bermalu. Eva menyontohkan, jika di zamannya muda dulu, kalau mau pergi ke rumah laki-laki (padahal kawan), harus ditemani saudara laki-laki. Jika tidak, apalagi ketahuan mamak, akan kena marah. Beda anak sekarang. Sudahlah pakaiannya buka aurat, jika berboncengan dengan pacarnya, berpagutan erat pula. Tak malu akan nampak sama orangtua, mamak atau orang kampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang risaunya Eva, melihat orangtua yang merestui habis-habisan anaknya berpacaran. Bahkan ada yang mengzinkan pacar anaknya menginap di rumahnya. “Ini tak bisa saya terima,” kata Eva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimpali apa yang dikatakan Eva, Masniati (55), ibu rumah tangga yang tinggal di Belimbing ini mengaku, kesopanan anak-anak kini juga memprihatinkan. Baik kepada orangtua, guru, dan lingkungan. Ia menceritakan pengalamannya naik angkot. Ketika itu naik serombongan anak seragam SMA tertentu. Semua merokok sambil bergelut. Padahal ada orangtua seusia ayah dan ibu mereka. “Saya marah, saya hardik mereka....” Setelah itu, Masniati melihat, mereka berbisik-bisik, seakan mencemoohkan dirinya. Tak ada rasa bersalah. Malahan sebelumnya mereka saling menyalahkan, sambil sedikit mencemooh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kesantunan, di dalam keluarga pun banyak krisis. Di rumah, ibunya berpakaian seksi, ayahnya-- padahal punya anak perempuan yang remaja, enak-enak saja tak berbaju keluar masuk. Begitu juga ayah dan ibunya, aman-aman saja melihat anaknya berpakaian tampak aurat. Kalau mamak (saudara laki-laki dari pihak ibu) datang, malah tak segan. Paling akan salaman, sedikit cium tangan, dan mamaknya pun ternyata tenang-tenang saja. “Ini berkait dengan cara keluarga mendidik anak,” kata Mas.&lt;br /&gt;“Orang tua, sebenarnya banyak tak memberikan pendidikan yang semestinya di dalam keluarga,” tukuk Adriyetti Amir, Dekan Fakultas Sastra Unand Padang. Padahal, kata dia, orangtua selalu menyuruh anak berpakaian sopan, bertutur bahasa baik, menjalankan shalat lima waktu sehari semalam. Sementara, katanya,  sang orangtua, sering berpakaian pendek alias seksi di rumah. Ini adalah contoh buruk yang meruntuhkan. Inilah dilema di tengah masyarakat yang diakibatkan tidak adanya lagi tuntunan yang didapatkan anak Minangkabau saat ini. Pendidikan moral dan akhlak anak-anak tidak bisa diberikan di bangku sekolah secara baik dan benar. Apalagi hal itu berkaitan dengan cara, pola-pola hidup yang dilakukan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abainya terhadap nilai-nilai kesantunan, Armini Arbain, salah seorang staf pengajar Fakultas Sastra Unand akibat dominannya pengaruh media massa khususnya media elektronik seperti televisi. Kalau kita lihat, tayangan televisi, terutama sinetron remaja, miskin nilai edukasi dan etika. Apalagi, kalau setingnya di sekolah. Biasanya guru diolok murid-muridnya yang berpakaian seragam tak sopan, ketat, di atas lutut, lengan baju digulung, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dalam tayangan televisi, Armaini meresahkan adegan remaja yang kesannya memberi pendidikan bagaimana cara berciuman, berpacaran, melawan ke orang tua dan guru. Mestinya televisi melakukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi hal Lumrah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Memasuki kehidupan sosial, kita pun mendapatkan potret tak santun beragam. Jauh dari saling menghormati, adalah hal lumrah tersua. Misalnya, naik angkot, kita mulai merasa tak nyaman. “Bayangkan, kita kan bayar. Mestinya hak kita itu rasa nyaman, dilayani. Ya tolong dong, kalau kita menerima panggilan handphone, volume tapenya dikurangi,” kata Imelda, alumni Fak Ekonomi Universitas Andalas ini sembari menyebutkan pengalaman paling gak enak, naik angkot di kota Padang. Kita tak punya hak apa-apa di angkot atau bus kota. Kalau ugal-ugalan dalam musiknya yang keras, cukup berdoa saja agar selamat. Kalau sopirnya diingatkan, malah makin nambah ugalannya.&lt;br /&gt;Dia, mengaku, kasihan dengan sopir angkot yang baik. Karena ada stigma, asal sopir angkot atau bus kota, otomatis tak santun. Padahal, tak semua begitu. Kata Memel (itu sapaannya), anak, keponakan atau adik sopir angkot mesti diberi contoh oleh bapak atau kakaknya, atau pamannya yang sopir itu, bahwa profesi apa pun punya martabat, sehingga pihak keluarga bangga punya bapak, paman atau abangnya yang santun dalam melayani penumpangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang kita ini suka sesuka hatinya, ukuran yang dipakai apa yang enak sama dia saja,” kata Syuhendri Datuk Siri Marajo, pegawai Taman Budaya Sumbar. Dia mencontohkan. Kalau belanja di supermarket, karena kembalian uangnya recehan, dia ganti dengan permen. Ini sebenarnya tak sopan. Penghinaan. Karena, tak ada penjelasan sebelumnya. Mestinya, dia berkata dengan baik, “Maaf, Pak, uang recehnya kita tukar permen saja, karena sulit mendapatkan recehnya….” Dan, menurutnya, kalau tidak ada penjelasan, tentu dia pengelola supermarket atau toko, juga harus mau menerima permen sebagai alat tukar pengganti receh kalau kita belanja di situ.&lt;br /&gt;Bicara kesantunan, kalau dicermati dalam kehidupan sosial, kita jadi risau. Banyak yang nampak dan teringat. Dalam lingkungan kantor saat rapat atau acara seminar misalnya. Orang menerima handphone, bicara keras, sementara orang sedang presentasi di depan. Juga, kita merasakan, di ruangan ber-AC, tertulis dilarang merokok, orang tetap merokok. Bahkan, di atas angkutan umum, orang tetap merokok tak peduli di depan anak-anak atau penumpang lain terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bertutur kata saja misalnya, banyak kita temui yang tidak menghormati orang lain. Soal menghormati orang lain ini, menyangkut banyak hal. Hidup bertetangga, contoh dekat, dan banyak ditemukan hilangnya nilai-nilai keramahan bertetangga. Ada tetangga yang menyetel tapenya keras-keras, hingga terdengar lima blok, dan pintu pagar yang tak diminyaki sehingga bunyi ketika dibuka-tutup, mengagetkan tetangga lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aldi, seniman seni tradisi, ia menilai masyarakat, kaum remaja misalnya, memang banyak yang tidak memaknai sopan-santun dengan baik. Itu bisa dilihat dari tutur kata, dan cara dia menghormati orang yang lebih tua. “Kalau ada anak berseragam sekolah merokok, kita tegur, dia melawan,” kata Aldi. Kerisauan Aldi juga dirasakan oleh Maya Deviera, guru di salah satu sekolah kejuruan. Kata Maya, remaja pelajar kini, kepada guru banyak yang tidak hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru bagi mereka, ketika masih mengajar mereka saja. Setelah tidak, tak perlu disegani kalau bertemu di jalan atau dimana pun, cukup diacuhkan saja. “Coba mereka belajar falsafah Minang, tentu akan banyak mendapatkan ilmu sopan santun, dan penting bagi kehidupan,” kata Aldi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para responden yang diwawancarai, hal yang kentara tentang kesantunan, ialah di jalan raya. Dalam berlalu lintas, masyarakat cenderung saling ingin mendahului, melanggar rambu-rambu, dan bahkan main klakson kalau ada yang lambat di depannya. Di jalan raya, berkendaraan, kadang sesama pengendara saling memaki, tak suka bersabar diri. Begitu juga dalam hal pelayanan, apakah di kantor, rumah sakit, serta berbelanja di toko, sulit mendapatkan senyum ramah, dengan sapaan hangat.&lt;br /&gt;Sementara Budayawan Edy Utama, realita dan fenomena yang terjadi saat ini, sesungguhnya akibat dari lemahnya orang Minang dalam memahami nilai-nilai budaya adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah.  Karena anak tidak mendapatkan pendidikan kebudayaan Minang secara esesnsinya, maka kata Bung Edy, tidak memberikan dampak konkret dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edy juga menyarankan, agar anak-anak Minang belajar kesenian tradisi, karena di dalamnya terdapat nilai falsafah dan kesantunan hidup.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Andika Destika Khagen/Esha Tegar Putra/ Ilham Safutra)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PadangEkspres, 22 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-682820126856187246?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/682820126856187246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/maaf-kita-semakin-tak-santun_22.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/682820126856187246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/682820126856187246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/maaf-kita-semakin-tak-santun_22.html' title='Maaf, Kita Semakin Tak Santun'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHEyXZW9vI/AAAAAAAAAQA/8nDj6btqdVs/s72-c/sampah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-8245774437414570547</id><published>2009-02-22T09:10:00.001-08:00</published><updated>2009-07-06T02:41:13.606-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Mudahnya Saat Ini Menemukan Orang Yang Tak Beretika</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHGsWlJeuI/AAAAAAAAAQg/Tgs3pnFdXs4/s1600-h/uncategorized-tertawa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHGsWlJeuI/AAAAAAAAAQg/Tgs3pnFdXs4/s200/uncategorized-tertawa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355279897198164706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SOPAN&lt;/span&gt; santun atau etika adalah perilaku yang sudah kita sepakati kebenarannya, dalam komunitas tertentu. Beranjak dari pengertian ini, maka ‘yang keluar’ dari aturan, kita sebut dengan orang yang tidak beretika atau tidak mempunyai sopan santun. Demikian dikatakan Dr Hj Syamniar MPd, Kons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika mengalami pasang surut pula. Disebabkan, kata dosen Bimbingan Koseling (BK) UNP ini,  oleh banyak hal yang berkembang di tengah masyarakat.  Dalam pandangan Syamniar, perkembangan inilah yang menyebabkan etika itu berubah kadarnya: bisa jadi naik atau turun. Dulu, perempuan Minang bila di rumah tidak terbiasa berpakaian terbuka. Orang Minang sepakat bahwa perempuan mesti menutup auratnya. Tapi perkembangan membuatnya luntur, sekarang kita semua tahu, perempuan tidak malu-malu lagi keluar rumah, meski pakaiannya terbuka atau malah sengaja dibuka. Ini akibat perubahan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang bilang orang Minang mengalami degradasi etika, ini dikarenakan banyak yang keluar dari aturan dan nilai-nilai. “Menurut saya benar adanya,” kata Syamniar. Ditekankannya, alau memgacu pada etika Minangkabau, sumbernya agama Islam. Sah menurut Islam, adat Minang bilang itu juga sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, ada tiga unsur yang berperan yaitu: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga, sebagai sebuah masyarakat kecil berperan dalam memberikan teladan, mengerti etika yang tidak disepakati. Sekolah memberikan pengajaran dan masyarakat memberikan kontrol sosial. Jika ketiga ini berfungsi, kita tidak akan lagi membicarakan etika negatif . Tapi keadaan menjadi berbeda, karena acuan kita sekarang adalah telivisi. Keluarga, sekolah, dan masyarakat tidak bisa memberikan protek terhadap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara etika dan sopan santun, Syamniar mengatakan, masyarakat sudah semakin tidak terkendali. Masyarakat menjadi pendobrak etika itu sendiri. Bila dalam etika, perkelahian bukan etika yang baik, karena menyelesaikan masalah adalah dengan jalan berunding, tapi tidak dalam masyarakat sekarang. Semua orang ‘suka’ berkelahi. Anggota dewan saja menyelesaikan masalah tidak lagi berunding. Ini pertanda bahwa, tiga unsur yang saya bicarakan tadi, ternyata tidak mampu melakukan kontrol terhadap etika, bahkan tidak beretika sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak serta merta bahwa semua orang tidak bertetika. Dalam pandangan saya, ketiga unsur tadi masih bisa berperan banyak. Di keluarga, yang peling penting adalah menghargai orang lain (anggota keluarga lain). Tidak menggagap remeh orang lain sehingga terjalin etika tadi. Majikan tidak menggagap entang pembantunya. Orang tua tidak melulu memarahi anaknya karena salah. Dari cara ini, saya pikir, orang akan terbiasa untuk menghargai. Masalah etika bagi saya adalah permasalahan menghargai orang lain itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah atau lembaga pendidikan, sebagai sebuah lembaga intelektual yang tidak hanya menuntut ilmu, tapi juga membentuk karakter. Saya mengutipkan pendapat Joyce and Weiils, ada 2 hal yang harus dicapai oleh lembaga pendidikan.Pertama, Instructional effect yaitu tujuan mata pelajaran itu sendiri (Hard skills). Belajar Biologi, peserta didik harus menguasai mata pelajaran itu sendiri. Kedua, Nurturant effects yaitu dampak pengiringnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau kita guru Biologi, tetap bertanggungjawab terhadap etika peserta didik dengan cara menyelipkannya. Saya contohkan, untuk membiasakan budaya antri kepada siswa. Ketika mengumpulkan tugas, anak-anak diajarkan antri mengumpulkannya. "Satu-satu ke depannya ya anak-anak. Jangan saling mendahului. Mulai dari yang terdepan." Dengan membiasakan ini, di masyarakat mereka akan menjadi orang yang beretika. Ini yang dinamakan soft skill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, katanya,  kita begitu  mudah menemui orang yang tidak beretika.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Andika D. Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PadangEkspres. 22 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-8245774437414570547?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/8245774437414570547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/mudahnya-saat-ini-menemukan-orang-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8245774437414570547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/8245774437414570547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/mudahnya-saat-ini-menemukan-orang-yang.html' title='Mudahnya Saat Ini Menemukan Orang Yang Tak Beretika'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHGsWlJeuI/AAAAAAAAAQg/Tgs3pnFdXs4/s72-c/uncategorized-tertawa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-1068973778547147139</id><published>2009-02-16T07:48:00.000-08:00</published><updated>2009-07-06T02:42:45.344-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Berkenalan Merupakan Syarat Utama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHHCAqUPBI/AAAAAAAAAQo/hn97JH4oGUk/s1600-h/img.php.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 109px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHHCAqUPBI/AAAAAAAAAQo/hn97JH4oGUk/s200/img.php.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355280269271383058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KITA&lt;/span&gt; sudah terkepung! Dimana-mana, alat sosialisasi dan kampanye (baliho, spanduk, poster, stiker, kartu nama, dll), terpampang menohok. Di kota dan desa, di angkot, pohon, dinding-dinding gedung, dan lainnya, media kampanye mereka terlihat, terutama baliho. Saat ini, seakan kemanapun kita menoleh, pasti ada mereka, para caleg dari berbagai partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengangkat tangan (seakan hai....), ada yang tersenyum (seakan dia ramah), ada yang tertawa (seakan dia akrab), ada yang mengepalkan tinju (seakan dia bersemangat), dan banyak pula didampingi tokoh penting partai politik yang mengusung mereka. Pada aneka corak dan gaya foto mereka itu, tertera kalimat-kalimat yang kalau disimpulkan secara umum, seakan-akan di tangan merekalah negeri ini akan menjadi lebih baik. Bersama merekalah kita akan sejahtera, diperhatikan, diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pakar komunikasi Sumartono, S Sos, M Si dari Universitas Ekasakti (Unes) Padang, mengomentari hal demikian, mengatakan para caleg kurang memahami konsep komunikasi efektif. Banyak celeg berambisi menang, tanpa mempertimbangkan kecerdasannya menyampaikan komunikasinya kepada konstituen. “Tidak ada gunanya memasang baliho atau spanduk di sepanjang jalan. Hal itu belum tentu memengaruhi pilihan masyarakat.&lt;br /&gt;Masyarakat sekarang lebih cerdas dan mengharapkan caleg yang cerdas,” ujar Sumartono. Mestinya, lanjut Sumartono, caleg memahami cara komunikasi di dua lintas. Lintas bawah dan lintas atas. Saat ini komunikasi yang paling banyak digunakan caleg di lintas atas: menggunakan baliho, spanduk, poster, stiker, dan sejenisnya. Pesan dari media seperti itu belum tentu sampai pada pikiran masyarakat. Sebab di media tersebut hanya memajangkan nomor urut, gambar dan slogan. Hal itu tidak membuat mengetahui isi kepala para caleg dan mengenal caleg dengan lebih dalam. Mestinya caleg menggunakan lintas bawah,” saran Sumartono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintas bawah dimaksudkan Sumartono, melakukan road show, turun langsung mengenali konstituen dan menyampaikan misi dan visinya serta pikirannya kepada masyarakat dan membangun pencitraan positif. Cara demikian, menurut ahli komunikasi dari Smartdotcom ini, lebih mudah ditangkap oleh masyarakat, ketimbang memajangkan gambar dimana-mana. Memperkuat apa yang dikatakan Sumartono, dosen Komunikasi Universitas Negeri Padang, Mohammad Isa Gautama, mengkritisi, kampanye bertujuan membuat/membentuk citra agar dikenal, kemudian dipilih. Dalam membentuk citra, harus jujur dan tidak membohongi publik. Jangan sampai publik tertipu dengan pesan yang disampaikan. Ini syarat kuat untuk membentuk citra yang kuat, tidak bersifat sementara dalam kampanye itu, semestinya 80 % mengandung nilai kebenaran, dan 20 % cita-cita atau barangkali harapan jika terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kampanye yang efektif adalah turun langsung ke tengah masyarakat dan berkomunikasi secara terbuka,” kata Isa, jebolan Jurusan Komunkasi Universitas Padjajaran, Bandung ini. Dengan begitu, ujarnya, masyarakat tahu siapa yang harus dipilih karena mereka sendiri sudah merasakan sendiri apa yang diperbuat oleh calon mereka nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Sumartono dan Mohammad Isa Gautama, Sawirman, pakar Bahasa dan Sistem Tanda di Fakultas Sastra Unand Padang ini, menggarisbawahi, seandainya masyarakat bisa bersosialisasi, berdialektika dengan baik (melakukan komunikasi lintas bawah), dan mengenal mereka (caleg) dalam sebuah forum, akan lebih baik.&lt;br /&gt;Di balik itu semua itu, Sawirman mengakui, efek bahasa (slogan/janji) pada media kampanye yang tidak sehat dan tidak komunikatif akan memberi efek hilangnya kepercayaan masyarakat kepada caleg. Dirisaukan Sawirman, kelak kita bisa saja akan terpilih caleg baliho atau iklan. Karena, sasaran empuk caleg untuk berpromosi/memajang baliho adalah masyarakat awam, nyaris tanpa perlawanan apa pun.&lt;br /&gt;“Bisa-bisa terbeli kucing dalam karung.....” Nelti Anggraini (26), aktivis LSM, kebanyakan pola kampanye caleg, tidak mengajarkan cara berpolitik yang sehat pada masyarakat, sehingga membuat sebagian besar masyarakat kehilangan kepercayaan. “Sebagian besar masyarakat sudah tidak bisa dibohongi lagi dengan hal begituan. Masyarakat sudah dicerdaskan dengan berbagai media dan setidaknya mereka paham pada politik praktis, begitulah setidaknya hasil survei selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepenuhnya baliho, spanduk, poster caleg yang sangat banyak itu menentukan.” Kata Nelti. Faktor Terpilih Bagi Edi Indrizal, Koordinator Lembaga Survei Indonesia (LSI) Wilayah III (Provinsi Riau, Sumbar, Jambi dan Kepri), bagaimanapun juga faktor popularitas (kedikenalan) adalah merupakan syarat utama. Tetapi tak cukup itu saja jadi dasar mencapai kemenangan. Seorang terkenal tetapi tidak disuka, tentu tidak akan dipilih. Dalam hal ini faktor elektabilitas (kedipilihan) kemudian menjadi penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, para caleg yang mampu mengelola secara positif popularitas dan elektabilitasnyalah yang akan keluar sebagai pemenang. Ringkasnya: dikenal dulu baru bisa disuka, dan inilah yang menjadi modal dasar untuk dipilih. Sedangkan yang akan keluar sebagai pemenang tentunya caleg yang juga mampu mengungguli caleg lain, baik dari rekan separpol atau dari parpol lainnya. Diuraikannya, sejumlah hasil survei LSI menunjukkan selama ini terdapat perbedaan tendensi antara caleg dan pemilih. Parpol tingkat nasional misalnya lebih banyak mengandalkan “serangan udara” terutama melalui iklan di televisi, diikuti iklan di media cetak. Tak jauh beda tendensi para caleg lebih banyak memilih cara sosialisasi dengan menggunakan “serangan darat” lewat pemasangan baliho, poster, spanduk, alamanak, stiker, dsb. Disusul dengan serangan udara lewat iklan di media cetak dan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu pemilih bertendensi strategi yang paling meyakinkan mereka adalah door to door, tatap muka, atau temu warga. Untuk dapat melakukannya tentu saja para caleg perlu memanfaatkan jaringan sosial pemilih hingga ke berbagai pelosok penjuru daerah pemilihannya. Ada juga caleg yang mempraktekkan pemberian hadiah, cendera mata, atau bahkan bisa saja nantinya berupa ‘serangan fajar’ bagi-bagi uang tunai (politik uang). Tetapi pemilih kita lebih cerdas: 90% pemilih tidak akan terpengaruh pilihannnya hanya karena politik uang. Mereka mungkin akan terima pemberian uang dari caleg, namun tidak ada jaminan hal itu akan mempengaruhi pilihannya di bilik suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pemilu seperti sekarang membutuhkan kombinasi berbagai strategi pemenangan, dan oleh karenanya posisi konsultan politik menjadi makin penting. Di negara-negara demokrasi maju hal ini biasa dijumpai, para politisi dan pejabat publik lazim menggunakan jasa konsultan politik dan tim ahli. Tetapi di negeri kita harus hati-hati juga, seperti selama ini, disinyalir cukup banyak para politisi dan pejabat publik kita termasuk di daerah yang mudah terbuai bujuk rayu dan buaian mimpi dari orang-orang atau lembaga yang mengaku konsultan politik, padahal tidak kredibel. Akibatnya ongkos politikpun menjadi lebih mahal dan terbuang mubazir.&lt;br /&gt;Jadi, kecenderungan ke depan posisi konsultan politik dan tim ahli memang semakin penting, tetapi pengguna jasanya haruslah juga lebih objektif dan selektif menggunakannya: jangan sampai dikibulin aja.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Ilham Safutra/Andika Destika Khagen/Esha Tegar Putra)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang Ekspres, 15 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-1068973778547147139?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/1068973778547147139/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/berkenalan-merupakan-syarat-utama.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1068973778547147139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1068973778547147139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/berkenalan-merupakan-syarat-utama.html' title='Berkenalan Merupakan Syarat Utama'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SlHHCAqUPBI/AAAAAAAAAQo/hn97JH4oGUk/s72-c/img.php.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-5166660161634815570</id><published>2009-02-16T07:39:00.000-08:00</published><updated>2009-03-04T10:14:26.165-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Keberagaman dalam Karya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZmNKZ1D5ZI/AAAAAAAAAIo/NgqAO2uN5SE/s1600-h/Pameran2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 185px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZmNKZ1D5ZI/AAAAAAAAAIo/NgqAO2uN5SE/s400/Pameran2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303425246077117842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DARI&lt;/span&gt; Pameran Ujian Akhir Mahasiswa Seni Rupa UNP Sebanyak 230 karya dari 23 orang mahasiswa Seni Rupa dipajang di Galeri Fakultas Bahasa, Sastra, dan Seni (FBSS) UNP Padang, dari tanggal 9 sampai 17 Februari. Merupakan tugas akhir mahasiswa. Ada yang berbentuk grafis, lukis, dan air brush. Umumnya, menggambarkan kegelisahandalam menangkap masalah sosial, selain karya yang mengambil alam sebagai objek gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roni Kurniawan mengambil prilaku remaja sebagai objek kreatif. Salah satu lukisannya berjudul “Dunia Milik Kita Berdua”. Terpampang, sepasang remaja sedang duduk di atas bangku di kelilingi taman yang indah. Mereka duduk di atas bangku panjang. Tapi yang mereka duduki itu bukan taman yang indah, tetapi bumi. Lukisan itu menggambarkan sebuah fenomena remaja dalam berprilaku&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perbincangan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Padang Ekspes, &lt;/span&gt;Roni mengatakan, remaja sekarang melulu berbicara cinta. Mereka lupa, banyak hal lain yang mesti dikerjakan. Meraih cita-cita, menggapai masa depan, dan menemukan jati diri. Ini tidak tampak lagi dalam pemikiran remaja sekarang. Media remaja yang lain adalah televisi. Televisi kiblat kehidupan yang dianggap modern. Di sana, segala ditiru, semua digugu. Padahal, yang mereka lihat dalam kotak ajaib itu hanya sebuah (maaf) kolor perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesi Rahmadani menangkap fenomena itu dan dituangkan dalam “Terpana dalam Adegan”. Dalam pameran karya akhir ini, banyak lagi fenomena yang ditangkap kemudian dituangkan dalam karya. Ade Chandra membicarakan kondisi kekinian. Dalam karyanya yang berjudul “Mencekik Leher” digambarkan seorang lelaki paruh baya yang tercekik oleh Minyak dan Susu. Tangan Minyak itu begitu kuat mencekik leher sang lelaki sehingga lidahnya terjulur keluar. Pesan yang ditangkap adalah kritik terhadap pemerintah yang tidak mempedulikan lagi rakyatnya. Sampai rakyat tidak mampu lagi menanggung beban, tetap tidak diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 230 karya yang tampil itu, penikmat seni disuguhkan dengan banyak peristiwa yang berada di sekitar, di dekat, bahkan dalam diri mereka sendiri. Barangkali, inilah kekuatan utama dalam pameran ini. Tidak melulu berbicara kritik sosial, karya Mislendri lebih tenang. Sepuluh karyanya menggambarkan kepedulian terhadap sesama. Bagaimana manusia memanfaatkan sisi baik dalam kehidupannya. “Belas Kasih” adalah salah satu karya yang menggambarkan seorang anak kecil yang memberikan sedekah kepada fakir miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara banyak konflik sosial di dalam masyarakat, ternyata masih ada orang-orang yang peduli, tulus membantu sesama yang dilambangkan dengan anak kecil yang belum memiliki kepentingan. Lewat coretan tangan Nelfiani, Tosri, Yulinayari, Darna, Yenita, Mira Jayanti, Rini W, Sofia Irianti, hadir karya-karya yang menggambarkan alam sebagai sesuatu bentuk yang indah, alam yang tenang, buah-buahan yang ranum, dan bunga yang semerbak. Pameran yang diadakan sekali dalam setahun ini, barangkali tidak semarak pameran yang diadakan secara profesional. Penikmatnya hanya civitas kampus saja. Masyarakat luar belum mengapresiasi.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Andika D. Khagen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang Ekspres, 15 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-5166660161634815570?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/5166660161634815570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/keberagaman-dalam-karya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/5166660161634815570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/5166660161634815570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/keberagaman-dalam-karya.html' title='Keberagaman dalam Karya'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZmNKZ1D5ZI/AAAAAAAAAIo/NgqAO2uN5SE/s72-c/Pameran2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-792987574884408562</id><published>2009-02-16T07:33:00.001-08:00</published><updated>2009-03-04T10:15:07.188-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Upaya Caleg Minta Dicontreng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZmHm6OTKUI/AAAAAAAAAIQ/WJaVK3IWeMs/s1600-h/53ca8_caleg.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 331px; height: 210px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZmHm6OTKUI/AAAAAAAAAIQ/WJaVK3IWeMs/s320/53ca8_caleg.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303419138739480898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PARA&lt;/span&gt; calon anggota legislatif (Caleg), tentulah saat ini sangat sibuk. Satu sama lainnya, dalam strategi, visi dan kantong yang berbeda, berebut untuk “dicintai”, agar dicontreng rakyat pada pemilihan umum 9 April mendatang. Masing-masing caleg, kalau ditanya, umumnya, menjawab Insya Allah, kantong-kantong suara tertentu sudah di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para caleg, saat ini tengah bergerak. Mereka telah membagi dan memajang alat sosialisasi dan kampanye (baliho, poster, stiker, kartu nama, iklan media cetak dll). Juga, berkunjung dari rumah ke rumah mereka lakukan, sampai membantu berbagai kegiatan di lingkungan masyarakat tertentu. Tujuannya, tentu, untuk menepis tak kenal maka tak sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Kalau datang mereka ke rumah kita, kita terima. Apa yang dikatakannya kita dengar, apa yang diberikannya kita terima,” kata Ujang (35), tukang ojek Pasaraya padang, yang beberapa hari lalu dia diberi rompi oleh caleg dari partai tertentu. Tapi, ketika ditanya apa yang akan dicontreng nantinya, Ujang menjawab, “Alun tau awak mamilih lai (belum tahu saya ikut memilih)....” Alasannya, dia bingung dan tak tahu mana yang bagus. Sebab, kalau dilihat baliho dan poster para caleg itu, menurut Ujang, sembarang pilih saja lagi. Kenapa? Dia tertawa, “Sadonyo mangecek ka berbuat untuk rakyat....” Ujang mengaku bingung menentukan orang terbaik, karena semua mengaku berbuat baik untuk rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Caleg banyak yang suka berjanji. Inyo se ndak tau jo kito doh (Dia saja tak tahu dengan kita),” ujar Ida (56), warga di kawasan Khatib Sulaiman, seakan menimpali Ujang dari tempat berbeda. Sinisme Ida ini, sama dengan apa yang dirasakan Jubaidah (47), penjual sayur di Pasaraya Padang. Bagi Jubaidah, siapa pun yang dipilihnya, sebagaimana beberapa pemilu yang telah diikutinya, para caleg itu, apakah dia menang atau kalah, tetap banyak yang tidak menepati janjinya. “Kini balanyah-lanyah ka pasa ko namuah nyo mah, nanti alu tau lai (Kini berbecek-becek ke pasar ini mau, nanti belum tentu lagi),” kata perempuan yang disapa tek Bai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik, saya memikirkan penjualan sate saya saja. Saya tidak akan memilih pada&lt;br /&gt;tahun ini. Bukan karena tidak ingin, tapi tidak tahu lagi yang harus saya pilih,” kata Ajo, penjual sate di Air Tawar, Padang. Alasannya, pemilu lalu ia merasa dibohongi caleg yang kemudian terpilih. Ketika sudah di gedung wakil rakyat, dia tak pernah menepati janjinya untuk memperbaiki masjid di dekat rumahnya di kawasan Cendrawasih, Air Tawar Padang. Dia juga mengaku, dengan banyaknya caleg serta media kampanyenya yang “nampang” dimana-mana, bingung untuk menentukan pilihan. Alasannya, karena tak ada yang dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Banyak berharap&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Beberapa responden yang ditemui, mengaku, memang tak banyak berharap pada para caleg. Seperti Japang (36) sopir angkot trayek Lurus, kepada orang-orang yang tak dikenal kerjanya sebelum ini, apa yang bisa diharapkan. Baliho mereka, bukan ukuran bagi Japang untuk mengatakan mereka hebat. Bahkan, bagi Nova, pekerja warung internet di Gunung Pangilun, banyak para caleg yang pola kampanyenya mubazir. Misalnya, pasang baliho dimana-mana, itu mubazir, karena masyarakat tentu kini lebih memilih orang yang secara langsung dikenalnya dengan baik. Sebagaimana dikatakan Suryadi (50) wiraswasta, mengaku bingung juga, tetapi sudah punya pilihan sendiri, yang tentu dari orang yang dikenalnya.  Sedangkan Syaiful (34), warga Lubukbegalung, ia akan memilih caleg yang ada di dekat rumahnya saja. Apalagi, orang yang dipilihnya cukup dikenal, bermasyarakat dan sering bergaul dan membantu kegiatan kepemudaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Acik (50), warga Parakgadang. Lelaki setengah baya ini, entah serius entah berseloroh, dia menginginkan serangan fajar. Ia akan siap memilih caleg yang mendulang suara dengan memberi uang diam-diam beberapa jam sebelum pemilu dimulai, menemui dirinya. “Kita terima uangnya, karena nanti belum tentu dia ingat kita,” kata Acik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berkunjung dan Membantu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Menurut Uncu (45) warga Pisang, untuk mendulang suara, para caleg memang berlomba menunjukkan diri yang baik dan peduli. Ada pula, yang langsung membaur dengan masyarakat. Mengunjungi pemukiman masyarakat, ikut goro atau mendanai sebuah kegiatan. Ada pula, yang meninggalkan uang untuk pembangunan. Cuma, dicemaskan Uncu, kalau sekarang memberi bantuan, di banyak tempat pula, tentu anggaranya besar. Jika terpilih, jangan-jangan caleg ini nantinya dia ingin dengan jabatannya ingin mencari pengembalian uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi bagi Taufik, Ketua Pemuda Pisang, untuk menyiasat gelagat dan trik para caleg, ia harus hati-hati. Jangan sampai tanpa disadari menjadi corong atau penjamin pengumpulan suara untuk caleg. Tetapi, kalau ada caleg-caleg yang mau bantu dan kasih uang, mereka tak menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari responden yang diwawancarai, umumnya yang berkomentar di atas, mengaku alat sosialisasi dan kampanye para caleg, menjenuhkan mereka. Kadang, ada yang bilang, terasa lawak. Kenapa? Salah seorang responden mengatakan, para caleg kurang menyadari, bahwa banyak baliho, poster, stiker dan media kampanye dirinya dimana-mana itu, membuat semua yang nampang kehilangan arti. Jawaban singkat mereka, “Masak sih dengan hanya pernah melihat gambar dan membaca nama mereka saja kita langsung menjatuhkan pilihan untuk mencontreng mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejumlah responden juga ada yang menilai positif, bahwa pengenalan diri melalui alat sosialisasi dan kampanye itu perlu. Tapi, harus langsung diikuti oleh aksi ke tengah masyarakat luas. Memperkenalkan diri dan siapa sesungguhnya dia sebagai caleg. Mungkin saja mereka memang betul-betul orang hebat, amanah dan bisa dipercaya. Karena kita tak membaca koran, tak mengenal kegiatan dia selama ini, kita tidak tahu. Artinya, juga banyak caleg yang bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpulannya: tetap dibutuhkan caleg yang mampu meyakinkan masyarakat, bukan dengan janji atau slogan hampa. Tetapi, bagaimanapun, masyarakat akan memilih, mereka yang agak dikenal dibanding baru dikenal. Apalagi sangat dikenal. Tentu, dikenal segala yang baik tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, banyak pula yang sinis. Dari slogan atau kalimat yang ditulis para caleg pada alat sosialisasi dan kampanyenya, selain narsis (suka memuji dan mengatakan diri sendiri hebat), banyak yang menyimpan dusta. Misalnya, mengaku-ngaku sudah berbuat, padahal, dia baru maju, sebelumnya dia orang biasa yang tak melakukan apa-apa. Mana mungkin, baru maju jadi caleg, ngaku sudah berbuat untuk masyarakat.&lt;br /&gt;Semua itu, tentu, upaya agar rakyat jatuh cinta, dan mencontreng mereka. Kadang, niat untuk dicintainya sudah benar, tapi caranya salah, hasilnya: dicibiri masyarakat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dengan fenomena di atas, Edi Indrizal, Koordinator Lembaga Survei Indonesia (LSI) Wilayah III (Provinsi Riau, Sumbar, Jambi dan Kepri), menekankan pemilih perlu didorong agar dapat menggunakan hak politiknya dengan benar dan baik. Pemilih harus tahu bahwa caleg yang dipilih itu akan menentukan nasib kita semua (rakyat) selama 5 tahun ke depan. Jadi jangan sampai salah pilih. Pilihlah caleg bersih, kredibel dan dapat dipercaya untuk mewakili kepentingan rakyat. Jangan dilenakan oleh gambar tampan atau cantik, nama besar atau janji manis semasa kampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemilih hendaklah memilih caleg yang dapat dipercaya dan tahu apa kerjanya nanti ketika menjadi wakil rakyat, yakni membuat undang-undang, memutuskan alokasi anggaran (budgeting) pemerintahan dan pembangunan, mengawasi pemerintah dan jalannya pembangunan, serta penyambung aspirasi dan kepentingan rakyat: bukan yang mengedepankan kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya,” kata staf pengajar Universitas Andalas ini serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Edi, pastikan kita semua lebih berhati-hati dan bijaksana dalam menentukan pilihan pada Pemilu 2009 ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Ilham Safutra/ Andika Destika Khagen /Esha Tegar Putra)&lt;br /&gt;Padang Ekspres, 15 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-792987574884408562?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/792987574884408562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/upaya-caleg-minta-dicontreng.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/792987574884408562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/792987574884408562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/upaya-caleg-minta-dicontreng.html' title='Upaya Caleg Minta Dicontreng'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZmHm6OTKUI/AAAAAAAAAIQ/WJaVK3IWeMs/s72-c/53ca8_caleg.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-6189736303873285208</id><published>2009-02-10T08:12:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T08:22:53.291-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto UNP: JURNALISTIK DARI KAMPUS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZGnxNb5kTI/AAAAAAAAAHQ/kJHAnfuPsb0/s1600-h/DSC02307.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 274px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZGnxNb5kTI/AAAAAAAAAHQ/kJHAnfuPsb0/s320/DSC02307.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301202700253892914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jam di dinding sudah pukul 2 dini hari. Di gelap malam yang sunyi itu, di ruang Redaksi SKK Ganto, masih disibukkan dengan kegiatan jurnalistik. Mereka sedang sibuk layout bahan untuk edisi 148. Begitulah cara mereka bergiat dengan jurnalisitik, meski esok paginya tetap seperti mahasiswa lain, kuliah dan mengerjakan tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Seminggu sebelum SKK Ganto dicetak, kru Ganto yang kebanyakan perempuan (19 perempuan, 9 laki-laki), dituntut untuk berada di sekre. Banyak hal yang mesti dilakukan, mulai dari cek, ricek, and triple cek berita, edit bahasa, sampai mempersiapkan bahan untuk edisi selanjutnya. Di ruangan yang berukuran 10X8 m3 itu, semua kegiatan dilakukan. Ada yang  tertidur karena sudah mengantuk, masih banyak yang melakukan tugasnya dengan suka cita. Ada juga yang mengerjakan tugas kuliah&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salmizul Fitria sedang mengerjakan tugas writing nya malam itu. Meski raut mukanya sudah tak segar lagi, ia tetap berusaha untuk menyelesaikannya. Sesekali ia turut serta mencoret-coret berita yang sudah di print.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sering bentrok dengan kuliah. Tapi jurnalistik itu menyenangkan," ujar mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bercita-cita ingin menjadi penulis. Itulah alasan terbesarnya memilih jalur jurnalisitik. Menurutnya, jurnalistik  adalah sebuah dunia mimpi. Mimpi, karena ia tidak pernah membayangkan akan bertemu banyak orang dalam satu hari. "Saya ini pemalu. Jurnalistik mengajarkan saya untuk berani."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk sebagai kru di Ganto pada tahun 2006, Tia--begitu ia biasa disapa--merasa tidak memiliki kemampuan apapun. Di kampus, ia hanya datang, lalu pulang. Tapi ia ingin menjadi penulis, dorongan itu begitu besar. Ganto mengajarkan apa yang ia inginkan. Bahkan, melebihi apa yang selama ini pernah dibayangkannya. Sejak memasuki Ganto, lanjut Tia, bila tulisan-tulisannya di muat di media, terasa biasa saja. Padahal dulu tidak pernah dibayangkannya bisa menulis di media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang tidak bisa dilupakan adalah pengalaman di lapangan. Karena jurnalistik menuntut kerja keras, ia mesti mengejar narasumber untuk kepentingan berita dengan cara apapun. Pernah, suatu hari, ia ditugaskan meliput ojek yang masuk ke kampus. lalu pergi menemui ketua ojek tersebut. Janjian lewat telepon, ia ditunggu di pangkalan ojek. Di pangkalan ojek, ia tidak bertemu apa yang dicari. "Tunggu sebentar, Dik. Saya cari Bapak dulu. Tapi ngomong-ngomong, di sini tidak lagi menerima anggota," kata orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha..ha..saya dikiranya akan mendaftar jadi tukang ojek," tutur Tia terpingkal-pingkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kurang Diapresiasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Jurnalistik, sebuah dunia yang dicintai Tia, ia rela mengorbankan Praktek Lapangan (PL), yang semestinya dilakukan bulan Januari ini. Tapi Tia yakin, ada manfaat lain yang akan didapatkannya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tia bukanlah satu-satunya yang rela ‘berkorban’ untuk itu. Joni Irfan, mahasiswa Teknik Elektro yang juga bergabung di Ganto, sampai-sampai jarang lagi pulang ke kosnya. Sebelumnya, bila tidak ada kuliah, tujuannya cuma satu: tempat kos. Sekarang pola itu berubah, malam hari pun ia masih di Ganto. Irfan dipercaya sebagai layouter (mengelola tata wajah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya orangnya tidak cepat puas. Ada-ada saja yang saya rasa masih kurang dalam perwajahan Ganto,” ujarnya. Untuk mencapai titik kepuasan itu, Irfan rela tiap malam berada di sekre. Apabila dalam rapat evaluasi, ada komentar tentang cover yang tidak tajam, ia terus berusaha untuk merubahnya. Mulai dari browsing di internet, bertanya kepada senior, maupun belajar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiap malam saya berkawan dengan pothoshop (aplikasi gambar di komputer),” tuturnya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di balik setiap semangat yang tidak kenal menyerah, pola hidup yang berubah, baik Irfan maupun Tia merasakan sebuah kesia-siaan. Tia menuturkan, bila Ganto yang dicetak sebanyak 3.500 eksemplar itu dicetak, tidak tampak wajah antusias dari teman-teman mahasiswa untuk membacanya. Padahal dibagikan pula secara gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganto yang telah selesai dicetak tersebut, diletakkan di atas kursi, persis di depan sekretariat, di dekat kafe Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Di dekat kaca, ditempel kertas yang bertuliskan, “Silahkan diambil. Gratis untuk Mahasiswa.” Namun, ujar Tia, dari 10 orang yang lewat, kadang yang mengambil hanya satu orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal, informasi yang kami sampaikan, minimal berkaitan dengan mereka (mahasiswa—red) itu,” ujarnya sedikit sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tidak bisa diterima lagi, ditambahkan Irfan, Ganto berserak-serakan di jalan. Dari sekretariat, Irfan berjalan menuju fakultas Teknik. Di perjalanan, banyak sekali Ganto yang berserak-serakan di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu apakah Ganto dibaca atau tidak. Tapi saya kecewa melihat jerih payah terletak di tempat yang tidak sepantasnya,” ujar Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, baik Irfan maupun Tia sama-sama memaklumi bahwa minat baca di kalangan mahasiswa masih rendah. Meski kampus merupakan sebuah institusi yang diisi oleh orang-orang yang intelektual, bukan serta merta membaca turut menjadi kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang pasti, dengan kejadian tersebut, mencambuk saya untuk terus menulis. Mungkin ini hikmah yang saya dapat,” tutur Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masa Depan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah idiom dalam dunia jurnalisitik, “Wartawan itu otaknya seperti profesor dan tenaganya seperti atlet.” Taufik Akbar, Pemimpin Umum Ganto, memahami ini sebagai sebuah kekuatan seorang jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dikaitkan dengan masa depan, ada banyak peluang yang diberikan oleh bidang ini. Maka tak heran, tutur Taufik, banyak tamatan media kampus yang sukses setelah menamatkan kuliahnya karena memahami filosofi dari idiom tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak harus menjadi wartawan, tapi kelenturan bergaul dan kesensitifan dalam mencerna masalah, membuat mereka bisa memasuki kalangan mana saja dan cakap dalam bidang apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamatan Ganto, lanjut Taufik, ketika menamatkan bangku kuliahnya, jarang yang menganggur. Ada yang menjadi diplomat, dosen, bahkan ada yang menjadi politisi. Yang jelas, dari pers kampus itu, kemudian akan melahirkan bibit-bibit jurnalistik yang segar dan cerdas. (Andika D. Khagen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang Ekspres, 8 Januari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-6189736303873285208?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/6189736303873285208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/surat-kabar-kampus-skk-ganto-unp.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6189736303873285208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/6189736303873285208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/surat-kabar-kampus-skk-ganto-unp.html' title='Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto UNP: JURNALISTIK DARI KAMPUS'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZGnxNb5kTI/AAAAAAAAAHQ/kJHAnfuPsb0/s72-c/DSC02307.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-43609512447304064</id><published>2009-02-09T23:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T10:20:46.743-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Padang dan Sejarah Tionghoa</title><content type='html'>Cina di 1930-an. Pemindahan pedagang dari bagian utara ke selatan terjadi secara besar-besaran. Kaisar Cina saat itu, Tsi Huang Thi, memakarsai pemindahan. Dalam buku Lord of The Rims (Taipan dari Pesisir) karangan Sterling Seagrave, disebutkan empat alasan Kaisar yang berhasil menyatukan daratan Cina itu melakukan tindakan tersebut. Pertama, Tsi takut dengan ilmu suap bapak kandungnya, Perdana Menteri Lu Pei Wei, ikut menyebar pada pedagang yang merupakan pendukung bapaknya. Seperti dikatakan buku tersebut, Tsi adalah anak hubungan gelap antara Perdana Menteri Lu Pei Wei dengan selir Kaisar. Lu menaruh gundik yang sudah hamil menjadi selir Kaisar.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZEya_KQcMI/AAAAAAAAAHI/TsBZl1ioEig/s1600-h/IMGP5324.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 482px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZEya_KQcMI/AAAAAAAAAHI/TsBZl1ioEig/s320/IMGP5324.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301073675604226242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tsi  baru berumur 10 tahun ia diangkat jadi Kaisar. Lu menjadi Perdana Menteri selama 10 tahun. Dan satu-satunya perdana menteri dari gologan pedagang selama sejarah Cina.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua, Cina Utara terkenal dengan pertanian. Jadi tindakan itu merupakan pembersihan terhadap kaum pedagang. Kemudian, kaisar ingin menumbuhkembangkan populasi orang Cina di Selatan. Alasan terakhir berkaitan dengan pandangan kaum orthodok Confucianisme yang ternyata memandang rendah kaum pedagang, menempatkan kaum pedagang dibawah petani: dengan logika, petani paling tidak masih menghasilkan padi, sedangkan kaum pedagang tidak menghasilkan apa-apa. Kaisar memerintahkan pemindahan kaum pedagang (dan teman-temannya) secara besar-besaran ke daerah selatan yaitu (Fu Jian, Kwang-Tong).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum inilah yang kemudian menyebar ke seluruh dunia yang diperkirakan mencapai 55 juta orang. Empat persen dari jumlah total seluruh penduduk negeri yang juga dikenal dengan sebutan Tiongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, penyebaran itu merupakan invansi ketiga masyarakat Cina menuju dunia. Gelombang pertama dilakukan oleh Zheng He (Cheng Ho) sekitar enam ratus&lt;br /&gt;tahun yang lalu (National Geographic). Laksamana yang diketahui belakangan beragama Islam, membawa pasukannya menelusuri daerah-daerah selatan. Buku-buku pelajaran sejarah menyebut ia sempat singgah di Jawa dan membuat perjanjian dengan raja dan penduduk setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran kedua terjadi saat perang opium melanda Cina pada 1840. Dinasti Qing yang berkuasa mencoba menghentikan opium. Tapi, karena Inggris melihat potensi besar pada perdagangan ini, mereka malah mengirimkan kapal perang sebagai jawaban. Cina kalah dan ditandanganilah perjanjian membolehkan Inggris berdagang candu dan menyerahkan Hongkong dalam pangkuan Ratu Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak masyarakat Cina yang melarikan diri dari keadaan sengkarut  yang melanda negerinya. Mereka menyebar ke daerah asia bagian selatan termasuk asia tenggara. Inilah awal mula teori orang Cina memasuki kawasan Sumatra Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudarma, tetua di sana membenarkan hal itu. "Saya memang kelahiran Padang. Sudah setengah abad di Padang. Kakek saya punya orang tua, yang disebut kongconya sudah di Padang. Ibu saya punya orang tua itu dari Tiongkok asli. Jadi umur 12 tahun dia ikut orang tuanya ke Indonesia. Sebenarnya tujuannya bukan ke Indonesia. Tujuannya itu mungkin ke Filipina. Tapi karena diserang badai, terdampar di Bagan Si Api Api. Nah, terus berjalan, akhirnya sampai di Padang, menetap di Padang," ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, orang tua Sudarma merupakan penduduk yang datang pada gelombang kedua. Kebenaran fakta itu bisa diperkuat dengan umur Kelenteng See Hin Kiong yang terletak di Kampung Cina. Dick Halim (80), tetua kaum Cina memperkirakan klenteng dibangun pada sebelum tahun 1860. Bisa jadi karena menurut catatan Erniawati, dosen Universitas Negeri Padang yang juga peneliti masyarakat Cina di Ranah Minang, klenteng pernah terbakar pada 1861. Seorang Mayor Cina yang diangkat oleh Belanda sampai mendatangkan pekerja-pekerja dari Cina  untuk kembali membangun rumah suci itu. “Orang Islam kemana pergi juga mencari masjid, kan?” ujar Erniwati.&lt;br /&gt;Teori lain mengatakan Cina Padang berasal dari Pariaman. Ernawati, yang menulis buku Asap Hio di Ranah Minang, Komunitas Tionghoa di Sumatera Barat, memperkirakan Orang Cina sudah berada di Pariaman pada abad 13. Saat Aceh masuk ke Pariaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan sebenarnya. Pariaman adalah surga bagi kaum pedagang di zaman itu. Pariaman menjadi pusat dagang di pesisir. Tak heran, pada 1630, Christine Dobbin, penulis buku Gejolak ekonomi dan Kebangkitan Islam dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784-1847, memperkirakan perkampungan Cina sudah ada di Pariaman.&lt;br /&gt;Sayang, sebuah peristiwa mengenaskan menjadi pemicu hengkangnya orang Cina dari Pariaman. Pada masa pendudukan Jepang, seorang Cina membawa dua anak gadisnya ke kantor Jepang. Penglihatan itu ditanggap lain oleh para pemuda yang kebetulan melihatnya. Bisik-bisik pengkhianat merebak segera. Dua anak gadis itu langsung di bawa ke pantai dan dibelek dengan kangso (alat yang terbuat dari alumunium).&lt;br /&gt;Menurut Erniwati, serangan itu dilakukan tanpa perencanaan. Makanya, alat yang disiapkan bukan senjata tajam biasanya untuk membunuh. “Lagi pula, itu hukuman bagi pengkhianat. Tidak orang Cina saja yang merasakan hukuman itu, pemuka masyarakat yang juga ikut menjadi mata-mata Jepang, mendapat hukuman yang sama.,” ujar sarjana S-2 jurusan Sejarah UNP ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan merayapi masyarakat Cina. Berangsur-angsur mereka mulai meninggalkan Pariaman. Sampai 1965 beberapa orang Cina masih berdiam di sana. Tapi, memasuki 1967 agak sulit menemukan kaum bermata sipit di Pariaman. “Karena kejadian PKI atau PRRI,” terang Erniawati. Perlahan orang Cina berangur pindah ke Padang. Tepatnya, di kawasan pondok saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, alasan ekonomi bisa juga dijadikan dasar. Pariaman tidak lagi dianggap ladang yang subur bagi perdagangan mendekati abad ke 19. Sehingga tidak saja pedagang Cina yang meninggalkan, tapi juga pedagang dari daerah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Etika Dagang Landasan Hubungan Minang-Cina&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Diperkirakan, ada 12 ribu masyarakat Cina tinggal di Padang. Beratus-ratus marga atau suku yang mendiami. Tapi, hanya delapan suku yang punya rumah pertemuan. Kedelapannya adalah suku Gho, Lie-Kwee, Tan, Ong, Tjoa-Kwa, Lim Hwang dan Kho. Marga Kho merupakan marga terakhir yang membangun rumah pertemuan. “Marga yang lain sedikit jumlahnya. Jadi tidak membangun rumah pertemuan,” ujar Hanura Rusli dari Keluarga Lie-Kwee. Lie-Kwee saat ini mempunyai anggota 600 orang. Semuanya berumur di atas 17 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai namanya, rumah pertemuan memang digunakan untuk mengadakan acara-acara yang melibatkan satu keluarga. Misalnya pada Imlek (tahun baru Cina), Cap Go Meh (hari ke 15 dari perayaan imlek), Kio, Sipasan atau Pek Chun (hari raya yang memperingati puncak musim panas). Bahkan, pada ulang tahun ke 140, keluarga Lie-Kwee berencana mengundang seluruh suku Lie-Kwee yang berada di Indonesia. “Tapi, itu tiga tahun lagi,” ujar Lie Kian Guan sekretaris sekretaris himpunan keluarga Lie-Kwee.&lt;br /&gt;Kekerabatan memang menjadi nomor satu bagi orang Cina. Dan seperti “adat” orang Asia Tengah (Jepang dan Korea), mereka sangat menjaga martabat keluarga. Apabila memalukan, bunuh diri atau dibuang dari keluarga merupakan hukuman yang pantas. “Di Medan, misalnya banyak yang tidak lagi diakui keluarga, sampai-sampai dibuatkan iklannya di koran, karena mencoreng aib keluarga besar, “ terang Hanura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sangat menghormati leluhur. Ini merupakan sikap dasar bagi orang Cina. “Ini dipengaruhi oleh ajaran Confunsius dan Tao yang melekat pada setiap orang Cina,’ ujar Erniwati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi sikap orang Cina adalah sering melakukan pendekatan kepada penguasa. Di zaman Belanda mereka dianggap warga kelas dua. Sedangkan pribumi kelas tiga. Begitu juga di zaman jepang dan Soekarno. Mereka mendapatkan kesempatan yang tidak dimiliki banyak orang bahkan pribumi sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya di zaman Soeharto, keran kebebasan orang Cina berdagang sedikit dibatasi dalam pandangan mata masyarakat. Sebab, beberapa orangCina menjadi pengusaha sukses seperti Liem Sio Liong (???), pemilik Bank BCA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Belanda dan Soekarno mereka ditempatkan dengan satu tujuan, ekonomi. Belanda memukimkan mereka bersama kawasan Belanda, seperti di kawasan Kampuang Cino agar bisa diawasi dalam mengawasi perdagangan mereka. Begitu juga Soekarno, mereka di ‘bekap” dalam satu tempat dan hanya dibolehkan berdagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, menurut Hanura, ada untung ruginya. Pada satu sisi mereka tercukupi secara ekonomi, tapi di sisi lain mereka tidak bisa memberikan sumbangan dalam bidang lain. “Berapa orang PNS yang keturunan Cina?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemburuan pun menguasai pribumi melihat keberhasilan mereka dalam berdagang. Tak heran, apabila ada kerusuhan, orang Cina jadi sasaran seperti peristiwa 1998. “Padahal tidak semua orang Cina kaya. Lihatlah di pasar Tanah Kongsi,” kata Hanura.&lt;br /&gt;Namun, di Padang benturan keras antar etnis Minang dan Cina tidak terjadi atau tidak sebesar kota lain. Menurut Erniwati, hubungan unik terjadi antara keduanya.&lt;br /&gt;Sebagai sesama suku yang kuat berdagang dan punya budaya serta religi yang kuat, mestinya benturan sering terjadi. “Sepertinya, etika dagang membuat keduanya saling menghormati,” terang Erniwati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika dagang yang membuat kedua suku berada dalam posisi teman. Sepertinya wilayah dagang dibagi dua saja. Dagang tingkat nasional dikuasai orang Minang serta untuk wilayah internasional, Cina lah yang menjadi penguasa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;99% tak Bisa Bahasa Cina&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZEt_ccI1iI/AAAAAAAAAHA/NJ_8voiicjo/s1600-h/IMGP5300.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 303px; height: 222px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZEt_ccI1iI/AAAAAAAAAHA/NJ_8voiicjo/s320/IMGP5300.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301068804381005346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lepas dari masa Soeharto, orang Cina menjadi lebih leluasa. Tekanan pemerintah jauh berkurang. Orang Cina lebih dibebaskan dalam menjalankan ibadah dan budaya. Tak heran Imlek atau Cap Go Meh terasa lebih meriah dari tahun ke tahun. “Yang paling menarik itu acara Sipasan. Pada Cap Go Meh kali ini pertunjukan Sipasan akan berlangsung paling meriah karena Sipasan panjang, “ tutur Xin Xui yang berdagang di depan HBT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, alkulturasi diam-diam telah berlangsung. Jauh sebelum orang Cina menarik nafas lebih lega.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;‘Buktinya, 99% orang Cina yang tinggal di sini tidak bisa lagi bahasa Cina,” kata Hanura. Jarak yang jauh dari tanah nenek moyang, serta memori yang terbatas membuat pelan-pelan budaya Cina mulai terlupakan. Banyak penduduk di Pecinan Padang terkaget-kaget ketika Erniwati menyebutkan tradisi-tradisi Cina yang sama sekali tidak pernah didengar. Bahasa yang dimunculkan pun terkesan lucu. Pasar Tanah Kongsi bisa jadi saksi alkulturasi bahasa. Jika berada di sana, bahasa Melayu-Tionghoa terdengar di sana-sini. Pigi mana lu (mau kemana), kecik telok gedang (air kecil telur besar, sejenis ungkapan), nya ndak mau o (ia tidak mau), misalnya.&lt;br /&gt;Untuk menipiskan jarak, upacara-upacara, peringatan-peringatan keagamaan diusahakan untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. Walau untuk itu hanya menuliskan huruf-huruf Cina tanpa mengerti artinya. “Ndak tau ambo, do,” kata Hanura ketika ditanya maksud tulisan yang tertera di lampion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diwawancarai Hanura sedang mempersiapkan acara perarakan kio pada kamis (5/2) lalu. Sebuah acara berbau mistis seperti dabuih di Pesisir. Tujuannya pada leluhur. Kio diarak menuju rumah-rumah marga yang lain. “Untuk silaturahmi,” ujar Arif Rusdi Rusli, Jiko (wakil) dari keluarga Lie dan Kwee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Sipasan menjadi kesenian unik di Kampung Cina. Bahkan menurut Hanura, kesenian tidak dijumpai di pecinan lain di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu hari Ibu, masyarakat Cina mengadakan lomba unik. Lomba memakai baju marapulai minangkabau. Beragam pula variasinya. Ada pakaian pengantin Sawahlunto, Bukittinggi, Payakumbuh,” ujar Hanura yang kebetulan mendapat pakaian pengantin dari Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ juga ia baru tahu bahwa secara budaya ada persamaan yang sangat kentara antara budaya Minang dengan Cina. “Terutama pakaian pengantin. Dan kata telong dalam sebuah pantun punya kemiripan dengan tenglong (lampion).”&lt;br /&gt;Erniwati membenarkan kemiripan itu walau menyebut hal ini agak sensitif untuk masyarakat Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan lain yang nampak adalah orang Cina sekarang tidak lagi tertutup untuk menerima anggota dari luar etnis. Bahkan, banyak pemain liong atau barongsai berkulit coklat. “Bahkan ada yang Islam,” terang Hanura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran kalau ada acara barongsai, tidak semua pemainnya berkulit kuning. Mata belo juga muncul begitu kepala bermunculan dari balik barongsai.&lt;br /&gt;Tidak bisa diraba kapan “musim semi” ini akan berakhir. Erniwati yakin bahwa masyarakat Cina di Padang tidak akan mendapat gangguan secara politis dan tekanan yang berlebihan dari etnis Minangkabau. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Yusrizal KW/Andika Destika Khagen/S.Metron M/Esha Tegar Putra/Gus RY)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang ekspres, 8 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-43609512447304064?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/43609512447304064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/padang-dan-sejarah-tionghoa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/43609512447304064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/43609512447304064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/padang-dan-sejarah-tionghoa.html' title='Padang dan Sejarah Tionghoa'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SZEya_KQcMI/AAAAAAAAAHI/TsBZl1ioEig/s72-c/IMGP5324.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-4831967371822181864</id><published>2009-02-07T15:05:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T15:39:19.775-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>Pusat Bumi Itu Telah Berlumut</title><content type='html'>&lt;a style="font-style: italic;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SY4UBoXWLjI/AAAAAAAAAG4/h9raGjrvm9U/s1600-h/P1010547.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 272px; height: 252px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SY4UBoXWLjI/AAAAAAAAAG4/h9raGjrvm9U/s320/P1010547.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300195829709418034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masyarakat setempat menyebutnya Talua Gajah (Telur Gajah): sebuah batu yang memang sangat besar, bulat, dan berada di jalan lintas Sumbar-Riau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Talua Gajah&lt;/span&gt; jelas hanya idiom untuk menyebut batu yang terletak di nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten 50 Kota itu. Orang Belanda menamakannya dengan Pila yang berarti pertengahan bumi. Tidak jelas kapan pertama kali batu itu dibuat, namun keterangan yang didapat dari masyarakat setempat, batu itu pertama kali dibuat oleh Belanda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Belanda, batu tersebut tidaklah bulat seperti sekarang. Bentuknya panjang dan tinggi. Menurut Zulkarnain B. U (80), Koto Alam termasuk salah satu daerah yang dilalui  garis khatulistiwa di antara dua garis khatulistiwa lainnya yang terletak di Bonjol dan Pontianak. Orang Belanda mempergunakannya untuk menentukan musim. Pedomannya adalah matahari. Apabila matahari  berada di utara (dilihat dari batu itu), maka dipercaya akan tiba musim hujan. Begitu pun sebaliknya, bila matahari di Selatan, dipercaya akan tiba musim panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat pada waktu itu memanfaatkannya untuk pertanian. Masyarakat tahu benar dengan kondisi alam karena bantuan benda yang dibuat oleh Belanda itu. Musim hujan, masyarakat tidak turun ke ladang mengolah karet yang merupakan pendapatan utama masyarakat Koto Alam karena di musim itu, bila manakiak (mengolah karet) ke ladang, getahnya tidak akan keluar. Baru, pada musim panas, masyarakat manakiak ke ladangnya masing-masing. Orang Belanda juga memanfaatkannya untuk menambah pendapatan mereka dari hasil pertanian rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masa Jepang, Musim Sulit&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1942, Jepang masuk ke Indonesia menggantikan posisi Belanda yang telah lama berkuasa. Perubahan ini juga terjadi pada struktur pemerintahan. Orang-orang Belanda pergi dari Koto Alam digantikan Nipon. Jepang, dalam masa pemerintahannya melirik garis khatulistiwa yang dibuat oleh Belanda itu. Mereka menggantinya dengan nama Sakido Mura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Jepang, Sakido berarti khatulistiwa dan Mura berarti kampung. Jadi, batu yang kemudian dibuat menjadi bulat itu diberi nama oleh Jepang Kampung Khatulistiwa. Jepang beranggapan bahwa Koto Alam adalah pusat bumi karena pada saat-saat tertentu, dari sana, matahari tepat berada di atas kepala dan bayang-bayang tidak terlihat. Biasanya terjadi sekali dalam setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Sinaro (82), salah satu tetua kampung bercerita, pada masa pemerintahan Jepang di Koto Alam merupakan masa-masa yang sangat sulit dan penceklik. Masyarakat tidak banyak yang sekolah. Yang lebih menyedihkan adalah, zaman itu merupakan musim yang sangat sulit bagi pertanian. Datuk Sinaro mengenang, jangankan untuk sekolah, makan untuk hari ini saja begitu sulit mendapatkannya. Tak jarang, ubi menjadi menu harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, walau bagi masyakat adalah masa yang sulit, Jepang tetap membangun peninggalan Belanda tersebut. Bentuknya diubah menjadi bulat dengan diameter sekitar 2,5 meter. Ketika pembangunan itu, kata Datuk Sinaro, Jepang tidak memperbolehkan masyarakat sekitar untuk melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu kenapa, tapi Jepang melarang orang kampung untuk melihat pembangunan tersebut,” kata Datuk Sinaro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat baru bisa melihatnya ketika hasilnya telah jadi. Batu itu berbentuk bulat besar dan bendera Jepang dicat di batu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tidak Terawat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nama Sakido yang diberikan Jepang melekat sampai kini. Pada awalnya, masyarakat merawatnya dengan baik. Warna bendera Jepang diganti dengan peta Indonesia, dicat di tengah batu tersebut. Di sekitar Sakido, di pagar agar terlihat indah dan menarik. Pemerintah dan masyarakat menjadikannya objek wisata yang bisa dikunjungi banyak orang. Terlebih, letaknya yang strategis, di dekat jalan provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisatawan yang ingin mengunjungi, dipandu oleh salah seorang penjaga. Dalam catatan Wali Nagari Koto Alam, A. H. Dt. Paduko Rajo, banyak sekali wisatawan yang datang, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Wisatawan yang datang dari luar kebanyakan dari Jepang. Dalam setahun, sekitar 20-30 wisatawan dari Jepang datang ke sana. Biasanya mereka hanya melihat-lihat saja. Yang menjadi kebiasaan adalah, mereka makan bersama dengan nampan di dekat Sakido tersebut. Ini merupakan kebiasaan bagi warga Jepang yang berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kisaran tahun 80-an, jalan provinsi diperlebar oleh pemerintah.  Dampak yang ditimbulkan kemudian adalah, Sakido semakin dekat dengan jalan. Pagar Sakido dirubuhkan. Seiring waktu, Sakido tidak lagi dipedulikan. Telah banyak dinding-dindingnya yang retak. Peta Indonesia telah ‘dimakan’ oleh lumut. Wisatawan pun tidak lagi berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benda yang barangkali bearti bagi orang Jepang tersebut, sekarang dimanfaatkan masyarakat untuk menjemur pakaian. Kotoran kambing terlihat di mana-mana. Tidak tampak lagi Sakido sebagai sebuah benda yang merupakan pusat bumi, seperti yang diyakini oleh orang-orang Jepang.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Andika D. Khagen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang Ekspres, 8 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-4831967371822181864?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/4831967371822181864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/pusat-bumi-itu-telah-berlumut.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4831967371822181864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/4831967371822181864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/pusat-bumi-itu-telah-berlumut.html' title='Pusat Bumi Itu Telah Berlumut'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SY4UBoXWLjI/AAAAAAAAAG4/h9raGjrvm9U/s72-c/P1010547.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-3456401918286480536</id><published>2009-02-07T14:49:00.000-08:00</published><updated>2009-03-04T12:51:27.171-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Tower</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SY4Sd1tW9II/AAAAAAAAAGw/tkDjBelgEP8/s1600-h/sugi-abstrak-1.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 381px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SY4Sd1tW9II/AAAAAAAAAGw/tkDjBelgEP8/s320/sugi-abstrak-1.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300194115304486018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Datuk Bandaro memerhatikan setiap orang di ruangan itu. Matanya awas dan tajam. Tapi raut mukanya teduh. Lalu ia membuka suara. Begitu berwibawa. Tak ada yang berbicara.&lt;br /&gt;“Di tanah kita tower itu akan didirikan,” kata Datuk Bandaro memulai rapat sore itu.&lt;br /&gt;“60 juta ditawarkan. Saya ingin memberitahukan, tanah itu cuma dipergunakan sekitar 3 hektar. Tidak terlalu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uangnya bisa dipergunakan untuk anak kemenakan kita yang putus atau akan melanjutkan pendidikan,” lanjut Datuk.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semua manggut-manggut. Sepertinya mereka setuju. Di zaman yang susah seperti ini, mengharapkan penghasilan dari karet, memang tidak lagi memungkinkan. Datuk Bandaro ternyata belum selesai berbicara. “Dalam rentang waktu sepuluh tahun, jika tower itu masih terpasang di sana, suku kita akan mendapatkan dana perpanjangan. Saya belum negosiasi untuk itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasim yang sedari tadi hanya mendengarkan mengacungkan tangan. “Bagaimana uang 60 juta itu kita bagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya..ya..Itu sudah saya pikirkan. Setiap kita akan mendapatkannya, sesuai dengan porsinya masing-masing. Setiap kepala keluarga akan saya bagi 500.000. Itu menurut saya adil.” Datuk Bandaro lalu mengambil kertas dan mengalikan uang tersebut dengan jumlah kepala keluarga dari suku Chaniago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya manggut-manggut. Tidak ada lagi pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Seminggu kemudian, beberapa orang berseragam dengan merek sebuah perusahaan telekomunikasi, ditulis besar di belakang punggung, datang memeriksa lokasi. Ditemani Datuk Bandaro dan Wali Nagari. Mereka kemudian bersalaman satu sama lain, lalu tertawa bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihatnya dari jauh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah rumah makan, mereka menghabiskan waktu. Entah mengapa, aku tertarik mengikutinya. Aku lihat mereka begitu gagah berpakaian seragam. Tapi sebenarnya bukan itu ketertarikanku. Aku tidak pernah percaya dengan ucapan Datuk Bandaro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan pertama kalinya, orang-orang kampung seperti kami kebagian rejeki nomplok. Sebelumnya, ada PT Angin Biru. Perusahaan ini memenangkan tender untuk mempelebar jalan di kampung. Ada ganti rugi dari setiap tanah yang terpakai untuk pelebaran. Setiap suku merapatkannya, kemana uang itu akan dibagi. Suku Chaniago, sebagai suku yang jumlahnya terbanyak di kampung, yang juga berarti memiliki tanah ulayat yang terbanyak, bisa dikatakan lebih beruntung. Tak hanya dapat ganti rugi dari tanah, tapi ada juga uang dari hasil batu yang diledakkan. Kesepakatan dengan kepala proyek, batu hasil ledakan boleh dijual oleh suku kami. Orang-orang proyek hanya meledakkannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Bandaro telah sepakat, hasil penjualan batu dibagi secara merata. Dibuat sebuah struktur untuk mengelolanya. Dalam target, batu-batu itu selesai diledakkan dengan dinamit selama satu bulan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidin ditunjuk sebagai ketua. Ia mengelola lalu lintas uang. Menunjuk sopir yang akan menjual batu ke Pekanbaru. Hasim sekretaris, sebagai penyimpan uang. Darto, Sarni, dan Jalius kebagian tugas menjaga lalu lintas jalan raya, baik di saat peledakan maupun selesai diledakkan. Tak ada yang keberatan dengan tugasnya masing-masing. Datuk Bandaro hanya mengawasi saja, tapi tetap ia kebahagian porsi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu, semuanya berjalan sesuai struktur. Tapi berbeda terjadi pada hari ke delapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari sopir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar Ali saja yang membawa mobil. Ia sedang menganggur,” kata Datuk Bandaro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang yang sebelumnya telah bolak balik ke Pekanbaru, pada hari ke delapan langsung diganti. Tidak apalah, katanya, sebab jatahnya tak akan berkurang, itu janji Datuk Bandaro. Besoknya, Hasim juga diganti dengan Santi. Kata Datuk Bandaro, ia perempuan, bisa lebih dipercaya memegang uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo…bagaimana dengan keputusan rapat kita yang lalu?” Hasim mempertanyakan. Tak usahlah dipikirkan, kata Datuk Bandaro. Yang penting, selesai semua pekerjaan ini, uang secara transparan akan saya umumkan. Berapa pendapatan, pengeluaran, lalu dibagi. Tentunya, yang bekerja lebih mendapatkan hasil yang lebih pula. Tak apalah, bagi saya itu adil. Jangan memakan keringat orang, toh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kenapa pula Darto, Sarni, dan Jalius diganti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat orang-orang terbuang di rumah Darto hanya menghasilkan sebuah ketidaksenangan. Kata Darto, ada pergantian yang dicurigakan. Kenapa Ali yang membawa mobil? Santi mengelola uang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka semua yang menggantikan kita adalah kemenakan dekatnya Datuk Bandaro,” kata Darto berargumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah menebak ujungnya. Hasil dari penjualan batu itu tidak seperti kesepakatan pertama,” tambah Jalius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berargumen berapi-api. Tapi hanya menghasilkan sebuah ketidaksenangan dari orang-orang yang terbuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan mereka tidak meleset. Selesai orang-orang proyek dengan tugasnya, dan semua batu telah terjual ke Pekanbaru, tidak ada lagi rapat setelah itu; tidak ada lagi surat untuk berkumpul di Balai Adat. Yang tidak diduga sebelumnya, tidak ada yang namanya pembagian secara merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang terbuang semakin banyak jumlahnya. Mereka setiap hari mengadakan rapat terselubung. “Harus kita tanyakan kejelasannya. Berapa penghasilan, pengeluaran. Berapa yang perlu dibagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya..benar. Benar itu.” Kata semua orang serempak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hadir pada rapat orang-orang terbuang. Hanya mengajukan satu pertanyaan. “Siapa yang akan menghadap Datuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanku tidak ada yang menjawab, dan rapat hanya menghasilkan ketidaksenangan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang berseragam gagah, kulihat hampir setiap hari datang ke kampung. Dengan rute yang sama: tempat tower akan dibangun, kantor Wali Nagari, dan rumah Datuk Bandaro. Lalu kembali lagi ke kota. Tapi tidak pada hari Selasa petang, mereka singgah di rumahku, menanyakan kamar kosong untuk anggotanya yang akan menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan masuk dulu,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhidangkan kopi dan kuajak melihat kamar yang memang ada satu ruangan yang kosong. Tidak apalah, kata mereka. Hanya untuk dua bulan, paling lama dua setengah bulan. Aku pikir ini pimpinan kepala proyek tersebut. Tampilannya begitu gagah dan berwibawa. Ia memberikanku uang satu juta, sebagai panjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ngomong-ngomong, berapa Bapak membayar ganti rugi tanah untuk membangun tower tersebut…Oh, maaf. Hanya sekedar tahu saja.” Kupasang muka seperti yang benar-benar tidak punya kepentingan di sana. Aku pikir itu akan dijawabnya, karena memang selama ini, ia hanya berurusan dengan Wali Nagari dan Datuk Bandaro. Tidak ada sangkut pautnya denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan merokok, Pak.” Tawarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Terima kasih.” Kutawarkan pula ia minum air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahal sekali Pak. Tapi perusahaan saya memang membutuhkan tempat ini untuk membangun tower.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupasang lagi raut wajah orang desa yang goblok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mahal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sama saja. Wali Nagari dibayar, empunya tanah minta pasongan. Belum lagi ganti rugi tanah. Tapi tower harus dibangun di sini sebagai lalu lintas sinyal untuk menguhubungkannya dengan Pekanbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat ia akan terus bercerita. Aku tuangkan lagi segelas air putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima juta untuk Wali Nagari. Lima juta untuk empunya tanah. Waduh pak…ganti rugi tanah itu lo…terlalu mahal harganya. 100 juta untuk tiga hektar. Tidak ada harga tanah semahal itu. Di kota saja tidak sebegitu mahalnya. Tapi saya tidak bisa berbuat apa. Ia mengulang lagi pernyataannya semula. Berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100 juta? Ah, Datuk Bandaro hanya mengatakan 60 juta. Tanah ulayat itu sudah seperti tanahnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup kita berdua saja yang tahu, Pak. Empunya tanah melarang saya untuk membeberkan kontrak ini. Saya hanya menghargai Bapak karena saya akan tinggal lama di sini. Sama seperti keluargalah,” katanya bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali, di rumah Darto diadakan rapat sesuku terselubung. Tidak dipimpin oleh Datuk. Tidak pula membahas masalah adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita dilangkahi Datuk. Benar-benar tidak dianggap.” Kataku memulai percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya terpancing emosi. Ada yang mengepal-ngepal tinju. Banyak yang memerahkan muka. Tak ibu-ibu, bapak-bapak terlebih lagi. “Kita temui Datuk Bandaro sekarang. Bawa golok, arit, atau apa saja senjata.” Tak tahu lagi, dari mana asal suara itu. Orang-orang yang hadir lalu berdiri dan berjalan ke arah rumah Datuk. Dengan senjata tajam di tangan kanan dan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk sedang tidur siang. Orang-orang tidak peduli. Ada yang menghantam pintu. Anak Datuk yang sekolah dokter di kota, pucat juga mukanya melihat keramaian. Terlebih orang-orang yang dihadapinya adalah dunsanak-dunsanak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk keluar dari rumahnya dengan memakai sarung saja. “Ada apa ini?”&lt;br /&gt;Hasim di tengah keramaian itu timbul jiwa beraninya. “Tak kusangka Datuk. Kau menganggap kami semuanya begitu bodoh. Dan memang sebenarnya kami bodoh. Tapi setidaknya, kami tahu juga ganti rugi tower itu bukan 60 juta. 100 juta Datuk…100 juta. Mana uang hasil jual batu dulu yang katanya akan dibagi. Kami sudah muak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain terpancing. “Datuk macam apa kau? Harta ulayat kau jadikan untuk makan anak istrimu.” kata mereka hampir seperti koors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik..baik..akan saya jelaskan. Tolong hargai saya sebagai Datuk yang diangkat secara adat. Malewakan gala. Tak semudah itu kalian memper-kau saya. Merah muka Datuk Bandaro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu itu tidak ada untungnya. Bahkan banyak yang tidak terjual. Kenapa saya menggantinya dengan Ali, kemenakan kandung saya? Saya tidak mampu menggaji kalian. Kuberi tahu. Batu itu tidak ada yang terjual. Batu apa itu? Bukan jenis batu air. Hanya batu biasa yang tidak laku dijual. Batu itu hanya dibuang saja dan diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Apa itu salah? Maaf saya tidak memberi tahu kalian. Saya panik memikirkannya. Coba kalian berada pada posisi saya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk memandang tajam ke setiap orang-orang yang sedang emosi itu. Semakin nyalang matanya menatap, semakin ia menguasai suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang sedari tadi terpancing emosinya menurunkan arit di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan ganti rugi tanah untuk pembangunan tower?” Tanya mereka lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk berangsut dari tempat berdirinya semula. “Mari masuk  ke dalam rumah saya.”&lt;br /&gt;Istrinya menyajikan teh manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak akan saya makan harta ulayat itu. Benar, uang itu jumlahnya 100 juta. Tapi 40 juta sudah saya anggarkan untuk kas suku Chaniago. Jika ada anak kemenakan yang membutuhkan uang, dari sana akan saya berikan. Bukankah itu lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Datuk tidak memberi tahu kami tentang itu?” Tanya Jalius kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terlalu banyak yang saya pikirkan. Tunggulah sampai pembangunan itu selesai. Akan saya bagi jatah itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama perdebatan, arit-arit di tangan membisu, orang-orang pulang dengan raut muka yang jelas tidak puas, tapi tidak dapat berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tower itu berdiri megah di tanah 3 hektar. Bila malam, lampu penanda sinyal berkelip-kelip indah. Oh, tingginya itu, begitu menjulang ke angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa yang tahu, besok malam, tower itu akan dirubuhkan. Biar kuberitahu, tadi malam, masih di rumah Darto, orang-orang yang merasa terbuang dari sukunya, punya satu kesepakatan: tengah malam nanti tower itu akan dirubuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, Datuk Bandaro juga akan tahu, tapi setelah malam nanti!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;KotoAlam—Ruangsempit, 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-3456401918286480536?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/3456401918286480536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/tower.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3456401918286480536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3456401918286480536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/tower.html' title='Tower'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SY4Sd1tW9II/AAAAAAAAAGw/tkDjBelgEP8/s72-c/sugi-abstrak-1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-3348727052743778083</id><published>2009-02-07T14:45:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T14:49:17.801-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Ojek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SY4PZIhoCBI/AAAAAAAAAGo/CAf8oJZbGuo/s1600-h/ojek-way.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 130px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SY4PZIhoCBI/AAAAAAAAAGo/CAf8oJZbGuo/s200/ojek-way.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300190735921317906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam suatu acara, saya pernah berada di Jakarta. Baru pertama kalinya saya ke sana. Dan memang tidak akrab dengan ibukota Indonesia itu. Walau sering melihat di layar kaca, tapi tak ada satu pun tempat yang saya ingat. Acara tersebut berlangsung di Balai Bahasa, Rawamangun—di belakang Universitas Negeri Jakarta. Dari bandara Soekarno Hatta, saya naik Damri. Dengan peta yang saya dapat dari seorang teman, saya tak tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasalah. Sesekali melihat ibukota, ada-ada saja yang ingin dibeli. Dari Balai Bahasa, saya berangkat ke Monas, seorang diri. Lelah melihat Monas, saya berencana kembali ke pondokan. Dari Monas, saya naik bemo—angkutan masayarakat pinggiran. Negosiasi untuk bayaran. Disepakati harga 10 ribu. Jarak antara Monas dan Rawamangun cukup jauh. Tapi sopir bemo itu tetap menyanggupi. Barangkali kehidupan ibukota memang keras. Saya tidak ambil pusing.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman yang pernah ke ibukota bilang, sopir-sopir angkutan di sana memang terkenal karena kejujurannya. Pernah, teman saya itu, waktu ke ibukota juga naik bemo. Disepakati harga awal 5 ribu. Namun, sopir bemo tersebut salah jalan hingga berputar-putar agak lama. Kasihan dengan minyak yang sudah banyak terpakai, teman saya tersebut berencana membayar ongkos tambahan sebesar 5 ribu lagi. Dengan halus, ditolak oleh sopir bemo tersebut. “Cukup lima ribu saja,” katanya. Teman saya melongo. Entah karena kejujurannya atau uangnya tidak jadi habis 5 ribu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya berada di Padang, tempat tinggal saya. Setiap hari saya harus naik angkutan umum. Tidak dengan bemo—di Padang angkot atau ojek menjadi angkutan alternatif masyarakat. Tapi saya tak menemukan sopir bemo ibukota di Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya naik ojek menemui saudara. Baru pertama kali saya kesana. Sebelum naik, saya negosiasi harga terlebih dahulu. Tapi sopir ojek tersebut enggan bernegosiasi. Ia hanya bilang, “Naik saja dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perlihatkan kartu nama saudara saya itu. Ia menangguk tanda mengerti. Lalu jalan. Tapi saya mulai curiga karena menurut saudara saya, rumahnya tidak jauh dari pangkalan ojek. Saya tanya lagi. Ternyata benar, ia salah melihat alamat. Rumah saudara saya dekat sekali dengan pangkalan ojek tempat ia mangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di tempat saudara, ia minta uang sebesar 10 ribu sebagai ongkos. Saya terkejut sangat. Seingat saya, jarak yang ditempuh sepeda motor tersebut tidak sama jarak antara Monas dan Rawamangun. Jarak tempuhnya saya kira hanya sekitar 150 meter. Tidak lebih. Cuma saja saya yang tidak tahu dengan alamat itu sehingga terpaksa bertanya kepada tukang ojek. Saya marah-marah karena tidak percaya ongkos ojek sebesar itu dalam jarak yang sangat dekat. Lagipula, soal tersesat, itu urusan dia karena ceroboh melihat alamat yang saya sodorkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara saya bilang ketika sampai di rumahnya,”Biasalah. Orang Minang. Kalau ada tampak muka baru, pasti dikibuli. Asal dapat uang lebih banyak.” Saya membandingkan sopir bemo Jakarta yang jauh lebih sulit hidupnya, tapi begitu menghargai profesinya. Begitu jujur dan santun terhadap pelanggan, meski orang baru. Tapi kenapa di daerah ini, dengan kehidupan yang tidak susah-susah amat, mudah sekali perbuatan seperti itu dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berpikir, barangkali semua ojek di kota ini mengharapkan ada orang baru yang masuk ke daerahnya sehingga bisa setiap hari mengkibuli orang. Dapat ongkos yang lebih besar. Setelah saya bayar ongkos dengan nada kesal, ia tersenyum lalu berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak membalas ucapan terimakasihnya.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-3348727052743778083?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/3348727052743778083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/ojek.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3348727052743778083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/3348727052743778083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/ojek.html' title='Ojek'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SY4PZIhoCBI/AAAAAAAAAGo/CAf8oJZbGuo/s72-c/ojek-way.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-591274447139461641</id><published>2009-02-03T22:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T00:46:22.546-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='objektif'/><title type='text'>SAATNYA MEMIKIRKAN KETERTIBAN MEROKOK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYkv_gGKazI/AAAAAAAAAF4/pVfX6-o0q8I/s1600-h/wwwappstateedu_smoke1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 224px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYkv_gGKazI/AAAAAAAAAF4/pVfX6-o0q8I/s200/wwwappstateedu_smoke1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298819204572146482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Diperkirakan, sejak tahun 1000 sebelum Masehi, asap rokok sudah mulai memenuhi udara. Suku Maya dan Aztec (penduduk asli Amerika) yang memulainya.  Tradisi membakar tembakau kemudian dimulai untuk menunjukkan persahabatan dan persaudaraan saat beberapa suku yang berbeda berkumpul, serta sebagai ritual pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kru Columbus membawa tembakau beserta tradisi mengunyah dan membakar lewat pipa ini ke “peradaban” di Inggris. Namun demikian, seorang diplomat dan petualang Perancislah yang justru paling berperan dalam menyebarkan popularitas rokok di seantero Eropa, orang ini adalah Jean Nicot. Dari sinilah istilah nikotin (dari Nicot) berasal. Versi sejarah lain mengatakan, tradisi rokok dan merokok yang lebih tua berasal dari Turki semenjak periode dinasti Ottoman. Mengenai ini, kita tidak mendapatkan rekam jejak yang pasti.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, Haji Jamahri dari Kudus adalah orang yang pertama kali meramu tembakau dengan cengkeh pada tahun 1880. Tujuan awal Jamahri adalah mencari obat penyakit asma yang dideritanya. Pada akhirnya rokok racikan Jamahri menjadi terkenal, rokok kretek. Jenis rokok yang dinamai sesuai dengan bunyi yang dihasilkan oleh benturan cengkeh dan tembakau dengan api sebagai penyulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, pertumbuhan industri rokok meningkat dengan pesat. Ada empat kota yang menjadi pusat di Indonesia. Semuanya berada di Jawa, yaitu Kediri, Kudus, Malang dan Surabaya. Tom Saptaatmaja, mantan humas salah satu pabrik rokok, menulis, “Untuk seluruh Indonesia ada sekitar 100 produsen rokok besar yang mempekerjakan sekitar 6.437.451 orang dan merupakan sumber nafkah bagi 19,3 juta anggota keluarga mereka. Tak heran, dalam waktu dekat, Organisasi Buruh Internasional (ILO) akan mengkaji industri rokok di Jatim dan Jateng untuk meneliti sejauh mana dampak ekonomi yang ditimbulkan seandainya pembatasan terhadap industri rokok diberlakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ditambah dengan terus meningkatnya pemasukan Negara dari cukai dan pajak rokok dari tahun ke tahun. Untuk tahun 2008 majalah ekonomi KONTAN mematok angka 47 triliun dari hanya 29,7 triliun di 2003. Waw!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak dapat dilengahkan, terdapat sekitar 7.000 artikel ilmiah yang membuktikan bahwa di dalam rokok terdapat 4.000 jenis bahan kimia dengan 69 zat di antaranya bersifat karsinogenik dan adiktif. Tidak perlu seorang dokter yang doktor mengatakan rokok itu berbahaya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan rokok adalah epidemi global yang telah membunuh tidak kurang dari 1 orang setiap 6 detik dan merupakan penyebab 7 dari 8 kematian terbesar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Uang atau Paru-paru?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pilihan yang sulit. Ditambah dengan situasi ekonomi yang makin memburuk akibat kajatuhan pasar saham dunia. Segala usaha dilakukan demi bertahan hidup. Tak terkecuali produsen rokok. Saat ini, mereka makin agresif dalam meningkatkan penjualan. Etika papan raksasa di pinggir jalan, jam tayang di televisi, di obok-obok demi menjual 199 miliar batang rokok pertahun atau berada di urutan ke-4 setelah RRC (1.679 miliar batang), AS (480 miliar), Jepang (230 miliar), serta Rusia (230 miliar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYkyWa-ALBI/AAAAAAAAAGg/eJkRyMMV-EM/s1600-h/11_49_51-smoking-cigarette_web.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 146px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYkyWa-ALBI/AAAAAAAAAGg/eJkRyMMV-EM/s200/11_49_51-smoking-cigarette_web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298821797355990034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYkxcqlutjI/AAAAAAAAAGQ/3Mzm6DOw4lU/s1600-h/48b416f0b0c6c.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 228px; height: 151px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYkxcqlutjI/AAAAAAAAAGQ/3Mzm6DOw4lU/s200/48b416f0b0c6c.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298820805116737074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, hasil analisis Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional ) 2003 juga menampilkan paradoks. Sebab, jumlah uang yang dibelanjakan penduduk kita untuk tembakau/rokok 2,5 kali lipat dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan dan 3,2 kali lipat biaya kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, akhir-akhir ini, perang terhadap rokok gencar dilakukan. Fatwa MUI sudah dikeluarkan tentang merokok haram. KPA (Komisi Perlindungan Anak) bereaksi cepat dan lugas, mengingat sudah begitu banyaknya remaja yang menjadi perokok pemula karena iklan yang begitu progresif. Faktanya, “Dari penelitian yang diadakan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof  Hamka, 46, 3 persen remaja berpendapat iklan rokok berpengaruh besar untuk memulai merokok,” beber Koordinator Pengembangan dan Penguatan Komisi Nasional (Komnas), Anak Hery Chairiansyah, seperti yang dikutip di Padang Ekspres, Edisi: Jumat, 23 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merokoklah, tapi….&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dari realitas di atas, tampaknya, perokok di negeri ini adalah konsumen yang potensial. Jumlah perokok, produksi rokok, serta cukai rokok, tiga hal yang kian menguatkan, susah “melarang orang merokok”. Karena itu, ketika ada fatwa MUI terkait merokok haram, rata-rata perokok kurang menerima. Berbagai alasan, bahwa fatwa itu berlebihan dan kurang bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita mungkin kesulitan atau tak bisa melarang orang merokok, namun, mengajak perokok tertib dan menghormati perokok pasif, itu termasuk bijaksana,” kata Sudarmoko, dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas yang kini mengajar di salah satu perguruan tinggi Korea Selatan kepada Padang Ekspres melalui Yahoo Masenger. Di Korea, katanya, membuang puntung rokok sembarangan saja, termasuk memalukan. Karena itu, ada tempat-tempat merokok yang disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Rido, yang sejak enam bulan lalu berdomisi di Kuala Lumpur, mengatakan,persoalan merokok, adalah persoalan yang pelik di Indonesia. Pasalnya, perokok kita, kurang menghormati hak-hak orang yang tidak merokok. Bahkan, di atas angkutan umum, di rumah sakit yang jelas-jelas ada larangan merokok, orang masih merokok. Begitu juga, di ruang kelas (bagi guru), di ruang ber-AC, serta di antara anak-anak, tak ada yang risih kalau efek rokok mereka menyebabkan yang lain menjadi perokok pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Belanda, saat ini, ruang merokok diperkecil oleh pemerintah,” kata Suryadi. Alasannya, menurut Dosen Universitas Leiden ini, agar jumlah perokok berkurang. Bagaimanapun, mudaratnya lebih banyak dari maslahatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perokok Tertib&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Etika merokok, inilah idealnya yang mesti diperhatikan oleh perokok di Indonesia. Secara sosial merokok ideal itu lebih merujuk pada prilaku. “Bagaimana para perokok tidak menimbulkan suatu akibat pada orang lain. Silahkan merokok di tempat-tempat yang disediakan. Seperti di bandara, ada tempat khusus untuk merokok, bus ber AC biasanya juga menyediakan smoking area,” ungkap Effendy, karyawan sebuah perusahaan swasta, yang tidak merokok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga diperjelas lagi oleh Wawan, seorang mahasiswa yang pernah akrab dengan berbungkus-bungkus rokok tiap harinya sebelum berhenti total, “Merokok yang ideal itu, sebatas apa kita tidak menganggu orang lain. Maksudnya ketika kita melaksanakan kepentingan kita merokok, mesti diingat sekitar kita, cocok atau pantas tidak, kita merokok di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan Yendra dan Rizky, dua orang yang telah mulai merokok sejak usia belasan sampai sekarang, “Merokok pada tempatnya. Maksudnya, sadari di mana kita berada. Kalau misalnya di angkot tidak ada orang merokok atau tidak memungkin untuk merokok, matikan rokok. Jadi, merokok selagi orang tidak keberatan dengan kita bila menyalakan rokok. Makanya saya sering kalau mau merokok nanya dulu pada orang sekitarnya, “Boleh merokok tidak?” Kalau diizinkan baru saya merokok, berarti mereka tidak keberatan. Kalau tidak boleh tahan dulu untuk tidak merokok, atau cari tempat lain yang memungkinkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi perokok tertib inilah yang mestinya diidamkan oleh setiap perokok. Memang, tidak ada konsekuensi yang berat untuk hal ini, namun setidaknya untuk menjadi perokok juga harus memiliki sopan santun dan rasa malu. Kita bisa melihat beberapa Negara yang warganya tertib dalam merokok. Korea, misalnya, seperti diceritakan Koko, bahwa, di Korea ada iklan televisi, kalau membuang puntung rokok itu tindakan yang memalukan. “Di sini malu atau etika menjadi hal utama. Bahkan, karena merasa malu (untuk konteks lain) di sana banyak yang bunuh diri,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemerintah dan Ruang untuk Perokok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ketika segala sesuatunya memiliki tempat atau ruang khusus, maka perokok pun tidak lepas dari persoalan ini. Ruang untuk merokok di tempat-tempat umum yang tidak mempengaruhi lingkungan sekitar, sepertinya menjadi kebutuhan para perokok juga. Di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Bali pernah memiliki tempat ini. Sementara itu di Negara lain, juga menghargai perokok dengan penempatan ruang-ruang tersebut. “Di Malaysia, negara menghargai orang yang merokok dengan cara menyediakan tempat-tempat perokok. Hanya di tempat itu orang boleh merokok. Bahkan di rumah pun, disediakan ruang untuk merokok tersebut,” cerita Ardipal, yang sebelum berhenti merokok, secara rutin menghisap rokok dua bungkus sehari.&lt;br /&gt;Begitu juga dengan Korea, “Kalau mau merokok yang di luar gedung, biasanya di pintu masuk ada tempat merokok. Di terminal ada juga khusus tempatnya, cuma ada disediakan satu tempat seperti tempat buang sampah atau asbak. Jadi yang merokok kumpul di situ, agak berjarak dari orang yang tidak merokok. Di stasiun Belanda juga begitu,” jelas Koko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, di Indonesia, tempat-tempat seperti ini tidak tersedia sebagaimana seharusnya. Dan inilah yang menjadi persoalan perokok untuk bisa tertib. Di Sumatra Barat, kita baru menyaksikan tempat yang memang disediakan untuk merokok baru di tempat-tempat tertentu seperti di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Atau Di Balaikota Padangpanjang yang memberitahu di mana tempat merokok atau tidak di selingkar kantor. “Jadi, jangan membuat tempat dilarang merokok saja, tapi, tempat merokok juga harus dibuatkan,” kata Sudiro Sembiring, laki-laki yang mulutnya akrab dengan kepulan asap rokok tiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut ruang untuk perokok ini, apa yang dilakukan Bahrul juga bisa dicontoh. Merasa hidup dengan masyarakat yang kuantitas merokoknya tinggi, ia membuat aturan demi mengurangi efek asap menyebar ke paru-paru orang lain. Di ruangan-ruangan seperti ruangan fakultas, tempat kuliah, ia pasang tulisan "Terimakasih Tidak Merokok di Ruangan ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyediakan ruangan untuk merokok di fakultas. “Salah satu tempat yang saya sediakan yaitu di kafetaria,” ujarnya. Hanya di sana mahasiswa boleh untuk merokok. Aturan itu ia buat kemudian dipantau atau diawasi. Ia juga membentuk Tim Disiplin Kampus. “Tim ini yang akan memantau aturan-aturan yang tidak dijalankan oleh civitas kampus, salah satunya yaitu rokok tersebut.,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat-tempat seperti itu mestinya diperbanyak. Pemerintah semestinya tidak mengakomodasi orang tidak perokok, tetapi juga bagi perokok.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Yusrizal KW/S Metron M/Andika Destika Khagen/Esha Tegar Putra/Gusriyono/berbagai sumber)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dimuat di Padang Ekspress, 1 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-591274447139461641?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/591274447139461641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/saatnya-memikirkan-ketertiban-merokok.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/591274447139461641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/591274447139461641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/02/saatnya-memikirkan-ketertiban-merokok.html' title='SAATNYA MEMIKIRKAN KETERTIBAN MEROKOK'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYkv_gGKazI/AAAAAAAAAF4/pVfX6-o0q8I/s72-c/wwwappstateedu_smoke1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-5130518940191218055</id><published>2009-01-29T05:13:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T05:19:07.966-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjektif'/><title type='text'>Aturan Akademik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYGsLP-0brI/AAAAAAAAAE4/r-0eeZn9ZbA/s1600-h/rambu-rambu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 243px; height: 174px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYGsLP-0brI/AAAAAAAAAE4/r-0eeZn9ZbA/s200/rambu-rambu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296703946032967346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Muhammad Hatta pernah menuliskan tentang ciri utama penjajahan dalam Buletin Indonesia Merdeka “Di dalam negeri yang terjajah, hukum dan keadilan merupakan kata-kata kosong belaka, yang begitu sering diucapkan oleh pihak penjajah apabila mereka naik ke atas panggung internasional. Di balik layar mereka bersuara lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta tidak memandang bahwa bangsa yang terjajah dikuasai secara teritorial, tapi lebih kepada psikologi bangsa dalam menegakkan keadilan melalui hukum. Karena benar, hal utama ketika seseorang atau suatu bangsa ingin terlepas dari ketidakadilan adalah dengan hukum yang bijak dan adil.  Selama ini belum terealisasi, masyarakat hanya akan menjadi objek di wilayah yang seharusnya ia turut berperan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Kenapa hukum menjadi hal esensial dalam kemerdekaan? Di dalam hukumlah kebenaran dan ketidakbenaran dibahas dan diputuskan.  Hukum yang adil akan mengatakan bahwa benar adalah benar. Orang akan mendapatkan haknya di dalam hukum ketika hukum tersebut mampu menegakkan perannya.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Sebaliknya, mengutip Marx, hukum adalah keterasingan. Masyarakat terasing adalah ketika ia tidak memeiliki peran dan tidak mampu mengubah aturan yang dibuat bukan untuk kesejahteraan, lebih kepada animo untuk menguasai. Tidak ada relasi yang berkesinambungan antara aturan yang dibuat dengan masyarakat yang akan menjalani aturan.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Di dalam hukum tersimpan makna berkesinambungan. Dasar untuk menilai hukum adalah dibuatnya peraturan-peraturan yang pada akhirnya juga menjadi tolak ukur. Kebenaran yang dicari hukum bersumber pada aturan-aturan dari konvensi. Biasanya terangkum dalam pasal-pasal.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Secara metafisik, aturan adalah (mestinya) “jalan” menuju keadilan dan keteraturan yang diharapkan. Idealnya, aturan dibuat berdasarkan konvesi bersama untuk mencapai tujuan bersama. Aturan dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang matang dan mengkaji segala aspek. Walau hukum tidak mutlak merupakan jalan menuju kebenaran, namun ia tetap dijadikan dasar untuk nilai-nilai benar/salah yang berkembang di masyarakat.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Maka, masyarakat hidup berdasarkan aturan-aturan. Aturan berpakain, aturan bersepeda motor, aturan bermasyarakat, aturan berbangsa dan bernegara, bahkan aturan yang bersifat privasi: aturan berumahtangga. Masyarakat tak lagi bebas dalam diskursusnya sebagai makhluk yang menginginkan kebebasan. Masyarakat yang majamuk perlu ”diatur”, dan aturan merupakan ejahwantah.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Namun aturan yang kemudian menetapkan individu sebagai pesakitan tidaklah mampu memuaskan semua pihak. Ada saja yang merasa tidak adil. Maka, aturan dengan hukumnya memerlukan bukti-bukti sebagai jalan mencari kebenaran yang (sekali lagi) tidak mutlak. Kebenaran dalam hukum bersifat absolut.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Demikianlah aturan. Ia bisa jadi ketakutan, di lain pihak ia juga sebagai mentor kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aturan di Ranah Akademis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Setiap kehidupan manusia perlu diatur, termasuk di dunia akademis. Peraturan-peraturan yang dibuat tujuannya sama secara umum, untuk menciptakan keteraturan dan jalan untuk mencari kebenaran. Diharapkan, dengan aturan, kehidupan akademik menjadi lancar dan sesuai dengan keinginan bersama. Dalam perkembangannya, aturan-aturan tersebut mewarnai kehidupan kampus.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Namun, benarkah aturan yang diterapkan di dunia akademik diciptakan untuk kepentingan bersama demi mencapai tujuan bersama ataukah hanya arogansi kekuasaan yang memiliki kekuatan? Tidak hanya akademik, pertanyaan ini sebenarnya mencari tujuannya lebih jauh: di realitas sehari-hari aturan cendrung kehilangan daya logika.&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Beberapa peraturan yang penulis cermati di dunia akademik, tak tampak sebagai jalan untuk mencari logos, lebih kepada ”keterpaksaan” untuk mencari ke-universal-an. Penulis kutip sebuah aturan yang dianggap ”kecil” tapi menjadi titik acuan untuk melihat aturan-aturan yang lebih besar nantinya. Kampus di manapun tidak akan terima mahasiswanya mengikuti pelajaran kalau tidak berpakaian rapi. ”Rapi” diartikan mengenakan baju kemeja, rambut pendek, mengenakan celana yang berbahan katun (celana dasar), dan bersepatu dengan bahan dasar kulit. Sebaliknya, yang keluar dari aturan tersebut dianggap tidak rapi. Rapi adalah hasil konvensi. Yang menjadi permasalahan adalah, benarkah demikian konsep rapi?&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Defenisi rapi yang sempit, cendrung mengorbankan pihak lain, yaitu penerima (audience) aturan. Menjadi ”korban” karena tak banyak yang bisa melaksanakannya.  Bagaimana kalau rapi didefenisikan berambut gondrong, kaus oblong, dan celana pendek? Bukankah ini hanya hasil konvensi? Bila ada penelitian yang dilakukan, mengacu pada defenisi umum,  persentase mahasiswa yang berpakain rapi (hipotesis) hanya sekitar 5%. Jika tak banyak yang mematuhinya, kenapa aturan ini dibuat?&lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Aturan ”sengaja” mengikat manusia dengan kebebasannya. Tak banyak aturan yang lahir mampu diterima dan disepakati bersama, karena yang membuat aturan hanya beberapa kelompok orang yang ”dipercayakan”. Di sinilah letaknya kenapa aturan kadang tak berniat mengatur, tapi mengekang.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya kita selalu risau melihat aturan-aturan yang telah dilahirkan secara sepihak. Menurut Goenawam Mohammad, aturan pada akhirnya hanya akan mencapai apa yang normatif. Ia terbatas. Masih ada sesuatu yang tiap kali bisa hilang dalam kehidupan sebuah negeri di mana yang normatif tak bisa digugat—yakni keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ranah tempat tinggal, sekarang dipenuhi dengan aturan-aturan. Setiap orang (penguasa) merasa  bebas membuat aturan. Pertimbangannya adalah karena ia memang adalah orang yang pantas membuatnya dan merasa bahwa apa yang dipikirkannya ”mesti” dilaksanakan orang lain. Jika Anda seorang dosen, Anda akan membuat aturan untuk mengikat mahasiswa. Tidak boleh datang terlambat (bagi mahasiswa, bukan untuk dosen). Jika Anda seorang Rektor, aturan yang dibuat adalah menaikkan uang kuliah.&lt;br /&gt;Adakah dosen terlebih dahulu bertukar pikiran dengan mahasiswa tentang aturan keterlambatan? Mahasiswa yang terlambat dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran, apa hukumannya bagi dosen yang melakukan hal serupa? Pernahkah mendengar keluhan mahasiswa bahwa uang kuliah yang dinaikkan membuat ia tak mampu lagi mengenyam pendidikan? Kenapa tidak dicarikan sebuah konvensi yang benar-benar saling menguntungkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, aturan-aturan tak lebih dari sebuah pengekangan bila nilai yang terkandung di dalamnya bersifat hegemoni. Tak heran, tiap sebentar masyarakat mengeluh akan kenaikan harga minyak, mahasiswa mengeluh dengan aturan yang tak bisa dibantah: uang kuliah naik, dan siswa kecewa dengan aturan: Tidak boleh menggunakan HP kamera!&lt;br /&gt;Pada akhirnya, nilai keadilan yang terkandung di dalam aturan hanya sebuah janji ketika seorang penguasa naik ke panggung internasional, di balik layar menghasilkan suara yang berbeda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padang, 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-5130518940191218055?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/5130518940191218055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/01/aturan-akademik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/5130518940191218055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/5130518940191218055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/01/aturan-akademik.html' title='Aturan Akademik'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYGsLP-0brI/AAAAAAAAAE4/r-0eeZn9ZbA/s72-c/rambu-rambu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-1370303564022794535</id><published>2009-01-28T10:16:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T10:26:56.258-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Dingin di Lasi, sebuah Orbituari Ganto</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYCiXxFcUsI/AAAAAAAAAEw/fA4Y7T471iE/s1600-h/kisah+lasi+baru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 404px; height: 226px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYCiXxFcUsI/AAAAAAAAAEw/fA4Y7T471iE/s320/kisah+lasi+baru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296411690984559298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Barangkali malam itu memang dingin. Kopi dan rokok terlalu manja melawan angin. Asap yang datang dari kayu-kayu api, sekejap berlalu. Lalu pergi. Barangkali ini tahun pertama kita merasa dingin, sangat dingin. Ada wajah yang memucat, dan mie rebus yang tak lagi hangat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lasi, mungkin sebuah etalase. Atau juga kaca yang sengaja dihadirkan untuk membeli kenangan. Karena di sanalah canda terlepaskan. Di situ juga peluh tak keluar. Mungkinkah angin selatan itu, kini singgah di kemah kita? Ini 2 malam yang hangat oleh api unggun. Kepada api yang terbang terlalu cepat itu, kita berkabar," Sampaikan pada awan, jangan turunkan hujan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang hendak kita ukir di tanah yang basah ini?&lt;br /&gt;Aku melihat elang yang terbang rendah sore itu. Barangkali saja ia akan singgah menjenguk kemah kita, lalu memberikan sedikit kehangatan di bawah sayapnya yang sejuk. Kita akan menjamunya laiknya seorang tamu terhormat. Oh,  tidakkah kita telah memanggilnya untuk singgah? Kita tersenyum bersama. Sambil bermain bola, kita tetap tertawa.  Elang itu pergi, tanpa sedikit pun menoleh. Kita hanya mampu memotretnya, tak sempat mendapatkan kehangatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedinginan itu diobati dengan riuh lampu kota yang saling kejar mengejar."Seperti di Paris," katamu. Di tanah yang mulai mengering,aku menatap kabut.&lt;br /&gt;Di sini, di balik kedinginan dan jaket yang tebal, aku tiba-tiba menjadi angin. Aku tiba-tiba memiliki sayap, dan pergi dari kalian yang sedang bermain gitar. Entah kenapa, lagu yang kalian nyanyikan itu berjudul, "Selamat tinggal, malam. "Aku tak lagi menjadi kalian. Dan aku tak mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kemah aku menitipkan sebuah surat, yang barangkali tak akan terbaca karena kalian masih kedinginan.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Aku dibawa kabut Lasi. Kayu bakar yang kucari sore tadi, gunakanlah untuk melawan dingin. Aku akan kembali tuk membawa panas yang lain."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa saja marah pada kabut ini. Kita belum selesai melewati malam. Kayu yang dibakar belum habis dimamah api. Oh, lihatlah, setelah melewati Sarasah yang indah, kita masih menyempatkan diri memasak mie rebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, siang pun tetap membawa dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi percayalah, di tempat dimana kabut membawaku pergi, aku akan tetap menulis surat untuk kalian. Karena aku yakin, walau masih dingin, kalian akan membacanya. Lalu menangis. Esoknya, ketika setiap hari surat-suratku datang, kalian akan setegar puncak Lasi yang telah mengantarkan kita pada kisah 1001 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lasi, 25 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2052434790581012137-1370303564022794535?l=andika-khagen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://andika-khagen.blogspot.com/feeds/1370303564022794535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/01/dingin-dilasi-sebuah-orbituari-ganto.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1370303564022794535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2052434790581012137/posts/default/1370303564022794535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://andika-khagen.blogspot.com/2009/01/dingin-dilasi-sebuah-orbituari-ganto.html' title='Dingin di Lasi, sebuah Orbituari Ganto'/><author><name>andika-khagen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06145244391290964838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYCiXxFcUsI/AAAAAAAAAEw/fA4Y7T471iE/s72-c/kisah+lasi+baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2052434790581012137.post-1267023290853474741</id><published>2009-01-28T03:06:00.001-08:00</published><updated>2009-01-28T10:24:05.052-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imajinatif'/><title type='text'>Mobil-mobil Gelisah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYA8NxoVMFI/AAAAAAAAAEg/Wl9AejCNEeg/s1600-h/macet.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 236px; height: 170px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o56A-bibFgA/SYA8NxoVMFI/AAAAAAAAAEg/Wl9AejCNEeg/s200/macet.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296299369146167378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku pantas marah, entah kepada siapa. Oh, lihat, sudah dua jam aku duduk di mobil, menghabiskan satu bungkus rokok, dua bungkus es jeruk. Hari memang panas, namun di dalam mobil ini jauh lebih panas. Kenapa mesti siang-siang begini aku mesti terjebak dalam kemacetan? Sudah dua jam, baru dua kali gas bisa kuinjak, itu pun hanya perlahan. Sangat perlahan. Ada sekitar 30 mobil lagi yang berada di depanku. Telah kuhitung, hanya ini pekerjaan yang bisa mendamaikanku dalam keadaan begini, aku berada diurutan ke-31 di belakang mobil truk. ”tit.....tit..tit..” Entah dari mobil mana, tiap sebentar klakson b
